kolom melintang

Showing posts with label Masyarakat. Show all posts
Showing posts with label Masyarakat. Show all posts

Wednesday, May 22, 2013

Korban Kebakaran Harapkan Bantuan Modal

CIANJUR, (PRLM).- Sejumlah pedagang Pasar Bojongmeron telantar akibat kios dan barang dagangannya ludes terbakar dari kebaran yang terjadi Senin (20/5/2013). Mereka mengaku merugi ratusan juta rupiah dan mengharapkan adanya perhatian dari Pemkab Cianjur untuk dapat permodalan pembangunan kios dan modal berdagang.

"Kebanyakan yang terbakar adalah kios sembako. Saya punya dua kios yang satu untuk dagang dan yang satu gudang persedian barang yang akan dijual semua ludes terbakar. Kalau kerugian saya sendiri bisa mencapai Rp 50 juta," kata Ujang (45), salah seorang pedagang pasar setempat.

Ujang bersama beberapa anggota keluarga membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan kios dan mencari barang-barang yang mungkin masih bisa diselamatkan."Tadi sudah ada beberapa petugas dari Pemkab Cianjur yang datang mendata, tapi belum tau akan memberikan bantuan atau tidak," ucapnya.

Ujang berharap mendapatkan sedikit bantuan untuk kembali membangun kios nya meski kecil dan untuk modal berdagang. "Ini beberapa barang dagangan yang ada di rumah tetap saya gelar untuk dijual meski di kios yang habis kebakaran. Kalau tidak begini kami tidak bisa makan," tuturnya.

Dari hasil pendataan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag) Cianjur, sedikitnya 21 kios permanen terbakar, dan sekitar 8 lainnya yang masuk kios semi permanen juga ikut hangus. "Mereka yang kiosnya terbakar sebenarnya berjualan diatas lahan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan memang sudah memegang izin," ujar Kepala Diseprindag Cianjur, Himam Haris.

Himam mengatakan saat ini permintaan warga yang mengharapkan bantuan masih dalam proses pembahasan. Pasalnya, Diperindag juga susah melakukan hal ini karena banyak kios yang ternyata disewakan. "Justru kami ingin seluruh kios yang berdiri di pinggir rel kereta api ini bisa direlokasi paling lambat Tahun 2015 ke Pasar Pasir Hayam yang tempatnya lebih besar dan nyaman," katanya.

Namun, kata Himam, melakukan relokasi pun tidak mudah. Memberikan pemahamanan terus menerus kepada para pedagang harus dilakukan. "Saat ini sebagian pedagang masih ada penolakan. Padahal, jika direlokasi wilayah Bojongmeron akan terbebas dari kemacetan dan bisa ditata lebih baik," ucapnya.

Warisan Anak Cucu

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. at-Tahrim: 6).

Umumnya orang tua ingin anaknya bahagia. Untuk itu, sebahagian orang tua berusaha mengumpulkan harta yang banyak, terlepas status halal haramnya, untuk diwariskan kepada anak cucunya.  Namun, kalau dilihat dalam sejarah, para nabi dan orang-orang beriman lebih berharap meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan beriman, ketimbang harta banyak. 

Nabi Ibrahim, misalnya, pernah berdoa untuk kebaikan generasinya. Doanya: “Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).  Doa ini mengisyaratkan bahwa tak ada yang lebih baik ditinggalkan kepada anak-anak, kecuali mereka dalam keadaan beriman.

Hal yang sejenis juga pernah dilakukan Nabi Ya’qub.  Menjelang menghadap Ilahi! Nabi Ya’qub masih menyempatkan diri untuk bertanya kepada anak-anaknya, ”Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” (QS. al-Baqarah: 133).

Sepatutnya kita mengikuti jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang beriman seperti itu dalam (meninggalkan warisan bagi) anak-anaknya. Jangan sampai mengikuti langkah-langkah setan atau jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat hidupnya, seperti orang-orang yang sengaja melakukan kemungkaran seperti korupsi dan perampokan agar mampu meninggalkan warisan yang banyak untuk anak cucunya.

Sunday, May 19, 2013

Waspadai Gerakan Komunis

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta semua pihak untuk tetap mewaspadai bangkitnya gerakan komunis Indonesia.

“Komunisme memang sudah mati tapi pemikiran dan ideologisnya tetap hidup,” kata Ma’ruf pada acara diskusi keumatan bertema “Pendidikan Deteksi Dini Bangkitnya Neo Sosialisme-Komunisme Di Indonesia” di Jakarta, Sabtu.

Hadir pembicara mantan Wakasad Letjen Purn. Kiki Syahnakri dan pengamat politik Alfian Tanjung.

Ma’ruf mencontohkan adanya gerakan yang meminta pemerintah menyampaikan permintaan maafnya atas kejadian G 30/S/PKI pada tahun 1965 lalu.

“Sekarang sudah ada, bahwa Peristiwa 1965 diangkap sebagai pelanggaran HAM berat. Dan pemerintah harus minta maaf,” ungkap Ma’ruf yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres).

Kiki Syahnakri sependapat dengan Ma’ruf, bahwa pemikiran dan ideologi komunis tidak pernah mati, bahkan sekarang ini juga harus diwaspadai pemikiran liberalisme.

