kolom melintang

Showing posts with label Kajian Tashawwuf. Show all posts
Showing posts with label Kajian Tashawwuf. Show all posts

Tuesday, May 26, 2015

FANA'

MATILAH SEBELUM ENGKAU MATI

Pengertian " Matilah sebelum engkau mati " adalah sebuah pengertian dari salah satu jalan untuk musyahadah ( penyaksikan ) kepada Alloh, yaitu melalui mati. Tapi mati disini bukan matinya jasad ketika terpisah dengan roh, tapi matinya nafsu, sebagaimana sabda Nabi SAW ;

موتوا قبل ان تموتوا

" Rasakanlah mati sebelum engkau mati ".

dalam kitab Al-Hikam, Abu Ma'jam berkata :

من لم يمت لم ير الحق

" Barang siapa tidak merasakan mati, maka ia tidak dapat merasakan ( melihat atau musyahadah ) dengan Al-Haqqu Ta'ala ".

jadi yang dimaksud mati disini adalah hidupnya hati karena matinya nafsu. Dan hati ( bashiroh ) akan hidup pada saat matinya nafsu.

Imam Abul Abbas Al-Mursy dalam kitab Al-Hikam berkata :

لا يدخل على الله الا بابين : من باب الفناء الاكبر، وهو الموت الطبيعى ، ومن باب الفناء الذي تعنيه هذه الطائفة

" Tiada jalan masuk / musyahadah dengan Alloh kecuali melalui dua pintu, dan salah satu dari dua pintu itu ialah pintu " Fana'ul akbar " yaitu mati thobi'i. Dan merupakan setengah daripada pintu fana' menurut pengertian ahli Tashowwuf ".

Adapun pengertian matinya nafsu untuk hidupnya hati dalam musyahadah dapat ditempuh pada 4 tingkat :

(1). MATI THOBI'I.

Menurut sebagian para ahli thoriqoh, bahwa mati thobi'i terjadi dengan karunia Alloh pada saat dzikir qolbi dan dzikir lathoif ( dzikir-dzikir ini biasanya sesuai anjuran Mursyid Thoriqoh ), serta mati Thobi'i ini merupakan pintu pertama musyahadah dengan Alloh. Pintu pertama ini dilalui pada saat seorang salik dalam melakukan dzikir qolbi dalam dzikir lathoif. Maka dengan karunia Alloh ia fana' atau lenyap pendengarannya secara lahir dimana telinga batin mendengar bunyi " Alloh..Alloh..Alloh..". Pada tingkat ini, dzikir qolbi mulanya hati berdzikir, kemudian dari hati naik kemulut dimana lidah berdzikir dengan sendirinya. Dan dalam kondisi seperti ini alam perasaan mulai hilang atau mati thobi'i. Pada saat-saat seperti ini akal pikiran mulai tidak berjalan lagi, melainkan terjadi sebagai ilham yang tiba-tiba Nur Ilahi terbit dalam hati muhadhoroh ( berdialog ) hati dengan Alloh, sehingga telinga bathin mendengar

انني انا الله

" Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh " yang bunyi ini naik kemulut dimana lidah bergerak sendiri mengucapkan " Alloh..Alloh..Alloh..". Dalam tingkatan-tingkatan bathin seperti ini, salik telah mulai memasuki pintu fana' pertama, yang dinamakan Fana' fil af'al dan Tajalli fil af'al dimana gerak dan diam adalah pada Alloh .

لا فاعل الا الله

" Tiada fail ( yang gerak dan diam ) kecuali Alloh ".

(2). MATI MAKNAWI.

Menurut sebagian ahli Thoriqoh, bahwa " Mati Maknawi " ini terjadi dengan karunia dari Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatur-Ruh dalam dzikir lathif. Terjadinya itu adalah sebagai ilham yang dimana secara tiba-tiba Nur Ilahiy terbit dalam hati. Ketika itu penglihatan secara lahir menjadi lenyap dan mata bathin menguasai penglihatan ( Bashirohnya mendominasi penglihatan ). Dzikir " Alloh....Alloh..Alloh.." pada tingkat ini semakin meresap terus pada diri dimana dzikir mulai terasa panasnya disekujur tubuh dan disetiap bulu roma di badan. Dalam kondisi seperti ini, perasaan ke-insanan tercengang, bimbang, semua persendian gemetar, bisa juga terus pingsan. Sifat keinsanan lebur diliputi sifat Ketuhanan.
Dalam tingkat ini, salik telah memasuki fana' ke-dua yang dinamakan " Fana' fis Shifat / Tajalli fis sifat ". Sifat kebaharuan dan kekurangan serta alam perasaan lenyap atau fana' dan yang tinggal adalah sifat Tuhan yang sempurna dan azali.

