kolom melintang

Monday, April 6, 2015

SEPUTAR HUKUM-HUKUM BERKAITAN DENGAN MASALAH KE-QUR'AN AN

BEBERAPA KAJIAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR MASAIL QUR'AN
——————————

(1). DASAR SEBUTAN AL HAFIDZ ATAU AL-HAMIL BAGI PENGHAFAL AL-QUR'AN

Sebutan Al Hafidz dengan Al Hamil, bagi penghafal Quran adalah sama saja, sama baiknya dan sama benarnya. Hanya saja dalam konteks sekarang lebih tepatnya dengan sebutan Al Hafidz.

ta'bir kitab :

١. المعجم الوسيط، الجزء الاول، ص ١٨٥.
الحافظ : من يحفظ القرآن الكريم او من يحفظ عددا عظيما من الحديث.

1. Kitab Al Mu'jamul Wasith, juz 1, Hal. 185.

Al Hafidz : yaitu orang yang menjaga / menghafal Al Quran Al Kariim, atau orang yang menghafal dalam jumlah besar dari Hadist Nabi SAW.

٢. مختار الصحاح، ص ١٥٦.

قلت وكذا ذكر ثقلت في الفصيح و ( الحملة ) بفتحتين جمع حامل يقال هم حملة العرش وحملة القرآن.

2. Kitab Mukhtarus Shohah, Hal. 156.
Aku berkata " seperti halnya  pentingnya kefasihan didalam membaca Al Quran. dan lafadz " Al Hamalah " bentuk jamak dari lafadz " Haamil ". Dikatakan ; mereka yang memikul Arsy dan Al Quran.

٣. المعجم الوسيط، ج ١ / ١١٩ —مادة : ح م ل.

( حملت ) المرأة—حملا. الى ان قال ؛ و—القرآن. ونحوه : حفظه وعمل به.

3. Kitab Al Mu'jamul Wasith, jilid 1, Hal. 119 pada materi lafad ح م ل / حمل.

Perempuan itu mengandung / membawa beban—sampai pada perkataan ; " Dan—Al Quran ( — maksudnya membawa / menopang ). semisal ; Menghafalnya dan mengamalkannya.

——————

(2). HUJJAH SEPUTAR MENETESNYA DARAH SAYYIDINA UTSMAN IBN AFFAN PADA SEBAGIAN AYAT AL-QUR'AN

Hujjah hikayat menetesnya darah Sayyidina Utsman Ibn Affan RA pada ayat " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم ".

الاستعاب بهامش الاصابة, الجزء الثالث , ص 76-78
ونصه , قال الواقدي قتل عثمان يوم الجمعة..الي ان قال..واكثرهم يروي ان قطرة او قطرات من دمه سقطت علي المصحف علي قوله جلا وعلا " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم.

Didalam Kitab Al Isti'ab bihamisy Al Ashobah, juz 3, Hal, 76-78, pada nash,: Telah berkata Imam Al Waqidy, Sayyidina Utsman ibn Affan dibunuh pada hari jum'at---sampai pada perkataan---- Sebagian besar dari mereka ( Jumhur Ulama' ) meriwayatkan bahwa sesungguhnya tetesan atau tetesan2 dari darah beliau ( Sayyidina Utsman ) jatuh pada Mushaf pada ayat " Fa sayakfiikahumulloh wahuwas samii'ul 'aliim.

وفي تفسير ابن كثير الجزء الاول, ص 188.
ونصه, قال ابن ابي حاتم قرأ علي يونس ابن عبد الاعلي...الي قوله..فوقع الدم علي " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم

Dan didalam tafsir ibnu Katsir, juz awal, Hal. 188, pada Nash, Telah berkata Imam ibnu Abi Hatim yang telah membacakan kepada Yunus ibn 'Abdul A'laa...sampai pada perkataan...maka jatuhlah ( menetes ) darah Sayyidina Utsman pada ayat," Fa sayakfiikahumulloh wahuwas samii'ul 'aliim.

—————

(3). MARJI' TENTANG LARANGAN MENGAMBIL NAFAS DITENGAH-TENGAH MEMBACA AL-QUR'AN

Tidak diperbolehkan mengambil nafas sewaktu membaca Al-Quran ditengah-tengah kalimat, kecuali memang benar-benar ada hajat atau dalam keadaan dhorurot. Adapun ta'bir kitabnya adalah ;

النشر في القراءآت العشر, الجزء الاول, صحيفة 242.
( خامسها ) ان التنفس علي الساكن في نحو ; الأرض, والآخرة, وقرآن و مسؤلا ; ممنوع اتفاقا كما لا يجوز التنفس علي الساكن في نحو ; الخالق, والبارئ, وفرقآن, ومسحورا ; اذ تنفس في وسط الكلمة لا يجوز.

(1). An-Nasyr fii Qiroatil 'Asyr, Juz 1, Hal. 242.

Sesungguhnya mengambil nafas bagi orang yang menghentikan ( bacaan ) semisal pada lafadz ," Al ardhu, wal aakhirotu, wa qur'aana, wa mas'ulan " adalah dilarang menurut kesepakatan ulama', sebagaimana tidak diperbolehkan mengambil nafas baginya semisal pada lafadz ," Alkholiqu, walbaari`u, wa furqoona, wa mashuuron ", jika ia mengambil nafasnya ditengah-tengah kalimat ( yang dibaca ), maka tidak boleh.

وفي حاشية بجيرمي خطيب, الجزء الاول, ص 374.
( فرع ) اخر الوجه جواز تقطيع حروف القرآن في القرآءة في التعليم للحاجة الي ذلك. اه

(2). Didalam kitab Hasyiyah Bujairomi Khotib, Juz 1, Hal. 374.

( cabang ). Pendapat lain mengatakan boleh memutus huruf ( ayat ) Al-Quran didalam pembacaan dalam pembelajaran karena adanya hajat tersebut.

——————

(4). HUKUM MENULIS AYAT AL QURAN BAGI MUHDIST ( Orang yang berhadast )

التبيان في اداب حملة القرآن، ص. ١٩٢

فصل : ويحرم علي المحدث مس /  مصحف وحمله، سواء حمله بعلاقته او بغيرها، وسواء مس نفس المكتوب او الحواشي او الجلد، ويحرم مس الخريطة والغلاف والصندوق اذا كان فيهن المصحف. هذا هو المذهب المختار، وقيل لا تحرم هذه الثلاثة، وهو ضعيف. ولو كتب القرآن في لوح فحكمه حكم المصحف، سواء قل المكتوب او كثر حتى لو كان بعض اية كتب للدراسة حرم مس اللوح.

At-Tibyan fii Adaabi Hamalatil Qur'an, Hal. 192 ,Karya Imam An-Nawawiy Damaskus, pada nash ;
Pasal : Diharamkan atas orang yang berhadast menyentuh mushaf atau membawanya, baik membawanya dengan pegangannya atau dengan lainnya, baik ia menyentuh tulisannya atau tepinya atau kulitnya. Diharamkan pula menyentuh wadah dan sampul serta kotak tempat mushaf itu berada, inilah madzhab yang terpilih. Ada yang mengatakan bahwa ketiga macam ini tidak diharamkan akan tetapi pendapat ini lemah. Andaikata Al-Quran ditulis pada sebuah papan, maka hukumnya sama dengan hukum mushaf itu sendiri, baik tulisannya sedikit ataupun banyak. Bahkan seandainya hanya sebagian ayat yang ditulis untuk belajar tetap diharamkan menyentuh papan tersebut.

————

(5). HUKUM MENULIS AL-QURAN DENGAN HURUF LATIN ('AJAMIYYAH )

Seringkali kita jumpai banyak penulisan penggalan ayat-ayat Al-Quran dalam sebuah komentar-2 menggunakan tulisan latin. Dan alasan yang paling original sekali adalah Keyboard Hp belum terinstal Arabic keyboard, atau alasan klasik, Hp Jadul, atau karakter font tidak mendukung penulisan teks arab.
Bagaimana tinjauan fiqh dalam Hal ini.

Marji' (1).
Kitab I'anatut Tholibin, Hal. 68 ;

وكتابته بالعجمية اى يحرم كتابته بالعجمية ورايت في فتاوى العلامة ابن حجر انه سئل هل يحرم كتابة القرآن بالعجمية كقرائته فاجاب رحمه الله بقوله قضية ما في المجموع عن الاصحاب التحريم.

" Menulisnya dengan tulisan latin, yaitu diharamkan menulisnya dengan tulisan 'ajam / latin, dan saya melihat didalam kitab Fatawa 'Allamah Imam Ibnu Hajar bahwa sesungguhnya beliau ditanya tentang apakah hukum menulis Al-Quran dengan tulisan latin sebagaimana pembacaannya. Maka beliau rohimahulloh menjawab dengan perkataannya bahwa keharaman itu sudah menjadi keputusan mayoritas Sahabat.

—————

(6). HUKUM SEPUTAR KESUNNAHAN MENCIUM MUSHAF.

Sunnah mencium Mushaf sebagaimana qiyas kesunnahan mencium Hajar Aswad..

نهاية القول المفيد, صحيفة 244.
ونصه ; ويستحب تقبيل المصحف بالقياس علي تقبيل الحجر الاسود لانه هدية من الله عز وجل فشرع تقبيله, ويستحب تطييبه وتعظيمه

Dalam Kitab Nihayatul Qoulil Mufid, Hal. 244.
" Dianjurkan mencium Mushaf dengan qiyas terhadap diperbolehkannya mencium Hajar Aswad. Karena itu merupakan hadiah dari Alloh azza wajalla, maka di Syariatkan menciumnya, dan dianjurkan memberi wewangian dan memuliakanya.

—————

(7). MARJI' TENTANG DASAR RUNTUTAN BACAAN SECARA KESINAMBUNGAN SETELAH KHOTMIL QUR'AN

Seringkali kita jumpai pada acara / moment simaan Quran / khotmil Quran, Qori masih melanjutkan bacaan setelah suroh An-Naas disambung bacaan Al Fatihah kemudian Alif Laam Miim sampai pada " ulaaika humul muflihuun " kemudian disambung lagi bacaan akhir suroh Al Baqoroh ( Aamanar rosuul — anta maulaana fanshurnaa ' alal qoumil kaafiriin ), dan ternyata hal ini juga dilakukan Nabi SAW.

