kolom melintang

Showing posts with label Kajian Al- Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Kajian Al- Qur'an. Show all posts

Wednesday, November 4, 2015

KRITERIA AHLUL QUR'AN

FATWA IMAM AL KHOLILI TENTANG AYAT KE 32 SUROH AL FATHIR

( Sebuah kriteria tentang Ahlul Qur'an )

بسم الله الرحمن الرحيم

والصلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين. اما بعد

Pada ayat ke-32 dari Suroh Al Fathir yang terletak pada juz 22 ini agaknya menjadi barometer dari kriteria para qori al Quran maupun penghafal Al Quran ( al Hafidz / al Hamil ).
Akan tetapi dalam artikel ini, saya lebih memfokuskan pada karakter ahl Al Quran atau para pengahafalnya, sebab disini lebih berkaitan tanggung jawab secara personal maupun sosial, lebih tepatnya tanggung jawab dalam skala sosial keagamaan, yaitu dalam konteks penjagaan orisinilitas Kalamulloh dari tangan-tangan jahil yang dapat merusak kemurnian ajaran suci Ilahiyah yang termaktub didalamnya. Dengan demikian, urgensi redaksi lafadznya dapat terjaga dan terdeteksi sepanjang masa jika terjadi distorsi pada lafadz-lafadznya sehingga sangat dikhawatirkan mempengaruhi makna jika saja Alloh SWT tidak " mengajak bekerja sama " dengan hamba-hamba yang telah dipilihnya.

Sebagaimana Hadist yang diriwayatkan Imam An-Nasai dalam kitabnya " Fadhoilul Qur'an ", Hal. 98 -99 ;

اخبرنا عبيد الله ابن سعيد عن عبد الرحمن قال : حدثني عبد الرحمن بن بديل ميسرة عن ابيه عن انس ابن مالك قال : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ان لله اهلين من خلقه، قالوا : ومن هم يا رسول الله ؟ قال : اهل القرآن هم اهل الله وخاصته.

اسناده حسن فرجاله كلهم ثقات سوي عبد الرحمن بن بديل، قال عنه الحافظ لا بأس به انظر التقريب ١/٤٧٣ ووثقه الطيالسي وقد صحح هذا الحديث المنذري في الترغيب والترهيب انظر ٢/٣٥٤، والبوصيرى في مصباح الزجاجة بزوائد ابن ماجه ورقة ١٤. وقد اخرجه احمد في مسنده ٣/١٢٧ ،١٢٨، ٢٤٢ ، والحاكم في المستدرك ١/٥٥٦، وابن ماجه في سننه رقم ٢١٥، وابو داوود الطيالسي ذكره البوصيرى والدارمي في سننه رقم ٣٣٢٩، والبزار في مسنده ذكره القرطبي في تفسيره ١/١.

" Telah memberitahukan kepada kami 'Ubaidulloh ibn Sa'id dari 'Abdur Rohman, yang berkata : Abdur Rohman ibn Bidyl bercerita kepadaku dari ayahnya dari Anas ibn Malik, berkata Anas : Rosululloh SAW bersabda : " Sesungguhnya Alloh memiliki keluarga dari makhluk ciptaanNya ". Maka berkata para sahabat, " Siapakah mereka wahai Rosululloh ?, Rosululloh berkata ;" Ahlul Qur'an itulah keluarganya Alloh, dan orang-orang yang dikhususkanNya ".

Isnad Hadist ini hasan dan para rijalul hadistnya  semuanya terpercaya kecuali Abdur Rohman ibn Bidyl/ Budayl, Al Hafidz ibnu Hajar berkata tentangnya, " tidak ada masalah dengan Abdur Rahman ibn Bidyl " Lihat kitab At-Taqrib juz 1 / Hal. 473, dan Imam At-Thoyalisy menganggapnya sebagai rowi yang tsiqoh. Imam Al Hafidz Al Mundziry mensohihkannya sebagaimana dalam kitabnya At-Targhib wat Tarhib, jilid 2, Hal. 354, serta Imam Al-Bushiry dalam kitabnya yang berjudul Mishbahuz Zujaajah bi Zawaaidi bni Majah, lembar ke 14. Imam Ahmad ibn Hanbal mengeluarkan riwayat hadist ini dalam Musnadnya, jilid 3, Hal. 127, 128, 242, dan Imam Al-Hakim dalam Mustadrok nya , jilid 1, Hal. 556. Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan nya pada No. 215, dan Imam Abu Dawud At-Thoyalisy sebagaimana yang dituturkan Imam Al-Bushiry dan Imam Ad-Darimi dalam Sunan Ad-Darimi, No. 3329, dan Imam Al-Bazzar didalam Musnad nya sebagaimana yang telah dituturkan Imam Al-Qurthuby didalam Tafsirnya jilid 1, Hal. 1.

Kata "Ahlul Quran " sangat bersifat spesifik yang terkait dengan spesialisasi dari keahlian tentang ke-Quran-an, bisa seorang hafidz ataupun pengkaji ayat-ayat Al Quran.
Berkaitan dengan hal ini, Alloh memberi sebuah mandat berupa kepercayaan kepada sebagian dari hamba-hambaNya untuk ikut berinteraksi dalam penjagaan KalamNya, sebagimana Alloh tegaskan dalam sebuah ayat ;

اِنَّا نَحْنُ  نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ

" Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya ".
[QS. Al-Hijr: Ayat 9]

Kata " Kami " ( Nahnu : Arab ) dalam pengertian ayat diatas, seakan Alloh SWT mengajak hamba-hambaNya untuk ikut andil dalam penjagaan ini, bukan berarti Alloh tidak mampu menjaga sendiri kitab suci-Nya, akan tetapi disinilah suatu pengajaran dari sebuah ketawaddhuan yang hendak Alloh ajarkan pada hambaNya, atau katakanlah Alloh telah menawarkan sebuah " proyek Ilahiyah " pada hamba-Nya untuk bekerja sama dalam penjagaan terhadap kemurnian Al Quran yang telah diwahyukan pada sang Rosul terkasihNya, Muhammad SAW.

Dalam fasilitas kekhususan yang telah diberikan oleh Alloh kepada hamba terpilihnya sebagai " keluarga Alloh " ini, tidak semuanya bisa masuk pada kategori kelas VIP, artinya masih menyisakan kelas-kelas dibawahnya dengan predikat yang disematkan pada personal masing-masing dari hambaNya.
Dalam Al Quran, hal ini telah di isyaratkan dengan jelas oleh Alloh sebagaimana pada ayat berikut ;

ثُمَّ اَوْرَثْنَا  الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۚ  فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ   وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ   ۚ  وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ  ؕ  ذٰلِكَ  هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ  ؕ

" Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar ".
[QS. Fatir: Ayat 32]

Berkaitan dalam konteks ayat diatas, perlu adanya suatu pembahasan yang gamblang tentang kriteria " dzolimun linafsih, muqtashid dan sabiqun bil khoirot ". Dan dari beberapa referensi yang saya miliki, agaknya kitab fatwa al Kholily lah yang dapat saya jadikan rujukan dalam pembahasan ini. Kitab kumpulan fatwa Imam al Kholily ini disusun oleh beliau sendiri, al-Imam as Sayyid Muhammad Kholily yang wafat dipertengahan bulan Jumadits tsany, tahun 1147 H ( beliau dimakamkan di dalam kompleks Masjidil Aqsho- Palestina, yang juga merupakan tempat kholwatnya ).

Dalam kitab fatawa syikhul Islam wal muslimin al 'Alim al 'amil asy Syikh Muhammad al Kholily asy Syafi'i ra, jilid 1, Hal. 7 , tertulis sebagaimana berikut ;

( سئل ) في قوله تعالى ثم أورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات ما معنى ذلك. ( أجاب ) المعنى أورثنا أعطينا لان الميراث اعطاء وقيل أورثنا أخرنا ومنه الميراث لانه تأخر عن الميت ومعناه أخرنا القرآن من الامم السالفة واعطيناكموه واهلناكم له الذين اصطفينا من عبادنا قال ابن عباس يريد امة محمد صلى الله عليه وسلم قسمهم ورتبهم واختلف المفسرون في معنى الظالم والمقتصد والسابق قال عقبة بن صهبان سألت عائشة رضي الله عنها عن قوله تعالى ثم أورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا، قالت يابنى كلهم فى الجنة اما السابق بالخيرات فمن مضى على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وشهد له رسول الله صلى الله عليه وسلم بالجنة واما المقتصد فمن اتبع اثره من اصحابه حتى لحق به واما الظالم فمثلى ومثلكم فحبطت نفسها معنا، وقال مجاهد والحسن وقتادة فمنهم ظالم لنفسه وهم اصحاب المشئمة ومنهم مقتصد هم اصحاب الميمنة ومنهم سابق بالخيرات باذن الله هم السابقون المقربون من الناس كلهم، وعن ابن عباس قال السابق المؤمن الخالص والمقتصد المرائى والظالم الكافر نعمة الله غير الجاحد لها لانه حكم الثالثة بدخول الجنة فقال جنات عدن يدخلونها وقال الحسن السابق من رجحت حسناته على سيئاته والمقتصد من استوت  حسناته وسيئاته والظالم من رجحت سيئاته على حسناته وقيل الظالم من كان ظاهره خيرا من باطنه والمقتصد الذى يستوى ظاهره وباطنه والسابق الذى باطنه خير من ظاهره وقيل الظالم من واحد الله تعالى بلسانه ولم يوافق فعله وقوله والمقتصد من واحد الله بلسانه واطاعه بجوارحه والسابق من واحد الله تعالى بلسانه واطاعه بجوارحه واخلص له عمله وقيل الظالم التالى للقرآن والمقتصد القارئ له العامل به والسابق القارئ له العامل بما فيه وقيل الظالم اصحاب الكبائر والمقتصد اصحاب الصغائر والسابق الذى لم يرتكب كبيرة ولا صغيرة  وقال سهل بن عبد الله السابق العالم والمقتصد المتعلم والظالم الجاهل انتهى بعونه والله تعالى اعلم.

Imam Al Kholily as Syafi'i ditanya tentang firman Alloh Ta'ala " Tsumma aurotsnal kitaaballadziinas thofainaa min 'ibaadinaa faminhum dzholimun linafsih wa minhum muqtashid wa minhum saabiqun bil khoirooti.." , apakah makna dari ayat tersebut.

