kolom melintang

Tuesday, March 3, 2015

HIKMAH BACAAN WAJIB SAKTAH PADA EMPAT TEMPAT DALAM AL-QURAN

HIKMAH BACAAN WAJIB SAKTAH PADA 4 TEMPAT DALAM AL-QUR'AN

Pada Suroh Ad-Dahr, ayat 15-16 ada dua kata atau lafadz yang sama yaitu :

قَوَارِيرَا @ قَوَارِيرَا..

Tetapi kedua lafadz ini saat diwaqofkan tidaklah sama bunyinya.
Menurut Imam Hafs ibn Sulaiman Al-Mughiroh Al-Kufy, lafadz  قواريرا  ( Qowaariiroo ) yang pertama apabila diwaqofkan tetap tidak ada perubahan pada bunyi " رَا " ( Roo ) nya, artinya tetap dibaca panjang. Tapi kalau waqof pada pada lafadz " Qowaariiroo " yang kedua maka huruf alif di buang dan huruf Ro' nya disukun, sehingga berbunyi " Qowaariir ". Sebab menurut Imam Hafs berdasarkan riwayat yang mutawatir dari Baginda Nabi SAW bahwa beliau pernah membaca demikian. Dengan demikian dua bacaan yang sama tadi tapi berbeda bunyi ketika diwaqofkan itu sesuai dengan kehendak Alloh SWT.

Sekarang kita ulas. Suroh Ad-Dahr terdiri dari 31 ayat, yang mana 30 ayat darinya diakhiri dengan huruf yang ber fathatain akhirnya, seperti اسيرًا ، شكورًا، تقديرًا dsb. Satu ayat darinya yaitu ayat ke-15 diakhiri dengan alif yang huruf sebelumnya berharokat fathah, yaitu " Qowaariiro " tidak fathatain. Dan 30 ayat yang lain kalau diwaqofkan maka tanwin ( fathatain ) dihilangkan dan bacaan dipanjangkan 2 harokat, maka menjadilah :

Taqdiiron — Taqdiiroo
Asiiron — Asiiroo
Syukuuron — Syukuuroo. dst

Dengan begitu " Qowaariiroo " yang pertama saat waqof yang tidak ada perubahan itu sama dengan akhiran ayat2 sebelum dan sesudahnya ketika diwaqofkan.

Jadi dengan demikian fashilah pada ro'sul ayat bunyi ritme nya akan seragam.

Musykilatul Qur'an, Hal 3,4 dan 5. Karya Ustadz Muhammad Amrulloh Muzayyin dan H. Husein Aziz.

—————

Pada Suroh ke 75, yaitu Al-Qiyamah, ayat 27, kita jumpai lafadz " مَن رَاقٍ  / man rooqin " pada ayat ;
(وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ) [Surat Al-Qiyama : 27]

Menurut Imam Hafs ibn Sulaiman Al-Mughiroh Al Kufy, Rowy nya Imam 'Ashim, bahwa lafadz " مَن " ( man ) disini tidak boleh di idghom-kan dengan lafadz " رَاقٍ " ( rooqin ), akan tetapi harus di saktah kan. Padahal menurut kaidah Ilmu Tajwid apabila ada Nun mati bertemu Ro' maka bacaan harus di idghomkan.

Sekarang kita analisa.
Lafadz " مَن ( man ) maknanya =Siapakah.
Lafadz " رَاقٍ ( rooqin ) maknanya = Yang dapat menyembuhkan, atau membersihkan.

Nah, kalau bacaan tadi tidak disaktahkan, maka secara otomatis harus di idghomkan dengan bunyi bacaan " مَرَّاقٍ  ( marrooqin ), padahal lafadz " marrooqin " itu maknanya = pembuat / penjual kuah masakan.

Saya sangat kagum atas kejelian dan ke jeniusan para Ulama ahlul Quran dan Qiro'at dalam menjaga ke ontetikan Al-Quran serta kejelian dalam membuka rahasia2 dibalik lafadz agar jauh dari tahrif maupun pengkaburan makna ayat.
Dengan adanya saktah ini semakin jelas makna yang dimaksud ayat tersebut.

————

Pada Suroh Yasin, ayat ke-52, yang berbunyi ;

(قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ)

Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).

Pada penggalan ayat " مِن مَرقَدِنَا  هَذَا ", menurut Imam Hafs ibn Sulaiman Al -Mughiroh Al Kufy , lafadz " Marqodinaa " harus di-saktah-kan. Kemudian dilanjutkan " Haadzaa ".

Kalau kita perhatikan lagi susunan kalimat sebelum dan sesudahnya,

يا ويلنا من بعثنا من مرقدنا
mempunyai arti " Celakalah kami, siapa yang membangkitkan kami dari kubur kami ", ini adalah ucapan orang kafir.
Kemudian malaikat menjawab ;

هذا ما وعد الرحمن..
yang artinya " Inilah yang dijanjikan Tuhan yang Maha Pemurah..

Nah..kalau bacaan tadi tidak di-saktah-kan pada lafadz " مرقدنا ( marqodinaa ), maka artinya ;" Siapa yang membangkitkan kami dari kubur kami INI. Padahal lafadz " هذا ( ini ) bukan termasuk perkataan orang-orang kafir. Maka dengan adanya saktah pada " marqodinaa " tersebut akan tampak jelas mana perkataan orang2 kafir dan mana jawaban Malaikat.

Dengan adanya saktah ini maka jelaslah pengertian makna ayat sehingga jauh dari pengkaburan arti maupun tahrif.

Selamat menerjuni Dunia Al-Qur'an.

————

Pada Suroh Al-Kahfi ayat 1 dan 2. Menurut Imam Hafs ibn Sulaiman Al-Mughiroh apabila mewasholkan bacaan ayat 1 dan 2 harus ada saktah pada akhir ayat 1 :

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ۜ) [Surat Al-Kahf : 1]

(قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا) [Surat Al-Kahf : 2]

Pada akhir ayat ke-1, lafadz عوجًا dibaca عوجَا ( dengan memanjangkan JA )

Sekarang kita bahas.

Lafadz  عوجًا dan  قيّمًا  ini menurut ilmu nahwu sah menjadi sifat dan mausuf, atau na'at dan man'ut karena sudah memenuhi syarat yang diantaranya adalah sama-sama Mudzakkar, Manshub dan Nakiroh.
Tetapi hakikat kedua lafadz tersebut bukan sifat dan mausuf. Lafadz  عِوَجًا menjadi maf'ul bih dan lafadz  قَيِّمًا  menjadi Hal dari lafadz  الكتاب.  Nah, agar  lafadz  قَيِّمًا  ini tidak dianggap sifat, maka disaktahkan pada  عوجًا  . Dengan adanya saktah ini justru menghindari persangkaan lain makna.

Wallohu a'lam bis showab.


SAJAK-SAJAK KU

Hai para Hamiilul Qur'an..
Bacalah..
Bacalah hadiah dari Tuhan itu..
Bacalah dengan akal..
Bacalah dengan hati..
Goreskan sekuatnya dalam benakmu..
Sementara waktu biarkan lisanmu istirahat sejenak..
Agar robithoh hatimu selaras dengan hatinya..
Sampai engkau mengerti " maa ana bi qoori in " permulaan kata agung dari NabiNya..

(  Danny Ma'shoum ,10 Robiul Akhir, 1436 H. )

————

Diamlah sejenak wahai sahabatku..
Diamlah..
Jangan kau beberkan kasih sayangNya didepanku..
Diamlah sejenak wahai sahabatku..
Jangan kau ceritakan kisah heroik kekasihNya..
Demi mendengar kedua Nama itu ..
Aku yang hina ini benar-benar tak kuasa menahan air mata..
Enam belas tahun yang lalu..
Aku menderita kerinduan karenanya..
Diamlah wahai sahabatku..
Diamlah..
Bisikkan saja dari balik tirai ini..
Rahasia harus tersimpan dari semua makhluk..
Misteri harus tersembunyi dari orang lain..
Lihat..
Apa yang telah kau perbuat padaku wahai sahabatku..
Sang Maha Melihat harus tersembunyi dari semua orang..
Diamlah sahabatku..
Diamlah..

( Danny Ma'shoum, 12 Robiul Akhir 1436 H )

———

Oh Robb...Memang tidak semua yang Engkau takdirkan sebagai penjaga KalamMu mampu memahami keinginan- keinginan yang tersembunyi dibalik ribuan ayat-ayatMu..

Waktu dan umur adalah dua kesempatan yang Kau berikan untuk mencoba menguji kami..

Tiap hari berjuz-juz terbaca saling bertautan dan silih berganti.
Disudut-sudut waqof kami terdiam, bukan sebab merenungi, tapi sebatas persiapan ambil bagian dari sisa-sisa kehidupan..

Diberanda awal-awal suroh, maupun nama-nama yang berjejer, seolah bab wajib yang harus terbaca runtut..

Kebodohan kronis macam apa yang sedang kami alami, Wahai Robb....

Setiap saat kami tanamkan kata cinta pada KalamMu, kami doktrin jiwa sekuat tenaga untuk meyakinkan kata-kata itu, Kami tiupkan hembusan kata-kata cinta pada kalamMu dari mulut kemulut..

Oh Robb...
Kami telah lalai dari kewajiban seorang pecinta..

Bukankah selayaknya menjadi suatu keharusan bagi pecinta ketika membaca surat dari kekasihnya  akan tertegun dengan maksud yang hendak disampaikan padanya..

Oh Robb..
Akal kami seolah terkikis, sama sekali tak terpikirkan dengan hati bersih, bahwa Engkau turunkan bukan hanya untuk NabiMu, tapi juga kami..

Dan selayaknya sibodoh ini diam dari bertanya-tanya atas kelayakan apa yang menjadi proritasMu memilih kami..

Sebab dalam diam, sibodoh akan naik satu tingkat jika ia memahami kehendakMu pada azali..