١. سراج القارئ المبتدئ، ص. ٤٠٠

تكميل : في مسائل تتعلق بالحتم. الاول ثبت النص عن المكى من رواية البزي وقنبل وغيرهما ان من قرأ وختم الي آخر الناس قرأ الفاتحة والي المفلحون من اول البقرة وشاع العمل بهذا في سائر بلاد المسلمين في قراءة العرب وغيرها للمكى وغيره سواء انوى ختم ما شرع فيه ام لا ولهم علي ذلك ادلة منها ما هو مأثور عن النبي صلي الله عليه وسلم ومنها ما هو عن السلف ومنها ما هو عن المقتدي بهم من الخلف فقد روي عن المكى من طرق عن درباس مولذ ابن عباس عن عبد الله ابن عباس عن ابي ابن كعب رضي الله عنهم عن النبي صلي الله عليه وسلم انه كان اذا قرأ قل اعوذ برب الناس افتتح من الحمد ثم قرأ من البقرة الي واولئك هم المفلحون ثم دعا بدعاء الختم ثم قام.

Didalam kitab Sirojul Qori' Al Mubtadi', Hal. 400.

Penyempurnaan ; didalam masalah yang berkaitan dengan khotmil Quran. Pertama ,penetapan nash dari Al-Makki dari riwayat Imam Al-Bazzi dan Imam Qunbul dan selain keduanya, bahwa sesungguhnya amaliyah ini, yaitu orang yang membaca dan mengkhotamkan ( bacaan Al Quran ) sampai akhir suroh An-Naas, lalu ( dilanjutkan ) membaca Al-Fatihah sampai pada " Ulaaika humul muflihuun " dari awal suroh Al-Baqoroh sudah menjadi amaliyah yang tersebar luas di seluruh negara-negara Islam ( baik ) amliyyah bacaan di negara Arab sendiri maupun negara selainnya.
Dan bagi Al Makkiy dan selainnya sama saja, apakah didalam khotmil Quran disyariatkan begitu atau tidak. Dan ada beberapa petunjuk bagi mereka terhadap hal tersebut, setengah daripadanya adalah apakah ( amaliyah ) itu perbuatan Nabi SAW, ataukah dari amaliyah para Ulama salaf, ataukah meneladani dari amaliyyah para Ulama kholaf, maka sungguh telah diriwayatkan dari Al Makkiy dari jalur Dirbaas , hamba sahaya dari Ibnu Abbas dari Abdulloh Ibnu Abbas dari Ubay Ibn Ka'ab ( mudah2 Alloh meridhoi mereka semua ) dari Nabi SAW, sesungguhnya ada pada diri beliau ketika membaca " Qul a'uudzu birobbin Naas " membukanya dengan bacaan tahmid kemudian membaca ( sebagian ayat ) dari suroh Al-Baqoroh sampai pada ayat " wa ulaaika humul muflihuun ", kemudian berdoa dengan doa khotmil Quran, lalu beliau berdiri.

Kesimpulan saya pribadi, jika mengacu pada keterangan diatas, maka tambahan seperti bacaan ayat kursiy lalu berlanjut pada " aamanar rasuul...dst sampai akhir suroh Al Baqoroh, adalah sebagai pelengkap saja, jadi diambil bagian awal suroh yaitu Alif Laam Miim—wa ulaaika humul muflihuun, kemudian bagian tengah suroh Al-Baqoroh, yaitu dimulai dari bacaan ayat kursiy saja, kemudian diambil pada bagian akhir suroh Al Baqoroh, yaitu mulai dari ayat " Aamanar rosuulu—fanshurnaa alal qoumil kaafiriin ". Semata-mata ikhtiar Ulama kita dalam rangka tabarrukan Suroh Al-Baqoroh dan hikmahnya bahwa dengan berakhirnya suroh An-Naas bukan berarti pembacaan telah selesai, karena untuk membaca serta mengkaji dan menggali potensi yang ada pada ayat2 Al Quran tidak akan pernah selesai sampai kita meninggal, sebab terus akan menimbulkan ilmu baru dengan semakin lama dibaca dan diulang akan banyak hal2 baru yang akan terungkap.

——————

(8). HUKUM MEROKOK DIDALAM MAJELIS SIMA'AN / KHOTMIL QURAN.

Merokok bagi seorang santri seolah menjadi style yang tak dapat dipisahkan dari aktifitas sehari-harinya, bahkan seolah belum lengkap jika tidak disertai kopi sebagai penyanding. Tak terkecuali santri Huffadz, yang dalam aktifitas mudarosahnya , simaan, maupun khotmil Quran dalam skala halaqoh2 kecil maupun besar, pasti diantaranya tak lepas dari seorang perokok. Sehingga pada saat moment tersebut seringkali kita jumpai selepas baca Al-Quran 1-2 juz lantas kemudian me-rileks-kan diri sambil merokok.
Nah..bagaimana hal ini menurut tinjauan fiqih dalam kaitannya dengan Lihurmatil Qur'an.

Dalam kitab Faidhul Khobir, Hal. 173. disebutkan begini ;

ويحرم ايضا قراءة القرآن بحضرة من يشرب الدخان او يستنشق تابغا وفاعل ذلك ممقوت عند الله وعند المؤمنين. وبالجملية فيجب على القارئ ان يحافظ على منزلة القرآن ومكانته العظيمة.

" Dan diharamkan pula membaca Al Quran dihadapan perokok atau orang yang menghisap tembakau, dan pelakunya dibenci menurut pandangan Alloh dan orang2 mu'min. Dan demi menjaga kelestarian ( keindahan suasana ) maka wajib bagi Qori' menjaga kedudukan ( kehormatan ) AlQuran serta  tempat pembacaan AlQuran yang agung tersebut.

Kemudian dalam kitab Tsamrotur Roudhoh, Hal. 23.

مسئلة : ما حكم شرب الدخان عند قارئ القرآن وبينهما قدر ثلاث اذرع فهل يعد في مجلس القران فيحرم او لا.
الجواب : حرام حيث اعتد انهما في مجلس واحد كما صرح به في " السم القاتل " نقلا عن قول الشبراوى الشافعي في شرح ورد السحر. وعبارته : قال شيخنا محمد السباعى الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان في مجلس القران ولا وجه للكراهة قلنا نقول مثل ما قال الامام الشيخ المذكور بل نقل الامام الحنفي عن بعض اشياخه العارفين ان شربه في مجلس القرآن يخشى منه سوء الخاتمة اعاذنا الله تعالي منها بمنه وكرمه انه جواد الكريم.

Mas'alah : " Apa hukum merokok disamping pembaca Al-Qur'an yang diantara keduanya terdapat jarak sekitar 3 dziro' /hasta, apakah masih termasuk dalam  majelis Qur'an itu sendiri, dan hal itu diharamkan atau tidak..?

Jawaban ; " Sekiranya antara keduanya itu masih terbilang satu majelis, maka Haram ( hukumnya ) sebagaimana hal tersebut dijelaskan pada bab As Sammul Qotil (Membunuh dengan cara meracuni ) menukil pendapat dari Imam As Sibrowy Asy-Syafi'i didalam Syarah wird As Sihr. pada ungkapannya : " Telah berkata guru kami Muhammad As Siba'iy yang sangat religius tentang keharaman merokok dimajelis Quran bahwa ( hal tersebut ) " tidak ada pendapat yang me makruhkan nya".
Kami mengatakan sebagaimana yang kami nukil dari perkataan Syaikh tersebut. Bahkan Imam Hanafi menukil keterangan dari beberapa gurunya dari golongan kaum 'Arifin ( Arifubillah ) bahwa merokok di majelis Quran dikhawatirkan daripadanya su'ul khotimah, semoga Alloh melindungi kami dengan anugerahNya serta kedermawananNya, sesungguhnya Dia Dzat Maha Pemurah lagi Dermawan.

(*) Keterangan diatas saya terjemahkan dari kitab " Syurbatudz Dzhom`an fii Qhororoti Mabaahitsati Masaailil Qur'an Lirobhithotil huffadz li Ma'hadi Yanbu'ul Majlis Nuzulus Sakinah Qur'an,  Majlis Nuzulus Sakinah, Hal. 18-19.

——————

(9). HUKUM MENYENTUH TAFSIR AL-QUR'AN BAGI ORANG YANG HADAST.

Hukum menyentuh AlQuran terjemah atau Tafsir bagi muhdist ( orang yang hadast ) itu ditafshil ;
1. Apabila teks AlQurannya lebih banyak, hukumnya Haram.
2. Apabila teks Al Quran dan Tafsirnya sama, atau disangsikan banyak sedikitnya, maka ada Khilaf dikalangan jumhur Ulama, menurut Imam Ibnu Hajar hukumnya Makruh, sedang menurut Ulama lainnya Haram.
3. Apabila Tafsir dan Terjemahnya lebih banyak, hukumnya Makruh.

قرة العين بفتاوى اسماعيل الزين , ص 51.
ما نصه , وعبارته, س: ما قولكم فيمن مس القرآن مع ترجمة وكذلك حمله وهو محدث.
ج :
والله سبحانه وتعالى الموفق للصواب ان ترجمة القرآن ذاته لا تجوز فان كانت الترجمة لمعناه فهي كالتفسير فلها حينئذ حكم التفسير فان كانت اكثر من القرآن الفاظا جاز للمحدث حملها مع القران وكذلك ان كانت مساوية فان كانت اقل من الفاظ القران فلا يجوز للمحدث مسها ولا حملها تغليبا للقرآن الكريم والله اعلم.

Ta'bir kitab lain bisa dirujuk pada ;
1. Nihaayatuz Zen, Hal. 33.
2. Kasyifatus Saja', Hal. 30.
3. Hasyiyah I'anatut Tholibin ma'a Hamisyha, Juz 1, Hal. 66-67. pada bab فصل في شروط الصلاة
4. Hasyiyah Sulaiman Jamal 'ala Syarhil Minhaj, Juz 1, Hal. 77 pada باب الاحداث
5. Faidhul Khobir, Hal. 23, pada nash " Qouluhu hamluhu fii mataa' ". dan Hal. 26.