Beliau menjawab : " Yang dimaksud dari pengertian " aurotsnaa " adalah "a'thoinaa, karena harta warisan ( pusaka ) adalah suatu pemberian. Dan dikatakan " aurotsnaa " adalah " akhkhornaa ( kami meninggalkan ) dan dari pada itu ( disebut ) harta warisan atau tinggalan, karena itu merupakan tinggalan dari orang yang meninggal / mayyit, dan maknanya adalah kami meninggalkan kitab suci Al Quran dari orang-orang terdahulu dan kami memberikannya tinggalan itu kepadamu sekalian dan keluargamu dari orang-orang yang kami pilih dari hamba-hamba Kami ( Alloh ).
Telah berkata Ibnu 'Abbas, " Dimaksudkan kepada ummat Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam dalam tiap divisi serta level mereka.
Para ahli tafsir telah berbeda pendapat tentang makna " adz dzholim wal muqtashid dan as saabiq ". Telah berkata Uqbah bin Shohban, " Aku bertanya pada 'Aisyah ra pada firman Alloh Ta'ala, " Tsumma aurotsnal kitaab alladzhiinas thofainaa min 'ibaadinaa, maka berkata 'Aisyah : " Wahai anakku, mereka semua di surga, adapun " as Saabiqu bil khoiroot " adalah mereka yang telah dulu hidup dimasa Rosululloh SAW dan  beliau Rosululloh SAW telah memberi kesaksian kepada mereka dengan surga ( sebagai ahli surga ), adapun " al Muqtashid " yaitu mereka yang mengikuti jejak beliau dari golongan sahabat-sahabatnya sampai mereka berjumpa dengan beliau, sedangkan " adz dzholimu " adalah seumpama aku dan kalian, maka 'Aisyah menjadikan ( baca : mengumpamakan ) dirinya termasuk kriteria ini.

Telah berkata Mujahid dan al Hasan serta Qotadah bahwa makna " faminhum dzholimun linafsihi " adalah golongan kiri, sedangkan " wa minhum muqtashid " adalah golongan kanan, adapun " sabiqun bil khoiroti bi idznillah " adalah mereka-mereka yang telah lalu yang telah mendekat pada Tuhannya dari golongan manusia seluruhnya.

Dan dari Ibnu 'Abbas telah berkata," as sabiq adalah orang mukmin yang murni keimananya, dan muqtashid adalah orang yang munafiq atau penipu, dan adz dzholim adalah orang yang kufur terhadap nikmat Alloh tanpa tahu rasa terima kasih atas pemberian nikmat tersebut, karena itu telah menjadi ketetapan bagi ketiganya dengan sebab dimasukkannya kedalam surga, maka berkata Ibnu 'Abbas , " Yaitu surga 'Adn yang  akan mereka masuki ".

Berkata al Hasan, " as Sabiq adalah orang yang kebaikannya mendominasi daripada keburukannya, dan al Muqtashid adalah orang yang kebaikan dan kejelekannya sama berimbang, sedangkan adz dzholimu adalah orang yang kejelekannya mendominasi daripada kebaikannya.

Dan dikatakan, bahwa adz dzholim adalah orang yang lahiriyahnya lebih baik daripada bathiniyahnya, dan al muqtashid adalah orang yang lahir dan bathin nya sama, sedangkan as sabiq adalah orang yang bathiniyahnya lebih baik daripada lahiriyahnya.
Dan dikatakan bahwa " adz dzholim " adalah orang yang meng Esa kan Alloh Ta'ala dengan lisannya akan tetapi tidak sesuai dengan perilakunya ( tidak sama antara ucapan dan perbuatannya ), dan " al muqtashid " adalah orang yang meng Esa kan Alloh Ta'ala melalui lisannya dan menjalankannya dengan anggota tubuhnya ( ucapan dan perbuatan sama ), dan " as sabiq " adalah orang yang meng Esa kan Alloh Ta'ala melalui lisannya dan menjalankan dengan segenap anggota badannya serta memurnikan ke ikhlasan didalam setiap perbuatannya.

Dan dikatakan, bahwa " adz dzholim " adalah orang yang sekedar membaca Al Qur'an, dan " al muqtashid " adalah orang yang membaca Al Qur'an yang selalu berinteraksi dengannya, dan " as sabiq " adalah orang yang membaca Al Qur'an lalu mengamalkan isi kandungannya.

Dikatakan bahwa " adz dzholim " adalah golongan orang-orang yang berlebihan, " al muqtashid " adalah golongan orang-orang yang kekurangan, dan " as sabiq " adalah orang yang tidak berada diantara keduanya.
Telah berkata Sahl bin 'Abdulloh , " As sabiq adalah guru, al muqtashid adalah pelajar dan al jahil adalah orang yang bodoh.

Beliau mengakhiri fatwanya dengan perkataan " Telah selesai dengan pertolongan dari Alloh Ta'ala "

Mudah-mudahan sekelumit kajian ini bisa memberikan kita pencerahan dalam memahami ayat-ayatNya.

Amiin Yaa Arhamar rohimiin

——————
Sidoarjo, Rabu 4 November 2015

Danny Ma'shoum

Sunday, April 26, 2015

AAZAR BUKANLAH NAMA AYAH NABI IBROHIM A.S

NAMA AYAH NABIYULLOH IBROHIM A.S BUKAN AAZAR. SEBUAH MATA RANTAI KESUCIAN SILSILAH NASAB ROSULULLOH HINGGA ADAM A.S

بسم الله الرحمن الرحيم

Alloh SWT berfirman dalam Suroh Al-An'am ayat 74 ;

(وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ) [Surat Al-Anaam : 74]

" Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".

Apakah benar nama ayah Nabi Ibrohim a.s adalah Aazar ?, dan mungkinkah garis silsilah Rosululloh SAW sampai Nabi Ibrohim keatas hingga Nabi Adam a.s tersisipi orang kafir atau musyrik ?

Dalam Suroh Ali-Imron, ayat 33-34. Alloh SWT berfirman :

(إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ) [Surat Aal-E-Imran : 33]

" Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing) ".

(ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ) [Surat Aal-E-Imran : 34]

" (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ".

Dari ayat-ayat diatas, maka dapat kita simpulkan bahwasannya silsilah nasab Rosululloh SAW adalah manusia-manusia pilihan yang unggul, yang Alloh sendiri secara jelas menyatakannya.

Adapun mengenai kesucian nasab Rosululloh SAW sampai kepada Nabi Ibrohim keatas hingga Nabi Adam, sebagaimana Imam As-Suyuthi menuturkan dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawy, jilid 2, Hal. 254 ( Kitab al Ba'ts ) menukil perkataan Imam Fakhruddin Ar-Rozi dalam kitabnya Asrorut Tanzil, pada teks :

ما نصه : قيل ان آزر لم يكن والد ابراهيم بل كان عمه واحتجوا عليه بوجوه : منها ان اباء الأنبياء ما كانوا كفارا ويدل عليه وجوه، منها قوله تعالى  (  الذي يراك حين تقوم ونقلبك فى الساجدين [ الشعراء : ٢١٨ ] قيل معناه انه كان ينقل نوره من ساجد الى ساجد، وبهذا التقدير فالآية دالة على ان جميع آباء محمد صلى الله عليه وسلم كانوا مسلمين، وحينئذ يجيب القطع بان والد ابراهيم ما كان من الكافرين انما ذاك عمه اقصى ما في الباب ان يحمل قوله تعالى  ( وتقلبك فى الساجدين ) على وجوه اخرى. واذا وردت الروايات بالكل ولا منافاة بينهما وجب حمل الآية على الكل، ومتى صح ذلك ثبت ان والد ابراهيم ما كان من عبدة الاوثان ثم قال : ومما يدل على ان آباء محمد صلى الله عليه وسلم ما كانوا مشركين قوله عليه السلام : (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات )) وقال تعالى : (  انما المشركون نجس  [ التوبة. ٢٨ ] ) فوجب ان لا يكون احد من اجداده مشركا — هذا كلام الامام فخر الدين بحروفه — وناهيك به امامة وجلالة فانه إمام اهل السنة في زمانه، والقائم بالرد على من فرق المبتدعة في وقته، والناصر لمذهب الاشاعرة في عصره- وهو العالم المبعوث على رأس المائة السادسة ليجدد لهذه الأمة أمر دينها.

" Dikatakan bahwa sesungguhnya Aazar bukanlah orang tua Ibrohim a.s akan tetapi pamannya. Dan pada persoalan ini memerlukan sudut pandang, diantaranya adalah bahwa sesungguhnya bapak para Nabi tidak ada yang kafir. Pada pendapat ini menunjukkan adanya bukti, diantaranya adalah firman Alloh :

(الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ) [Surat Ash-Shu'ara : 218]

" Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang),

(وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ) [Surat Ash-Shu'ara : 219]

" dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud ".

Dikatakan sesungguhnya makna ayat itu adalah, bahwa nur Muhammad bergerak atau berpindah tempat dari ahli sujud yang satu ke ahli sujud yang lain, dan ini adalah sebuah ketentuan, maka ayat ( diatas ) menunjukkan bahwa sesungguhnya semua nenek moyang atau leluhur Nabi SAW adalah golongan orang-orang yang selamat ( muslimin ). Dan kemudian wajiblah memutuskan bahwa orang tua Nabi Ibrohim bukanlah dari golongan kafir, sesungguhnya dia ( Aazar ) adalah pamannya yang harus dieliminasi ( dibuang ) dari bab ( silsilah nasab ) ini berpegang pada ayat : " dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud ". sebagai sudut pandang yang lain. Dan jika datang riwayat-riwayat secara utuh tanpa ada kontrofersi antara riwayat-riwayat tersebut maka wajib berpijak pada dalil ayat secara utuh, bilamana benar pada penetapan riwayat tersebut bahwa orang tua Nabi Ibrohim bukanlah dari golongan penyembah berhala.
Kemudian berkata ( Imam Ar-Rozi ) : " Dan dalil yang menunjukkan bahwa leluhur Nabi Muhammad SAW bukanlah dari golongan orang musyrik, sebagaimana sabda Nabi SAW : " Tiada henti-henti aku berpindah dari sulbi-sulbi yang suci hingga rahim-rahim yang suci ", dan firman Alloh Ta'ala : " Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis " [ At-Taubah : 28 ]. Maka wajib tidak boleh ada satu orang pun dari kakek-kakek beliau yang musyrik ".

Ini adalah perkataan Imam Fakhruddin Ar-Rozi sesuai karakter bicaranya, belum lagi kepemimpinannya, keagungannya. Sesungguhnya ia adalah pemimpin Ahlus Sunnah dizamannya, sosok yang teguh pendirian dalam menentang firqoh-firqoh yang menyalahi syariat di masanya, seorang pejuang madzhab Asy'ariyah di eranya dan dia adalah orang alim yang dibangkitkan pada penghujung seratus tahun ( abad ) ke-enam untuk membenahi ummat ini dalam urusan agama mereka.