قوله ، لا حيّ إلا الله

" Tiada hidup selain Alloh ".

(3). MATI SURI.

Pada tingkat selanjutnya adalah " Mati Suri ". Mati suri ini terjadi dengan karunia Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatus Sirri dalam dzikir lathoif. Pada tingkat ke-tiga ini, seseorang atau salik telah memasuki pintu Musyahadah dengan Alloh. Ketika itu segala ke-insanan lenyap atau fana', alam wujud yang gelap ( ظلمة ) telah ditelan oleh alam ghaib atau malakut ( عالم الملكوت ) yang penuh dengan Nur Cahaya. Dalam pada ini, yang Baqo' adalah Nurulloh semata, Nur Af'alulloh, Nur Shifatulloh, Nur Asmaulloh, Nur Dzatulloh atau Nurun 'ala Nuur.
Sebagaimana firman Alloh ;

....نور على نور يهدى الله لنوره من يشاء....

" Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki.." [ Suroh An-Nur, ayat 35 ]

لا محمود إلا الله

" Tiada yang dipuji melainkan Alloh ".

(4). MATI HISSI.

Selanjutnya ialah Mati Hissi. Mati Hissi ini terjadi dengan karunia Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatul Hafi dalam dzikir lathoif. Pada tingkat ke-empat ini, seseorang atau salik telah sampai ketingkat yang lebih tinggi untuk mencapai ma'rifah ( Ma'rifat Billah ) sebagai maqom tertinggi.
Dalam pada ini, lenyap ( fana' ) sudah segala sifat-sifat keinsanan yang baharu dan yang tinggal adalah sifat-sifat Tuhan yang qodim atau azali. Ketika itu menanjaklah bathin keinsanan lebur kedalam keBaqo'an Alloh Yang Qodim atau bersatunya 'Abid dan Ma'bud ( yang menyembah dan Yang Di Sembah ). Dalam tingkat puncak tertinggi ini, seseorang atau salik telah mengalami keadaan yang tak pernah sama sekali dilihat oleh mata, didengar oleh telinga maupun tak sama sekalipun terbersit dalam hati sanubari manusia dan tidak mungkin dapat disifati. Tetapi akan mengerti sendiri bagi siapa saja yang telah merasakan sendiri, sebagaimana kata sufi agung Dzin Nun Al-Mishri ;

من لم يذق لم يعرف

" Siapa saja yang tidak pernah merasakan maka tidak akan mengerti ".

Untuk bisa mencapai keadaan Musyahadah seperti tersebut diatas ( tahapan-tahapan diatas ) adalah dengan jalan mujahadah, karena siapa saja yang menghiasi lahiriyahnya dengan mujahadah maka Alloh akan memperbaiki sirr atau hatinya dengan mujahadah.

——————

PEMBAGIAN TAJALLI KETIKA FANA' MENURUT KITAB INSANUL KAMIL IMAM ABDUL KARIM AL-JILLI

√. Tingkat Ke-1 : TAJALLI AF-'AL

تجلى سبحانه وتعالى في افعاله عبارة عن مشهد يرى فيه العبد جريان القدرة في الأشياء فيشهده سبحانه وتعالى محركها ومسكنها ينفي الفعل عن العبد واثباته للحق

" Tajallinya Alloh SWT dalam Af-'alnya, ialah ibarat penglihatan dimaba seorang hamba Alloh melihat padanya berlaku Qudrot Alloh pada sesuatu. Ketika itu, ia melihat Tuhan, maka tiadalah fiil ( perbuatan ) lagi bagi hamba. Gerak dan diam serta itsbat ( ketetapan ) adalah bagi Alloh semata ".

Jadi Tajalli Af'al ialah nafinya atau lenyapnya fiil ( perbuatan ) daripada seseorang hamba dan itsbatnya yang ada ialah Fiil Alloh semata. Sebagaimana firman Alloh ;

(وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ) [Surat As-Saaffat : 96]

" Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".