Pemikiran liberalisme, menurut Kiki, sudah masuk di semua lini, bahkan anggota parlemen kita sudah dirasuki pemikiran liberalisme. Itu terlihat dari campur tangam asing dalam pembuatan undang-undang untuk kepentingan asing

“Pemikiran liberalisme lebih berbahaya dibandingkan pemikiran komunisme. Namun kedua pemikiran tersebut tetap harus diwaspadai,” papar Kiki.

Ia mencontohkan kontrak pertambangan asing yang diatur dalam undang-undang, dan kontrak itu sampai selama 65 tahun, dan setelah itu dapat diperpanjang lagi. Ini merupakan produk aturan yang dibuat untuk kepentingan asing, sehingga pihak asing bisa mengeksploitasi kekayaan alam kita.

Friday, May 10, 2013

Boleh Demo Tetap Dzikir


Sebelum turun ke jalan untuk merayakan May Day atau Hari Buruh Internasional, sebanyak 15 ribu buruh di kawasan industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat memilih untuk mengadakan zikir akbar. Ustad Arifin Ilham dipilih untuk menjadi penceramah dalam acara yang digagas oleh Forum Investor Bekasi ini.

Dengan suara seraknya, sang ustad mengingatkan para buruh untuk tetap mengingat Allah. "Demo boleh, tapi tetap berzikir," nasihat ustad saat mengisi ceramah dalam acara zikir akbar di Kawasan Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (1/5/2013).

"Saya mengingatkan agar saat berunjuk rasa nanti, tetap jaga kesantunan dan keselamatan," tuturnya.

Selain para pemimpin perusahaan dan warga sekitar, turut hadir pula Menteri Agama Suryadharma Ali. Kepada para buruh, Suryadharma menuturkan, acara zikir akbar ini merupakan upaya memperingati Hari Buruh yang sangat positif dan harus diadakan tiap tahun.

"Ini sangat bagus dan baru pertama kali dilakukan. Buruh mengadakan zikir bersama pada perayaan May Day atau Hari Buruh, saya sangat mendukung kegiatan ini," ujar Suryadharma.

Selesai zikir bersama, ribuan buruh bergerak menuju ke 2 tempat untuk melakukan aksinya. Sebagian menuju Jakarta, sementara yang lain menuju ke Kantor Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Sunday, April 21, 2013

Forum Bersama Laskar Merah Putih

Penangkapan beberapa anggota Laskar Merah oleh pihak kepolisian dalam aksi demonstrasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta dinilai sebagai tindakan berlebihan.

Untuk itu, Forum Bersama Laskar Merah Putih mengecam aksi yang dilakukan korp baju coklat tersebut. Mereka menilai penangkapan tersebut layaknya memperlakukan preman maupun teroris.

"Anggota kami ditangkap layaknya preman bahkan seperti teroris, ulah oknum polisi itu kami sesalkan," ujar Sekjen Forum Laskar Merah Putih Eko Soetikno, usai pengukuhan pengurus Laskar Merah Putih Daerah Bali di Denpasar, Minggu malam.

Anggota Laskar Merah Putih dalam setiap gerak langkah, kata Soetikno tertanam dalam jiwa mereka semangat untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai harga mati. Sehingga, menurut Soetikno, penangkapan itu dilakukan dengan cara-cara yang tak sesuai dan melanggar hukum serta aturan yang ada.

Untuk itu, ia mendesak pihak kepolisian agar segera membebaskan rekan mereka yang tidak bersalah. Namun ia tidak mau menjelaskan lebih jauh bentuk perlawanan yang akan dilakukan jika mereka yang ditangkap tidak segera dibebaskan polisi.

"Jika tidak dibebaskan, kami akan melakukan perlawanan yang tidak bertentangan dengan undang-undang yang ada," katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Bersama Laskar Merah Putih Edu Efril Manurung yang didampingi penasehat Gempar Soekarnoputra menambahkan, berdasarkan nvestigasi yang dilakukan jajarannya dan melihat video kejadian itu lebih banyak akibat salahpaham. "Anggota kami saat itu tidak bersenjata. Anggota kami juga tidak ada satupun yang melawan," jelasnya.

Keberadaan Laskar Merah Putih di lokasi demo, menurut Edu yaitu untuk menentang pengibaran bendera bulan bintang di Aceh yang mereka lakukan di Kemendagri.

"Kami memprotes keras penangkapan anggota Laskar Merah Putih. Mereka diperlakukan seperti orang preman dan pelaku kejahatan terorisme saja," sesalnya.

Baginya, Laskar Merah Putih adalah organisasi independen yang selama ini justru banyak membantu TNI dan Polri dalam mempertahankan NKRI. Visi kebangsaan organisasi Laskar Merah Putih adalah perkumpulan orang-orang yang siap membela NKRI hingga titik darah penghabisan

Thursday, April 18, 2013

Beralih Ke Dunia Maya ?