————
* Saya cukupkan sampai perkataan Imam Ar-Rozi selaku barometer hujjah tentang pembahasan kesucian silsilah Rosululloh SAW diatas.

Sekarang mari kita ulas, siapakah Aazar sesungguhnya yang dimaksud pada ayat diatas dan apakah pengertian kata " Abun / abi ( bapak ) dalam penggunaan dialektika bahasa arab ( Al-Quran ), apakah bermakna haqiqi ataukah majaz.

Imam Jalaluddin bin Abdurrohman bin Abu Bakar As-Suyuthi ( w. 911 H ) atau yang lebih mashur dengan panggilan Imam As-Suyuthi, dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawiy, jilid 2, Hal. 258 pada Kitabul Ba'ts- bab Masalikul Hunafa fi Walidil Musthofa, menuturkan ;

فعرف من مجموع هذه الآثار ان اجداد النبي صلى الله عليه وسلم كانوا مؤمنين بيقين من آدم الى زمن نمروذ، وفي زمنه كان ابراهيم عليه السلام وآزر، فان كان آزر والد إبراهيم فيستثنى من سلسلة النسب، وان كان عمه فلا استثناء، وهذا القول—اعني ان آزر ليس ابا ابراهيم—ورد عن جماعة من السلف - اخرج ابن ابي حاتم بسند ضعيف عن ابن عباس في قوله : ( واذ قال ابراهيم لابيه ) 1 آزر قال : ان ابا ابراهيم لم يكن اسمه آزر وانما كان [ اسمه ] تارح، واخرج ابن ابي شيبة، وابن المنذر، وابن ابي حاتم من طرق بعضها صحيح عن مجاهد قال : ليس آزر ابا ابراهيم.

Maka dapat diketahui dari kumpulan atsar-atsar ini, bahwa sesungguhnya kakek-kakek Nabi SAW semuanya golongan orang-orang mu'min dengan keyakinan dari mulai Adam sampai era Namrudz, yang dimasa Namrudz ada Ibrohim a.s dan Aazar, dan apabila Aazar adalah orang tua Ibrohim maka dikecualikan dari garis silsilah nasab ( Nabi SAW ), tapi apabila Aazar adalah paman Ibrohim a.s maka tidak dikecualikan, — Perkataan ini— yakni sesungguhnya Aazar bukanlah ayah Ibrohim a.s.
Telah datang riwayat dari golongan salaf, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanad dhoif dari Ibnu Abbas tentang firman Alloh, " Dan ketika Ibrohim berkata kepada ayahnya " (1) Aazar, Ibnu Abbas berkata : " Sesungguhnya nama ayah Ibrohim bukanlah Aazar, akan tetapi namanya adalah Tarih.
Ibnu Abi Syaibah, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim dari berbagai jalur riwayat yang sebagian riwayat itu shohih dari Mujahid, yang berkata , " Aazar bukanlah ayah Ibrohim ".

واخرج ابن المنذر بسند صحيح عن ابن جريج في قوله ( واذ قال ابراهيم لابيه ) آزر قال : ليس آزر بابيه انما هو ابراهيم بن تيرح - او تارح - بن شاروح بن ناحور بن فالخ، واخرج ابن ابي حاتم بسند صحيح عن السدي انه قيل له اسم ابي ابراهيم آزر فقال : بل اسمه تارح، وقد وجه من حيث اللغة بان العرب تطلق لفظ الأب على العم اطلاقا شائعا وان كان مجازا، وفي التنزيل : (  ام كنتم شهداء اذ حضر يعقوب الموت اذ قال لبنيه ما تعبدون من بعدي قالوا نعبد إلهك وإله آبائك ابراهيم واسماعيل واسحاق  )٢. فاطلق على اسماعيل لفظ الأب وهو عم يعقوب كما اطلق على ابراهيم وهو جده، اخرج ابن ابي حاتم عن ابن عباس - انه كان يقول : الجد أب ويتلوا (  قالوا نعبد الهك وإله آبائك  ) الآية. واخرج عن ابي العالية في قوله : (  وإله آبائك ابراهيم واسماعيل  ) قال : سمي العم ابا، واخرج عن محمد بن كعب القرظي قال : الخال والد، والعم والد وتلا هذه الآية.

Ibnul Mundzir mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanad shohih dari Ibnu Juraij tentang firman Alloh, " Dan ketika Ibrohim berkata kepada ayahnya ( Aazar )" yang berkata : " Aazar bukanlah ayahnya , sesungguhnya adalah Ibrohim bin Tairih atau Tarih bin Syarukh bin Nahur bin Falikh ".

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanad shohih dari As- Sadiy ketika dikatakan kepadanya bahwa nama ayah Ibrohim adalah Aazar, Maka As-Sadiy berkata, " Akan tetapi nama ayahnya adalah Tarih ". Dan sesungguhnya kalau ditinjau dari segi dialek bahasa bahwa orang Arab mensifati keumuman lafadz " Abun ( bapak ) " dengan 'Ammun ( paman dari jalur ayah ) dengan keumuman yang sudah populer ( dikalangan orang arab ) dan kata " Ab ( bapak ) " hanyalah bentuk majaz saja ".     Didalam Al-Qur'an ( Al-Baqoroh, ayat 133 ) pada firman Alloh : " Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq...". ( pada ayat ini ) lafadz " Ab ( bapak ) dipopulerkan pada penyebutan Ismail yang merupakan paman Ya'qub sebagaimana kepopuleran ( penyebutan kata bapak ) pada Ibrohim yang merupakan kakek Ya'qub.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata ; " Paman ( dari jalur bapak ) adalah bapak, seraya membaca ayat : " Mereka berkata, " Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu...(al-ayat)".

Dan diriwayatkan dari Abi 'Aliyah pada firman Alloh, " Dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrohim dan Ismail..". Pada ayat ini paman disebut bapak. Dan diriwayatkan dari Muhammad bin Ka'b al- Qurdzhi yang berkata : " Al-Khol ( paman dari jalur ibu ) adalah bapak, dan Al-'amm ( paman dari jalur ayah ) adalah bapak. Lalu Muhammad bin Ka'b al-Qurdzhi membaca ayat tersebut.

فهذه اقوال السلف من الصحابة، والتابعين في ذلك

Maka inilah pendapat-pendapat salaf dari para sahabat dan tabi'in dalam persoalan tersebut.

Jadi kesimpulannya adalah, bahwa ayah Nabi Ibrohim a.s bukanlah Aazar, adapun yang termaktub pada ayat 76, Suroh Al-An'am pada lafadz " Abiihi " bermakna " 'Ammihi ( pamannya ). Dan dari hujjah-hujjah diatas maka jelaslah bahwa nasab Rosululloh SAW keatas hingga Nabi Ibrohim a.s sampai Nabi Adam a.s adalah nasab-nasab terpilih, ahli-ahli sujud ( ibadah ) dan terjaga kesuciannya dari kemusyrikan dan kekafiran. Wallohu a'lam bis showab.

—————
Sidoarjo, Sabtu 25 April 2015
Danny Ma'shoum.

Wednesday, April 22, 2015

CARA MENGETAHUI TURUNNYA MALAM LAILATUL QODAR

SEKILAS KAJIAN TENTANG LAILATUL QODAR DAN CARA MENGETAHUI TURUNNYA MALAM LAILATUL QODAR MENURUT HARI AWAL MASUKNYA BULAN ROMADHON

Alloh azza wa jalla berfirman ;

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ) [Surat Al-Qadr : 1]

" Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan ".

(وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ) [Surat Al-Qadr : 2]

" Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? "

(لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ) [Surat Al-Qadr : 3]

" Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan ".

(تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ) [Surat Al-Qadr : 4]

" Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan ".

(سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ) [Surat Al-Qadr : 5]

" Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ".

Malam lailatul qodar adalah suatu malam yang sangat agung, yang keagungannya lebih mulia daripada 1000 bulan, dan ini hanya ada dibulan Romadhon saja malam mulia itu dapat kita jumpai, yang mana kesempatan itu hanya satu tahun sekali terjadi. Dan ini adalah salah satu anugerah terbesar bagi kita selaku ummat Nabi Muhammad SAW, yang Alloh meridhoinya dalam naungan dinul Islam.

Pada malam lailatul qodar ini sebagian dari rahasia alam malakut terbuka. Sebagian dari tanda-tandanya dapat disaksikan ataupun dirasakan kehadirannya, terlebih bagi yang mendapatkan fadhol Alloh sehingga dapat melihat isyarat-isyarat itu dengan jelas. Sebagaimana yang di katakan oleh Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin nya, Hal. 236, ketika menguak rahasia yang tersembunyi pada ayat pertama dari Suroh Al-Qodar ;

وليلة القدر عبارة عن الليلة التى ينكشف فيها شيئ من الملكوت وهو المراد بقوله تعالى — إنا انزلناه في ليلة القدر.

" Dan malam lailatul qodar itu, adalah malam yang terbuka padanya sesuatu dari alam malakut, dan inilah yang dimaksud pada firman Alloh, " Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan ".

Apa yang dikatakan oleh Imam Al-Ghozali diatas adalah bentuk isyarat dari Hadist Nabi SAW ;

ابواب السموات مفتوحة في ليلة القدر ما من عبد يصلى فيها الا جعل الله تعالى له بكل تكبيرة غرس شجرة فى الجنة لو سار الراكب في ظلها مائة عام لا يقطعها، وبكل ركعة بيتا في الجنة من در وياقوت وزبرجد ولؤلؤ، وبكل آية من قراءته فى الصلاة تاجا فى الجنة وبكل جلسة درجة من درجات الجنة، وبكل تسليمة حلة من حلل الجنة.

" Pada malam lailatul qodar, pintu-pintu langit terbuka. Tidak seorang sholat pada malam itu kecuali oleh Alloh di anugerahi untuk tiap rokaat sebuah pohon di surga yang apabila seorang berjalan dibawah bayangan pohon itu selama seratus tahun maka tidak akan terputus bayangan itu dari pandangannya, dan untuk setiap takbir akan dibangunkan oleh Alloh sebuah rumah di surga dari bahan mutiara, yaqut, zabarjad dan mutiara, dan untuk tiap-tiap yang dibaca dalam sholatnya dibuatkan sebuah mahkota di surga, serta tiap kali duduk dalam sholatnya satu derajat dari derajat-derajat di surga, dan untuk tiap salam dibuatkan seperangkat pakaian dari pakaian-pakaian surga ".
( keterangan hadist diatas saya nukil dari kitab Durrotun Nashihin fi al-Wa'dzi wal Irsyad, Hal. 272. Karya Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir al Khoubawy, salah seorang ulama yang hidup pada kurun 13 H. )

Terbukanya pintu-pintu langit inilah kiranya yang dimaksud dari terbukanya alam malakut.