لا فاعل الا الله  ( Tiada fiil / perbuatan kecuali Alloh )

√. Tingkat Ke-2 : TAJALLI ASMA'

من تجلى له سبحانه وتعالى من حيث اسمه الظاهر فكشف له عن سر ظهور النور الالهى في كثائف المحدثات ليكون طريقا الى معرفة ان الله هو الظاهر ، فعند ذلك تجلى له بانه الظاهر ، فبطن العبد ببطون فناء الخلق في ظهور وجود الحق .

" Siapapun baginya Tajalli Alloh SWT dari segi Asma-Nya yang disebut, maka terbukalah baginya dari nampaknya Nur Ilahiy dalam keadaan biasa, maksudnya adalah agar ia mendapatkan jalan kepada Makrifat, bahwa sesungguhnya Alloh adalah Yang Nyata ( terlihat ). Maka pada saat itu Tajallilah Alloh baginya, karena sesungguhnya Alloh adalah Adz-Dzhohir. Dan ketika itu bertempatlah hamba pada tempat yang bathin ( tidak tampak ) karena fana' / leburnya sifat-sifat kebaharuannya ketika nampaknya Wujud Al-Haqqu Ta'alaa yang Qodim ".

Jadi Tajalli Asma' adalah fana'nya hamba daripada dirinya sendiri dan bebasnya hamba dari genggaman sifat-sifat kebaharuan dan lepasnya ikatan dari dirinya atau tubuh kasarnya. Ketika itu ia fana' dalam Baqo'nya Alloh karena sucinya ia dari sifat-sifat kebaharuan. Bahwa sesungguhnya Tajalli Asma' sebenarnya tiada yang dilihat kecuali Dzatusshorfi dan bukannya melihat Asma'. Dalam hal ini bisa diambil perumpamaan sebagai berikut :

(وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ) [Surat Al-Araf : 143]

" Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

مثال ذلك بقوله تعالى : لن ترانى يا موسى يعنى لانك اذا كنت موجودا فانا مفقود عنك ، وان وجدتنى فانا مفقود . ولا يمكن للحادث ان يثبت عند ظهور القديم ، وعند ذلك ، فعدم موسى وصار العبد كأن لم يكن ويبقى الحق كأن لم يزل . 

Perumpamaan untuk itu ialah dengan firman Alloh kepada Nabi Musa, " Kamu tidak dapat melihat Aku ( لن ترانى ) " , artinya bahwa sesungguhnya kamu Musa, selama kamu ada pada dirimu, maka Aku ( Alloh ) sirna ( tak terlihat ) dari pandanganmu Musa. Dan ketika kamu melihat Aku, maka ketika itu engkaupun tiada ( fana' ) ". Tidaklah mungkin bagi yang baharu ada ketika nampaknya yang Qodim. Jadi pengertiannya adalah, " Maka dengan fana'nya Musa , jadilah ia bersifat tiada, dan Baqo'lah Alloh yang bersifat kekal.

√. Tingkat Ke-3 : TAJALLI SIFAT

تجلى الصفات ، عبارة عن قبول ذات العبد الأتصاف بصفات الرب قبولا اصليا حكميا قطعيا .

" Tajalli Sifat adalah ibarat penerimaan tubuh seorang hamba Alloh berlaku sifat dengan sifat-sifat Ketuhanan, suatu penerimaan asli dan ketentuan pasti ".

Artinya, manakala Alloh SWT menghendaki terjadinya Tajalli atas hambanya dengan namaNya atau sifatNya, maka dalam keadaan itu lenyaplah ( Fana' ) seorang hamba dari dirinya dan ketika itu berubahlah daripada wujudnya. Manakala telah hilang cahaya keinsanannya dan telah fana' ruh kebaharuannya, disitulah Al-Haqqu Ta'ala mengambil tempat pada hambanya tanpa hulul daripada Dzat-Nya sebagai ganti dari perubahan hamba itu dari wujudnya, karena sebenarnya Tajallinya Alloh itu terhadap hambanya adalah sebagai karunia dari Alloh semata.

√. Tingkat Ke-4 : TAJALLI DZAT

Tajjali ketika Fana' fiDzzat adalah sebagai tingkatan paling puncak atau tertinggi,

لا موجود علي الاطلاق الا الله

" Tiada wujud secara muthlaq melainkan Alloh ".

Sebelum pada pengertian ta'rif dari Tajalli Dzat saya berikan sedikit uraian agar lebih mudah dipahami, sebagaimana DR. Mustafa Zahri menuturkan dalam buku Memahami Ilmu Tasawuf. 

