kolom melintang

Friday, March 6, 2015

HUKUM KIRIM DOA BAGI MAYIT DALAM PANDANGAN TOKOH WAHABI

Fatwa Syaikh Utsaimin Tentang Kirim
Pahala al-Quran
Fatwa Syaikh Utsaimin
Tentang Kirim Pahala al-Quran
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﻭﺭﺳﺎﺋﻞ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ - ‏( ﺝ 7 / ﺹ 159 ‏)
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻟﻴﻦ ﻣﻌﺮﻭﻓﻴﻦ: ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ: ﺃﻥ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ
ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻛﻤﺎ
ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﻤﺎﻟﻴﺔ ﺑﺎﻹﺟﻤﺎﻉ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ
ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻭﻗﻮﻝ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺎﻟﻚ
ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﻷﺩﻟﺔ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺫﻛﺮﻧﺎﻫﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﺍ
ﺍﻟﻮﺿﻊ. ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺃﻥ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ ﻻ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﺤﺎﻝ
ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﻋﻨﺪ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻣﺎﻟﻚ.
“Para ulama terdiri dari 2 pendapat; pertama,
bahwa pahala ibadah yang bersifat fisik seperti
salat, membaca al-Quran dan lainnya akan sampai
kepada mayit sebagaimana sampainya pahala
ibadah yang bersifat materi sesuai kesepakatan
ulama. Ini adalah madzhab Abu Hanifah, Ahmad,
sekelompok ulama dari madzhab Maliki dan Syafii.
Inilah pendapat yang benar, berdasarkan dalil-dalil
yang kami paparkan di luar pembahasan ini. Kedua,
bahwa ibadah yang bersifat fisik tidak sampai
kepada mayit sama sekali. Ini adalah pendapat yang
masyhur dari ulama Syafiiyah dan
Malikiyah” (Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin 7/159)
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﻭﺭﺳﺎﺋﻞ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ - ‏(ﺝ / 2 ﺹ 240 )
ﻭﺳﺌﻞ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ - ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ :- ﻋﻦ ﺣﻜﻢ ﺇﻫﺪﺍﺀ
ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻟﻠﻤﻴﺖ؟ ﻓﺄﺟﺎﺏ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ ﻳﻘﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻬﻴﻦ :
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻓﻴﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ
ﻳﺴﺘﻔﻴﺪ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﻤﻴﺖ ؛ ﻷﻥ ﺍﻻﺳﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻔﻴﺪ ﻣﻦ ﺳﻤﻌﻪ ﺇﻧﻤﺎ
ﻫﻮ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺣﻴﺚ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻠﻤﺴﺘﻤﻊ ﻣﺎ ﻳﻜﺘﺐ
ﻟﻠﻘﺎﺭﺉ ،ﻭﻫﻨﺎ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻗﺪ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ، ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺙ
ﺻﺪﻗﺔ ﺟﺎﺭﻳﺔ ، ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ، ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ "
ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺗﻘﺮﺑﺎً ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ
- ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ - ﻭﻳﺠﻌﻞ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﻷﺧﻴﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺃﻭ ﻗﺮﻳﺒﻪ
ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻣﻤﺎ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻴﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ: ﻓﻤﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻳﺮﻯ ﺃﻥ
ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ ﺍﻟﻤﺤﻀﺔ ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻟﻮ ﺃﻫﺪﻳﺖ ﻟﻪ ؛
ﻷﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻣﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺸﺨﺺ ﺍﻟﻌﺎﺑﺪ ، ﻷﻧﻬﺎ
ﻋﺒﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺗﺬﻟﻞ ﻭﻗﻴﺎﻡ ﺑﻤﺎ ﻛﻠﻒ ﺑﻪ ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﻻ ﻟﻠﻔﺎﻋﻞ
ﻓﻘﻂ ، ﺇﻻ ﻣﺎ ﻭﺭﺩ ﺍﻟﻨﺺ ﻓﻲ ﺍﻧﺘﻔﺎﻉ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺑﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﺣﺴﺐ ﻣﺎ
ﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺺ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺨﺼﺼﺎً ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻷﺻﻞ.
ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﻳﺮﻯ ﺃﻥ ﻣﺎ ﺟﺎﺀﺕ ﺑﻪ ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﻭﺻﻮﻝ
ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ، ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺼﻞ
ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻷﺧﺮﻯ ﻣﺎ ﻳﻬﺪﻳﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ.
ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺒﻘﻰ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻫﻞ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻋﺔ ﺃﻭ ﻣﻦ
ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﺠﺎﺋﺰﺓ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻫﻞ ﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻳﻄﻠﺐ ﻣﻨﻪ ﺃﻥ
ﻳﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ - ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ - ﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ،
ﺛﻢ ﻳﺠﻌﻠﻬﺎ ﻟﻘﺮﻳﺒﻪ ﺃﻭ ﺃﺧﻴﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ
ﺍﻟﺠﺎﺋﺰﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﻨﺪﺏ ﺇﻟﻰ ﻓﻌﻠﻬﺎ .
ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺮﻯ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﺠﺎﺋﺰﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﻨﺪﺏ ﺇﻟﻰ
ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺪﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﻭﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻪ ﻭﻣﺎ
ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺗﻌﺎﻟﻰ - ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﺑﻪ، ﻭﺃﻣﺎ ﻓﻌﻞ
ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻭﺇﻫﺪﺍﺅﻫﺎ ﻓﻬﺬﺍ ﺃﻗﻞ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺟﺎﺋﺰﺍً ﻓﻘﻂ
ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﻨﺪﻭﺑﺔ ، ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻨﺪﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ، ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﺃﻣﺘﻪ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻞ ﺃﺭﺷﺪﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﻴﺖ
ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺍﻹﻫﺪﺍﺀ .
“Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang hukum
menghadiahkan bacaan al-Quran untuk mayit? Ia
menjawab: Masalah ini ada dua bentuk. Pertama:
Seseorang mendatangi makam mayit kemudian
membaca al-Quran di dekatnya. Dalam hal ini mayit
tidak dapat manfaat dari bacaan. Sebab yang bisa
mendengarkan dari bacaan al-Quran hanya ketika
masih hidup, sebagaimana (dalam hadis) orang
yang mendengarkan dicatat pahalanya seperti
orang yang membacanya. Sementara disini amal
mayit telah terputus, sebagaimana sabda Nabi Saw:
“Jika anak Adam mati maka terputus amalnya
kecuali dari 3, sedekah yang mengalir, ilmu yang
bermanfaat, atau anak sholeh yang
mendoakannya” (HR Muslim)
Kedua, seseorang membaca al-Quran yang mulia
sebagai pendekatan diri kepada Allah dan
menjadikan pahalanya kepada saudaranya yang
muslim atau kerabatnya, maka dalam masalah ini
para ulama beda pendapat. Sebagian berpendapat
bahwa amal ibadah yang bersifat fisik tidak dapat
dirasakan manfaatnya oleh mayit, meskipun
dihadiahkan, Sebab dasar ibadah termasuk hal yang
berkaitan dengan diri seseorang. Karena ibadah
adalah ibarat ketundukan dan mendirikan ibadah
yang ia jalankan. Hal ini hanya didapatoleh
pelakunya saja, kecuali hadis yang menjelaskan
bahwa mayit dapat menerima manfaatnya (haji,
puasa dan sedekah).
Sebagian ulama berpendapat bahwa dalil-dalil hadis
tentang sampainya pahala kepada orang yang
meninggal (haji, puasa dan sedekah) menunjukkan
sampainya pahala amal ibadah yang lain yang
dihadiahkan kepada mayit. Tetapi tetap dilihat
apakah hal ini bagian dari hal-hal disyariatkan
ataukah hal-hal yang diperbolehkan yang tidak
sunah untuk dilakukan. Menurut pendapat kami hal
ini tergolong hal-hal yang diperbolehkan yang tidak
sunah untuk dilakukan. Yang disunahkan adalah
mendoakan mayit, memintakan ampunan untuknya
dan sebagainya. Sedangkan melakukan ibadah dan
menghadiahkan kepada mayit, minimal hukumnya
adalah boleh, tidak sunah. Oleh karenanya Nabi Saw
tidak menganjurkannya kepada umatnya, tetapi
memberi petunjuk untuk mendoakan mayit. Maka
doa lebih utama daripada menghadiahkan bacaan
al-Quran” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin
2/240)
Catatan penulis :
Dalam fatwanya yang bentuk pertama
dikatakan bahwa ‘Baca al-Quran di kuburan
tidak berguna bagi mayit’. Pertanyaannya
‘Bagaimana jika membaca al-Quran di
kuburan kemudian pahalanya dihadiahkan
kepada mayit? Sebab dalam fatwa bentuk
kedua Ibnu Utsaimin mengatakan boleh!
Dalil membaca al-Quran di kuburan
dilakukan sejak masa sahabat:
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺨَﻼَّﻝُ ﻭَﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦُ ﺑْﻦُ ﺃَﺣْﻤَﺪَ
ﺍﻟْﻮَﺭَّﺍﻕُ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻰ ﻋَﻠِﻰُّ ﺑْﻦُ ﻣُﻮْﺳَﻰ ﺍﻟْﺤَﺪَّﺍﺩُ ﻭَﻛَﺎﻥَ
ﺻَﺪُﻭْﻗًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻨْﺖُ ﻣَﻊَ ﺃَﺣْﻤَﺪَ ﺑْﻦِ ﺣَﻨْﺒَﻞَ ﻭَﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
ﺑْﻦِ ﻗُﺪَﺍﻣَﺔَ ﺍﻟْﺠَﻮْﻫَﺮِﻯ ﻓِﻲ ﺟَﻨَﺎﺯَﺓٍ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺩُﻓِﻦَ
ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖُ ﺟَﻠَﺲَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺿَﺮِﻳْﺮٌ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ
ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻳَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺇِﻥَّ ﺍْﻟﻘِﺮَﺍﺀَﺓَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ
ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺧَﺮَﺟْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻗَﺎﻝَ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ
ﻗُﺪَﺍﻣَﺔَ ِﻷَﺣْﻤَﺪَ ﺑْﻦِ ﺣَﻨْﺒَﻞَ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺎ
ﺗَﻘُﻮْﻝُ ﻓِﻲ ﻣُﺒَﺸِّﺮٍ ﺍﻟْﺤَﻠَﺒِﻲّ ﻗَﺎﻝَ ﺛِﻘَﺔٌ ﻗَﺎﻝَ ﻛَﺘَﺒْﺖَ
ﻋَﻨْﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢْ ﻓَﺄَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ ﻣُﺒَﺸِّﺮٌ ﻋَﻦْ
ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ ﺍْﻟﻌَﻼَﺀِ ﺍﻟﻠَّﺠَّﺎﺝِ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴْﻪِ ﺃَﻧَّﻪُ
ﺃَﻭْﺻَﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺩُﻓِﻦَ ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺃْﺳِﻪِ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ
ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓِ ﻭَﺧَﺎﺗِﻤَﺘِﻬَﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﺑْﻦَ ﻋُﻤَﺮَ
ﻳُﻮْﺻِﻲ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻓَﺎﺭْﺟِﻊْ ﻭَﻗُﻞْ
ﻟِﻠﺮَّﺟُﻞِ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ‏(ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻻﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ / 1 10 ‏)
"Ali bin Musa al-Haddad (orang yang sangat jujur)
berkata: Saya bersama Ahmad bin Hanbal dan
Muhammad Ibnu Qudamah al-Jauhari menghadiri
pemakaman janazah. Setelah dimakamkan, ada
orang laki-laki buta membaca al-Quran di dekat
kubur tersebut. Ahmad berkata kepadanya: Wahai
saudara! Membaca di dekat kubur adalah bid'ah.
Setelah kami keluar dari kuburan, Muhammad ibnu
Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal:
Wahai Abu Abdillah. Apa penilaianmu tentang
Mubasysyir al-Halabi? Ahmad menjawab: Ia orang
terpercaya. Ibnu Qudamah bertanya lagi: Apakah
engkau meriwayatkan hadis dari Mubasysyir?
Ahmad bin Hanbal menjawab: Ya. Saya
mendapatkan riwayat dari Mubasysyir bin
Abdirrahman dari ayahnya, bahwa ayahnya
berpesan agar setelah dimakamkan dibacakan di
dekat kepalanya dengan pembukaan al-Baqarah
dan ayat akhirnya. Ayahnya berkata bahwa ia
mendengar Ibnu Umar berwasiat seperti itu juga.
Kemudian Imam Ahmad berkata kepada Ibnu
Qudamah: Kembalilah, dan katakan pada lelaki tadi
agar membacanya!" (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)

