kolom melintang

Thursday, April 23, 2015

PEMBACAAN MANAQIB, SEBUAH AMALIYAH ATAS RASA CINTA

MEMBACA MANAQIB SEBAGAI SALAH SATU BENTUK RASA CINTA KEPADA PARA WALI ALLOH DAN ORANG-ORANG SHOLIH

Kesampingkan mereka-mereka yang membenci kesufian, abaikan mereka yang anti thoriqoh, jangan hiraukan mereka yang mengatakan bahwa tasawwuf membuat Islam tidak maju, terbelakang dari kemajuan zaman.
Agama kita ini ( Islam ) adalah agama yang sangat relevan dalam menapak setiap peralihan masa, pembangunan konstruksi ruhaniyah dari golongan-golongan terpilih inilah yang Alloh menjadikan Islam tetap jaya sampai nanti. Islam itu multi kompleks dalam setiap ajarannya. Selalu mengedepankan ilmu dan amal, akhlaqul karimah, adab, tata krama serta pengamalan dari ajaran-ajarannya.

sebagaimana sabda Rasulullah
Saw:

ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺻَﻼَﺡُ ﺃَﻭَّﻝِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍْﻷُﻣَّﺔِ
ﺑِﺎﻟﺰُّﻫْﺪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻘِﻴْﻦِ ﻭَﻳَﻬْﻠِﻚُ ﺁﺧِﺮُﻫَﺎ ﺑِﺎﻟْﺒُﺨْﻞِ ﻭَﺍْﻷَﻣَﻞِ ‏(ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺰﻫﺪ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻻﻭﺳﻂ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ
ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﺍﻻﻳﻤﺎﻥ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ‏)

“Kebaikan ( era kejayaan ) generasi awal umat ini adalah dengan zuhud dan keyakinan (Dalam riwayat lain;
Takwa). Dan kehancuran generasi akhir umat ini adalah dengan kikir dan angan-angan” .
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya dalam kitab az-Zuhd, Imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath dan Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu'bil Iman yang bersumber dari Ibnu Amr bin ‘Ash.

Hadis yang indah ini menjelaskan dua sisi kejayaan dan kehancuran umat Islam. Dari dua sisi ini masing-masing terdiri dari dua sifat. Kejayaan tersebut yaitu zuhud dan keyakinan. Keduanya adalah sifat terpuji yang diajarkan dan didalami dalam ilmu Tasawwuf sebagai salah satu jenjang menjadi Shufi. Inilah yang menjadikan perlunya sebagian ulama mencurahkan segala daya upaya menyusun biografi atau manaqib orang-orang sholih sebagai bentuk motivasi diri dalam mengambil keteladanan dari perilaku mulia mereka.

Dan dari sebagian golongan-golongan terpilih itu ada yang menghidupkan ruh-ruh Islam dengan amaliyah-amaliyah yang dapat menyambungkan robithoh hatinya, me-wushulkan pada apa yang telah diisyaratkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, ialah mencintai para Auliya' dan orang-orang sholih. Dan salah satu bentuk kecintaan itu adalah rutinitas pembacaan manqibul auliya' yang dikalangan Nahdhiyyin merupakan suatu amaliyah rutin dalam khususiyyah pengikut thoriqoh atau pun diluar jamaah thoriqoh.
Nah..adakah dasar-dasar rujukan terhadap keabsahan pengamalan dari amaliyah ini. Disini saya sajikan beberapa dalil sebagai penguat.

ARTI MANAQIB

Pengertian Manaqib dalam kamus Al-Munjid, Hal. 829 mendefinisikan arti manaqib sebagai berikut ;

مناقب الانسان ما عرف به من الحصال الحميدة والاخلاق الجميلة

Yang disebut manaqib seseorang ialah apa yang diketahui dari orang tersebut akan kepribadiannya yang terpuji dan akhlaknya yang mulia.

Banyak kita jumpai biografi-biografi para salafus sholeh, para auliya'ul arifiin yang disusun oleh para ulama agar bisa dijadikan teladan atas keagungan hidup mereka sebagai wujud mencontoh suri keteladanan atas pribadi agung Rosululloh Muhammad SAW. Diantaranya adalah ;

1. Tanwirul Ma'ali fi manaqibis syadzili. Karya Al-'Arifu billah Syaikh Nahrowi Dalhar Gunung Pring.

2. Manaqibus Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ( Tafrijul Khothir ). Karya Imam Ibnul Muhyiddin al-Irbili.

3. Roudhotun Nadzhirin wa Khulashotu Manaqibis Sholihin. Karya Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Watari.

4. Bughyatut Tholibin li Bayanil Masyayikhil Muhaqqiqin al Mu'tamidin. Karya Syaikh Ahmad Nakhli al-Makki.

5. Mu'jamus Syuyukh al Mu'jam al Kabir . Karya Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi.

6. Al-Bustan fi Dzikril Auliya'i wal Ulama'i bi Tilmitsan. Karya Ibnu Maryam Asy-Syarif at-Tilmitsani.

7. Manaqibul Imam al A'dzhom Sufyan Ats-Tsauri. Karya Imam Adz-Dzahabi.

8. Tuhfatut Tholibin fi Tarjamati al-Imam Muhyiddin ( An-Nawawi ). Karya Imam Alauddin 'Ali al-Atthor.

9. Al-Maroqibul Yafaiyah fi Manaqib ar- Rifaiyah. Karya Syaikh Fadi 'Alimuddin.

10. Manaqibul Amir al- Mu'minin Umar ibn al-Khotthob. Karya Ibnul Qoyyim Al-Jauzi. 

11. An-Nurul Burhani fi Tarjamati Lujjainid Dani fi Dzkri Nabadzati min Manaqibis Syaikh Abdul Qodir Al-Jilany. Karya Allamah Syaikh Muslih bin Abdurrohman-Mranggen, yang merupakan terjemah dari kitab Al-Lujjainid Dani-karya As-Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji.

Lalu siapakah Wali Alloh itu.

PENGERTIAN WALIYULLOH

Syaikh Thohir bin Sholih Al-Jazairi dalam kitabnya Jawahirul Kalamiyah, Hal. 23 menuturkan ;

الولى هو العارف بالله تعالى وصفاته حسب ما يمكن المواظب على الطاعات المجتنب للمعاصى والسيئات والمعرض عن الانهماك في اللذات والشهوات وظهور الكرامة على يده اكرام من ربه

Yang dinamakan Waliyulloh ialah orang yang ma'rifat kepada Alloh, ma'rifat kepada sifat-sifat Alloh sekedar yang mungkin, senantiasa taat kepada Alloh serta menjahui maksiat dan perbuatan-perbuatan buruk serta berpaling dari dorongan lelezatan-kelezatan dan nafsu syahwat, dan lahirnya karomah yang ada ditangannya semata-mata kemuliaan dari Tuhannya.

Adapun dalil-dalil ayat Al-Quran, Hadist dan fatwa para ulama sehubungan dengan anjuran mencintai Wali Alloh adalah sebagai berikut ;

* Dalil Al-Quran.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ) [Surat At-Tawba : 119]

" Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar ".