Pada fana' tingkat ini ( Tajalli Dzat ) seseorang akan memperoleh perasaan batin pada suatu keadaan yang tak berarah, tidak ada lagi kanan atau kiri, depan atau belakang, atas atau bawah. Intinya ia berada pada suatu keadaan tak terbatas dan tak bertepi. Dan dalam keadaan ini juga seseorang yang fana' fi Dzat mencapai derajat " Syuhudul Haqqi bil Haqqi ", dia telah lenyap dari dirinya sendiri dan dalam situasi ia hanya berada dalam baqo'nya Alloh semata, atau sebagai kesimpulannya bahwa ia telah hancur lebur kecuali wujud yang muthlaq, yaitu wujudulloh.
Adapun hikmah dari fana tingkat ini , adalah pengakuan atas ke Esa an Alloh dengan semurni-murninya, bukan sekedar pengakuan atas ke Esa an dengan ucapan syahadat, dalil-dalil atau pendapat-pendapat akal saja, dan pengakuan secara murni ini hanya dapat disaksikan dengan kemakrifatan saja.
Abu Manshur Husein Al Hallaj, mengatakan dalam syairnya;

قلوب العاوفين لها عيون, ما لا يرى للناظرين

" Hatinya orang 'Arif itu mempunyai mata memandang, matanya itu dapat melihat apa yang tak dapat dilihat pandangan mata biasa ".

كان الله ولا شيئ معه وهو الآن على ما عليه كان

" Adalah wujud Alloh itu baqo' dan tidak ada sesuatupun besertanya, Alloh tetap pada wujudnya sebagaimana keadaannya kekal semula ".

Maka mencapai makrifah billah dengan jalan akal pikiran itu mustahil, para Ahlut Tashowwuf berkata ;

وللعقول حدود لا تجاوزها, والعجز عن الادراك ادراك

" Bagi jalan pikiran itu terbatas, maka dengan jalan pikiran tidaklah Dia bisa dicapai, bila telah mengakui kelemahan diri untuk mencapai Dia, itulah tandanya Dia sudah dicapai ".

Didalam Al-Quran sudah diisyaratkan oleh Alloh untuk mencapai puncak fana' fidz Dzat tersebut, coba kita perhatikan rahasia yang diisyaratkan dari ayat ini ;

(كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ) [Surat Ar-Rahman : 26]

" Semua yang ada di bumi itu akan binasa ". Dan ayat selanjutnya ;

(وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ) [Surat Ar-Rahman : 27]

" Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan ".

Kemudian kita perhatikan bagaimana nabi Musa bermunajat kepada Alloh dengan kata-katanya yang masyhur dikalangan para Sufi dalam menuju kefana'an ;

قال موسى عليه السلام : يا رب كيف اصل اليك ؟ قال عز وجل : فارق نفسك وتعال

Nabi Musa berkata kepada Alloh ," Wahai Alloh, bagaimana agar aku sampai kepadaMu. Alloh ' azza wa jalla menjawab ," Tinggalkan ( lenyapkan ) dirimu hai Musa, baru datanglah kepadaKu ".

Apa yang diucapkan Nabi Musa tersebut adalah sebuah permintaannya kepada Alloh agar Alloh " menampakkan Diri " dihadapannya, sebagaimana yang dituturkan pada ayat ;

(وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ) [Surat Al-Araf : 143]

" Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

Sebagai catatan akhir tentang Fana' Fi-Dzat sebagaimana disebutkan dalam kitab Insanul Kamil :

فاعلم ان الذات عبارة عمن كانت اللطيفة الالهية اذا تجلى علي عبده وافناه عن نفسه قام فيه اللطيفة الالهية فتلك اللطيفة قد تكون ذاتيةً وقد تكون صفاتيةً فاذا كانت ذاتية كان ذلك الهيكل الانساني هو الفرد الكامل

" Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Dzat itu adalah ibarat dimana bertempat anugerah Ketuhanan. Ketika Alloh menghendaki terjadinya Tajalli ( penjelmaan ) atas hambaNya, dimana hambaNya telah mem fana' kan dari dirinya sendiri, maka bertempatlah hamba itu pada Karunia Ketuhanan. Demikianlah karunia itu, adakalanya sebagai karunia Dzat dan adakalanya karunia Sifat. Apabila terjadi karunia Dzat, maka disitulah terjadi " Tunggal Yang Kamil / Sempurna ". Maka dengan fana'nya diri hamba maka yang tinggal adalah yang Baqo' atau Dzatulloh. Dan dalam keadaan ini hamba telah berada pada situasi " Maa siwalloh " ( tiada apapun selain Alloh ) yaitu pada wujud Alloh semata ".