( Danny Ma'shoum , Kamis 1 Robiul Akhir 1436 H )

RENUNGAN SUFISTIK

RENUNGAN KEDAI SUFI

Suatu hari dipasar, kami berjumpa dengan seorang penjual Compact Disk ( kaset CD ), dia tengah asyik berdendang mengikuti irama lagu yang sedang diputarnya, ya, Orkes Melayu Monata yang sedang booming dikota inilah lagu yang sedang dinikmatinya. Ia terlihat begitu asyiknya, dengan kepala manggut-2 disertai hentakan-2 kecil, seolah tak menghiraukan lalu lalang orang yang hilir mudik disekitarnya. Lapaknya tampak sepi, sedari tadi tak satupun terlihat orang menghampiri selain beberapa orang yang ikut berdendang di warung pangkalan becak tempat nongkrong orang-2 yang sedang minikmati secangkir kopi dengan kepulan asap rokok mengepul di udara.
Kami beranjak menghampirinya, " sudah dapat pelaris ya pak, kok senang sekali kelihatannya ", Tanya kami. " belum Mas...dari tadi pagi belum satupun ada pembeli kemari ". Sahutnya. " hmmm, tapi bapak kelihatan senang sekali agaknya ? padahal tadi bapak bilang belum ada pembeli sedari tadi ". Tanya kami penasaran. " Ah..kalau saya santai saja Mas, toh sudah ada yang ngatur rejeki saya....kalau laku ya Alhamdulillaah..ndak ya ndak apa-apaa. yang penting hepii..". Jawabnya sambil tetap asyik manggut-2 mengikuti alunan musik yang diputarnya.
Sejenak kami terdiam. Dalam benak kami ada perasaan kagum dengan cara bapak ini mensiasati kegelisahan hatinya karena sepinya lapak kasetnya dari pembeli. Jika seseorang dalam kondisi seperti ini masih saja sempat husnudzhon dengan ketentuan Alloh yang berlaku padanya, maka bagaimana dengan kita yang setiap saat masih saja dihantui rasa khawatir atas jaminan rizki yang sudah dipastikan olehNya. Ikhtiar yang dilakukan si penjual kaset dalam menghibur diri dengan musik, agaknya merupakan sebuah cara jitu baginya dalam mengatasi sebuah kegalauan batin. Sebagian dari kita agaknya masih kurang memahami akan FirmanNya, " Laa tahzan, Innalloha ma'anaa ". kekhawatiran kita, kadang timbul karena rasa ketiadaan dalam hati kita bersama Alloh. Aqrob min hablil wariid ( Ia lebih dekat dari urat nadi ) seolah tiada terkonsep dengan baik dan terpatri dengan kuat dalam diri kita, sehingga perasaan-2 pesimis menghadapi cobaan hidup menjadikan kita patah semangat, putus asa dalam mengabdi dengan jujur kepadaNya  Sehingga sangat bertolak belakang dengan ungkapan rasa syukur kita ketika mendapatkan kenikmatan dariNya.

Serasa sangat pas sekali dengan apa yang dikatakan Imam Ibnu Athoillah dalam maqolah sufistiknya ;

متي كنت اذا اعطيت بسطك العطاء واذا منعت قبضك المنع، فاستدل على ثبوت طفوليتك وعدم صدقك في عبوديتك

" Suatu keadaan dimana ketika engkau diberi kenikmatan oleh Alloh menjadikan rasa senangmu atas pemberian itu, dan ketika tercegahnya kenikmatan itu menjadikan kecewamu kepadaNya, maka jadikanlah bukti olehmu atas masih adanya atas sifat kekanak-kanakan pada dirimu dan kurang jujurnya engkau dalam mengabdi kepadaNya ".

Dikedai sufi ini kami mengajak diri yang dhoif ini beserta saudara-2 ku lainnya. Bahwa Alloh senantiasa memberi sebuah pengajaran dari arti sebuah pengabdian melalui contoh-2 aktifitas kehidupan di sekitar kita, dan mungkin karena sederhanya Alloh memberi suatu perumpamaan sampai-2 tak disadari oleh kita yang ikut serta cassting ambil bagian dari suka duka dari alur kehidupan yang sudah di skenario olehNya.

(إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ) [Surat Al-Baqara : 26]

" Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, ".

Malam ini, dengan ditemani secangkir kopi panas dan rokok Gudang Garam, kami mengundang kalian untuk menikmati menu kedai sufi hari ini. Cicipilah barang sedikit, siapa tahu dari kita ada yang terlebih dulu mendapat petunjuk dari Alloh untuk segera menapak jalan menuju taman para Ahlulloh.

SALAM KEDAI SUFI. ( Danny Ma'shoum )

MATA RANTAI SANAD BIDANG AQIDAH AHLU SUNNAH WAL JAMAAH DI INDONESIA

Sanad Ulama di Bidang Akidah

Sanad Madzhab al-Asy'ari di Indonesia :

1. Syaikh al-Sunnah , Imam al-Mutakallimin Abu
al-Hasan al-Asy'ari (270-330 H/883-947 M).
2. Syaikh al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Bahili.
3. Ruknuddin al-Ustadz Abu Ishaq al-Asfarayini
(w. 418 H/1027 M). Pengarang al-Jami' fi Ushul
al-Din wa al-Radd 'ala al-Mulhidin.
4. Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali
bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-
Iskaf (w. 452 H/1034 M).
5. Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Ma'ali
Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478
H/1028-1085 M).
6. Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-
Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M).
Pengarang Syarh al-Irsyad ila Qawathi' al-
Adillah fi Ushul al-I'tiqad.
7. Dhiyauddin Umar bin al-Husain al-Razi (hidup
sebelum 559 H/1164 M). Pengarang Syarh al-
Irsyad ila Qawathi' al-Adillah fi Ushul al-I'tiqad .
8.
Fakhruddin Muhammad bin Umar al-Razi (544-606
H/1150-1210 M).
9. Syarafuddin Abu Bakar Muhammad bin
Muhammad al-Harawi.
10. Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdullah
al-Taftazani.
11. Al-Hafizh Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini
(683-750 H/1284-1349 M).
12. Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya'qub
al-Lughawi al-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817
H/1329-1415 M).
13. Al-Hafizh Taqiyyuddin Muhammad bin
Muhammad bin Fahad al-Makki al-Syafi'i
al-'Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466
M).
14. Syaikh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Zainuddin
Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari
(826-926 H/1423-1520 M). Pengarang Ihkam
al-Dilalah 'ala Tahrir al-Risalah dan Fath al-Ilah
al-Majid bi-Idhah Syarh al-'Aqaid.
15. Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Ramli
(919-1004 H/1513-1596 M).
16. Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044
H/1557-1634 M).
17. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin
al-'Ala' al-Babili al-Syafi'i al-Azhari (1000-1077
H/1591-1666 M).
18. Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki al-Syafi'i
(1048-1134 H/1638-1722 M).
19. Salim bin Abdullah al-Bashri al-Syafi'i (w. 1160
H/1747 M).
20. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-
Dafari al-Syafi'i (w. setelah 1161 H/ M).
21. Isa bin Ahmad al-Barawi al-Zubairi al-Syafi'i
(w. 1182 H/1768 M). Pengarang Hasyiyah 'ala
Syarh Jauharat al-Tauhid karya al-Laqqani.
22. Muhammad bin Ali al-Syanawani al-Syafi'i (w.
1233 H/1818 M). Pengarang Hasyiyah 'ala Syarh
Jauharat al-Tauhid karya al-Laqqani.
23. Utsman bin Hasan al-Dimyathi.
24. Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304
H/1816-1886 M).
25. Sayid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha
al-Dimyathi al-Husaini al-Syafi'i (w. 1310
H/1892 M).
26. Muhammad Mahfuzh bin Abdullah al-Tarmasi
(1285-1338 H/1868-1920 M).
27. Para ulama Tanah Air, seperti KH. Moh. Hasyim
Asy'ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan
Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH.
Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH.
Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma'shum
bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi
Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH.
Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar
Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan
lain-lain.

Sanad Madzhab al-Maturidi di Indonesia :

1. Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945 M).
2. Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa
al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M).
3. Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi.
4. Muhammad bin Husain al-Bazdawi.
5. Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr
Muhammad bin Muhammad bin Husain al-
Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M).
6. Al-Hafizh Najmuddin Umar bin Muhammad al-
Nasafi (461-537 H/1068-1142 M).
7. Muhammad bin Muhammad bin Nashr al-
Nasafi (w. 693 H/1294 M).
8. Husamuddin Husain bin Ali al-Saghnaqi (w.
711 H/1311 M). Pengarang Syarh al-Tamhid li-
Qawa'id al-Tauhid .
9. Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-
Kasyqari.
10. Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi.
11. Al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani (773-852
H/1372-1449 M).
12. Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926
H/1423-1520).
13. Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Ramli
(919-1004 H/1513-1596 M).
14. Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi
al-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661
M).
15. Burhanuddin Abu al-'Irfan al-Mulla Ibrahim bin
Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690 M).
16. Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin
Muhammad al-Budairi al-Husaini al-Dimyathi al-
Asy'ari al-Syafi'i, populer dengan sebutan Ibn
al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M).
17. Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir
al-Samanudi al-Syafi'i (1099-1199
H/1688-1785 M).
18. Muhammad bin Ali al-Syanawani (w. 1233
H/1818 M).
19. Utsman bin Hasan al-Dimyathi.
20. Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304
H/1816-1886 M).
21. Sayid Abu Bakar bin Muhammad Syatha al-
Dimyathi (w. 1310 H/1892 M).
22. Syaikh Muhammad Mahfuzh bin Abdullah al-
Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M).
23. Para ulama Tanah Air seperti KH. Moh. Hasyim
Asy'ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan
Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH.
Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH.
Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma'shum
bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi
Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH.
Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar
Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan
lain-lain. [1]

Demikian mata rantai sanad madzhab al-Asy'ari
dan madzhab al-Maturidi yang sampai kepada guru-
guru kita, para tokoh pendiri organisasi Nahdlatul
Ulama. Selain sanad di atas, masih banyak jalur-
jalur lain yang menyambungkan mata rantai akidah
Ahlussunnah Wal-Jama'ah kepada para ulama
terdahulu, hingga kepada Rasulullah SAW . Wallahu
a'lam.

[1] Struktur genealogi ini diambil dari kitab
Kifayat al-Mustafid lima 'Ala min al-Asanid , karya
al-Syaikh al-Muhaddits al-Musnid al-Faqih
Muhammad Mahfuzh bin Abdullah al-Tarmasi, edisi
Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-
Makki, terbitan Dar al-Basyair al-Islamiyah, Beirut,
hal. 32-33.

File saya nukil dari Blog Kang Muhammad Makruf Khozin

PENTINGNYA SANAD KEILMUAN

Mata Rantai Keilmuan

Islam sangat menganjurkan ketelitian periwayatan / sanad sebagai mata rantai atas penyandaran keilmuan, terutama dalam bidang Qur'an ( qiroat ) dan Hadist ( matan ). Untuk itu Islam mengajak kita selaku ummatnya agar mengetahui kebenaran, mencari dan meneliti setiap yang kita dengar maupun yang kita lihat.

Dalam Al-Qur'an, Suroh Al-Hujuroot, Juz 26, ayat 6, Alloh SWT berfirman ;

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ)

" Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu ".

Kemudian dalam suroh Al-Isro', Juz 15, Ayat 36 ;

(وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا)

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya ".

Begitupun Nabi SAW memperingatkan kita agar tidak berdusta secara umum dan khususnya tidak berdusta atas nama Nabi SAW.
Dalam hadist mutawatir yanv diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim ibn Hajjaj, Rosululloh SAW bersabda ;

ان كذبا علي ليس ككذب علي احد، فمن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

" Berbohong atas namaku tidak lah sama seperti berbohong atas nama orang lain, maka barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia menduduki tempatnya di neraka ".