* Dalil Hadist, sebagaimana Al-Bukhori meriwayatkan dari Abi Huroiroh r.a .

من عادلى وليا فقد اذنته بالحرب    ( الحديث رواه البخارى )

Barang siapa yang memusuhi Wali-Ku, maka sungguh Aku menyatakan perang kepadanya.

* Imam Ad-Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus meriwayatkan hadist dari Mu'adz bin Jabal bahwa Rosululloh SAW bersabda ;

ذكر الانبيآء من العبادة وذكر الصالحين كفارة وذكر الموت صدقة وذكر القبر يقربكم من الجنة.   ( اخرجه الديلمى فى مسند الفردوس )

Menyebut nama para Nabi adalah ibadah, menyebut nama orang-orang sholeh adalah penebus dosa, ingat mati adalah shodaqoh dan ingat kubur dapat mendekatkanmu kepada surga.

* Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarof An-Nawawy Asy-Syafii dalam kitabnya Riyadhus Sholihin, Hal. 178 menuturkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ;

عن يزيد ابن حيان عن زيد ابن ارقام رضي الله عنه قال قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا بمآء يدعى حما بين المكة  المدينة، فحمد الله واثنى عليه ووعظ وذكر ثم قال : اما بعد، الا ايها الناس فانما انا بشر يوشك ان يأتى رسول ربي فاجيب وانا تارك فيكم ثقلين، اولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به فحث على كتاب الله ورغّب فيه ثم قال واهل بيتى اذكركم الله في اهل بيتى اذكركم الله في اهل بيتى. رواه مسلم

Dari Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqom r.a berkata : Pada suatu hari Rosululloh SAW berkhutbah disuatu tempat yang bernama Khum yang terletak antara Makkah dan Madinah. Setelah memanjatkan puji syukur kepada Alloh, beliau memberi nasehat dan kemudian bersabda ," Amma ba'du, ingatlah baik baik wahai manusia, saya hanya seorang manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku ( malaikat Izroil ) maka saya harus pergi meninggalkanmu, dan aku tinggalkan kepadamu dua amanat yang berat. Yang pertama dari kedua amanat itu adalah Al-Quran yang terdapat petunjuk dan cahaya didalamnya, maka ambillah Kitab Alloh itu dan berpegang teguhlah dengannya. Maka beliau selalu menganjurkan untuk tetap berpegang teguh dengan Kitabulloh. Kemudian beliau bersabda, " Dan ahlul baitku, aku mengingatkanmu akan Alloh pada ahlil baitku, aku mengingatkanmu akan Alloh pada ahlil baitku ".

Ahlul bait disini adalah keluarga serta dzurriyah beliau Rosululloh SAW. Berkaitan dengan hadist ini, Allamah Asy-Syaikh Muslih bin Abdurrohman Mranggen dalam kitab An-Nurul Burhani, juz 2, Hal.11, menukil perkataan As-Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji, yang mengatakan dalam kitab Al-Lujjain Ad-Dani manaqibi Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani nya ;

قوله ( ومحبة وثيقة ) اى وكانت المحبة لآل الرسول الذى منهم سيدى الشيخ عبد القادر الجيلانى من فرض الدين لقوله تعالى : قل لا اسألكم عليه اجرا الا المودة في القربى.

Perkataan Sayyid Ja'far Al-Barzanji ( Kecintaan dan kepercayaan ) maksudnya bentuk kecintaan kepada keluarga Rosululloh yang termasuk diantaranya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilany adalah merupakan perintah Agama sebagaimana firman Alloh Ta'ala ;
" Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan ( Suroh As-Syuro, ayat 23 ).

Kita mungkin tidak menjumpai era Nabi Muhammad, sahabat-sahabat beliau dan para salafus sholih. Akan tetapi dengan mencintai beliau melalui berbagai bentuk pengamalan-pengamalan sunnahnya, mencintai sahabat dan orang-orang sholih dengan mengambil kemanfaatan dari kepribadian agung mereka akan mendekatkan kita kepada mereka, terlebih dalam ikatan robithoh hati kita akan sambung dengan hati mereka, bahkan bisa menjadi sarana wushul kepada Alloh.

Sahabat Ibnu Mas'ud r.a berkata ;

جاء رجل الي رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ؛ يا رسول الله كيف تقول في رجل احب قوما ولم يلحق بهم. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : المرء مع من احب  ( متفق عليه )

Seorang laki-laki datang kepada Rosululloh SAW dan bertanya ; Wahai Rosululloh, bagaimanakah kalau seseorang cinta kepada satu kaum, akan tetapi tidak dapat berkumpul dengan mereka. Maka Rosululloh menjawab : Seseorang akan berkumpul bersama orang yang dicintai. ( Muttafaqun 'alaih )

* Syaikh Sayyid Abdul Waris mengatakan ;

خدمة الرجال سبب الوصال الى مولى الموالى.  ( مناقب الاوليآء للشيخ احمد صديق )

Pelayanan orang-orang yang mulia disisi Alloh itu menyebabkan wushul ( sampai ) kepada Alloh.  ( Manaqibul Auliya' Li Asy-Syaikh Ahmad Shiddiq )

* Imam Hasan Al-Bashri berkata ;

كل من اتبع طاعة الله لزمته مودته، ومن احب رجلا صالحا فكانما احب الله.   ( مناقب الاولياء للشيخ احمد صديق )

Orang-orang yang dapat di ikuti ketaatannya kepada Alloh, wajib dicintai. Dan barang siapa yang mencintai orang sholeh seperti cinta kepada Alloh.   ( Manaqibul Auliya' Karya Syaikh Ahmad Shodiq )

* Sulthonul 'Arifin Asy-Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi berkata ;

احبب اوليآء الله ليحبوك فان الله تعالى ينظر الى قلوب اوليآءه، فلعله ينظر الى اسمك في قلب وليه فيغفر لك.

( مناقب الاولياء للشيخ احمد صديق )

" Cintailah para Wali Alloh agar mereka mencintaimu. Maka sesungguhnya Alloh melihat didalam hati para wali-Nya itu kemungkinan melihat pula namamu sehingga menjadi sebab diampuninya dosamu "

( Manaqib Auliya' , karya Syaikh Ahmad Shiddiq )

* Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i berkata dalam syairnya ;

احب الصالحين ولست منهم
لعلى ان انال بهم شفاعة

Aku mencintai orang-orang sholeh, walaupun aku bukan dari golongan mereka. Aku mencintai mereka dengan harapan aku memperoleh syafa'atnya.

Mudah-mudahan bermanfat.

—————
Danny Ma'shoum.
Sidoarjo. Kamis 23 April 2015.

Wednesday, April 22, 2015

CARA MENGETAHUI TURUNNYA MALAM LAILATUL QODAR

SEKILAS KAJIAN TENTANG LAILATUL QODAR DAN CARA MENGETAHUI TURUNNYA MALAM LAILATUL QODAR MENURUT HARI AWAL MASUKNYA BULAN ROMADHON

Alloh azza wa jalla berfirman ;

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ) [Surat Al-Qadr : 1]

" Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan ".

(وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ) [Surat Al-Qadr : 2]

" Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? "

(لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ) [Surat Al-Qadr : 3]

" Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan ".

(تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ) [Surat Al-Qadr : 4]

" Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan ".

(سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ) [Surat Al-Qadr : 5]

" Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ".

Malam lailatul qodar adalah suatu malam yang sangat agung, yang keagungannya lebih mulia daripada 1000 bulan, dan ini hanya ada dibulan Romadhon saja malam mulia itu dapat kita jumpai, yang mana kesempatan itu hanya satu tahun sekali terjadi. Dan ini adalah salah satu anugerah terbesar bagi kita selaku ummat Nabi Muhammad SAW, yang Alloh meridhoinya dalam naungan dinul Islam.

Pada malam lailatul qodar ini sebagian dari rahasia alam malakut terbuka. Sebagian dari tanda-tandanya dapat disaksikan ataupun dirasakan kehadirannya, terlebih bagi yang mendapatkan fadhol Alloh sehingga dapat melihat isyarat-isyarat itu dengan jelas. Sebagaimana yang di katakan oleh Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin nya, Hal. 236, ketika menguak rahasia yang tersembunyi pada ayat pertama dari Suroh Al-Qodar ;

وليلة القدر عبارة عن الليلة التى ينكشف فيها شيئ من الملكوت وهو المراد بقوله تعالى — إنا انزلناه في ليلة القدر.

" Dan malam lailatul qodar itu, adalah malam yang terbuka padanya sesuatu dari alam malakut, dan inilah yang dimaksud pada firman Alloh, " Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan ".

Apa yang dikatakan oleh Imam Al-Ghozali diatas adalah bentuk isyarat dari Hadist Nabi SAW ;

ابواب السموات مفتوحة في ليلة القدر ما من عبد يصلى فيها الا جعل الله تعالى له بكل تكبيرة غرس شجرة فى الجنة لو سار الراكب في ظلها مائة عام لا يقطعها، وبكل ركعة بيتا في الجنة من در وياقوت وزبرجد ولؤلؤ، وبكل آية من قراءته فى الصلاة تاجا فى الجنة وبكل جلسة درجة من درجات الجنة، وبكل تسليمة حلة من حلل الجنة.

" Pada malam lailatul qodar, pintu-pintu langit terbuka. Tidak seorang sholat pada malam itu kecuali oleh Alloh di anugerahi untuk tiap rokaat sebuah pohon di surga yang apabila seorang berjalan dibawah bayangan pohon itu selama seratus tahun maka tidak akan terputus bayangan itu dari pandangannya, dan untuk setiap takbir akan dibangunkan oleh Alloh sebuah rumah di surga dari bahan mutiara, yaqut, zabarjad dan mutiara, dan untuk tiap-tiap yang dibaca dalam sholatnya dibuatkan sebuah mahkota di surga, serta tiap kali duduk dalam sholatnya satu derajat dari derajat-derajat di surga, dan untuk tiap salam dibuatkan seperangkat pakaian dari pakaian-pakaian surga ".
( keterangan hadist diatas saya nukil dari kitab Durrotun Nashihin fi al-Wa'dzi wal Irsyad, Hal. 272. Karya Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir al Khoubawy, salah seorang ulama yang hidup pada kurun 13 H. )

Terbukanya pintu-pintu langit inilah kiranya yang dimaksud dari terbukanya alam malakut.

Adapun jatuhnya malam lailatul qodar pada masing-masing daerah yang mengalami perbedaan waktu, maka lailatul qodar ini berjalan memanjang seiring perbedaan mathla' dari masing-masing daerah, sehingga terjadinya lailatul qodar menurut malam masing-masing negara atau daerah yang mempunyai keterpautan waktu yang sangat panjang dengan daerah atau negara yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana dalam kitab Nihayatul Muhtaj, juz 3, Hal. 214 - 215 diterangkan ;

ثم يحتمل انها تكون عند كل قوم بحسب ليلهم فاذا كانت ليله القدر عندنا نهارا لغيرنا تأخرت الاجابة والثواب الي ان يدخل الليل عندهم، ويحتمل لزومها لوقت واحد وان كان نهارا بالنسبة لقوم وليلا بالنسبة الاخرين والظاهر الاول لينطبق عليه مسمى الليل عند كل منها اخذا مما قيل في ساعة الاجابة في يوم الجمعة انها تختلف باختلاف اوقات الخطب.

Lantas berpotensi sekali terjadinya lailatul qodar pada masing-masing bangsa sesuai malam yang dialami bangsa itu sendiri. Maka jika terjadi lailatul qodar ditempat kita pada malam harinya, maka selain daerah ( bangsa ) kita adalah waktu siang hari sebagai penundaan waktu ( jatuhnya lailatul qodar ) dan perolehan sampai masuknya waktu malam didaerah mereka . Dan berpotensi pula penetapan lailatul qodar pada satu waktu, jika waktu siang dinisbatkan pada satu bangsa dan waktu malam pada bangsa lainnya, serta yang pertama kali terlihat dapat berlaku pada daerah itu sebagai penyebutan  malam lailatul qodar dari tiap-tiap malam yang mereka dapati. Dan dikatakan bahwa didalam waktu ijabah ( datangnya lailatul qodar ) yaitu pada hari jum'at , bahwa hal itu berbeda-beda ( pada tiap bangsa ) disebabkan perbedaan masa atau waktu yang berlaku.

Dalam masalah jatuhnya malam lailatul qodar, sebagian ulama masih ikhtilaf, sebagaimana Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir menuturkan pada halaman 273 ;

واختلفوا في وقتها : فقال بعضهم إنها كانت في عهد رسول الله ثم رفعت. وذهب عامة المشايخ الى انها باقية الى يوم القيامة. واختلفوا فى تلك الليلة : فقال بعضهم اول ليلة من رمضان. وقال بعضهم ليلة سبعة عشر. وقال الاكثر في العشر الأخير من رمضان. واتفق عامة الصحابة والعلماء على انها ليلة سبع وعشرين من رمضان.

" Para ulama berselisih pendapat tentang waktunya. Sebagian berkata bahwa lailatul qodar hanya terjadi dimasa hidup Rosululloh saja. Dan sebagian yang lain berkata bahwa lailatul qodar tetap ada sampai hari kiamat. Dan berselisih pula para ulama tentang tanggalnya, sebagian berkata bahwa malam pertama bulan Romadhon, sebagian lain berpendapat malam tanggal 17 Romadhon, dan golongan terbanyak berpendapat diantara malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Romadhon, dan bahkan ada yang memastikan tanggal 27 bulan Romadhon ".