Adapun jatuhnya malam lailatul qodar pada masing-masing daerah yang mengalami perbedaan waktu, maka lailatul qodar ini berjalan memanjang seiring perbedaan mathla' dari masing-masing daerah, sehingga terjadinya lailatul qodar menurut malam masing-masing negara atau daerah yang mempunyai keterpautan waktu yang sangat panjang dengan daerah atau negara yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana dalam kitab Nihayatul Muhtaj, juz 3, Hal. 214 - 215 diterangkan ;

ثم يحتمل انها تكون عند كل قوم بحسب ليلهم فاذا كانت ليله القدر عندنا نهارا لغيرنا تأخرت الاجابة والثواب الي ان يدخل الليل عندهم، ويحتمل لزومها لوقت واحد وان كان نهارا بالنسبة لقوم وليلا بالنسبة الاخرين والظاهر الاول لينطبق عليه مسمى الليل عند كل منها اخذا مما قيل في ساعة الاجابة في يوم الجمعة انها تختلف باختلاف اوقات الخطب.

Lantas berpotensi sekali terjadinya lailatul qodar pada masing-masing bangsa sesuai malam yang dialami bangsa itu sendiri. Maka jika terjadi lailatul qodar ditempat kita pada malam harinya, maka selain daerah ( bangsa ) kita adalah waktu siang hari sebagai penundaan waktu ( jatuhnya lailatul qodar ) dan perolehan sampai masuknya waktu malam didaerah mereka . Dan berpotensi pula penetapan lailatul qodar pada satu waktu, jika waktu siang dinisbatkan pada satu bangsa dan waktu malam pada bangsa lainnya, serta yang pertama kali terlihat dapat berlaku pada daerah itu sebagai penyebutan  malam lailatul qodar dari tiap-tiap malam yang mereka dapati. Dan dikatakan bahwa didalam waktu ijabah ( datangnya lailatul qodar ) yaitu pada hari jum'at , bahwa hal itu berbeda-beda ( pada tiap bangsa ) disebabkan perbedaan masa atau waktu yang berlaku.

Dalam masalah jatuhnya malam lailatul qodar, sebagian ulama masih ikhtilaf, sebagaimana Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir menuturkan pada halaman 273 ;

واختلفوا في وقتها : فقال بعضهم إنها كانت في عهد رسول الله ثم رفعت. وذهب عامة المشايخ الى انها باقية الى يوم القيامة. واختلفوا فى تلك الليلة : فقال بعضهم اول ليلة من رمضان. وقال بعضهم ليلة سبعة عشر. وقال الاكثر في العشر الأخير من رمضان. واتفق عامة الصحابة والعلماء على انها ليلة سبع وعشرين من رمضان.

" Para ulama berselisih pendapat tentang waktunya. Sebagian berkata bahwa lailatul qodar hanya terjadi dimasa hidup Rosululloh saja. Dan sebagian yang lain berkata bahwa lailatul qodar tetap ada sampai hari kiamat. Dan berselisih pula para ulama tentang tanggalnya, sebagian berkata bahwa malam pertama bulan Romadhon, sebagian lain berpendapat malam tanggal 17 Romadhon, dan golongan terbanyak berpendapat diantara malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Romadhon, dan bahkan ada yang memastikan tanggal 27 bulan Romadhon ".

Adapun cara mengetahui jatuhnya malam lailatul qodar, jika kita mengacu pada apa yang di katakan Imam Al-Ghozali bahwa lailatul qodar adalah malam yang terbuka padanya sesuatu dari alam malakut, maka tidak bisa tidak, hanya golongan Ulama yang khowas atau ahlut tamkin saja yaitu orang-orang yang sudah mapan dalam maqom haqiqot dan makrifat billah yang mampu dengan karunia Alloh melihat rahasia-rahasia alam malakut, terutama sekali waktu dan tanggal akan jatuhnya malam lailatul qodar dari tiap-tiap masa.
Sebagai solusi dari perbedaan diatas, saya menukil perkataan Al-Quthb al-Ghouts Sulthonul Auliya' As-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a sebagaimana yang tertulis dalam kitab Manaqibus Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili al waliy al quthb al ghouts , halaman 47 — yang disusun oleh KHR. Muhaiminan Gunardo Parakan-Temanggung, yang merupakan nukilan beliau dari berbagai referensi kitab seperti Mafakhirul Alygoh fi ma'atsiris Syadziliyyah, Thobaqotul Auliya lil Imam Abdul Wahab Asy-Sya'roni, An-Nurul Jali fi Manaqibisy Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzili , waghoiru dzalik. Dimana dalam Hal. 47 tersebut dituturkan ;

" Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzili selalu mengerti ( melihat ) lailatul qodar mulai baligh sampai wafat. Sehingga beliau bisa berkata ;

* Apabila puasa dimulai hari Ahad, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 29.

* Apabila puasa dimulai hari Senin, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 21.

* Apabila puasa dimulai hari selasa, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 27.

* Apabila puasa dimulai hari Rabu, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 19.

* Apabila puasa dimulai hari Kamis, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 25.

* Apabila puasa dimulai hari Jum'at, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 17.

* Apabila puasa dimulai hari Sabtu, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 23.

Ini adalah persaksian dari golongan kaum muqorrobin dan 'arifin yang dianugerahi oleh Alloh kemampuan yang luar biasa sehingga dapat menyaksikan secara langsung rahasia dan isyarat-isyarat yang terdapat pada malam 1000 bulan ini.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa jatuhnya malam lailatul qodar ada pada malam-malam sepuluh akhir bulan Romadhon, hal ini dapat dibenarkan jika melihat banyaknya tanggal-tanggal ganjil yang jatuh pada malam-malam tersebut dari mulai tanggal 21, 23, 25, 25, 27 dan 29. Akan tetapi jika melihat nuzulul Quran yang Alloh turunkan pada malam lailatul qodar bertepatan pada tanggal 17 Romadhon, maka bisa dibenarkan juga dikarenakan tanggal 17 Romadhon adalah tonggak awal pertama kali Al-Quran diturunkan bersamaan dengan moment jatuhnya malam lailatul qodar. Sebagaimana ayat :

(شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ) [Surat Al-Baqara : 185]

" (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur ".

Banyak sekali pendapat-pendapat yang memperkuat bahwa Al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Romadhon. Disini saya cukupkan dua kitab saja sebagai ta'bir diatas ;

(1). Al-Qostholani, juz 7, Hal. 8 ;

وفى قول حكاه القرطبى فى المفهم انها ليلة نصف شعبان او هي ليلة سبع عشرة من رمضان رواه ابن ابي شيبة والطبرانى من حديث زيد ابن ارقام.

Dan didalam satu qoul, Al-Qurthubi menceritakan didalam kitab Al-Mufhim bahwa  turunnya malam nuzulul Quran adalah malam nisfu sya'ban atau ia diturunkan pada malam 17 dari bulan Romadhon. Ibnu Abi Syaibah dan At-Thobroni meriwayatkan dari hadist Zaid bin Arqom.

(2). Al-anwarul Muhammadiyyah, Hal. 38

ولما بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم اربعين سنة بعثه الله تعالى رحمة للعالمين ورسولا الى كافة الثقلين وكان ذلك يوم الاثنين لسبع عشرة خلت من رمضان فكان من نزول اقراء .

Dan ketika Rosululloh SAW sampai pada usia 40 tahun, maka Alloh SWT mengutusnya sebagai pembawa rohmat bagi seluruh alam dan selaku Rosul bagi segenap tanggung jawab yang diembannya dan hal tersebut terjadi hari Senin pada tanggal 17 bulan Romadhon dan  hari itu menjadi moment dari turunnya suroh Iqro' ( Al-Alaq ).

Mudah-mudahan bermanfaat.
————
Danny Ma'shoum, Sidoarjo 19-04-2015.

Monday, April 6, 2015

SEPUTAR HUKUM-HUKUM BERKAITAN DENGAN MASALAH KE-QUR'AN AN

BEBERAPA KAJIAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR MASAIL QUR'AN
——————————

(1). DASAR SEBUTAN AL HAFIDZ ATAU AL-HAMIL BAGI PENGHAFAL AL-QUR'AN

Sebutan Al Hafidz dengan Al Hamil, bagi penghafal Quran adalah sama saja, sama baiknya dan sama benarnya. Hanya saja dalam konteks sekarang lebih tepatnya dengan sebutan Al Hafidz.

ta'bir kitab :

١. المعجم الوسيط، الجزء الاول، ص ١٨٥.
الحافظ : من يحفظ القرآن الكريم او من يحفظ عددا عظيما من الحديث.

1. Kitab Al Mu'jamul Wasith, juz 1, Hal. 185.

Al Hafidz : yaitu orang yang menjaga / menghafal Al Quran Al Kariim, atau orang yang menghafal dalam jumlah besar dari Hadist Nabi SAW.

٢. مختار الصحاح، ص ١٥٦.

قلت وكذا ذكر ثقلت في الفصيح و ( الحملة ) بفتحتين جمع حامل يقال هم حملة العرش وحملة القرآن.

2. Kitab Mukhtarus Shohah, Hal. 156.
Aku berkata " seperti halnya  pentingnya kefasihan didalam membaca Al Quran. dan lafadz " Al Hamalah " bentuk jamak dari lafadz " Haamil ". Dikatakan ; mereka yang memikul Arsy dan Al Quran.

٣. المعجم الوسيط، ج ١ / ١١٩ —مادة : ح م ل.

( حملت ) المرأة—حملا. الى ان قال ؛ و—القرآن. ونحوه : حفظه وعمل به.

3. Kitab Al Mu'jamul Wasith, jilid 1, Hal. 119 pada materi lafad ح م ل / حمل.

Perempuan itu mengandung / membawa beban—sampai pada perkataan ; " Dan—Al Quran ( — maksudnya membawa / menopang ). semisal ; Menghafalnya dan mengamalkannya.

——————

(2). HUJJAH SEPUTAR MENETESNYA DARAH SAYYIDINA UTSMAN IBN AFFAN PADA SEBAGIAN AYAT AL-QUR'AN

Hujjah hikayat menetesnya darah Sayyidina Utsman Ibn Affan RA pada ayat " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم ".