Untuk itu dalam kaedah mustholah hadist, periwayatan yang teliti dan benar sangat dibutuhkan  agar senantiasa jauh dari kedustaan dan kecurangan.
Imam Muslim ibn Hajjaj meriwayatkan ;

من حدث بحديث يرى انه كذب فهو احد الكاذبين

" Barang siapa yang meriwayatkan suatu hadist yang diketahui kebohongannya, maka ia termasuk salah satu dari pembohong juga ".

Sekarang mari kita coba lihat ketelitian periwayatan hadist dimasa sahabat..
Sebagaimana kita ketahui bahwa Khulafaur Rosyidin terutama Abu Bakar dan Umar ibn Khotthob sangat hati2 dalam menerima hadist, beliau meneliti hadist dan perawi nya serta meminta kesaksian dari orang lain atas kebenaran hadist tersebut. Begitu juga ketika seseorang menceritakan hadist kepada sahabat Ali ibn Abi Tholib, maka beliau meminta sumpah odang tersebut, jika berani bersumpah barulah beliau mau menerima hadist yang diriwayatkan orang tersebut. beliau berkata ;

حدثوا الناس بما يعرفون ودعوا ما ينكرون، اتحبون ان يكذب الله ووسوله
( تذكرة الحفاظ، ص 12 )

" Ceritakanlah apa yang mereka ketahui dan tinggalkanlah apa yang mereka ingkari, apakah engkau senang apabila Alloh dan RosulNya didustakan ".

( Tadzkirotul Huffadz, 12 )

Masih dalam kitab yang sama ( Tadzkirotul Huffadz, Hal, 15 ) Sahabat Abdulloh ibn Mas'ud berkata ;

كفي بالمرء اثما ان يحدث بكل ما سمع. ما انت تحدث قوما حديثا لا تبلغه عقولهم الا كان فتنة لبعضهم.

" Cukuplah sebagai suatu dosa orang yang mencetitakan segala apa yang ia dengar. Janganlah engkau menceritakan kepada suatu kaum dengan hadist yang tidak terjangkau oleh akal mereka, karena akan menimbulkan fitnah bagi sebagian dari mereka ".

Nah, sekarang kita rujuk ketelitian periwayatan dimasa Tabi'in.

Dalam kitab " Fii Rihaabis Sunnah al Kutubis Sihahis Sittah " terj karya dari DR. Muhammad Abu Syuhbah, Hal 33, menukil dari Shohih Muslim, bahwa Imam Ibnu Sirin berkata ;

قال ابن سرين، ان هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

" Ilmu hadist ini adalah agama, maka telitilah orang yang engkau ambil ajaran agama itu "

وقال سفيان الثوري، الاسناد سلاح المؤمن

Berkata Sufyan Ats-Tsauriy, " Sanad Hadist adalah senjata orang mukmin ".

وقال عبدالله ابن المبارك، الاسناد من الدين لو لا الاسناد لقال من شاء ما شاء

Berkata Abdulloh Ibn Al Mubarok, " Sanad itu ketentuan agama, seandainya tanpa sanad maka orang akan berbicara seenaknya ".

وقال الشافعي، مثل الذي يطلب الحديث بلا اسناد كحاطب ليل

Imam Asy-Syafii berkata, " Perumpamaan orang yang mencari hadist tanpa sanad, bagaikan pencari kayu bakar dimalam hari ".

Dan ini berlaku dalam fan keilmuan lainnya agar otoritas dan urgensinya terjaga dengan baik.
Jadi dalam Islam tidak dikenal yang namanya ilmu " gothak-gathuk asal mathuk ".

MUNAJAT GURU IMAM ABU MANSHUR AL-MATURIDI

Didalam Kitab Al-Mawaa'idz Al-'Ushfuriyyah, Hal.4, Karya As-Syaikh Muhammad ibn Abi Bakr yang masyhur dengan sebutan Syaikh Usyfuriy menuturkan sebuah hikayat sufiyyah ;

لما قربت وفاة استاذ ابي منصور الماتريدي رحمه الله تعالي  وكان يومئذ ابن ثمانين سنة فمرض الشيخ فامر ابا منصور ان يطلب عبدا بمثله سناو يشتريه ويعتقه عنه فطلب ابو منصور فما وجد مثل هذا العبد فقالوا كيف تجد عبدا ابن ثمانين سنة وهو يبقى علي الرق ولم يعتقه فرجع ابو منصور رحمه الله تعالي الي استاذه فاخبره عن مقالة الناس فلما سمع الاستاذ هذه المقالة وضع رأسه علي التراب وناجى ربه وقال الهى ان المخلوق لا يحتمل كرمه اذا بلغ عبده ثمانين سنة بان يبقى علي الرق بل يعتقه فانا بلغت ثمانين سنة فكيف لا تعتقنى من النار وانت كريم جواد عظيم غفور شكور فأعتقه الله تعالي بحسن مناجته.

Ketika sudah dekat ajal Guru Imam Abu Manshur Al-Ma'turidy ( pendiri madzhab Aswaja, partner Imam Abul Hasan Al - Asy'ari ) yang telah berusia 80 tahun. Disaat sakitnya, sang Guru memerintahkan kepada Imam Abu Manshur Al-Maturidy agar mencari seorang budak yang usianya sama dengan usia Gurunya. Dan kalau sudah ketemu agar segera dibeli dan dimerdekakan. Akhirnya Imam Abu Manshur berusaha mencari budak dengan kriteria tersebut sesuai pesanan Gurunya, akan tetapi ia tidak menemukan budak tersebut. Sedangkan banyak orang yang mengatakan kepada beliau, " Bagaimana bisa kamu mendapatkan seorang budak yang usianya 80 tahun yang statusnya masih budak, maka pasti kamu tidak akan pernah menjumpainya ".
Kemudian Imam Abu Manshur pulang kembali mengahadap sang Guru seraya menceritakan tentang apa yang telah dikatakan orang banyak. Setelah sang Guru mendengar apa yang dikatakan oleh Imam Abu Manshur, dia langsung meletakkan kepalanya ditanah ( bersujud ) bermunajat kepada Alloh, seraya berkata, " Wahai Alloh, sesungguhnya mulianya makhluq adalah orang yang telah mencapai usia 80 tahun, dimana pada usia itu seseorang tidak akan membangkang bila dirinya masih tetap menjadi budak, tentu harus dimerdekakan, padahak diriku sudah mencapai usia 80 tahun. Maka bagaimana Engaku tidak memerdekakan diriku dari siksa api Neraka, padahal Engkau adalah Dzat Yang Maha Mulia, Dzat Yang Banyak Memberi, Dzat Yang Agung, Dzat Yang Pengasih, Dzat Yang Syakuur, dan Dzat Yang Bijaksana..".

Oleh karena saking bagusnya cara munajat Guru Imam Abu Manshur Al-Maturidy ini akhirnya Alloh SWT membebaskannya dari siksa Neraka.

CARA MEMAHAMI QOUL IMAM ASY-SYAFI'I

MEMAHAMI QOUL IMAM SYAFI'I DALAM PERSPEKTIF IMAM
NAWAWI
Banyak mutira kalam Imam Syafii yang dikutip para ulama
sesudahnya baik dalam ranah fiqh maupun lainnya. Dan
salahsatu wasiat Imam Syafii yang cukup terkenal adalah :
ﺇﺫﺍ ﺻﺢ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻬﻮ ﻣﺬﻫﺒﻲ
"Apabila saheh hadits maka itulah mazhabku"
Wasiat beliau ini banyak disalah artikan, di mana banyak
kalangan yang dengan mudahnya menyatakan bahwa
pendapat Imam Syafii hanya dapat di amalkan bila sesuai
dengan hadits shahih, sehingga saat ia menemukan satu
hadits shahih maka ia langsung berpegang kepada dhahir
hadits dan melarang mengikuti pendapat Imam Syafii
dengan alasan mengamalkan wasiat Imam Syafii. Bahkan
mereka menjadikan wasiat Imam Syafii ini sebagai hujjah
tercelanya taqlid, mereka mengartikan wasiat ini sebagai
larangan dari Imam Syafii untuk taqlid kepada beliau.
Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ terhadap wasiat Imam
Syafii tersebut. Imam Nawawi mengatakan :
ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺬﻯ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻟﻴﺲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺍﻥ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺭﺃﻯ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎ
ﻗﺎﻝ ﻫﺬﺍ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻋﻤﻞ ﺑﻈﺎﻫﺮﻩ : ﻭﺍﻧﻤﺎ ﻫﺬﺍ ﻓﻴﻤﻦ ﻟﻪ ﺭﺗﺒﺔ
ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺻﻔﺘﻪ ﺃﻭ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻨﻪ : ﻭﺷﺮﻃﻪ
ﺃﻥ ﻳﻐﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻢ ﻳﻘﻒ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺻﺤﺘﻪ : ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻧﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻌﺪ ﻣﻄﺎﻟﻌﺔ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻛﻠﻬﺎ
ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻣﻦ ﻛﺘﺐ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﺍﻵﺧﺬﻳﻦ ﻋﻨﻪ ﻭﻣﺎ ﺃﺷﺒﻬﻬﺎ ﻭﻫﺬﺍ ﺷﺮﻁ
ﺻﻌﺐ ﻗﻞ ﻣﻦ ﻳﻨﺼﻒ ﺑﻪ ﻭﺍﻧﻤﺎ ﺍﺷﺘﺮﻃﻮﺍ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎ ﻻﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ
ﺍﻟﻠﻪ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻈﺎﻫﺮ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺭﺁﻫﺎ ﻭﻋﻠﻤﻬﺎ ﻟﻜﻦ ﻗﺎﻡ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ
ﻋﻨﺪﻩ ﻋﻠﻰ ﻃﻌﻦ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﻧﺴﺨﻬﺎ ﺃﻭ ﺗﺨﺼﻴﺼﻬﺎ ﺃﻭ ﺗﺄﻭﻳﻠﻬﺎ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ
“Bukanlah maksud dari wasiat Imam Syafii ini adalah
setiap orang yang melihat hadits yang shahih maka ia
langsung berkata inilah mazhab Syafii dan langsung
mengamalkan dhahir hadits. Wasiat ini hanya di tujukan
kepada orang yang telah mencapai derajat ijtihad dalam
mazhab sebagaimana telah terdahulu (kami terangkan)
kriteria sifat mujtahid atau mendekatinya. syarat seorang
mujtahid mazhab baru boleh menjalankan wasiat Imam
Syafii tersebut adalah telah kuat dugaannya bahwa Imam
Syafii tidak mengetahui hadits tersebut atau tidak
mengetahui kesahihan haditsnya. Hal ini hanya didapatkan
setelah menelaah semua kitab Imam Syafii dan kitab-kitab
pengikut beliau yang mengambil ilmu dari beliau. Syarat ini
sangat sulit di penuhi dan sedikit sekali orang yang
memilikinya. Para ulama mensyaratkan demikian karena
Imam Syafii mengabaikan makna eksplisit dari banyak
hadits yang beliau temukan dan beliau ketahui namun itu
karena ada dalil yang menunjukkan cacatnya hadits itu
atau hadits itu telah di nasakh, di takhshish, atau di takwil
atau lain semacamnya”. (Majmuk Syarh Muhazzab Jilid 1
hal 64)
Dari komentar Imam Nawawi ini sebenarnya sudah sangat
jelas bagaimana kedudukan wasiat Imam Syafii tersebut,
kecuali bagi kalangan yang merasa dirinya sudah berada di
derajat mujtahid mazhab yang kata Imam Nawawi sendiri
pada zaman beliau sudah sulit di temukan.
Wallahu a'lam...