Adapun cara mengetahui jatuhnya malam lailatul qodar, jika kita mengacu pada apa yang di katakan Imam Al-Ghozali bahwa lailatul qodar adalah malam yang terbuka padanya sesuatu dari alam malakut, maka tidak bisa tidak, hanya golongan Ulama yang khowas atau ahlut tamkin saja yaitu orang-orang yang sudah mapan dalam maqom haqiqot dan makrifat billah yang mampu dengan karunia Alloh melihat rahasia-rahasia alam malakut, terutama sekali waktu dan tanggal akan jatuhnya malam lailatul qodar dari tiap-tiap masa.
Sebagai solusi dari perbedaan diatas, saya menukil perkataan Al-Quthb al-Ghouts Sulthonul Auliya' As-Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a sebagaimana yang tertulis dalam kitab Manaqibus Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili al waliy al quthb al ghouts , halaman 47 — yang disusun oleh KHR. Muhaiminan Gunardo Parakan-Temanggung, yang merupakan nukilan beliau dari berbagai referensi kitab seperti Mafakhirul Alygoh fi ma'atsiris Syadziliyyah, Thobaqotul Auliya lil Imam Abdul Wahab Asy-Sya'roni, An-Nurul Jali fi Manaqibisy Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzili , waghoiru dzalik. Dimana dalam Hal. 47 tersebut dituturkan ;

" Syaikh Abil Hasan Asy-Syadzili selalu mengerti ( melihat ) lailatul qodar mulai baligh sampai wafat. Sehingga beliau bisa berkata ;

* Apabila puasa dimulai hari Ahad, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 29.

* Apabila puasa dimulai hari Senin, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 21.

* Apabila puasa dimulai hari selasa, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 27.

* Apabila puasa dimulai hari Rabu, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 19.

* Apabila puasa dimulai hari Kamis, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 25.

* Apabila puasa dimulai hari Jum'at, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 17.

* Apabila puasa dimulai hari Sabtu, maka lailatul qodar jatuh pada malam tanggal 23.

Ini adalah persaksian dari golongan kaum muqorrobin dan 'arifin yang dianugerahi oleh Alloh kemampuan yang luar biasa sehingga dapat menyaksikan secara langsung rahasia dan isyarat-isyarat yang terdapat pada malam 1000 bulan ini.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa jatuhnya malam lailatul qodar ada pada malam-malam sepuluh akhir bulan Romadhon, hal ini dapat dibenarkan jika melihat banyaknya tanggal-tanggal ganjil yang jatuh pada malam-malam tersebut dari mulai tanggal 21, 23, 25, 25, 27 dan 29. Akan tetapi jika melihat nuzulul Quran yang Alloh turunkan pada malam lailatul qodar bertepatan pada tanggal 17 Romadhon, maka bisa dibenarkan juga dikarenakan tanggal 17 Romadhon adalah tonggak awal pertama kali Al-Quran diturunkan bersamaan dengan moment jatuhnya malam lailatul qodar. Sebagaimana ayat :

(شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ) [Surat Al-Baqara : 185]

" (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur ".

Banyak sekali pendapat-pendapat yang memperkuat bahwa Al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Romadhon. Disini saya cukupkan dua kitab saja sebagai ta'bir diatas ;

(1). Al-Qostholani, juz 7, Hal. 8 ;

وفى قول حكاه القرطبى فى المفهم انها ليلة نصف شعبان او هي ليلة سبع عشرة من رمضان رواه ابن ابي شيبة والطبرانى من حديث زيد ابن ارقام.

Dan didalam satu qoul, Al-Qurthubi menceritakan didalam kitab Al-Mufhim bahwa  turunnya malam nuzulul Quran adalah malam nisfu sya'ban atau ia diturunkan pada malam 17 dari bulan Romadhon. Ibnu Abi Syaibah dan At-Thobroni meriwayatkan dari hadist Zaid bin Arqom.

(2). Al-anwarul Muhammadiyyah, Hal. 38

ولما بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم اربعين سنة بعثه الله تعالى رحمة للعالمين ورسولا الى كافة الثقلين وكان ذلك يوم الاثنين لسبع عشرة خلت من رمضان فكان من نزول اقراء .

Dan ketika Rosululloh SAW sampai pada usia 40 tahun, maka Alloh SWT mengutusnya sebagai pembawa rohmat bagi seluruh alam dan selaku Rosul bagi segenap tanggung jawab yang diembannya dan hal tersebut terjadi hari Senin pada tanggal 17 bulan Romadhon dan  hari itu menjadi moment dari turunnya suroh Iqro' ( Al-Alaq ).

Mudah-mudahan bermanfaat.
————
Danny Ma'shoum, Sidoarjo 19-04-2015.

Monday, April 6, 2015

SEPUTAR HUKUM-HUKUM BERKAITAN DENGAN MASALAH KE-QUR'AN AN

BEBERAPA KAJIAN HUKUM-HUKUM SEPUTAR MASAIL QUR'AN
——————————

(1). DASAR SEBUTAN AL HAFIDZ ATAU AL-HAMIL BAGI PENGHAFAL AL-QUR'AN

Sebutan Al Hafidz dengan Al Hamil, bagi penghafal Quran adalah sama saja, sama baiknya dan sama benarnya. Hanya saja dalam konteks sekarang lebih tepatnya dengan sebutan Al Hafidz.

ta'bir kitab :

١. المعجم الوسيط، الجزء الاول، ص ١٨٥.
الحافظ : من يحفظ القرآن الكريم او من يحفظ عددا عظيما من الحديث.

1. Kitab Al Mu'jamul Wasith, juz 1, Hal. 185.

Al Hafidz : yaitu orang yang menjaga / menghafal Al Quran Al Kariim, atau orang yang menghafal dalam jumlah besar dari Hadist Nabi SAW.

٢. مختار الصحاح، ص ١٥٦.

قلت وكذا ذكر ثقلت في الفصيح و ( الحملة ) بفتحتين جمع حامل يقال هم حملة العرش وحملة القرآن.

2. Kitab Mukhtarus Shohah, Hal. 156.
Aku berkata " seperti halnya  pentingnya kefasihan didalam membaca Al Quran. dan lafadz " Al Hamalah " bentuk jamak dari lafadz " Haamil ". Dikatakan ; mereka yang memikul Arsy dan Al Quran.

٣. المعجم الوسيط، ج ١ / ١١٩ —مادة : ح م ل.

( حملت ) المرأة—حملا. الى ان قال ؛ و—القرآن. ونحوه : حفظه وعمل به.

3. Kitab Al Mu'jamul Wasith, jilid 1, Hal. 119 pada materi lafad ح م ل / حمل.

Perempuan itu mengandung / membawa beban—sampai pada perkataan ; " Dan—Al Quran ( — maksudnya membawa / menopang ). semisal ; Menghafalnya dan mengamalkannya.

——————

(2). HUJJAH SEPUTAR MENETESNYA DARAH SAYYIDINA UTSMAN IBN AFFAN PADA SEBAGIAN AYAT AL-QUR'AN

Hujjah hikayat menetesnya darah Sayyidina Utsman Ibn Affan RA pada ayat " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم ".

الاستعاب بهامش الاصابة, الجزء الثالث , ص 76-78
ونصه , قال الواقدي قتل عثمان يوم الجمعة..الي ان قال..واكثرهم يروي ان قطرة او قطرات من دمه سقطت علي المصحف علي قوله جلا وعلا " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم.