Ketika Hati Beralih ke Dunia Maya

Ketika hati beralih ke dunia maya, maka “Aku cinta kamu” pun terasa maya

Ketika hati beralih ke dunia maya, maka “Aku baik-baik saja” itu belum tentu baik

Ketika hati beralih ke dunia maya, maka sebuah rahasia akan berada di jurang terentan

Ketika hati beralih ke dunia maya, maka perasaan akan mudah dibagi-bagi

Ketika hati beralih ke dunia maya, maka “Aku tak ingin semua orang tahu” akan berubah menjadi “Nih, selamat mengetahui”

Ketika hati beralih ke dunia maya, MAKA MENYINDIR ADALAH JUARANYA

Ketika Beralih Ke Dunia Maya Semua Jadi Maya dan Tidak Nyata

Tuesday, April 16, 2013

Kopassus Siap Sikat Premanisme

Pasukan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) siap membantu aparat kepolisian menertibkan premanisme di Indonesia.

"Kami akan berada di belakang Kepolisian untuk membantu sesuai koridor yang ada," kata Wakil Komandan (Wandan) Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kartosuro, Sukoharjo, Jawa Tengah, Letkol Inf M Hasan, Selasa (16/04).

Hasan sangat terharu atas dukungan masyarakat terhadap Kopassus. "Kami sangat terharu dengan dukungan dari masyarakat dan sangat berbangga hati dengan dukungan ini dan menunjukan kami masih dicintai serta dibanggakan masyarakat sebagai pasukan khusus," ujar Hasan.

Kata Hasan, 11 anggota Kopassus yang menyerang Lapas Cebongan akan diserahkan aparat penegak hukum. "Kami serahkan semuannya pada hukum yang berlaku, dan kami sebagai tentara profesional dan tentara rakyat akan tunduk terhadap hukum," papar Hasan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, hasil investigasi TNI AD menyebutkan, pada Sabtu (23/3) lalu, 11 anggota pasukan elite Kopassus menyerang Lapas Cebongan, Sleman. Penyerangan ini menewaskan empat preman yaitu Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Dari berbagai sumber

Jepang Memberi Solusi Atasi Banjir

Jepang Beri Solusi Atasi Banjir Jakarta "Mengatasi banjir tidak bisa dengan satu solusi."

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Jepang, Shigeru Kikukawa, mengatakan bahwa Jepang menggunakan berbagai solusi untuk mengatasi banjir di wilayahnya. Hal tersebut, bisa dilakukan juga untuk mengatasi banjir di Jakarta dan beberapa wilayah Indonesia lainnya.

"Mengatasi banjir tidak bisa hanya dengan satu solusi, kita buka banyak solusi. Antara lain, melarang mengambil air bawah tanah dan melarang lain-lain. Ini yang akan mengurangi banjir," katanya di Kementerian Pekerjaaan Umum, Jakarta, Selasa 29 Januari 2013.

Shigeru menuturkan, kondisi Jepang hampir mirip dengan kondisi Indonesia. Untuk itu, upaya yang dilakukan Jepang dalam menanggulangi banjir bisa juga diterapkan di Indonesia.

Pemerintah Jepang, katanya, selalu siap membantu pemerintah Indonesia dalam mengatasi banjir, khususnya yang menimpa DKI Jakarta sebagai Ibukota Indonesia.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, mengatakan bahwa Kementerian PU bertukar pikiran dengan Jepang mengenai cara penanggulangan banjir. Pemerintah Jepang telah memberikan masukan kepada pemerintah Indonesia berbagai cara mengatasi banjir.

Walau secara karakteristik sama, kata dia, namun penanggulangan banjir di Jakarta akan lebih kompleks daripada yang terjadi di Tokyo. "Wilayah yang berada di bawah air laut di Tokyo hanya 10 persen, sedangkan di Jakarta ada 40 persen," ujar Djoko.

Monday, April 15, 2013

Musnahkan Narkoba dan Miras

Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkoba Internasional (HANI), Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT memusnahkan sejumlah barang bukti berupa narkoba dan ratusan botol minuman keras (miras) yang berhasil disita aparat Polda NTT.

Acara pemusnahan dilangsungkan di halaman Kantor Badan Narkotika NTT, Jumat (29/6).
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya yang diwakili Asisten I Setda NTT, Yohana Lisapaly dalam sambutanya mengatakan, pemusnahan barang bukti narkoba dan miras merupakan salah satu upaya untuk mencegah peredaran narkoba di Provinsi NTT.

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Karena itu, perlu ada perhatian dan penanganan yang serius dari semua stakeholder dan seluruh lapisan masyarakat.

"Sekarang Indonesia bukan hanya menjadi daerah transit narkoba, tapi sudah menjadi sasaran pemasaran narkoba," ujar Yohana.
Dikatakan, fakta menunjukan bahwa kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Provinsi NTT sejak tahun 2005 hingga bulan Juni 2012 terdapat 83 kasus dengan jumlah tersangkah sebanyak 125 orang.

Menyikapi hal itu, pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat harus saling bahu membahu melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba. "Kasus narkoba tidak bisa dicegat sendiri oleh pemerintah dan kepolisian, tapi perlu ada kerja sama yang baik dengan masyarakat baru kasus ini bisa kita antisipasi. Untuk itu saya minta kepada seluruh masyarakat untuk mendukung pemerintah dan kepolisian untuk memberantas peredaran narkoba di bumi Flobamora," imbuhnya.