Saduran ulang dari file akhi fillah Nurul Huda Al-Junaidy.

NILAI WAKTU MENURUT ULAMA SALAF

CARA ULAMA SALAF MENJAGA WAKTU SECARA PRAKTIS DAN EFEKTIF.

وفي قيمة الزمن عند العلماء، ص. ٥٩. للشيخ عبد الفتاخ ابو غدة.

وقد كان القدماء — يعني السلف — يحذرون من تضييع الزمان، قال الفضيل ابن عياض : اعرف من يعد كلامه من الجمعة الي الجمعة. ودخلوا علي رجل من السلف، فقالوا : لعلنا شغلناك ؟ فقال : اصدقكم، كنت اقرأ فتركت القراءة لاجلكم !.    وجاء عابد الي السري السقطي، فرأى عنده جماعة، فقال : صرت مناخ البطالين ! ثم مضى ولم يجلس.
ومتى لان المزور طمع فيه الزائر فأطال الجلوس، فلم يسلم من أذى. وقد كان جماعة قعدوا عند معروف الكرخى، فأطالوا، فقال : ان ملك الشمس لا يفتر عن سوقها، فمتى تريدون القيام ؟!

وكان جماعة من السلف يحفطون اللحظات، وكان داود الطائى يستف الفتية، ويقول : بين سف الفتيت واكل الخبز قراءة خمسين ايو. وكان عثمان الباقلاوى دائم الذكر لله تعالى، فقال : اني وقت الافطار احس بروحي كانها تخرج ! لاجل اشتغالي بالاكل عن الذكر. واوصى بعض السلف اصحابه فقال : اذا خرجتم من عندي فتفرقوا، لعل احدكم يقرأ القرآن في طريقه، ومتى اجتمعتم تحدثتم.
واعلم ان الزمان اشرف من ان يضيع منه لحظة، فان في " الصحيح " عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال : من قال سبحان الله العظيم وبحمده، غرسة له بها نخلة في الجنة (١). فكم يضيع الادمي من ساعة يفوته فيها الثوب الجزيل ؟! وهذا الايام مثل المزروعة. فهل يجوز للعاقل ان يتوقف عن البذر او يتوانى ؟

(١). الحديث عن جابر ابن عبد الله رضي الله عنهما، رواو الترمذي في " جامعه " ٥ / ٥١١ في الدعوات، والحاكم في " المستدرك " ١ / ٥٠١ في الدعاء. وقال الترمذي فيه : " حديث حسن غريب ". وقال الحاكم : " صحيح علي شرط مسلم " انتهى. فقول ابن الجوزي " في الصحيح...." ليس كما ينبغي لانه يتبادر منه انه في الصحيحين او في احدهما وليس هو كذلك.

Didalam Kitab Qimatuz Zaman ' Indal Ulama' , karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Hal. 59.

Bahwa para ulama salaf selalu menghindari pemborosan waktu. Al Fudhail ibn 'Iyadh berkata , " Saya mengetahui beberapa orang yang jarang dijumpai berbicara mulai dari hari Jum'at sampai pada Jum'at berikunya. Misalnya pada suatu hari ada beberapa orang datang kepada salah seorang salaf, ketika masuk mereka berkata, " Maaf, kalau sekiranya kedatangan kami merepotkan anda ", Salaf itu menjawab , " Sungguh benar apa yang anda katakan, tadinya saya sedang sibuk membaca, dan harus saya hentikan karena kedatangan kalian ".
Salah seorang ahli ibadah datang bertamu kerumah As-Sari As-Saqothi, ketika masuk, disana terdapat banyak orang yang sedang ngobrol. Melihat keadaan seperti itu si ahli ibadah keluar lagi seraya berkata, " Rumah anda telah menjadi kandang para pengangguran ".
Memang benar, apabila orang yang dikunjungi tidak tegas, maka itu merupakan kesempatan bagi tamu-2nya untuk nongkrong berlama-lama dan dia pasti akan merasa terganggu.
Makruf Al-Karkhi adalah dalah satu contoh orang yang tegas terhadap tamu-2nya. Ketika beberapa orang datang kerumah beliau lalu duduk berlama-lama disana, maka beliau pun langsung berdiri dan berkata, " Maaf, malaikat penjaga matahari belum capek menggerakkannya, maka kapan anda akan pulang ?"

Sebagaimana diketahui, bahwa para ulama salaf tidak pernah menyia-nyiakan waktunya sekejap pun. Dawud At-Thoi misalnya, ketika membuat roti, ia berkata, " mulai mengupas, menumbuk hingga menjadi roti dan saya makan, saya selalu membaca tidak kurang dari 50 ayat.
Lain halnya dengan Ustman At-Tsaqqolany yang tak pernah lalai sedikitpun waktu dzikir kepada Alloh. Beliau pernah berkata ," Apabila tiba waktu sarapan pagi, saya merasa seolah-olah roh ini mau keluar, karena waktu makan selalu menyibukkan saya dari berdzikir kepada Alloh.

Sebagian ulama salaf sering kali berpesan kepada sahabat-2nya, " Apabila anda keluar dari majelis ini hendaklah kalian semua berpencar, agar anda bisa membaca ( murojaah ) Al-Quran sambil berjalan. Sebab apabila kalian keluar bergerombol, niscaya kalian akan ngobrol ".
Ketahuilah, h
bahwa waktu tidak boleh dilalaikan sekejap pun. Sebagaimana diriwayatkan dalam " As-Shahih " dari Rosululloh SAW, yang bersabda : " Siapa yang membaca SUBHANALLOHIL 'ADZHIM WA BI HAMDIH, maka akan ditanamkan baginya untuk sekali baca satu pohon kurma di surga " (1).
Berapa banyak kita melihat orang-2 menyia-nyiakan waktunya, yang berarti bahwa mereka juga menyia-nyiakan pahala yang besar. Padahal hari-2 kita di dunia ini seperti ladang. Apakah logis bagi orang berakal untuk berhenti atau enggan untuk menaburkan benih, padahal ia sangat membutuhkannya ?

(1).  Hadist ( diatas ) ini dari Jabir r.a. dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Al-Jami', Juz 5 / 551 pada bab Ad-Da'awaat. Begitu juga Al-Hakim dalam Al-Mustadroknya, Juz 1 / 501, dan beliau berkata bahwa hadist ini Shohih atas syarat Imam Muslim. At-Tirmidzi menghukumi hadist ini dengan hadist Hasan Ghorib. Adapun pendapat Ibnu Al-Jauzy yang mengatakan bahwa hadist ini berada dalam kitab As-Shahih tidaklah benar, karena hadist tersebut tidak terdapat disana.

SEPUTAR KAJIAN AL-QUR'AN

HUKUM MENULIS AYAT AL QURAN BAGI MUHDIST ( Orang yang berhadast )

التبيان في اداب حملة القرآن، ص. ١٩٢

فصل : ويحرم علي المحدث مس /  مصحف وحمله، سواء حمله بعلاقته او بغيرها، وسواء مس نفس المكتوب او الحواشي او الجلد، ويحرم مس الخريطة والغلاف والصندوق اذا كان فيهن المصحف. هذا هو المذهب المختار، وقيل لا تحرم هذه الثلاثة، وهو ضعيف. ولو كتب القرآن في لوح فحكمه حكم المصحف، سواء قل المكتوب او كثر حتى لو كان بعض اية كتب للدراسة حرم مس اللوح.

At-Tibyan fii Adaabi Hamalatil Qur'an, Hal. 192 ,Karya Imam An-Nawawiy Damaskus, pada nash ;
Pasal : Diharamkan atas orang yang berhadast menyentuh mushaf atau membawanya, baik membawanya dengan pegangannya atau dengan lainnya, baik ia menyentuh tulisannya atau tepinya atau kulitnya. Diharamkan pula menyentuh wadah dan sampul serta kotak tempat mushaf itu berada, inilah madzhab yang terpilih. Ada yang mengatakan bahwa ketiga macam ini tidak diharamkan akan tetapi pendapat ini lemah. Andaikata Al-Quran ditulis pada sebuah papan, maka hukumnya sama dengan hukum mushaf itu sendiri, baik tulisannya sedikit ataupun banyak. Bahkan seandainya hanya sebagian ayat yang ditulis untuk belajar tetap diharamkan menyentuh papan tersebut.

————

HUKUM MENULIS AL-QURAN DENGAN HURUF LATIN ('AJAMIYYAH )

Seringkali kita jumpai banyak penulisan penggalan ayat-ayat Al-Quran dalam sebuah komentar-2 menggunakan tulisan latin. Dan alasan yang paling original sekali adalah Keyboard Hp belum terinstal Arabic keyboard, atau alasan klasik, Hp Jadul, atau karakter font tidak mendukung penulisan teks arab.
Bagaimana tinjauan fiqh dalam Hal ini.

Marji' (1).
Kitab I'anatut Tholibin, Hal. 68 ;

وكتابته بالعجمية اى يحرم كتابته بالعجمية ورايت في فتاوى العلامة ابن حجر انه سئل هل يحرم كتابة القرآن بالعجمية كقرائته فاجاب رحمه الله بقوله قضية ما في المجموع عن الاصحاب التحريم.

" Menulisnya dengan tulisan latin, yaitu diharamkan menulisnya dengan tulisan 'ajam / latin, dan saya melihat didalam kitab Fatawa 'Allamah Imam Ibnu Hajar bahwa sesungguhnya beliau ditanya tentang apakah hukum menulis Al-Quran dengan tulisan latin sebagaimana pembacaannya. Maka beliau rohimahulloh menjawab dengan perkataannya bahwa keharaman itu sudah menjadi keputusan mayoritas Sahabat.

—————

Sunnah mencium Mushaf sebagaimana qiyas kesunnahan mencium Hajar Aswad..

نهاية القول المفيد, صحيفة 244.
ونصه ; ويستحب تقبيل المصحف بالقياس علي تقبيل الحجر الاسود لانه هدية من الله عز وجل فشرع تقبيله, ويستحب تطييبه وتعظيمه

Dalam Kitab Nihayatul Qoulil Mufid, Hal. 244.
" Dianjurkan mencium Mushaf dengan qiyas terhadap diperbolehkannya mencium Hajar Aswad. Karena itu merupakan hadiah dari Alloh azza wajalla, maka di Syariatkan menciumnya, dan dianjurkan memberi wewangian dan memuliakanya.