Didalam Kitab Al Isti'ab bihamisy Al Ashobah, juz 3, Hal, 76-78, pada nash,: Telah berkata Imam Al Waqidy, Sayyidina Utsman ibn Affan dibunuh pada hari jum'at---sampai pada perkataan---- Sebagian besar dari mereka ( Jumhur Ulama' ) meriwayatkan bahwa sesungguhnya tetesan atau tetesan2 dari darah beliau ( Sayyidina Utsman ) jatuh pada Mushaf pada ayat " Fa sayakfiikahumulloh wahuwas samii'ul 'aliim.

وفي تفسير ابن كثير الجزء الاول, ص 188.
ونصه, قال ابن ابي حاتم قرأ علي يونس ابن عبد الاعلي...الي قوله..فوقع الدم علي " فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم

Dan didalam tafsir ibnu Katsir, juz awal, Hal. 188, pada Nash, Telah berkata Imam ibnu Abi Hatim yang telah membacakan kepada Yunus ibn 'Abdul A'laa...sampai pada perkataan...maka jatuhlah ( menetes ) darah Sayyidina Utsman pada ayat," Fa sayakfiikahumulloh wahuwas samii'ul 'aliim.

—————

(3). MARJI' TENTANG LARANGAN MENGAMBIL NAFAS DITENGAH-TENGAH MEMBACA AL-QUR'AN

Tidak diperbolehkan mengambil nafas sewaktu membaca Al-Quran ditengah-tengah kalimat, kecuali memang benar-benar ada hajat atau dalam keadaan dhorurot. Adapun ta'bir kitabnya adalah ;

النشر في القراءآت العشر, الجزء الاول, صحيفة 242.
( خامسها ) ان التنفس علي الساكن في نحو ; الأرض, والآخرة, وقرآن و مسؤلا ; ممنوع اتفاقا كما لا يجوز التنفس علي الساكن في نحو ; الخالق, والبارئ, وفرقآن, ومسحورا ; اذ تنفس في وسط الكلمة لا يجوز.

(1). An-Nasyr fii Qiroatil 'Asyr, Juz 1, Hal. 242.

Sesungguhnya mengambil nafas bagi orang yang menghentikan ( bacaan ) semisal pada lafadz ," Al ardhu, wal aakhirotu, wa qur'aana, wa mas'ulan " adalah dilarang menurut kesepakatan ulama', sebagaimana tidak diperbolehkan mengambil nafas baginya semisal pada lafadz ," Alkholiqu, walbaari`u, wa furqoona, wa mashuuron ", jika ia mengambil nafasnya ditengah-tengah kalimat ( yang dibaca ), maka tidak boleh.

وفي حاشية بجيرمي خطيب, الجزء الاول, ص 374.
( فرع ) اخر الوجه جواز تقطيع حروف القرآن في القرآءة في التعليم للحاجة الي ذلك. اه

(2). Didalam kitab Hasyiyah Bujairomi Khotib, Juz 1, Hal. 374.

( cabang ). Pendapat lain mengatakan boleh memutus huruf ( ayat ) Al-Quran didalam pembacaan dalam pembelajaran karena adanya hajat tersebut.

——————

(4). HUKUM MENULIS AYAT AL QURAN BAGI MUHDIST ( Orang yang berhadast )

التبيان في اداب حملة القرآن، ص. ١٩٢

فصل : ويحرم علي المحدث مس /  مصحف وحمله، سواء حمله بعلاقته او بغيرها، وسواء مس نفس المكتوب او الحواشي او الجلد، ويحرم مس الخريطة والغلاف والصندوق اذا كان فيهن المصحف. هذا هو المذهب المختار، وقيل لا تحرم هذه الثلاثة، وهو ضعيف. ولو كتب القرآن في لوح فحكمه حكم المصحف، سواء قل المكتوب او كثر حتى لو كان بعض اية كتب للدراسة حرم مس اللوح.

At-Tibyan fii Adaabi Hamalatil Qur'an, Hal. 192 ,Karya Imam An-Nawawiy Damaskus, pada nash ;
Pasal : Diharamkan atas orang yang berhadast menyentuh mushaf atau membawanya, baik membawanya dengan pegangannya atau dengan lainnya, baik ia menyentuh tulisannya atau tepinya atau kulitnya. Diharamkan pula menyentuh wadah dan sampul serta kotak tempat mushaf itu berada, inilah madzhab yang terpilih. Ada yang mengatakan bahwa ketiga macam ini tidak diharamkan akan tetapi pendapat ini lemah. Andaikata Al-Quran ditulis pada sebuah papan, maka hukumnya sama dengan hukum mushaf itu sendiri, baik tulisannya sedikit ataupun banyak. Bahkan seandainya hanya sebagian ayat yang ditulis untuk belajar tetap diharamkan menyentuh papan tersebut.

————

(5). HUKUM MENULIS AL-QURAN DENGAN HURUF LATIN ('AJAMIYYAH )

Seringkali kita jumpai banyak penulisan penggalan ayat-ayat Al-Quran dalam sebuah komentar-2 menggunakan tulisan latin. Dan alasan yang paling original sekali adalah Keyboard Hp belum terinstal Arabic keyboard, atau alasan klasik, Hp Jadul, atau karakter font tidak mendukung penulisan teks arab.
Bagaimana tinjauan fiqh dalam Hal ini.

Marji' (1).
Kitab I'anatut Tholibin, Hal. 68 ;

وكتابته بالعجمية اى يحرم كتابته بالعجمية ورايت في فتاوى العلامة ابن حجر انه سئل هل يحرم كتابة القرآن بالعجمية كقرائته فاجاب رحمه الله بقوله قضية ما في المجموع عن الاصحاب التحريم.

" Menulisnya dengan tulisan latin, yaitu diharamkan menulisnya dengan tulisan 'ajam / latin, dan saya melihat didalam kitab Fatawa 'Allamah Imam Ibnu Hajar bahwa sesungguhnya beliau ditanya tentang apakah hukum menulis Al-Quran dengan tulisan latin sebagaimana pembacaannya. Maka beliau rohimahulloh menjawab dengan perkataannya bahwa keharaman itu sudah menjadi keputusan mayoritas Sahabat.

—————

(6). HUKUM SEPUTAR KESUNNAHAN MENCIUM MUSHAF.

Sunnah mencium Mushaf sebagaimana qiyas kesunnahan mencium Hajar Aswad..

نهاية القول المفيد, صحيفة 244.
ونصه ; ويستحب تقبيل المصحف بالقياس علي تقبيل الحجر الاسود لانه هدية من الله عز وجل فشرع تقبيله, ويستحب تطييبه وتعظيمه

Dalam Kitab Nihayatul Qoulil Mufid, Hal. 244.
" Dianjurkan mencium Mushaf dengan qiyas terhadap diperbolehkannya mencium Hajar Aswad. Karena itu merupakan hadiah dari Alloh azza wajalla, maka di Syariatkan menciumnya, dan dianjurkan memberi wewangian dan memuliakanya.