Adapun khusus menyentuh Tafsir atau Terjemah AlQuran yang formatnya terpisah ( seperti Al Quran dan terjemah cetakan Kudus ) dan yang disentuh adalah teks AlQuran nya, atau paling tidak lebih banyak menyentuh teks Al Quran nya, maka hukumnya tetap HARAM, sebagaimana hasil bahtsul masail Quran Majlis Nuzulus Sakinah, Yanbu'ul Quran, Kudus.
Lihat dikitab :

( شربة الظمآن, في قرارات مباحثة مسائل القرآن, ص 91-93 )

Selamat menerjuni dunia Al Quran.

Bersambung....

( Danny Ma'shoum )

PENGERTIAN ISTIQOMAH

PENGERTIAN ISTIQOMAH BESERTA TANDA-TANDANYA DALAM PANDANGAN  SAHABAT DAN ULAMA.

بسم الله الرحمن الرحيم

(فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ) [Surat Hud : 112]

" Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan ".

———

*Keterangan dari pembahasan ini saya sadur dari kitab "  الدرة النفيسة من شروح الحكم العطائية لقصد محبة الله  "  ( Ad-Durrotun Nafisah min Syuruuhil Hikam Al-'Athoiyyah li Qoshdi Mahabbatillah, Jilid 1, Hal. 56-70. Buah karya dari Syaikhi Al Mursyid Al-'Arifubillah KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad- Pon-Pes Bumi Damai Al-Muhibbin, TambakBeras-Jombang ) dengan sedikit saya rubah sistematikanya agar mudah difahami dari setiap maqolah ;

بسم الله الرحمن الرحيم

Alloh SWT berfirman ;

(إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ) [Surat Fussilat : 30]

" Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Pengertian dari makna ayat diatas adalah ;

ان الذين أقرّوا بوحدانية ونفوا عنه الأنداد والصاحبة والأولاد، ثم اقاموا على الطاعة وأداء فرائده مخلصين له الدين الى حين موتهم....تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون

Sesungguhnya orang-orang yang mengakui ke Esa an Alloh dan meniadakan daripadaNya sekutu-sekutu, dan isteri beserta anak, kemudian mereka menegakkan amal taat dan melaksanakan semua yang difardhukan Alloh dan mengamalkan secara ikhlas karena Alloh sampai pada masa kematian mereka.....maka malaikat akan turun kepada mereka ( dengan mengatakan ) : " Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan ( memperoleh ) surga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu ".

Sebab turunnya ayat ke-30 dari Suroh Fussilat diatas, adalah sebagaimana dituturkan dalam kitab Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, Karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Faroh al-Anshori al-Khozroji, Syamsuddin Al-Qurthubi, w. 671 H / 1272 M, sebagai berikut ;

قال عطاء عن ابن عباس رضي الله عنه : نزلت هذه الآية في ابي بكر الصديق رضي الله عنه؛ وذلك ان المشركين قالوا : ربنا الله وملائكة بناته وهؤلآء شفعاؤنا عند الله ؛ فلم يستقيموا. وقال ابو بكر رضي الله عنه : ربنا الله وحده لا شريك له ومحمد صلى الله عليه وسلم عبده ورسوله ؛ فاستقام.

Atho' dari Abdulloh bin Abbas r.a berkata ; " Ayat ini diturunkan tentang tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Hal itu berkenaan bahwasannya orang-orang musyrikin berkata, " Tuhan kami adalah Alloh, dan para malaikat adalah anak-anak perempuanNya, dan berhala-berhala itu adalah penolong-penolong kami di sisi Alloh. Kemudian mereka tidak menetapinya ( istiqomah ). Abu Bakar berkata ; " Tuhan kami adalah Alloh Yang Esa, tiada sekutu bagiNya, dan Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan rosulNya ". Maka beliau menetapinya ( istiqomah )

سئل ابو بكر الصديق رضي الله عنه عن الاستقامة فقال : ان لا تشرك بالله شيئا

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a ditanya tentang arti Istiqomah, maka beliau berkata ," Jika kamu tidak mensekutukan Alloh dengan sesuatu apapun ".

وقال عمر ابن الخطاب رضي الله عنه : الاستقامة ان تستقيم على الامر والنهي، ولا تروغ روغان الثعلب

Berkata Umar bin Khotthob ; " Istiqomah adalah ketika kamu tegak dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, dan tidak menipu seperti tipu daya musang ".

وقال عثمان رضي الله عنه : اخلصوا العمل

Dan berkata Utsman bin Affan r.a ; " (Istiqomah adalah) lakukanlah amal dengan ikhlas ".

وقال علي رضي الله عنه : أدوا الفرائض

Dan berkata Ali bin Abi Tholib r.a ; " Kerjakanlah amal-amal fardhu ".

وقال ابن عباس رضي الله عنه : استقاموا على أدآء الفرائض

" Dan berkata Ibnu Abbas r.a ; " (Istiqomah adalah ) tetapilah dengan mengerjakan amal-amal fardhu ".

وقال الحسن رضي الله عنه : استقاموا على امر الله بطاعته واجتنبوا معصيته

Dan berkata Al-Hasan r.a ; " Tetapilah dalam melaksanakan perintah Alloh dengan cara mentaatiNya dan tidak bermaksiat kepadaNya ".

وقال مجاهد وعكرمة : استقاموا على شهادة ان لا اله الا الله حتى لحقوا بالله.

Berkata Mujahid dan Ikrimah ; " Tetapilah dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh sampai kalian bertemu dengan Alloh ( sampai mati )".

وقال قتادة : كان الحسن اذا تلا هذه الآية قال : اللهم فارزقنا الاستقامة

Shabat Qotadah berkata ; " Adalah Al-Hasan ketika membaca ayat ini beliau berdoa ," Ya Alloh, berikan kami dapat istiqomah ".

( Maqolah-maqolah diatas disadur dari kitab Al-Lubab fi Ulumil Kitab, karya Abu Hafs Umar bin Ali bin 'Adil ad-Dimasyqi al-Hanbali )

* وقال الفقيه أبو الليث : علامة الإستقامة ان يراعي عشرة اشياء فريضة على نفسه ؛

Al Faqih Abu Laits berkata ; Tanda istiqomah itu adalah ketika seseorang mampu menjaga ( melakukan ) sepuluh hal yang fardhu atas dirinya.

Ke-sepuluh hal fardhu itu adalah ;

(1). Menjaga lisan dari menggunjing  (  حفظ اللسان عن الغيبة  )
berdasarkan firman Alloh SWT:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ) [Surat Al-Hujraat : 12]

" Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang ".

(2). Meninggalkan berburuk sangka  (  الإجتناب عن سوء الظن  )

Berdasarkan ayat diatas pada poin 1. ( Suroh Al-Hujurot, ayat 12 )

(3). Meninggalkan mengolok-olok orang lain  ( الإجتناب عن السخرية  )

Berdasarkan ayat :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ) [Surat Al-Hujraat : 11]

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim ".

(4). Memejamkan ( menundukkan ) mata dari memandang hal-hal yang diharamkan (  غض البصر عن المحارم  )

Berdasarkan ayat :

(قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ) [Surat An-Noor : 30]

" Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat ".

(5). Kejujuran lisan ( perkataan  صدق اللسان  )

Berdasarkan ayat :

(وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) [Surat Al-Anaam : 152]

" Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat ".

(6). Menafkahkan harta dijalan Alloh  (  الإنفاق في سبيل الله  )

Berdasarkan ayat :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ) [Surat Al-Baqara : 267]

" Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji ".

(7). Tidak berlebihan  (  ان لا يسرف  )

Berdasarkan ayat :

(وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا) [Surat Al-Isra : 26]

" Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros ".

(8). Tidak mencari kedudukan tinggi dan kesombongan untuk dirinya didunia  (  ان لا يطلب العلو والكبر لنفسه  )

Berdasarkan ayat :

(تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ) [Surat Al-Qasas : 83]

" Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa ".

(9). Memelihara sholat lima waktu  (  المحافظة على الصلوات الخمس  )

Berdasarkan ayat :

(حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ) [Surat Al-Baqara : 238]

" Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu' ".

(10). Istiqomah pada ajaran sunnah wal jama'ah  (  الإستقامة على السنة والجماعة  )

Berdasarkan ayat :

(وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) [Surat Al-Anaam : 153]

" dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa ".

———
* Adapun istiqomah menurut Ahlul Haq, adalah ;

قال بعض اهل الحق : الإستقامة على ثلاثة اضرب ؛ إستقامة باللسان، وإستقامة بالجنان، وإستقامة بالنفس ( بالاركان ) . فالإستقامة باللسان المداومة على كلمة الشهادة، والإستقامة بالجنان المداومة على صدق الارادة، والإستقامة بالنفس المداومة على العبادات والطاعات.

Sebagian Ahlul Haq berkata ; Istiqomah itu ada tiga macam : (1) istiqomah dengan lisan, (2) istiqomah dengan hati, (3) istiqomah dengan anggota badan.  Adapun istiqomah dengan lisan adalah terus menerus mengucapkan kalimah syahadat. Istiqomah dengan hati adalah, terus menerus dalam kesungguhan menghendaki kedekatan diri kepada Alloh. Istiqomah dengan anggota badan adalah, terus menerus dalam amal ibadah dan ketaatan.

Kemudian berkata ahlul haq :

قال بعض الحق ؛ الإستقامة باربعة اشياء : الطاعة في مقابلة الامر، والتقوى في مقابلة النهي، والشكر في مقابلة النعمة، والصبر في مقابلة الجنة. وتمام هذه الاربعة باربعة اخرى : فتمام الطاعة بالاخلاص، وتمام التقوى بالتوبة، وتمام الشكر بمعرفة العجز، وتمام الصبر بالانقطاع.

