kolom melintang

Tuesday, March 3, 2015

DIALOG IBNU ATHOILLAH DAN IBNU TAIMIYAH

DIALOG IMAM IBNU TAIMIYYAH AL-HARRONI DENGAN IMAM IBNU ATHOILLAH AS-SAKANDARY DI MASJID AL-AZHAR, MESIR.

Tulisan ini saya sadur dari majalah Cahaya Sufi, edisi 81, terbitan tahun 2012, pimpinan DR. KH. Muhammad Luqman Hakim MA, beliau adalah murid thoriqoh dari Al-Mursyid Al-Kamil Mukammil Al-Arifubillah Hadrotus Syaikh Abdul Djalil Mustaqiem, pengasuh Pon-Pes PETA ( PEsulukan Tarekat Agung, TulungAgung, Jawa Timur ) yang telah diterjemahkan oleh tim penerbit dari kitab " ابن تيمية، الفقيه المعذب " ( Ibnu Taimiyah, Faqih yang tersiksa ) karya penulis Mesir, Syaikh Abdurrohman Asy-Syarqowi.

Inilah barangkali percakapan yang cukup menarik dan patut ditampilkan antara dua orang cendekiawan terkemuka dalam sejarah Islam. Yang pertama adalah Imam Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Al-Haroni, seorang faqih ( Ahli Fiqh ) ternama dari Madzhab Hanbali, yang pendapatnya banyak di ikuti banyak orang. Dan yang kedua adalah Imam Ahmad Ibnu Athoillah As-Sakandary Al-Mishry, seorang Sufi besar, penyair ulung, yang bahasa sufistiknya banyak menjadi pijakan para pelaku tarekat zaman sekarang, yang banyak pengikutnya dan seorang Guru Besar di Al-Azhar. Dua orang pakar dan budayawan yang sezaman dan hampir bersamaan usianya. Yang pertama Imam Ibnu Taimiyah dilahirkan tahun 660 H dikota Harran, Syria dan wafat tahun 728 H. Dan yang kedua Imam Ibnu Athoillah yang dilahirkan tahun 658 H dikota Al-Iskandariyah ( Alexandria ), Mesir, dan wafat tahun 709 H.

Juga disebutkan dalam sejarah, bahwa yang pertama ( Ibnu Taimiyyah ) adalah " musuh bebuyutan " para sufi, dan yang kedua ( Imam Ibnu Athoillah ) adalah juru bicara para sufi waktu itu. Maka tak ayal lagi bahwa keduanya merupakan dua tokoh yang saling bertentangan satu sama lain, sebagaimana akan kita lihat dalam tulisan berikut ini.
Kita tahu bahwa Imam Ibnu Taimiyyah, sang faqih ini selalu dikenal sebagai pengecam para sufi. Kecaman-2nya yang sangat amat pedas itu dituliskan dalam beberapa risalahnya, bahkan permusuhannya terhadap para sufi ( menurut beberapa pengamat ) kadang-2 terlalu berlebihan. Namun sebenarnya juga beliau mengakui, bahwa para sufi abad-2 pertama lahirnya tasawwuf tak lain adalah para mujahid dan pejuang dijalan Alloh, dan mereka tidak melakukan sesuatu yang keluar dari Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi sebenarnya ia tak menolak tasawwuf itu sendiri, hanya saja para sufi dizamannya ( menurut Ibnu Taimiyyah ) telah banyak menyimpang. Oleh karena itu, kata-2 seperti Bid'ah dan Syirik sudah biasa ia lontarkan pada mereka para sufi. Bahkan tuduhan seperti ( bahwa sufi ) sudah keluar dari Islam dan semacam itu telah ia lemparkan pula kepada tokoh-2 seperti Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Busthami, Ibnu Arobi, Ibnu Faridh, At-Tilmitsani dan lain sebagainya. Mereka semua ini menurut Ibnu Taimiyyah disebut sebagai orang-2 yang punya pandangan Wahdatul Wujud, Hulul, dan Ittihad. Namun anehnya, tuduhan-2 yang sama juga ia kenakan kepada tokoh-2 seperti Imam Abul Hasan As-Syadzili dan sebagian muridnya, meskipun mereka ini jauh dari pandangan Wahadatul Wujud, Hulul, dan Ittihad sebagaimana tadi.

Begitulah, pada suatu hari diawal-awal tahun 700 H Ibnu Taimiyah berkunjung ke Mesir. Sebagaimana ditempat asalnya di Damaskus, di Kairo pun Ibnu Taimiyah terus melancarkan kecaman dan kritik pedasnya terhadap para sufi. Orang Mesir pun mulai resah dan gelisah. Sejumlah orang mengadu kepada sang penguasa agar Ibnu Taimiyah disuruh pulang saja kembali ke tempat asalnya Damaskus atau kota Alexandria, atau kalau tidak dipenjarakan saja. Ia telah membuat keretakan dan keresahan dalam masyarakat Mesir dan Ibnu Taimiyah memilih ditahan. Namun pengikut-2 beliau menyarankan agar beliau ke kota Alexandria saja. Tak lama setelah mereka di Alexandria, mereka dipanggil lagi oleh penguasa baru di Kairo.
Sore itu, setibanya dikota Kairo, Ibnu Taimiyah sholat Maghrib di Masjid Al-Azhar. Selesai sholat beliau baru tahu kalau Imam Ibnu Athoillah telah bermakmum dibelakangnya. Maka terjadilah percakapan antara kedua orang penting dan besar itu.

IBNU ATHOILLAH : " Saya biasa sholat Maghrib di Masjid Al-Husein dan sholat Isya' di sini. hmm..lihatlah takdir Alloh. Saya ditakdirkan untuk menjadi orang yang pertama kali bertemu anda. ( Apakah ) anda menyalahkan saya hai Faqih..?"

IBNU TAIMIYAH : " Saya tahu bahwa anda tidak bermaksud menyakiti saya, yang terjadi hanyalah perbedaan pendapat. Hanya saja orang-orang yang memang sengaja menyakiti saya, sejak hari ini telah lepas dari diri saya."

IBNU ATHOILLAH : "Apa yang anda ketahui tentang diri saya, wahai Syaikh Ibnu Taimiyah ?"

IBNU TAIMIYAH : " Saya tahu bahwa anda seorang yang Wara', banyak ilmu, cerdas dan jujur. Saya bersaksi bahwa tidak pernah saya melihat di Mesir maupun di Syam seorang yang seperti anda dalam hal cinta dan fana' nya kepada Alloh, dan dalam hal ketaatannya terhadap perintah dan laranganNya. Namun bagaimanapun, terjadi perbedaan pendapat. Dan apa yang anda ketahui tentang diri saya, sampai anda menuduh saya sesat karena mengingkari Istighotsah kepada selain Alloh ?"

IBNU ATHOILLAH : " Saya heran kepada anda, wahai Faqih. Anda seorang pendukung Sunnah, hafal dan faham terhadap atsar-atsar, sempurna dalam pemikiran dan pemahaman. Namun anda telah melancarkan ungkapan-2 yang orang-orang dahulu dan sekarang menolak menggunakannya, hingga dalam hal ini anda telah keluar dari Madzhab Imam anda, yaitu Imam Ahmad ibn Hanbal, dan madzhab Imam-imam lainnya."

IBNU TAIMIYAH : " Orang yang fanatik terhadap Madzhab tertentu, seperti orang yang kecanduan. Tujuan orang yang fanatik kepada suatu madzhab, agar dengan sendirinya ia bersikap bodoh terhadap ilmu, Agama dan kodrat orang lain. Jadilah ia bersikap dzholim, dan Alloh melarang bersikap bodoh dan dzholim serta memerintahkan ilmu dan keadilan.
Kata Alloh :" Dan manusia itu telah mengembannya ( amanat ), sungguh dia itu dzholim dan bodoh."   Lihat saja Abu Yusuf dan Muhammad ibn Hasan yang mereka berdua itu murid paling setia dan paling tahu tentang pendapat-2 Imam Abu Hanifah. Mereka itu berbeda pendapat dengan Syeikhnya dalam banyak masalah yang hampir tak terhitung jumlahnya, setelah mereka tahu dari Sunnah dan argumen yang kuat, sesuatu yang memang wajib mereka ikuti. Dalam hal ini mereka tetap menjunjung Imam mereka. Dan saya mengatakan apa yang menurut saya memang ada dalilnya, tanpa saya pura-pura dan tanpa saya kira tak seorangpun dari fuqoha' zaman ini ada yang lebih cinta dan lebih mengikuti langkah Rosululloh daripada saya. Kalau saya tahu ada Hadist Shohih, saya akan mengambilnya dan saya tinggalkan pendapat-2 para Imam. Begitu pulalah mereka menasehati diri mereka sendiri."

IBNU ATHOILLAH : " Apa belum tiba waktunya bagi anda wahai Faqih,..untuk mengetahui bahwa Istighotsah itu tak lain adalah Wasilah dan Syafa'ah. Dan bahwa Rosululloh itu dimohonkan kepada beliau istighotsah, wasilah dan syafaah ?"

IBNU TAIMIYAH : " Dalam hal ini saya mengikuti Sunnah mulia itu. Dalam hadist Shohih dinyatakan : telah sepakat bahwa ayat " semoga Tuhanmu akan memberimu kedudukan terpuji ", yang di maksud " kedudukan terpuji " itu tak lain adalah Syafa'ah. Dan Rosululloh tatkala ibu Amirul Mukminin Ali r.a. meninggal, beliau berdoa kepada Alloh dikuburnya :" Alloh yang menghidupkan dan mematikan, Ia Maha Hidup dan tidak mati. Ampunilah bagi ibuku Fatimah binti Asad, luaskanlah baginya kuburnya, demi Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Engkaulah yang Maha Pengasih ". Ini lah Syafa'ah. Adapun istighotsah disitu ada syubhat dan syirik kepada Alloh. Oleh sebab itu dilarang, untuk mencegah perbuatan yang tidak dikehendaki. Kata Alloh : " Janganlah kamu menyeru bersama Alloh sesuatu yang lain ". Maha Benar Alloh. Dan Rosul menyuruh sepupunya Abdulloh ibnu Abbas agar tidak minta tolong selain Alloh.

IBNU ATHOILLAH : " Semoga Alloh memperbaikimu hai faqih. Adapun nasehat Rosul kepada Ibnu Abbas adalah agar ia mendekatkan diri kepada Alloh dengan amal perbuatannya, bukan dengan kekerabatannya kepada Rosul. Adapun pemahamanmu bahwa Istighotsah itu adalah permintaan tolong kepada selain Alloh dan itu syirik, maka siapa diantara kaum muslimin yang beriman kepada Alloh dan Rosulnya yang mengira bahwa selain Alloh itu bisa melaksanakan Qada' dan Qadar, memberi pahala dan siksa ?, ( ketahuilah hai faqih ) itu hanya istilah yang jangan dilihat dari bentuk fisiknya ( tersurat ) saja, dan tak perlu ditakutkan jadi syirik hingga harus dilarang agar tak terjadi suatu yang tak di inginkan.
Setiap orang yang istighotsah kepada Rosul, tak lain adalah minta syafa'ah padanya disisi Alloh, sebagaimana misalnya Anda berkata : " Makanan ini telah mengenyangkan saya ". Apakah makanan itu yang mengenyangkan Anda, ataukah Alloh yang telah mengenyangkan Anda dengan makanan itu ?
Adapun perkataan Anda bahwa Alloh melarang kita menyeru selain-Nya, apa anda pernah lihat seorang muslim yang menyeru selain Alloh ? Ayat yang Anda baca tadi turun berkenaan dengan kaum musyrikin yang menyeru tuhan mereka selain Alloh. Kalau kaum muslimin istighotsah kepada Nabi Muhammad SAW, tak lain adalah meminta wasilah, apa Anda perhatikan hak beliau disisi Alloh dan meminta syafa'ah yang telah dianugerahkan Alloh kepadanya.  Adapun pengharaman Anda atas istighotsah karena menuju pada syirik, bagaikan Anda mengaharamkan buah anggur karena ia menuju pada khamr ( minuman keras ). Atau bagaikan pengebirian kaum lelaki yang tidak kawin karena itu bisa menuju pada zina ".

Kedua Syaikh itu sama-sama tertawa. Dan Imam Ibnu Athoillah kemudian melanjutkan pembicaraannya.

IBNU ATHOILLAH : " Saya tahu Syaikh Anda Imam Ahmad, dan betapa luas pula cakupan pandangan fiqh Anda. Membendung ke arah yang tak dikehendaki ( saddudz dzari'ah ) dalam madzhab Anda disyaratkan sesuai kondisinya. Yang boleh bisa dilarang apabila mengakibatkan kerusakan yang kebanyakan terjadi, seperti pengharaman penjualan senjata pada zaman dimana banyak fitnah. Atau pengharaman penaikan harga apabila dibayar secara nyicil, karena ditakutkan menuju riba.
Mengambil makna lahir saja kadang-kadang bisa menjerumuskan kita kepada kekeliruan, Hai faqih..! antara lain pendapat Anda tenrang Ibnu Arobi. Ia seorang imam agama yang wara'. Anda memahami tulisan-tulisannya secara lahiriyah saja. Sedangkan para sufi itu mengatakan sesuatu seiring dengan isyarat dan celotehan rohaninya.
Kata-kata mereka sering dimaksudkan yang tersirat, maka orang seperti Anda yang pintar, cerdas dan mengetahui dengan baik ilmu bahasa, hendaknya mencari makna yang tersembunyi dibalik kata-kata yang tersurat.
Makna bagi sufi itu seperti ruh, dan kata-kata itu adalah jasad. Maka carilah dibalik jasad agar Anda menemukan hakikat ruh. Lagi pula vonis Anda terhadap Ibnu Arobi didasarkan atas teks yang sengaja diselipkan oleh musuh-musuhnya.  Adapun Syaikhul Islam Izzuddin ibnu Abdissalam setelah memahami tulisan-tulisan Syaikh Ibnu Arobi dan memecahkan simbol-simbol, misteri dan sugestinya, maka beliau segera minta ampun kepada Alloh atas pendapat-2nya sebelum itu, dan menarik kembali ucapan yang pernah dituduhkan kepada Syaikh Ibnu Arobi dan menyatakan bahwa Syaikh Ibnu Arobi adalah seorang imam kaum muslimin.
Adapun perkataan Asy-Syadzili, bahwa bukan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili sendiri yang mengatakannya, tetapi salah seorang muridnya. Dialah yang berkata tentang Syaikh Ibnu Arobi dan tentang sebagian murid beliau yang memahami kata-kata gurunya secara kurang benar.

Ibnu Athoillah diam sebentar, kemudian bertanya ;

IBNU ATHOILLAH : " Bagaimana pendapat Anda tentang syaikh Anda, Imam Ahmad ibnu Hanbal r.a ?"

IBNU TAIMIYAH : " Imam Ahmad seorang yang lebih tahu dari orang lain tentang Quran dan Sunnah, pendapat para sahabat dan tabi'in. Sebab itu hampir tak terdapat dalam pendapat-2nya sesuatu yang bertentangan dengan nash, sebagaimana terdapat pada imam-2 lain. Dan tak terdapat juga pendapat yang lemah, kecuali umumnya pendapat itu bersesuaian dengan pendapat yang lebih kuat. juga pendapat-2nya yang berbeda dengan yang lainnya, ternyata punya beliau lebih unggul, seperti ( pendapat beliau ) tentang penerimaan kesaksian non muslim terhadap kaum muslimin kalau memang diperlukan dan wasiat dalam perjalanan serta masalah-2 lain ".