الاستعاب بهامش الاصابة, الجزء الثالث , ص 76-78
ونصه , قال الواقدي قتل عثمان يوم الجمعة..الي ان قال..واكثرهم يروي ان قطرة او قطرات من دمه سقطت علي المصحف علي قوله جلا وعلا " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم.

Didalam Kitab Al Isti'ab bihamisy Al Ashobah, juz 3, Hal, 76-78, pada nash,: Telah berkata Imam Al Waqidy, Sayyidina Utsman ibn Affan dibunuh pada hari jum'at---sampai pada perkataan---- Sebagian besar dari mereka ( Jumhur Ulama' ) meriwayatkan bahwa sesungguhnya tetesan atau tetesan2 dari darah beliau ( Sayyidina Utsman ) jatuh pada Mushaf pada ayat " Fa sayakfiikahumulloh wahuwas samii'ul 'aliim.

وفي تفسير ابن كثير الجزء الاول, ص 188.
ونصه, قال ابن ابي حاتم قرأ علي يونس ابن عبد الاعلي...الي قوله..فوقع الدم علي " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم

Dan didalam tafsir ibnu Katsir, juz awal, Hal. 188, pada Nash, Telah berkata Imam ibnu Abi Hatim yang telah membacakan kepada Yunus ibn 'Abdul A'laa...sampai pada perkataan...maka jatuhlah ( menetes ) darah Sayyidina Utsman pada ayat," Fa sayakfiikahumulloh wahuwas samii'ul 'aliim.

—————

(3). MARJI' TENTANG LARANGAN MENGAMBIL NAFAS DITENGAH-TENGAH MEMBACA AL-QUR'AN

Tidak diperbolehkan mengambil nafas sewaktu membaca Al-Quran ditengah-tengah kalimat, kecuali memang benar-benar ada hajat atau dalam keadaan dhorurot. Adapun ta'bir kitabnya adalah ;

النشر في القراءآت العشر, الجزء الاول, صحيفة 242.
( خامسها ) ان التنفس علي الساكن في نحو ; الأرض, والآخرة, وقرآن و مسؤلا ; ممنوع اتفاقا كما لا يجوز التنفس علي الساكن في نحو ; الخالق, والبارئ, وفرقآن, ومسحورا ; اذ تنفس في وسط الكلمة لا يجوز.

(1). An-Nasyr fii Qiroatil 'Asyr, Juz 1, Hal. 242.

Sesungguhnya mengambil nafas bagi orang yang menghentikan ( bacaan ) semisal pada lafadz ," Al ardhu, wal aakhirotu, wa qur'aana, wa mas'ulan " adalah dilarang menurut kesepakatan ulama', sebagaimana tidak diperbolehkan mengambil nafas baginya semisal pada lafadz ," Alkholiqu, walbaari`u, wa furqoona, wa mashuuron ", jika ia mengambil nafasnya ditengah-tengah kalimat ( yang dibaca ), maka tidak boleh.

وفي حاشية بجيرمي خطيب, الجزء الاول, ص 374.
( فرع ) اخر الوجه جواز تقطيع حروف القرآن في القرآءة في التعليم للحاجة الي ذلك. اه

(2). Didalam kitab Hasyiyah Bujairomi Khotib, Juz 1, Hal. 374.

( cabang ). Pendapat lain mengatakan boleh memutus huruf ( ayat ) Al-Quran didalam pembacaan dalam pembelajaran karena adanya hajat tersebut.

——————

(4). HUKUM MENULIS AYAT AL QURAN BAGI MUHDIST ( Orang yang berhadast )

التبيان في اداب حملة القرآن، ص. ١٩٢

فصل : ويحرم علي المحدث مس /  مصحف وحمله، سواء حمله بعلاقته او بغيرها، وسواء مس نفس المكتوب او الحواشي او الجلد، ويحرم مس الخريطة والغلاف والصندوق اذا كان فيهن المصحف. هذا هو المذهب المختار، وقيل لا تحرم هذه الثلاثة، وهو ضعيف. ولو كتب القرآن في لوح فحكمه حكم المصحف، سواء قل المكتوب او كثر حتى لو كان بعض اية كتب للدراسة حرم مس اللوح.

At-Tibyan fii Adaabi Hamalatil Qur'an, Hal. 192 ,Karya Imam An-Nawawiy Damaskus, pada nash ;
Pasal : Diharamkan atas orang yang berhadast menyentuh mushaf atau membawanya, baik membawanya dengan pegangannya atau dengan lainnya, baik ia menyentuh tulisannya atau tepinya atau kulitnya. Diharamkan pula menyentuh wadah dan sampul serta kotak tempat mushaf itu berada, inilah madzhab yang terpilih. Ada yang mengatakan bahwa ketiga macam ini tidak diharamkan akan tetapi pendapat ini lemah. Andaikata Al-Quran ditulis pada sebuah papan, maka hukumnya sama dengan hukum mushaf itu sendiri, baik tulisannya sedikit ataupun banyak. Bahkan seandainya hanya sebagian ayat yang ditulis untuk belajar tetap diharamkan menyentuh papan tersebut.

————

(5). HUKUM MENULIS AL-QURAN DENGAN HURUF LATIN ('AJAMIYYAH )

Seringkali kita jumpai banyak penulisan penggalan ayat-ayat Al-Quran dalam sebuah komentar-2 menggunakan tulisan latin. Dan alasan yang paling original sekali adalah Keyboard Hp belum terinstal Arabic keyboard, atau alasan klasik, Hp Jadul, atau karakter font tidak mendukung penulisan teks arab.
Bagaimana tinjauan fiqh dalam Hal ini.

Marji' (1).
Kitab I'anatut Tholibin, Hal. 68 ;

وكتابته بالعجمية اى يحرم كتابته بالعجمية ورايت في فتاوى العلامة ابن حجر انه سئل هل يحرم كتابة القرآن بالعجمية كقرائته فاجاب رحمه الله بقوله قضية ما في المجموع عن الاصحاب التحريم.

" Menulisnya dengan tulisan latin, yaitu diharamkan menulisnya dengan tulisan 'ajam / latin, dan saya melihat didalam kitab Fatawa 'Allamah Imam Ibnu Hajar bahwa sesungguhnya beliau ditanya tentang apakah hukum menulis Al-Quran dengan tulisan latin sebagaimana pembacaannya. Maka beliau rohimahulloh menjawab dengan perkataannya bahwa keharaman itu sudah menjadi keputusan mayoritas Sahabat.

—————

(6). HUKUM SEPUTAR KESUNNAHAN MENCIUM MUSHAF.

Sunnah mencium Mushaf sebagaimana qiyas kesunnahan mencium Hajar Aswad..

نهاية القول المفيد, صحيفة 244.
ونصه ; ويستحب تقبيل المصحف بالقياس علي تقبيل الحجر الاسود لانه هدية من الله عز وجل فشرع تقبيله, ويستحب تطييبه وتعظيمه

Dalam Kitab Nihayatul Qoulil Mufid, Hal. 244.
" Dianjurkan mencium Mushaf dengan qiyas terhadap diperbolehkannya mencium Hajar Aswad. Karena itu merupakan hadiah dari Alloh azza wajalla, maka di Syariatkan menciumnya, dan dianjurkan memberi wewangian dan memuliakanya.

—————

(7). MARJI' TENTANG DASAR RUNTUTAN BACAAN SECARA KESINAMBUNGAN SETELAH KHOTMIL QUR'AN

Seringkali kita jumpai pada acara / moment simaan Quran / khotmil Quran, Qori masih melanjutkan bacaan setelah suroh An-Naas disambung bacaan Al Fatihah kemudian Alif Laam Miim sampai pada " ulaaika humul muflihuun " kemudian disambung lagi bacaan akhir suroh Al Baqoroh ( Aamanar rosuul — anta maulaana fanshurnaa ' alal qoumil kaafiriin ), dan ternyata hal ini juga dilakukan Nabi SAW.

١. سراج القارئ المبتدئ، ص. ٤٠٠

تكميل : في مسائل تتعلق بالحتم. الاول ثبت النص عن المكى من رواية البزي وقنبل وغيرهما ان من قرأ وختم الي آخر الناس قرأ الفاتحة والي المفلحون من اول البقرة وشاع العمل بهذا في سائر بلاد المسلمين في قراءة العرب وغيرها للمكى وغيره سواء انوى ختم ما شرع فيه ام لا ولهم علي ذلك ادلة منها ما هو مأثور عن النبي صلي الله عليه وسلم ومنها ما هو عن السلف ومنها ما هو عن المقتدي بهم من الخلف فقد روي عن المكى من طرق عن درباس مولذ ابن عباس عن عبد الله ابن عباس عن ابي ابن كعب رضي الله عنهم عن النبي صلي الله عليه وسلم انه كان اذا قرأ قل اعوذ برب الناس افتتح من الحمد ثم قرأ من البقرة الي واولئك هم المفلحون ثم دعا بدعاء الختم ثم قام.

Didalam kitab Sirojul Qori' Al Mubtadi', Hal. 400.

Penyempurnaan ; didalam masalah yang berkaitan dengan khotmil Quran. Pertama ,penetapan nash dari Al-Makki dari riwayat Imam Al-Bazzi dan Imam Qunbul dan selain keduanya, bahwa sesungguhnya amaliyah ini, yaitu orang yang membaca dan mengkhotamkan ( bacaan Al Quran ) sampai akhir suroh An-Naas, lalu ( dilanjutkan ) membaca Al-Fatihah sampai pada " Ulaaika humul muflihuun " dari awal suroh Al-Baqoroh sudah menjadi amaliyah yang tersebar luas di seluruh negara-negara Islam ( baik ) amliyyah bacaan di negara Arab sendiri maupun negara selainnya.
Dan bagi Al Makkiy dan selainnya sama saja, apakah didalam khotmil Quran disyariatkan begitu atau tidak. Dan ada beberapa petunjuk bagi mereka terhadap hal tersebut, setengah daripadanya adalah apakah ( amaliyah ) itu perbuatan Nabi SAW, ataukah dari amaliyah para Ulama salaf, ataukah meneladani dari amaliyyah para Ulama kholaf, maka sungguh telah diriwayatkan dari Al Makkiy dari jalur Dirbaas , hamba sahaya dari Ibnu Abbas dari Abdulloh Ibnu Abbas dari Ubay Ibn Ka'ab ( mudah2 Alloh meridhoi mereka semua ) dari Nabi SAW, sesungguhnya ada pada diri beliau ketika membaca " Qul a'uudzu birobbin Naas " membukanya dengan bacaan tahmid kemudian membaca ( sebagian ayat ) dari suroh Al-Baqoroh sampai pada ayat " wa ulaaika humul muflihuun ", kemudian berdoa dengan doa khotmil Quran, lalu beliau berdiri.