—————

Marji' tentang dasar runtutan bacaan setelah khotmil Quran.

Seringkali kita jumpai pada acara / moment simaan Quran / khotmil Quran, Qori masih melanjutkan bacaan setelah suroh An-Naas disambung bacaan Al Fatihah kemudian Alif Laam Miim sampai pada " ulaaika humul muflihuun " kemudian disambung lagi bacaan akhir suroh Al Baqoroh ( Aamanar rosuul — anta maulaana fanshurnaa ' alal qoumil kaafiriin ), dan ternyata hal ini juga dilakukan Nabi SAW.

١. سراج القارئ المبتدئ، ص. ٤٠٠

تكميل : في مسائل تتعلق بالحتم. الاول ثبت النص عن المكى من رواية البزي وقنبل وغيرهما ان من قرأ وختم الي آخر الناس قرأ الفاتحة والي المفلحون من اول البقرة وشاع العمل بهذا في سائر بلاد المسلمين في قراءة العرب وغيرها للمكى وغيره سواء انوى ختم ما شرع فيه ام لا ولهم علي ذلك ادلة منها ما هو مأثور عن النبي صلي الله عليه وسلم ومنها ما هو عن السلف ومنها ما هو عن المقتدي بهم من الخلف فقد روي عن المكى من طرق عن درباس مولذ ابن عباس عن عبد الله ابن عباس عن ابي ابن كعب رضي الله عنهم عن النبي صلي الله عليه وسلم انه كان اذا قرأ قل اعوذ برب الناس افتتح من الحمد ثم قرأ من البقرة الي واولئك هم المفلحون ثم دعا بدعاء الختم ثم قام.

Didalam kitab Sirojul Qori' Al Mubtadi', Hal. 400.

Penyempurnaan ; didalam masalah yang berkaitan dengan khotmil Quran. Pertama ,penetapan nash dari Al-Makki dari riwayat Imam Al-Bazzi dan Imam Qunbul dan selain keduanya, bahwa sesungguhnya amaliyah ini, yaitu orang yang membaca dan mengkhotamkan ( bacaan Al Quran ) sampai akhir suroh An-Naas, lalu ( dilanjutkan ) membaca Al-Fatihah sampai pada " Ulaaika humul muflihuun " dari awal suroh Al-Baqoroh sudah menjadi amaliyah yang tersebar luas di seluruh negara-negara Islam ( baik ) amliyyah bacaan di negara Arab sendiri maupun negara selainnya.
Dan bagi Al Makkiy dan selainnya sama saja, apakah didalam khotmil Quran disyariatkan begitu atau tidak. Dan ada beberapa petunjuk bagi mereka terhadap hal tersebut, setengah daripadanya adalah apakah ( amaliyah ) itu perbuatan Nabi SAW, ataukah dari amaliyah para Ulama salaf, ataukah meneladani dari amaliyyah para Ulama kholaf, maka sungguh telah diriwayatkan dari Al Makkiy dari jalur Dirbaas , hamba sahaya dari Ibnu Abbas dari Abdulloh Ibnu Abbas dari Ubay Ibn Ka'ab ( mudah2 Alloh meridhoi mereka semua ) dari Nabi SAW, sesungguhnya ada pada diri beliau ketika membaca " Qul a'uudzu birobbin Naas " membukanya dengan bacaan tahmid kemudian membaca ( sebagian ayat ) dari suroh Al-Baqoroh sampai pada ayat " wa ulaaika humul muflihuun ", kemudian berdoa dengan doa khotmil Quran, lalu beliau berdiri.

Kesimpulan saya pribadi, jika mengacu pada keterangan diatas, maka tambahan seperti bacaan ayat kursiy lalu berlanjut pada " aamanar rasuul...dst sampai akhir suroh Al Baqoroh, adalah sebagai pelengkap saja, jadi diambil bagian awal suroh yaitu Alif Laam Miim—wa ulaaika humul muflihuun, kemudian bagian tengah suroh Al-Baqoroh, yaitu dimulai dari bacaan ayat kursiy saja, kemudian diambil pada bagian akhir suroh Al Baqoroh, yaitu mulai dari ayat " Aamanar rosuulu—fanshurnaa alal qoumil kaafiriin ". Semata-mata ikhtiar Ulama kita dalam rangka tabarrukan Suroh Al-Baqoroh dan hikmahnya bahwa dengan berakhirnya suroh An-Naas bukan berarti pembacaan telah selesai, karena untuk membaca serta mengkaji dan menggali potensi yang ada pada ayat2 Al Quran tidak akan pernah selesai sampai kita meninggal, sebab terus akan menimbulkan ilmu baru dengan semakin lama dibaca dan diulang akan banyak hal2 baru yang akan terungkap.

Selamat menerjuni dunia Al Quran.

SEPUTAR KAJIAN AL-QUR'AN

DASAR SEBUTAN AL HAFIDZ ATAU AL-HAMIL BAGI PENGHAFAL AL-QUR'AN & HIKMAHNYA.

Sebutan Al Hafidz dengan Al Hamil, bagi penghafal Quran adalah sama saja, sama baiknya dan sama benarnya. Hanya saja dalam konteks sekarang lebih tepatnya dengan sebutan Al Hafidz.

ta'bir kitab :

١. المعجم الوسيط، الجزء الاول، ص ١٨٥.
الحافظ : من يحفظ القرآن الكريم او من يحفظ عددا عظيما من الحديث.

1. Kitab Al Mu'jamul Wasith, juz 1, Hal. 185.

Al Hafidz : yaitu orang yang menjaga / menghafal Al Quran Al Kariim, atau orang yang menghafal dalam jumlah besar dari Hadist Nabi SAW.

٢. مختار الصحاح، ص ١٥٦.

قلت وكذا ذكر ثقلت في الفصيح و ( الحملة ) بفتحتين جمع حامل يقال هم حملة العرش وحملة القرآن.

2. Kitab Mukhtarus Shohah, Hal. 156.
Aku berkata " seperti halnya  pentingnya kefasihan didalam membaca Al Quran. dan lafadz " Al Hamalah " bentuk jamak dari lafadz " Haamil ". Dikatakan ; mereka yang memikul Arsy dan Al Quran.

٣. المعجم الوسيط، ج ١ / ١١٩ —مادة : ح م ل.

( حملت ) المرأة—حملا. الى ان قال ؛ و—القرآن. ونحوه : حفظه وعمل به.

3. Kitab Al Mu'jamul Wasith, jilid 1, Hal. 119 pada materi lafad ح م ل / حمل.

Perempuan itu mengandung / membawa beban—sampai pada perkataan ; " Dan—Al Quran ( — maksudnya membawa / menopang ). semisal ; Menghafalnya dan mengamalkannya.

Jadi kalau dapat kami simpulkan, bahwa Istilah Al Hafidz lebih tertuju pada peranan menghafalnya beserta menjaganya. Sedangkan Al - Hamil lebih pada kesamaan dari pengertian Al-Hafidz, hanya saja kalau dilihat dari makna lafadz memberikan indikasi bahwa tidak sekedar hafal, menjaga, tapi lebih menuju pada pengamalan itu sendiri.

Adapun asumsi kami, para Masyayikhul Quran didalam penggunaan istilah Al Hafidz untuk saat ini, adalah semata-mata tabarruk pada mafhum dari pada ayat ;

(إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ) [Surat Al-Hijr : 9]

" Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya ".
Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa Alloh menggunakan istilah " Kami ", bukan " Aku ". Inilah salah satu pengajaran dari Alloh kepada kita akan ketawaddu'an dalam mendefinisikan diri kita ketika berbicara ataupun selainnya. Dengan menghilangkan ke " aku" an dalam diri kita, maka kita akan terhindar dari sifat ujub, takabbur.
Karena seringkali kita lupa menjelaskan kedudukan nikmat dapat menghafal 30 Juz yang ada pada diri kita, semisal ditanya seseorang tentang bagaimana agar cepat hafal, dan apa kiat2nya ?  lalu kita mengatakan ," Bacalah doa ini, itu agar cepat hafal..dsb.
Disini ke " aku "an kita tampak sekali, seyogyanya pertama kali jawaban yang harus kita utarakan adalah, " pertama-tama mohonlah kepada Alloh agar dipermudah dalam menghafal dan diberikan daya ingat yang kuat..", 
Nah..kita kedepankan dulu Hak Sang Pemberi Nikmat sebagaimana Dia berikan kepada kita, selanjutnya kita beri saran2 sesuai dengan pengalaman atau metodologi belajar kita.
Sesungguhnya orang yang bertanya kepada kita, pada dasarnya Alloh mempercayakan kepadanya bahwa dengan pertanyaan yang diajukan kepada kita memberikan suatu keyakinan bahwa kita yang bisa menyelesaikan problemnya. Tetap dengan Fadholnya Alloh juga tentunya.

Itulah kiranya bahwa Ahlul Quran adalah Ahlulloh.
Sebagaimana Hadist yang diriwayatkan Imam An-Nasai dalam kitabnya " Fadhoilul Qur'an ", Hal. 98 ;

اخبرنا عبيد الله ابن سعيد عن عبد الرحمن قال : حدثني عبد الرحمن بن بديل ميسرة عن ابيه عن انس ابن مالك قال : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ان لله اهلين من خلقه، قالوا : ومن هم يا رسول الله ؟ قال : اهل القرآن هم اهل الله وخاصته.

اسناده حسن فرجاله كلهم ثقات سوي عبد الرحمن بن بديل، قال عنه الحافظ لا بأس به انظر التقريب ١/٤٧٣ ووثقه الطيالسي وقد صحح هذا الحديث المنذري في الترغيب والترهيب انظر ٢/٣٥٤، والبوصيرى في مصباح الزجاجة بزوائد ابن ماجه ورقة ١٤. وقد اخرجه احمد في مسنده ٣/١٢٧ ،١٢٨، ٢٤٢ ، والحاكم في المستدرك ١/٥٥٦، وابن ماجه في سننه رقم ٢١٥، وابو داوود الطيالسي ذكره البوصيرى والدارمي في سننه رقم ٣٣٢٩، والبزار في مسنده ذكره القرطبي في تفسيره ١/١.

" Telah memberitahukan kepada kami 'Ubaidulloh ibn Sa'id dari 'Abdur Rohman, yang berkata : Abdur Rohman ibn Bidyl bercerita kepadaku dari ayahnya dari Anas ibn Malik, berkata Anas : Rosululloh SAW bersabda : " Sesungguhnya Alloh memiliki keluarga dari makhluk ciptaanNya ". Maka berkata para sahabat, " Siapakah mereka wahai Rosululloh ?, Rosululloh berkata ;" Ahlul Qur'an itulah keluarganya Alloh, dan Alloh mengkhususkannya ".

