kolom melintang

Showing posts with label Keamanan. Show all posts
Showing posts with label Keamanan. Show all posts

Tuesday, April 16, 2013

Jepang Memberi Solusi Atasi Banjir

Jepang Beri Solusi Atasi Banjir Jakarta "Mengatasi banjir tidak bisa dengan satu solusi."

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Jepang, Shigeru Kikukawa, mengatakan bahwa Jepang menggunakan berbagai solusi untuk mengatasi banjir di wilayahnya. Hal tersebut, bisa dilakukan juga untuk mengatasi banjir di Jakarta dan beberapa wilayah Indonesia lainnya.

"Mengatasi banjir tidak bisa hanya dengan satu solusi, kita buka banyak solusi. Antara lain, melarang mengambil air bawah tanah dan melarang lain-lain. Ini yang akan mengurangi banjir," katanya di Kementerian Pekerjaaan Umum, Jakarta, Selasa 29 Januari 2013.

Shigeru menuturkan, kondisi Jepang hampir mirip dengan kondisi Indonesia. Untuk itu, upaya yang dilakukan Jepang dalam menanggulangi banjir bisa juga diterapkan di Indonesia.

Pemerintah Jepang, katanya, selalu siap membantu pemerintah Indonesia dalam mengatasi banjir, khususnya yang menimpa DKI Jakarta sebagai Ibukota Indonesia.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, mengatakan bahwa Kementerian PU bertukar pikiran dengan Jepang mengenai cara penanggulangan banjir. Pemerintah Jepang telah memberikan masukan kepada pemerintah Indonesia berbagai cara mengatasi banjir.

Walau secara karakteristik sama, kata dia, namun penanggulangan banjir di Jakarta akan lebih kompleks daripada yang terjadi di Tokyo. "Wilayah yang berada di bawah air laut di Tokyo hanya 10 persen, sedangkan di Jakarta ada 40 persen," ujar Djoko.

Saturday, April 13, 2013

Simulasi Hadapi Gempa : Jepang

Ditulis Oleh : Rahmayanti Helmi Yanuariadi*

              Di Jepang, siapapun dianjurkan untuk mengetahui bagaimana menghadapi gempa bumi, kebakaran, asap pekat, hujan badai. Latihan menghadapi bencana ini  bisa diikuti oleh grup, sekolah, karyawan, bahkan individu jika tidak memiliki grup, dengan mendaftarkan diri ke Life Safety Learning Center, lembaga yang khusus mengurusi hal ini di Asakusa Honjo Bosaikan, Tokyo Fire Department.  Latihan ini biasanya dilakukan secara periodik.

             Saya mengikuti simulasi ini ketika menjadi murid di sekolah bahasa Jepang di Naganuma, Shibuya-Tokyo. Kami diwajibkan mengikuti kegiatan ini.  Setiap orang harus tahu di mana tempat/lapangan evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Jadi, suatu hari diacarakan, sengaja seluruh murid berkelompok berjalan meninjau tempat evakuasi itu, agar jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu, tahu kemana tempat menyelamatkan diri.

              Honjo Bosaikan ini terdiri dari empat lantai: lantai 1 adalah tempat simulasi gempa bumi, lantai 2 tempat latihan bagaimana menghadapi jika  berada di ruangan berasap (jika terjadi kebakaran), latihan memadamkan kebakaran, latihan bagaimanan menyelamatkan orang lain, lantai 3 tempat latihan bagaimana menghadapi hujan badai, dan lantai 4 theater untuk melihat bagaimana penanganan bencana.

              Di ruangan earthquake simulator, ini adalah sebuah ruangan 3 x 3,5 m seperti di rumah kita. Ada meja makan, kursi, ada lemari, buffet, lampu. Empat orang masuk ke ruangan itu; setelah 10 detik berselang, tiba-tiba ruangan dibuat bergerak kencang dengan intensitas gempa 7,0. dengan tipe guncangan horizontal dan vertical. Dikatakan tipe ini seperti yang terjadi dalam kehidupan nyata.