IBNU ATHOILLAH : " Bagaimana pendapat Anda tentang amirul mukminin Imam Ali ibnu Abi Thalib ?"

IBNU TAIMIYAH : " Semoga Alloh ridho dan meridhoinya. Dalam hadist shahih Rosulullah pernah bersabda " Akulah kota ilmu dan Ali itulah pintunya ". Dialah pejuang yang kalau bertanding dengan siapapun selalu mengalahkannya. Maka ia memberi contoh kepada para Ulama dan Fuqoha berjuang dijalan Alloh dengan lisannya, penanya dan pedangnya sekaligus. Dia—semoga Alloh memuliakan wajahnya— adalah seorang sahabat yang paling andal, kata-katanya merupakan pelita yang kugunakan menerangi hidupku setelah Al-Quran dan Sunnah. Ah, betapa sedikitnya bekal kita dan betapa panjang perjalanan !".

IBNU ATHOILLAH : " Apakah amirul mukminin imam Ali r.a akan ditanya nanti, siapa orang-orang yang telah mendukungnya, sampai mereka keterlaluan dan menyatakan bahwa Jibril keliru dan memberikan kerasulan kepada Muhammad sebagai ganti dari Ali ? atau tentang mereka yang mengatakan bahwa Alloh merasuk kedalam tubuhnya, hingga jadilah imam Ali itu Tuhan ? Bukankah kaum muslimin telah menyerang dan memerangi mereka ? Dan bukankah para Ulama telah memfatwakan agar memerangi mereka dimanapun mereka berada ?".

IBNU TAIMIYAH : " Dengan fatwa inilah saya telah memerangi mereka dipegunungan Syam sejak sepuluh tahun yang lalu ".

IBNU ATHOILLAH : " Dan Imam Ahmad bin Hanbal r.a. apakah beliau akan ditanya tentang apa yang diperbuat oleh sementara pengikutnya, seperti penggerebekan rumah-rumah, penumpahan khamr, pemukulan terhadap para penyanyi dan penari, dan pencegatan orang-2 dilorong-lorong dan jalanan atas nama amar makruf nahi munkar ? Apakah beliau ( Imam Ahmad ) berfatwa bahwa mereka itu harus di ta'zir atau dijerakan, dicambuki, dipenjarakan dan diarak terbalik diatas punggung keledai ? Ataukah Imam Ahmad r.a. bertanggung jawab atas perbuatan-2 para awam madzhab Hanbali yang melakukan hal itu sampai sekarangpun atas nama amar makruf nahi munkar ?".

( komentar saya pribadi : ini adalah pertanyaan telak yang dilontarkan Imam Ibnu Athoillah kepada Imam Ibnu Taimiyah atas tuduhan2nya kepada kaum sufi, terutama tuduhannya kepada Imam Ibnu Arobi )

IBNU TAIMIYAH : " Syaikh Muhyiddin Ibnu Arobi lepas dari perbuatan para pengikutnya yang menggugurkan kewajiban-2 agama dan melakukan perbuatan-perbuatan haram. Bukankah begitu pendapat Anda ? Namun kemana Anda akan menghindar dari Alloh, sementara diantara kalian ada yang memberikan kabar bahwa Nabi memberikan kabar baik kepada para fakir, dan bahwa mereka masuk surga sebelum orang-orang kaya. Maka para fakir pun berjatuhan karena tertarik oleh Alloh dan mereka pada merobek pakaian mereka. Waktu itulah turun Jibril dan berkata kepada Nabi bahwa Alloh menuntut bagian-Nya dari sobekan itu, maka Jibril membawa salah satu pakaian itu dan menggantungkannya di singgasanaNya. Oleh sebab itu para sufi berpakaian yang ada tambalan-tambalannya dan menyebut diri mereka sebagai para fakir ".

IBNU ATHOILLAH : " Tidak semua sufi berpakaian begitu. Lihatlah saya yang sedang dihadapan Anda. Ada yang anda tolak dari penampilan saya ?".

IBNU TAIMIYAH : " Anda dari orang-orang syari'ah dan mengajar di Al-Azhar ".

IBNU ATHOILLAH : " Dan Al-Ghozali juga imam syari'ah dan sekaligus imam tasawwuf, ia memasuki hukum-hukum agama dan sunnah-sunnahnya dengan ruh seorang mutashowwif. Dengan metode itulah ia bisa menghidupkan ilmu-ilmu agama. Kami mengajari para sufi bahwa kekotoran itu bukan bagian dari agama, dan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman, dan bahwa sufi yang benar harus membangun qalbunya dengan iman sebagaimana yang dikenal dalam Ahlu Sunnah.
Sejak abad kedua terakhir ini memang muncul diantara para sufi hal-hal yang anda ingkari itu, dimana sebagian mereka mengentengkan ibadah, puasa dan sholat serta berpacu dalam kealpaan kepada Alloh dengan dalih bahwa mereka telah lepas dari belenggu. Kemudian mereka tidak puas terhadap keburukan-keburukan perbuatan mereka, sampai mereka menunjuk pada hakikat dan ahwal paling tinggi, sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qusyairi imam sufi agung itu. Maka beliau mengarahkan mereka pada kitabnya Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, menggambarkan jalan sufi kepada Alloh yaitu berpegang pada Al-Quran dan Sunnah.
Para imam sufi menginginkan sampai pada hakikat, tidak dengan dalil rasional yang bisa menerima yang sebaliknya, namun dengan kejernihan qolbu, olah jiwa dan menjauhkan ilusi-ilusi keduniawian, hingga seorang hamba tidak disibukkan oleh selain cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya. Perhatian yang luhur ini menjadikannya seorang hamba yang saleh, layak memakmurkan bumi dan memperbaiki hal-hal yang dirusak oleh ketamakan pada harta dan kegetolan pada gengsi, dan layak berjihad dijalan Alloh ".

IBNU TAIMIYAH : " Kata-kata tadi tertuju pada Anda, bukan memihak Anda. Al-Qusyairi tatkala melihat pengikutnya sesat, ia bangkit menyadarkan mereka. Namun apa yang dilakukan para syaikh sufi dizaman kita sekarang ini ? Saya hanya menginginkan para sufi melangkah dijalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama. Adapun membuat-buat dan memasukkan ide-ide animistis dari para filosof Yunani dan Budhisme India, seperti pretensi hulul, ittihad, wahdatul wujud dan yang semacam itu sebagaimana diserukan oleh sahabat Anda ( Ibnu Arobi ), jelas itu merupakan kekafiran yang nyata ".

IBNU ATHOILLAH : " Ibnu Arobi seorang faqih dhahir terbesar sesudah Ibnu Hazm, Fakih Andalus yang Anda hormati. Namun dalam hakikat ia menempuh jalan bathin, yaitu penyucian perangkat-perangkat bathin. Dan tidak semua ahli bathin itu sama. Agar anda tidak tersesat dan tidak lupa, bacalah kembali Ibnu Arobi dengan pemahaman baru atas simbol-simbol dan sugesti-sugestinya. Anda akan menemukan seperti Al-Qusyairi yang mengambil jalannya kearah tasawuf dibawah naungan Al-Quran dan Sunnah. Ia ( Ibnu Arobi ) juga seperti hujjatul Islam Syaikh Al-Ghozali yang menolak pertengkaran-pertengkaran madzhab dalam ibadah dan aqidah dan menganggapnya sebagai urusan yang tak ada artinya, serta menyerukan agar cinta kepada Alloh itulah yang mendasari jalan pengabdian didalam iman. Ada yang anda ingkari dalam hal ini, Hai faqih ? Ataukah Anda mencintai perdebatan yang mengoyak-oyak ahli fiqh ?
Imam Malik r.a. pernah memberi peringatan terhadap perdebatan dalam aqidah ini, dan kata beliau : " Setiap ada orang yang lebih pintar dalam berdebat dari yang lainnya, jadi berkuranglah agama ". Dan Al-Ghozali berkata : " Ketahuilah bahwa yang berjalan menuju Alloh untuk memperoleh kedekatan dari-Nya adalah qalbu, bukan badan. Qalbu yang dimaksudkan bukan gumpalan daging, melainkan salah satu misteri Alloh yang tidak bisa ditangkap oleh indera ". Ahlu Sunnah itulah yang menjuluki Al-Ghozali syaikh para sufi itu dengan gelar Hujjatul Islam, dan tak ada satu kritik pun atas pendapat-pendapatnya. Bahkan ada yang keterlaluan dalam menilai kitab Ihya' Ulumiddin dan berkata : " kitab Ihya' itu hampir saja jadi Al-Quran ".
Adapun pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama, menurut Ibnu Arobi dan Ibnu Faridh merupakan ibadah yang mihrabnya adalah bathin, bukan ritus-ritus lahiriyah. Apa artinya berdiri dan duduk Anda dalam sholat, kalau qalbu Anda sibuk dengan selain Alloh ? Alloh telah memuji orang-orang dengan sabdanya : " Dan mereka yang dalam sholatnya pada khusyuk, " sebagaimana Dia mencela orang-orang dengan firmanNya : " Dan mereka yang dalam sholatnya pada lalai ". Itulah yang dimaksud Ibnu Arobi dengan kata-katanya.
" Beribadah itu mihrabnya adalah qalbu ", yaitu yang bathin, bukan yang lahir. Seorang muslim tak akan sampai pada penghayatan ilmul-yaqin dan ainul-yaqin, kecuali setelah mengosongkan qalbunya dari hal-hal yang mericuhnya seperti ketamakan pada kehidupan dunia, dan memusatkan diri pada perenungan bathinnya, hingga dirinya akan terguyur oleh limpahan hakikat. Dari sinilah tumbuh kekuatannya. Maka sufi yang sebenarnya bukanlah bukanlah yang melolongi kekuatannya dan minta-minta kepada orang lain. Melainkan yang benar-benar jujur, memberikan ruh dan qalbunya serta fana' didalam Alloh dengan mentaati-Nya. Dari sinilah tumbuh kekuatannya dan tiada takut kepada selain Alloh.
Mungkin Ibnu Arobi dimusuhi oleh sementara fuqoha, karena beliau meremehkan perhatian mereka terhadap perdebatan dalam aqidah yang mencemari kejernihan qalbu. Juga pendapat-pendapat beliau tentang cabang-cabang fiqh dan perkiraan-perkiraannya, sampai ia ( Ibnu Arobi ) menjuluki mereka fuqoha haid, dan saya mohon perlindungan Alloh agar Anda tidak termasuk mereka itu. Pernahkah Anda membaca pernyataan Ibnu Arobi : " Barang siapa yang membangun imannya dengan argumen-argumen dan dalil-dalil, maka imannya tidak bisa dipercaya. Ia bisa terpengaruh oleh bantahan-bantahan orang. Keyakinan itu tidak bisa tumbuh dari dalil-dalil rasional, melainkan ditimba dari kedalaman qalbu ". Pernahkan Anda membaca kata-kata yang jernih dan nyaman itu ?"

( Komentar saya ; disinilah Ibnu Taimiyah tersentak dengan penjelasan Ibnu Athoillah )

IBNU TAIMIYAH : " Demi Alloh, Anda telah berbuat yang paling baik. Kalau sahabatmu itu seperti yang Anda katakan, maka dialah orang yang paling jauh dari kekafiran. Akan tetapi kata-katanya tidak mengandung arti yang demikian ".

IBNU ATHOILLAH : " Ia punya bahasa khusus yang penuh dengan isyarat, simbol, sugesti, misteri dan kelokan-kelokan. Namun, marilah kita kerja yang lebih berguna, yang bisa memenuhi kemaslahatan umat. Mari kita cegah kedzhaliman dan jaga keadilan jangan sampai dilanggar. Anda sudah tahu apa yang telah diperbuat dua orang fasik Bibris dan Salar itu terhadap rakyat jelata, sejak An-Nasir mengundurkan diri dan mereka berdua menjadi penguasa tunggal ? Sekarang An-Nasir telah kembali, mempercayai dan mau mendengarkan Anda. Maka cepatlah datang kepadanya dan nasehatilah beliau ".

Begitulah percakapan antara dua imam besar itu. Dan sebagaimana kata Ibnu Taimiyah :
" Saya hanya menginginkan para sufi melangkah dijalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama ".

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari dialog diatas.

(#)  Sekedar tambahan dari saya sebagai resensi dialog diatas, sebagaimana perkataan Imam Al- Qusyairi,

Dalam kitab Arrisalat Al Qusyairiyyah, Lil Imam Abul Qosyim Al Qusyairy, Hal. 80

وقال الجنيد ; من لم يحفظ القرآن ولم يكتب الحديث لا يقتدى في هذه الامر (1) لان علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة.
——————
.(1) اى التصوف

Dan telah berkata Al Junayd Al Baghdady ; " Barang siapa tidak menjaga Al Qur'an dan mencatat Hadist, maka tidak boleh mengikuti perkara ( urusan ) ini ( Tashowwuf ), Karena sesungguhnya Ilmu kami ini masih terikat dengan Al Quran dan As Sunnah.

Rabu, 4 Maret 2015, selesai disalin pada pukul 0:42 dini hari.