Kesimpulan saya pribadi, jika mengacu pada keterangan diatas, maka tambahan seperti bacaan ayat kursiy lalu berlanjut pada " aamanar rasuul...dst sampai akhir suroh Al Baqoroh, adalah sebagai pelengkap saja, jadi diambil bagian awal suroh yaitu Alif Laam Miim—wa ulaaika humul muflihuun, kemudian bagian tengah suroh Al-Baqoroh, yaitu dimulai dari bacaan ayat kursiy saja, kemudian diambil pada bagian akhir suroh Al Baqoroh, yaitu mulai dari ayat " Aamanar rosuulu—fanshurnaa alal qoumil kaafiriin ". Semata-mata ikhtiar Ulama kita dalam rangka tabarrukan Suroh Al-Baqoroh dan hikmahnya bahwa dengan berakhirnya suroh An-Naas bukan berarti pembacaan telah selesai, karena untuk membaca serta mengkaji dan menggali potensi yang ada pada ayat2 Al Quran tidak akan pernah selesai sampai kita meninggal, sebab terus akan menimbulkan ilmu baru dengan semakin lama dibaca dan diulang akan banyak hal2 baru yang akan terungkap.

——————

(8). HUKUM MEROKOK DIDALAM MAJELIS SIMA'AN / KHOTMIL QURAN.

Merokok bagi seorang santri seolah menjadi style yang tak dapat dipisahkan dari aktifitas sehari-harinya, bahkan seolah belum lengkap jika tidak disertai kopi sebagai penyanding. Tak terkecuali santri Huffadz, yang dalam aktifitas mudarosahnya , simaan, maupun khotmil Quran dalam skala halaqoh2 kecil maupun besar, pasti diantaranya tak lepas dari seorang perokok. Sehingga pada saat moment tersebut seringkali kita jumpai selepas baca Al-Quran 1-2 juz lantas kemudian me-rileks-kan diri sambil merokok.
Nah..bagaimana hal ini menurut tinjauan fiqih dalam kaitannya dengan Lihurmatil Qur'an.

Dalam kitab Faidhul Khobir, Hal. 173. disebutkan begini ;

ويحرم ايضا قراءة القرآن بحضرة من يشرب الدخان او يستنشق تابغا وفاعل ذلك ممقوت عند الله وعند المؤمنين. وبالجملية فيجب على القارئ ان يحافظ على منزلة القرآن ومكانته العظيمة.

" Dan diharamkan pula membaca Al Quran dihadapan perokok atau orang yang menghisap tembakau, dan pelakunya dibenci menurut pandangan Alloh dan orang2 mu'min. Dan demi menjaga kelestarian ( keindahan suasana ) maka wajib bagi Qori' menjaga kedudukan ( kehormatan ) AlQuran serta  tempat pembacaan AlQuran yang agung tersebut.

Kemudian dalam kitab Tsamrotur Roudhoh, Hal. 23.

مسئلة : ما حكم شرب الدخان عند قارئ القرآن وبينهما قدر ثلاث اذرع فهل يعد في مجلس القران فيحرم او لا.
الجواب : حرام حيث اعتد انهما في مجلس واحد كما صرح به في " السم القاتل " نقلا عن قول الشبراوى الشافعي في شرح ورد السحر. وعبارته : قال شيخنا محمد السباعى الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان في مجلس القران ولا وجه للكراهة قلنا نقول مثل ما قال الامام الشيخ المذكور بل نقل الامام الحنفي عن بعض اشياخه العارفين ان شربه في مجلس القرآن يخشى منه سوء الخاتمة اعاذنا الله تعالي منها بمنه وكرمه انه جواد الكريم.

Mas'alah : " Apa hukum merokok disamping pembaca Al-Qur'an yang diantara keduanya terdapat jarak sekitar 3 dziro' /hasta, apakah masih termasuk dalam  majelis Qur'an itu sendiri, dan hal itu diharamkan atau tidak..?

Jawaban ; " Sekiranya antara keduanya itu masih terbilang satu majelis, maka Haram ( hukumnya ) sebagaimana hal tersebut dijelaskan pada bab As Sammul Qotil (Membunuh dengan cara meracuni ) menukil pendapat dari Imam As Sibrowy Asy-Syafi'i didalam Syarah wird As Sihr. pada ungkapannya : " Telah berkata guru kami Muhammad As Siba'iy yang sangat religius tentang keharaman merokok dimajelis Quran bahwa ( hal tersebut ) " tidak ada pendapat yang me makruhkan nya".
Kami mengatakan sebagaimana yang kami nukil dari perkataan Syaikh tersebut. Bahkan Imam Hanafi menukil keterangan dari beberapa gurunya dari golongan kaum 'Arifin ( Arifubillah ) bahwa merokok di majelis Quran dikhawatirkan daripadanya su'ul khotimah, semoga Alloh melindungi kami dengan anugerahNya serta kedermawananNya, sesungguhnya Dia Dzat Maha Pemurah lagi Dermawan.

(*) Keterangan diatas saya terjemahkan dari kitab " Syurbatudz Dzhom`an fii Qhororoti Mabaahitsati Masaailil Qur'an Lirobhithotil huffadz li Ma'hadi Yanbu'ul Majlis Nuzulus Sakinah Qur'an,  Majlis Nuzulus Sakinah, Hal. 18-19.

——————

(9). HUKUM MENYENTUH TAFSIR AL-QUR'AN BAGI ORANG YANG HADAST.

Hukum menyentuh AlQuran terjemah atau Tafsir bagi muhdist ( orang yang hadast ) itu ditafshil ;
1. Apabila teks AlQurannya lebih banyak, hukumnya Haram.
2. Apabila teks Al Quran dan Tafsirnya sama, atau disangsikan banyak sedikitnya, maka ada Khilaf dikalangan jumhur Ulama, menurut Imam Ibnu Hajar hukumnya Makruh, sedang menurut Ulama lainnya Haram.
3. Apabila Tafsir dan Terjemahnya lebih banyak, hukumnya Makruh.

قرة العين بفتاوى اسماعيل الزين , ص 51.
ما نصه , وعبارته, س: ما قولكم فيمن مس القرآن مع ترجمة وكذلك حمله وهو محدث.
ج :
والله سبحانه وتعالى الموفق للصواب ان ترجمة القرآن ذاته لا تجوز فان كانت الترجمة لمعناه فهي كالتفسير فلها حينئذ حكم التفسير فان كانت اكثر من القرآن الفاظا جاز للمحدث حملها مع القران وكذلك ان كانت مساوية فان كانت اقل من الفاظ القران فلا يجوز للمحدث مسها ولا حملها تغليبا للقرآن الكريم والله اعلم.

Ta'bir kitab lain bisa dirujuk pada ;
1. Nihaayatuz Zen, Hal. 33.
2. Kasyifatus Saja', Hal. 30.
3. Hasyiyah I'anatut Tholibin ma'a Hamisyha, Juz 1, Hal. 66-67. pada bab فصل في شروط الصلاة
4. Hasyiyah Sulaiman Jamal 'ala Syarhil Minhaj, Juz 1, Hal. 77 pada باب الاحداث
5. Faidhul Khobir, Hal. 23, pada nash " Qouluhu hamluhu fii mataa' ". dan Hal. 26.

Adapun khusus menyentuh Tafsir atau Terjemah AlQuran yang formatnya terpisah ( seperti Al Quran dan terjemah cetakan Kudus ) dan yang disentuh adalah teks AlQuran nya, atau paling tidak lebih banyak menyentuh teks Al Quran nya, maka hukumnya tetap HARAM, sebagaimana hasil bahtsul masail Quran Majlis Nuzulus Sakinah, Yanbu'ul Quran, Kudus.
Lihat dikitab :

( شربة الظمآن, في قرارات مباحثة مسائل القرآن, ص 91-93 )

Selamat menerjuni dunia Al Quran.

Bersambung....

( Danny Ma'shoum )

Friday, March 13, 2015

KEDUDUKAN LAFADZ " BALAA " DALAM KAIDAH TATA BACA AL-QUR'AN

KEDUDUKAN LAFADZ " BALAA / بَلَى  DALAM KAITANNYA DENGAN TATA BACA AL-QUR'AN.

Semua lafadz  " بلى  " ( Balaa ) yang terdapat didalam Al-Qur'an itu ada 22 tempat. Dalam segi kedudukannya terkait kaidah tata baca Al-Qur'an, lafadz " Balaa " ini dibagi menjadi 3 bagian.

(1). Lafadz " Balaa " ( بلى ) yang baik diwaqofkan ketika membacanya, sekalipun tidak ada tanda waqof. Dimana didalam Al-Qur'an terdapat pada 10 tempat :

1. ما لا تعلمون © بلى , Suroh Al-Baqarah, Juz 1, ayat 80.
2. ان كنتم صادقين © بلى , Suroh Al-Baqarah, Juz 1, ayat 111.
3. اولم تؤمن قال بلى ، Suroh Al-Baqarah, juz 3, ayat 260.
4. وهم يعلمون © بلى ، Suroh Ali-'Imron, juz 3, ayat 75.
5. الست بربكم قالوا بلى، Suroh Al-A'rof, juz 9, ayat 172.
6. ...تعمل من سوء بلى ، Suroh An-Nakhl, juz 14, ayat 28.
7. علي ان يخلق مثلهم بلى ، Suroh Yasin, juz 23, ayat 81.
8. بالبينات قالوا بلى ، Suroh Al-Ghofir, juz 24, ayat 50.
9. على ان يحيى الموت بلى ، Suroh Al-Ahqof, juz 26, ayat 33.
10. ان لن يحور © بلى ، Suroh Al-Insyiqoq, juz 30, ayat 14.

(2). Lafadz " Balaa " ( بلى ) yang baiknya diwasholkan. Dan didalam Al-Qur'an ada 7 tempat :

1. قالوا بلى وربنا ، Suroh Al-An'am , juz 7, ayat 30.
2. ..من يموت © بلى وعدا.... ، Suroh An-Nakhl, juz 14, ayat 38.
3. قل بلى وربّي.. ، Suroh As-Saba' , juz 22, ayat 3.
4. بلى قد جائتك.. ، Suroh Az-Zumar, juz 24, ayat 59.
5. قالوا بلى وربنا.. ،Suroh Al-Ahqof, juz 26, ayat 34.
6. قل بلى وربي.. ، Suroh At-Taghobun, juz 28, ayat 7.
7. بلى قادرين.... ، Suroh Al-Qiyamah, Juz 29, ayat 4.