*Akhi Fillah, Muhammad Makruf Khozin

Thursday, March 5, 2015

KISAH WALIYULLOH YANG TERSEMBUNYI

WALI ALLOH YANG TERSEMBUNYI

*******
Sumber. buku harian Sultan Murad IV (Sultan Turki
Utsmani, memerintah Sep 1623 - Feb 1640) yang
berbahasa arab.

ﻗﺼﺔ ﻣﻦ ﻣﺬﻛﺮﺍﺕ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻣﺮﺍﺩ ﺍﻟﺮﺍﺑﻊ .. ﻳﻘﻮﻝ ﺃﻧﻪ ﺣﺼﻞ ﻟﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ
ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺿﻴﻖ ﺷﺪﻳﺪ ﻟﻴﻌﻠﻢ ﺳﺒﺒﻪ ﻓﻨﺎﺩﻯ ﻟﺮﺋﻴﺲ ﺣﺮﺳﻪ ﻭﺃﺧﺒﺮﻩ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ
ﻋﺎﺩﺗﻪ ﺗﻔﻘﺪ ﺍﻟﺮﻋﻴﺔ ﻣﺘﺨﻔﻴﺎ . ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺨﺮﺝ ﻧﺘﻤﺸﻰ ﻗﻠﻴﻼ ﺑﻴﻦ
ﺍﻟﻨﺎﺱ . ﻓﺴﺎﺭﻭﺍ ﺣﺘﻰ ﻭﺻﻠﻮﺍ ﺣﺎﺭﺓ ﻣﺘﻄﺮﻓﺔ ﻓﻮﺟﺪ ﺭﺟﻼ ﻣﺮﻣﻴﺎ ﻋﻠﻰ
ﺍﻷﺭﺽ ﻓﺤﺮﻛﻪ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﻣﻴﺖ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﺗﻤﺮ ﻣﻦ ﺣﻮﻟﻪ ﻻ ﺃﺣﺪ
ﻳﻬﺘﻢ . ﻓﻨﺎﺩﻯ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺗﻌﺎﻟﻮﺍ ﻭﻫﻢ ﻳﻌﺮﻓﻮﻧﻪ . ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻣﺎﺫﺍ ﺗﺮﻳﺪ؟ . ﻗﺎﻝ :
ﻟﻤﺎﺫﺍ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﻴﺖ ﻭﻻ ﺃﺣﺪ ﻳﺤﻤﻠﻪ ﻣﻦ ﻫﻮ؟ ﻭﺃﻳﻦ ﺃﻫﻠﻪ؟ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻫﺬﺍ
ﻓﻼﻥ ﺍﻟﺰﻧﺪﻳﻖ ﺷﺎﺭﺏ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻭﺯﺍﻧﻲ . ﻗﺎﻝ ﺃﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺃﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ
ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ؟ . ﻓﺎﺣﻤﻠﻮﻩ ﻣﻌﻲ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺘﻪ ﻓﻔﻌﻠﻮﺍ ..ﻭﻟﻤﺎ ﺭﺃﺗﻪ
ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺃﺧﺬﺕ ﺗﺒﻜﻲ ﻭﺫﻫﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺑﻘﻲ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻭﺭﺋﻴﺲ .ﺍﻟﻨﺎﺱ
ﺗﻘﻮﻝ ﻋﻨﻪ ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ﺣﺘﻰ ﺃﻧﻬﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﺘﺮﺛﻮﺍ ﻟﻤﻮﺗﻪ ؟ ﻗﺎﻟﺖ : ﻛﻨﺖ ﺃﺗﻮﻗﻊ
ﻫﺬﺍ . . ﺇﻥ ﺯﻭﺟﻲ ﻛﺎﻥ ﻳﺬﻫﺐ ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ ﻟﻠﺨﻤﺎﺭﺓ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻄﺎﻉ
ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﺛﻢ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﻟﻠﺒﻴﺖ ﻭﻳﺼﺒﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺮﺣﺎﺽ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺃﺧﻔﻒ ﻋﻦ
ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ .
ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺬﻫﺐ ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﺗﻔﻌﻞ ﺍﻟﻔﺎﺣﺸﺔ ﻳﻌﻄﻴﻬﺎ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ
ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺎﺑﻲ ﺍﻏﻠﻘﻲ ﺑﺎﺑﻚ ﺣﺘﻰ ﺍﻟﺼﺒﺎﺡ ﻭﻳﺮﺟﻊ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ
ﺧﻔﻔﺖ ﻋﻨﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺷﺒﺎﺏ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ . ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺸﺎﻫﺪﻭﻧﻪ
ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻴﺘﻜﻠﻤﻮﻥ ﻓﻴﻪ . ﻭﻗﻠﺖ ﻟﻪ ﻣﺮﺓ ﺇﻧﻚ
ﻟﻮ ﻣﺖ ﻟﻦ ﺗﺠﺪ ﻣﻦ ﻳﻐﺴﻠﻚ ﻭﻳﺼﻠﻲ ﻋﻠﻴﻚ ﻭﻳﺪﻓﻨﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ..
ﻓﻀﺤﻚ ﻭﻗﺎﻝ ﻻ ﺗﺨﺎﻓﻲ ﺳﻴﺼﻠﻲ ﻋﻠﻲّ ﺳﻠﻄﺎﻥ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ
ﻭﺍﻷﻭﻟﻴﺎﺀ .
ﻓﺒﻜﻰ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻣﺮﺍﺩ ﻭﻗﺎﻝ : ﺻﺪﻕ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﺎ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻣﺮﺍﺩ ﻭﻏﺪﺍ
ﻧﻐﺴﻠﻪ ﻭﻧﺼﻠﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﺪﻓﻨﻪ .. ﻭﻛﺎﻥ ﻛﺬﺍﻟﻚ ﻓﺸﻬﺪ ﺟﻨﺎﺯﺗﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ
ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ..
ﺳُﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ..
ﻧﺤﻜﻢ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑـﻤﺎ ﻧﺮﺍﻩ ﻭﻧﺴﻤﻌﻪ ﻣﻦ ﺍﻵﺧﺮﻳﻦ ..
ﻭﻟﻮ ﻛﻨﺎ ﻧﻌﻠﻢ ﺧﻔﺎﻳﺎ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻟﺤﺮﺳﻨﺎ ﺃﻟﺴﻨﺘﻨﺎ