( Santri Mbeling / Danny Ma'shoum )

Monday, March 10, 2014

NADZHOM MATAN ASY-SYATHIBIYYAH


بسم الله الرحمن الرحيم
بَــدَأْتُ بِبِسْــمِ اْللهُ فــيِ النّــظْـمِ أوَّلاَ
تَـبَــارَكَ رَحْـمَـانــاً رَحِيـمــاً وَمَوْئِــلاَ
       
وَثَـنَّـيْــتُ صَـلـَّى اللهُ رَبِّي عَلَى الِرَّضَـا
مُـحَـمَّـدٍ الْـمُـهْـدى إلَى النَّاسِ مُرْسَلاَ
       
وَعِـتْـرَتِـهِ ثُــمَ الـصَّـحَـابَـةِ ثُــمّ مَــنْ
تَـلاَهُـمْ عَـلَـى اْلأِحْسَانِ بِالخَـيْـرِ وُبَّـلاَ
       
وَثَــلَّــثْــتُ أنَّ اْلَــحَــمْـدَ لِلهِ دائِـمــاً
وَمَـا لَـيْـسَ مَـبْـدُوءًا بِـهِ أجْذَمُ الـْعَـلاَ
       
وَبَـعْـدُ فَـحَـبْــلُ اللهِ فِـيـنَـا كِـتَـابُــهُ
فَـجَـاهِـدْ بِـهِ حِـبْـلَ الْـعِـدَا مُـتَـحَبِّـلاَ
        
وَأَخْــلِــقْ بهِ إذْ لَـيْـسَ يَـخْـلُـقُ جِـدَّةً
جَـدِيداً مُـوَاليــهِ عَــلَــى الْجِـدِّ مُقْبِلاَ
        
وَقَـارِئُـهُ الْـمَـرْضِـيُّ قَـــرَّ مِـثَـالُــهُ
كـاَلاتْــرُجّ حَـالَـيْـهِ مُـرِيحًـا وَمُوكَـلاَ
        
هُــوَ الْـمُـرْتَـضَـى أَمًّـا إِذَا كَانَ أُمَّـهً
وَيَـمَّـمَــهُ ظِــلُّ الـرَّزَانَـــةِ قَـنْـقَـلاَ
        
هُوَ الْحُرُّ إِنْ كانَ الْحَرِيّ حَوَارِيـاً
لَـــهُ بِـتَـحَـرّيـهِ إلَــى أَنْ تَــنَــبَّــلاَ
وَإِنَّ كِتَابَ اللهِ أَوْثَقُ شَافِعٍ
وَأَغْنى غَنَاءً وَاهِباً مُتَفَضِّلاَ
          
وَخَيْرُ جَلِيسٍ لاَ يُمَلُّ حَدِيثُهُ
وَتَرْدَادُهُ يَزْدَادُ فِيهِ تَجَمُّلاً
          
وَحَيْثُ الْفَتى يَرْتَاعُ فيِ ظُلُمَاتِهِ
مِنَ اْلقَبرِ يَلْقَاهُ سَناً مُتَهَلِّلاً
          
هُنَالِكَ يَهْنِيهِ مَقِيلاً وَرَوْضَةً
وَمِنْ أَجْلِهِ فِي ذِرْوَةِ الْعِزّ يجتُلَى
           
يُنَاشِدُه في إرْضَائِهِ لحبِيِبِهِ
وَأَجْدِرْ بِهِ سُؤْلاً إلَيْهِ مُوَصَّلاَ
            
فَيَا أَيُّهَا الْقَارِى بِهِ مُتَمَسِّكاً
مُجِلاًّ لَهُ فِي كُلِّ حَالٍ مُبَجِّلا
             
هَنِيئاً مَرِيئاً وَالِدَاكَ عَلَيْهِما
مَلاَبِسُ أَنْوَأرٍ مِنَ التَّاجِ وَالحُلاْ
              
فَما ظَنُّكُمْ بالنَّجْلِ عِنْدَ جَزَائِهِ
أُولئِكَ أَهْلُ اللهِ والصَّفَوَةُ المَلاَ
              
أُولُو الْبِرِّ وَالْإِحْسَانِ وَالصَّبْرِ وَالتُّقَى
حُلاَهُمُ بِهَا جَاءَ الْقُرَانُ مُفَصَّلاَ
               
عَلَيْكَ بِهَا مَا عِشْتَ فِيهَا مُنَافِساً
وَبِعْ نَفْسَكَ الدُّنْيَا بِأَنْفَاسِهَا الْعُلاَ
               
جَزَى اللهُ بِالْخَيْرَاتِ عَنَّا أَئِمَّةً
لَنَا نَقَلُوا القُرْآنَ عَذْباً وَسَلْسَلاَ
بابُ الاستعاذة
             
إِذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ
جِهَاراً مِنَ الشَّيْطَانِ بِاللهِ مُسْجَلاَ

عَلَى مَا أَتَى في النَّحْلِ يُسْراً وَإِنْ تَزِدْ
لِرَبِّكَ تَنْزِيهاً فَلَسْتَ مُجَهَّلاَ
 
وَقَدْ ذَكَرُوا لَفْظَ الرَّسُولِ فَلَمْ يَزِدْ
وَلَوْ صَحَّ هذَا النَّقْلُ لَمْ يُبْقِ مُجْمَلاَ
 
وَفِيهِ مَقَالٌ في الْأُصُولِ فُرُوعُهُ
فَلاَ تَعْدُ مِنْهَا بَاسِقاً وَمُظَلِّلاَ
 
وَإِخْفَاؤُهُ (فَـ) ـصلْ (أَ) بَاهُ وَعُاَتُنَا
وَكَمْ مِنْ فَتىً كالْمَهْدَوِي فِيهِ أَعْمَلاَ
بَابُ البسملة
             
وَبَسْمَلَ بَيْنَ السُّورَتَيْنِ (بِـ)سُنَّةٍ
(رِ) جَالٌ (نَـ)ـمَوْهاَ (دِ)رْيَةً وَتَحَمُّلاَ
             
وَوَصْلُكَ بَيْنَ السُّورَتَيْنِ (فَـ)ـصَاحَةٌ
وَصِلْ وَاسْكُتَنْ (كُـ)ـلٌّ (جَـ)ـلاَيَاهُ (حَـ)ـصَّلاَ
             
وَلاَ نَصَّ كَلاَّ حُبَّ وجْهٍ ذَكَرْتُهُ
وَفِيهاَ خِلاَفٌ جِيدُهُ وَاضِحُ الطُّلاَ
             
وسَكْتُهُمُ الْمُخْتَارُ دُونَ تَنَفُّسٍ
وَبَعْضُهُمُ فِي الْأَرْبِعِ الرُّهْرِ بَسْمَلاَ
             
لَهُمْ دُونَ نَصٍّ وَهْوَ فِيهِنَّ سَاكِتٌ
لِحَمْزَةَ فَافْهَمْهُ وَلَيْسَ مُخَذَّلاَ
             
وَمَهْمَا تَصِلْهَا أَوْ بَدَأْتَ بَرَاءَةً
لِتَنْزِيلِهاَ بالسَّيْفِ لَسْتَ مُبَسْمِلاَ
             
وَلاَ بُدَّ مِنْهاَ في ابْتِدَائِكَ سُورَةً
سِوَاهاَ وَفي الْأَجْزَاءِ خُيِّرَ مَنْ تَلاَ
             
وَمَهْمَا تَصِلْهَا مَعْ أَوَاخِرِ سُورَةٍ
فَلاَ تَقِفَنَّ الدَّهْرَ فِيهاَ فَتَثْقُلاَ
سورة أم القرآن
             
وَمَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (رَ)اوِيهِ (نَـ)ـاَصِرٌ
وَعَنْدَ سِرَاطِ وَالسِّرَاطَ لِ قُنْبُلاَ
             
بِحَيْثُ أَتَى وَالصَّادُ زَاياً اشِمَّهَا
لَدَى خَلَفٍ وَاشْمِمْ لِخَلاَّدِ الاَوَّلاَ
              
عَلَيْهِمْ إِلَيْهِمْ حَمْزَةٌ وَلَدَيْهِموُ
جَمِيعاً بِضَمِّ الْهاءِ وَقْفاً وَمَوْصِلاَ
              
وَصِلْ ضَمَّ مِيمِ الْجَمْعِ قَبْلَ مُحَرَّكٍ
(دِ)رَاكاً وَقاَلُونٌ بِتَخْيِيرِهِ جَلاَ
              
وَمِنْ قَبْلِ هَمْزِ الْقَطْعِ صِلْهَا لِوَرْشِهِمْ
وَأَسْكَنَهاَ الْبَاقُونَ بَعْدُ لِتَكْمُلاَ
              
وَمِنْ دُونِ وَصْلٍ وضُمَّهَا قَبْلَ سَاكِنٍ
لِكُلٍ وَبَعْدَ الْهَاءِ كَسْرُ فَتَى الْعَلاَ
              
مَعَ الْكَسْرِ قَبْلَ الْهَا أَوِ الْيَاءِ سَاكِناً
وَفي الْوَصْلِ كَسْرُ الْهَاءِ بالضَّمَّ (شَـ)ـمْلَلاَ
              
كَمَابِهِمُ الأَسْبَابُ ثُمَّ عَلَيْهِمُ الْـ
ـقِتَالُ وَقِفْ وَلِلكُلِّ بِالْكَسْرِ مُكْمِلَا
باب الإدغام الكبير
وَدُونَكَ الاُدْغَامَ الْكَبِيرَ وَقُطْبُهُ
أَبُو عَمْرٍ والْبَصْرِيُّ فِيهِ تَحَفَّلاَ
فَفِي كِلْمَةٍ عَنْهُ مَنَاسِكَكُمْ وَمَا
سَلَككُّمْ وَبَاقِي الْبَابِ لَيْسَ مُعَوَّلاَ
وَمَا كَانَ مِنْ مِثْلَيْنِ في كِلْمَتَيْهِمَا
فَلاَ بُدَّ مِنْ إدْغَامِ مَا كانَ أَوَّلاَ
كَيَعْلَمُ مَا فِيهِ هُدًى وَطُبِعْ عَلَى
قُلُوبِهِمُ وَالْعَفْوَ وَأْمُرْ تَمَثَّلاَ
إِذَا لَمْ يَكُنْ تَا مُخْبِرٍ أَوْ مُخَاطَبٍ
أوِ الْمُكْتَسِي تنْوِينُهُ أَوْ مُثَقَّلاَ
كَكُنْتُ تُرَاباً أَنْتَ تُكْرِهُ وَاسِعٌ
عَلِيمٌ وَأَيْضاً تَمَّ مِيقاَتُ مُثِّلاَ
وَقَدْ أَظْهَرُوا فِي الْكَافِ يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ
إِذِ النُّونُ تُخْفَى قَبْلَهَا لِتُجَمَّلاَ
وَعِنْدَهُمُ الْوَجْهَانِ في كُلِّ مَوْضِعٍ
تَسَمَّى لِأَجْلِ الْحَذْفِ فِيهِ مُعَلَّلاَ
كَيَبْتَغِ مَجْزُوماً وَإِنْ يَكُ كاذِباً
وَيَخْلُ لَكُمْ عَنْ عَالِمٍ طَيِّبِ الْخَلاَ
وَيَا قَوْمِ مَالِي ثُمَّ يَا قَوْمِ مَنْ بِلاَ
خِلاَفٍ عَلَى الْإِدْغَامِ لاَ شَكَّ أُرْسِلاَ
وَإِظْهَارُ قَوْمٍ آلَ لُوطٍ لِكَوْنِهِ
قَلِيلَ حُرُوفٍ رَدَّه مَنْ تَنَبَّلاَ
بِإِدْغاَمِ لَكَ كَيْدًا وَلَوْ حَجَّ مُظْهِرٌ
بِإِعْلاَلِ ثَانِيهِ إِذَا صَحَّ لاَعْتَلاَ
فَإِبْدَالُهُ مِنْ هَمْزَةٍ هَاءٌ أصْلُهَا
وَقَدْ قَالَ بَعْضُ النَّاسِ مِنْ وَاوٍ ابْدِلاَ
وَوَاوَ هُوَ الْمَضْمومُ هَاءً َكَهُووَ مَنْ
فَأَدْغِمْ وَمَنْ يُظْهِرْ فَبِالْمَدِّ عَلَّلاَ
وَيَأْتِيَ يَوْمٌ أَدْغَمُوهُ وَنَحْوَهُ
وَلاَ فَرْقَ يُنْجِي مَنْ عَلَى الْمَدِّ عَوَّلاَ
وَقَبْلَ يَئِسْنَ الْيَاءُ في الَّلاءِ عَارِضٌ
سُكُونًا أَوَ اصْلاً فَهُوَ يُظْهِرُ مُسْهِلاَ
باب إدغام الحرفين المتقاربين في كلمة و في كلمتين
وَإِنْ كِلْمَةٌ حَرْفَانِ فِيهَا تَقَارَبَا
فإِدْغَامُهُ لِلْقَافِ في الْكافِ مُجْتَلاَ
وَهذَا إِذَا مَا قَبْلَهُ مُتَحَرِّكٌ
مُبِينٌ وَبَعْدَ الْكافِ مِيمٌ تَخَلَّلاَ
كَيَرْزُقْكُّمُ وَاثقَكُّمُوا وَخَلَقكُّمُو
وَمِيثَاقَكُمْ أظْهِرْ وَنَرْزُقُكَ انْجلاَ
وَاِدْغَامُ ذِي التَّحْرِيمِ طَلَّقَكُنَّ قُلْ
أَحَقُّ وَبِالتَّأْنِيثِ وَالْجَمْعِ أُثْقِلاَ
وَمَهْماَ يَكُونَا كِلْمَتَيْنِ فَمُدْغِمٌ
أَوَائِلِ كِلْمِ الْبَيْتِ بَعْدُ عَلَى الْوِلاَ
(شـِ)فَا (لَـ)ـمْ (تُـ)ـضِقْ (نَـ)ـفْسًا (بِـ)ـهَا (رُ)مْ(دَ) وَا(ضـَ)نٍ
(ثَـ)ـوَى (كـَ)ـانَ (ذَ)ا (حُـ)سْنٍ (سَـ)ـأى (مِـ)ـنْهُ (قَـ)ـدْ (جَـ)ـلاَ
إِذَا لَمْ يُنَوَّنْ أَوْ يَكُنْ تَا مُخَاطَبٍ
وَمَا لَيْسَ مَجْزُومًا وَلاَ مُتَثَقِّلاَ
فَزُحْزِحَ عَنِ النَّارِ الَّذِي حَاهُ مُدْغَمٌ
وَفي الْكاَفِ قَافٌ وَهْوَ في الْقَافِ أُدْجِلاَ
خَلَقْ كُلَّ شَيْءٍ لَكْ قُصُوراً وأَظْهِرَا
إِذَا سَكَنَ الْحَرْفُ الَّذِي قَبْلُ أُقْبِلاَ
وَفي ذِي المَعَارِجِ تَعْرُجُ الْجِيمُ مُدْغَمٌ
وَمِنْ قَبْلُ أَخْرَجَ شَطْأَهُ قَدْ تَثَقَّلاَ
وَعِنْدَ سَبِيلاً شِينُ ذِي الْعَرْشِ مُدْغَمٌ
وَضَادُ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ مُدْغَمًا تَلاَ
وَفي زُوِّجَتْ سِينُ النُّفُوسِ وَمُدْغَمٌ
لَهُ الرَّأْسُ شَيْبًا بِاخْتِلاَفٍ تَوَصَّلاَ
وَلِلدَّالِ كَلْمٌ (تُـ)رْبُ (سَـ)ـهْلٍ (ذَ)كَا (شَـ)ـذاً
(ضَـ)ـفَا (ثُـ)ـمَّ (زُ)هْدٌ (صِـ)ـدْقُهُ (ظَ)ـاهِرٌ (جـَ)ـلاَ
وَلَمْ تُدَّغَمْ مَفْتُوحَةً بَعْدَ سَاكِنٍ
بِحَرْفٍ بِغَيْرِ التَّاءِ فَاعْلَمْهُ وَاعْمَلاَ
وفِى عَشْرِهَا وَالطَّاءِ تُدْغَمُ تَاؤُهَا
وَفي أَحْرُفٍ وَجْهَانِ عَنْهُ تَهَلَّلاَ
فَمَعَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ الزَّكَاةَ قُلْ
وَقُلْ آتِ ذَا الْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ عَلاَ
وَفي جِئْتِ شَيْئًا أَظْهَرُوا لِخِطَابِهِ
وَنُقْصَانِهِ وَالْكَسْرُ الإِدْغَامَ سَهَّلاَ
وَفي خَمْسَةٍ وَهْيَ الأَوائِلُ ثَاؤُهَا
وَفي الصَّادِ ثُمَّ السِّينِ ذَالٌ تَدَخَّلاَ