Sementara, Kapolda NTT, Brigjen Pol Ricky Sihotang yang diwakili Direktur Narkoba Polda NTT, Kombes Pol Muhari mengatakan, acara pemusrahan miras dan narkoba yang dilakukan merupakan bagian dari upaya kepolisian dan pemerintah untuk mengetahui sejauhmana perkembangan peredaran miras di Provinsi NTT serta upaya penegakan hukum yang dilakukan Polda NTT dan jajarannya serta instansi terkait untuk menciptakan situasi yang aman dan kondusif.

Perkembangan kasus narkoba dan miras di NTT tahun 2008 terdapat 17 kasus narkoba, tahun 2009 14 kasus narkoba dan 87 kasus miras, tahun 2010 10 kasus narkoba dan 289 kasus miras, tahun 2011 delapan kasus narkoba dan 229 kasus miras, tahun 2012 sampai sekarang sudah terjadi delapan kasus narkoba dan 101 kasus miras.

"Miras yang sudah dimusnahkan berjumlah 8.635 botol dalam berbagai merk yakni sopi 2.048 liter, narkotika jenis ganja empat linting dan sabu tiga paket," sebut Muhari.

Dari data yang ada dapat diketahui, khususnya peredaran miras di NTT cukup tinggi.

Hal itu disebabkan karena harga miras cukup terjangkau dan juga dapat diperoleh di mana saja.
Perlu diketahui, seseorang yang mengkonsumsi miras secara berlebihan cenderung menciptakan kasus pidana baru. Seperti melakukan kekerasan, pemerkosaan, pelecehan seksual, kecelakaan lalulintas bahkan pembunuhan.

"Karena kalau orang minum sopi akan berpengaruh pada susunan saraf otak, saraf mata dan merusak organ-organ tubuh yang lainnya. Sehingga orang yang mabuk sopi akan bertindak diluar logika sehat," pungkas dia.

Saturday, April 13, 2013

Malu Dan Memalukan

“Malu adalah bagian dari iman seseorang” (HR. al-Hakim dan Baihaqi).

Sebagaimana lazimnya, sebuah jejak rekam perilaku yang baik dan mulia tidak akan mungkin kemudian menimbulkan rasa malu pada diri seseorang meskipun diketahui orang lain yang bahkan perilaku yang baik dan mulia tersebut akan kemudian disenangi setiap orang pada umumnya (normal), apalagi kemudian perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang beriman. 

Hal Ini berbeda dengan jejak rekam dari akhlak yang jelek atau buruk dari seseorang yang tentunya akan sangat memalukan rasanya, baik terhadap diri pelaku itu sendiri maupun orang lain.  Itulah dosa, memalukan rasanya. Sebagaimana disebutkan Rasulullah, “...dosa adalah sesuatu yang menimbulkan kegalauan pada jiwamu, dan engkau tidak senang perbuatan itu diketahui orang lain” (HR. Muslim).

Bayangkan kalau setiap hari rekaman dari perbuatan dosa yang kita lakukan diperlihatkan oleh malaikat.  Lebih memalukan lagi bila yang diperlihatkan itu adalah dosa yang sengaja dilakukan oleh penegak hukum atau orang-orang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang melakukan perbuatan-perbuatan berdosa. Bukan tak mungkin setiap diri kita melakukan perbuatan dosa setiap hari, apalagi bila sudah hilang rasa malu. Rasa malu ibarat pagar. Atau malu bisa menjadi pencegah.  Rasulullah menyebut malu sebagian bagian dari iman (HR. Bukhari dan Muslim). Sehingga bila hilang rasa malu, kita berpeluang melakukan apa saja dan akan terlihat menjadi sesuatu hal yang biasa.

Karena malu bersemayam di hati maka semakin terkotori hati oleh perbuatan yang memalukan semakin besar peluang memudarnya rasa malu bila berbuat jahat. Sehingga tak mengherankan bila tidak muncul rasa malu lagi dari hati orang-orang yang gemar melakukan dosa. 
 
Untuk menghindari hal yang demikian dan menjaga agar hati tetap bersih jalan yang terbaik adalah berusaha untuk tidak melakukan dosa, memperbanyak pahala serta malu ketika hendak melakukan perbuatan yang memalukan.

Generasi Madani

Kata Madani berasal dari bahasa Arab, dari akar kata مدن yang bermakna ‘membangun kota, membudayakan’, atau ‘memanusiakan. Dari akar kata tersebut dapat diturunkan pula kata تمدن yang bermakna ‘peradaban’. 

Ungkapan masyarakat madani dapat diberi makna masyarakat yang beradab, masyarakat yang berperadaban, atau masyarakat yang berbudaya, yang di dalamnya manusia benar-benar diperlakukan sebagai manusia. 

Konsepsi masyarakat madani yang didambakan itu dapat digambarkan sebagai berikut 

1. Masyarakat madani adalah masyarakat yang berperadaban, yang di dalamnya terdapat ukuran-ukuran normatif dalam kehidupan yang digunakan untuk menilai sesuatu itu baik atau tidak baik. Jadi, ukuran baik tidak baik itu ditentukan oleh (kepentingan) diri sendiri. 