(3). Lafadz " Balaa " ( بلى )  yang boleh diwaqofkan atau di washolkan. Dan didalam Al-Qur'an ada pada 5 tempat :

1. منزلين © بلى ان تصبروا.... ، Suroh Ali- Imron, juz 4, ayat 123.
2. قالوا بلى-ولكن حقت... ، Suroh Az-Zumar, juz 24, ayat 71.
3. ونجوىهم - بلى ورسلنا... ، Suroh Az-Zuhruf, juz 25, ayat 80.
4. قالوا بلى ولكنكم.. ، Suroh Al-Hadid, juz 27, ayat 14.
5. الم يأتكم نذير © قالوا بلى.... ، Suroh Al-Mulk, juz 29, ayat 9.

® Pada Bab " Balaa " ini, didalam kitab " Risalatul Qurro' wal Huffadz fii Ghorroibil Qirooati wal Alfaadz " ada sedikit kesalahan tata letak dari penerbit, yaitu pada poin kedua tentang hukum 7 lafadz " Balaa " yang baik diwasholkan, yaitu pada no. 4 nya, sedikit kekhilafan tata letak no ayat, tapi husnudzhon saya tidak mengurangi bagusnya kitab ini bagi guru pengajar atau pelajar Al-Qur'an. Mudah2an di bab lain tidak ada. Bagi pembaca silahkan dikroscek terlebih dahulu.

Mudah-mudahan bermanfaat.

( Danny Ma'shoum )

Thursday, March 12, 2015

HUKUM WAQOF PADA 17 TEMPAT DALAM AL-QURAN

HUKUM WAQOF DENGAN SENGAJA PADA 17 TEMPAT YANG
DI HARAMKAN WAQOF BAGI QORI' ( Pembaca Al-Quran ).

١ . ﺍﻟﻤﻨﺢ ﺍﻟﻔﻜﺮﻳﺔ، ﺹ ٦١- ٦٢
‏( ﻭﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻣﻦ ﻭﻗﻒ ﻭﺟﺐ ‏) ﺍﻟﻲ ﻗﻮﻟﻪ ‏( ﻭﻻ ﺣﺮﺍﻡ ﻏﻴﺮ ﻣﺎ ﻟﻪ
ﺳﺒﺐ ‏) ﻭﺣﺎﺻﻞ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺑﻜﻤﺎﻟﻪ ﺍﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﻗﻒ ﻭﺍﺟﺐ
ﻳﺄﺛﻢ ﺍﻟﻘﺎﺭﺉ ﺑﺘﺮﻛﻪ ﻭﻻ ﻭﻗﻒ ﺣﺮﺍﻡ ﻳﺄﺛﻢ ﺑﻮﻗﻔﻪ ﻻﻧﻬﻤﺎ ﻻ ﻳﺪﻻﻥ ﻋﻠﻲ
ﻣﻌﻨﻰ ﻓﻴﺨﺘﻞ ﺑﺬﻫﺎﺑﻬﻤﺎ ﺍﻻ ﺍﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﺬﻟﻚ ﺳﺒﺐ ﻳﺴﺘﺪﻋﻰ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ
ﻭﻣﻮﺟﺐ ﻳﻘﺘﻀﻰ ﺗﺄﺛﻴﻤﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﺍﻟﻮﻗﻒ ﻋﻠﻲ ﻣﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻪ ﻭﺍﻧﻲ
ﻛﻔﺮﺕ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ .

1. Dalam kitab " Minahul Fikriyyah, Hal 61-62.
" (Tidak ada di dalam Al Quran itu waqof wajib)— sampai
pada perkataannya—dan tidak haram selain tanpa adanya
unsur sebab. Dan yang berlaku pada arti bait ayat secara
utuh bahwa sesungguhnya tidak ada waqof wajib yang
menjadikan si pembaca berdosa sebab meninggalkannya
dan tidak pula waqof haram yang menjadikan si pembaca
berdosa sebab mewaqofkannya, karena keduanya ( waqof
wajib dan waqof haram ) tidak menunjukkan pengertian
bahwa sebab tidak adanya ( keduanya ) maka menjadi tak
teratur, kecuali jika hal tersebut menjadi sebab
keharamannya serta dihukumi berdosa seperti halnya
sengaja waqof pada lafadz " ﻣﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻪ ( tidak ada Tuhan )
ﻭﺍﻧﻲ ﻛﻔﺮﺕ ( dan sesungguhnya aku kafir ) dan
semacamnya.

٢ . ﻣﻨﺎﺭ ﺍﻟﻬﺪﻱ، ﺹ ١٣ -١٤ .
ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻮ ﺍﻟﻌﻼﺀ ﺍﻟﻬﻤﺪﺍﻧﻲ : ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﺍﻟﻮﺍﻗﻒ ﻋﻠﻰ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻮﻗﻮﻑ، ﺍﻣﺎ ﺍﻥ
ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻀﻄﺮﺍ ﺍﻭ ﻣﺘﻌﻤﺪﺍ ﻓﺎﻥ ﻭﻗﻒ ﻣﻀﻄﺮﺍ ﻭﺍﺑﺘﺪﺃ ﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻏﻴﺮ
ﻣﺘﺠﺎﻧﻒ ﻻﺛﻢ ﻭﻻ ﻣﻌﺘﻘﺪ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭ .

2. Dalam kitab " Manarul Hudaa, Hal.13-14.
Telah berkata Imam Abul 'Allaa' Al Hamdaniy ; Waaqif
( Orang yg mewaqofkan/ memberhentikan bacaannya )
Jangan sampai melewati ( batas ) waqof-waqof ( yg
diharamkan ) tersebut sekalipun terpaksa atau sengaja
berhenti. Maka jikalau terpaksa berhenti dan memulai dari
( ayat ) sesudahnya tanpa sengaja melakukan kesalahan
dan tidak meyakini pada maknanya, maka tidak ada dosa
baginya.
( Lanjutan redaksi dari kitab Manarul Huda, Hal. 13-14 )

وقال شيخ الاسلام : عليه وزر ان عرف المعنى لأن الابتداء لا يكون الا اختياريا، وقال ابو بكر بن الانباري : لا اثم عليه وان عرف المعنى لان نيته الحكاية عمن قاله وهو غير معتقد لمعناه، وكذا لو جهل معناه، ولا خلاف بين العلماء ان لا يحكم بكفره من غير تعمد واعتقاد لمعناه. واما لو اعتقد معناه فانه يكفر مطلقا وقف ام لا، والوصل والوقف في المعتقد سواء. اذا علمت هذا عرفت بطلان قول من قال : لا يحل لمن يؤمن بالله واليوم الآخر ان يقف علي سبعة عشر موضعا، فان وقف عليها وابتدأ ما بعدها فانه يكفر ولم يفصل، والمعتمد ما قاله العلامة النكراوي : انه لا كراهة ان جمع بين القول والمقول لانه تمام قول اليهود والنصارى، والواقف علي ذلك كله غير معتقد لمعناه، وانما هو حكاية قول قائلها حكاها الله عنهم، ووعيدا لحقه الله بالكفار، والمدار في ذلك علي القصد وعدمه. وما نسب لابن الجزري من تكفير من وقف علي تلك الوقوف ولم يفصل فنفى ذلك نظر نعم ان صح عنه ذلك حمل علي ما اذا وقف عليها معتقدا معناها فانه يكفر سواء وقف ام لا، والقارئ والمستمع المعتقدان ذلك سواء.

Berkata Syaikhul Islam : " Bagi si pembaca adalah berdosa apabila ia mengetahui maknanya, karena sesungguhnya permulaan ( baca ) tidak akan terjadi kecuali bersifat opsional atau pilihan ( dari pembaca itu sendiri ). Telah berkata Abu Bakar Al-Anbariy : " Tidak berdosa bagi qori' meskipun mengetahui arti / maknanya, karena sesungguhnya niat qori' hanyalah menceritakan dari apa yang dikatakan dalam redaksi ayat tersebut, dan qori' bukanlah orang yang meyakini terhadap maknanya, dan hal ini berlaku pula bagi orang yang tidak tahu maknanya. Dan tidak ada perbedaan dikalangan ulama' bahwa sesungguhnya tidak bisa dihukumi kufur orang yang tidak sengaja dan yang tidak meyakini terhadap maknanya. Adapun seandainya ia meyakini terhadap maknanya, maka sesungguhnya dia dihukumi kafir secara muthlaq, baik ia mewaqofkan atau tidak, menyambung dan mewaqofkan adalah sama saja bagi orang yang meyakininya. Jikalau ia tahu hal ini dan mengerti maka batal lah pendapat orang yang mengatakan, " Tidak boleh bagi orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir untuk berhenti pada 17 tempat ( yang dilarang waqof ), maka apabila ia ( tetap ) waqof pada 17 tempat tersebut dan ibtidak ( mengawalinya ) pada kalimat sesudahnya maka sesungguhnya ia dihukumi kafir tanpa perlu diperinci lagi.
Adapun pendapat yang mu'tamad sebagaimana yang dikatakan oleh 'Allamah An-Nakrowiy : " Sesungguhnya  tidaklah dibenci apabila mengumpulkan jadi satu antara ucapan dan yang diucapkan, karena sesungguhnya itu adalah sempurnanya ucapan orang yahudi dan nashrani, dan orang yang waqof pada hal tersebut secara keseluruhan bukanlah orang yang meyakini akan maknanya, dan sebenarnya ia hanya menceritakan perkataan orang yang mengatakannya sebagaimana Alloh mengisahkannya tentang perkataan mereka, serta merupakan peringatan keras bagi mereka yang menyetarakan Alloh dengan ( perkataan ) orang-2 kafir tersebut, dan topik pembicaraan didalam hal ini hanya pada niat atau tidaknya.
Dan pendapat yang disandarkan kepada Ibnu Al-Jazariy terhadap pengkafiran orang yang waqof pada waqof-2 yang disebutkan tadi tanpa diperinci, maka penafian terhadap hal ini perlu dipertimbangkan, ya..apabila memang benar dari padanya terhadap permasalahan yang disebutkan tadi terdapat konsepsi dari apa yang apabila qori mewaqofkan padanya ( waqof2 tersebut ) serta meyakini maknanya, maka ia dihukumi kafir baik ia waqof atau tidak adalah sama saja, dan qori maupun pendengar yang sama-sama meyakini akan makna tersebut juga sama kufurnya.