             Yang diajarkan, jika terjadi gempa, berlindunglah di  bawah kolong meja, dengan membawa apa saja yang bisa melindungi kepala, apakah bantal, atau benda apa saja yang kuat untuk melindungi kepala dari sesuatu yang kira-kira akan menimpa. Tidak ada batasan meja harus terbuat dari apa. Intinya kita melindungi diri dari benturan benda-benda keras yang jatuh atau menimpa kita.

              Karena itu dianjurkan agar rumah-rumah tidak memajang lemari terlalu tinggi, lemari-lemari pun harus terpaku ke tembok. Pintu lemari juga dipsikirkan yang aman penguncinya, dengan perhitungan jika terjadi gempa, barang-barang tidak meluncur keluar. Di apartemen di Jepang, di rancang lemari tanam dengan sliding door atau pintu lipat, di samping juga untuk hemat ruangan.

             Latihan menghadapi bencana ini tidak pernah berhenti dilakukan masyarakat, sekolah, komunitas, dan perkantoran. Contohnya, salah satu yang tercatat pada tahun 2007, di Tokyo diselenggarakan latihan yang diikuti sekira 600 ribu warga dalam rangka memperingati 84 tahun gempa berkekuatan 6,8 SR terjadi di Tokyo 1 september 1923 yang mengakibatkan korban tewas lebih dari 140.000 orang. Juga pernah dilakukan simulasi gempa bumi di Big Sight International Exhibition Center di Tokyo pada festival Shobo Dezome. Setiap tahun ajaran barupun, secara periodik, sekolah-sekolah selalu melakukan latihan simulasi menghadapi bencana di Life Safety Learning Center. Yang jelas, meskipun berkali-kali latihan dilakukan, dan pesertanya pun sudah pernah mendapat pelatihan, tetap saja pelatihan hadapi bencana diagendakan. Yang sudah pernah mengetahui boleh tidak mengikuti pelatihan jadwal berikutnya.

Yokohama,15 Maret 2011. (Tulisan asli, sebelum diedit). Telah dimuat di Koran Tempo, 18 Maret 2011.

Lebih Takut Nuklir Ketimbang Gempa

Jepang Lebih Takut Nuklir Korut Ketimbang Gempa

Ancaman serangan nuklir Korea Utara (Korut) ternyata membuat Jepang semakin khawatir. Ancaman serangan itu membuat salah seorang pejabat Jepang salah mengirim surat elektronik. Pejabat itu hendak mencari informasi mengenai dampak gempa bumi sebesar 6,3 Skala Richter di bandara. Namun dia justru menyampaikan informasi salah mengenai nuklir Korut.

Pejabat Kementerian Transportasi Jepang itu mencoba memeriksa kerusakan-kerusakan yang muncul di bandara 87 hari ini karena gempa bumi tersebut menghantam wilayah di dekat Prefektur Hyogo. Seperti diketahui, gempa yang terjadi pada pukul 05.00 waktu Jepang, telah merusak banyak bangunan dan melukai 15 orang.

Namun pejabat itu tampaknya panik dengan ancaman serangan nuklir yang dilontarkan Korut ke Negeri Sakura kemarin. Dalam surat elektroniknya yang dikirim ke bandara, pejabat itu justru menyuarakan peringatan ke bandara agar mereka mempersiapkan diri karena Korut segera meluncurkan misilnya hari ini. Demikian seperti diberitakan AFP, Sabtu (13/4/2013).

Kemunculan pesan itu tidak menunda proses keberangkatan pesawat-pesawat domestik. Pesan itu pun langsung ditarik enam menit kemudian.

Seperti diketahui, ancaman serangan nuklir kembali diumumkan Korut terhadap Jepang kemarin sore. Korut mengaku, mereka mulai memantau gerak-gerik Jepang. Bila aktivitas Pasukan Beladiri Jepang mulai terlihat mencurigakan, Korut takkan segan menembakan misil balistiknya yang berhulu ledak nuklir.