2. Hubungan sesama manusia dalam masyarakat madani adalah hubungan horizontal. Hubungan vertikal hanya diperlihatkan oleh hubungan antara makhluk dan Tuhan. 

3. Hak asasi manusia dalam masyarakat madani dihormati dan dihargai dalam rangka menghormati hak-hak orang lain, bukan dalan rangka memperjuangkan hak-hak pribadi. 

4. Kekuasaan masyarakat madani terletak pada rakyat , bukan penguasa. 

Kebenaran yang diperjuangkan dalam masyarakat madani pun bukan kebenaran penguasa, melainkan kebenaran yang obyektif. Dengan demikian, hukum harus ditegakkan. Dalam pada itu, pihak mana pun yang menggunakan kekuatan untuk memaksakan kehendaknya tidaklah dibenarkan (sumber kompas)

MUI Konsen Perbaiki Moral Bangsa

Evaluasi atas setiap kegiatan yang dilakukan guna untuk menata langkah dan merencanakan aktivitas ditahun depan adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap orang, termasuk dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan. Menurut Ketua Umum MUI Prov Kalsel, H Ahmad Makkie, pada 2013 Majelis Ulama Indonesia akan banyak menghadapi tantangan.

Tantangan yang dimaksud, antara lain mencegah aliran sesat, tindak kekerasan, permasalahan perempuan dan ekonomi umat. Pada tahun - tahun mendatang akan banyak sekali dihadapi persoalan moral atau akhlak, sehingga harus konsen memperbaiki moral bangsa. Seperti kita ketahui, MUI (Mejelis Ulama Indonesia) merupakan wadah berhimpunnya ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim, bermusyawarah mengenai pokok-pokok pikiran tentang perbaikan akhlak bangsa, pemberdayaan ekonomi umat, penyusunan fatwa keagamaan dan seruan masalah sosial.

Pengurus MUI dituntut memahami gejaja yang terjadi di masyarakat, seiring lajunya perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi. Secara khusus, mewaspadai gerakan-gerakan yang mengarah kepada kekerasan atau radikalisme. Menyangkut perbaikan akhlak bangsa, krisis yang terjadi di bidang kehidupan sosial kemasyarakatan, terutama moral atau akhlak, berdampak negatif pada penurunan secara tajam kualitas hidup masyarakat.

Demikian pula perubahan sosial di masyarakat, akibat negatif globalisasi, menjadi penyebab berkembangnya budaya dan paham-paham baru yang tidak islami di kalangan anak-anak dan remaja muslim dalam keseharian mereka. Atas tantangan dan gejala demikian, MUI mengharapkan aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap pelaku penyakit masyarakat (narkoba, minuman keras, judi, prostitusi dan lain-lain). Juga menjalankan good governance (pemerintah berbasis maslahat).

Sementara dalam menjalankan perannya, MUI melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi umat. MUI harus berkata hitam atau putih (halal atau haram), kendati banyak tantangan dan kritikan yang dihadapi. Yang tidak kalah dahsyatnya, MUI selalu dihadapkan berbagai paham dan aliran yang menyimpang dari prinsip ajaran Islam, sehingga harus berkata hitam atau putih tadi, tidak boleh abu-abu yang dapat membingungkan umat.

Mengutip kriteria yang dirumuskan oleh MUI Pusat, suatu paham atau aliran keagamaan yang berkembang di masyarakat dapat dinyatakan sesat apabila memenuhi satu dari 10 kriteria berikut. Mengingkari satu dari rukun iman yang enam; mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar’i (Alquran dan Sunah); menyakini turunnya wahyu setelah Alquran; mengingkari otensitas isi Alquran; melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.

Selain itu, mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam; menghina, melecehkan atau merendahkan para nabi dan rasul Allah; mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir. Berikutnya, mengubah, menambah atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti haji tidak ke baitullah, salat tidak fardu, tidak lima waktu; mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, hanya karena bukan kelompoknya.

Inilah persoalan keagamaan yang mengitari umat Islam, terutama menjadi tantangan bagi MUI di tahun-tahun mendatang.

Editor : Dheny
Source : Banjarmasin Post Edisi Cetak

Ustadz Yusuf Mansur : Awas, Bahasa Kristenisasi

Ustadz Yusuf Mansur: Awas, Bahasa Alay Bentuk Kristenisasi

Baru-baru ini akun facebook Ustad Yusuf Mansur dikejutkan dengan sebuah status kontroversial. Dalam status tersebut, Ustad Yusuf yang diikuti banyak fans tersebut, menyatakan bahwa penggunaan kata “ciyus” (menurut apa yang ia temukan di google) yang berarti singkatan dari “Cinta Yesus.”

Respon orangpun bervariasi. Ada yang menelan bulat-bulat. Bahkan mengkaitkan bahasa Alay sebagai produk Yahudi dan Kristen untuk menginfiltrasi Islam. Tapi ada juga yang curiga. Ustad Yusuf bukanlah tipikal pecinta “teori konspirasi” bagi beberapa orang.

Bahasa alay seperti kita tahu adalah bentuk penyimpangan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Dalam kasus ini orang mungkin bisa berkata, “yang penting ambil hikmahnya saja” atau “ini kan intinya supaya orang lebih berbahasa Indonesia yang benar.” Namun pertanyaannya, diperbolehkankah kita suudzon / berprasangka untuk sebuah alasan yang tepat ?