—————

(7). MARJI' TENTANG DASAR RUNTUTAN BACAAN SECARA KESINAMBUNGAN SETELAH KHOTMIL QUR'AN

Seringkali kita jumpai pada acara / moment simaan Quran / khotmil Quran, Qori masih melanjutkan bacaan setelah suroh An-Naas disambung bacaan Al Fatihah kemudian Alif Laam Miim sampai pada " ulaaika humul muflihuun " kemudian disambung lagi bacaan akhir suroh Al Baqoroh ( Aamanar rosuul — anta maulaana fanshurnaa ' alal qoumil kaafiriin ), dan ternyata hal ini juga dilakukan Nabi SAW.

١. سراج القارئ المبتدئ، ص. ٤٠٠

تكميل : في مسائل تتعلق بالحتم. الاول ثبت النص عن المكى من رواية البزي وقنبل وغيرهما ان من قرأ وختم الي آخر الناس قرأ الفاتحة والي المفلحون من اول البقرة وشاع العمل بهذا في سائر بلاد المسلمين في قراءة العرب وغيرها للمكى وغيره سواء انوى ختم ما شرع فيه ام لا ولهم علي ذلك ادلة منها ما هو مأثور عن النبي صلي الله عليه وسلم ومنها ما هو عن السلف ومنها ما هو عن المقتدي بهم من الخلف فقد روي عن المكى من طرق عن درباس مولذ ابن عباس عن عبد الله ابن عباس عن ابي ابن كعب رضي الله عنهم عن النبي صلي الله عليه وسلم انه كان اذا قرأ قل اعوذ برب الناس افتتح من الحمد ثم قرأ من البقرة الي واولئك هم المفلحون ثم دعا بدعاء الختم ثم قام.

Didalam kitab Sirojul Qori' Al Mubtadi', Hal. 400.

Penyempurnaan ; didalam masalah yang berkaitan dengan khotmil Quran. Pertama ,penetapan nash dari Al-Makki dari riwayat Imam Al-Bazzi dan Imam Qunbul dan selain keduanya, bahwa sesungguhnya amaliyah ini, yaitu orang yang membaca dan mengkhotamkan ( bacaan Al Quran ) sampai akhir suroh An-Naas, lalu ( dilanjutkan ) membaca Al-Fatihah sampai pada " Ulaaika humul muflihuun " dari awal suroh Al-Baqoroh sudah menjadi amaliyah yang tersebar luas di seluruh negara-negara Islam ( baik ) amliyyah bacaan di negara Arab sendiri maupun negara selainnya.
Dan bagi Al Makkiy dan selainnya sama saja, apakah didalam khotmil Quran disyariatkan begitu atau tidak. Dan ada beberapa petunjuk bagi mereka terhadap hal tersebut, setengah daripadanya adalah apakah ( amaliyah ) itu perbuatan Nabi SAW, ataukah dari amaliyah para Ulama salaf, ataukah meneladani dari amaliyyah para Ulama kholaf, maka sungguh telah diriwayatkan dari Al Makkiy dari jalur Dirbaas , hamba sahaya dari Ibnu Abbas dari Abdulloh Ibnu Abbas dari Ubay Ibn Ka'ab ( mudah2 Alloh meridhoi mereka semua ) dari Nabi SAW, sesungguhnya ada pada diri beliau ketika membaca " Qul a'uudzu birobbin Naas " membukanya dengan bacaan tahmid kemudian membaca ( sebagian ayat ) dari suroh Al-Baqoroh sampai pada ayat " wa ulaaika humul muflihuun ", kemudian berdoa dengan doa khotmil Quran, lalu beliau berdiri.

Kesimpulan saya pribadi, jika mengacu pada keterangan diatas, maka tambahan seperti bacaan ayat kursiy lalu berlanjut pada " aamanar rasuul...dst sampai akhir suroh Al Baqoroh, adalah sebagai pelengkap saja, jadi diambil bagian awal suroh yaitu Alif Laam Miim—wa ulaaika humul muflihuun, kemudian bagian tengah suroh Al-Baqoroh, yaitu dimulai dari bacaan ayat kursiy saja, kemudian diambil pada bagian akhir suroh Al Baqoroh, yaitu mulai dari ayat " Aamanar rosuulu—fanshurnaa alal qoumil kaafiriin ". Semata-mata ikhtiar Ulama kita dalam rangka tabarrukan Suroh Al-Baqoroh dan hikmahnya bahwa dengan berakhirnya suroh An-Naas bukan berarti pembacaan telah selesai, karena untuk membaca serta mengkaji dan menggali potensi yang ada pada ayat2 Al Quran tidak akan pernah selesai sampai kita meninggal, sebab terus akan menimbulkan ilmu baru dengan semakin lama dibaca dan diulang akan banyak hal2 baru yang akan terungkap.

——————

(8). HUKUM MEROKOK DIDALAM MAJELIS SIMA'AN / KHOTMIL QURAN.

Merokok bagi seorang santri seolah menjadi style yang tak dapat dipisahkan dari aktifitas sehari-harinya, bahkan seolah belum lengkap jika tidak disertai kopi sebagai penyanding. Tak terkecuali santri Huffadz, yang dalam aktifitas mudarosahnya , simaan, maupun khotmil Quran dalam skala halaqoh2 kecil maupun besar, pasti diantaranya tak lepas dari seorang perokok. Sehingga pada saat moment tersebut seringkali kita jumpai selepas baca Al-Quran 1-2 juz lantas kemudian me-rileks-kan diri sambil merokok.
Nah..bagaimana hal ini menurut tinjauan fiqih dalam kaitannya dengan Lihurmatil Qur'an.

Dalam kitab Faidhul Khobir, Hal. 173. disebutkan begini ;

ويحرم ايضا قراءة القرآن بحضرة من يشرب الدخان او يستنشق تابغا وفاعل ذلك ممقوت عند الله وعند المؤمنين. وبالجملية فيجب على القارئ ان يحافظ على منزلة القرآن ومكانته العظيمة.

" Dan diharamkan pula membaca Al Quran dihadapan perokok atau orang yang menghisap tembakau, dan pelakunya dibenci menurut pandangan Alloh dan orang2 mu'min. Dan demi menjaga kelestarian ( keindahan suasana ) maka wajib bagi Qori' menjaga kedudukan ( kehormatan ) AlQuran serta  tempat pembacaan AlQuran yang agung tersebut.

Kemudian dalam kitab Tsamrotur Roudhoh, Hal. 23.

مسئلة : ما حكم شرب الدخان عند قارئ القرآن وبينهما قدر ثلاث اذرع فهل يعد في مجلس القران فيحرم او لا.
الجواب : حرام حيث اعتد انهما في مجلس واحد كما صرح به في " السم القاتل " نقلا عن قول الشبراوى الشافعي في شرح ورد السحر. وعبارته : قال شيخنا محمد السباعى الذي ندين الله عليه حرمة شرب الدخان في مجلس القران ولا وجه للكراهة قلنا نقول مثل ما قال الامام الشيخ المذكور بل نقل الامام الحنفي عن بعض اشياخه العارفين ان شربه في مجلس القرآن يخشى منه سوء الخاتمة اعاذنا الله تعالي منها بمنه وكرمه انه جواد الكريم.