وَفي الَّلامِ رَاءٌ وَهْيَ في الرَّا وَاُظْهِرَا
إِذا انْفَتَحَا بَعدَ المُسَكَّنِ مُنْرَلاَ
 
سِوَى قالَ ثُمَّ النُّونُ تُدْغَمُ فِيهِمَا
عَلَى إِثْرِ تَحْرِيكٍ سِوَى نَحْنُ مُسْجَلاَ
 
وَتُسْكَنُ عَنْهُ الْمِيمُ مِنْ قَبْلِ بَائِهَا
عَلى إِثْرِ تَحْريكٍ فَتَخْفى تَنَزُّلَا
وَفِي مَن يَشَاءُ بَاءٍ يُعَذّبُ حَيْثُمَا
أَتَى مُدْغَمٌ فَادْرِ الأٌصٌولَ لِتَأْصُلَا 

وَلَا يَمْنَعُ الإِدْغَامُ إِذْ هُوَ عَارِضٌ
إِمَالَة كَالْأَبْرَارِ وَالنَّارِ أَثْقَلَا
وَأَشْمِمْ وَرُمْ فِي غَيرِ بَاءٍ وَمِيمَهَا
مَعْ الْبَاءِ أَوْ مِيمٍ وَكُنْ مُتَأَمِّلَا
وَإِدْغَامٌ حَرْفٍ قَبْلَهُ صَحَّ سَاكِنٌ
عَسِيرٌ وَبِالْإِخْفَاءِ طَبَّقَ مَفْصِلَا
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ ثُمَّ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ
وَفِي الْمَهْدِ ثُمَّ الْخُلْدِ وَالْعِلْمِ فَاشْمُلَا
باب هاء الكناية
             
وَلَمْ يَصِلُوا هَا مُضْمَرٍ قَبْلَ سَاكِنٍ
وَمَا قَبْلَهُ التَّحْرِيكُ لِلْكُلِّ وُصِّلاَ
             
وَمَا قَبْلَهُ التَّسْكِينُ لاِبُنِ كَثِيرِهِمْ
وَفِيهِ مُهَاناً مَعْهُ حَفْصٌ أَخُو وِلاَ
             
وَسَكِّنْ يُؤَدِّهْ مَعْ نُوَلِّهْ وَنُصْلِهْ
وَنُؤْتِهِ مِنْهَا فَاعَتَبِرْ صَافِياً حَلاَ
              
وَعَنْهُمْ وَعَنْ حَفْصٍ فَأَلْقِهْ وَيَتَّقِهْ
حَمى صَفْوَهُ قَوْمٌ بِخُلْفٍ وَأَنْهَلاَ
              
وَقُلْ بسُكُونِ الْقَافِ وَالْقَصْرِ حَفْصُهُمْ
وَيَأْتِهْ لَدَى طه بِالْإِسْكَانِ (يُـ)ـجْتَلاَ
              
وَفي الْكُلِّ قَصْرُ الْهَاءِ (كـ)ـانَ (لِـ)سَانَهُ
بخُلْفٍ وَفي طه بِوَجْهَيْنِ (بُـ)ـجِّلاَ
               
وَإِسْكَانُ يَرْضَهُ (يُـ)ـمْنُهُ (لُـ)ـبْسُ (طَ)ـيِّبٍ
بِخُلْفِهِمِاَ وَالْقَصُرُ (فَـ)ـاذْكُرْهُ (نَـ)ـوْفَلاَ
               
(لَـ)ـهُ (ا)لرُّحّبُ وَلزِّلْزَالُ خَيْراً يَرَهْ بِهَا
وَشَرًّا يَرَهْ حَرْفَيْهِ سَكِّنْ (لِـ)ـيَسْهُلاَ
                
وَعى (نَفَرٌ) أَرْجِئْهُ بِالْهَمْزِ سَاكِناً
وَفي الْهَاءِ ضَمٌّ (لَـ)ـفَّ (دَ)عْوَاهُ (حَـ)ـرْمَلاَ
                
وَأَسْكِنْ (نَـ)ـصِيراً (فَـ)ـازَ وَاكْسِرْ لِغَيْرِهِمْ
وَصِلْهَا (جـ)ـوَاداً (دُ)ونَ (رَ)يْبٍ (لِـ)ـتُوصَلاَ
باب المد والقصر
             
             
إِذَا أَلِفٌ أَوْ يَاؤُهَا بَعْدَ كَسْرَةٍ
أَوِ الْوَاوُ عَنْ ضَمّ لَقِي الْهَمْزَ طُوِّلاَ
             
فَإِنْ يَنْفَصِلْ فَالْقَصْرُ (يَـ)ـادّرْهُ (طَ)ـالِباً
بِخُلْفِهِماَ (يُـ)ـرْوِيكَ (دَ)رًّا وَمُخْضَلاَ
              
كَجِئَ وَعَنْ سُوءٍ وَشَاءَ اتِّصَالُهُ
وَمَفْصُولُهُ في أُمِّهَا أَمْرُهُ إِلَى
              
وَمَا بَعْدَ هَمْزٍ ثَابِتٍ أَوْ مُغَيَّرٍ
فَقَصْرٌ وَقَدْ يُرْوَى لِوَرْش مُطَوَّلاَ
              
وَوَسَّطَهُ قَوْمٌ كَآمَنَ هؤُلاَءِ
آلِهَةً آتى لِلْإِيمَانِ مُثِّلاَ
              
سِوى يَاءِ إِسْرَاءيِلَ أَوْ بَعْدَ سَاكِنٍ
صَحِيحٍ كَقُرْآنِ وَمَسْئُولاً اسْأَلاَ
              
وَمَا بَعْدَ هَمْزِ لْوَصْلِ إيتِ وَبَعْضُهُمْ
يُؤَاخِذُكُمُ آلانَ مُسْتَفْهِماً تَلاَ
               
وَعَادً الْأُولى وَابْنُ غَلْبُونَ طَاهِرٌ
بِقَصْرِ جَمِيعِ الْبَاب قَالَ وَقَوَّلاَ
                
وَعَنْ كُلِّهِمْ بِالْمَدِّ مَا قَبْلَ سَاكِنٍ
وعِنْدَ سُكُونِ الْوَقْفِ وَجْهَانِ أُصِّلا
                 
وَمُدَّ لَهُ عِنْدَ الْفَوَاتِحِ مُشْبِعاً
وَفي عَيْن الْوَجْهَانِ وَالطُّولُ فُضِّلاَ
                 
وَفي نَحْوِ طهَ الْقَصْرُ إِذْ لَيْسَ سَاكِنٌ
وَمَا فِي أَلِفْ مِنْ حَرْفِ مَدٍ فَيُمْطَلاَ
                  
وَإِنْ تَسْكُنِ الْيَا بَيْنَ فَتْحٍ وَهَمْزَةٍ
بِكَلِمَةٍ أَوْ وَاوٌ فَوَجْهَانِ جُمِّلاَ
                   
بِطُولٍ وَقَصْرٍ وَصْلُ وَرْشٍ وَوَقْفُهُ
وَعِنْدَ سُكُونِ الْوَقْفِ لِلْكُلِّ أُعْمِلاَ
                   
وَعَنْهُمْ سُقُوطُ الْمَدِّ فِيهِ وَوَرْشُهُمْ
يُوَافِقُهُمْ فِي حَيْثُ لَا هَمْزَ مُدْخَلاَ
وَفِي وَاوِ سَوْآتٍ خِلاَفٌ لِوَرْشِهِمْ
وَعَنْ كُلٍ الْمَوْءُودَةُ اقْصُرْ وَمَوْئِلاَ
باب الهمزتين من كلمة
             
             
وَتَسْهِيلُ أُخْرَى هَمْزَتَيْنِ بِكِلْمةٍ
(سَمَا) وَبِذَاتِ الْفتْحِ خُلْفٌ (لِـ)تَجْمُلاَ
             
وَقُلْ أَلِفاً عَنْ أَهْلِ مِصْرَ تَبَدَّلَّتْ
لِوَرْشٍ وَفي بَغْدَادَ يُرْوَى مُسَهَّلاَ
             
وَحَقَّقَهَا فِي فُصِّلَتْ (صُحْبَةٌ) ءأَعْـ
جَمِيٌّ وَالأولَى أَسْقِطَنَّ (لِـ)ـتُسْهِلاَ
             
وَهَمْزَة أَذْهَبْتُمْ فِي الأَحْقَافِ شُفِّعَتْ
بِأُخْرَى (كَـ)مَا (دَ)امَتْ وِصَالاً مُوَصَّلاَ
             
وَفِي نُون فِي أَنْ كَانَ شَفعَ حَمْزَةٌ
وَشُعْبَةُ أَيْضاً وَالدِّمَشْقِي مُسَهِّلاَ
             
وَفِي آلِ عِمْرَانَ عَنِ ابْنِ كَثِيرِهِمْ
يُشَفَّعُ أَنْ يُؤْتَى إِلَى مَا تَسَهَّلاَ
             
وَطه وفِي الأَعْرَافِ وَالشُّعَرَا بِهَا
ءَآمَنْتُمُ لِلكُلِّ ثَالِثًا ابْدِلاَ
             
وَحَقَّقَ ثَانٍ (صُحْبَةٌ) وَلِقُنْبُلٍ
بِإِسْقَاطِهِ الأُولى بِطه تُقُبِّلاَ
             
وَفي كُلِّهَا حَفْصٌ وَأَبْدَلَ قُنْبُلٌ
فِي اْلأَعْرَافِ مِنْهَا الْوَاوَ وَالْمُلْكِ مُوْصِلاَ
             
وَإِنْ هَمْزُ وَصْلٍ بَيْنَ لاَمٍ مُسَكِّنٍ
وَهَمْزَةِ الاِسْتِفْهَامِ فَامْدُدْهُ مُبْدِلاَ
             
فَلِلْكُلِّ ذَا أَوْلى وَيَقْصُرُهُ الَّذِي
يُسَهِّلُ عَنْ كُلِّ كَآلانَ مُثِّلاَ
             
وَلاَ مَدَّ بَيْنَ الْهَمْزَتَيْنِ هُنَا وَلاَ
بِحَيْثُ ثَلاَثٌ يَتَّفِقْنَ تَنَزُّلاَ
             
وَأَضْرُبُ جَمْعِ الْهَمْزَتَيْنِ ثَلاَثَةٌ
ءأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ أَئِنَّا أَنْزِلاَ
             
وَمَدُّكَ قَبْلَ الْفَتْحِ وَالْكَسْرِ (حُـ)ـجَّةٌ
بِـ(ـهَا) (لُـ)ـذُّ وَقَبْلَ الْكَسْرِ خُلْفٌ لَهُ وَلاَ
             
وَفي سَبْعَةٍ لاَ خُلْفَ عَنْهُ بِمَرْيَمٍ
وَفي حَرْفَيِ الأَعْرَافِ وَالشُّعَرَا الْعُلاَ
             
أَئِنَّكَ آئِفْكاً مَعًا فَوْقَ صَادِهَا
وَفي فُصِّلَتْ حَرْفٌ وَبِالخُلْفِ سُهِّلاَ
             
وَآئِمَّةً بِالخُلْفِ قَدْ مَدَّ وَحْدَهُ
وَسَهِّلْ (سَمَا) وَصْفاً وَفي النَّحْوِ أُبْدِلاَ
             
وَمَدُّكَ قَبْلَ الضَّمِّ (لَـ)ـبَّى (حَـ)ـبِيبُهُ
بِخُلْفهِمَا (بَـ)رَّا وَجَاءَ لِيَفْصِلاَ
              
وَفي آلِ عِمْرَانَ رَووْا لِهِشَامِهِمْ
كَحَفْصٍ وَفي الْبَاقِي كَقَالُونَ وَاعْتَلاَ
باب الهمزتين في كلمتين
             
             
وَأَسْقَطَ الأُولَى في اتِّفَاقِهِمَا مَعًا
إِذَا كَانَتَا مِنْ كِلْمَتَيْنِ فَتَى الْعُلاَ
              
كَجَا أَمْرُنَا مِنَ السَّماَ إِنَّ أَوْلِيَا
أُولئِكَ أَنْوَاعُ اتِّفَاقٍ تَجَمَّلاَ
              
وَقَالُونُ وَالْبَزِّيُّ في الْفَتْحِ وَافَقَا
وَفي غَيْرِهِ كَالْياَ وَكَالْوَاوِ سَهَّلاَ
              
وَبِالسُّوءِ إِلاَّ أَبْدَلاَ ثُمَّ أَدْغَمَا
وَفِيهِ خِلاَفٌ عَنْهُمَا لَيْسَ مُقْفَلاَ
              
وَالأُخْرَى كَمَدٍّ عِنْدَ وَرْشٍ وَقُنْبُلٍ
وَقَدْ قِيلَ مَحْضُ المَدِّ عَنْهَا تَبَدَّلاَ
              
وَفي هؤُلاَ إِنْ وَالْبِغَا إِنْ لِوَرْشِهِمْ
بِيَاءِ خَفِيفِ الْكَسْرِ بَعْضُهُمْ تَلاَ
              
وَإِنْ حَرْفُ مَدِّ قَبْلَ هَمْزٍ مُغَيَّرٍ
يَجُزْ قَصْرُهُ وَالْمَدُّ مَا زَالَ أَعْدَلاَ
              
وَتَسْهِيلُ الأُخْرَى في اخْتِلاَفِهِماَ (سَمَا)
تَفِيءَ إِلَى مَعْ جَاءَ أُمَّةً انْزِلاَ
              
نَشَاءُ أَصَبْنَا والسَّماءِ أَوِ ائْتِنَا
فَنَوْعَانِ قُلْ كالْيَا وَكَالْوَاوِ سُهِّلاَ
              
وَنَوْعَانِ مِنْهَا أُبْدِلاَ مِنْهُمَا
وَقُلْ يَشَاءُ إِلى كالْيَاءِ أَقْيَسُ مَعْدِلاَ
              
وَعَنْ أَكْثَرِ الْقُرَّاءِ تُبْدَلُ وَاوُهَا
وَكُلٌّ بِهَمْزِ الْكُلِّ يَبْدَا مُفَصَّلاَ
              
وَالإِبْدَالُ مَحْضٌ وَالْمُسَهَّلُ بَيْنَ مَا
هُوَ الْهَمْزُ وَالحَرْفُ الَّذِي مِنهُ أُشْكِلاَ
باب الهمز المفرد
             