Dari status ini ada 2 pesan implisit bahwa :

1. Bahasa alay (kata ciyus) adalah produk agama Kristen. Ini artinya ajaran Kekristenan merusak Bahasa Indonesia.

2. Bahasa alay adalah sarana dakwah kristenisasi yang dilakukan secara implisit. (Bahwa ketika menyebut kalimat tersebut, seolah seperti menyebut kalimat syahadat dan lalu masuk Kristen tanpa sadar)

Kedua hal ini pada akhirnya justru berpotensi menyebabkan SARA dan kebencian pada umat Kristen hanya diakibatkan oleh teori cocoklogi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sulit dipercaya kalau ustad sekaliber Yusuf Mansur sampai mengkambinghitamkan agama lain hanya supaya umatnya tidak berbahasa alay. Apalagi hanya dengan mengandalkan google. (Kok deja vu sama kasus Rhoma Irama vs Jokowi yah?)

Ada kemungkinan akun tersebut bukan akun asli Ustad Yusuf Mansur. Memang sangat marak dan mudah bagi beberapa orang yang berusaha menanamkan fanatisme sempit secara terselubung lewat dunia maya. Dengan menggunakan “nama besar” orang tertentu, semua kata yang mereka ucapkan menjadi “believable” dan “legit.” Apalagi bila terlihat didukung jumlah fans yang banyak.

Semoga ustad Yusuf (bila memang bukan akunnya) menyadari hal ini dan mengeluarkan pernyataan kontra bahwa ia tidak terlibat menulis hal tersebut. Dengan begitu, umat tahu dimana kejelasan pola pikir dan ideologi ustad Yusuf berpijak dan mampu memilah mana yang benar dan mana yang salah

Moral of Story: Berprasangka dan Melakukan Hal Buruk untuk Suatu Kebenaran Tidaklah Tepat. Merampok rumah orang dengan alasan memberi pada orang miskin, sampai kapanpun tidak akan pernah dibenarkan.

http://unik.kompasiana.com/2013/02/09/ustadz-yusuf-mansur-awas-bahasa-alay-bentuk-kristenisasi-532137.html

Friday, April 12, 2013

Kenakalan Remaja dan Solusinya

Akhir-akhir ini media massa diwarnai berita-berita negatif tentang kenakalan remaja, mulai dari kekerasan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, free sex, hingga kriminalitas yang dapat menelan korban jiwa. Anehnya, semua kenakalan itu banyak dilakukan oleh anak remaja sekolah yang seharusnya menunjukkan prilaku positif. Hal ini harus menjadi perhatian serius oleh semua elemen, khususnya para orang tua dan praktisi pendidikan.
Langkah-langkah strategis dan praktis sangat mendesak untuk dilakukan dalam rangka mengidentifikasi, menginvestigasi, dan  memberikan solusi efektif guna menanggulangi kenakalan remaja. Semua itu membutuhkan ketelatenan, keuletan, kesungguhan, dan semangat tinggi dari semua elemen.
Buku Kiat Mengatasi Kenakalan Remaja di Sekolah ini mengupas tuntas permasalahan remaja dan solusinya melalui pendekatan psikologis dan edukatif. Dengan dua pendekatan ini diharapkan mampu menganalisis semua permasalahan remaja secara mendalam sehingga mampu menemukan solusi tepat yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan di sekolah.

Sebagai ujung tombak dalam pendidikan anak, sekolah memiliki peran sangat vital dalam menyelesaikan problematika kenakalan remaja. Oleh karena itu, sekolah dengan struktur dan manajemen profesionalnya sudah seharusnya mengalokasikan sumber daya manusia dan finasialnya agar tetap aktif dalam menangani kenakalan remaja. Buku ini hadir untuk membantu memberikan pemahaman utuh kepada semua praktisi pendidikan dalam menanggulangi kenakalan remaja.

Sebelum melakukan tindak penanggulangan kenakalan remaja, sekolah perlu melakukan langkah-langkah strategis agar tidak salah sasaran. Dimulai dengan persiapan bekal pemahaman yang utuh terhadap remaja dan dunianya serta perannya di masyarakat. Bekal ini sangat penting bagi semua pihak di sekolah, terutama guru, sebagai motor penggerak motivasi dalam melaksanakan langkah-langkah berikutnya. Karena sekolah mempunyai tanggung jawab besar untuk mempersiapkan remaja ideal sebagai ilmuwan dan penggerak kemajuan dan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat (halaman 25).

Setidaknya ada dua alasan yang penting untuk disadari oleh semua pendidik mengapa ramaja harus disiapkan dengan matang. Yaitu, pertama, remaja mempunyai peran dan nilai yang strategis  serta signifikan dalam menentukan masa depan bangsa. Kedua, eksistensi remaja sebagai simbol progresivitas, pelopor, dan penentu arah dinamika suatu bangsa (halaman 32).

Langkah selanjutnya setelah mengetahui posisi dan peran remaja secara menyeluruh adalah menganalisis penyebab-penyebab kenakalan remaja. Menurut Kartini Kartono, kenakalan remaja disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal (endogen) dan faktor eksternal (eksogen).  Faktor internal berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru oleh remaja dalam menanggapi lingkungan di sekitarnya dan semua pengaruh dari luar.