" Cerita ini diambil dari buku harian Sultan Murad IV. Di
dalam buku hariannya itu diceritakan bahwa suatu malam
sang Sultan Murad merasa sangat gelisah dan resah, ia
ingin tahu apa penyebabnya.
Maka ia pun memanggil kepala pengawalnya dan
mengatakan bahwa ia akan pergi keluar dari istana dengan
menyamar sebagai rakyat biasa. Sesuatu yang memang
biasa beliau lakukan.
Sultan murad berkata: "Mari kita keluar, kita blusukan
melihat keadaan rakyatku".
Mereka ia pun pergi, udara saat itu sangat panas. Tiba-
tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di
atas tanah.
Maka Disentuh lelaki itu dan dibangunkan oleh Sultan
murad, ternyata lelaki itu telah wafat.
Orang-orang yang lewat di sekitarnya tidak ada yang peduli
dengan Keadaan mayat lelaki tersebut.
Maka Sultan murad yang saat itu menyamar sebagai rakyat
biasa, Memanggil mereka yang saat itu lewat.
kemudian mereka bertanya kepada sultan: "Ada apa? Apa
yang kau inginkan?".
Sultan menjawab: "Mengapa orang ini wafat tapi tidak ada
satu pun diantara kalian yang ngurus dan membawa
kerumahnya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?"
Mereka berkata: "Orang ini Zindiq, pelaku maksiat, dia
selalu minum khamar (mabuk mabukan) dan selalu berzina
dengan pelacur".
Sultan menjawab: "Tapi . . bukankah ia juga Umat
Rasulullah Muhammad SAW? Ayo angkat dia, kita bawa ke
rumahnya".
Maka Mereka mereka pun membawa jenazah laki-laki itu
ke rumahnya.
Ketika sampai di rumahnya, saat istri lelaki tersebut
mengetahui suaminya telah wafat, ia pun sedih dan
menangis. Tapi orang-orang langsung pada pergi semua,
hanya sang Sultan dan kepala pengawalnya yang masih
tinggal dirumah lelaki itu.
Kemudian Sang Sultan bertanya kepada istri laki-laki itu:
"Aku mendengar dari orang-orang disini, mereka berkata
bahwa suamimu itu dikenal suka melakukan kemaksiatan
ini dan itu, hingga mereka tidak peduli akan kematiannya,
benarkah kabar itu".?
Maka Sang istri menjawab: "Awalnya aku menduga seperti
itu tuan. Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko
minuman keras (khamar), kemudian membeli sesuai
kemampuannya. Ia bawa khamar itu ke rumah, kemudian
membuangnya ke dalam toilet, sambil berkata:
"Alhamdulillah Aku telah meringankan dosa kaum
muslimin".
Suamiku juga selalu pergi ke tempat pelacuran, memberi
mereka uang dan berkata kepada Sipelacur: "Malam ini
merupakan jatah waktuku, jadi tutup pintumu sampai pagi,
jangan kau terima tamu lain!".
Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku:
"Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa
pemuda-pemuda Islam".
Tapi, orang-orang yang melihatnya mengira bahwa ia selalu
minum minuman keras (khamar) dan melakukan
perzinahan. Dan berita ini pun menyebar di masyarakat.
Sampai akhirnya suatu kali aku pernah berkata kepada
suamiku: "Kalau nanti kamu mati, maka tidak akan ada
kaum muslimin yang akan memandikan jenazahmu, Dan
tidak ada yang akan mensholatimu, tidak ada pula yang
akan menguburkanmu".
Ia hanya tertawa, dan menjawab: "Janganlah takut wahai
istriku, jika aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya
kaum muslimin, oleh para Ulama dan para Auliya Allah".
Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: "Benar
apa yang dikatakannya, Demi Allah, akulah Sultan Murad
Itu, dan besok pagi kita akan memandikan suamimu,
mensholatinya dan menguburkannya bersama² masyarakat
dan para ulama".
Akhirnya jenazah laki-laki itu besoknya dihadiri oleh
Sultan Murad, dan para ulama, para syeikh dan juga
seluruh warga masyarakat....!!
"Subhanallah"
Terkadang kita suka menilai orang dari apa yang kita lihat
dan kita dengar dari omongan orang orang. Andai saja kita
mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang,
niscaya pasti kita akan menjaga lisan kita dari
membicarakan orang lain..."

—————
* Sedikit resensi dari kami :

MENGAPA KEWALIAN SESEORANG SULIT DIKENALI ORANG AWAM.

Kewalian itu sulit dikenali tanda2nya daripada mengenali Alloh, sebab adanya Alloh bisa diketahui dari tanda2 dan bukti dari ciptaannya sebagaimana yang dikatakan Imam Abul Abbas Al Mursy. Berkaitan dengan hal ini , Imam ibnu Athoillah mengatakan dalam maqolatus shufiyyah nya ,

ستر انوار السرائر بكثائف الظواهر اجلالا لها ان تبتذل بوجود الاظهار وان ينادى عليها بلسان الاشتهار.

" Alloh sengaja menutupi nur hati ( para waliNya ) itu dengan pekerjaan2 yang bersifat lahiriyyah karena sayangnya Alloh kepada waliNya, agar jangan sampai diobral dengan terbuka begitu saja atau khawatir dari pada lidah yang menyiar-nyiarkan kewaliannya ".

Disini Alloh menutup nur kewalian para auliya'Nya karena rahmatnya terhadap kaum muslimin yang ada disekitarnya. Sebab kalau terbuka rahasia kewaliannya pada seseorang, pasti akan mewajibkan bagi wali yang terbuka jati dirinya itu pada kewajiban2 yang mungkin ia tidak dapat melaksanakannya, dan dengan demikian akan terjerumus pada dosa dan kedurhakaan, disinilah posisi Para wali Alloh yang masthur ( yg disembunyikan Alloh diantara kerumunan orang banyak ).

Kekhawatiran akan terbongkarnya kewalian seseorang yg mengakibatkan pengkultusan2 bagi orang awam terhadapnya, sehingga khawatir akan menjadi goyahnya hati untuk tetap shuhud dan tawajjuh kepada Alloh semata, adalah bentuk kedurhakaannya kepada Alloh, sebagaimana kata Ibnu Faridh yang dinukil oleh Imam As Suyuthi dalam kitabnya " Al Haawy lil fataawy, jilid 2, Hal. 282, pada Bab " Al Fatawaa Al Muta'alliqotu bittashowwufi ", yang mana Ibnu Faridh membuka kedok kaum sufi sebagaimana dalam  munajatnya ;

وان خطرت لي في سواك ارادة ، علي خاطري سهوا قضيت بردتي.

" Sekiranya suatu hari terlintas dalam fikiranku kemauan selain kepadaMu, maka Engkau boleh menjatuhkan hukuman kepadaku sebagai hambaMu yang murtad ".

Selanjutnya pada halaman yang sama, Imam As Suyuthi memberikan penjelasan terhadap kata " Murtad " yang diucapkan Ibnu Faridh,

ومعلوم ان هذا ليس بردة حقيقية، ومن هذا النمط قول الصوفية : ان الغيبة تفطر الصائم فكل هذا من طريقة الخواص يلزمون انفسهم بما لا يلزم العامة.

" Dan sudah maklum bahwa sesungguhnya perkataan ini bukanlah murtad yang bermakna haqiqi, dan ini bentuk gaya bahasa kaum sufi saja, ( seperti halnya ) bahwa ghibah ( boso jowone =ngrasani  ) itu membatalkan puasa dari segi sudut pandang khowas ( orang2 khos ) yang menjadikan suatu ketetapan bagi diri mereka, terhadap ketetapan yang tidak berlaku bagi orang pada umumnya ".

Selanjutnya Imam Ibnu Athoillah memberikan penjelasan dari rahasia " laa yu'roful waliy illal waliy " sebagai gambaran terkuaknya kewalian seseorang itu pasti sesama wali juga yang membongkarnya sebagai i'tibar , Imam Ibnu Athoillah mengatakan dalam maqolatus sufiyyahnya  ;

سبحان من لم يجعل الدليل علي اوليآئه الا من حيث الدليل عليه ولم يوصل اليهم الا من اراد ان يوصله اليه.

" Maha Suci Alloh, yang sengaja tidak menjadikan suatu tanda / bukti bagi para waliNya kecuali sekedar untuk mengenal kepadanya, sebagaimana tidak menyampaikan / mempertemukan dengan mereka kecuali pada orang yang disampaikan kepada Alloh ".

Oleh karena itulah para Auliya' yang masthur, jika terbongkar kewaliannya yang sekiranya khawatir hatinya tidak kuat dengan keadaan yang dialaminya, pasti seketika itu juga minta di matikan.
Sebenarnya banyak kisah-2 Wali Masthur, semisal cerita tentang Pak Abdurrohman atau Mbah man, ia dari desa bagelen Solo yang menjadi tukang sapu pasar di daerah Lasem. Suatu hari beberapa pedagang dipasar minta tolong pada Mbah Man agar besok sebelum menjelang Shubuh, dagangan-2 mereka sudah diantarkan kepasar Lasem. Dan kebetulan sekali waktu dan jam yang diminta beberapa pedagang itu sama dan berbarengan. Ketika menjelang Tarhim para pedagang kaget karena dagangan mereka telah sampai dan ditata rapi oleh Mbah Man. Hal ini menimbulkan kecurigaan meraka kepada sosok Mbah Man, padahal jarak rumah mereka lumayan jauh, dan mereka meyakini bahwa Mbah Man bukanlah orang sembarangan.  Setelah terbongkar kedok kewaliannya, ba'da subuh beliau duduk bersandar di bawah pohon mangga depan pondok Kyai Baidhowy Lasem ( mertua dari Syaikhina Maemoen Zubeir, Sarang ) dan berdoa kepada Alloh agar segera diwafatkan, selepas itu beliau sujud dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Kisah Mbah Man / Pak Abdurrohman ini kami terima ketika ngaji " Malem Selosoan " dari Syaikhina wa Murobbi ruuhinaa Al Mursyid KH. Muhammad DJamaluddin Ahmad,
TambakBeras Jombang, sewaktu nyantri di Mbah Baidhowy Lasem.

( Danny Ma'shoum )

HUKUM YASINAN

Hukum Yasinan

Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan
1000 hari diperbolehkan dalam syari'at Islam.
Keterangan diambila dari kitab "Al-Hawi lil Fatawi" karya
Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman
178 sebagai berikut:

ﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻓﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺰﻫﺪ ﻟﻪ :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻫﺎﺷﻢ ﺑﻦ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻷﺷﺠﻌﻰ ﻋﻦ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻗﺎﻝ
ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻰ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ
ﺃﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻷﻳﺎﻡ , ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﻟﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻰ ﺍﻟﺠﻨﺔ :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺣﺪﺛﻨﺎ
ﺃﺑﻰ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻫﺎﺷﻢ ﺑﻦ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻷﺷﺠﻌﻰ ﻋﻦ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ
ﻃﺎﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻰ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺃﻥ
ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻷﻳﺎﻡ

Artinya:
"Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam
kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah
menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil
berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja'i dari
Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus
(ulama besar zaman Tabi'in, wafat kira-kira tahun 110
H / 729 M):
Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan
mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka
selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang
masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah)
untuk orang-orang yang sudah meninggal selama
hari-hari tersebut.
Telah berkata al-Hafiz Abu Nu'aim di dalam kitab Al-
Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin
Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad
bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah
menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah
menceritakan kepadaku al-Asyja'i dari Sufyan sambil
berkata: Telah berkata Imam Thawus:
Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan
mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka
selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang
masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah)
untuk orang-orang yang sudah meninggal selama
hari-hari tersebut."
Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194
diterangkan sebagai berikut:

ﺍﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻻﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺑﻠﻐﻨﻰ ﺃﻧﻬﺎﻣﺴﺘﻤﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭ
ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻧﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺍﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﻭ ﺍﻧﻬﻢ
ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎ ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻷﻭﻝ

Artinya :
"Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah
makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang
tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi
abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas
kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa
sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil
dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat."
semoga ini menjadi sebab turunya hidayah ﺍﻟﻠﻪ pada
kita... ﺍﻣﻴﻦ .......

* Disadur ulang dari Blog murid KH. Thobari Syadzili.

Danny Ma'shoum

KEJUJURAN DALAM MENUKIL PENDAPAT SESEORANG

KEJUJURAN DALAM MENUKIL PENDAPAT ULAMA, BAIK DARI UCAPANNYA MAUPUN KARYA TULISNYA.