Sebagian ahlul haq berkata ; " Istiqomah itu dengan empat hal, yaitu :
(1). Taat dalam menyikapi perintah
(2). Taqwa dalam menyikapi larangan
(3). Syukur dalam menyikapi kenikmatan Alloh
(4). dan Sabar dalam menyikapi surga
Sedangkan kesempurnaan empat hal ini adalah dengan empat hal yang lain, yaitu :
(1). Kesempurnaan taat dengan ikhlas.
(2). Kesempurnaan taqwa dengan taubat.
(3). Kesempurnaan syukur dengan mengetahui kekurangan diri sendiri.
(4). dan Kesempurnaan sabar dengan terus menerus ( bhs jawa :  melulu atau " njungkung " ) beribadah.

والله اعلم بالصواب

—————
Danny Ma'shoum
Sidoarjo, 6 April 2015.

Monday, March 30, 2015

KAJIAN TENTANG " RUH-RUH LAKSANA TENTARA YANG BERKUMPUL "

MAKNA HADIST " AL-ARWAH JUNUDUN MUJANNADAH "

Dalam Suroh Al-Isro', Alloh berfirman ;

(وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا) [Surat Al-Isra : 85]

" Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Tema kajian ;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ الارواح جنود مجندة، فما تعارف منها...ائتلف، وما تناكر منها...اختلف. رواه مسلم من حديث ابي هريرة والبخارى تعليقا من حديث عائشة

* Referensi yang saya pakai sebagai muqobalah untuk pembahasan ini adalah ;

(1). Kitab Syarhus Shudur, bi Syarhi Halil Mauta wal Qubur, lil Imam Jalaluddin As-Suyuthi.
(2). Ihya' Ulumiddin, lil Imam Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali.

Ada beberapa sudut pandang berbeda dari pengertian hadist tentang makna " Al-arwah junudun mujannadah... ", akan tetapi kesimpulan akhirnya terdapat kesamaan.
Sebagaimana pada Kitab Syarhus shudur nya Imam As-Suyuthi, Hal. 570, beliau menerangkan begini ;

اختلف في معني قوله صلى الله عليه وسلم (( الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها...ائتلف، وما تناكر منها...اختلف ))، فقيل : هو اشارة الى معنى التشاكل في الخير والشر، والصلاح والفساد، وان الخير من الناس يحن الى شكله، والشرير يميل الى نظيره، فتعارف الارواح يقع بحسب الطباع التي جبلت عليها من خير او شر، فاذا اتفقت...تعارفت، واذا اختلفت...تناكرت.

Terjadi perbedaan pendapat tentang makna sabda Rosululloh SAW, " Ruh-ruh itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan ( mudah bergaul atau saling menyesuaikan ) dan yang bertentangan daripadanya, niscaya saling menyelisihi ( bersebrangan ) ".
Maka dikatakan, bahwa ini adalah isyarat terhadap penyesuaian makna dari kebaikan dan keburukan, integritas dan disintegritas ( kemanfaatan dan kerusakan ). Dan sesungguhnya bentuk kebaikan dari sesama manusia adalah bentuk penyesuaian dari rasa mengasihi itu, dan keburukan senantiasa condong pada apa yang pararel dengannya ( partnernya ). Maka ruh-ruh itu saling mengenal menurut karakter atau watak yang dibentuk daripadanya kebaikan dan keburukan. Maka apabila cocok, akan saling mengenal, apabila tidak cocok maka saling bersebrangan atau berselisih.

Dalam hal ini, Imam As-Suyuthi menyajikan beberapa sudut pandang lain, sebagaimana dalam paragraf berikutnya ;

وقيل : المراد : الإخبار عن بدئ الخلق، على ما ورد (( ان الارواح خلقت قبل الاجساد، فكانت تلتقي فتتشام، فلما حلت الاجساد...تعارفت )) *٣ بالمعنى الاول، فصار تعارفها وتناكرها علي ما سبق من العهد والمتقدم.

Dan dikatakan, yang dimaksud adalah pemberitaan tentang permulaan penciptaan. Sebagaimana keterangan, " Bahwa ruh itu diciptakan sebelum tubuh, maka ruh itu saling bertemu dan saling mengendus atau menciumi. Maka ketika timbul ( terbentuk ) jasad...mereka saling mengenal. (*3 ) Dengan pengertian dari makna yang pertama, maka jadilah mereka saling mengenal dan menyelisihi terhadap apa yang telah ditetapkan pada masa yang terdahulu ( penciptaan ).

(*3) Imam Al-Hakim at-Tirmidzi menuturkannya dalam kitab " Nawadirul Ushul , Hal. 409 pada pokok yang ke-283.

وقال بعضهم : الارواح وان اتفقت في كونها ارواحا، لكنها تتمايز بأمور مختلفة، تتنوع بها، فتتشاكل اشخاصا، كل نوع تألف نوعها، وتنفر من مخالفها.
وفي (( تاريخ ابن عساكر )) بسنده عن هرم بن حيان قال : اتيت أويسا القرني، فسلمت عليه، ولم اكن رأيته قبل ذلك ولم رآني. فقال لي : وعليك السلام يا هرم بن حيان. قلت : من اين عرفت اسمى واسم ابي، ولم اكن رايتك قبل اليوم ولا رايتني ؟! قال : عرفت روحى وروحك حيث كلمت نفسي نفسك ؛ إن الارواح لها انفاس كانفاس الاجساد، وان المؤمنين ليعرف بعضهم بعضا، ويتحابون بروح الله وان لم يلتقوا .(*١)

Dan sebagian mereka berkata ; " Ruh-ruh itu sekalipun sudah saling cocok didalam eksistensinya, akan tetapi saling membeda-bedakan terhadap perkara yang diperselisihkan, saling bervariasi, saling menyesuaikan kepribadiannya. Setiap jenis terbiasa dengan jenisnya, dan menghindar dari yang bertentangan dengannya.
Didalam kitab " Tarikh Ibnu 'Asakir " dengan sanadnya dari Harom bin Hayyan, yang berkata ," Aku mendatangi Uwais Al-Qorny, maka aku mengucapkan salam kepadanya dan sebelumnya saya tidak pernah melihatnya, begitupula dia belum pernah melihatku. Maka dia berkata kepadaku ; " Wa'alaikas salam ya Harom bin Hayyan ". Aku berkata ," Darimana engkau tahu namaku dan nama ayahku ? padahal aku belum pernah melihatmu sebelum hari ini dan engkaupun tidak pernah melihatku ?". Berkata Uwais Al-Qorny ;" Roh ku melihat roh mu semenjak jiwaku berbicara dengan jiwamu , sesungguhnya ruh itu mempunyai nafas sebagaimana bernafasnya tubuh, dan sesungguhnya orang-orang mu'min itu akan mengenali bagian dari sebagian yang lain, mereka saling mencintai dengan anugerah Alloh apabila belum saling berjumpa ". (*1)

(*1). Kitab Tarikh Madinah Damsyiq, jilid 9, Hal. 447. Perkataan Uwais Al-Qorny " Anfaasun ka anfaasil ajsaad " maksudnya adalah, bentuk seperti hanya bentuk tubuh, hanya saja ruh itu halus, Wallohu a'lam.

Pada paragraf berikutnya, Imam At-Thusi dalam kitab " Uyunil Akhbar " meriwayatkan dari Aisyah. Sebagaiman penuturan Imam As-Suyuthi pada halaman 471 ;

واخرج الطوسي في (( عيون الاخبار )) عن عائشة : ان امرأة كانت بمكة تدخل على نساء قريش تضحكهن، فلما هاجرت الى المدينة...قدمت علي، فقلت ؛ اين نزلت ؟ قالت : على فلانة— امرأة كانت تضحك بالمدينة — فدخل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : فلانة المضحكة عندكم !! قال : الحمد لله ؛ ان الارواح جنود مجندة، فما تعارف منها..ائتلف، وما تناكر منها..اختلف .(٢).

Imam At-Thusi dalam kitabnya " 'Uyunil Akhbar " mengeluarkan riwayat dari siti Aisyah, bahwa di Makkah ada seorang wanita berkunjung kepada wanita Quraisy yang mereka saling bercanda ( ketawa ), maka ketika ia hijrah ke Madinah, ia mendatangiku ( Aisyah ). Aku bertanya, " Dari manakah engkau datang ?". Ia menjawab, " Dari fulanah -para wanita yang suka bercanda ( ketawa ) di kota Madinah -maka Rosululloh SAW masuk dan bertanya, " si fulanah yang suka tertawa bersamamu ?". Wanita itu menjawab, " Iya ". Lalu Rosululloh berkata, " Kepada siapa engkau tinggal ?". Maka wanita itu menjawab, " Kepada sifulanah yang suka bercanda itu ". Maka berkata Rosululloh, " Segala puji bagi Alloh, sesungguhnya ruh itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan ( mudah bergaul atau saling menyesuaikan ) dan yang bertentangan daripadanya, niscaya saling menyelisihi ( bersebrangan ) ".(*2)

* (2). Imam Al-Hafidz As-Sakhowi menuturkan juga riwayat ini didalam kitabnya " Al-Maqoshid al-Hasanah " Hal. 51. Serta mengacu pada Zubair bin Bakr dalam kitabnya " Al-Mizahu al-Fawakihah ".

* Demikian pembahasan Imam As-Suyuthi tentang " Al-Arwaah junudun mujannadah " yang merupakan bagian ke-8 dari penutup pada bab " خاتمة في فوائد تتعلق بالروح " ( Faedah-2 yang berkaitan dengan ruh ).

————

Sekarang mari kita lihat bagaimana analisa Imam Al-Ghozali yang lebih spesifik lagi dengan tamtsil-tamtsil atau contoh-contoh sebagai penguat dari analisanya terhadap hadist diatas.