Disinilah pengertian dari Fana' fiDzzat sebagai tingkatan paling puncak atau tertinggi,

لا موجود علي الاطلاق الا الله

" Tiada wujud secara muthlaq melainkan Alloh ".

Wallohu a'lam Bis showab.

——————
Sidoarjo, 27 Mei 2015
Danny Ma'shoum

Monday, March 23, 2015

ARTI SEBUAH KEIKHLASAN

MAKNA IKHLAS BESERTA TANDA-TANDANYA DAN RIYA' DALAM PANDANGAN ULAMA SUFI ( MUTASHOWWIFUN )

Definisi-definisi Ikhlas dan tanda-tandanya beserta riya menurut para Ulama Sufi ini saya sadur dari kitab " Ad-Durrotun Nafisah min Syuruhil Hikam al 'Athoiyyah li Qoshdi Mahabbatillah ", Hal. 76-91, karya Syaikhy wa murobbi ruhiy KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad, Tambak Beras-Jombang.

( * ) Syaikh Junaid Al-Baghdady ( w. 297 H / 910 M ) ;

الإخلاص تصفية العمل من الكدورات

" Ikhlas adalah, membersihkan amal dari kotoran-kotoran amal ".

( * ) Syaikh Sahl bin Abdillah Al-Tustary ( w. 200-283 H / 815-896 M ) ;

الإخلاص ان يكون سكون العبد وحركاته لله تعالى خاصة

" Ikhlas adalah, apabila semua diam dan geraknya hamba hanya khusus karena Alloh Ta'ala semata ".

( * ) Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho' Ad-Dimyathi ( muallif kitab Ianatut Tholibin ) ;

الإخلاص ان يكون قصد الانسان في جميع طاعته واعماله مجرد التقرب الى الله تعالى

" Ikhlas adalah, apabila tujuan manusia dalam semua amal ibadahnya melulu hanya pendekatan diri kepada Alloh Ta'ala ".

* Abu Utsman Al-Makki ;

الإخلاص نسيان رؤية الخلق بدوام النطر الى الخالق فقط

" Ikhlas adalah, melupakan memandang makhluq dengan selalu memandang Kholiq saja ".

( * ) Al-Harits Al-Muhasibi ( w. 243 H / 857 M ) ;

الإخلاص هو اخراج الخلق عن معاملة الربّ

" Ikhlas adalah, tidak memandang makhluq dari ibadah kepada Tuhan ".
—————
RIYA' DAN ANTISIPASINYA

( * ) Sayyid Abdulloh bin Alwy Al-Haddad dalam kitabnya An-Nashoih ad Diniyyah ;

الذي يعمل لقصد التقرب الى الله تعالى وطلب مرضاته وثوابه هو المخلص، والذي يعمل لله ولمراآت الناس هو المرآئى وعمله غير مقبول، والذي يعمل لمراآت الناس فقط ولو لا الناس لم يعمل اصلا امره خطر هائل، وريائه رياء المنافقين نعوذ بالله من ذلك ونسأله العافية من جميع البليات

" Orang yang beramal karena tujuan taqorrub ( pendekatan diri ) kepada Alloh Ta'ala serta mencari ridho dan pahalaNya, orang tersebut adalah Mukhlis ( orang yang ikhlas ). Dan orang yang beramal karena Alloh Ta'ala dan karena riya' ( pamer ) pada masyarakat, maka orang itu adalah riya' ( tukang pamer ) dan amalnya tidak diterima. Dan orang yang beramal hanya karena riya' pada masyarakat, dan seandainya tidak ada masyarakat maka ia tidak akan beramal sama sekali. Maka persoalan orang itu adalah sangat dikhawatirkan dan berbahaya, dan riya'-riya'nya termasuk riya' nya orang munafiq. Kami mohon perlindungan kepada Alloh Ta'ala dari hal-hal tersebut dan kami mohon kepada Alloh Ta'ala agar selamat dari semua ujian ".