             
إِذَا سَكَنَتْ فَاءً مِنَ الْفِعْلِ هَمْزَةٌ
فَوَرْشٌ يُرِيهَا حَرْفَ مَدٍّ مُبَدَّلاَ
سِوَى جُمْلَةِ الإِيوَاءِ وَالْوَاوُ عَنْهُ إِنْ
تَفَتَّحَ إِثْرَ الضَّمِّ نَحْوُ مُؤَجَّلاَ
وَيُبْدَلُ لِلسُّوسِيِّ كُلُّ مُسَكَّنٍ
مِنَ الْهَمْزِ مَدًّا غَيْرَ مَجْزُومِ نُ اْهْمِلاَ
تَسُؤْ وَنَشَأْ سِتٌّ وَعَشْرُ يَشَأ وَمَعْ
يُهَيِّئْ وَنَنْسَأْهَا يُنَبَّأْ تَكَمَّلاَ
وَهَيِّئْ وَأَنْبِئْهُمْ وَنَبِّئْ بِأَرْبَعٍ
وَأَرْجِئْ مَعًا وَاقْرَأْ ثَلاَثًا فَحَصِّلاَ
وتُؤْوِي وَتُؤْوِيهِ أَخَفُّ بِهَمْزِهِ
وَرِئْيًا بِتَرْكِ الْهَمْزِ يُشْبِهُ الامْتِلاَ
وَمُؤْصَدَةٌ أَوْصَدتُّ يُشْبِهُ كُلُّه
تَخَيَّرَهُ أَهْلُ الأَدَاءِ مُعَلَّلاَ
وَبَارِئِكُمْ بِالْهَمْزِ حَالَ سُكُونِهِ
وَقَالَ ابْنَ غَلْبُونٍ بِيَاءٍ تَبَدَّلاَ
وَوَالاَهُ في بِئْرٍ وَفي بِئْسَ وَرْشُهُمْ
وَفي الذِّئْبِ وَرْشٌ وَالْكِسَائِي فَأَبْدَلاَ
وَفي لُؤْلُؤٍ في العُرْفِ وَالنُّكْرِ شُعْبَةٌ
وَيَأْلِتْكُمُ الدُّورِي وَالاِبْدَالُ (يـُ)ـجْتَلاَ
وَوَرْشٌ لِئَلاَّ والنَّسِىءُ بِيَائِهِ
وَأَدْغَمَ في يَاءِ النَّسِىءِ فَثَقَّلاَ
وَإِبْدَالُ أُخْرَى الْهَمْزَتَيْنِ لِكُلِّهِمْ
إِذَا سَكَنَتْ عَزْمٌ كَآدَمَ أُوهِلاَ
باب نقل حركة الهمز إلى الساكن قبلها
             
             
وَحَرِّكْ لِوَرْشٍ كُلَّ سَاكِنِ آخِرٍ
صَحِيحٍ بِشَكْلِ الْهَمْزِ واحْذِفْهُ مُسْهِلاَ
             
وَعَنْ حَمْزَةَ في الْوَقْفِ خُلْفٌ وَعِنْدَهُ
رَوَى خَلَفٌ في الْوَقْفِ سَكْتًا مُقَلَّلاَ
              
وَيَسْكُتُ في شَيْءٍ وَشَيْئًا وَبَعْضُهُمْ
لَدَى الَّلامِ لِلتَّعْرِيفِ عَنْ حَمْزَةٍ تَلاَ
               
وَشَيْءٍ وَشَيْئًا لَمْ يَزِدْ وَلِنَافِعٍ
لَدَى يُونُسٍ آلانَ بِالنَّقْلِ نُقِّلاَ
                
وَقُلْ عَادًا الاُوْلَى بِإِسْكَانِ لامِهِ
وَتَنْوِينِهِ بِالْكَسْرِ (كَـ)ـاسِيهِ (ظَ)ـلّلاَ
               
وَأَدْغَمَ بَاقِيهِمْ وَبِالنَّقْلِ وَصْلُهُمْ
وَبَدْؤُهُمْ وَالْبَدْءُ بِالأَصْلِ فُضِّلاَ
                
لِقَالُونَ وَالْبَصْرِي وَتُهْمَزُ وَاوُهُ
لِقَالُونَ حَالَ النَّقْلِ بَدْءًا وَمَوْصِلاَ
                 
وَتَبْدَأْ بِهَمْزِ الْوَصْلِ في النَّقْلِ كُلِّهِ
وَإِنْ كُنْتَ مُعْتَدًّا بِعَارِضِهِ فَلاَ
                  
وَنقْلُ رِدًا عَنْ نَافِعٍ وَكِتَابِيهْ
بِالإِسْكانِ عَنْ وَرْشٍ أَصَحُّ تَقَبَّلاَ
باب وقف حمزة و هشام على الهمز
             
             
وَحَمْزَةُ عِنْدَ الْوَقْفِ سَهَّلَ هَمْزَهُ
إِذَا كَانَ وَسْطًا أَوْ تَطَرَّفَ مَنْزِلاَ
             
فَأَبْدِلْهُ عَنْهُ حَرْفَ مَدِّ مُسَكَّنًا
وَمِنْ قَبْلِهِ تَحْرِيكُهُ قَدْ تَنَزَّلاَ
              
وَحَرِّكْ بِهِ مَا قَبْلَهُ مَتَسَكِّنًا
وَأَسْقِطْهُ حَتّى يَرْجِعَ اللَّفْظُ أَسْهَلاَ
               
سِوَى أَنَّهُ مِنْ بَعْدِ أَلِفٍ جَرى
يُسَهِّلُهُ مَهْمَا تَوَسَّطَ مَدْخلاَ
               
وَيُبْدِلُهُ مَهْمَا تَطَرَّفَ مِثْلُهُ و
َيَقْصُرُ أَوْ يَمْضِي عَلَى الْمَدِّ أَطْوَلاَ
               
وَيُدْغِمُ فِيهِ الْوَاوَ وَالْيَاءَ مُبْدِلاَ
إِذَا زِيدَتَا مِنْ قَبْلُ حَتَّى يُفَصَّلاَ
                
وَيُسْمِعُ بَعْدَ الْكَسْرِ وَالضَّمِّ هَمْزُهُ
لَدى فَتْحِهِ يَاءًا وَوَاوًا مُحَوَّلاَ
                
وَفي غَيْرِ هذَا بَيْنَ بَيْنَ وَمِثْلُهُ
يَقُولُ هِشَامٌ مَا تَطَرَّفَ مُسْهِلاَ
                
وَرِءْيَا عَلَى إِظْهَارِهِ وَإِدْغَامِهِ
وَبَعْضٌ بِكَسْرِ الْها لِيَاءِ تَحَوَّلاَ
                
كَقَوْلِكَ أَنْبِئْهُمْ وَنَبِّئْهُمْ وَقَدْ
رَوَوْا أَنَّهُ بِالخَطِّ كانَ مُسَهَّلاَ
                
فَفِي الْيَا يَلِي والْوَاوِ وَالحَذْفِ رَسْمَهُ
وَالاَخْفَشُ بَعْدَ الْكَسْرِ والضَّمِّ أَبْدَلاَ
                
بِيَاءِ وَعَنْهُ الْوَاوُ في عَكْسِهِ وَمَنْ
حَكَى فِيهِمَا كَالْيَا وَكَالْوَاوِ أَعْضَلاَ
                
وَمْسْتَهْزِءُونَ الْحَذْفُ فِيهِ وَنَحْوِهِ
وَضَمٌّ وَكَسْرٌ قِبْلُ قِيلَ وَأُخْمِلاً
                
وَمَا فِيهِ يُلْقى وَاسِطاً بِزَوَائِدٍ
دَخَلْنَ عَلَيْهِ فِيهِ وَجْهَانِ أُعْمِلاَ
                
كَمَا هَاوَيَا وَالَّلامِ وَالْبَا وَنَحْوِهَا
وَلاَمَاتِ تَعْرِيفٍ لِمَنْ قَدْ تَأَمَّلاَ
                
وَاشْمِمْ وَرُمُ فِيمَا سِوى مُتَبَدِّلٍ
بِهَا حَرْفَ مَدٍّ وَاعْرِفِ الْبَابَ مَحْفِلاً
                
وَمَا وَاوٌ أَصْلِيٌّ تَسَكَّنَ قَبْلَهُ
أوِ الْيَا فَعَنْ بَعْضٍ بِالإِدْغَامِ حُمِّلاَ
                
وَمَا قَبْلَهُ التَحْرِيكُ أَوْ أَلِفٌ مُحَـ
رَّكاً طَرَفاً فَالْبَعْضُ بالرَّوْمِ سَهَّلاَ
                
وَمَنْ لَمْ يَرُمْ وَاعَتدَّ مَحْضاً سُكُونَهُ
وَألْحقَ مَفْتُوحاً فَقَدْ شَذَّ مُوغِلاَ
                
وَفِي الْهَمْزِ أَنْحَاءٌ وَعِنْدَ نُحَاتِهِ
يُضِيءُ سَنَاهُ كُلَّمَا اسْوَدَّ أَلْيَلاَ
باب الإظهار و الإدغام
سأَذْكُرُ أَلْفَاظًا تَلِيهَا حُرُوفُهَا
بالإظْهَارِ وَالإدْغَامِ تُرْوىَ وَتُجْتَلاَ
              
فَدُونَكَ إِذْ فِي بَيْتهَا وَحُرُوفُهَا
وَمَا بَعْدُ بالتَقْييدِ قُدْهُ مُذَلَّلاَ
              
سَأُسْمِي وَبَعْدَ الْوَاوِ تَسْمُو حُرُوفُ مَنْ
تَسمَّى عَلَى سِيمَا تَرُوقُ مُقَبَّلاَ
              
وَفِي دَالِ قَدْ أَيْضًا وَتَاءٍ مُؤَنَثِ
وَفِي هَلْ وَبَلْ فَاحْتَلْ بِذِهْنِكَ أَحْيَلاَ
ذكر ذال إذ                   
نعم (إ)ذ (تـ)مشت (ز)ينب (صـ)ـال (د)لُّهَا
(سـ)مِيَّ (جـ)مال واصلا من توصلا
               
فإِظْهَارُهَا (أ)جْرى (د)وَامَ (نُـ)سَيمِهَا
وَأَظْهَرَ (رُ)يَا (قـ)وْلِهِ وَاصِفٌ جَلاَ
               
وَادْغَمَ (ضَـ)ـنْكاً وَاصِلٌ تُومَ (دُ)رّه
وَادْغَمْ (مُـ)ـوْلَى وُجْدُهُ (د)ائمٌ وَلاَ
ذكر دال قد
             
                   
وَقَدْ (سَـ)ـحَبَتْ (ذ)يْلاً (ضَـ)ـفَا (ظ)ـلَّ (زَ)رْنَبٌ
(جـ)ـلَتْهُ (صـ)ـبَاهُ (شـ)ـاَئِقاً وَمُعَلِّلاَ
              
فَاظْهَرَهَا (نـَ)ـجَمٌ (بـ)ـدَا (دَ)ـلَّ وَاضِحاً
وَأَدْغَمَ وَرْشٌ (ضَـ)ـرَّ (ظ)ـمْآنَ وَامْتَلاَ
              
وَادْغَمَ (مُـ)ـرُوٍ وَاكِفٌ (ضـ)يْرَ (ذ)ابِلٍ
(ز)وى (ظ)ـلَّهُ وَغْرٌ تَسَدَّاهُ كَلْكلاَ
              
وَفِي حَرْفِ زَيَّنَا خِلاَفٌ وَمُظْهِرٌ
هِشَامٌ بِص حَرْفَهُ مُتَحمِّلاَ
ذكر تاء التأنيث
             
             
وَأَبْدَتْ (سَـ)ـنَا (ثَـ)غْرٍ (صـ)ـفَتْ (ز)رْقُ (ظَ)لمِهِ
(جـ)ـمَعْنَ وُرُوداً بَارِداً عَطِر الطِّلاَ
              
فإِظْهَارُهَا (دُ)رٌّ (نَـ)مَتْهُ (بُـ)ـدُورُهُ
وَأَدْغَمَ وَرْشٌ (ظَ)ـافِراً وَمُخَوِّلاَ
              
وَأَظْهَرَ (كـ)ـهْفٌ وَافِرٌ (سـ)ـيْبُ (جُـ)ودِهِ
(زَ)كيٌّ وَفيٌّ عُصْرَةً وَمُحَلَّلاَ
              
وَاظْهَرَ رَاويهِ هِشَامٌ لَهُدِّمَتْ
وَفِي وَجَبَتْ خُلْفُ ابْنِ ذَكْوانَ يُفْتَلاَ
ذكر لام هل و بل
             
                  
ألا بَلْ وَهَلْ (تَـ)ـرْوِي (ثَـ)ـنَا (ظ)عْنِ (زَ)يْنَبٍ
(سـ)مِيرَ (فَ)ـوَاهَا (طِ)ـلْحَ (ضُ)ـرٍ وَمُبْتَلاَ
              
فَأَدْغَمَهَا (رَ)اوٍ وَأَدْغَمَ فَاضِلٌ
وَقُورٌ (ثـ)ـنَاهُ (سَـ)ـرّ (تـ)ـيْماً وَقَدْ حَلاَ
              
وَبَلْ فِي النِّسَا خَلاَّدُهُمْ بِخِلاَفِهِ
وَفِي هَلْ تَرَى الْإدْغَامُ حُبَّ وَحُمِّلاَ
              
وَاظْهِرْ لَدى وَاعٍ (نَـ)ـبِيلٍ (ضَـ)ـماَتُهُ
وَفِي الرَّعْدِ هَلْ وَاسْتَوْفِ لاَ زَاجِراً هَلاُ
باب اتفاقهم في إدغام إذ و قد و تاء التأنيث و هل و بل
             
                  
وَلاَ خُلفَ فِي الإِدْغَامِ إِذْ (ذَ)لَّ (ظ)ـاَلِمٌ
وَقَدْ (ت)ـيَّمَتْ (دَ)عْدٌ وَسِيماً تَبَتَّلاَ
              
وَقَامَتْ (تُـ)ـرِيِه (دُ)مُيْةٌ (ط)ـيبَ وَصْفِهَا
وَقُلْ بَلْ وَهَلْ (ر)اهَا (لـَ)ـبَيبٌ وَيَعْقِلاَ
              
وَمَا أَوْلُ الْمِثْلَينِ فِيهِ مُسَكَّنٌ
فَلاَ بُدَّ مِنْ إِدْغَامِهِ مُتَمَثِّلاَ
باب حروف قربت مخارجها
                  
                  
وَإِدْغَامُ باءِ الْجَزْمِ فِي الْفَاءٍ (قَـ)ـدْ (ر)سَا
(حَـ)مِيداً وَخَيِّرْ فِي يَتُبْ (قـ)ـاَصِداً وَلاَ
              
وَمَعْ جَزْمِهِ يَفْعَلْ بِذلِكَ (سَـ)ـلَّمُوا
وَنَخْسِفْ بِهِمْ (رَ)اعَوْا وَشَذَّا تَثَقُلاً
              
وَعُذْتُ عَلَى إِدْغَامِهِ وَنَبَذْتُهاَ
شَوَاهِدُ (حَـ)ـمَّادٍ وَأَورِثْتُوُا (حـَ)ـلاَ
              
(لَـ)ـهُ (شَـ)ـرْعُهُ وَالرَّاءُ جَزْماً يِلاَمِهاَ
كَوَاصِبرْ لِحُكْمِ (طـ)َـالَ بُالْخُلْفُ (يَـ)ذْبُلاَ
              
وَيس اظْهِرْ (عـَ)ـنْ (فَـ)ـتى (حَـ)ـقُهُ (بَـ)ـدَا
وَن وَفيهِ الْخِلْفُ عَنْ وَرْشِهمْ خَلاَ
              
وَ(حِرْمِيُّ) (نَـ)ـصْرِ صَادَ مَرْيَمَ مَنْ يُرِدْ
ثَوَابَ لَبِثْتَ الْفَرْدَ وَالجَمْعُ وَصَّلاَ
              