Disini, tidak semua teks per-paragraf saya tulis lengkap, akan tetapi beberapa poin pentingnya saja sebagai pelengkap agar pembahasan tidak terlalu melebar.
Dalam kitab Ihya' Ulumiddin-nya, Hal. 159-160, beliau memberikan ulasannya sebagai berikut ;

الارواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف (*1) فالتناكر نتيجة التباين والائتلاف نتيجة التناسب الذى عبر عنه بالتعارف وفي بعض الالفاظ " الارواح جنود مجندة تلتقي فتتشام في الهواء (*2). وقد كنى بعض العلماء عن هذا بان قال ان الله تعالى خلق الارواح ففلق بعضها فلقا واطافها حول العرش فأى روحين من فلقتين تعارفا هناك فالتقيا تواصلا في الدنيا. وقال صلى الله عليه وسلم ان ارواح المؤمنين ليلتقيان علي مسيرة يوم وما رأى احدهما صاحبه قط (*3)

Ruh-ruh / jiwa itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan ( mudah bergaul atau saling menyesuaikan ) dan yang bertentangan daripadanya, niscaya saling menyelisihi ( bersebrangan ) ".(1).

Kata " Tanakur / pertentangan " adalah natijah ( hasil ) dari perbedaan, dan " I'tilaf /kejinakan " adalah hasil dari kesesuaian yang diibaratkan dengan " Ta'aruf " atau saling mengenal, atau berkenalan satu sama lain.
Pada sebagian teks hadist diatas terdapat maksud yang mengindikasikan bahwa " jiwa atau ruh itu ibarat tentara yang berkumpul dan berjumpa, lalu berciuman diudara ".(2).
Sebagian Ulama menyebutkan hal ini dengan cara kinayah atau sindiran dengan mengatakan, bahwa Alloh SWT menjadikan segala nyawa, maka dipecahkanNya sebagian dan dithowafkanNya disekeliling Arsy. Maka mana diantara dua nyawa atau ruh dari dua pecahan yang berkenalan itu lalu bertemu sebagai kesinambungan terhadap perjumpaan keduanya didunia.  Nabi SAW bersabda, " Bahwa nyawa dua orang mu'min bertemu dalam perjalanan sehari, dan tidak sekali-kali salah satu dari keduanya melihat temannya ".(3).

———
(1). Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Huroiroh dan Imam Bukhori meriwayatkan sebagai ulasan dari hadist Siti Aisyah.
(2). Hadist " jiwa atau ruh itu ibarat tentara yang berkumpul dan berjumpa, lalu berciuman diudara ". Imam At-Thobroni menyandarkan kelemahan hadist ini dari hadist Ali.
(3). Hadist " Bahwa nyawa dua orang mu'min bertemu dalam perjalanan sehari, dan tidak sekali-kali salah satu dari keduanya melihat temannya ". Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdulloh bin 'Amr dengan lafadz " تلتقى " dan berkata salah seorang dari mereka yang terdapat didalamnya Ibnu Luhai'ah dari Darooj.  ( footnote Ihya, Hal. 159, tentang makna " al-ikhwah fillah ").

Kemudian pada halaman 160, dituturkan lebih lanjut oleh Imam Al-Ghozali ;

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول (( الارواح جنود مجندة )) الحديث، والحق في هذا ان المشاهدة والتجربة تشهد للائتلاف عند التناسب والتناسب في الطباع والاخلاق باطنا وظاهرا امر مفهوم. واما الاسباب التي اوجبت تلك المناسبة فليس في قوة البشر الا طلاع عليها وغاية هذيان المنجم ان يقول اذا كان طالعه على تسديس طالع غيره او تثليثه فهذا نظر الموافقة والمودة فتقتضي التناسب والتواد واذا كان علي مقابلته او تربيعته اقتضي التباغض والعداوة فهذا لو صدق بكونه كذلك في مجارى سنة الله فى خلق السموات والارض لكان الاشكال فيه اكثر من الاشكال في اصل التناسب فلا معنى للخوض فيما لم يكشف سره للبشر فما اوتينا من العلم الا قليلا ويكفينا في التصديق بذلك التجربة والمشاهدة فقد ورد الخبر به قال صلى الله عليه وسلم (( لو ان مؤمنا دخل الى مجلس فيه مائة منافق ومؤمن واحد لجاء حتى يجلس اليه ولو ان منافقا دخل الى مجلس فيه مائة مؤمن ومنافق واحد لجاء حتى يجلس اليه (2)

Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda, " Jiwa itu laksana tentara yang berkumpul...al-Hadist ". Pengertian yang sebenarnya mengenai hal ini adalah, bahwa pandang memandang dan percobaan menjadi saksi dari kejinakan hati ketika terjadi kecocokan atau kesesuaian. Dan kesesuaian tentang tabiat atau watak dan akhlak pada bathin dan pada lahir adalah hal yang dapat difahami.
Adapun sebab-sebab yang mengharuskan adanya persesuaian itu tidaklah manusia sanggup mendalaminya. Dan sejauh kekonyolan ahli nujum yang mengatakan bahwa " Apabila bintangnya berada enam kali dari bintangnya orang lain atau tiga kali dari yang lain, maka hal ini bisa menunjukkan bukti adanya persesuaian dan kasih sayang. Lantas yang demikian itu menghendaki kepada kesesuaian dan berkasih-kasihan. Dan apabila sebaliknya atau berada empat kali ( bintangnya ), maka akan membawa pertengkaran dan permusuhan ".
Maka kalau hal ini benar adanya dalam berlakunya sunnatulloh pada kejadian langit dan bumi, niscaya persoalan yang ada padanya adalah lebih banyak dari persoalan tentang pokok kesesuaian. Maka tidak ada artinya memasuki hal yang tidak terbuka rahasianya bagi manusia. Dan tidaklah dianugerahkan kepada kita ilmu pengetahuan ( tentang ruh ) kecuali sedikit saja. Dan cukuplah bagi kita untuk membenarkan yang demikian itu akan percobaan dan penyaksian.
Dan telah datang Hadist akan hal yang demikian itu, dimana Rosululloh SAW bersabda ;

" Jika seorang mu'min masuk ke suatu majelis, yang dimana pada majelis itu terdapat seratus orang munafiq dan satu orang mu'min, maka pasti ia datang sehingga duduk pada satu orang mu'min tadi. Dan kalau orang munafiq masuk pada suatu majelis, yang dimana pada majelis itu terdapat seratus orang mu'min dan satu orang munafik, maka sesungguhnya ia datang sehingga duduk pada seorang munafik tadi ". (2). — Hadist ini oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya " Syu'bil Iman " dianggap mauquf ( terhenti ) pada Ibnu Mas'ud. Pengarang kitab " Al-Firdaus " menuturkan hadist ini dari Mu'adz bin Jabal, dan putranya ( shohibul firdaus ) tidak mentakhrijnya dalam Al-Musnad.

Dalam hadist diatas, Imam Al-Ghozali memberikan analisanya ;

وهذا يدل على ان شبه الشيء منجذب اليه بالطبع وان كان هو لا يشعر به. وكان مالك بن دينار يقول لا يتفق نوعان من الطير في الطيران الا وبينهما مناسبة قال فرأى يوما غرابا مع حمامة فعجب من ذلك فقال اتفقا وليسا من شكل واحد ثم طارا فاذا هما أعرجان فقال من ههنا اتفقا ولذلك قال بعض الحكماء : كل انسان يأنس الى شكله كما ان كل طير يطير مع جنسه، واذا اصطحب اثنان برهة من زمان ولم يتشا كلا في الحال فلا بد ان يفترقا، وهذا معنى خفي تفطن له الشعراء حتى قال قائلهم :

وقائل كيف تفرقتما    فقلت قولا فيه إنصاف
لم يك من شكلى ففارقته   والناس اشكل وألاف

فقد ظهر من هذا ان لانسان قد يحب لذاته لا لفائدة تنال منه في حال او مآل بل لمجرد المجانسة والمناسبة في الطباع الباطنة والاخلاق الخفية ويدخل في هذا القسم الحب للجمال اذا لم يكن المقصود قضاء الشهوة.

Ini menunjukkan bahwa keserupaan sesuatu adalah tertarik padanya dengan tabiat sekalipun ia tidak merasakan hal itu.
Malik bin Dinar berkata ;" Tidak akan sesuai ( cocok ) dua orang dalam sepuluh orang, selain kepada salah seorang dari keduanya terdapat sifat ( yang sesuai ) dari seorang lagi. Sesungguhnya jenis-jenis manusia adalah seperti jenis-jenis burung. Dua macam burung tidak akan sepakat terbang bersama, kecuali diantara keduanya ada kesesuaian ( kecocokan ). Lalu Malik bin Dinar meneruskan dengan mengatakan bahwa pada suatu hari beliau melihat seekor burung gagak bersama seekor burung merpati, maka heranlah beliau melihat yang hal itu, lalu beliau berkata, " Keduanya itu telah sepakat dan tidaklah keduanya itu dari satu bentuk ( jenis ) ". Kemudian kedua ekor burung itu terbang, dan rupanya kedua ekor burung itu pincang kakinya, lantas Malik bin Dinar berkata, " Dari segi inilah keduanya sepakat ".

Karena itulah, sebagian ahli hikmah mengatakan ;
" Tiap-tiap manusia jinak hatinya kepada yang dengan dia sebagaimana masing-masing burung itu terbang bersama jenisnya. Dan apabila dua orang bersahabat pada suatu waktu dan keadaan keduanya tidak serupa, maka tidak bisa tidak, suatu saat keduanya pasti akan berpisah ".

Dan ini adalah suatu pengertian yang tersembunyi yang telah difahami oleh para penyair, sehingga berkatalah salah seorang penyair dari mereka ;

" Seorang bertanya :
Bagaimana engkau berdua jadi berpisah ?
Maka aku menjawab :
Dengan jawaban keinsyafan
Dia tidak sebentuk dengan aku,
Maka aku berpisah dengan dia..
Manusia itu berbagai bentuk
Dan beribu macam keadaan..."

Maka jelaslah dari yang tersebut ini, bahwa manusia kadang-kadang mencintai karena zat barang itu sendiri, bukan karena sesuatu faedah yang akan dicapai pada masa sekarang atau pada masa yang akan datang. Tetapi karena semata-mata kesejenisan dan kesesuaian pada sifat-sifat bathin dan budi pekerti yang tersembunyi. Dan termasuk dalam bagian ini, adalah cinta karena kecantikan, apabila tidak ada maksud untuk melepas nafsu syahwat.