Saya nukil keterangan ini dalam muqoddimah kitab " Qimatuz zaman 'indal Ulama ", Hal. 7, karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah ;

فقد قال العلماء : من الامانة في العلم عزوه الى قائله او ناقله

Maka sungguh telah berkata para Ulama' ;
" Termasuk sifat jujur dalam menuntut ilmu adalah menyandarkan karya ilmu tersebut kepada pengarangnya atau penukilnya ".

Kemudian diparagraf selanjutnya ;

ولله در الامام الشافعي اذ يقول : الحر من راعى وداد لحظة، وانتمى لمن افاده لفظة.

" Demi Alloh benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi'i, bahwa orang yang berjiwa merdeka adalah orang2 yang tidak pernah melupakan kebaikan orang lain meskipun sekejap, dan selalu mengingat jasa orang yang pernah memberinya manfaat kepadanya meskipun sedikit ".

Danny Ma'shoum

SEJARAH SHOLAWAT BADAR

Shalawat Badar
adalah “Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama. Berisi puji-pujian
kepada Rasulullah SAW dan Ahli Badar (Para Sahabat
yang mati syahid dalam Perang Badar). Berbentuk Syair,
dinyanyikan dengan lagu yang khas.
Shalawat Badar digubah oleh Kia Ali Mansur Banyuwangi,
salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember
tahun 1960. Kiai Ali Mansur saat itu menjabat Kepala
Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus
menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama. Proses
terciptanya Shalawat Badar penuh dengan misteri dan
teka-teki.
Konon, pada suatu malam, ia tidak bisa tidur. Hatinya
merasa gelisah karena terus menerus memikirkan situasi
politik yang semakin tidak menguntungkan NU. Orang-
orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan
berani membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang
kiai-lah pesaing utama PKI saat itu.
Sambil merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan
penanya diatas kertas, menulis syair-syair dalam bahasa
arab. Dia memang dikenal mahir membuat syair sajak
ketika masih belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri.
Kegelisahan Kiai Ali Mansur berbaur dengan rasa heran,
karena malam sebelumnya bermimpi didatangi para
habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi,
karena pada saat yang sama istrinya bermimpi bertemu
Rasulullah SAW. Keesokan harinya mimpi itu ditanyakan
pada Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi
menjawab: “ Itu Ahli Badar, ya Akhy.” Kedua mimpi aneh
dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong
dirinya menulis syair, yang kemudian dikenal dengan
Shalawat Badar.
Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak
tetangga yang datang kerumahnya sambil mebawa beras,
daging, dan lain sebagainya, layaknya akan mendatangi
orang yang akan punya hajat mantu. Mereka bercerita,
bahwa pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi
orang berjubah putih yang memberitahukan bahwa
dirumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka
diminta membantu. Maka mereka pun membantu sesuai
dengan kemampuannya.
“Siapa orang yang berjubah putih itu?” Pertanyaan itu
terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali Mansur
tanpa jawaban. Namun malam itu banyak orang bekerja
di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang
mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk
apa.?
Menjelang matahari terbit, serombongan habib berjubah
putih-hijau dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-
Habsyi dari Kwitang Jakarta, datang kerumah Kia Ali
Mansur. “Alahamdulillah………,” ucap kiai Ali Mansur
ketika melihat rombongan yang datang adalah para
habaib yang sangat dihormati keluaganya.
Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar,
membahas perkembangan PKI dan kondisi politik
nasional yang
semakin tidak menguntungkan, Habib Ali menanyakan
topik lain yang tidak diduga oleh Kiai Ali Mansur: “ Ya
Akhy! Mana Syair yang ente buat kemarin? Tolong ente
bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!” Tentu
saja Kiai Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali tahu apa
yang dikerjakannya semalam. Namun ia memaklumi,
mungkin itulah karomah yang diberikan Allah kepadanya.
Sebab dalam dunia kewalian, pemandangan seperti itu
bukanlah perkara aneh dan perlu dicurigai.
Segera saja Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi
Shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu
melagukannya dihadapan mereka. Secara kebetulan Kiai
Ali Mansur juga memiliki suara bagus. Ditengah alunan
suara Shalawat Badar itu para Habaib mendengarkannya
dengan khusyuk. Tak lama kemudian mereka meneteskan
air mata karena haru.
Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang
dikumandangkan oleh Kiai Ali Mansur, Hbib segera
bangkit.
“Ya Akhy….! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu
dengan Shalawat Badar…!” serunya dengan nada mantap.
Setelah Habib Ali memimpin doa, lalu rombongan itu
mohon diri. Sejak saat itu terkenallah Shalawat Badar
sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan
semangat melawan orang-orang PKI.
Untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang
para habib dan ulama (termasuk Kiai Ali Mansur dan KH.
Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Jalan
Kwitang, Jakarta. Di forum istimewa itulah Shalawat
Badar dikumandangkan secara luas oleh Kiai Ali Mansur.

Sumber : Antologi NU Jilid I. Pengantar KH. Abdul
Muhith Muzadi

HUKUM ZIARAH KEMAKAM WALI ATAU ORANG SHOLIH

Hukum Ziarah dan Tabarruk ke Makam Orang
Shaleh dan Waliyullah
Kitab " Al-Bidayah wan Nihayah karya Al-Hafidz Ibnu
Katsir cetakan Daar el-Fikr tahun 1978 Jilid 6 Juz 12
halaman 287.

# ﺍﻟﺨﻀﺮ ﺑﻦ ﻧﺼﺮ #
===========
ﻋﻠﻰ ﺑﻦ ﻧﺼﺮ ﺍﻷﺭﺑﻠﻰ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﻟِﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺩﺭﺱ ﺑﺄﺭﺑﻞ ﻓﻰ ﺳﻨﺔ
ﺛﻼﺙ ﻭ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻭ ﺧﻤﺴﻤﺎﺋﺔ , ﻭ ﻛﺎﻥ ﻓﺎﺿﻼ ﺩﻳﻨﺎ , ﺍﻧﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ , ﻭ
ﻛﺎﻥ ﻗﺪ ﺍﺷﺘﻐﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻴﺎ ﺍﻟﻬﺮﺍﺳﻲ ﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﺑﺒﻐﺪﺍﺩ , ﻭ ﻗﺪﻡ ﺩﻣﺸﻖ
ﻓﺄﺭﺧﻪ ﺍﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ ﻓﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔ , ﻭ ﺗﺮﺟﻤﻪ ﺍﺑﻦ ﺧﻠﻜﺎﻥ ﻓﻰ
ﺍﻟﻮﻓﻴﺎﺕ , ﻭ ﻗﺎﻝ ﻗﺒﺮﻩ ﻳﺰﺍﺭ , ﻭ ﻗﺪ ﺯﺭﺗﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﺮﺓ , ﻭ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﻨﺎﺱ
ﻳﻨﺘﺎﺑﻮﻥ ﻗﺒﺮﻩ ﻭ ﻳﺘﺒﺮﻛﻮﻥ ﺑﻪ

Artinya:
"Ali bin Nasr al-Arbil, seorang ulama pakar fiqih Syafi'i
adalah orang pertama yang mengajar di daerah Arbil pada
tahun 533 H / 1139 M. Beliau seorang yang mempunyai
keistimewaan di bidang ilmu agama. Banyak orang
mengambil manfa'at dengan keilmuan beliau. Beliau
sibuk sekali di al-Harasyi dan lainnya di Baghdad. Beliau
mendatangi Damsyiq (sekarang Damaskus - Syria).
Kemudian Ibnu 'Asakir menuliskan sejarah tentang beliau
pada tahun itu juga, dan Ibnu Khulkan
menterjemahkannya ke dalam kitab-kitab sejarah secara
cermat. Dan dia berkata: Makam beliau suka diziarahi
orang. Sesungguhnya aku (Imam Ibnu Katsir, pengarang
kitab ini) pun sering menziarahinya. Aku melihat orang-
orang meninggikan kuburannya dan mengambil berkah
dengan menziarahinya (bukan menyembah dan meminta
berkah kepada kuburan) pula".
BIOGRAFI SINGKAT PENGARANG, AL-HAFIDZ AL-IMAM IBNU
KATSIR
==========================
====================
Nama lengkapnya Isma'il bin Umar bin Katsir al-Bashri
ad-Dimasyqi. Beliau terkenal dengan nama Abu Katsir
Imaduddin Abul Fida' (wafat tahun 774 H / 1374 M).
Selain itu beliau terkenal sebagai ulama Syafi'i yang ahli
di bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu sejarah
dll.
Kitab-kitab karangan beliau antara lain:
1. Tafsir Ibnu Katsir
2. Syarah al-Jami'us Shahih lil Bukhari (syarah Hadits
Bukhari)
3. Jami'ul Masanin was Sunnah (Hadits: 8 jilid)
4. Thabaqatul 'Ulama (Sejarah Ulama-ulama)
5. Al-Fushul fii Siratil Rasul (sejarah Nabi)
6. Al-Wadhihiyun Nafis fii Manaqib Muhammad bin Idris
(kitab keutamaan Imam Syafi'i)
7. Al-Ijtihad fii Thalibil Jihad (kitab yang menerangkan
tentang mengerahkan perang fii sabilillah

* Disadur ulang dari Blog murid KH. Thobary Syadzili.

Danny Ma'shoum

SAHABAT ABDULLOH IBN UMAR SHOLAT DIKUBURAN

Abdullah bin Umar Shalat di Kuburan

ﻭ ﻗﺪ ﻣﺮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻳﻮﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﻘﺒﺮﺓ ,
ﻓﻔﺮﺵ ﺭﺩﺍﺀﻩ ﻭ ﺻﻠﻰ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻫﻨﺎﻙ , ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ ﻓﻰ ﺫﻟﻚ , ﻓﻘﺎﻝ :
ﺫﻛﺮﺕ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻭ ﻗﺪ ﺣﻴﻞ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﻭ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ , ﻓﺄﺣﺒﺒﺖ ﺃﻥ
ﺃﺗﻘﺮﺏ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺮﻛﻌﺘﻴﻦ ﺑﻴﻨﻬﻢ
Artinya:
=====
Pada suatu hari Abdullah bin Umar melewati sebuah
kuburan. Kemudian, beliau menghamparkan
selendangnya dan shalat di sana. Dikatakan dalam suatu
riwayat beliau berkata: Aku ingat kepada para penghuni
kuburan dan sesungguhnya bisa dijadikan rekayasa di
antara mereka dan ibadah. Aku senang mendekatkat diri
kepada Allah ta’ala dengan melaksanakan shalat di
antara kuburan-kuburan mereka.
{Kitab “Tanbihul Mughtarrin”, karya Syaihul Islam asy-
Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’roni halamann 103, cetakan
“Darul Kutub al-Islamiyyah”, Kalibata –Jakarta Selatan}
Oleh: KH. Thobary Syadzily

TABARRUK DENGAN JENAZAH IMAM IBNU TAIMIYAH

Tabarruk dengan Jenazah Syeikh Ibnu
Taimiyah.