Sikap agresif Korut terhadap Negeri Sakura kembali meningkat setelah Jepang mengerahkan Misil Patriot PAC-3 di Okinawa dan Tokyo, serta kapal tempur Aegis yang dilengkapi perisai misil. Beberapa pekan yang lalu, Jepang pun menegaskan bahwa mereka tidak akan ragu menghancurkan misil Korut bila misil tersebut melesat ke wilayah Jepang.

Sejauh ini, misil yang dikhawatirkan Jepang adalah Misil Musudan. Misil itu diklaim sanggup menghantam target sejauh 3.500 hingga 4.000 kilometer. Misil itu jelas bisa menghantam Tokyo, Korea Selatan (Korsel) dan Guam, namun tidak bisa mencapai Hawaii.

Friday, April 12, 2013

Cara Mengatasi Gempa

Belum selesai pemulihan akibat dampak gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Aceh, kembali gempa terjadi lagi di kawasan Nias. Provinsi Sumatera Utara serta Simeulue dan Singkil, Provinsi NAD. Gempa terjadi dengan kekuatan 8,7 pada Skala Richter. Bila kita bandingkan dengan dampak yang ditimbulkannya, maka gempa dengan kekuatan lebih besar dari 8 Skala Richter merupakan gempa yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada beberapa daerah dengan jangkauan 100 km.

Bila ditransformasikan dengan energi TN, maka gempa dengan kekuatan 8,7 pada Skala Richter adalah ekuivalen dengan kekuatan lebih dari 12 miliar ton TNT dan kejadian gempa yang menimbulkan tsunami di Aceh 26 Desember 2004 dengan kekuatan 8,9 Skala Richter adalah lebih dari 24 miliar ton TNT (atau dua kali kekuatan energi TNT dari gempa di kawasan Nias).

Dengan kekuatan yang sebesar itu tetap menimbulkan pertanyaan, karena gempa di kawasan Nias dengan pusatnya di laut tidak menimbulkan tsunami. Padahal beberapa persyaratan untuk timbulnya tsunami ada pada kejadian gempa tersebut, yaitu lokasi di laut, kekuatan sangat besar, deformasi juga terjadi. Namun kejadian ini tidak menimbulkan gangguan yang signifikan di muka air laut yang bisa menimbulkan tsunami.

Tsunami berasal dari kata Jepang "tsu" pelabuhan/laut dan "nami" berarti gelombang. US Army Corps of Engineers mendefinisikan tsunami sebagai gelombang laut gravitasi periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan seperti gempa, longsor, letusan gunung berapi, dan exploisons di dekat muka air laut.

Gelombang tsunami terbentuk oleh gerakan patahan, longsor, jatuhnya benda-benda langit (meteor) maupun aktivitas gunung api di bawah laut. Istilah tsunami ini jadi populer untuk membedakan dengan gelombang-gelombang yang umum terjadi.


Tsunami terjadi di perairan dalam laut lepas dan bergerak menuju ke perairan dangkal dekat pantai. Perubahan energi tsunami yang tergantung pada kecepatan gelombang dan tinggi gelombang adalah hampir konstan. Konsekuensinya. pengurangan kecepatan tsunami juga hampir konstan pada saat menuju perairan dangkal, sehingga energi tsunami terasa semakin bertambah besar di perairan dangkal. Karena pengaruh shoaling, tsunami tidak terasa/kelihatan di laut, tetapi dapat menjadi beberapa meter atau lebih tinggi di dekat pantai. Ketika mencapai pantai, tsunami dapat menimbulkan gelombang jatuh atau gelombang naik yang sangat cepat, yang merupakan rangkaian gelombang penghancur.

Dengan kata lain, gelombang dengan ketinggian hanya 2 meter (misalnya) di laut, namun kecepatannya bisa mencapai lebih dari 800 km per jam ketika mencapai pantai, kecepatannya akan sangat berkurang, namun tinggi gelombang akan menjadi puluhan meter. Ketinggian gelombang inilah yang menimbulkan kerusakan dahsyat di pantai.