والله اعلم بالصواب

—————
* Danny Ma'shoum, Sidoarjo- Senin 30 Maret 2015.
Terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Alloh SWT yang telah memberi banyak kesempatan dalam hidupku untuk berfikir dan merenung dll.
2. Rosululloh SAW yang telah menunjukkan jalan terang akan indahnya nikmat Islam Iman dan Ihsan.
3. Para Ulama selaku warotsatul anbiya'

Dan saya hadiahkan sekelumit ulasan ini kepada ;
1. Kedua orang tuaku dan mertuaku yang telah memberi hadiah berjilid-jilid buku.
2. Guru-guruku yang tercinta.
3. Istriku Syarifah Dayang " Dinda " Basyaf Ba'alawy.
4. Putra-putra ku : Muhammad Aroobillah Arofat, Muhammad Al-Kaff Ubaydillah, Muhammad Haqqy An-Nazily Basyaf.
5. Semua sahabat-sahabat setiaku semua yang tak dapat saya sebut satu persatu oleh karena " kesesuaian " kalian dengan ku. " 'Asallohu an yaj'ala bainanaa wa bainakum mawaddatan warohmatan ".

Wednesday, March 25, 2015

KEAJAIBAN HATI PARA AHLUL QUR'AN

JIWA-JIWA QUR'ANI, SEBUAH BENTUK RASA CINTA DAN KERINDUAN TERAMAT DALAM PADA KALAM ILAHI

Ulasan kali ini adalah sedikit penyempurnaan dari beberapa kajian yang sudah saya posting beberapa waktu yang lalu, agar kiranya menjadi bahan renungan dan muhasabah diri saya pribadi khususnya, bagi pembaca, pengkaji ayat-ayat Al-Qur'an, terlebih lagi bagi para penghafalnya. Adapun bahasan beberapa poin dari topik diatas lebih banyak saya nukil dari catatan-catatan harian saya.

بسم الله الرحمن الرحيم

Ahlul Qur'an adalah Ahlulloh ( keluarganya Alloh ), dan dipermukaan bumi ini tidak ada keluarga yang lebih terhormat dibanding orang-2 yang dipilih untuk masuk dalam lingkup keluargaNya, dan ini adalah bentuk penghargaan yang luar biasa dari hamba-hamba yang dipilih olehNya.

Sebagaimana Hadist yang diriwayatkan Imam An-Nasai dalam kitabnya " Fadhoilul Qur'an ", Hal. 98 -99 ;

اخبرنا عبيد الله ابن سعيد عن عبد الرحمن قال : حدثني عبد الرحمن بن بديل ميسرة عن ابيه عن انس ابن مالك قال : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ان لله اهلين من خلقه، قالوا : ومن هم يا رسول الله ؟ قال : اهل القرآن هم اهل الله وخاصته.

اسناده حسن فرجاله كلهم ثقات سوي عبد الرحمن بن بديل، قال عنه الحافظ لا بأس به انظر التقريب ١/٤٧٣ ووثقه الطيالسي وقد صحح هذا الحديث المنذري في الترغيب والترهيب انظر ٢/٣٥٤، والبوصيرى في مصباح الزجاجة بزوائد ابن ماجه ورقة ١٤. وقد اخرجه احمد في مسنده ٣/١٢٧ ،١٢٨، ٢٤٢ ، والحاكم في المستدرك ١/٥٥٦، وابن ماجه في سننه رقم ٢١٥، وابو داوود الطيالسي ذكره البوصيرى والدارمي في سننه رقم ٣٣٢٩، والبزار في مسنده ذكره القرطبي في تفسيره ١/١.

" Telah memberitahukan kepada kami 'Ubaidulloh ibn Sa'id dari 'Abdur Rohman, yang berkata : Abdur Rohman ibn Bidyl bercerita kepadaku dari ayahnya dari Anas ibn Malik, berkata Anas : Rosululloh SAW bersabda : " Sesungguhnya Alloh memiliki keluarga dari makhluk ciptaanNya ". Maka berkata para sahabat, " Siapakah mereka wahai Rosululloh ?, Rosululloh berkata ;" Ahlul Qur'an itulah keluarganya Alloh, dan orang-orang yang dihususkanNya ".

Isnad Hadist ini hasan dan para rijalul hadistnya  semuanya terpercaya kecuali Abdur Rohman ibn Bidyl/ Budayl, Al Hafidz ibnu Hajar berkata tentangnya, " tidak ada masalah dengan Abdur Rahman ibn Bidyl " Lihat kitab At-Taqrib juz 1 / Hal. 473, dan Imam At-Thoyalisy menganggapnya sebagai rowi yang tsiqoh. Imam Al Hafidz Al Mundziry mensohihkannya sebagaimana dalam kitabnya At-Targhib wat Tarhib, jilid 2, Hal. 354, serta Imam Al-Bushiry dalam kitabnya yang berjudul Mishbahuz Zujaajah bi Zawaaidi bni Majah, lembar ke 14. Imam Ahmad ibn Hanbal mengeluarkan riwayat hadist ini dalam Musnadnya, jilid 3, Hal. 127, 128, 242, dan Imam Al-Hakim dalam Mustadrok nya , jilid 1, Hal. 556. Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan nya pada No. 215, dan Imam Abu Dawud At-Thoyalisy sebagaimana yang dituturkan Imam Al-Bushiry dan Imam Ad-Darimi dalam Sunan Ad-Darimi, No. 3329, dan Imam Al-Bazzar didalam Musnad nya sebagaimana yang telah dituturkan Imam Al-Qurthuby didalam Tafsirnya jilid 1, Hal. 1.

Kedahsyatan hati para Ahlulloh ( salah satunya adalah ahli Qur'an ) dalam menangkap isyarat-2 makna yang terkandung didalamnya sungguh luar biasa. Sehingga berdampak pada cerminan kehidupan sehari-harinya.
Bahkan sebagian dari golongan Salafus Sholih apabila membaca Al-Quran atau suatu ayat dari Al-Quran, akan tetapi hatinya tidak fokus pada apa yang dibaca, maka diulang-ulanginya sampai kedua kalinya, dan bahkan berkali-kali sampai hatinya,  fikirannya tertuju pada apa yang dibaca.
Bagi mereka, kelengahan hati dan fikiran ketika membaca Al-Quran merupakan ketakutan yang luar biasa bagi para salafus sholih. Oleh karena saking begitu dahsyatnya getaran hatinya, sampai-sampai ada dari mereka jatuh tersungkur dan bahkan sampai meninggal.
Dalam hal ini, sebagaimana yang dituturkan Imam An-Nawawi dalam kitabnya At-Tibyan fii Adaabi Hamalatil Qur'an, Hal. 81 ;

والاحاديث فيه كثيرة، واقاويل السلف / فيه مشهورة. وقد بات جماعات من السلف يتلون آية واحدة يتدبرونها ويرددونها الى الصباح، وقد صعق جماعات من السلف عند القراءة ومات جماعات منهم حال القراءة.  وروينا عن بهز بن حكيم ان زرارة بن اوفي التابعي الجليل رضي الله عنهم أمّهم في صلاة الفجر فقرأ حتى بلغ : فإذا نقر في الناقور * فذلك يومئذ يوم عسير ( المدثر : ٨-٩ ) خر ميتا، قال بهز فكنت فيمن حمله.

" Banyak hadist diriwayatkan mengenai hal itu dan perkataan-perkataan ulama salaf tentang hal itu cukup masyhur. Segolongan ulama salaf ada yang membaca satu ayat sambil merenungkannya dan mengulang-ulanginya sampai pagi.
Segolongan ulama salaf telah pingsan ketika membaca Al-Qur'an dan banyak pula yang meninggal dalam keadaan membaca Al-Qur'an. Kami riwayatkan dari Bahzin bin Hakim, bahwa Zuroroh bin Aufa adalah seorang tabi'in yang mulia, ia mengimami orang-orang dalam sholat fajar. Maka ia membaca Al-Quran sampai pada ayat ( diatas ) yang artinya ;
" Apabila ditiup sangkakala. Maka waktu itu adalah waktu datangnya hari yang sulit ". ( Suroh Al-Muddatsir, Juz 29, ayat 8-9 ). Tiba-tiba beliau roboh dan meninggal seketika itu juga. Bahzin bin Hakim berkata, " Aku termasuk orang-orang yang memikul jenazahnya ".

Lebih lanjut, Imam An-Nawawi menuturkan kembali pada Hal. 81-82 ;

وكان احمد بن ابي الحواري رضي الله عنه، وهو ريحانة الشام كما قال أبو القاسم الجنيد رحمه الله اذا قرئ عنده القرآن يصيح ويصعق.

" Adalah Ahmad bin Abul Hawari r.a. yang digelari Roihanatus Syam, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abul Qosim Al-Junaid Al-Baghdady r.a, apabila dibacakan Al-Qur'an didekatnya, ia menjerit dan jatuh pingsan.

( * saya cukupkan disini dari beberapa kisah tersebut )

Dan hal ini sebagaimana kisah diatas, jelas sekali mengindikasikan bahwa membaca Al-Quran tidaklah sekedar membaca. Mereka memperlakukan dirinya ketika membaca Al-Quran, seolah-olah sedang membaca dihadapan Sang Pemilik Kalam itu sendiri dengan berduaan serta berhadap-hadapan.

Jika Ahli hikmah saja mengatakan ;

اذا جلست بين العلمآء فاحفظ لسانك، واذا جلست بين الاوليآء فاحفظ قلبك

" Apabila engkau duduk diantara para Ulama' maka jagalah lisanmu. Dan apabila engkau duduk diantara para Auliya' maka jagalah hatimu ".

Maka bagaimana pula ketika kita duduk berdua dengan Alloh ketika membaca KalamNya, yang mana Dia mengetahui betul akan siapa diri kita. Maka tidak hanya lisan dan hati saja yang kita jaga, bahkan fikiran dan sikap demi menjaga tata krama dihadapanNya.

Coba kita renungkan lebih dalam dari makna ayat berikut ini ;

(وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ) [Surat Al-Araf : 204]

" Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ".