Isnad Hadist ini hasan dan para rijalul hadistnya  semuanya terpercaya kecuali Abdur Rohman ibn Bidyl/ Budayl, Al Hafidz ibnu Hajar berkata tentangnya, " tidak ada masalah dengan Abdur Rahman ibn Bidyl " Lihat kitab At-Taqrib juz 1 / Hal. 473, dan Imam At-Thoyalisy menganggapnya sebagai rowi yang tsiqoh. Imam Al Hafidz Al Mundziry mensohihkannya sebagaimana dalam kitabnya At-Targhib wat Tarhib, jilid 2, Hal. 354, serta Imam Al-Bushiry dalam kitabnya yang berjudul Mishbahuz Zujaajah bi Zawaaidi bni Majah, lembar ke 14. Imam Ahmad ibn Hanbal mengeluarkan riwayat hadist ini dalam Musnadnya, jilid 3, Hal. 127, 128, 242, dan Imam Al-Hakim dalam Mustadrok nya , jilid 1, Hal. 556. Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan nya pada No. 215, dan Imam Abu Dawud At-Thoyalisy sebagaimana yang dituturkan Imam Al-Bushiry dan Imam Ad-Darimi dalam Sunan Ad-Darimi, No. 3329, dan Imam Al-Bazzar didalam Musnad nya sebagaimana yang telah dituturkan Imam Al-Qurthuby didalam Tafsirnya jilid 1, Hal. 1.

Kekhususan itu adalah miliknya, selayaknya yang dimiliki berkata dengan bahasa " KAMI / KITA ", entah kapan dari masing-masing kita memulainya, tapi yang jelas seyogyanya kita mengarahkan diri kita kesana suatu hari nanti.

Faminhum Dzholimun linafsih, Wa minhum muqtashid, Wa minhum Saabiqun Bil Khoirooti bi idznillah..adalah bagian dari macam2 karakter keluargaNya. Suatu hari nanti kita harus berazam agar mampu menjadi keluarga VIP Nya ( Saabiqun bil Khoirooti ) adapun " Bi Idznillah " ( dengan izin Alloh ) harus kita raih sebab itu adalah hidayah, dan hidayah tidak akan diturunkan jikalau kita tidak memaksa diri untuk menyongsongnya.

Baarokallohu lanaa wa lakum, athoolallohu baqooanaa wa iyyakum bil Islaami wal Imaani wal Ihsaan..

NUKILAN KITAB SYARHUS SHUDUR LIL IMAM AS-SUYUTHI

Imam As-Suyuthi didalam kitabnya " Syarhus Shuduur bi Syarhi haalil mauta wal qubuur, halaman 293, menuturkan ;

وفي روض الرياحين لليافعي : عن شقيق البلخي انه قال ; طلبنا خمسا فوجدناها في خمس , طلبنا ترك الذنوب ; فوجدناه في صلاة الضحى, وطلبنا ضياء القبور ; فوجدناه في صلاة الليل, وطلبنا جواب منكر ونكير ; فوجدناه في قراءة القرآن, وطلبنا عبور الصراط ; فوجدناه في الصوم والصدقة, وطلبنا ظل العرش ; فوجدناه في الخلوة..

روض الرياحين, ص 328.

Didalam kitab "Roudhur Royaahiin, nya Imam Al Yafi'i , Hal, 328 : Dari Syaqiq Al Balkhi sesungguhnya dia telah berkata ; " Kami mencari 5 hal, maka kami menemukannya pada 5 hal :  kami mencari cara meninggalkan dosa maka kami menemukannya ada pada sholat dhuha, kami mencari cara menerangi kubur maka kami menemukannya ada pada sholat malam ( tahajjud ), kami mencari cara menjawab pertanyaan Munkar Nakir maka kami menemukannya pada pembacaan Al Quran, kami mencari cara menyeberangi shiroth maka kami menemukannya pada puasa dan shodaqoh, kami mencari naungan Arsy maka kami menemukannya pada kholwat ( menyendiri ).

DIALOG IBNU ATHOILLAH DAN IBNU TAIMIYAH

DIALOG IMAM IBNU TAIMIYYAH AL-HARRONI DENGAN IMAM IBNU ATHOILLAH AS-SAKANDARY DI MASJID AL-AZHAR, MESIR.

Tulisan ini saya sadur dari majalah Cahaya Sufi, edisi 81, terbitan tahun 2012, pimpinan DR. KH. Muhammad Luqman Hakim MA, beliau adalah murid thoriqoh dari Al-Mursyid Al-Kamil Mukammil Al-Arifubillah Hadrotus Syaikh Abdul Djalil Mustaqiem, pengasuh Pon-Pes PETA ( PEsulukan Tarekat Agung, TulungAgung, Jawa Timur ) yang telah diterjemahkan oleh tim penerbit dari kitab " ابن تيمية، الفقيه المعذب " ( Ibnu Taimiyah, Faqih yang tersiksa ) karya penulis Mesir, Syaikh Abdurrohman Asy-Syarqowi.

Inilah barangkali percakapan yang cukup menarik dan patut ditampilkan antara dua orang cendekiawan terkemuka dalam sejarah Islam. Yang pertama adalah Imam Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah Al-Haroni, seorang faqih ( Ahli Fiqh ) ternama dari Madzhab Hanbali, yang pendapatnya banyak di ikuti banyak orang. Dan yang kedua adalah Imam Ahmad Ibnu Athoillah As-Sakandary Al-Mishry, seorang Sufi besar, penyair ulung, yang bahasa sufistiknya banyak menjadi pijakan para pelaku tarekat zaman sekarang, yang banyak pengikutnya dan seorang Guru Besar di Al-Azhar. Dua orang pakar dan budayawan yang sezaman dan hampir bersamaan usianya. Yang pertama Imam Ibnu Taimiyah dilahirkan tahun 660 H dikota Harran, Syria dan wafat tahun 728 H. Dan yang kedua Imam Ibnu Athoillah yang dilahirkan tahun 658 H dikota Al-Iskandariyah ( Alexandria ), Mesir, dan wafat tahun 709 H.

Juga disebutkan dalam sejarah, bahwa yang pertama ( Ibnu Taimiyyah ) adalah " musuh bebuyutan " para sufi, dan yang kedua ( Imam Ibnu Athoillah ) adalah juru bicara para sufi waktu itu. Maka tak ayal lagi bahwa keduanya merupakan dua tokoh yang saling bertentangan satu sama lain, sebagaimana akan kita lihat dalam tulisan berikut ini.
Kita tahu bahwa Imam Ibnu Taimiyyah, sang faqih ini selalu dikenal sebagai pengecam para sufi. Kecaman-2nya yang sangat amat pedas itu dituliskan dalam beberapa risalahnya, bahkan permusuhannya terhadap para sufi ( menurut beberapa pengamat ) kadang-2 terlalu berlebihan. Namun sebenarnya juga beliau mengakui, bahwa para sufi abad-2 pertama lahirnya tasawwuf tak lain adalah para mujahid dan pejuang dijalan Alloh, dan mereka tidak melakukan sesuatu yang keluar dari Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi sebenarnya ia tak menolak tasawwuf itu sendiri, hanya saja para sufi dizamannya ( menurut Ibnu Taimiyyah ) telah banyak menyimpang. Oleh karena itu, kata-2 seperti Bid'ah dan Syirik sudah biasa ia lontarkan pada mereka para sufi. Bahkan tuduhan seperti ( bahwa sufi ) sudah keluar dari Islam dan semacam itu telah ia lemparkan pula kepada tokoh-2 seperti Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Busthami, Ibnu Arobi, Ibnu Faridh, At-Tilmitsani dan lain sebagainya. Mereka semua ini menurut Ibnu Taimiyyah disebut sebagai orang-2 yang punya pandangan Wahdatul Wujud, Hulul, dan Ittihad. Namun anehnya, tuduhan-2 yang sama juga ia kenakan kepada tokoh-2 seperti Imam Abul Hasan As-Syadzili dan sebagian muridnya, meskipun mereka ini jauh dari pandangan Wahadatul Wujud, Hulul, dan Ittihad sebagaimana tadi.

Begitulah, pada suatu hari diawal-awal tahun 700 H Ibnu Taimiyah berkunjung ke Mesir. Sebagaimana ditempat asalnya di Damaskus, di Kairo pun Ibnu Taimiyah terus melancarkan kecaman dan kritik pedasnya terhadap para sufi. Orang Mesir pun mulai resah dan gelisah. Sejumlah orang mengadu kepada sang penguasa agar Ibnu Taimiyah disuruh pulang saja kembali ke tempat asalnya Damaskus atau kota Alexandria, atau kalau tidak dipenjarakan saja. Ia telah membuat keretakan dan keresahan dalam masyarakat Mesir dan Ibnu Taimiyah memilih ditahan. Namun pengikut-2 beliau menyarankan agar beliau ke kota Alexandria saja. Tak lama setelah mereka di Alexandria, mereka dipanggil lagi oleh penguasa baru di Kairo.
Sore itu, setibanya dikota Kairo, Ibnu Taimiyah sholat Maghrib di Masjid Al-Azhar. Selesai sholat beliau baru tahu kalau Imam Ibnu Athoillah telah bermakmum dibelakangnya. Maka terjadilah percakapan antara kedua orang penting dan besar itu.

IBNU ATHOILLAH : " Saya biasa sholat Maghrib di Masjid Al-Husein dan sholat Isya' di sini. hmm..lihatlah takdir Alloh. Saya ditakdirkan untuk menjadi orang yang pertama kali bertemu anda. ( Apakah ) anda menyalahkan saya hai Faqih..?"

IBNU TAIMIYAH : " Saya tahu bahwa anda tidak bermaksud menyakiti saya, yang terjadi hanyalah perbedaan pendapat. Hanya saja orang-orang yang memang sengaja menyakiti saya, sejak hari ini telah lepas dari diri saya."

IBNU ATHOILLAH : "Apa yang anda ketahui tentang diri saya, wahai Syaikh Ibnu Taimiyah ?"

IBNU TAIMIYAH : " Saya tahu bahwa anda seorang yang Wara', banyak ilmu, cerdas dan jujur. Saya bersaksi bahwa tidak pernah saya melihat di Mesir maupun di Syam seorang yang seperti anda dalam hal cinta dan fana' nya kepada Alloh, dan dalam hal ketaatannya terhadap perintah dan laranganNya. Namun bagaimanapun, terjadi perbedaan pendapat. Dan apa yang anda ketahui tentang diri saya, sampai anda menuduh saya sesat karena mengingkari Istighotsah kepada selain Alloh ?"

IBNU ATHOILLAH : " Saya heran kepada anda, wahai Faqih. Anda seorang pendukung Sunnah, hafal dan faham terhadap atsar-atsar, sempurna dalam pemikiran dan pemahaman. Namun anda telah melancarkan ungkapan-2 yang orang-orang dahulu dan sekarang menolak menggunakannya, hingga dalam hal ini anda telah keluar dari Madzhab Imam anda, yaitu Imam Ahmad ibn Hanbal, dan madzhab Imam-imam lainnya."