Tsunami dapat diakibatkan oleh berbagai hal yang menyebabkan pemindahan massa air yang sangat besar dari kondisi equilibriumnya (seimbang).

Pada beberapa kasus tsunami yang pernah terjadi, penyebabnya adalah gempa bumi, kenaikan kolom air atau penurunan dasar laut, dan atau longsoran submarine. Pada umumnya, letusan gunung berapi yang hebat pada daerah pesisir (submarine) dapat juga menimbulkan kekuatan impulsif yang menaikkan kolom air dan mengakibatkan tsunami. Sebaliknya. gerakan tanah pada supermarine dan pengaruh tabrakan kosmik (seperti meteor) mengganggu air dari sisi atas, seperti momentum jatuhnya runtuhan benda-benda ke dalam air.

Proses Gempa

Tsunami timbul ketika dasar laut dengan tiba-tiba berubah bentuk dan air di atasnya berpindah secara vertikal. Gempa bumi tektonik merupakan bagian jenis gempa bumi yang diasosiasikan dengan kerusakan bentuk kulit bumi: ketika gempa bumi terjadi di bawah laut, massa air di atas pusat gempa berpindah atau bergeser dari posisi seimbang.

Perpindahan atau pergeseran massa air ini (dengan pengaruh gravitasi) berupaya untuk memperoleh kembali posisi seimbang) inilah yang menimbulkan gelombang tsunami.

Dengan kata lain, apabila sebagian besar daerah di dasar laut naik atau turun, maka tsunami dapat tercipta.

Le Pichon, seorang pakar geologi membagi lapisan bumi menjadi tiga belas lempeng (plate) dengan enam lempeng utama, yaitu Eurasia, Pasifik, Amerika. Indo Australia, Antartika dan Afrika. Naik atau turunnya dasar laut biasanya terjadi pada batas-batas lempeng tersebut. Lempeng-lempeng ini terus bergerak dengan tidak teratur, sehingga menimbulkan tabrakan-tabrakan, sehingga menimbulkan patahan.

Indonesia terletak di antara beberapa Iempeng. Batasan lumpeng yang paling panjang adalah antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia yang memanjang mulai dari laut di barat Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, Bali sampai Pulau-Pulau di Nusa Tenggara. Gerakan-gerakan di perbatasan kedua lempeng tersebut yang sering memicu terjadinya tsunami.

Data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa mulai tahun 1833 sampai sekarang ada 33 kejadian tsunami di batasan Iempeng ini dengan perincian 15 kejadian di Pulau Sumatera, 8 kejadian di Pulau Jawa dan 10 kejadian ada di pulau-pulau Bali ke timur. Di Sulawesi. Maluku dan Papua ada 34 kejadian tsunami.

Di Pulau Jawa, paling akhir terjadi tsunami adalah pada tahun 1994 di Banyuwangi, Jawa Timur dengan jumlah korban tewas 238 dan 400 luka-luka. Di Jawa Tengah, tiga kali kejadian terletak laut di kawasan Cilacap, yaitu tahun 1840. 1904 dan 1957.

Oleh karena itu, pengelolaan bencana tsunami di pantai-pantai Barat Sumatera dan Selatan Jawa sangat direkomendasikan untuk segera dilakukan.

Sedangkan untuk gempa yang terjadi di seluruh lndonesia yang tercatat di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebanyak 99 kejadian.

Upaya Penyelamatan

Beberapa hal tentang tsunami dan bagaimana kita melakukan upaya penyelamatan akan datangnya tsunami diinformasikan oleh http://www.geophys.washington.edu/ tsunami.

Tsunami yang biasanya terjadi di Pantai Barat Sumatera dan pantai selatan Jawa sebagian besar selalu disebabkan oleh gempa di laut. Beberapa kejadian tsunami bisa jadi sangat besar.

