kolom melintang

Showing posts with label Anekdot para Masyayikh. Show all posts
Showing posts with label Anekdot para Masyayikh. Show all posts

Sunday, March 8, 2015

CANDAAN PENUH HIKMAH SYAIKHINA MAEMOEN ZUBEIR, SARANG.

CANDAAN PENUH HIKMAH DARI SYAIKHINA  MAEMOEN ZUBEIR, SARANG.

Kisah ini saya terima dari Gus Idris Djamaluddin ( putra dari Syaikhina Al-Mursyid Mbah Kyai Djamaluddin Ahmad, TambakBeras ) ketika saya masih duduk dibangku sekolah SP, tahun 1999.
Beliau bercerita ketika tabarrukan di pesantren Al-Anwar asuhan Syaikhina Maemoen Zubeir, bahwa penyamaran Gus Idris bersama temannya diketahui oleh Mbah Moen ( panggilan akrab beliau dikalangan santri ). Suatu hari beliau berdua dipanggil Mbah Moen yang hendak mengajaknya makan bersama didalam rumahnya, dengan satu loyang penuh lauk dan sayur mereka bertiga pun menyantap makanan itu bersama-sama. Ditengah moment itu Mbah Moen berhenti makan dan berkata pada keduanya,

" Sudah Gus, silahkan lanjutkan makannya,..dihabiskan lho ya ", kata beliau.
Keduanya pun kaget, karena makanan di nampan itu masih banyak sekali, dan salah satu dari mereka nyelethuk,

" Maaf Kyai, tapi ini masih banyak sekali makanannya ".

Mbah Moen lalu tersenyum dan berkata , " Sudah, makan saja, kalau gurunya yang nyuruh ya harus dilaksanakan to gus ".

Mendapat jawaban seperti itu keduanya tak bisa berkutik lagi dan segera saja menghabiskan makanan itu sampai bersih. Dan beliau dengan setia menunggui mereka berdua menghabiskannya.

" Sudah habis, Mbah ", sahut mereka berdua setelah sekuat tenaga menghabiskan makanan satu nampan itu.
Tiba-tiba Mbah Moen nyelethuk ,

" iki anak'e Kyai gedhe kok nggragas tenan olehe mangan, ora gelem tirakat blas "  ( Ini putra Kyai besar kok banyak betul makannya, tidak mau tirakat sama sekali ) kata beliau sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Gus Idris dan temanya pun terbengong-bengong mendapat celethukan tersebut.

( hehehe....ngapunten Gus Idris, murid njenengan iki pancen nduablek, ngapunten nggeh )

Wednesday, March 4, 2015

ANEKDOT PENUH HIKMAH

Anekdot dan Hikmah dari Guru-Guru kami Tercinta .

@ Al-Mursyid Al Hafidz Al Waro' Syaikhina Al Bazzi Nawawi Trowulan.
Dalam kesempatan pengajian rutin Tafsir Jalalain ba'da Maghrib, pernah mengatakan kepada kami ;

" Sinau o sing temenan. sebab pirang-pirang anak e macan dadi kucing kerono kurang temenan olehe sinau "  ( Belajarlah dengan sungguh-sungguh, sebab berapa banyak keturunan Ulama yang menjadi seperti halnya orang biasa /awam, oleh karena kurangnya  keseriusan dalam belajar ).

" Dadi wong Quran iku kudu gelem soro. Mulango..senajan muridmu mung siji tetep wulangen..cukup, cukup..ojo wedi gak iso mangan, selagi cangkem iki isih suwek..mangan, mangan, dikersakno dadi opo wae, sempatno waktu gawe mulang Quran ". 

( Jadi seorang Hafidz itu harus mau bekerja keras. Mengajarlah...meskipun dengan satu murid, pasti Alloh mencukupimu. Jangan takut ndak bisa makan, selagi mulut ini masih robek ( terbuka ) pasti makan. Ditakdirkan jadi apapun sempatkan waktu untuk mengajarkan Al Quran. )

@ Syaikhina Al-Allamah al Faqih Mbah Maemoen Zubeir, Sarang ;

" Dadi anak e Kyai suwene mondok kok ora ngalim-ngalim, titeni ae..nek arep boyong lhak ethok-ethok jadzab " .

( Jadi putra Kyai lamanya waktu jadi santri masih tetep saja tidak mumpuni keilmuannya,  perhatikan saja..kalau sudah dekat waktunya pulang kampung, pasti pura-pura jadzab / nganeh-nganehi )

" Nyandang gelar dzurriyyah Rosul kok ora ngalim, kui koyo dene suwekan Qur'an, dibuwak biso malati, gak dibuwak ora keno diwoco ". 

( Menyandang nama besar sebagai keturunan Rosululloh SAW tapi tidak mumpuni keilmuannya, itu seperti halnya sobekan kertas Al-Quran. Kalau sobekan itu dibuang bisa kualat, tidak dibuang malah tidak bisa dibaca ).

" Sopo sing tambah khusyu' ,tambah bento "

( maksudnya ; melulu wiridan tanpa mau belajar / muthola'ah, maka tambah bodoh )

@ Ini ketika kami tabarrukan di Lirboyo, pondok Jet Tempur nya Kyai Maftuh Basthul Birri Al Hafidz,
Seorang pengurus menegur salah satu santri ,putra seorang Kyai ;

" Mbok yo nang pondok iku sinau sing tenanan to Kang,..ojo koncone enak-enak sinau mbok jak'i metu ae..iyo penak sampean masio gak ngalim, boyongo isih ditinggali pondok, lha barang koncomu iku moleh ditinggali gardu ".

( Kang, kalau bisa dipondok itu yang seriuslah kalau belajar..jangan temannya lagi enak2 belajar diajak keluyuran keluar, iya kamu enak meskipun tidak pandai kalau pulang masih ditinggali pon-pes sama ayahmu. Lha temanmu ini cuman ditinggali pos kamling ).

Danny Ma'shoum.