Masalah tabarruk dengan jenazah Syeikh Ibnu Taimiyah
diterangkan di dalam kitab "Al-Bidayah wan-Nihayah"
karya Imam Ibnu Katsir cetakan Dar el-Fikr pada jilid 7
juz 14 halaman 135 sebagai berikut:

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺒﺮﺯﺍﻟﻰ ﻓﻰ ﺗﺎﺭﻳﺨﻪ . ﻭ ﻓﻰ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ
ﺍﻟﻌﺸﺮﻳﻦ ﻣﻦ ﺫﻯ ﺍﻟﻘﻌﺪﺓ ﺗﻮﻓﻰ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ
ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺰﺍﻫﺪ ﺍﻟﻌﺎﺑﺪ ﺍﻟﻤﺠﺎﻫﺪ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺷﻴﺦ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﺗﻘﻲ
ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﻤﻔﺘﻰ ﺷﻬﺎﺕ
ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺑﻰ ﺍﻟﻤﺤﺎﺳﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺤﻠﻴﻢ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺷﻴﺦ ﺍﻻﺳﻼﻡ
ﺃﺑﻰ ﺍﻟﺒﺮﻛﺎﺕ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻰ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ
ﺍﻟﺨﻀﺮ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺨﻀﺮ ﺑﻦ ﻋﻠﻰ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ
ﺍﻟﺤﺮﺍﻧﻰ ﺛﻢ ﺍﻟﺪﻣﺸﻖ , ﺑﻘﻠﻌﺔ ﺩﻣﺸﻖ ﺑﺎﻟﻘﺎﻋﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺒﻮﺳﺎ ﺑﻬﺎ ,
ﻭ ﺣﻀﺮ ﺟﻤﻊ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻘﻠﻌﺔ , ﻭ ﺃﺫﻥ ﻟﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻋﻠﻴﻪ , ﻭ ﺟﻠﺲ
ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻋﻨﺪﻩ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻭ ﻗﺮﺅﺍ ﺍﻟﻘﺮﺃﻥ ﻭ ﺗﺒﺮﻛﻮﺍ ﺑﺮﺅﻳﺘﻪ ﻭ ﺗﻘﺒﻴﻠﻪ
ﺛﻢ ﺍﻧﺼﺮﻓﻮﺍ , ﺛﻢ ﺣﻀﺮ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻓﻔﻌﻠﻦ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﺛﻢ
ﺍﻧﺼﺮﻓﻦ ﻭ ﺍﻗﺘﺼﺮﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻳﻐﺴﻠﻪ

Artinya:
"Telah berkata as-Syaikh 'Alamuddin al-Barzali di dalam
kitab tarikhnya: Pada malam Senin tanggal 20 Dzul-
Qa'dah telah wafat as-Syaikh al-Imam al-'Alim al'Ilmi
al-'Alamah al-Faqih al-Hafidz az-Zahid al-'Abid al-
Mujahid al-Qudwah Syaihul Islam Taqiyuddin Abul 'Abbas
Ahmad bin Syaihuna al-Imam al-'Alamah al-Mufti
Syihabuddin Abil Mahasin 'Abdul Halim Ibnu asy-Syaikh
al-Imam Syaihul Islam Abil Barakat "Abdussalam bin
'Abdullah bin Abil Qasim Muhammad bin al-Khadir bin
Muhammad Ibn al-Khadir bin 'Ali bin 'Abdullah bin
Taimiyah bertempat di tanah al-Haran, kemudian ad-
Damsyiq, di Qal'ah Damsyik beliau dipenjara di sana.
Ketika Ibnu Taimiyah wafat orang-orang ke pergi Qal'ah
dan mereka diizinkan untuk memasuki Qal'ah. Kemudian
orang-orang (kaum laki-laki) duduk di sisi jenazah Ibnu
Taimiyah sebelum dimandikan. Mereka membacakan Al-
Qur'an dan bertabarruk (mengambil berkah) dengan
melihat dan menciumnya, terus bubar. Kemudian hadir
kaum perempuan dan melakukan seperti apa yang
dilakukan oleh kaum laki-laki, terus bubar. Mereka
meringkas perbuatan tersebut, karena jenazah akan
dimandikan.
Selain itu di halaman berikutnya, yaitu halaman 136
diterangkan bahwa: Orang-orang berbondong-bondong
mengantarkan jenazah Syeikh Ibnu Taimiyah, hingga
iring-iringan jenazahnya memenuhi jalanan. Semua orang
menyerbunya dari berbagai penjuru, sehingga kerumunan
orang semakin bertambah ramai saja dan berdesak-
desakan. Mereka melemparkan sapu tangan dan sorban-
sorban mereka di atas usungan jenazah untuk mengambil
berkah. Kayu-kayu usungan jenazah banyak yang putus
akibat terlampau banyak orang yang bergelantungan.
Mereka juga meminum air bekas memandikan jenazah
Syeikh Ibnu Taimiyah, bahkan mereka bersedia membeli
sisa-sisa kayu bidara (bekas memandikan jenazah). Juga
diterangkan di halaman kitab itu bahwa benang yang
diberi air raksa yang diletakkan pada jasadnya untuk
menghalau kutu-kutu pun mereka beli dengan harga
"seratus lima puluh dirham".

BIOGRAFI SINGKAT PENGARANG KITAB "AL-BIDAYAH WAN-
NIHAYAH" : AL-HAFIDZ AL-IMAM IBNU KATSIR
==========================
====================
Nama lengkapnya Isma'il bin Umar bin Katsir al-Bashri
ad-Dimasyqi. Beliau terkenal dengan nama Abu Katsir
Imaduddin Abul Fida' (wafat tahun 774 H / 1374 M).
Selain itu beliau terkenal sebagai ulama Syafi'i yang ahli
di bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu sejarah
dll.

Kitab-kitab karangan beliau antara lain:
1. Tafsir Ibnu Katsir
2. Syarah al-Jami'us Shahih lil Bukhari (syarah Hadits
Bukhari)
3. Jami'ul Masanin was Sunnah (Hadits: 8 jilid)
4. Thabaqatul 'Ulama (Sejarah Ulama-ulama)
5. Al-Fushul fii Siratil Rasul (sejarah Nabi)
6. Al-Wadhihiyun Nafis fii Manaqib Muhammad bin Idris
(kitab keutamaan Imam Syafi'i)
7. Al-Ijtihad fii Thalibil Jihad (kitab yang menerangkan
tentang mengerahkan perang fii sabilillah)

* Disadur ulang dari Blog murid KH. Thobary Syadzili.

Danny Ma'shoum

7 KEAGUNGAN TAQWA

7 ISYARAT AYAT AL-QUR'AN TENTANG KELEBIHAN ORANG YANG BERTAQWA.

As-Syaikh Abu Nashr Muhammad ibn Abdirrahman al-Hamadzani rahimahulloh berkata, " Ada tujuh hal yang sangat diharapkan semua manusia, akan tetapi Alloh SWT telah berjanji akan memberikannya kepada orang-orang yang bertakwa ;

(1). Semua manusia mengharapkan diampuni dosa-dosanya, akan tetapi Alloh SWT telah berjanji akan memberikannya kepada orang-orang yang bertakwa.
Ayatnya adalah :

(ذَٰلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا) [Surat At-Talaq : 5]

" Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya ".

(2). Semua manusia mengharapkan selamat dari neraka, akan tetapi hal itu dijanjikan Alloh SWT kepada orang-orang yang bertakwa.
Ayatnya adalah :

(وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ) [Surat Az-Zumar : 61]

" Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita ".

(3). Semua orang mengharapkan memperoleh akhir hidup yang baik, akan tetapi hal itu dijanjikan Alloh SWT kepada orang-orang yang bertakwa.
Ayatnya adalah :

(قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ) [Surat Al-Araf : 128]

" Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa".

(4). Semua manusia mengharapkan dapat mewarisi surga, akan tetapi hal itu Alloh janjikan kepada orang-orang yang bertakwa.
Ayatnya adalah :

(تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا) [Surat Maryam : 63]

" Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa ".

(5). Semua manusia mengharapkan memperoleh keberuntungan dan pertolongan, akan tetapi hal itu Alloh janjikan kepada orang-orang yang bertakwa.
Ayatnya adalah :

(إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ) [Surat An-Nahl : 128]

" Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan ".

(6). Semua manusia mengharapkan cinta dari Alloh, akan tetapi hal itu Alloh janjikan kepada orang-orang yang bertakwa.
Ayatnya adalah :

(كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ) [Surat At-Tawba : 7]

" Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa ".

(7). Semua manusia mengharapkan diterima taat dan doanya, akan tetapi hal itu Alloh janjikan kepada orang-orang yang bertakwa.
Ayatnya adalah :

(وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ) [Surat Al-Maeda : 27]

" Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

* keterangan diatas saya sadur dari kitab " الدرة النفيسة من شروح الحكم العطائية لقصد محبة الله ", Jilid 1, Hal. 52, Karya Syaikhina Al-Mursyid KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad, pengasuh Pon-Pes Bumi Damai Al-Muhibbin, TambakBeras-Jombang.

Danny Ma'shoum

Wednesday, March 4, 2015

ANEKDOT PENUH HIKMAH

Anekdot dan Hikmah dari Guru-Guru kami Tercinta .

@ Al-Mursyid Al Hafidz Al Waro' Syaikhina Al Bazzi Nawawi Trowulan.
Dalam kesempatan pengajian rutin Tafsir Jalalain ba'da Maghrib, pernah mengatakan kepada kami ;

" Sinau o sing temenan. sebab pirang-pirang anak e macan dadi kucing kerono kurang temenan olehe sinau "  ( Belajarlah dengan sungguh-sungguh, sebab berapa banyak keturunan Ulama yang menjadi seperti halnya orang biasa /awam, oleh karena kurangnya  keseriusan dalam belajar ).