Sedangkan faktor eksternal adalah semua perangsang dan pengaruh luar yang menimbulkan tingkah laku terntentu bagi anak-anak remaja. Misalnya, tindak kekerasan, kejahatan, perkelahian, pornografi, pornoaksi, pergaulan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan lain sebagainya (halaman 125-129).

Faktor lain adalah kurangnya perhatian dari orang tua dan guru. Apalagi kondisi saat ini yang serba canggih. Kecanggihan teknologi tersebut harus diimbangi dengan kontrol yang baik dan pembinaan moral yang tepat agar para pendidik tidak “kecolongan”. Karena kemudahan dalam mengakses informasi secara bebas dapat mempengaruhi pola pikir anak. Jika yang diakses informasi yang tidak baik dan merusak seperti pornografi dan semacamnya, maka mereka akan cenderung ingin meniru apa yang mereka lihat.

Perlu disadari, bahwa terdapat dua hal penting yang harus dipahami oleh orang tua dan semua pendidik di sekolah yang ada dalam diri remaja. Ada potensi positif yang sangat menakjubkan, sekaligus juga ada potensi negatif yang sangat membahayakan. Potensi positif adalah kekuatan yang dapat membawa kepada kemajuan. Sedangkan potensi negatif dapat membawa pada kenakalan yang besar, dikarenakan keinginannya untuk mencoba hal-hal baru yang sangat besar.

Untuk itu, kedua potensi tersebut butuh perhatian khusus dari para pendidik agar seorang remaja tidak terjebak pada hal-hal negatif. Di sinilah keterampilan para pendidik dalam menemukan energi positif remaja sangat diperlukan. Tentunya bukan menggunakan insting, tapi dengan pengamatan yang mendalam tentang kehidupan remaja itu sendiri, baik dengan membaca buku maupun dengan langsung mengamati perubahan tingkah lakunya di setiap waktu.

Ada empat belas langkah praktis yang sangat memungkinkan untuk dilakukan di sekolah dalam buku ini dalam rangka mencegah dan mengatasi kenakalan remaja. Semuanya dapat dirangkum dalam empat poin penting. Pertama, menguatkan pendidikan karakter yang baik kepada anak di sekolah dengan keteladanan dan menyemarakkan kegiatan-kegiatan positif. Kedua, melakukan pendekatan psikologis yang humanis kepada anak melalui bimbingan dan konseling. Ketiga, Menguatkan kerja sama antara sekolah, orang tua, dan lingkungan dalam mengontrol perkembangan karakter anak. Keempat, Menegakkan tata tertib sekolah secara disiplin (halaman 173-210).

Pada intinya, buku setebal 284 halaman ini mengajak kita semua, khususnya para praktisi pendidikan, untuk menyiapkan generasi yang baik di masa yang akan datang. Hal ini dapat dimulai dengan memberikan pendidikan yang baik agar para remaja (anak didik) dapat terhindar dari aksi-aksi kenakalan remaja.

Wiranto Jangan Ulangi 1966

Panglima TNI periode 1998-1999 Jenderal (Purn) Wiranto menyesali insiden pembakaran Polres Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan oleh puluhan anggota TNI. Ia berharap kejadian tersebut tidak terulang kembali apalagi menjadi seperti kondisi pada 1966. "Menyedihkan sekali. Jangan sampai ini berulang seperti 1966. Angkatan yang pegang senjata saling bertempur dengan yang lain," ujar Wiranto. Menurut Ketua Umum Partai Hanura itu, butuh penanganan serius mulai dari akar masalahnya agar tidak berulang.

Menurutnya, hal itu pun menyangkut psikologi antara aparat berbaju cokelat dan loreng itu. "Menurut saya ini bukan masalah individual tapi menyangkut psikologi yang menyangkut perasaan hati dari kedua lembaga ini. Ini yang harus diselesaikan dengan baik. Bukan hanya masalah-masalah teknis di lapangan," terangnya.

Wiranto tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari 1966 yang dia rujuk. Namun dari catatan sejarah, tahun itu adalah satu masa ketika situasi politik dan keamanan masih terdampak peristiwa G30-S pada 1965. Termasuk situasi di angkatan bersenjata, antara yang pro dan kontra Bung Karno.

Pembakaran Markas Polres OKU

Markas Polres Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan dibakar puluhan anggota TNI dari Batalyon Armed 15, Kamis (7/3/2013) sekitar pukul 07.30. Massa juga merusak mobil polisi, dua Pos Polisi dan Sub Sektor setempat. Sekitar 90 anggota TNI itu datang dengan sepeda motor dan truk. Mereka juga datang membawa sangkur yang melukai empat anggota kepolisian.

Menurut polisi, pasukan tentara itu semula ingin menanyakan kasus tewasnya anggota TNI pada Januari 2013 akibat ditembak petugas lalu lintas Polres OKU. Namun, mereka diduga kecewa dengan penjelasan yang didapat, hingga akhirnya membakar gedung Polres dan mobil kepolisian.