Di daerah pantai, tinggi tsunami dapat mencapai 9 m, bahkan untuk kejadian ekstrim bisa mencapai sampai 30 m, dan tsunami dapat masuk ke daratan beberapa ratus meter sampai beberapa kilometer. Semua daerah pantai rendah sangat potensial untuk diterjang tsunami.

Tsunami terdiri dari beberapa gelombang. Terkadang gelombang pertama mungkin tidak besar, namun disusul dengan gelombang-gelombang yang lebih besar. Bahaya dari tsunami bisa terjadi hanya dalam hitungan menit sampai beberapa jam setelah kedatangan gelombang pertama.

Ketika mencapai pantai, gelombang tsunami dapat bergerak lebih cepat daripada orang berlari. Sering terjadi tsunami menyebabkan air di dekat pantai surut dengan cepat, sehingga dasar laut bisa terlihat. Hal ini merupakan salah satu tanda alam akan datangnva tsunami.

Kekuatan beberapa tsunami sangatlah hebat. Bebatuan besar seberat beberapa ton, kapal-kapal dan reruntuhan lainnya dapat bergerak ke daratan beberapa ratus kaki oleh aktivitas gelombang tsunami. Rumah-rumah dan bangunan lainnya hancur. Semua benda-benda dan air bergerak dengan kekuatan besar dan dapat membunuh atau melukai orang-orang. Tsunami dapat melalui sungai dan anak sungai yang menuju ke lautan.

Bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di pantai perlu mengetahui tanda-tanda akan datangnya tsunami dan upaya penyelamatan. Bila merasakan goncangan bumi, maka segera pergi ke tanah yang lebih tinggi. Jangan menunggu peringatan tsunami diumumkan. Dengan segera menjauhi sungai dan anak sungai yang menuju ke laut sama seperti menjauhi dari pantai dan laut jika ada tsunami. Tsunami dari gempa lokal dapat terjadi di wilayah sekitarnya sebelum peringatan tsunami diumumkan.

Mengingat batas lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia di terletak di laut barat Sumatera dan selatan Pulau Jawa hanya beberapa ratus kilometer jaraknya ke pantai dan kecepatan gelombang tsunami bisa mencapai lebih dari 800 km/jam, maka rentang waktu terjadi gempa di laut dan tsunami yang ditimbulkannya hanya dalam hitungan menit. Tsunami yang terjadi di Aceh hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai pantai setelah gempa terjadi.

Melihat kejadian di Aceh dan di Nias, maka sudah selayaknya kita belajar untuk bersahabat dengan alam dan berupaya untuk memecahkan misteri-misteri alam, terutama terhadap kejadian gempa dan tsunami. Kita wajib untuk terus menerus mencari tanda-tanda alam karena kita bagian dari alam. Sehingga ke depan, kita bangsa Indonesia, yang memang ditakdirkan untuk hidup di tengah-tengah hampir semua bencana mampu untuk dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat suatu bencana terjadi.

Penanaman bakau sepanjang pantai sebagai salah satu upaya memperkecil dampak kerusakan tsunami perlu digalakkan karena bisa sebagai penghalang. Tanaman bakau dapat mengurangi tinggi gelombang menjadi setengah dari tinggi gelombang tanpa ada tanaman bakau. Pengelolaan Zona Pantai Terpadu sudah saatnya dilakukan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah membuat semacam pedoman untuk pengelolaan bencana nanum hanya untuk bencana-bencana banjir, kekeringan, longsor dan tsunami. Pengelolaan untuk bencana-bencana lainnya seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, angin topan perlu juga dibuat dan disosialisasikan ke semua lapisan masyarakat.