" Dadi wong Quran iku kudu gelem soro. Mulango..senajan muridmu mung siji tetep wulangen..cukup, cukup..ojo wedi gak iso mangan, selagi cangkem iki isih suwek..mangan, mangan, dikersakno dadi opo wae, sempatno waktu gawe mulang Quran ". 

( Jadi seorang Hafidz itu harus mau bekerja keras. Mengajarlah...meskipun dengan satu murid, pasti Alloh mencukupimu. Jangan takut ndak bisa makan, selagi mulut ini masih robek ( terbuka ) pasti makan. Ditakdirkan jadi apapun sempatkan waktu untuk mengajarkan Al Quran. )

@ Syaikhina Al-Allamah al Faqih Mbah Maemoen Zubeir, Sarang ;

" Dadi anak e Kyai suwene mondok kok ora ngalim-ngalim, titeni ae..nek arep boyong lhak ethok-ethok jadzab " .

( Jadi putra Kyai lamanya waktu jadi santri masih tetep saja tidak mumpuni keilmuannya,  perhatikan saja..kalau sudah dekat waktunya pulang kampung, pasti pura-pura jadzab / nganeh-nganehi )

" Nyandang gelar dzurriyyah Rosul kok ora ngalim, kui koyo dene suwekan Qur'an, dibuwak biso malati, gak dibuwak ora keno diwoco ". 

( Menyandang nama besar sebagai keturunan Rosululloh SAW tapi tidak mumpuni keilmuannya, itu seperti halnya sobekan kertas Al-Quran. Kalau sobekan itu dibuang bisa kualat, tidak dibuang malah tidak bisa dibaca ).

" Sopo sing tambah khusyu' ,tambah bento "

( maksudnya ; melulu wiridan tanpa mau belajar / muthola'ah, maka tambah bodoh )

@ Ini ketika kami tabarrukan di Lirboyo, pondok Jet Tempur nya Kyai Maftuh Basthul Birri Al Hafidz,
Seorang pengurus menegur salah satu santri ,putra seorang Kyai ;

" Mbok yo nang pondok iku sinau sing tenanan to Kang,..ojo koncone enak-enak sinau mbok jak'i metu ae..iyo penak sampean masio gak ngalim, boyongo isih ditinggali pondok, lha barang koncomu iku moleh ditinggali gardu ".

( Kang, kalau bisa dipondok itu yang seriuslah kalau belajar..jangan temannya lagi enak2 belajar diajak keluyuran keluar, iya kamu enak meskipun tidak pandai kalau pulang masih ditinggali pon-pes sama ayahmu. Lha temanmu ini cuman ditinggali pos kamling ).

Danny Ma'shoum.