IBNU TAIMIYAH : " Orang yang fanatik terhadap Madzhab tertentu, seperti orang yang kecanduan. Tujuan orang yang fanatik kepada suatu madzhab, agar dengan sendirinya ia bersikap bodoh terhadap ilmu, Agama dan kodrat orang lain. Jadilah ia bersikap dzholim, dan Alloh melarang bersikap bodoh dan dzholim serta memerintahkan ilmu dan keadilan.
Kata Alloh :" Dan manusia itu telah mengembannya ( amanat ), sungguh dia itu dzholim dan bodoh."   Lihat saja Abu Yusuf dan Muhammad ibn Hasan yang mereka berdua itu murid paling setia dan paling tahu tentang pendapat-2 Imam Abu Hanifah. Mereka itu berbeda pendapat dengan Syeikhnya dalam banyak masalah yang hampir tak terhitung jumlahnya, setelah mereka tahu dari Sunnah dan argumen yang kuat, sesuatu yang memang wajib mereka ikuti. Dalam hal ini mereka tetap menjunjung Imam mereka. Dan saya mengatakan apa yang menurut saya memang ada dalilnya, tanpa saya pura-pura dan tanpa saya kira tak seorangpun dari fuqoha' zaman ini ada yang lebih cinta dan lebih mengikuti langkah Rosululloh daripada saya. Kalau saya tahu ada Hadist Shohih, saya akan mengambilnya dan saya tinggalkan pendapat-2 para Imam. Begitu pulalah mereka menasehati diri mereka sendiri."

IBNU ATHOILLAH : " Apa belum tiba waktunya bagi anda wahai Faqih,..untuk mengetahui bahwa Istighotsah itu tak lain adalah Wasilah dan Syafa'ah. Dan bahwa Rosululloh itu dimohonkan kepada beliau istighotsah, wasilah dan syafaah ?"

IBNU TAIMIYAH : " Dalam hal ini saya mengikuti Sunnah mulia itu. Dalam hadist Shohih dinyatakan : telah sepakat bahwa ayat " semoga Tuhanmu akan memberimu kedudukan terpuji ", yang di maksud " kedudukan terpuji " itu tak lain adalah Syafa'ah. Dan Rosululloh tatkala ibu Amirul Mukminin Ali r.a. meninggal, beliau berdoa kepada Alloh dikuburnya :" Alloh yang menghidupkan dan mematikan, Ia Maha Hidup dan tidak mati. Ampunilah bagi ibuku Fatimah binti Asad, luaskanlah baginya kuburnya, demi Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Engkaulah yang Maha Pengasih ". Ini lah Syafa'ah. Adapun istighotsah disitu ada syubhat dan syirik kepada Alloh. Oleh sebab itu dilarang, untuk mencegah perbuatan yang tidak dikehendaki. Kata Alloh : " Janganlah kamu menyeru bersama Alloh sesuatu yang lain ". Maha Benar Alloh. Dan Rosul menyuruh sepupunya Abdulloh ibnu Abbas agar tidak minta tolong selain Alloh.

IBNU ATHOILLAH : " Semoga Alloh memperbaikimu hai faqih. Adapun nasehat Rosul kepada Ibnu Abbas adalah agar ia mendekatkan diri kepada Alloh dengan amal perbuatannya, bukan dengan kekerabatannya kepada Rosul. Adapun pemahamanmu bahwa Istighotsah itu adalah permintaan tolong kepada selain Alloh dan itu syirik, maka siapa diantara kaum muslimin yang beriman kepada Alloh dan Rosulnya yang mengira bahwa selain Alloh itu bisa melaksanakan Qada' dan Qadar, memberi pahala dan siksa ?, ( ketahuilah hai faqih ) itu hanya istilah yang jangan dilihat dari bentuk fisiknya ( tersurat ) saja, dan tak perlu ditakutkan jadi syirik hingga harus dilarang agar tak terjadi suatu yang tak di inginkan.
Setiap orang yang istighotsah kepada Rosul, tak lain adalah minta syafa'ah padanya disisi Alloh, sebagaimana misalnya Anda berkata : " Makanan ini telah mengenyangkan saya ". Apakah makanan itu yang mengenyangkan Anda, ataukah Alloh yang telah mengenyangkan Anda dengan makanan itu ?
Adapun perkataan Anda bahwa Alloh melarang kita menyeru selain-Nya, apa anda pernah lihat seorang muslim yang menyeru selain Alloh ? Ayat yang Anda baca tadi turun berkenaan dengan kaum musyrikin yang menyeru tuhan mereka selain Alloh. Kalau kaum muslimin istighotsah kepada Nabi Muhammad SAW, tak lain adalah meminta wasilah, apa Anda perhatikan hak beliau disisi Alloh dan meminta syafa'ah yang telah dianugerahkan Alloh kepadanya.  Adapun pengharaman Anda atas istighotsah karena menuju pada syirik, bagaikan Anda mengaharamkan buah anggur karena ia menuju pada khamr ( minuman keras ). Atau bagaikan pengebirian kaum lelaki yang tidak kawin karena itu bisa menuju pada zina ".

Kedua Syaikh itu sama-sama tertawa. Dan Imam Ibnu Athoillah kemudian melanjutkan pembicaraannya.

IBNU ATHOILLAH : " Saya tahu Syaikh Anda Imam Ahmad, dan betapa luas pula cakupan pandangan fiqh Anda. Membendung ke arah yang tak dikehendaki ( saddudz dzari'ah ) dalam madzhab Anda disyaratkan sesuai kondisinya. Yang boleh bisa dilarang apabila mengakibatkan kerusakan yang kebanyakan terjadi, seperti pengharaman penjualan senjata pada zaman dimana banyak fitnah. Atau pengharaman penaikan harga apabila dibayar secara nyicil, karena ditakutkan menuju riba.
Mengambil makna lahir saja kadang-kadang bisa menjerumuskan kita kepada kekeliruan, Hai faqih..! antara lain pendapat Anda tenrang Ibnu Arobi. Ia seorang imam agama yang wara'. Anda memahami tulisan-tulisannya secara lahiriyah saja. Sedangkan para sufi itu mengatakan sesuatu seiring dengan isyarat dan celotehan rohaninya.
Kata-kata mereka sering dimaksudkan yang tersirat, maka orang seperti Anda yang pintar, cerdas dan mengetahui dengan baik ilmu bahasa, hendaknya mencari makna yang tersembunyi dibalik kata-kata yang tersurat.
Makna bagi sufi itu seperti ruh, dan kata-kata itu adalah jasad. Maka carilah dibalik jasad agar Anda menemukan hakikat ruh. Lagi pula vonis Anda terhadap Ibnu Arobi didasarkan atas teks yang sengaja diselipkan oleh musuh-musuhnya.  Adapun Syaikhul Islam Izzuddin ibnu Abdissalam setelah memahami tulisan-tulisan Syaikh Ibnu Arobi dan memecahkan simbol-simbol, misteri dan sugestinya, maka beliau segera minta ampun kepada Alloh atas pendapat-2nya sebelum itu, dan menarik kembali ucapan yang pernah dituduhkan kepada Syaikh Ibnu Arobi dan menyatakan bahwa Syaikh Ibnu Arobi adalah seorang imam kaum muslimin.
Adapun perkataan Asy-Syadzili, bahwa bukan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili sendiri yang mengatakannya, tetapi salah seorang muridnya. Dialah yang berkata tentang Syaikh Ibnu Arobi dan tentang sebagian murid beliau yang memahami kata-kata gurunya secara kurang benar.

Ibnu Athoillah diam sebentar, kemudian bertanya ;

IBNU ATHOILLAH : " Bagaimana pendapat Anda tentang syaikh Anda, Imam Ahmad ibnu Hanbal r.a ?"

IBNU TAIMIYAH : " Imam Ahmad seorang yang lebih tahu dari orang lain tentang Quran dan Sunnah, pendapat para sahabat dan tabi'in. Sebab itu hampir tak terdapat dalam pendapat-2nya sesuatu yang bertentangan dengan nash, sebagaimana terdapat pada imam-2 lain. Dan tak terdapat juga pendapat yang lemah, kecuali umumnya pendapat itu bersesuaian dengan pendapat yang lebih kuat. juga pendapat-2nya yang berbeda dengan yang lainnya, ternyata punya beliau lebih unggul, seperti ( pendapat beliau ) tentang penerimaan kesaksian non muslim terhadap kaum muslimin kalau memang diperlukan dan wasiat dalam perjalanan serta masalah-2 lain ".

IBNU ATHOILLAH : " Bagaimana pendapat Anda tentang amirul mukminin Imam Ali ibnu Abi Thalib ?"

IBNU TAIMIYAH : " Semoga Alloh ridho dan meridhoinya. Dalam hadist shahih Rosulullah pernah bersabda " Akulah kota ilmu dan Ali itulah pintunya ". Dialah pejuang yang kalau bertanding dengan siapapun selalu mengalahkannya. Maka ia memberi contoh kepada para Ulama dan Fuqoha berjuang dijalan Alloh dengan lisannya, penanya dan pedangnya sekaligus. Dia—semoga Alloh memuliakan wajahnya— adalah seorang sahabat yang paling andal, kata-katanya merupakan pelita yang kugunakan menerangi hidupku setelah Al-Quran dan Sunnah. Ah, betapa sedikitnya bekal kita dan betapa panjang perjalanan !".

IBNU ATHOILLAH : " Apakah amirul mukminin imam Ali r.a akan ditanya nanti, siapa orang-orang yang telah mendukungnya, sampai mereka keterlaluan dan menyatakan bahwa Jibril keliru dan memberikan kerasulan kepada Muhammad sebagai ganti dari Ali ? atau tentang mereka yang mengatakan bahwa Alloh merasuk kedalam tubuhnya, hingga jadilah imam Ali itu Tuhan ? Bukankah kaum muslimin telah menyerang dan memerangi mereka ? Dan bukankah para Ulama telah memfatwakan agar memerangi mereka dimanapun mereka berada ?".

IBNU TAIMIYAH : " Dengan fatwa inilah saya telah memerangi mereka dipegunungan Syam sejak sepuluh tahun yang lalu ".

IBNU ATHOILLAH : " Dan Imam Ahmad bin Hanbal r.a. apakah beliau akan ditanya tentang apa yang diperbuat oleh sementara pengikutnya, seperti penggerebekan rumah-rumah, penumpahan khamr, pemukulan terhadap para penyanyi dan penari, dan pencegatan orang-2 dilorong-lorong dan jalanan atas nama amar makruf nahi munkar ? Apakah beliau ( Imam Ahmad ) berfatwa bahwa mereka itu harus di ta'zir atau dijerakan, dicambuki, dipenjarakan dan diarak terbalik diatas punggung keledai ? Ataukah Imam Ahmad r.a. bertanggung jawab atas perbuatan-2 para awam madzhab Hanbali yang melakukan hal itu sampai sekarangpun atas nama amar makruf nahi munkar ?".