Jika kita perhatikan dari dhohir ayat, maka ada sebuah tuntunan bahwa seseorang harus menjadi pendengar yang baik dan dianjurkan diam ketika Al-Quran dibacakan. Tapi coba kita analisa dalam-2 dari sebagian rahasia dari hakikat ayat, " Dan apabila dibacakan Al Quran...", Siapakah yang membaca ? kita ? ataukah Dia ( Alloh ) Sang pemilik Kalam yang membacakan untuk kita ?. Jika sebagian dari kita mengatakan bahwa yang membaca adalah kita, maka berhati-hatilah bahwasannya Dia tidak sedikitpun lengah memperhatikan bacaan kita. Di hadapan Sang Raja kita telah diberi kesempatan " berbicara " dengan disaksikan begitu banyak para malaikat-2nya, baik yang menjaga tiap-tiap huruf dari runtutan ayat yang kita baca maupun para malaikat yang menjaga setiap bagian dari bagian anggota tubuh kita, dan bahkan lebih dari itu. Maka sudah selayaknya ketika berbicara di hadapan Sang Raja, fikiran dan hati kita hanya tertuju pada apa yang hendak kita sampaikan kepadaNya.
Dan jika sebagian dari kita mengatakan bahwa Dia ( Alloh SWT ) yang membacakan untuk kita, maka kita benar-2 harus ekstra hati-hati dari kelengahan fikiran dan hati dari tertuju padaNya. Umpamakan ketika Sang Raja menyampaikan titahnya kepada kita, sedang hati dan fikiran kita tidak disana, maka bagaimana kita bisa mengerti dan memahami materi titah Sang Raja tersebut. Bukankah ini suatu kecerobohan dan kesembronoan dari bentuk adab yang tidak baik dari seorang hamba ketika berhadap-hadapan langsung dengan Rajanya.

Sekarang mari kita lihat, bagaimana Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali mengajak kita untuk menerjuni amaliah-2 bathin ketika tilawatil Quran, sebagaimana beliau tuturkan dalam salah satu karya monumentalnya, Kitab Ihya' Ulumuddin, hal. 283 ;

الثالث : حضور القلب وترك حديث نفس، قيل في نفسير — يا يحي خذ الكتاب بقوة — اي بجد واجتهاد واخذه بالجد ان يكون متجردا له عند قراءته منصرف الهمة اليه عن غيره، وقيل لبعضهم اذا قرأت القرآن تحدث نفسك بشيئ فقال او شيئ احب اليّ من القرآن حتى احدث به نفسى

" KETIGA :( termasuk bagian dari amaliyah bathin ketika membaca Al-Quran ) adalah kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa. Ada yang mengatakan, pada penafsiran firman Alloh Ta'ala, " Yaa yahyaa khudzil kitaaba biquwwah " ( Suroh Maryam, ayat 12 ) yang artinya : " Hai Yahya ! Ambillah kitab itu dengan sungguh-sungguh dan rajin ". Mengambilnya dengan sungguh-sungguh, ialah menghadapkan diri kepada kitab itu semata-mata ketika membacanya, memfokuskan atau memusatkan kemauan hati kepadanya saja, tidak kepada yang lain. Ditanyakan kepada sebagian mereka :" Apabila engkau membaca Al-Quran, adakah engkau itu berbicara dengan dirimu akan sesuatu ( selain Al-Quran ) ? " Maka yang ditanya menjawab, " Adakah sesuatu yang lain yang lebih aku cintai dari Al-Quran, sehingga aku berbicara dengan dia akan diriku ?".
Selanjutnya ( masih di kitab yang sama dan halaman yang sama dari Ihya' nya Imam Al-Gozali ), mari kita beranjak untuk melihat bagaimana Rosululloh SAW dalam merenungi atau mentadabburi ayat.

ويروى انه صلى الله عليه وسلم قرأ بسم الله الرحمن الرحيم فرددها عشرين مرة (١).
(١). حديث انه قرأ بسم الله الرحمن الرحيم فرددها عشرين مرة رواه ابو ذر الهروى في معجمه من حديث ابي هريرة بسند ضعيف.

" Diriwayatkan bahwa Nabi SAW membaca " Bismillahir rohmaanir rohiim ", lalu beliau mengulang-ulanginya sampai 20 kali ". (1). Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dzar Al-Harawy dalam Mu'jamnya dari Abu Hurairah dengan sanad dhoif.

Imam Al-Ghozali memberi komentar bahwa sesungguhnya Nabi mengulang-ulanginya sampai 20 kali, adalah karena bertadabbur pada segala pengertiannya.

(أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا) [Surat Muhammad : 24]

" Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? ".

Terlepas dari penafsiran para mufassir, bahwa " memperhatikan Al-Quran " adalah adanya tuntutan dalam pemfokusan hati, serta fikiran agar tidak lengah dalam mentadabburi makna-2nya, mencurahkan segala perhatian hanya semata-mata tertuju padanya ( Al-Quran ) dari apa yang kita baca. Adapun pengertian " ataukah hati mereka terkunci " adalah bentuk kelalaian, kelengahan dari ketidak peka-an hati untuk membuka diri dalam menerima pesan-2 agung dari apa yang telah dibaca. Sehingga hati tidak mampu meresapinya dengan baik.

Dimulai dari masa hidup Rosululloh SAW, para sahabat dan tabi'in dari generasi salafus sholih, banyak kita jumpai akan kepekaan hati mereka dalam menangkap isyarat-isyarat Ilahiyyah dari ayat-ayat Al-Qur'an yang mereka baca. Sejarah telah merekam dengan jelas jejak-jejak keagungan pribadi mereka dalam berinteraksi dengan ayat-ayatNya. Imamuna Abul Hamid Al-Ghozali dengan gamblang menuturkan akan kedahsyatan hati para Ahlulloh ini, sebagaimana yang beliau kisahkan dalam Ihya'nya, juz 2, Hal. 293 ;

واما الحكايات الدلة على ان ارباب القلوب ظهر عليهم الوجد عند سماع القرآن فكثيرة قوله صلى الله عليه وسلم " شيبتنى هود واخواتها ( ٤ ) " خبر ان الوجد فان الشيب يحصل من الحزن والخوف وذلك وجد. وروي ان ابن مسعود رضى الله عنه قرأ على رسول الله صلى الله عليه وسلم سورة النساء فلما انتهى على قوله تعالى " فكيف اذا جئنا من كل امة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء سبيلا " قال حسبك وكانت عيناه تذرفان بالدموع ( ١ ) وفي رواية انه عليه السلام قرأ هذه الآية او قرئ عنده — ان لدينا أنكالا وجحيما. وطعاما ذا غصة وعذابا أليما — فصعق ( ٢ )  وفي رواية انه صلى الله عليه وسلم قرأ — إن تعذبهم فانهم عبادك — فبكى ( ٣ ) وكان عليه السلام اذا مر بآية رحمة دعا واستبشر ( ٤ ) والاستبشار وجد وقد أثنى الله تعالى على اهل الوجد بالقرآن فقال تعالى — واذا سمعوا ما أنزل الى الرسول ترى اعينهم تفيض من الدمع مما عرفوا من الحق — وروي ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلى لصدره أزيز كأزيز المرجل ( ٥ ).

Hikayat-hikayat yang menunjukkan bahwa orang-orang yang mempunyai hati suci itu, banyak yang timbul dari adanya perasaan yang begitu mendalam ketika mendengar Al-Qur'an dibacakan. Sebagaimana sabda Nabi SAW, " Berubannya diriku, adalah karena surat Hud dan surat-surat lainnya yang semisal dengan surat Hud ". ini mengindikasikan adanya perasaan yang mendalam ( al wajd ) dalam hati beliau. Karena ubanan itu terjadi dari ekspresi kesedihan dan ketakutan, dan inilah yang dimaksud al-wajd. (*4).
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud r.a. membaca dihadapan Rosululloh SAW surat An-Nisa'. Maka ketika sampai pada ayat ;

(فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا) [Surat An-Nisa : 41]

Yang artinya :" Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu) ". Lalu Nabi SAW berkata ," Cukuplah olehmu ". Tampak kedua mata beliau bercucuran air mata.
Pada suatu riwayat, Nabi SAW membaca ayat atau dibacakan seseorang disampingnya dari ayat ke 12-13 dari suroh Al-Muzammil, yang artinya " Sesungguhnya disisi kami ada rantai yang berat dan api neraka. Dan makanan yang mencekikkan dan siksa yang pedih ". Lalu beliau pingsan.
Pada suatu riwayat, Nabi SAW membaca ayat 118 dari suroh Al-Maidah, yang artinya ," Kalau mereka Engkau siksa, sesungguhnya mereka itu hamba-hambaMu ". Lalu beliau menangis.

Adalah Nabi SAW apabila telah membaca ayat-ayat tentang rahmat, beliau lalu berdoa dan tampak gembira. Kegembiraan itu adalah bentuk dari perasaan yang amat mendalam dari pekanya hati, dan Alloh Ta'ala memuji orang-orang yang mempunyai al-Wajd ( perasaan atau rasa cinta yang mendalam dikarenakan Al-Quran ).
Sebagaimana firman Alloh ;

(وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ) [Surat Al-Maeda : 83]

" Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.).

Diriwayatkan, bahwa Rosululloh SAW mengerjakan sholat dan dadanya berbunyi menggelegak seperti bunyi menggelegaknya periuk ".