Robert J Kodoatie. pengajar Jurusan Teknik Sipil FT Undip

Wiranto Jangan Ulangi 1966

Panglima TNI periode 1998-1999 Jenderal (Purn) Wiranto menyesali insiden pembakaran Polres Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan oleh puluhan anggota TNI. Ia berharap kejadian tersebut tidak terulang kembali apalagi menjadi seperti kondisi pada 1966. "Menyedihkan sekali. Jangan sampai ini berulang seperti 1966. Angkatan yang pegang senjata saling bertempur dengan yang lain," ujar Wiranto. Menurut Ketua Umum Partai Hanura itu, butuh penanganan serius mulai dari akar masalahnya agar tidak berulang.

Menurutnya, hal itu pun menyangkut psikologi antara aparat berbaju cokelat dan loreng itu. "Menurut saya ini bukan masalah individual tapi menyangkut psikologi yang menyangkut perasaan hati dari kedua lembaga ini. Ini yang harus diselesaikan dengan baik. Bukan hanya masalah-masalah teknis di lapangan," terangnya.

Wiranto tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari 1966 yang dia rujuk. Namun dari catatan sejarah, tahun itu adalah satu masa ketika situasi politik dan keamanan masih terdampak peristiwa G30-S pada 1965. Termasuk situasi di angkatan bersenjata, antara yang pro dan kontra Bung Karno.

Pembakaran Markas Polres OKU

Markas Polres Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan dibakar puluhan anggota TNI dari Batalyon Armed 15, Kamis (7/3/2013) sekitar pukul 07.30. Massa juga merusak mobil polisi, dua Pos Polisi dan Sub Sektor setempat. Sekitar 90 anggota TNI itu datang dengan sepeda motor dan truk. Mereka juga datang membawa sangkur yang melukai empat anggota kepolisian.

Menurut polisi, pasukan tentara itu semula ingin menanyakan kasus tewasnya anggota TNI pada Januari 2013 akibat ditembak petugas lalu lintas Polres OKU. Namun, mereka diduga kecewa dengan penjelasan yang didapat, hingga akhirnya membakar gedung Polres dan mobil kepolisian.

Pada akhir Januari 2013, anggota TNI Pratu Heru tewas ditembak petugas lalu lintas Polres OKU Brigadir Polisi Bintara Wijaya. Saat itu Wijaya mengaku ingin menghentikan Heru yang dianggap melakukan pelanggaran lalu lintas.

Namun, Heru tak menghiraukan dan tetap melanjutkan perjalanan. Wijaya pun mengejar Heru hingga melepaskan tembakan yang menewaskan anggota TNI itu.

Wijaya saat ini telah menjalani proses hukumnya dan telah mendekam di Polda Sumatera Selatan. Sejak saat itu hubungan aparat TNI dan Polisi di Sumsel telah memanas.

Wednesday, April 10, 2013

Solusi Mengatasi Kebakaran

Musibah apapun itu bentuknya , baik kebakaran , kebanjiran , tanah longsor , gempa bumi dan atau tsunami pastinya tidak ada seorangpun yang mau mengalaminya dan setiap orang tentunya ingin agar permasalahan - permasalahan tersebut segera berakhir dan tidak terulang lagi. 

Tidak sedikit usaha yang telah dilakukan baik oleh pihak perseorangan , swasta, maupun pemerintah dalam rangka untuk mengatasi berbagai permasalahan ini, namun kembali hal tersebut seolah tiada henti hentinya datang dan boleh dibilang semakin besar dari sebelumnya.

Berikut saya temukan opini dalam rangka untuk mengatasi musibah kebakaran (bukan mencegah dan menanggulangi tapi mengatasi)

Untuk menghadapi berbagai musibah yang kerap terjadi dan dalam upaya untuk pengamanannya khususnya terhadap kebakaran yang dilakukan pada saat terjadinya musibah kebakaran, yang menyangkut tata laksana operasional pemadaman, teknik dan taktik pemadaman serta kewenangan-kewenangan untuk memperlancar pelaksanaan kebakaran.