Jadi kesimpulannya adalah, Waqof ( berhenti ) dengan
sengaja pada 17 tempat yang diharamkan waqof
sebagaimana yang tertera pada kitab " Risalatul qurro' wal
huffadz fii ghoriibil qirooati wal alfaadz " karya KH.
Abdulloh Umar, adalah haram istilahiyy ( ﺣﺮﺍﻡ ﺍﺻﻄﻼﺣﻲ )
yang berarti tidak berdosa. Sebab pada dasarnya tidak ada
waqof yang haram syar'i ( ﺣﺮﺍﻡ ﺷﺮﻋﻲ ) dalam artian
berdosa, selagi tidak ada maksud- maksud tertentu yang
dapat mengakibatkan haram dan bahkan kufur.
Adapun 17 bacaan-bacaan yang haram mewaqofkannya,
atau seumpama sengaja mewaqofkannya walaupun disitu
ada tanda waqof atau tidak, adalah sebagai berikut :
1. ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺿﺎﺀﺕ ﻣﺎ ﺣﻮﻟﻪ — Suroh Al-Baqarah, Juz 1, ayat 17.
2. ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻮﺗﻮﺍ — Suroh Al-Baqarah, Juz 2, ayat 243.
3. ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻘﻴﺮ — Suroh Ali-Imron, Juz 4, ayat 181.
4. ﻓﺒﻌﺚ ﺍﻟﻠﻪ ﻏﺮﺍﺑﺎ — Suroh Al-Maidah, Juz 6, ayat 31.
5. ﻭﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻳﺪ ﺍﻟﻠﻪ — Suroh Al-Maidah, Juz 6, ayat 64.
6. ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺛﺎﻟﺚ — Suroh Al-Maidah, Juz 6, ayat 73.
7. ﻭﻣﺎ ﻟﻨﺎ — Suroh Al-Maidah, Juz 7, ayat 84.
8. ﻭﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ — Suroh At-Taubah, Juz 10, ayat 30.
9. ﻭﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ — Suroh At-Taubah, Juz 10, ayat 30.
10. ﻟﻔﻲ ﺿﻼﻝ ﻣﺒﻴﻦ — Suroh Yusuf, Juz 12, ayat 8.
11. ﻭﻣﺎ ﺍﻧﺘﻢ ﺑﻤﺼﺮﺧﻲّ — Suroh Ibrahim, Juz 13, ayat 22.
12. ﻟﻢ ﻳﺘﺨﺬ ﻭﻟﺪﺍ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ — Suroh Al-Isro' / Bani Isroil, Juz
15, ayat 111.
13. ﻭﺍﻟﺤﺎﻓﻈﺎﺕ ﻭﺍﻟﺬﺍﻛﺮﻳﻦ — Suroh Al- Ahzab, Juz 22, ayat
35.
14. ﺍﺻﻄﻔﻰ ﺍﻟﺒﻨﺎﺕ — Suroh Ash-Shoffat, Juz 23, ayat 153.
15. ﺍﻻ ﻣﻦ ﺗﻮﻟﻰ ﻭﻛﻔﺮ — Suroh Al-Ghoshyiyyah, Juz 30, ayat
24.
16. ﺍﻥ ﺍﻻﻧﺴﺎﻥ ﻟﻔﻰ ﺧﺴﺮ — Suroh Al-'Ashr, Juz 30, ayat 2.
17. ﻓﻮﻳﻞ ﻟﻠﻤﺼﻠﻴﻦ — Suroh Al-Ma'un, Juz 30, ayat 4.
Daftar 17 bacaan yang haram diwaqofkan ini sesuai yang
tercantum dalam kitab " Risalatul Qurro' wal Huffadz fii
Ghoroibil Qiroati wal Alfadz " karya KH. Abdulloh Umar
Semarang.

والله اعلم بالصواب

( Danny Ma'shoum )

Tuesday, March 3, 2015

HIKMAH BACAAN WAJIB SAKTAH PADA EMPAT TEMPAT DALAM AL-QURAN

HIKMAH BACAAN WAJIB SAKTAH PADA 4 TEMPAT DALAM AL-QUR'AN

Pada Suroh Ad-Dahr, ayat 15-16 ada dua kata atau lafadz yang sama yaitu :

قَوَارِيرَا @ قَوَارِيرَا..

Tetapi kedua lafadz ini saat diwaqofkan tidaklah sama bunyinya.
Menurut Imam Hafs ibn Sulaiman Al-Mughiroh Al-Kufy, lafadz  قواريرا  ( Qowaariiroo ) yang pertama apabila diwaqofkan tetap tidak ada perubahan pada bunyi " رَا " ( Roo ) nya, artinya tetap dibaca panjang. Tapi kalau waqof pada pada lafadz " Qowaariiroo " yang kedua maka huruf alif di buang dan huruf Ro' nya disukun, sehingga berbunyi " Qowaariir ". Sebab menurut Imam Hafs berdasarkan riwayat yang mutawatir dari Baginda Nabi SAW bahwa beliau pernah membaca demikian. Dengan demikian dua bacaan yang sama tadi tapi berbeda bunyi ketika diwaqofkan itu sesuai dengan kehendak Alloh SWT.

Sekarang kita ulas. Suroh Ad-Dahr terdiri dari 31 ayat, yang mana 30 ayat darinya diakhiri dengan huruf yang ber fathatain akhirnya, seperti اسيرًا ، شكورًا، تقديرًا dsb. Satu ayat darinya yaitu ayat ke-15 diakhiri dengan alif yang huruf sebelumnya berharokat fathah, yaitu " Qowaariiro " tidak fathatain. Dan 30 ayat yang lain kalau diwaqofkan maka tanwin ( fathatain ) dihilangkan dan bacaan dipanjangkan 2 harokat, maka menjadilah :

Taqdiiron — Taqdiiroo
Asiiron — Asiiroo
Syukuuron — Syukuuroo. dst

Dengan begitu " Qowaariiroo " yang pertama saat waqof yang tidak ada perubahan itu sama dengan akhiran ayat2 sebelum dan sesudahnya ketika diwaqofkan.

Jadi dengan demikian fashilah pada ro'sul ayat bunyi ritme nya akan seragam.

Musykilatul Qur'an, Hal 3,4 dan 5. Karya Ustadz Muhammad Amrulloh Muzayyin dan H. Husein Aziz.

—————

Pada Suroh ke 75, yaitu Al-Qiyamah, ayat 27, kita jumpai lafadz " مَن رَاقٍ  / man rooqin " pada ayat ;
(وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ) [Surat Al-Qiyama : 27]

Menurut Imam Hafs ibn Sulaiman Al-Mughiroh Al Kufy, Rowy nya Imam 'Ashim, bahwa lafadz " مَن " ( man ) disini tidak boleh di idghom-kan dengan lafadz " رَاقٍ " ( rooqin ), akan tetapi harus di saktah kan. Padahal menurut kaidah Ilmu Tajwid apabila ada Nun mati bertemu Ro' maka bacaan harus di idghomkan.

Sekarang kita analisa.
Lafadz " مَن ( man ) maknanya =Siapakah.
Lafadz " رَاقٍ ( rooqin ) maknanya = Yang dapat menyembuhkan, atau membersihkan.

Nah, kalau bacaan tadi tidak disaktahkan, maka secara otomatis harus di idghomkan dengan bunyi bacaan " مَرَّاقٍ  ( marrooqin ), padahal lafadz " marrooqin " itu maknanya = pembuat / penjual kuah masakan.

Saya sangat kagum atas kejelian dan ke jeniusan para Ulama ahlul Quran dan Qiro'at dalam menjaga ke ontetikan Al-Quran serta kejelian dalam membuka rahasia2 dibalik lafadz agar jauh dari tahrif maupun pengkaburan makna ayat.
Dengan adanya saktah ini semakin jelas makna yang dimaksud ayat tersebut.

————

Pada Suroh Yasin, ayat ke-52, yang berbunyi ;

(قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ)

Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).

Pada penggalan ayat " مِن مَرقَدِنَا  هَذَا ", menurut Imam Hafs ibn Sulaiman Al -Mughiroh Al Kufy , lafadz " Marqodinaa " harus di-saktah-kan. Kemudian dilanjutkan " Haadzaa ".

Kalau kita perhatikan lagi susunan kalimat sebelum dan sesudahnya,

يا ويلنا من بعثنا من مرقدنا
mempunyai arti " Celakalah kami, siapa yang membangkitkan kami dari kubur kami ", ini adalah ucapan orang kafir.
Kemudian malaikat menjawab ;

هذا ما وعد الرحمن..
yang artinya " Inilah yang dijanjikan Tuhan yang Maha Pemurah..

Nah..kalau bacaan tadi tidak di-saktah-kan pada lafadz " مرقدنا ( marqodinaa ), maka artinya ;" Siapa yang membangkitkan kami dari kubur kami INI. Padahal lafadz " هذا ( ini ) bukan termasuk perkataan orang-orang kafir. Maka dengan adanya saktah pada " marqodinaa " tersebut akan tampak jelas mana perkataan orang2 kafir dan mana jawaban Malaikat.

Dengan adanya saktah ini maka jelaslah pengertian makna ayat sehingga jauh dari pengkaburan arti maupun tahrif.

Selamat menerjuni Dunia Al-Qur'an.

————

Pada Suroh Al-Kahfi ayat 1 dan 2. Menurut Imam Hafs ibn Sulaiman Al-Mughiroh apabila mewasholkan bacaan ayat 1 dan 2 harus ada saktah pada akhir ayat 1 :

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ۜ) [Surat Al-Kahf : 1]

(قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا) [Surat Al-Kahf : 2]

Pada akhir ayat ke-1, lafadz عوجًا dibaca عوجَا ( dengan memanjangkan JA )

Sekarang kita bahas.

Lafadz  عوجًا dan  قيّمًا  ini menurut ilmu nahwu sah menjadi sifat dan mausuf, atau na'at dan man'ut karena sudah memenuhi syarat yang diantaranya adalah sama-sama Mudzakkar, Manshub dan Nakiroh.
Tetapi hakikat kedua lafadz tersebut bukan sifat dan mausuf. Lafadz  عِوَجًا menjadi maf'ul bih dan lafadz  قَيِّمًا  menjadi Hal dari lafadz  الكتاب.  Nah, agar  lafadz  قَيِّمًا  ini tidak dianggap sifat, maka disaktahkan pada  عوجًا  . Dengan adanya saktah ini justru menghindari persangkaan lain makna.

Wallohu a'lam bis showab.