( * ) Syaikh Ali bin Ahmad Al-Jaizi, dalam kitabnya Tuhfatul Khowwash, menjelaskan tentang kedudukan riya' ;

الرياء هو فعل العبادة بقصد اطلاع الناس لتحصيل مال او جاه او مدح وهو من الكبائر، وكل عمل خالطه الرياء فهو باطل مردود، واما غيره كحج مع تجارة وطهارة مع تبرد ففيه الثواب بقدر باعث الآخرة ولو مغلوبا، والرياء يدخل كل الاعمال حتي الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم على الاصح كما افتى به شيخ الاسلام والرملي

" Riya adalah melakukan ibadah dengan tujuan supaya dilihat oleh masyarakat agar memperoleh harta, kedudukan atau pujian. Riya' itu termasuk dosa besar ( dalam hati ). Semua amal yang dicampur dengan riya' adalah batal dan tertolak. Adapun amal yang lain seperti Haji disertai dengan dagang, dan bersuci disertai dengan tujuan mendapatkan rasa segar dibadan, maka amal itu ada pahalanya sebatas dorongqn karena akhirat walaupun hanya sedikit. Dan riya' itu bisa masuk kedalam semua amal hingga membaca sholawat Nabi SAW ( pun bisa kemasukan ). Hal ini menurut Syaikhul Islam Zakaria al-Anshori dan Imam Ar-Romli ".

Kemudian dalam Kitab Nashoihud Diniyyah nya, As-Sayyid Abdulloh bin Alwy Al-Haddad memberi solusi agar terhindar dari penyakit riya' sebagaimana kata beliau ;

ومهما خاف على نفسه الرياء فليخف اعماله ويفعلها في السر حيث لا يطلع عليه الناس فذلك احوط واسلم وهو افضل مطلقا اعني العمل في السر حتي لمن لم يخف على نفسه الرياء الا للمخلص الكامل الذي يرجو اذا اظهر العمل ان يقتدي به الناس فيه نعم ومن الاعمال ما لا يتمكن الانسان من فعله الا ظاهرا كتعلم العلم وتعليمه وكالصلاة في الجماعة والحج والجهاد ونحو ذلك فمن خاف من الرياء حال فعله شيئا من هذه الاعمال الظاهرة فليس ينبغي له ان يتركه بل عليه ان يفعله ويجتهد في دفع الرياء عن نفسه ويستعين بالله تعالى فانه نعم المولى ونعم المعين

" Seandainya seseorang itu mengkhawatirkan dirinya terjangkit riya', maka hendaklah ia merahasiakan amal-amalnya dan melakukannya secara samar, sekiranya masyarakat tidak melihatnya. Hal yang demikian itu adalah lebih berhati-hati dan lebih selamat. Dan amalan sirri itu adalah lebih utama secara muthlaq hingga bagi orang yang tidak menghawatirkan dirinya terjangkit penyakit riya', kecuali bagi orang yang sempurna keikhlasannya ( al-Mukhlis al-Kamil ) yang memperlihatkan amalnya dengan harapan agar amal perbuatannya diikuti oleh masyarakat. Dari berbagai macam amal, ada amal yang manusia tidak mungkin melakukannya kecuali dengan jelas dan tampak, seperti menuntut ilmu, mengajarkan ilmu, sholat berjamaah, beribadah haji, berperang dan sesamanya. Barang siapa yang khawatir terjangkit riya, maka seharusnya ia tidak meninggalkan amal-amal itu, bahkan harus melakukannya dan berusaha dengan keras untuk menolak riya' dalam dirinya serta memohon pertolongan Alloh SWT, karena Alloh adalah sebaik-baik Dzat Yang Menguasai dan sebaik-baik Dzat Yang Menolong ".

————

TANDA-TANDA IKHLAS

( * ) Imam Al-Ghozali ( 450-505 H ) ;

علامة الأخلاص ان يكون الخاطر يألفه في الخلوة كما يألفه في الملاء، ولا يكون حضور الغير هو السبب في حضور الخاطر كما لا يكون حضور البهيمة سببا في ذلك فما دام يفرق في احواله بين مشاهدة إنسان ومشاهدة بهيمة فهو خارج عن صفو الإخلاص مدنس الباطن بالشرك الخفي من الرياء وهذا شرك اخفى في قلب ابن آدم من دبيب النملة السوداء في الليلة الظلماء على الصخرة الصماء.