وَطس عِنْدَ الْمِيم (فَـ)ـازَا اتَخَذْتُمْ
أَخَذْتُمْ وَفِي الإِفْرَادِ (عـَ)ـاشَرَ (دَ)غْفَلاَ
              
وَفِي ارْكَب (هُـ)ـدى (بَـ)ـرٍ (قَـ)ـرِيبٍ بِخُلْفِهِمْ
(كَـ)ـمَا (ضـ)ـاَعَ (جـ)ـاَ يَلْهَثْ (لَـ)ـهُ (دَ)ارِ (جُـ)ـهَّلاَ
              
وَقَالُونُ ذُو خُلْفٍ وَفِي الْبَقَرَهْ فَقُلْ
يُعَذِّبْ (دَ)نَا بالْخُلْفِ (جـَ)ـوْداً وَمُوبِلاَ
باب أحكام النون الساكنة و التنوين
                  
                  
               وَكُلُّهُمُ التَّنْوينَ وَالنُّونَ ادْغَمُوا
               بِلاَ غُنَّةٍ فِي الّلاَمِ وَالرَّا لِيَجْمُلاَ
              
               وَكُلٌّ بِيَنْمُو أَدْغَمُوا مَعَ غُنَّةٍ
               وَفِي الْوَاوِ وَالْيَا دُونَهَا خَلَفٌ تَلاَ
              
               وَعِنْدَهُمَا لِلكُلِ أَظْهِرْ بِكِلْمَةٍ
               مَخَافَةَ إِشْبَاهِ الْمُضَاعَفِ أَثْقَلاَ
              
               وَعِنْدَ حُرُوفِ الْحَلْقِ لِلكُلِ أُظْهِرَا
               (أَ)لاَ (هـ)ـاَجَ (حُـ)ـكْمٌ (عَـ)ـمَّ (خـ)ـاَليهِ (غُـ)ـفَّلاَ
              
               وَقَلْبُهُمَا مِيماً لَدَى الْيَا وَأَخْفِيا
               عَلَى غُنَّةٍ عِنْدَ الْبَوَاقِي لِيَكْمُلاَ
باب الفتح و الإمالة وبين اللفظين
                  
                  
               وَحَمْزَةُ مِنْهُمْ وَالْكِسَائِيُّ بَعْدَهُ
               أَمَالاَ ذَوَاتِ الْياَءِ حَيْثُ تأَصَّلاَ
              
               وَتَثْنِيَةُ الأسْماءِ تَكْشِفَها وَإِنْ
               رَدَدْتَ إِلَيْكَ الْفِعْلَ صَادَفْتَ مَنْهلاَ
              
               هَدى وَاشْتَرَاهُ وَالْهَوى وَهُدَاهُمُ
               وَفِي أَلِفِ الْتَأْنِيثِ فِي الْكُلِّ مَيَّلاَ
              
               وَكَيْفَ جَرَتْ فَعْلى فَفيهَا وُجُودُهَا
               وَإِنْ ضُمَّ أَوْ يُفْتَحْ فُعَالى فَحَصِّلاَ
              
               وَفِي اسْمِ فِي الْاِستِفْهَامِ أَنَّى وَفِي مَتى
               مَعاً وَعَسى أَيْضاً أَمَالاَ وَقُلْ بَلى
              
               وَمَا رَسَمُوا بالْيَاءِ غَيْرَ لَدى وَمَا
               زَكى وَإِلى مِنْ بَعْدُ حَتَّى وَقُلْ عَلَى
              
               وَكُلُّ ثُلاَثِيٍّ يِزِيدُ فَإِنَّهُ
               مُمَالٌ كَزَكَّاهَا وَأنْجَى مَعَ ابْتَلى
              
               وَلَكِنَّ أَحْيَا عَنْهُمَا بَعْدَ وَاوِهِ
               وَفِيمَا سَوَاهُ لِلكِسَائِي مُيِّلاً
              
               وَرُءْيَايَ وَالرءُيَا وَمَرْضَاتِ كَيْفَمَا
               أَتَى وَخَطَايَا مِثْلُهُ مُتَقَبَّلاً
              
               وَمَحْيَاهُمُوا أَيْضًا وَحَق تُقَاتِهِ
               وَفِي قَدْ هَدَانِي لَيْسَ أمْرُكَ مُشْكِلاَ
              
               وَفِي الْكَهْفِ أَنْسَاني وَمَنْ قَبْلُ جَاءَ مَنْ
               عَصَاني وَأَوْصَاني بِمَرْيَمَ يُجْتَلاَ
              
               وَفِيهَا وَفِي طس آتَانِيَ الَّذِي
               اذَعْتُ بِهِ حَتَّى تَضَوَّعَ مَنْدَلاَ
              
               وَحَرَفُ تَلاَهَا مَعْ طَحَاهَا وَفِي سَجى
               وَحَرْفُ دَحَاهَا وَهَي بِالْوَاوِ تُبْتَلاَ
              
               وَأَمَّا ضُحَاهَا وَالضُّحى وَالرِّبا مَعَ الْـ
               قُوى فَأَمَا لاَهَا وَبِالْوَاوِ تَخْتَلاَ
              
               وَرُؤيَاكَ مَعَ مَثْوَايَ عَنْهُ لِحَفْصِهِمْ
               وَمَحْيَايَ مِشْكَاةٍ هُدَايَ قَدِ انجَلاَ
              
               وَممَّا أَمَالاَهُ أَوَاخِرُ آيٍ مَّا
               بطِه وَآيِ الْنَّجْمِ كَيْ تَتَعَدَّلاَ
              
               وَفِي الشَّمْسِ وَالأَعْلى وَفِي اللَّيْلِ الضُّحى
               وَفِي اقْرَأَ وَفِي وَالنَّازِعَاتِ تَمَيَّلاَ
              
               وَمِنْ تَحْتِهَا ثُمَّ الْقِيَامَةِ فِي الْـ
               مَعَارِجَ يا مِنْهَالُ أَفْلَحْتَ مُنْهِلاَ
              
               رَمى (صُحْبَةٌ) أَعْمَى فِي الإِسْراءِ ثَانِيًا
               سِوًى وَسُدًى فِي الْوَقْفِ عَنْهُمْ تَسَبُّلاِ
              
               وَرَاءُ تَراءَى (فـ)ـَازَ فِي شُعَرَائِهِ
               وَأَعْمى فِي الإِسْرا (حُـ)ـكْمُ (صُحْبَةٍ) أَوّلاَ
              
                وَمَا بَعْدَ رَاءٍ شَاعَ حُكْمًا وَحَفْصُهُمْ
                يُوَالِي بِمَجْرَاهَا وَفي هُودَ أُنْزِلاَ
               
نَأَى شَرْعُ يُمْنٍبِاخْتِلاَفٍ وَشُعْبَةٌ
في الاِسْرَا وَهُمْ وَالنُّونُ ضَوْءُ سَنًا تلاَ

إِنَاهُ لَهُ شَافٍ وَقُلْ أَوْ كِلاَهُمَا
شَفَا وَلِكَسْرٍ أَوْ لِيَاءٍ تَميَّلاَ

وَذُوا الرَّاءِ وَرْشٌ بَيْنَ بَيْنَ وَفي أَرَا
كَهُمْ وَذَوَاتِ الْيَالَهُ الْخُلْفُ جُمِّلاَ

وَلكِنْ رُءُوسُ الآيِ قَدْ قَلَّ فَتْحُهَا
لَهُ غَيْرَ مَاهَا فِيهِ فَاحْضُرْ مُكَمَّلاَ

وَكَيْفَ أَتَتْ فَعْلَى وَآخِرُ آيِ مَا
تَقَدَّمَ لِلبَصْرِي سِوى رَاهُمَا اعْتَلاَ

وَيَا وَيْلَتَى أَنَّى وَيَا حَسْرَتى طَوَوْا
وعَنْ غَيْرِهِ قِسْهَا وَيَا أَسَفَى الْعُلاَ

وَكَيْفَ الثُّلاَثِي غَيْرَ زَاغَتْ بِمَاضِيٍ
أَمِلْ خَابَ خَافُوا طَابَ ضَاقَتْ فَتُجْمِلاَ

وَحَاقَ وَزَاغُوا جَاءَ شَاءَ وَزَارَ فُزْ
وَجَاءَ ابْنُ ذَكْوَانٍ وَفِي شَاءَ مَيَّلاَ

فَزَادَهُمُ الأُولَى وَفِي الْغَيْرِ خُلْفُهُ
وَقُلْ صُحْبَةٌبَلْ رَانَ وَاصْحَبْ مُعَدَّلاَ

وَفِي أَلِفَاتٍ قَبْلَ رَا طَرَفٍ أَتَتْ
بِكَسْر أَمِلْ تُدْعى حَمِيداً وَتُقْبَلاَ

كَأَبْصَارِهِمْ وَالدَّارِ ثُمَّ الْحِمَارِ مَعْ
حِمَارِكَ وَالْكُفَّارِ وَاقْتَسْ لِتَنْضُلاَ

وَمَعْ كَافِرِينَ الْكافِرِينَ بِيَائِهِ
وَهَارٍ رَوَى مُرْوٍ بِخُلْفٍ صَدٍ حَلاَ

بَدَارِ وَجَبَّارِينَ وَالْجَارِ تَمَّمُوا
وَوَرْشٌ جَمِيعَ الْبَابِ كَانَ مُقَلِّلاَ

وَهذَانِ عَنْهُ بِاخْتِلاَفٍ وَمَعَهُ في الْـ
بَوَارِ وَفي الْقَهَّارِ حَمْزَةُ قَلَّلاَ

وَإِضْجَاعُ ذِي رَاءَيْنِ حَجَّ رُوَاتُه
كَالأَبْرَارِ وَالتَّقْلِيلُ جادَلَ فَيْصَلاَ

وَإِضْجَاعُ أَنْصَارِي تَمِيمٌ وَسَارِعُوا
نُسَارِعُ وَالْبَارِي وَبَارِئِكُمْ تَلاَ

وَآذَانِهِمْ طُغْيَانِهِمْ وَيُسَارِعُونَ
آذَانِنَا عَنْهُ الْجَوَارِي تَمَثَّلاَ

يُوَارِي أُوَارِي فِي العُقُودِ بِخُلْفِهِ
ضِعَافًا وَحَرْفَا النَّمْلِ آتِيكَ قَوَّلاَ

بِخُلْفٍ ضَمَمْنَاهُ مَشَارِبُ لامِعٌ
وَآنِيَةٍ فِي هَلْ أَتَاكَ لِأَعْدِلاَ

وَفِي الْكَافِرُونَ عَابِدُونَ وَعَابِدٌ
وَخَلَفُهُمْ في النَّاسِ في الْجَرِّ حُصِّلاَ

حِمَارِكَ وَالمِحْرَابِ إِكْرَاهِهِنَّ وَالْـ
حِمَارِ وَفي الإِكْرَامِ عِمْرَانَ مُثِّلاَ

وَكُلٌّ بِخُلْفٍ لاِبْنِ ذَكْوَانَ غَيْرَ مَا
يُجَرُّ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاعْلَمْ لِتَعْمَلاَ

وَلاَ يَمْنَعُ الإِسْكَانُ فِي الْوَقْفِ عَارِضًا
إِمَالَةَ مَا لِلكَسْرِ فِي الْوَصْلِ مُيِّلاَ

وَقَبْلَ سُكُونٍ قِفْ بِمَا فِي أُصُولِهِمْ
وَذُو الرَّاءِ فِيهِ الخُلْفُ في الْوَصْلِ يُجُتَلاَ

كَمُوسَى الْهُدى عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ والْقُرَى الْـ
تِي مَعَ ذِكْرَى الدَّارِ فَافْهَمْ مُحَصِّلاَ

وَقَدْ فَخَّمُوا التَّنْوِينَ وَقْفاً وَرَقَّقُوا
وَتَفْخِيمُهُمْ في النَّصْبِ أَجْمَعُ أَشْمُلاَ

مُسَمَّى وَمَوْلًى رَفْعُهُ مَعْ جَرِّهِ
وَمَنْصُوبُهُ غُزَّى وَتَتْرًى تَزَيَّلاَ
باب مذهب الكسائي في إمالة هاء التأنيث في الوقف
   
   
وَفِي هَاءِ تَأْنِيثِ الْوُقُوفِ وَقَبْلَهَا
مُمَالُ الْكِسَائِي غَيْرَ عَشْرٍ لِيَعْدِلاَ

وَيَجْمَعُهَا (حَقٌ ضِغَاطٌ عَصٍ خَظَا
وَ(أَكْهَرُ) ببَعْدَ الْيَاءِ يَسْكُنُ مُيِّلاَ

أَوِ الْكَسْرِ وَالإِسْكَانُ لَيْسَ بِحَاجِزٍ
وَيَضْعُفُ بَعْدَ الْفَتْحِ وَالضَّمِّ أَرْجُلاَ

لَعِبْرَهْ مِائَهْ وِجْهَهْ وَلَيْكَهْ وَبَعْضُهُمْ
سِوى أَلِفٍ عِنْدَ الْكِسَائي مَيَّلاَ
باب مذاهبهم في الراءات
   
   
وَرَقَّقَ وَرْشٌ كُلَّ رَاءٍ وَقَبْلَهَا
مُسَكَّنَةً يَاءٌ أَوِ الْكَسْرِ مُوصَلاَ

وَلَمْ يَرَ فَصْلاً سَاكِنًا بَعْدَ كَسْرَةٍ
سِوى حَرْفِ الاِسْتِعْلاَ سِوَى الْخَا فَكَمَّلاَ

وَفَخَّمَهَا في الأَعْجَمِيِّ وَفِي إِرَمْ
وَتَكْرِيرِهَا حَتَّى يُرى مُتَعَدِّلاَ

وَتَفْخِيمُهُ ذِكْرًا وَسِتْرًا وَبَابَهُ
لَدى جِلَّةِ الأَصْحَابِ أَعْمَرُ أَرْحُلاَ

وَفي شَرَرٍ عَنْهُ يُرَقِّقُ كُلُّهُمْ
وَحَيْرَانَ بِالتَّفْخِيمِ بَعْضُ تَقَبَّلاَ

وَفي الرَّاءِ عَنْ وَرْشٍ سِوَى مَا ذَكَرْتُهُ
مَذَاهِبُ شَذَّتْ فِي الْأَدَاءِ تَوَقُّلاَ

وَلاَ بُدَّ مِنْ تَرْقِيِقِهاَ بَعْدَ كَسْرَةٍ
إِذَا سَكَنَتْ ياَ صَاحِ لِلسَّبْعَةِ المَلا

وَمَا حَرْفُ الاِسْتِعْلاَءُ بَعْدُ فَراؤُهُ
لِكُلِّهِمُ التَّفْخِيمُ فِيهاَ تَذَلَّلاَ

وَيَجْمَعُهاَ قِظْ خُصَّ ضَغْطٍ وَخُلْفُهُمْ
بِفِرْقٍ جَرى بَيْنَ المَشَايِخِ سَلْسَلاَ

وَمَا بَعْدَ كَسْرٍ عَارِضٍ أَوْ مُفَصَّلٍ
فَفَخِّمْ فَهذاَ حُكْمُهُ مُتَبَذِّلاَ