( komentar saya pribadi : ini adalah pertanyaan telak yang dilontarkan Imam Ibnu Athoillah kepada Imam Ibnu Taimiyah atas tuduhan2nya kepada kaum sufi, terutama tuduhannya kepada Imam Ibnu Arobi )

IBNU TAIMIYAH : " Syaikh Muhyiddin Ibnu Arobi lepas dari perbuatan para pengikutnya yang menggugurkan kewajiban-2 agama dan melakukan perbuatan-perbuatan haram. Bukankah begitu pendapat Anda ? Namun kemana Anda akan menghindar dari Alloh, sementara diantara kalian ada yang memberikan kabar bahwa Nabi memberikan kabar baik kepada para fakir, dan bahwa mereka masuk surga sebelum orang-orang kaya. Maka para fakir pun berjatuhan karena tertarik oleh Alloh dan mereka pada merobek pakaian mereka. Waktu itulah turun Jibril dan berkata kepada Nabi bahwa Alloh menuntut bagian-Nya dari sobekan itu, maka Jibril membawa salah satu pakaian itu dan menggantungkannya di singgasanaNya. Oleh sebab itu para sufi berpakaian yang ada tambalan-tambalannya dan menyebut diri mereka sebagai para fakir ".

IBNU ATHOILLAH : " Tidak semua sufi berpakaian begitu. Lihatlah saya yang sedang dihadapan Anda. Ada yang anda tolak dari penampilan saya ?".

IBNU TAIMIYAH : " Anda dari orang-orang syari'ah dan mengajar di Al-Azhar ".

IBNU ATHOILLAH : " Dan Al-Ghozali juga imam syari'ah dan sekaligus imam tasawwuf, ia memasuki hukum-hukum agama dan sunnah-sunnahnya dengan ruh seorang mutashowwif. Dengan metode itulah ia bisa menghidupkan ilmu-ilmu agama. Kami mengajari para sufi bahwa kekotoran itu bukan bagian dari agama, dan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman, dan bahwa sufi yang benar harus membangun qalbunya dengan iman sebagaimana yang dikenal dalam Ahlu Sunnah.
Sejak abad kedua terakhir ini memang muncul diantara para sufi hal-hal yang anda ingkari itu, dimana sebagian mereka mengentengkan ibadah, puasa dan sholat serta berpacu dalam kealpaan kepada Alloh dengan dalih bahwa mereka telah lepas dari belenggu. Kemudian mereka tidak puas terhadap keburukan-keburukan perbuatan mereka, sampai mereka menunjuk pada hakikat dan ahwal paling tinggi, sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qusyairi imam sufi agung itu. Maka beliau mengarahkan mereka pada kitabnya Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, menggambarkan jalan sufi kepada Alloh yaitu berpegang pada Al-Quran dan Sunnah.
Para imam sufi menginginkan sampai pada hakikat, tidak dengan dalil rasional yang bisa menerima yang sebaliknya, namun dengan kejernihan qolbu, olah jiwa dan menjauhkan ilusi-ilusi keduniawian, hingga seorang hamba tidak disibukkan oleh selain cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya. Perhatian yang luhur ini menjadikannya seorang hamba yang saleh, layak memakmurkan bumi dan memperbaiki hal-hal yang dirusak oleh ketamakan pada harta dan kegetolan pada gengsi, dan layak berjihad dijalan Alloh ".

IBNU TAIMIYAH : " Kata-kata tadi tertuju pada Anda, bukan memihak Anda. Al-Qusyairi tatkala melihat pengikutnya sesat, ia bangkit menyadarkan mereka. Namun apa yang dilakukan para syaikh sufi dizaman kita sekarang ini ? Saya hanya menginginkan para sufi melangkah dijalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama. Adapun membuat-buat dan memasukkan ide-ide animistis dari para filosof Yunani dan Budhisme India, seperti pretensi hulul, ittihad, wahdatul wujud dan yang semacam itu sebagaimana diserukan oleh sahabat Anda ( Ibnu Arobi ), jelas itu merupakan kekafiran yang nyata ".

IBNU ATHOILLAH : " Ibnu Arobi seorang faqih dhahir terbesar sesudah Ibnu Hazm, Fakih Andalus yang Anda hormati. Namun dalam hakikat ia menempuh jalan bathin, yaitu penyucian perangkat-perangkat bathin. Dan tidak semua ahli bathin itu sama. Agar anda tidak tersesat dan tidak lupa, bacalah kembali Ibnu Arobi dengan pemahaman baru atas simbol-simbol dan sugesti-sugestinya. Anda akan menemukan seperti Al-Qusyairi yang mengambil jalannya kearah tasawuf dibawah naungan Al-Quran dan Sunnah. Ia ( Ibnu Arobi ) juga seperti hujjatul Islam Syaikh Al-Ghozali yang menolak pertengkaran-pertengkaran madzhab dalam ibadah dan aqidah dan menganggapnya sebagai urusan yang tak ada artinya, serta menyerukan agar cinta kepada Alloh itulah yang mendasari jalan pengabdian didalam iman. Ada yang anda ingkari dalam hal ini, Hai faqih ? Ataukah Anda mencintai perdebatan yang mengoyak-oyak ahli fiqh ?
Imam Malik r.a. pernah memberi peringatan terhadap perdebatan dalam aqidah ini, dan kata beliau : " Setiap ada orang yang lebih pintar dalam berdebat dari yang lainnya, jadi berkuranglah agama ". Dan Al-Ghozali berkata : " Ketahuilah bahwa yang berjalan menuju Alloh untuk memperoleh kedekatan dari-Nya adalah qalbu, bukan badan. Qalbu yang dimaksudkan bukan gumpalan daging, melainkan salah satu misteri Alloh yang tidak bisa ditangkap oleh indera ". Ahlu Sunnah itulah yang menjuluki Al-Ghozali syaikh para sufi itu dengan gelar Hujjatul Islam, dan tak ada satu kritik pun atas pendapat-pendapatnya. Bahkan ada yang keterlaluan dalam menilai kitab Ihya' Ulumiddin dan berkata : " kitab Ihya' itu hampir saja jadi Al-Quran ".
Adapun pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama, menurut Ibnu Arobi dan Ibnu Faridh merupakan ibadah yang mihrabnya adalah bathin, bukan ritus-ritus lahiriyah. Apa artinya berdiri dan duduk Anda dalam sholat, kalau qalbu Anda sibuk dengan selain Alloh ? Alloh telah memuji orang-orang dengan sabdanya : " Dan mereka yang dalam sholatnya pada khusyuk, " sebagaimana Dia mencela orang-orang dengan firmanNya : " Dan mereka yang dalam sholatnya pada lalai ". Itulah yang dimaksud Ibnu Arobi dengan kata-katanya.
" Beribadah itu mihrabnya adalah qalbu ", yaitu yang bathin, bukan yang lahir. Seorang muslim tak akan sampai pada penghayatan ilmul-yaqin dan ainul-yaqin, kecuali setelah mengosongkan qalbunya dari hal-hal yang mericuhnya seperti ketamakan pada kehidupan dunia, dan memusatkan diri pada perenungan bathinnya, hingga dirinya akan terguyur oleh limpahan hakikat. Dari sinilah tumbuh kekuatannya. Maka sufi yang sebenarnya bukanlah bukanlah yang melolongi kekuatannya dan minta-minta kepada orang lain. Melainkan yang benar-benar jujur, memberikan ruh dan qalbunya serta fana' didalam Alloh dengan mentaati-Nya. Dari sinilah tumbuh kekuatannya dan tiada takut kepada selain Alloh.
Mungkin Ibnu Arobi dimusuhi oleh sementara fuqoha, karena beliau meremehkan perhatian mereka terhadap perdebatan dalam aqidah yang mencemari kejernihan qalbu. Juga pendapat-pendapat beliau tentang cabang-cabang fiqh dan perkiraan-perkiraannya, sampai ia ( Ibnu Arobi ) menjuluki mereka fuqoha haid, dan saya mohon perlindungan Alloh agar Anda tidak termasuk mereka itu. Pernahkah Anda membaca pernyataan Ibnu Arobi : " Barang siapa yang membangun imannya dengan argumen-argumen dan dalil-dalil, maka imannya tidak bisa dipercaya. Ia bisa terpengaruh oleh bantahan-bantahan orang. Keyakinan itu tidak bisa tumbuh dari dalil-dalil rasional, melainkan ditimba dari kedalaman qalbu ". Pernahkan Anda membaca kata-kata yang jernih dan nyaman itu ?"

( Komentar saya ; disinilah Ibnu Taimiyah tersentak dengan penjelasan Ibnu Athoillah )

IBNU TAIMIYAH : " Demi Alloh, Anda telah berbuat yang paling baik. Kalau sahabatmu itu seperti yang Anda katakan, maka dialah orang yang paling jauh dari kekafiran. Akan tetapi kata-katanya tidak mengandung arti yang demikian ".

IBNU ATHOILLAH : " Ia punya bahasa khusus yang penuh dengan isyarat, simbol, sugesti, misteri dan kelokan-kelokan. Namun, marilah kita kerja yang lebih berguna, yang bisa memenuhi kemaslahatan umat. Mari kita cegah kedzhaliman dan jaga keadilan jangan sampai dilanggar. Anda sudah tahu apa yang telah diperbuat dua orang fasik Bibris dan Salar itu terhadap rakyat jelata, sejak An-Nasir mengundurkan diri dan mereka berdua menjadi penguasa tunggal ? Sekarang An-Nasir telah kembali, mempercayai dan mau mendengarkan Anda. Maka cepatlah datang kepadanya dan nasehatilah beliau ".

Begitulah percakapan antara dua imam besar itu. Dan sebagaimana kata Ibnu Taimiyah :
" Saya hanya menginginkan para sufi melangkah dijalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama ".

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari dialog diatas.

(#)  Sekedar tambahan dari saya sebagai resensi dialog diatas, sebagaimana perkataan Imam Al- Qusyairi,

Dalam kitab Arrisalat Al Qusyairiyyah, Lil Imam Abul Qosyim Al Qusyairy, Hal. 80

وقال الجنيد ; من لم يحفظ القرآن ولم يكتب الحديث لا يقتدى في هذه الامر (1) لان علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة.
——————
.(1) اى التصوف

Dan telah berkata Al Junayd Al Baghdady ; " Barang siapa tidak menjaga Al Qur'an dan mencatat Hadist, maka tidak boleh mengikuti perkara ( urusan ) ini ( Tashowwuf ), Karena sesungguhnya Ilmu kami ini masih terikat dengan Al Quran dan As Sunnah.

Rabu, 4 Maret 2015, selesai disalin pada pukul 0:42 dini hari.

( Santri Mbeling / Danny Ma'shoum )