" Tanda-tanda ikhlas ialah, apabila khothir ( Bhs Jawa : Krentek'e ati ) merasa senang ditempat yang sepi, seperti halnya senang diantara banyak orang, dan kedatangan orang lain tidak menjadi sebab datangnya khotir ( krentek'e ati ), seperti halnya datangnya binatang tidak menjadi sebab datangnya khothir tersebut. Maka seseorang itu masih membeda-bedakan dalam tingkah lakunya antara dilihat manusia dan dilihat binatang, berarti ia keluar dari kejernihan ikhlas dan mengotori hatinya dari syirik khofi, yang dimana syirik khofi itu lebih samar daripada merayapnya semut hitam dimalam yang gelap diatas batu besar yang keras ".

( * ) Syaikh Abu Madyan Al-Hadidy, dalam kitab al-Hikam ;

علامة الإخلاص ان يفنى عنك الخلق في مشاهدة الحق

" Tanda-tanda ikhlas adalah, apabila telah sirna darimu memandang makhluk dalam memandang Al-Haq ".

( * ) Syaikh Ahmad bin 'Alan, dalam syarahnya ;

اذ حقيقة الإخلاص : الخلوص من شهود الاكوان والدخول في مقام الاحسان

" Karena hakekatnya ikhlas adalah lepas dari memandang makhluk dan masuk didalam maqom ihsan ".

( * ) Imam Al-Ghozali r.a ;

الاصل في الإخلاص استواء السريرة والعلانية

" Asal ( pokok ) didalam keikhlasan adalah kesamaan antara isi hati dan perbuatan lahiriyah ".

Dalam hal ini seperti yang dikatakan Umar ibn Al-Khottob r.a kepada seorang lelaki ;

عليك بعمل العلانية، قال : يا أمير المؤمنين وما عمل العلانية ؟، قال : ما اذا اطلع عليك لم تستحي منه

" Berpeganglah dengan amal 'alaniyyah ( amal yang tampak ). Laki-laki itu bertanya ; " Wahai amirul mukminin apakah amal 'alaniyyah itu ?". Umar menjawab ;" Yaitu amal yang apabila kamu dilihat orang, maka kamu tidak merasa malu kepadanya ".

Abu Muslim al-Khaulani r.a. berkata ;

ما عملت عملا أبالب ان يطلع الناس عليه الا اتياني اهلي والبول والغائط وهذه درجة عظيمة لا ينالها كل احد

" Tidaklah aku mengerjakan suatu amal yang aku peduli dilihat manusia kecuali bersenggama dengan istri, kencing dan berak. Hal ini merupakan derajat yang sangat agung, yang tidak semua orang dapat memperolehnya ".

( * ) Syaikh Fudhail bin 'Iyadh ( 105-187 H / 723-803 M ) ;

ترك العمل لأجل الناس رياء ، والعمل لأجل الناس شرك ، والإخلاص ان يعافيك الله منهما

" Meninggalkan amal karena manusia adalah riya' ( pamer ), dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah engkau diselamatkan oleh Alloh dari keduanya ".

( * ) Imam Al-Ghozali r.a. ;

واما ترك الطاعة خوف الرياء فلا وجه له بل ينبغي ان يعمل ويخلص الا اذا كان العمل فيما يتعلق بالخلق كالقضاء والامانة والوعظ فاذا علم من نفسه انه بعد الخوض فيه لا يملك نفسه بل يميل الى دواعي الهوى فيجب عليه الاعراض والهرب كذلك فعل جماعة من السلف.

" Adapun meninggalkan taat karena takut riya ', maka tidak ada alasan untuk hal itu, bahkan seyogyanga ia tetap beramal dan berusaha ikhlas, kecuali apabila amal itu tentang sesuatu yang berkaitan dengan makhluk, seperti menjadi Qodhi ( hakim ), memegang amanah, memberikan mau'idzhoh. Maka apabila ua mengetahui dari dirinya bahwa sesungguhnya setelah ia menyelami begitu dalam ia tidak dapat menahan nafsunya bahkan cenderung pada pengaruh-pengaruh hawa nafsu, maka wajib baginya untuk lari dan berpaling dari pekerjaan itu. Demikian itu adalah perilaku sebagian besar orang-orang salaf ".

Mudah-mudahan bermanfaat.
———————
Sidoarjo , Selasa 24-3-2015.

Danny Ma'shoum.