PERYATAAN PARA IMAM DAN ULAMA TENTANG TASHOWWUF

Pernyataan para Imam dan Ulama mengenai
Tasawuf

Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 M.)
Imam Abu Hanifa (r) mengatakan, “Kalau bukan
karena dua tahun, celakalah aku.  Selama dua tahun
aku telah menemani Sayyidina Ja'far ash-Shadiq (a)
dan aku mendapatkan ilmu spiritual yang
membuatku seorang arif di Jalan ini.”
Kitab Ad-Durr al-Mukhtar , vol 1. hal. 43,
menyebutkan bahwa Ibn `Abidin berkata, “Abi Ali
Dakkak (q), salah seorang wali, menerima
tarekatnya dari Abul Qassim an-Nashirabadi (q),
yang menerimanya dari asy-Syibli (q), yang
menerimanya dari Sariyy as-Saqathi (q), yang
menerimanya dari Ma`ruf al-Karkhi (q), yang
menerimanya dari Dawud ath-Tha`i (q), yang
menerima ilmu baik lahir maupun batin, dari Imam
Abu Hanifa (r), yang mendukung Jalan Spiritual
Sufi.” Sebelum wafat, sang Imam berkata, “ lawla
sanatan lahalaka Nu`man ,” “Kalau bukan karena
dua tahun, Nu`man [yakni dirinya sendiri] akan
celaka.” Itu adalah dua tahun terakhir masa
hidupnya, ketika ia mulai menemani Ja`far ash-
Shadiq (a).
Imam Malik (94-179 H./716-795 M.)
Imam Malik (r) berkata, “ Man tashawwafa wa lam
yatafaqqah fa qad tazandaqa waman tafaqqaha wa
lam yatashawwaf faqad tafassaqa wa man jama‘a
bayna humâ fa qad tah aqqaqa. Barangsiapa yang
mempelajari tasawuf tanpa mempelajari fikih, ia
telah merusak imannya; dan barangsiapa yang
mempelajari fikih tanpa mempelajari tasawuf, ia
telah merusak dirinya sendiri. Hanya orang yang
memadukan keduanyalah yang akan menemukan
kebenaran.” Perkataan ini disebutkan dan
dijelaskan di dalam kitab seorang muhaddits`Ali al-
Adawi dengan penjelasan dari Imam Abil-Hassan,
seorang ulama fikih. vol. 2, hal. 195.
Imam Syafi`i (150-205 H./767-820 M.)
Imam Syafi`i berkata, “Aku menyertai para Sufi dan
memperoleh tiga macam ilmu:
1. Mereka mengajariku untuk berbicara dan
menjauhi kepura-puraan,
2. Mereka mengajariku untuk memperlakukan
orang dengan toleran dan hati yang lembut,
3. Mereka membimbingku di Jalan Sufi.”
Hal ini disebutkan di dalam kitab Kasyf al-Khafa dan
Muzid al-Albas, oleh Imam 'Ajluni, vol. 1, hal. 341.
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 M.)
Imam Ahmad (r) berkata, ketika menasihati
putranya, “Wahai anakku, engkau harus duduk
dengan Ahli Tasawuf, karena mereka bagaikan keran
ilmu dan mereka senantiasa menjaga zikrullah di
dalam kalbu mereka.  Mereka adalah orang-orang
yang zuhud dan mereka mempunyai kekuatan
spiritual terbesar.” Hal ini dijelaskan di dalam kitab
Tanwir al-Qulub , hal. 405, oleh Syekh Amin al-Kurdi
(q).
Imam Ahmad mengatakan mengenai Sufi,
sebagaimana disebutkan di dalam kitab Ghiza al-
Albab, vol. 1, hal. 120, “Aku tidak mengetahui kaum
yang lebih baik dari mereka.”
Imam al-Muhasibi (w. 243 H./857 M.)
Imam al-Muhasibi melaporkan bahwa Nabi (s)
bersabda, “Umatku akan terbagi menjadi 73
golongan dan hanya satu di antara mereka yang
akan menjadi golongan yang selamat.” Dan Allah
Maha Mengetahui bahwa golongan yang dimaksud
adalah para ahli tasawuf. Beliau menjelaskan secara
mendalam mengenai hal itu di dalam kitabnya Kitab
al-Wasiya hal. 27-32.
Imam al-Qusyairi (w. 465 H./1072 M.)
Imam al-Qusyairi berkata mengenai Sufisme, “Allah
menjadikan kelompok ini sebagai yang terbaik di
antara para Awliya-Nya dan Dia memuliakan mereka
di atas semua hamba-Nya setelah Nabi dan Rasul-
Nya, dan Dia menjadikan kalbu mereka sebagai
rahasia dari Hadirat Ilahiah-Nya dan Dia memilih
mereka di antara umat untuk menerima Cahaya-Nya.
Mereka adalah jalan bagi kemanusiaan.  Dia
mensucikan mereka dari segala hubungan dengan
dunia ini, dan Dia mengangkat mereka ke maqam
penglihatan tertinggi.  Dan Dia menyingkapkan bagi
mereka Hakikat dari Keesaan-Nya yang Unik. Dia
membuat mereka untuk mengamati Kehendak-Nya
berjalan dalam diri mereka.  Dia membuat mereka
untuk bersinar dalam Eksistensi-Nya dan muncul
sebagai Cahaya dari Cahaya-Nya.” [ ar-Risalat al-
Qushayriyya , hal. 2]
Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 M.)
Imam Ghazali, Hujjat ul-Islam , berkata mengenai
Sufisme, “Aku simpulkan bwaha kaum Sufi adalah
para pencari di Jalan Allah, dan adab mereka adalah
yang terbaik, jalan mereka adalah jalan terbaik, dan
pola hidup mereka adalah pola hidup yang paling
tersucikan. Mereka telah membersihkan kalbu
mereka dari berbagai hal selain Allah dan
menjadikannya sebagai saluran tempat mengalirnya
sungai-sungai yang membawa ilmu-ilmu dari
Hadirat Ilahi.” [ al-Munqidz min adh-Dhalaal , hal.
131].
Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 M.)
Imam Nawawi berkata, di dalam Suratnya, al-
Maqasid , “Ada lima kekhususan tarekatnya kaum
Sufi, yaitu:
1. Memelihara kehadiran Allah di dalam kalbu,
baik di tengah keramaian maupun saat sendiri;
2. Mengikuti Sunnah Nabi (s) dalam ucapan
dan perbuatan;
3. Menjauhkan diri dari kebergatungan dengan
orang-orang;
4. Bersyukur dengan pemberian Allah, meski
hanya sedikit;
5. Selalu mengembalikan segala urusan kepada
Allah `azza wa jalla.” [ Maqasid at-Tawhid ,
hal. 20]
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209
M.)
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi berkata, “Jalan kaum
Sufi dalam menuntut ilmu adalah dengan
memutuskan dirinya dari kehidupan duniawi ini, dan
senantiasa menyibukan diri dengan zikrullah dalam
hati dan pikiran mereka, di seluruh tindakan dan
perilaku mereka.” [ I`tiqadat Firaq al-Muslimin , hal.
72, 73]
Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 M.)
Ibn Khaldun mengatakan, “Jalan kaum sufi selalu
hadir di antara umat terdahulu (Salaf), di antara
para Sahabat, Tabi`in, dan Tabi` at-Tabi`in. Jalan
yang mereka tempuh merupakan jalan kebenaran
dan petunjuk.  Landasannya adalah beribadah
kepada Allah dan menjauhkan diri dari perhiasan
duniawi dan kesenangannya.” [ Muqaddimat ibn
Khaldun, p. 328]
Tajuddin as-Subki
Tajuddin as-Subki (r) di dalam kitab Mu`id an-
Na`im , hal. 190, di bawah bab berjudul Sufisme,
“Semoga Allah memuji mereka dan menyapa mereka
dan semoga Allah menjadikan kita bersama mereka
di Surga. Begitu banyak hal yang telah dikatakan
mengenai mereka dan begitu banyak orang-orang
yang bodoh telah mengatakan sesuatu yang tidak
berhubungan dengan mereka.  Padahal yang
sesungguhnya adalah mereka telah meninggalkan
dunia dan menyibukkan dirinya dengan ibadah.”
Ia berkata, “Mereka adalah orang-orang di Jalan
Allah, yang doanya makbul, yang dengannya Allah
memberi dukungan bagi manusia.”
Jalaluddin as-Suyuthi
Ia berkata di dalam kitabnya, Ta'yad al-Haqiqat al-
`Aliyya , hal. 57, “Sufisme sendiri merupakan ilmu
terbaik dan paling mulia.” Ia menjelaskan
bagaimana kita mengikuti Sunnah Nabi (s) dan
meninggalkan bid’ah.”
Ibn Taymiyya (661-728 H./1263-1328 M.)
Di dalam Majmu` al-Fataawa Ibn Taymiyya, yang
diterbitkan oleh Dar ar-Rahmat, Kairo, Vol, 11, hal.
497, Kitab Tasawwuf, Ibn Taymiyya mengatakan,
“Kalian harus tahu bahwa syekh sejati harus
dijadikan sebagai mursyid dan teladan di dalam
agama, karena mereka mengikuti jejak para Nabi
dan Rasul. Tarekat dari syekh-syekh itu adalah
menyeru orang menuju Hadirat Ilahi dan kepatuhan
kepada Nabi (s).”
Dalam volume yang sama, di halaman 499, Ibn
Taymiyya mengatakan, “Syekh yang perlu kita
jadikan sebagai mursyid adalah teladan bagi kita
dan kita harus mengikuti mereka. Sebagaimana
dalam Ibadah Haji, seseorang memerlukan pemandu
(dalil ) untuk mencapai Ka`bah, syekh-syekh ini
adalah pemandu kita ( dalil) menuju Allah dan Nabi
kita (s).”
Di antara para syuyukh yang disebutkannya adalah:
Ibrahim ibn Adham (q), Ma`ruf al-Karkhi (q), Hasan
al-Basri (q), Rabia al-Adawiyya (q), Junaid ibn
Muhammad (q), Syekh `Abdul Qadir Jilani (q), Syekh
Ahmad ar-Rafa`i (q), dan Syekh Bayazid al-
Bisthami (q).
Pada halaman 510 dari volume 10, Ibn Taymiyya
mengutip tentang Bayazid al-Bisthami (q),
“...Seorang Syekh Sufi yang agung Bayazid al-
Bisthami, dan mengenai kisah yang terkenal ketika
ia bertemu dengan Allah di dalam keadaan
kasyf dan berkata kepada-Nya, ‘Ya Allah, apakah
jalan menuju Engkau?’  Dan Allah menjawab,
‘Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku.’” Ibn
Taymiyya melanjutkan mengutip Bayazid al-
Bisthami, “Aku melepaskan diriku seperti seekor ular
melepaskan kulitnya.”
Secara tersirat di dalam kutipan ini terdapat indikasi
perlunya zuhud (meninggalkan kehidupan duniawi),
sebagaimana jalan yang ditempuh oleh Bayazid al-
Bisthami.
Jadi kita lihat dari kutipan di atas, bahwa Ibn
Taymiyya menerima banyak syekh dengan mengutip
(ucapan) mereka dan menganjurkan orang untuk
mengikuti pemandu yang menunjukkan jalan untuk
mematuhi Allah dan mematuhi Nabi (s).
Apa yang Dikatakan oleh Ibn Taymiyya mengenai
Tasawuf
“ Ketika direntangkan, wadahnya sendiri yang akan
mengatakan kepadamu, apakah engkau emas atau
tembaga berlapis emas. ” Sanai.
Berikut ini adalah apa yang dikatakan oleh Ibn
Taymiyya mengenai definisi Tasawuf, dari Volume
11, At-Tasawwuf , of Majmu`a Fatawa Ibn Taymiyya
al-Kubra , Dar ar-Rahmah, Kairo:
“Alhamdulillah, penggunaan kata tasawuf telah
dibahas sepenuhnya. Ini adalah sebuah istilah yang
diberikan kepada mereka yang berurusan dengan
cabang ilmu itu ( tazkiyat an-nafs and Ihsan ).”
“Tasawuf adalah ilmu mengenai hakikat dan
keadaan-keadaan spiritual ( ah waal). Sufi adalah
orang yang membersihkan dirinya dari segala
sesuatu yang mengganggu dirinya dari zikrullah dan
yang menyibukkan dirinya dengan merenungkan
akhirat sehingga nilai antara emas dan batu tidak
berbeda baginya.  Tasawuf menjaga nilai-nilai yang
mulia dan menghindari kemasyhuran dan segala hal
yang tak berguna dan hal-hal sejenisnya. Oleh
karena itu makna Sufi berkaitan erat dengan makna
Shiddiq, atau orang yang telah mencapai
kepercayaan sempurna, karena manusia terbaik
setelah para Nabi adalah Shiddiqin , sebagaimana
firman Allah di dalam Surat An-Nisa’, 69: “ Dan
barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya (s),
mereka itu akan bersama-sama dengan orang-
orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu: para
Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang yang
saleh. Betapa indahnya pertemanan dengan
mereka.’” Ia melanjutkan tentang Sufi, “Mereka
berjuang untuk mematuhi Allah… jadi dari mereka
kalian akan mendapatkan Maqam Kedekatan
Terdepan melalui keutamaan perjuangan mereka.
Dan sebagian dari mereka berasal dari orang-orang
yang saleh...”
Jubah Kesufian (khirqa )
Sebelum dilanjutkan kepada Imam Ibn Qayyim,
mungkin akan berguna jika kita mengatakan sesuatu
mengenai pemakaian jubah Sufi. Dalam sudut
pandang para Shiddiqin, ada tiga kategori syekh:
Syekh al-Khirqa
Syekh adz-Dzikir
Syekh al-Irsyad
Dua kategori pertama (Syekh al-khirqa dan Syekh
adz-Dzikir) merupakan deputi dari seorang syekh
yang mewakili hakikat dari syekh atau tarekat
melalui perantaraan jubah (khirqa ) atau zikir.  Syekh
al-Khirqa tergantung pada kekuatan jubahnya untuk
memberi dukungan pada muridnya. Murid
mengambil dukungan dari syekh melalui jubah yang
telah diberkati oleh seorang Syekh al-Irsyad.
Murid Syekh adz-Dzikir didukung dengan zikir, tidak
secara langsung oleh syekh. Dalam kedua kasus ini,
syekh menjadi simbol, karena dukungan
sesungguhnya bagi murid adalah jubah atau zikirnya.
Yang tertinggi dari ketiga kategori itu adalah Syekh
al-Irsyad. Ia adalah syekh yang memberi dukungan
kepada murid tanpa melalui perantara, langsung dari
dirinya kepada murid. Ia adalah syekh sejati, karena
ia memberi dukungan dan mengarahkan muridnya
secara langsung melalui kalbunya tanpa perantara
apapun. Itulah sebabnya Sayyidina Ahmad al-Faruqi
(q) berkata, “Dalam tarekat kita, syekh membimbing
muridnya secara langsung, tidak seperti tarekat
lainnya yang menggunakan jubah atau sarana lain
untuk mengangkat murid mereka.”
Dengan demikian di dalam Tarekat Naqsybandi
hanya satu syekh, yaitu Syekh al-Irsyad yang
diterima sebagai pemegang otoritas sesungguhnya.
Ketika syekh itu wafat, murid harus memperbarui
bay’at mereka kepada penerusnya yang telah
mendapat seluruh rahasia dan mewarisi dari Nabi (s)
dan seluruh pendahulunya di dalam Silsilah Emas
dalam tarekat.
Imam Ibn Qayyim (w. 751 H./1350 M.)
Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita dapat
menyaksikan kebesaran para ahli tasawuf dalam
pandangan kaum Salaf melalui apa yang disebutkan
oleh Sufyan ats-Tsawri (w. 161 H./777 M.).  Salah
satu imam terbesar di abad ke-2 dan salah satu dari
mujtahid terkemuka, ia berkata, “Jika bukan karena
Abu Hisyam ash-Shufi (w. 115 H./733 M.) aku tidak
akan pernah menyadari keberadaan dari bentuk
terhalus riya di dalam diriku.” ( Manazil as-Sa'iriin )
Ibn Qayyim melanjutkan, “Di antara orang-orang
terbaik adalah kaum Sufi yang terpelajar dalam
fikih.”
`Abdullah ibn Muhammad ibn `Abdul Wahhab
(1115-1201 H./1703-1787 M.)
Berikut ini adalah sebuah kutipan dari buku
Muhammad Man ar Nu`mani, Ad-Dia'at al-
Mukatstsafa Didd asy-Syaikh Muhammad ibn `Abdul
Wahhab (hal. 85), “Syekh `Abdullah, putra dari
Syekh Muhammad ibn `Abdul Wahhab, mengatakan
mengenai tasawuf: “Aku dan ayahku tidak
menyangkal atau mengkritik ilmu tasawuf, tetapi
sebaliknya kami mendukungnya karena ia
membersihkan dosa-dosa tersembunyi baik lahiriah
maupun batiniah.  Walaupun seseorang dapat
berada di jalan yang benar secara lahiriah, namun
secara batiniah bisa saja ia berada di jalan yang
salah; dan untuk memperbaikinya diperlukan
tasawuf.”
Dalam volume kelima dari koleksi surat-surat
Muhammad ibn `Abdul Wahhab berjudul ar-Rasa'il
asy-Syakhsiyya, halaman 11, dan sekali lagi pada
halaman 12, 61, dan 64, ia menyatakan, “Aku tidak
pernah menuduh kafir pada Ibn `Arabi atau Ibn al-
Farid atas interpretasi Sufi mereka.”
Ibn `Abidin
Seorang ulama besar, Ibn `Abidin di dalam kitabnya,
Rasa'il Ibn`Abidin (hal. 172-173) menyatakan, “Tak
ada yang dirasakan para penempuh Jalan ini kecuali
kehadiran Tuhan dan hanya Dia yang mereka cintai.
Apabila ingat kepada-Nya, mereka akan menangis,
dan mereka bahagia jika dapat bersyukur kepada-
Nya; apabila menemukan-Nya, mereka akan
berteriak, dan apabila menyaksikan-Nya, mereka
akan tenang; apabila berjalan dalam kehadiran-Nya,
mereka melebur.  Mereka mabuk dengan
keberkahan-Nya. Semoga Allah memberkati
mereka.”
Syekh Muhammad`Abduh (1265-1323
H./1849-1905 CE)
Ia menyatakan, “Tasawuf muncul pada abad pertama
dalam Islam dan ia mendapat penghormatan yang
sangat tinggi. Ia membersihkan diri, meluruskan
perilaku dan memberi ilmu kepada manusia dari
Hikmah dan Rahasia-Rahasia dari Hadirat
Ilahi.” [dikutip dari Majallat al-Muslim , edisi ke-6,
1378 H, hal. 24].