وَمَا بَعْدَهُ كَسْرٌ أَوِ الْيَا فَمَا لَهُمْ
بِتَرْقِيقِهِ نَصٌّ وَثِيقٌ فَيَمْثُلاَ

وَمَا لِقِيَاسٍ فِي الْقِرَاءة مَدْخَلٌ
فَدُونَكَ مَا فِيهِ الرِّضاَ مُتَكَفِّلاَ

وَتَرْقِيقُهاَ مَكْسُورَةً عِنْدَ وَصْلِهِمْ
وَتَفْخِيمُهاَ في الْوَقْفِ أَجْمَعُ أَشْمُلاَ

وَلكِنَّهَا في وَقْفِهِمْ مَعْ غَيْرِهاَ
تُرَقِّقُ بَعْدَ الْكَسْرِ أَوْ مَا تَمَيَّلاَ

أَوِ الْيَاء تَأْتِي بِالسُّكُونِ وَرَوْمُهُمْ
كَمَا وَصْلِهِمْ فَابْلُ الذَّكَاءَ مُصَقَّلاَ

وَفِيماَ عَدَا هذَا الَّذِي قَدْ وَصَفْتُهُ
عَلَى الْأَصْلِ بِالتَّفْخِيمِ كُنْ مُتَعَمِّلاَ
باب اللامات
   
   
وَغَلَّظَ وَرْشٌ فَتْحَ لاَمٍ لِصَادِهاَ
أَوِ الطَّاءِ أَوْ لِلظَّاءِ قَبْلُ تَنَزُّلاَ

إِذَا فُتِحَتْ أَوْ سُكِّنَتْ كَصَلاتِهِمْ
وَمَطْلَعِ أَيْضًا ثمَّ ظَلَّ وَيُوصَلاَ

وَفي طَالَ خُلْفٌ مَعْ فِصَالاً وَعِنْدَماَ
يُسَكَّنُ وَقْفاً وَالمُفَخَّمُ فُضِّلاَ

وَحُكْمُ ذَوَاتِ الْياَءِ مِنْهاَ كَهذِهِ
وَعِنْدَ رُءُوسِ الآيِ تَرْقِيقُهاَ اعْتَلاَ

وَكُلُّ لَدَى اسْمِ اللهِ مِنْ بَعْدِ كَسْرَةٍ
يُرَقِّقُهَا حَتَّى يَرُوقَ مُرَتَّلاَ

كَمَا فَخَّمُوهُ بَعْدَ فَتْحٍ وَضَمَّةٍ
فَتَمَّ نِظَامُ الشَّمْلِ وَصْلاً وَفَيْصَلاَ
باب الوقف على أوخر الكلم
   
   
     وَالإِسْكَانُ أَصْلُ الْوَقْفِ وَهْوَ اشْتِقَاقُهُ
     مِنَ الْوَقْفِ عَنْ تَحْرِيكِ حَرْفٍ تَعَزَّلاَ
    
     وَعِنْدَ أَبِي عَمْرٍو وَكُوفِيِّهِمْ بِهِ
     مِنَ الرُّوْمِ وَالإِشْمَامِ سَمْتٌ تَجَمَّلاَ
    
     وَأَكْثَرُ أَعْلاَمِ الْقُرَانِ يَرَاهُما
     لِسَائِرِهِمْ أَوْلَى الْعَلاَئِقِ مِطْوَلاَ
    
     وَرَوْمُكَ إِسْمَاعُ المُحَرَّكِ وَاقِفًا
     بِصَوْتٍ خَفِيٍّ كُلَّ دَانٍ تَنَوَّلاَ
    
     وَالاِشْمَامُ إِطْبَاقُ الشِّفَاهِ بُعَيْدَ مَا
     يُسَكَّنُ لاَ صَوْتٌ هُنَاكَ فَيَصْحَلاَ
    
     وَفِعْلُهُماَ في الضَّمِّ وَالرَّفْعِ وَارِدٌ
     وَرَوْمُكَ عِنْدَ الْكَسْرِ وَالْجَرِّ وُصِّلاَ
    
     وَلَمْ يَرَهُ في الْفَتْحِ وَالنَّصْبِ قَارِئٌ
     وَعِنْدَ إِمَامِ النَّحْوِ في الْكُلِّ أُعْمِلاَ
    
     وَمَا نُوِّعَ التَّحْرِيكُ إِلاَّ لِلاَزِمٍ
     بِنَاءً وَإِعْرَاباً غَداَ مُتَنَقِّلاَ
    
     وَفي هَاءِ تَأْنِيثٍ وَمِيمَ الْجَمِيعِ قُلْ
     وَعَارِضِ شَكْلٍ لَمْ يَكُوناَ لِيَدْخُلاَ
    
     وَفي الْهَاءِ لِلإِضْمَارِ قَوْمٌ أَبَوْهُمَا
     وَمِنْ قَبْلِهِ ضَمٌّ أَوِ الْكَسْرُ مُثِّلاَ
    
     أَو امَّاهُمَا وَاوٌ وَيَاءٌ وَبَعْضُهُمْ
     يُرى لَهُمَا فِي كُلِّ حَالٍ مُحَلِّلاَ
باب الوقف على مرسوم الخط
        
        
     وَكُوفِيُّهُمْ وَالْمَازِنِيُّ وَنَافِعٌ
     عُنُوا بِاتَّبَاعِ الْخَطِّ فِي وَقْفِ الاِبْتِلاَ
    
     وَلاِبْنِ كَثِيٍر يُرْتَضى وَابْنِ عَامِرٍ
     وَمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ حَرٍ أَنْ يُفَصَّلاَ
    
     إِذَا كُتِبَتْ بِالتَّاءِ هَاءُ مُؤَنَّثٍ
     فَبِالْهَاءِ قِفْ (حَقَّـ)ـا رِضًى وَمُعَوِّلاَ
    
     وَفي اللاَّتَ مَعْ مَرْضَاتِ مَعْ ذَاتَ بَهْجَةٍ
     وَلاَتَ (رُ)ضًى هَيْهَاتَ (هَـ)ادِيِه رُفِّلاَ
    
     وَقِفْ يَا أَبَهْ (كُـ)فْؤًا (دَ)نَا وَكَأَيِّنِ الْـ
     وُقُوفُ بِنُونٍ وَهْوَ بِالْيَاءِ (حُـ)صِّلاَ
    
     وَمَالِ لَدَى الْفُرْقَانِ وَالْكَهْفِ وَالْنِّسَا
     وَسَالَ عَلَى مَا (حَـ)جَّ وَالْخُلْفُ (رُ)تِّلاَ
    
     وَيَا أَيُّهَا فَوْقَ الدُّخَانِ وَأَيُّهَا
     لَدَى النُّورِ وَالرِّحْمنِ (رَ)افَقْنَ حُمِّلاَ
    
     وَفي الْهَا عَلَى الإِتْبَاعِ ضَمَّ ابْنُ عَامِرٍ
     لَدَى الْوَصْلِ وَالْمَرْسُومِ فِيهِنَّ أَخْيَلاَ
    
     وَقِفْ وَيْكَأَنَّهْ وَيْكَأَنَّ بِرَسْمِهِ
     وَبِالْيَاءِ قِفْ (رِ)فْقًا وَبِالْكَافِ (حُـ)لِّلاَ
    
     وَأَيّاً بأَيّاً مَا (شَـ)فَا وَسِوَاهُمَا
     بِمَا وَبِوَادِي النَمْلِ بِالْيَا (سَـ)ناً تَلاَ
    
     وَفِي مَهْ وَمِمَّهْ قِفْ وَعَمَّهْ لِمَهْ بِمَهْ
     بِخُلْفٍ عَنِ الْبَزِّيِّ وَادْفَعْ مُجَهِّلاَ
باب مذاهبهم في ياءات الإضافة
        
        
     وَلَيْسَتْ بِلاَمِ الْفِعْلِ يَاءُ إِضَافَةٍ
     وَمَا هِيَ مِنْ نَفْسِ اْلأُصُولِ فَتُشْكِلاَ
    
     وَلكِنَّهَا كالْهَاءِ وَالْكَافِ كُلُّ مَا
     تَلِيهِ يُرى لِلْهَاءِ وَالْكَافِ مَدْخَلاَ
    
     وَفي مِاَئَتَيْ ياَءٍ وَعَشْر مُنِيفَةٍ
     وَثِنْتَيْنِ خُلْفُ الْقَوْمِ أَحْكِيهِ مُجْمَلاَ
———————
Danny Ma'shoum
Sidoarjo, 10 Rabiul Awwal 1437 H

Tuesday, June 4, 2013

Mourinho Bisa Langgeng di Chelsea

Carvalho: Mourinho Bisa Kembalikan Kejayaan Chelsea

metrotvnews.com  London: Spekulasi mengenai kembalinya Jose Mourinho ke Chelsea gencar beredar. Ricardo Carvalho pun menyambut antusias kabar tersebut.

Jika memang Mourinho akan kembali menangani Chelsea, Carvalho menilai klub London itu akan sangat diuntungkan dan bisa kembali ke masa kejayaan mereka.

"Saya yakin Jose bisa membawa kembali masa-masa indah mereka," kata Carvalho, Seni (3/6).

"Ia sudah melakukannya ketika ia pertama datang ke sana pada 2004 dan ia akan melakukannya. Ia selalu sukses. Ia pelatih spesial dan selalu bekerja keras."

"Selama dua tahun terakhir, Manchester United dan Manchester City memuncaki Inggris, tapi saya yakin Chelsea akan tampil lebih baik saat Jose kembali."

"Sangat penting bagi mereka memenangi Liga Primer Inggris lagi dan dengan Jose berada di sana, mereka akan bisa meraihnya."

"Chelsea adalah tim yang spesial buat saya dan saya mendoakan mereka bisa memenangi Liga Primer lagi," tandasnya.

Karier Mourinho Habis

Cruyff bilang "karier Mourinho habis" Jelas, musim ini Jose Mourinho memang gagal total. Dan selepas gagal mempersembahkan gelar bagi Real Madrid, dia bahkan dinilai akan kesulitan kembali merengkuh gelar dalam karier selanjutnya. Demikian opini legenda Barcelona, Johan Cruyff, dalam kolom mingguan yang dtuliskannya di surat kabar Belanda, 'De Telegraaf'.

Sebagaimana diketahui, pelatih asal Portugal itu telah 'dipergikan' Madrid setelah tiga musim berada di Santiago Bernabeu. "Perpisahan" Mourinho terasa menyakitkan. Selain diwarnai ketidakharmonisan dengan pemain, ia gagal mempersembahkan gelar bagi El Real pada musim ini.

Kegagalan itu menjadi noda hitam dalam karier Mourinho, mengingat dia sebelumnya selalu berhasil meraih gelar pada setiap musim.

"Mourinho menunjuk jarinya kepada setiap orang di sekelilingnya ketika ada hal yang salah (atau ketika dia gagal, Red). Bahkan kini, dia membuat orang saling berlawanan dengan orang lain di klub," tulis Cruyff.

Dia berujar lagi: "Dia memiliki dendam pribadi dengan mengorbankan ikon klub. Hal itu tidak bekerja dalam sepak bola karena itu merusak moral tim. Itu salah satu alasan mengapa Madrid gagal meraih kesuksesan dan saya tidak berpikir Mourinho akan meraih apa pun di masa depan".

Di berbagai situs, termasuk di Indonesia, ketika tulisan ini dilansir, mayoritas 'penggila bola' menyatakan setuju dengan pendapat Johan Cruyff.

Tengok saja dua pendapat 'kaum penggila' itu seperti dirilis 'kompas.com' dan terpantau SOLUSInews:

".....sy suka sepakbola indah dilapangan, menang = bonus. sy bukan penggemar acara 'selebritis' dgn komen2 suka hati. sy setuju cruyff. pdapat cruyff = 51% benar. hanya piala dunia saja yg dia tidak punya tetapi cruyff wariskan kpd dunia (pendekatan) sepakbola indah "TIKI TAKA". peace on earth...."

"....Mourinho keahliannya hanya ngumpulin pemain2 hebat lalu dia tinggal tenang aja memerintah, marahin pemain, kalau tidak senang tdk dipakai jadi dia itu tepatnya disebut seorang manager bukan pelatih. kalau pelatih harus bisa memadukan jiwa seluruh pemain maupun pelatih maka akan sukses......"

Wednesday, May 22, 2013

Korban Kebakaran Harapkan Bantuan Modal

CIANJUR, (PRLM).- Sejumlah pedagang Pasar Bojongmeron telantar akibat kios dan barang dagangannya ludes terbakar dari kebaran yang terjadi Senin (20/5/2013). Mereka mengaku merugi ratusan juta rupiah dan mengharapkan adanya perhatian dari Pemkab Cianjur untuk dapat permodalan pembangunan kios dan modal berdagang.

"Kebanyakan yang terbakar adalah kios sembako. Saya punya dua kios yang satu untuk dagang dan yang satu gudang persedian barang yang akan dijual semua ludes terbakar. Kalau kerugian saya sendiri bisa mencapai Rp 50 juta," kata Ujang (45), salah seorang pedagang pasar setempat.

Ujang bersama beberapa anggota keluarga membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan kios dan mencari barang-barang yang mungkin masih bisa diselamatkan."Tadi sudah ada beberapa petugas dari Pemkab Cianjur yang datang mendata, tapi belum tau akan memberikan bantuan atau tidak," ucapnya.

Ujang berharap mendapatkan sedikit bantuan untuk kembali membangun kios nya meski kecil dan untuk modal berdagang. "Ini beberapa barang dagangan yang ada di rumah tetap saya gelar untuk dijual meski di kios yang habis kebakaran. Kalau tidak begini kami tidak bisa makan," tuturnya.

Dari hasil pendataan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag) Cianjur, sedikitnya 21 kios permanen terbakar, dan sekitar 8 lainnya yang masuk kios semi permanen juga ikut hangus. "Mereka yang kiosnya terbakar sebenarnya berjualan diatas lahan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan memang sudah memegang izin," ujar Kepala Diseprindag Cianjur, Himam Haris.

Himam mengatakan saat ini permintaan warga yang mengharapkan bantuan masih dalam proses pembahasan. Pasalnya, Diperindag juga susah melakukan hal ini karena banyak kios yang ternyata disewakan. "Justru kami ingin seluruh kios yang berdiri di pinggir rel kereta api ini bisa direlokasi paling lambat Tahun 2015 ke Pasar Pasir Hayam yang tempatnya lebih besar dan nyaman," katanya.

Namun, kata Himam, melakukan relokasi pun tidak mudah. Memberikan pemahamanan terus menerus kepada para pedagang harus dilakukan. "Saat ini sebagian pedagang masih ada penolakan. Padahal, jika direlokasi wilayah Bojongmeron akan terbebas dari kemacetan dan bisa ditata lebih baik," ucapnya.

Warisan Anak Cucu

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. at-Tahrim: 6).

Umumnya orang tua ingin anaknya bahagia. Untuk itu, sebahagian orang tua berusaha mengumpulkan harta yang banyak, terlepas status halal haramnya, untuk diwariskan kepada anak cucunya.  Namun, kalau dilihat dalam sejarah, para nabi dan orang-orang beriman lebih berharap meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan beriman, ketimbang harta banyak. 