Mas'alah : " Apa hukum merokok disamping pembaca Al-Qur'an yang diantara keduanya terdapat jarak sekitar 3 dziro' /hasta, apakah masih termasuk dalam  majelis Qur'an itu sendiri, dan hal itu diharamkan atau tidak..?

Jawaban ; " Sekiranya antara keduanya itu masih terbilang satu majelis, maka Haram ( hukumnya ) sebagaimana hal tersebut dijelaskan pada bab As Sammul Qotil (Membunuh dengan cara meracuni ) menukil pendapat dari Imam As Sibrowy Asy-Syafi'i didalam Syarah wird As Sihr. pada ungkapannya : " Telah berkata guru kami Muhammad As Siba'iy yang sangat religius tentang keharaman merokok dimajelis Quran bahwa ( hal tersebut ) " tidak ada pendapat yang me makruhkan nya".
Kami mengatakan sebagaimana yang kami nukil dari perkataan Syaikh tersebut. Bahkan Imam Hanafi menukil keterangan dari beberapa gurunya dari golongan kaum 'Arifin ( Arifubillah ) bahwa merokok di majelis Quran dikhawatirkan daripadanya su'ul khotimah, semoga Alloh melindungi kami dengan anugerahNya serta kedermawananNya, sesungguhnya Dia Dzat Maha Pemurah lagi Dermawan.

(*) Keterangan diatas saya terjemahkan dari kitab " Syurbatudz Dzhom`an fii Qhororoti Mabaahitsati Masaailil Qur'an Lirobhithotil huffadz li Ma'hadi Yanbu'ul Majlis Nuzulus Sakinah Qur'an,  Majlis Nuzulus Sakinah, Hal. 18-19.

——————

(9). HUKUM MENYENTUH TAFSIR AL-QUR'AN BAGI ORANG YANG HADAST.

Hukum menyentuh AlQuran terjemah atau Tafsir bagi muhdist ( orang yang hadast ) itu ditafshil ;
1. Apabila teks AlQurannya lebih banyak, hukumnya Haram.
2. Apabila teks Al Quran dan Tafsirnya sama, atau disangsikan banyak sedikitnya, maka ada Khilaf dikalangan jumhur Ulama, menurut Imam Ibnu Hajar hukumnya Makruh, sedang menurut Ulama lainnya Haram.
3. Apabila Tafsir dan Terjemahnya lebih banyak, hukumnya Makruh.

قرة العين بفتاوى اسماعيل الزين , ص 51.
ما نصه , وعبارته, س: ما قولكم فيمن مس القرآن مع ترجمة وكذلك حمله وهو محدث.
ج :
والله سبحانه وتعالى الموفق للصواب ان ترجمة القرآن ذاته لا تجوز فان كانت الترجمة لمعناه فهي كالتفسير فلها حينئذ حكم التفسير فان كانت اكثر من القرآن الفاظا جاز للمحدث حملها مع القران وكذلك ان كانت مساوية فان كانت اقل من الفاظ القران فلا يجوز للمحدث مسها ولا حملها تغليبا للقرآن الكريم والله اعلم.

Ta'bir kitab lain bisa dirujuk pada ;
1. Nihaayatuz Zen, Hal. 33.
2. Kasyifatus Saja', Hal. 30.
3. Hasyiyah I'anatut Tholibin ma'a Hamisyha, Juz 1, Hal. 66-67. pada bab فصل في شروط الصلاة
4. Hasyiyah Sulaiman Jamal 'ala Syarhil Minhaj, Juz 1, Hal. 77 pada باب الاحداث
5. Faidhul Khobir, Hal. 23, pada nash " Qouluhu hamluhu fii mataa' ". dan Hal. 26.

Adapun khusus menyentuh Tafsir atau Terjemah AlQuran yang formatnya terpisah ( seperti Al Quran dan terjemah cetakan Kudus ) dan yang disentuh adalah teks AlQuran nya, atau paling tidak lebih banyak menyentuh teks Al Quran nya, maka hukumnya tetap HARAM, sebagaimana hasil bahtsul masail Quran Majlis Nuzulus Sakinah, Yanbu'ul Quran, Kudus.
Lihat dikitab :

( شربة الظمآن, في قرارات مباحثة مسائل القرآن, ص 91-93 )

Selamat menerjuni dunia Al Quran.

Bersambung....

( Danny Ma'shoum )

PENGERTIAN ISTIQOMAH

PENGERTIAN ISTIQOMAH BESERTA TANDA-TANDANYA DALAM PANDANGAN  SAHABAT DAN ULAMA.

بسم الله الرحمن الرحيم

(فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ) [Surat Hud : 112]

" Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan ".

———

*Keterangan dari pembahasan ini saya sadur dari kitab "  الدرة النفيسة من شروح الحكم العطائية لقصد محبة الله  "  ( Ad-Durrotun Nafisah min Syuruuhil Hikam Al-'Athoiyyah li Qoshdi Mahabbatillah, Jilid 1, Hal. 56-70. Buah karya dari Syaikhi Al Mursyid Al-'Arifubillah KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad- Pon-Pes Bumi Damai Al-Muhibbin, TambakBeras-Jombang ) dengan sedikit saya rubah sistematikanya agar mudah difahami dari setiap maqolah ;

بسم الله الرحمن الرحيم

Alloh SWT berfirman ;

(إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ) [Surat Fussilat : 30]

" Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Pengertian dari makna ayat diatas adalah ;

ان الذين أقرّوا بوحدانية ونفوا عنه الأنداد والصاحبة والأولاد، ثم اقاموا على الطاعة وأداء فرائده مخلصين له الدين الى حين موتهم....تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون

Sesungguhnya orang-orang yang mengakui ke Esa an Alloh dan meniadakan daripadaNya sekutu-sekutu, dan isteri beserta anak, kemudian mereka menegakkan amal taat dan melaksanakan semua yang difardhukan Alloh dan mengamalkan secara ikhlas karena Alloh sampai pada masa kematian mereka.....maka malaikat akan turun kepada mereka ( dengan mengatakan ) : " Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan ( memperoleh ) surga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu ".

Sebab turunnya ayat ke-30 dari Suroh Fussilat diatas, adalah sebagaimana dituturkan dalam kitab Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, Karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Faroh al-Anshori al-Khozroji, Syamsuddin Al-Qurthubi, w. 671 H / 1272 M, sebagai berikut ;

قال عطاء عن ابن عباس رضي الله عنه : نزلت هذه الآية في ابي بكر الصديق رضي الله عنه؛ وذلك ان المشركين قالوا : ربنا الله وملائكة بناته وهؤلآء شفعاؤنا عند الله ؛ فلم يستقيموا. وقال ابو بكر رضي الله عنه : ربنا الله وحده لا شريك له ومحمد صلى الله عليه وسلم عبده ورسوله ؛ فاستقام.