Kemudian masih dikitab yang sama dari Ihya, Juz 2, Hal. 294, Imam Al-Ghozali kembali mengisahkan dari kalangan sahabat dan tabi'in tentang ekspresi luar biasa dari kepekaan hati mereka terhadap haibah dari ayat-ayat Al-Qur'an yang mereka baca. Sebagaimana dalam penuturannya ;

واما ما نقل من الوجد بالقرآن من الصحابة رضي الله عنهم والتابعين فكثير : فمنهم من صعق ومنهم من بكى ومنهم من غشى عليه ومنهم من مات في غشيته وروي ان زرارة بن اوفي وكان من التابعين كان يؤم الناس بالرقة فقرأ — فاذا نقر في الناقور — فصعق ومات في محرابه رحمه الله وسمع عمر رضى الله عنه رجلا يقرأ — ان عذاب ربك لواقع — فصاح صيحة وخر مغشيا عليه فحمل الي بيته فلم يزل مريضا في بيته شهرا وابو جرير من التابعين قرأ عليه صالح المرى فشهق ومات وسمع الشافعى رحمه الله قارئا يقرأ — هذا يوم لا ينطقون ولا يؤذن لهم فيعتذرون — فغشى عليه وسمع على ابن الفضيل قارئا يقرأ — يوم يقوم الناس لرب العالمين — فسقط مغشيا عليه فقال الفضيل شكر الله لك ما قد علمه منك وكذلك نقل عن جماعة منهم وكذلك الصفية فقد كان الشبلى في مسجده ليلة من رمضان وهو يصل خلف امام له فقرأ الامام — ولئن شئنا لنذهبن بالذى اوحينا اليك — فزعق الشبلى زعقة ظن الناس انه قد طارت روحه واحمر وجهه وارتعدت فرائصه وكان يقوم بمثل هذا يخاطب الأحباب يردد ذلك مرارا. وقال الجنيد دخلت على سرى السقطى فرايت بين يديه رجلا قد غشى عليه فقال لى هذا رجل قد سمع آية من القرآن فغشى عليه فقلت اقرءوا عليه تلك الآية بعينها فقرئت فأفاق فقال من اين قلت هذا فقلت رايت يعقوب عليه السلام كان عماه من اجل مخلوق فبمخلوق ابصر ولو كان عماه من اجل الحق ما ابصر بمخلوق فاستحسن ذلك ويشير الي ما قاله الجنيد.

وكأس شربت على لذة      وأخرى تداويت منها بها

" Adapun yang dinukilkan dari al wajd ( perasaan yang mendalam ) dari para sahabat dan tabi'in disebabkan Al-Qur'an banyak sekali. Diantara mereka ada yang menangis, diantara mereka ada yang sampai jatuh tersungkur, dan bahkan diantara mereka ada yang sampai meninggal dunia pada saat tersungkurnya itu.
Diriwayatkan, bahwa Zaroroh bin Aufa salah seorang tabi'in, beliau menjadi imam sholat orang banyak dengan perasaan malu, dan ketika ia membaca ayat " Faidzaa nuqiro fin naaquur " ( Suroh Al-Muddatsir, ayat 8 ) yang artinya " ketika terompet dibunyikan " maka seketika ia jatuh pingsan dan meninggal di mihrobnya, sekiranya Alloh menurunkan rahmat baginya.
Sahabat Umar bin Al-Khotthob mendengar seorang laki-2 membaca ayat ;

ان عذاب ربك لواقع. ما له من دافع

" Sesungguhnya siksaan Tuhan engkau pasti terjadi. Tiada seorangpun dapat menolaknya ". ( Suroh At-Thur, ayat 7-8 ). Lalu beliau ( sahabat Umar ) memekik dan jatuh tersungkur, maka beliaupun dibawa kerumahnya sampai sakit sebulan lamanya.
Abu Jarir termasuk golongan tabi'in. Sholih Al-Marri membacakan beberapa ayat Al-Qur'an kepadanya dengan suara yang sangat merdu. Lalu Abu Jarir jatuh pingsan dan meninggal.
Imam Asy-Syafi'i mendengar seorang pembaca Al-Qur'an membaca ayat :

هذا يوم لا ينطقون. ولا يؤذن لهم فيعتذرون

" Inilah hari yang dikala itu mereka tiada dapat berbicara. Dan kepada mereka tiada diberikan keizinan, sehingga mereka dapat mengajukan keberatan ( pembelaan ). ( Suroh Al-Mursalaat, ayat 35-36 ) lalu beliau ( Imam Asy-Syafi'i jatuh tersungkur.
Ali bin Al-Fudhail mendengar seorang pembaca Al-Qur'an membaca ayat ;

يوم يقوم الناس لرب العالمين

" Dihari manusia berdiri dihadapan Tuhan semesta alam ". ( Suroh Al-Muthoffifin, ayat 6 ). Lalu ia jatuh pingsan. Maka Al-Fudhail ( ayahnya ) berkata ," Alloh mengucapkan terima kasih kepadamu, atas apa yang diketahuiNya dari padamu ".

Begitu pula dinukilkan dari segolongan mereka, dan begitu pula pada kaum Sufi. Pada suatu malam bulan Romadhon, Asy-Syibli berada dimasjidnya, dan ia sholat dibelakang imam sholatnya. Lalu imam itu membaca ayat ;

ولئن شئنا لنذهبن بالذى اوحينا اليك

" Dan kalau kami kehendaki, niscaya kami hilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu " ( Suroh Al-Isro', ayat 86 ) Maka Asy-Syibli berteriak-teriak sehingga orang-orang mengira bahwa nyawa Asy-Syibli telah terbang ( lepas dari raganya ), mukanya merah padam dan amat takut hatinya. Dia mengatakan seperti itu dihadapan teman-temannya dan banyak mengulang-ulanginya yang demikian itu.
Al-Junaid berkata ," Aku masuk ketempat Sary As-Saqhothi, dan aku melihat dihadapannya seorang lelaki yang jatuh pingsan. Lalu Sary As-Saqothi berkata kepadaku, " Ini adalah orang yang mendengar suatu ayat dari Al-Quran lalu jatuh pingsan ". Maka aku menjawab ," Bacakanlah ayat itu lagi kepadanya ". Lalu dibacakan oleh Sary As-Saqothi dan lelaki itupun sadar seketika dari pingsannya.
Lalu Sary As-Saqothi bertanya, " Dari manakah sumbernya sampai engkau mengatakan hal ini ?". Aku ( Syaikh Junaid Al-Baghdady ) menjawab ," Aku melihat Nabi Ya'qub buta matanya karena makhluk, maka dengan makhluk pula ia dapat kembali melihat. Dan jika butanya karena Al-Haq, maka ia tidak akan melihat dengan sebab makhluk ". Sary As-Saqothi memandang baik perkataan Al-Junaid tersebut. Dan terhadap apa yang dikatakan oleh Al-Junaid tadi ditunjukkan oleh sebuah sajak seorang penyair ;

Segelas khomer aku minum
Untuk kesenangan
Dan segelas lagi aku minum
Untuk pengobatan.

Masih banyak kisah-kisah Ahlul Quran yang begitu dalam penghayatannya dalam tiap-tiap ayat yang dibaca. Disini saya cantumkan juga dari beberapa kisah penggugah jiwa dari gurunya guru kami tercinta.

Adalah Hadrotus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari, pada suatu peristiwa beliau amat letih oleh karena seharian penuh mengikuti Konferensi Nahdlatul Ulama' di kota Malang. Ketika itu beliau tidak dapat memberikan pelajaran dimalam harinya kepada murid-2, karena beliau tidur mulai ba'da Isya, dan tampak nyenyak sekali tidurnya. Sekitar pukul 3:30 malam beliau baru bangun lalu mengambil air wudhu terus melanjutkannya dengan sholat tahajjud. Walaupun sejak siang belum makan, tetapi makanan yang terhidang tidak juga dijamahnya, bahkan beliau langsung mengambil Al-Quran dan membacanya dengan Tartil ( jawa : antan-antan ). Setelah membacanya sekitar setengah jam, sampailah pada Suroh Ad-Dzariyat, ayat 17-18 yang berbunyi ;

(كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

" Di dunia, mereka ( para sahabat dan pengikut Nabi Muhammad SAW ) sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.

Setelah sampai pada ayat tersebut, beliau menghentikan bacaannya, diam sejenak lalu beliau menangis tersedu-sedu sampai air matanya membasahi jampang dan janggutnya yang sudah mulai memutih. Agaknya beliau merasa bahwa malam itu beliau terlalu banyak tidurnya.

Seorang guru senantiasa menjadi panutan murid-2nya, begitupula agaknya Kyai Fattah dalam meneladani sifat-2 gurunya, Hadrotus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari, pendiri pondok pesantren Tebuireng, Jombang.

Kyai Abdul Fattah Hasyim, ( ayah mertua sekaligus Guru dari guru kami KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad pengasuh Pon-Pes Bumi Damai Al-Muhibbin, TambakBeras-Jombang ) adalah salah satu pengasuh Pon-Pes Bahrul Ulum TambakBeras, Jombang. Dulu kalau mengajar Tafsir Jalalain di sekolah Mu'allimin-Mu'allimat tidak pernah bawa kitab, karena beliau hafal diluar kepala isi kitab tersebut. Dan setiap pelajaran, kalau materi ayatnya berkaitan dengan nikmat Alloh pasti rasa suka citanya luar biasa. Tapi kalau materi yang disampaikan berkenaan dengan ayat-ayat adzab atau siksa, maka dapat dipastikan dari 2 jam pelajaran, yang 1 jam dipakai penyampaian materi dan 1 jam nya beliau menangis tersedu-sedu, sehingga siswa2 waktu itu banyak yang menangis oleh karena ikut terbawa suasana hati beliau.

Maka hendaklah kita fahami dengan fikiran yang jernih, hati yang tulus dari membaca kedahsyatan ayat-ayatNya yang mulia dan agung itu, agar kita senantiasa mendapatkan hikmah dari amanah yang dititipkan kepada kita. Mudah-2an dengan sedikit ulasan saya yang dhoif ini, kita mendapat petunjuk dari Alloh agar menjadi Ahlul Quran yang Sabiqun bil khoirot bi idznillah. Dan untuk menggapai " bi idznillah " sebagai bagian dari Hidayah-Nya, maka hendaknya kita berazam sekuat hati untuk bisa mencontoh teladan  Rosululloh, sahabat-2 beliau dan para salafus sholih. Tetap mengedepankan husnudzhon kepada Alloh bahwasanya kita masih disediakan peluang untuk ambil bagian di kelas VIP dari kelas-2 Ahlul Quran lainnya.

Mudah-2an bermanfaat  sekelumit analisa kami yang faqir ini untuk sekiranya dapat dijadikan motivasi diri  dalam menggapai ridho Alloh SWT.

————
Danny Ma'shoum. Sidoarjo, Kamis 25 Maret 2015.