Bukan sepertinya akan tetapi semestinya setiap warga masyarakat wajib untuk ikut andil dan aktif dalam mengadakan upaya-upaya  penanggulangan bahaya kebakaran, baik untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk kepentingan umum dan dengan begitu cepatnya pertumbuhan pembangunan yang semakin hari semakin meningkat atau bertambahnya fungsi kawasan perkantoran, perdagangan, pariwisata dll, hal ini cenderung menyebabkan terjadinya banyak kebakaran sehingga memerlukan pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

Jadi untuk menanggulangi kebakaran, petugas pemadam kebakaran tidak bisa bekerja sendirian, perlu peran serta aktif dan parsitipasi masyarakat, sehingga masyarakat perlu memahami cara penanggulangi  kebakaran.

Setiap penduduk perlu tahu cara sederhana mencegah dan menanggulangi kebakaran baik untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan umum

Maka proses pemadaman api  atau  menanggulangi bahaya kebakaran,  bisa digunakan dengan  2 (dua) cara : yaitu cara tradisional  dan modern.

Saat memadamkan api, kita tidak boleh panik. Api bisa ditaklukkan jika tenang dan cekatan.

Waspadalah !!!! Dan Ingatlah Mencegah Lebih Baik daripada yang lain (mengatasi, mengurangi, menanggulangi, menghindari) jadi cegahlah ...!!!

Sunday, April 7, 2013

TNI Pengangguran Kelas Tinggi

Mantan Panglima Kodam Jaya dan Wakil Komandan Jenderal Kopassus Sutiyoso menilai saat ini kondisi tentara layaknya pengangguran elite. Sejak TNI dan Polri dipisah, terjadi gesekan lantaran fungsi TNI yang berkurang.

"TNI AD itu kan sebelumnya ambil fungsi sangat banyak. Tapi setelah dipisahkan, TNI itu hanya fungsi pertahanan. Tapi masalahnya, kita tidak pernah diserang, jadi mereka pengangguran, pengangguran kelas tinggi lah," kata Sutiyoso dalam sebuah diskusi, di Jakarta, Sabtu (6/4).

Sutiyoso yang juga pernah menjabat selama dua periode sebagai Gubernur DKI Jakarta ini kemudian menceritakan bagaimana ironisnya pelatihan TNI ketika dilepas telah dari fungsinya yang banyak saat Orde Baru. Bahkan untuk latihan saja menggunakan model yang palsu.

"Ketika latihan menembak, kita ingin menghemat peluru, akhirnya tidak pakai peluru tapi pakai bacot (suara mulut) saja, dor! gitu. Selain itu karena untuk hemat biaya, ya akhirnya lebih banyak latihan baris berbaris saja," lanjut Sutiyoso.

Tak hanya itu, Sutiyoso juga menjelaskan banyaknya kekerasan yang melibatkan anggota TNI lantaran ketiadaan tugas.

"Bayangkan kalau orang latihan dengan sansak terus tapi tidak pernah dipraktekkan, bagaimana," cerita Sutiyoso.

Ia memaklumi suasana batin dari para anggota TNI bergejolak dan mudah terbakar jiwa korsa ketika ada rekan yang terkena masalah. Terlebih masalah itu terkesan tidak tuntas.

"Jadi seperti pengangguran, sibuknya nyerang polres saja. Suasana batin prajurit itu seperti itu," kata Sutiyoso.

Seperti diketahui, sejak awal mulai tahun ini ada dua kasus besar kekerasan yang melibatkan TNI. Pertama adalah penyerangan Mapolres Ogan Komering Ulu hingga akhirnya hancur oleh Yon Armed, kemudian penyerangan Lapas Cebongan oleh sembilan anggota Kopassus karena ada rekannya yang dibunuh preman.

Lantaran banyaknya kekerasan dan kurangnya peran TNI, Sutiyoso berharap ada fungsi tambahan yang diberikan kepada TNI.

"Polisi itu terlalu banyak fungsinya. Jumlah polisi kan jumlahnya jauh dari penduduk, jadi kalau yang tugas-tugas separatis diserahkan lah ke TNI," tutup Sutiyoso yang kini aktif berpolitik.