Pada akhir Januari 2013, anggota TNI Pratu Heru tewas ditembak petugas lalu lintas Polres OKU Brigadir Polisi Bintara Wijaya. Saat itu Wijaya mengaku ingin menghentikan Heru yang dianggap melakukan pelanggaran lalu lintas.

Namun, Heru tak menghiraukan dan tetap melanjutkan perjalanan. Wijaya pun mengejar Heru hingga melepaskan tembakan yang menewaskan anggota TNI itu.

Wijaya saat ini telah menjalani proses hukumnya dan telah mendekam di Polda Sumatera Selatan. Sejak saat itu hubungan aparat TNI dan Polisi di Sumsel telah memanas.

Wednesday, April 10, 2013

Solusi Mengatasi Kebakaran

Musibah apapun itu bentuknya , baik kebakaran , kebanjiran , tanah longsor , gempa bumi dan atau tsunami pastinya tidak ada seorangpun yang mau mengalaminya dan setiap orang tentunya ingin agar permasalahan - permasalahan tersebut segera berakhir dan tidak terulang lagi. 

Tidak sedikit usaha yang telah dilakukan baik oleh pihak perseorangan , swasta, maupun pemerintah dalam rangka untuk mengatasi berbagai permasalahan ini, namun kembali hal tersebut seolah tiada henti hentinya datang dan boleh dibilang semakin besar dari sebelumnya.

Berikut saya temukan opini dalam rangka untuk mengatasi musibah kebakaran (bukan mencegah dan menanggulangi tapi mengatasi)

Untuk menghadapi berbagai musibah yang kerap terjadi dan dalam upaya untuk pengamanannya khususnya terhadap kebakaran yang dilakukan pada saat terjadinya musibah kebakaran, yang menyangkut tata laksana operasional pemadaman, teknik dan taktik pemadaman serta kewenangan-kewenangan untuk memperlancar pelaksanaan kebakaran.

Bukan sepertinya akan tetapi semestinya setiap warga masyarakat wajib untuk ikut andil dan aktif dalam mengadakan upaya-upaya  penanggulangan bahaya kebakaran, baik untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk kepentingan umum dan dengan begitu cepatnya pertumbuhan pembangunan yang semakin hari semakin meningkat atau bertambahnya fungsi kawasan perkantoran, perdagangan, pariwisata dll, hal ini cenderung menyebabkan terjadinya banyak kebakaran sehingga memerlukan pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

Jadi untuk menanggulangi kebakaran, petugas pemadam kebakaran tidak bisa bekerja sendirian, perlu peran serta aktif dan parsitipasi masyarakat, sehingga masyarakat perlu memahami cara penanggulangi  kebakaran.

Setiap penduduk perlu tahu cara sederhana mencegah dan menanggulangi kebakaran baik untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan umum

Maka proses pemadaman api  atau  menanggulangi bahaya kebakaran,  bisa digunakan dengan  2 (dua) cara : yaitu cara tradisional  dan modern.

Saat memadamkan api, kita tidak boleh panik. Api bisa ditaklukkan jika tenang dan cekatan.

Waspadalah !!!! Dan Ingatlah Mencegah Lebih Baik daripada yang lain (mengatasi, mengurangi, menanggulangi, menghindari) jadi cegahlah ...!!!

Tanda Masyarakat Sudah Cerdas

Laporan: Dedy Ardiansyah

Kesuksesan dan atau tanda tanda dimana sebuah koloni atau warga negara dan atau masyarakat sudah mengalami peningkatan dalam kecerdasan tidak hanya bisa dilihat dari segi pendidikan yang tinggi saja dan tidak terletak atau tertentu pada beberapa orang saja karena kenyataan ini kemudian perlu didukung oleh seberapa banyak mereka yang sudah dan menjangkau hal tersebut

Berkaitan dengan tingkat kecerdasan masyarakat dan senada dengan hal ini Sebuah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) bukan hanya diukur dari seberapa banyak partisipasi masyarakat yang datang ke Tempat Pemilihan Suara (TPS). Tapi bisa juga diukur dari tingginya suara golongan putih (Golput).

Pendapat  ini disampaikan ekonom nasional Ichsanudin Noorsy yang menjadi panelis di acara Debat Cagub yang disiarkan langsung di TVOne.

"Saya memang berbeda pandangan terhadap teman-teman pengamat politik. Saya mengukur tingkat keberhasilan sebuah pemilu dari voter education itu. Semakin tinggi angka Golputnya, berarti semakin cerdas masyarakatnya," kata Ichsanudin dalam perbincangan dengan MedanBagus.Com usai acara Debat Cagub.

Ichsanudin bilang, tingginya angka Golput tersebut merupakan refresentasi dari voter education, sebuah kesaradan pemilih untuk tidak memilih karena sudah mengetahui calon yang akan dipilihnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Ichsanudin Noorsy ngomong begini karena punya riset, bukan asal ngomong," imbuhnya.

Setidaknya, dari rata-rata setiap dia tampil sebagai panelis, kecenderungan meningkatnya angka golput itu selalu terjadi.

"Jadi kalau saya jadi panelis di satu debat, tingkat golputnya bisa menjadi 40 sampai 45 persen. Itukan karena mereka sadar, ini calon tidak merefresentasikan aspirasi publik," pungkasnya.