Atho' dari Abdulloh bin Abbas r.a berkata ; " Ayat ini diturunkan tentang tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Hal itu berkenaan bahwasannya orang-orang musyrikin berkata, " Tuhan kami adalah Alloh, dan para malaikat adalah anak-anak perempuanNya, dan berhala-berhala itu adalah penolong-penolong kami di sisi Alloh. Kemudian mereka tidak menetapinya ( istiqomah ). Abu Bakar berkata ; " Tuhan kami adalah Alloh Yang Esa, tiada sekutu bagiNya, dan Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan rosulNya ". Maka beliau menetapinya ( istiqomah )

سئل ابو بكر الصديق رضي الله عنه عن الاستقامة فقال : ان لا تشرك بالله شيئا

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a ditanya tentang arti Istiqomah, maka beliau berkata ," Jika kamu tidak mensekutukan Alloh dengan sesuatu apapun ".

وقال عمر ابن الخطاب رضي الله عنه : الاستقامة ان تستقيم على الامر والنهي، ولا تروغ روغان الثعلب

Berkata Umar bin Khotthob ; " Istiqomah adalah ketika kamu tegak dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, dan tidak menipu seperti tipu daya musang ".

وقال عثمان رضي الله عنه : اخلصوا العمل

Dan berkata Utsman bin Affan r.a ; " (Istiqomah adalah) lakukanlah amal dengan ikhlas ".

وقال علي رضي الله عنه : أدوا الفرائض

Dan berkata Ali bin Abi Tholib r.a ; " Kerjakanlah amal-amal fardhu ".

وقال ابن عباس رضي الله عنه : استقاموا على أدآء الفرائض

" Dan berkata Ibnu Abbas r.a ; " (Istiqomah adalah ) tetapilah dengan mengerjakan amal-amal fardhu ".

وقال الحسن رضي الله عنه : استقاموا على امر الله بطاعته واجتنبوا معصيته

Dan berkata Al-Hasan r.a ; " Tetapilah dalam melaksanakan perintah Alloh dengan cara mentaatiNya dan tidak bermaksiat kepadaNya ".

وقال مجاهد وعكرمة : استقاموا على شهادة ان لا اله الا الله حتى لحقوا بالله.

Berkata Mujahid dan Ikrimah ; " Tetapilah dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh sampai kalian bertemu dengan Alloh ( sampai mati )".

وقال قتادة : كان الحسن اذا تلا هذه الآية قال : اللهم فارزقنا الاستقامة

Shabat Qotadah berkata ; " Adalah Al-Hasan ketika membaca ayat ini beliau berdoa ," Ya Alloh, berikan kami dapat istiqomah ".

( Maqolah-maqolah diatas disadur dari kitab Al-Lubab fi Ulumil Kitab, karya Abu Hafs Umar bin Ali bin 'Adil ad-Dimasyqi al-Hanbali )

* وقال الفقيه أبو الليث : علامة الإستقامة ان يراعي عشرة اشياء فريضة على نفسه ؛

Al Faqih Abu Laits berkata ; Tanda istiqomah itu adalah ketika seseorang mampu menjaga ( melakukan ) sepuluh hal yang fardhu atas dirinya.

Ke-sepuluh hal fardhu itu adalah ;

(1). Menjaga lisan dari menggunjing  (  حفظ اللسان عن الغيبة  )
berdasarkan firman Alloh SWT:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ) [Surat Al-Hujraat : 12]

" Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang ".

(2). Meninggalkan berburuk sangka  (  الإجتناب عن سوء الظن  )

Berdasarkan ayat diatas pada poin 1. ( Suroh Al-Hujurot, ayat 12 )

(3). Meninggalkan mengolok-olok orang lain  ( الإجتناب عن السخرية  )

Berdasarkan ayat :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ) [Surat Al-Hujraat : 11]

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim ".

(4). Memejamkan ( menundukkan ) mata dari memandang hal-hal yang diharamkan (  غض البصر عن المحارم  )

Berdasarkan ayat :

(قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ) [Surat An-Noor : 30]

" Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat ".

(5). Kejujuran lisan ( perkataan  صدق اللسان  )

Berdasarkan ayat :

(وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) [Surat Al-Anaam : 152]

" Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat ".

(6). Menafkahkan harta dijalan Alloh  (  الإنفاق في سبيل الله  )

Berdasarkan ayat :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ) [Surat Al-Baqara : 267]

" Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji ".

(7). Tidak berlebihan  (  ان لا يسرف  )

Berdasarkan ayat :

(وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا) [Surat Al-Isra : 26]

" Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros ".

(8). Tidak mencari kedudukan tinggi dan kesombongan untuk dirinya didunia  (  ان لا يطلب العلو والكبر لنفسه  )

Berdasarkan ayat :

(تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ) [Surat Al-Qasas : 83]

" Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa ".

(9). Memelihara sholat lima waktu  (  المحافظة على الصلوات الخمس  )

Berdasarkan ayat :

(حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ) [Surat Al-Baqara : 238]

" Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu' ".

(10). Istiqomah pada ajaran sunnah wal jama'ah  (  الإستقامة على السنة والجماعة  )

Berdasarkan ayat :

(وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) [Surat Al-Anaam : 153]

" dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa ".

———
* Adapun istiqomah menurut Ahlul Haq, adalah ;

قال بعض اهل الحق : الإستقامة على ثلاثة اضرب ؛ إستقامة باللسان، وإستقامة بالجنان، وإستقامة بالنفس ( بالاركان ) . فالإستقامة باللسان المداومة على كلمة الشهادة، والإستقامة بالجنان المداومة على صدق الارادة، والإستقامة بالنفس المداومة على العبادات والطاعات.

Sebagian Ahlul Haq berkata ; Istiqomah itu ada tiga macam : (1) istiqomah dengan lisan, (2) istiqomah dengan hati, (3) istiqomah dengan anggota badan.  Adapun istiqomah dengan lisan adalah terus menerus mengucapkan kalimah syahadat. Istiqomah dengan hati adalah, terus menerus dalam kesungguhan menghendaki kedekatan diri kepada Alloh. Istiqomah dengan anggota badan adalah, terus menerus dalam amal ibadah dan ketaatan.

Kemudian berkata ahlul haq :

قال بعض الحق ؛ الإستقامة باربعة اشياء : الطاعة في مقابلة الامر، والتقوى في مقابلة النهي، والشكر في مقابلة النعمة، والصبر في مقابلة الجنة. وتمام هذه الاربعة باربعة اخرى : فتمام الطاعة بالاخلاص، وتمام التقوى بالتوبة، وتمام الشكر بمعرفة العجز، وتمام الصبر بالانقطاع.

Sebagian ahlul haq berkata ; " Istiqomah itu dengan empat hal, yaitu :
(1). Taat dalam menyikapi perintah
(2). Taqwa dalam menyikapi larangan
(3). Syukur dalam menyikapi kenikmatan Alloh
(4). dan Sabar dalam menyikapi surga
Sedangkan kesempurnaan empat hal ini adalah dengan empat hal yang lain, yaitu :
(1). Kesempurnaan taat dengan ikhlas.
(2). Kesempurnaan taqwa dengan taubat.
(3). Kesempurnaan syukur dengan mengetahui kekurangan diri sendiri.
(4). dan Kesempurnaan sabar dengan terus menerus ( bhs jawa :  melulu atau " njungkung " ) beribadah.

والله اعلم بالصواب

—————
Danny Ma'shoum
Sidoarjo, 6 April 2015.