Syekh Rasyid Ridha

Ia mengatakan, “Sufisme merupakan sebuah pilar
yang unik di antara pilar-pilar agama.  Tujuannya
adalah untuk membersihkan diri dan mengaudit
perilaku sehari-sehari dan mengangkat seseorang
ke maqam spiritual yang tinggi.” [ Majallat al-
Manar, tahun pertama, hal. 726].
Mawlana Abul Hasan `Ali an-Nadwi
Mawlana Abul Hasan `Ali an-Nadwi merupakan
seorang anggota dari Masyarakat Arab Islam India
dan Negara-Negara Muslim ( The Islamic-Arabic
Society of India and Muslim Countries ).  Dalam
bukunya, Muslims in India , yang ditulisnya beberapa
tahun yang lalu, pada halaman 140-146 ia
mengatakan, “Para Sufi memprakarsai manusia
dalam kesatuan dan ketulusan untuk mengikuti
Sunnah Nabi (s) dan dalam pertobatan terhadap
dosa-dosa mereka dan menghindari ketidakpatuhan
kepada Allah, `azza wa jalla. Bimbingan mereka
mendorong orang untuk mengikuti jalan
berdasarkan kecintaan yang sempurna kepada
Allah.”
“Di Calcutta, India, setiap hari lebih dari 1000 orang
mengambil bay’at ke dalam Sufisme.”
“Terima kasih atas pengaruh kaum Sufi, ribuan dan
ratusan ribu orang di India menemukan Tuhan
mereka dan mencapai maqamul Ihsan melalui agama
Islam.

Abul `Ala Mawdudi
Di dalam bukunya Mabadi' al-Islam (hal. 17), ia
mengatakan, “Sufisme adalah suatu hakikat yang
tanda-tandanya adalah cinta pada Allah dan cinta
pada Rasulullah (s), di mana seseorang meniadakan
dirinya untuk mereka, dan ia melenyapkan segala
sesuatu kecuali mereka.  Sufisme memberi petunjuk
bagaimana mengikuti jejak Nabi (s).”
“Tasawuf mencari ketulusan hati, kemurnian niat,
dan sifat amanah dalam kepatuhan di dalam semua
perbuatan seseorang.”
“Syari`ah dan Sufisme: apakah kemiripan di antara
keduanya?  Mereka bagaikan tubuh dan jiwa.  Tubuh
adalah ilmu eksternal Syari`ah sedangkan jiwa
adalah ilmu internal/batin.”
Secara keseluruhan, Sufisme baik sekarang maupun
di masa lalu, merupakan sarana yang efektif dalam
menyebarkan hakikat di dalam Islam, memperluas
ilmu dan memahami spiritualitas, dan mendorong
bagi kedamaian dan kebahagiaan. Dengannya orang
dapat menemukan dirinya dan dengan demikian ia
akan menemukan Tuhannya.  Dengannya orang
dapat meningkatkan diri, mengubah, dan
mengangkat dirinya, dan mendapatkan keselamatan
dari kebodohan dunia ini dan pengejaran yang keliru
terhadap fantasi materialistik dunia.  Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang Dia kehendaki bagi
hamba-hamba-Nya.

DUKA SANG LANGIT KETIKA SEORANG MU'MIN MENINGGAL

MENANGISNYA LANGIT DAN BUMI SERTA MALAIKAT SEBAB MENINGGALNYA SEORANG MU'MIN.

Didalam Kitab Syarhus Sudur bi Syarhi Haalil Mauta wal Qubur nya Imam Jalaluddin Asy-Suyuthi, Hal. 218.

واخرج سعيد ابن منصور وابو نعيم عن مجاهد قال ؛ ما من مؤمن يموت الا تبكي عليه الارض اربعين صباحا .    
ابو نعيم حلية الاولياء ( ٣ / ٢٩٧ )، واخرجه نحوه ابن ابي شيبة ( ٣٦٦٠٩ )

Said ibn Manshur serta Abu Nu'aim mengeluarkan riwayat dari Mujahid, bahwasannya Mujahid berkata ; " Tidak ada seorang pun dari mukmin yang meninggal kecuali bumi menangisinya selama 40 pagi ".

Imam Abu Nu'aim al Ashbahani meriwayatkannya dalam kitab Hilyatul Auliya', jilid 3, Hal. 297. serta mengeluarkan riwayat serupa pula dalam kitabnya  Imam Ibnu Abi Syaibah pada nomor urut ke 36609.

واخرج ابو نعيم عن عطاء الخراساني قال : ما من عبد يسجد لله سجدة في بقعة من بقاع الارض الا شهدت له يوم القيامة، وبكت عليه يوم يموت.

حلية الاولياء ( ٥ / ١٩٧ )

Dan mengeluarkan riwayat pula Imam Abu Nu'aim Al Ashbahaniy, pada kitabnya Hilyatul Auliya', jilid 5, Hal. 197, dari Atho' Al Khurosaniy, yang berkata ; " Tidak seorangpun hamba yang bersujud kepada Alloh dengan sekali sujudan paxa sepetak tanah dari permukaan bumi , kecuali ( tempat sujud itu ) akan menjadi saksi baginya dihari kiamat nanti , serta menangisinya pada hari kematiannya ( hamba tersebut ).

واخرج ابن ابي حاتم وابن ابي الدنيا عن علي ابن ابي طالب رضي الله عنه قال ؛ ان المؤمن اذا مات..بكى عليه مصلاه من الارض،  ومصعد عمله من السماء، ثم تلا " فما بكت عليهم السماء والارض " .

تفسير ابن ابي حاتم ( ١٨٥٥١ ) ، واخرجه ابن المبارك في " الزهد " ( ٣٣٦ ) ، وابن الجعد في " مسنده " ( ٢٣٠٥ ).

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abi Dunya mengeluarkan riwayat dari Sayyidina Aly ibn Abi Tholib ra, yang berkata ; " Sesungguhnya seorang mukmin ketika meninggal, maka tempat sholatnya di bumi menangisinya, serta tempat naiknya amal ( si mukmin ) yang ada dilangit pun menangisinya ".

Kemudian Sayyidina Ali membaca ayat ;

(فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ)

" Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh ". (*)

Imam Ibnu Hatim, dalam tafsirnya, nomor 18551. Imam Abdulloh ibnu Al Mubarok mengeluarkan riwayat pula dalam kitabnya " Az-Zuhd ", Hal. 336. Serta Imam Ibnu Al Ja'di didalam Musnadnya, nomor 2305.

——————
(*) Ayat diatas yang dibaca Sayyidina Ali krw, ditujukan atas kaum kafir , bahwa langit dan bumi tidak akan menangisi kematian mereka.

Danny Ma'shoum

JUMLAH KARANGAN IMAM IBNU ABI DUNYA

Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dalam kitabnya yang berjudul " Qimatuz zamaan 'indal Ulamaa' ", Hal. 87. Menuturkan tentang jumlah kitab karya daripada Imam Ibnu Abi Dunya, Imam Ibnu Asakir, dan Imam Ibnu Syahin Al-Andalusy, sebagai berikut..

كثيرة تآليف ابن ابي دنيا وابن عساكر وابن شاهين.

وترك ابن ابي دنيا الف تأليف، وابن عساكر الف تاريخه في ثمانين مجلدا، وقال السيوطي ؛ منتهى التصانيف في الكثرة ابن شاهين، صنف ثلاث مئة وثلاثين مصنفا، منها التفسير في الف جزء، والمسند خمسة عشر مئة— اى الف خمس مئة جزء— قال السيوطي : وهذا من بركات طي الزمان والمكان، من ورثة الاسراء وليلة القدر. نقله في المنح البادية..

" Imam Ibnu Abi Dunya ketika wafat mewariskan 1000 karangan kitab. Imam Ibnu 'Asakir mengarang kitab At-Tarikh dalam jumlah 80 jilid. Imam As-Suyuthi berpendapat, bahwa Imam Ibnu Syahin Al Andalusy ( Spanyol ) adalah Ulama yang mempunyai karangan terbanyak, karangan beliau ( Ibnu Syahin ) tidak kurang dari 330 kitab yang diantaranya berupa Tafsir sebanyak 1000 juz dan Al Musnad sebanyak 1500 juz.
Imam As-Suyuthi menambahkan, bahwa " ini semua BAROKAH dari Isro' mi'roj dan lailatul Qodar ( yang disediakan Alloh bagi Ummat Rosululloh SAW ), sebagaimana jarak jauh yang dapat ditempuh dalam waktu sekejap, begitu pula pekerjaan yang seharusnya diselesaikan dalam waktu yang panjang bisa dituntaskan dalam waktu relatif singkat , sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Minahul Baadiyah ".

NB :  sekedar tambahan dari saya diluar konteks kitab " Qimatuz Zaman Indal Ulama ", bahwa didalam kitab "SHIFATUL AULIYA' "  Karya Imam Abi Bakr 'Abdulloh Muhammad ibn 'Ubaid ibn Sufyan Al-Qurosyi, atau yang mashur dijuluki dengan nama Imam Ibnu Abi Dunya, yang ditahqiq oleh Syaikh Abu Hajir Muhammad dan Syaikh As- Said bin Basyuni Zaghlul, pada Halaman 6, menukil pernyataan Imam Adz-Dzahabi pada kitabnya Tadzkirotul Huffadz, mengatakan ;

وقال الذهبي في تذكرة الحفاظ ؛ كان صدوقا اديبا اخباريا كثير العلم- حديثه في غاية العلو، لابن البخاري بينه وبينه اربعة انفس.

Berkata Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tadzkirotul Huffadz atas komentarnya terhadap sosok Imam Ibnu Abi Dunya, bahwa sesungguhnya beliau ( Ibnu Abi Dunya ) orang yang terpercaya kata-katanya, tulus, sopan, pengarang handal, dan sumber referensi. Perkataannya menunjukkan puncak dari ketinggian ilmunya, antara dia dan Ibnu Al Bukhori perbedaannya ( keilmuannya ) hanya 4 tarikan nafas.

Danny Ma'shoum.