Nabi Ibrahim, misalnya, pernah berdoa untuk kebaikan generasinya. Doanya: “Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).  Doa ini mengisyaratkan bahwa tak ada yang lebih baik ditinggalkan kepada anak-anak, kecuali mereka dalam keadaan beriman.

Hal yang sejenis juga pernah dilakukan Nabi Ya’qub.  Menjelang menghadap Ilahi! Nabi Ya’qub masih menyempatkan diri untuk bertanya kepada anak-anaknya, ”Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” (QS. al-Baqarah: 133).

Sepatutnya kita mengikuti jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang beriman seperti itu dalam (meninggalkan warisan bagi) anak-anaknya. Jangan sampai mengikuti langkah-langkah setan atau jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat hidupnya, seperti orang-orang yang sengaja melakukan kemungkaran seperti korupsi dan perampokan agar mampu meninggalkan warisan yang banyak untuk anak cucunya.

Perubahan Cuaca Secara Tiba Tiba

KOMPAS.com Waspadai Cuaca yang Berubah Ekstrem, - Para nelayan yang hendak melaut di wilayah Kalbar diminta mewaspadai cuaca yang bisa tiba-tiba berubah ekstrem. Pekan lalu, cuaca yang tiba-tiba berubah ekstrem telah menenggelamkan beberapa kapal.

Budiman (43), anak buah KM Digdoyo Perkasa yang selamat dari tenggelamnya kapal itu Minggu lalu, menuturkan, dalam beberapa tahun belakangan ini, seringkali terjadi perubahan cuaca ekstrem.

"Sebelum kapal kami mengalami kecelakaan, cuaca masih bagus. Saat hendak masuk dari laut lepas ke Muara Jungkat, cuaca berubah secara tiba-tiba menjadi sangat buruk," kata Budiman, Kamis.

Direktur Polisi Perairan Polda Kalbar Komisaris Besar Ramses Kamsuddin meminta, para nelayan harus mengikuti himbauan dari syahbandar pelabuhan setempat. "Kalau syahbandar tak mengizinkan melaut karena cuaca diprediksi buruk, lebih baik jangan memaksakan diri melaut," kata Ramses.

Tuesday, May 21, 2013

Banjir Nuh Akibat Pencairan Es Dunia

Sebuah teori baru dikemukakan oleh Ilmuwan dan dikatakan bahwa es pernah ada di wilayah Laut Hitam , Para sarjana tidak yakin, apakah cerita banjir Alkitab lebih besar atau lebih kecil dari bencana-bencana yang pernah terjadi di abad modern. 

Tetapi, mereka berpikir bahwa pengalaman orang-orang di zaman kuno sangat mirip dengan yang terjadi saat ini. Banjir Nuh mungkin tidak lebih besar atau lebih kecil dari bencana tsunami ? 

Seorang arkeolog bawah air telah menemukan bukti bahwa banjir besar didasarkan pada peristiwa nyata. Melalui ABC News, Robert Ballard berbicara tentang penemuan yang dilakukan di kedalaman Laut Hitam, lepas pantai Turki untuk mencari jejak peradaban kuno tersembunyi di bawah air sejak zaman Nuh.

Bandung Paris van Java

Pada era penjajahan Belanda, Kota Bandung dikenal dengan julukan Paris van Java. Namun, sekarang, keindahan Bandung tidak lagi berbekas. Hanya kemacetan, kesemrawutan, dan kekumuhan yang bisa didapat ketika menginjakkan kaki ke Kota Kembang. 

Atas dasar itu, calon wali kota Bandung, Ridwan Kamil tergerak untuk melakukan perubahan. Bergandengan dengan Oded M Danial, pasangan yang diusung PKS dan Gerindra itu memiliki optimisme untuk bisa menang dalam pemilihan pada 23 Juni mendatang. 

Ia menilai, kalau rezim lama terus berkuasa, segenap masalah di Bandung tidak akan selesai. Karena konsep pembangunan yang selama ini diusung pemda hanya sekadar rutinitas tanpa menyentuh inti persoalan.
"Bandung butuh revolusi. Kalau pertarungan ini bisa dimenangkan, kita melakukan pencerahan," kata Ridwan saat berkunjung ke Harian Republika, Selasa (21/5). 

Menurut dia, perubahan selalu di tangan pemuda. Karena itu, ia yakin bakal ada revolusi pembangunan di Bandung pada 2013.

Arsitek Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengatakan, masalah Bandung sudah sangat kompleks. Misalnya, populasi warga Bandung sebanyak 2,4 jiwa. Setiap harinya mereka menghasilkan sampah rumah tangga yang masih dikelola secara konvensional. 

Alhasil, di berbagai sudut kota, terlihat tumpukan sampah menggunung. Belum lagi banyak titik jalan berlubang yang dibiarkan tidak ditambal lantaran menunggu proyek setiap setahun sekali. Beberapa masalah itu membuat Ridwan tergerak untuk menciptakan inovasi agar peradaban Bandung bisa pulih. "Penanganan macet tetap menjadi prioritas," katanya. 

Ia juga ingin mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis kampung yang mengandalkan kreativitas karya warga. Selain itu, penambahan ruang terbuka hijau (RTH) dari 10 persen menjadi 30 persen menjadi salah satu harapan yang ingin diwujudkannya agar Bandung menjadi kota beradab.

Berdasarkan pengamatannya, Pemkot Bandung tidak pernah menciptakan inovasi, hanya terlihat sibuk menjalankan program rutin. Pola pikir pemerintah hanya berorientasi untuk menghabiskan anggaran. 
Contoh konkretnya soal dana bantuan sosial. Karena itu, ia tidak kaget ketika KPK memeriksa wali kota Bandung terkait penggunaan APBD. "Membangun Bandung itu membangun peradaban, bukan hanya proyek."

Mengerjakan Kebaikan

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maa`idah: 2).

Mestinya muncul rasa iri dalam diri kita manakala merenungi binatang yang tak berakal tak henti-hentinya membantu kita.  Ada lebah atau binatang lainnya yang membantu perkawinan tumbuh-tumbuhan, sehingga berbunga dan selanjutnya berkembang menjadi buah-buahan yang sangat penting bagi makanan dan kesehatan kita.  Binatang-binatang itu terus bekerjasama untuk kebaikan, baik untuk kepentingan dirinya sendiri maupun untuk kepentingan manusia.

Belajar dari kenyataan tersebut, kita sepantasnya menyadari dirinya setiap hari telah dan akan terus dibantu.  Kesadaran ini selanjutnya mencerdaskan pikiran dan menggugah hati hati untuk mencontohkannya.  Lebih-lebih, manusia punya kelebihan luar biasa, yaitu dikaruniai akal.  

Dengan demikian, kalau binatang yang tak diberikan akal saja, bisa dan mau bantu-membantu untuk kebaikan.  Tentunya sangat memalukan bila kita manusia tak mampu melakukan yang baik untuk diri sendiri dan pihak lain.

Bahkan karena terdorong keserakahan, kita kerapkali berbuat jahat kepada sesama dan binatang dalam hidup ini.  Tempat tinggal dan tempat mencari makan binatang semakin dipersempit.  Bahkan, binatang juga kerap dianiaya tubuhnya.

Sebagai makhluk berakal dan mampu berterimakasih, maunya kita berusaha bantu-membantu dalam kebaikan, sebagaimana seruan Allah.  Tak sepatutnya hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan atau bahkan membabat kepentingan orang lain. 

Meskipun telah berbuat baik, tak sebaiknya merasa telah cukup dan jenuh melakukannya, sedangkan binatang saja tak lelah-lelahnya menghasilkan kebaikan, bahkan hingga akhir hayatnya.

Makanan yang baik

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang baik” (HR. Muslim).

Karena berhadapan setiap hari, makanan kedengarannya hal biasa, meskipun dampaknya luar biasa.  Meskipun kelihatan mengenyangkan, misalnya, memakan makanan haram sama dengan mencelakakan diri.

Menurut Rasulullah SAW, di antara kecelakaan besar yang menimpa manusia akibat memakan makanan haram ialah tidak diterimanya doa oleh Allah.   Sebagaimana kisah yang diceritakan Nabi SAW tentang ‘seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. 

Ia mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal makanannya dari barang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?’ (HR. Muslim).

Kebanyakan orang tak ingin menelusuri dari mana makanan haram itu berasal, hingga sampai ke atas meja makan.  Padahal bisa saja muncul dari suatu kelengahan diri yang sudah menjadi kebiasaan.  Seperti melalui binatang ternak yang dibiarkan bebas berkeliaran, sehingga memakan hak orang lain atau menimbulkan kehancuran harta tetangga.  

Lantas, binatang itu dijual, dan uangnya digunakan untuk beramal atau menafkahi keluarga.  Disadari atau tidak, sebahagian dari makanan yang dimasukkan ke mulut sendiri, isteri, dan anak-anak, adalah makanan haram atau telah berproses melalui jalur haram. 

Monday, May 20, 2013

Aku Ingin Hidup Normal

Aku Ingin Hidup Normal

Dua Ribu Tahun Sebelum Sauron

Dalam suatu cerita jauh sebelum peristiwa The Lord Of The Rings, Pangeran Kegelapan Sauron menempa Cincin untuk memerintah kekuatan cincin yang lain dan merusak orang-orang yang memakainya : para pemimpin Manusia, Peri dan Kurcaci.

Ia kalah dalam pertempuran oleh aliansi Peri dan Manusia. Isildur memotong Cincin dari jari Sauron fsn mengklaim cincin itu sebagai pusaka untuk garis keturunannya, dan Sauron pun kehilangan bentuk fisiknya. Ketika Isildur ini kemudian disergap dan dibunuh oleh Orc, Cincin hilang di Sungai Anduin di Gladden Fields.
Lebih dari dua ribu tahun kemudian, Cincin ditemukan oleh salah satu orang yang disebut Deagol. Temannya Smeagol segera berada di bawah pengaruh Ring dan mencekik Deagol untuk mendapatkannya. Smeagol membuang dan menyembunyikannya di bawah Pegunungan Berkabut, di mana Cincin tersebut memperpanjang umurnya dan mengubah dirinya selama ratusan tahun menjadi bengkok dan menjadi makhluk rusak yang disebut Gollum. 

Dia kehilangan Cincin, nya "berharga", dan, seperti yang diceritakan dalam The Hobbit, Bilbo Baggins menemukannya. Sementara itu, Sauron kembali mengasumsikan bentuk fisik dan mengambil kembali wilayah lamanya Mordor. Gollum menetapkan untuk mencari Cincin, tapi ditangkap oleh Sauron, yang belajar dari dia bahwa "Baggins" di Shire sekarang memiliki itu. 

Gollum menjadi goyah dan putus asa dan Sauron, yang membutuhkan Cincin untuk mendapatkan kembali kekuatan penuh, mengirimkan hambanya yang kuat, Nazgul, untuk meraihnya.

Bertawakkal Kepada Allah

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka karenanya, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al Anfal: 2).

Manusia termasuk makhluk yang banyak mendapat panggilan dari Allah.  Mulai dari panggilan untuk hidup di dunia ini, panggilan untuk shalat pada waktunya, panggilan untuk berhaji pada bulannya, panggilan untuk mati untuk kembali ke alam baka, hingga panggilan di hari pengadilan di akhirat kelak untuk diadili.  Namun kenyataannya, tidak semua panggilan itu dipenuhi sebahagian manusia, terutama panggilan untuk melaksanakan ibadah shalat melalui azan.   

Padahal menurut para ulama, walaupun dikumandangkan oleh manusia, azan sebenarnya merupakan panggilan dari Allah.  Lafaznya yang sama di seluruh dunia, meskipun manusia memiliki berbagai macam bahasa. Manusia-manusia beriman di belahan bumi manapun berada, akan tersentuh hatinya dan bertambah keimanannya tatkala mendengarnya. Hati menjadi bergetar untuk segera bangkit untuk menyucikan diri untuk segera menghadapNya tanpa perantaraan.  Dan bahkan ada rasa penyesalan bila tak sempat memenuhinya.

Bila ada yang tak tersentuh, atau bahkan merasa jengkel tatkala suara azan bergema, maka itu bisa jadi suatu pertanda bahwa hatinya telah menjadi keras, sempit, dan gelap.  Hati yang seperti ini tak akan mampu lagi menampung kebenaran atau panggilan-panggilan untuk menuju kepada kebenaran.  Makanya, timbul rasa berat untuk bangkit dari tempat duduk atau tempat tidurnya, meskipun untuk menghadap Allah.  Bila hati orang beriman bergetar tatkala mendengar nama Allah, maka yang tak bergetar tentunya adalah orang yang sebaliknya.

Tapi perlu diingat bahwa panggilan ini akan memberi pengaruh besar terhadap panggilan-panggilan yang mesti dipenuhi selanjutnya.  Yaitu, panggilan untuk kematian yang datangnya tak disangka-sangka dan panggilan di akhirat kelak.

Kayu Itu Menumpuk

“Barangsiapa dari kalian yang aku angkat dalam suatu jabatan, kemudian dia menyembunyikan dari kami (meskipun) sebuah jarum, atau sesuatu yang lebih kecil dari itu, maka itu adalah pencurian yang pada hari kiamat akan ia bawa” (HR. Muslim).

Di zaman sekarang, banyak orang berlomba meraih jabatan dan bahkan saling menjatuhkan dengan harapan bisa memperkaya diri. Walaupun dengan memegang jabatan tertentu mendapat upah yang cukup untuk menafkahi keluarga seumur hidup, ternyata banyak yang mampu bermewah-mewah hingga beberapa keturunan hanya dengan memegang jabatan beberapa tahun.  Suatu hal yang sangat mungkin mustahil, bila tidak mencuri.  

Namun, istilah ‘mencuri’ terasa kasar dan memalukan, sehingga diganti dengan istilah korupsi.  Penukaran istilah lokal dengan istilah asing ini menghilangkan makna beberapa derajat.  Makanya, ketika disebut koruptor, sebahagian orang merasa elit sehingga masih mampu tersenyum tanpa malu, meskipun ditampakkan wajahnya.  

Dengan kata lain, masih belum merasa bersalah dan malu akibat perbuatan mengambil yang bukan hak.  Mengambil yang bukan hak sekecil jarum pun, akan diminta pertanggung jawaban, apalagi dosa besar melalui korupsi.  Tapi hal tak dihiraukan oleh orang yang meremehkan atau masih bangga dengan dosa.  

Padahal merasa bangga dengan dosa, menurut Imam Al Ghazali, termasuk dosa besar. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa meremehkan dosa sangat berbahaya.  Dalam suatu haditsnya disebutkan, “Sesungguhnya perumpamaan orang yang meremehkan dosa bagaikan sekelompok orang yang singgah di sebuah lembah. Ia datang membawa kayu dan terus-menerus membawa kayu hingga (kayu itu menumpuk) mereka dapat memasak makanan mereka” (HR. Ahmad).  Bahkan, menurut para ulama, dosa kecil menjadi besar bila dilakukan oleh tokoh masyarakat, orang panutan, atau orang yang mengetahui perbuatannya berdosa.