kolom melintang

Tuesday, May 26, 2015

FANA'

MATILAH SEBELUM ENGKAU MATI

Pengertian " Matilah sebelum engkau mati " adalah sebuah pengertian dari salah satu jalan untuk musyahadah ( penyaksikan ) kepada Alloh, yaitu melalui mati. Tapi mati disini bukan matinya jasad ketika terpisah dengan roh, tapi matinya nafsu, sebagaimana sabda Nabi SAW ;

موتوا قبل ان تموتوا

" Rasakanlah mati sebelum engkau mati ".

dalam kitab Al-Hikam, Abu Ma'jam berkata :

من لم يمت لم ير الحق

" Barang siapa tidak merasakan mati, maka ia tidak dapat merasakan ( melihat atau musyahadah ) dengan Al-Haqqu Ta'ala ".

jadi yang dimaksud mati disini adalah hidupnya hati karena matinya nafsu. Dan hati ( bashiroh ) akan hidup pada saat matinya nafsu.

Imam Abul Abbas Al-Mursy dalam kitab Al-Hikam berkata :

لا يدخل على الله الا بابين : من باب الفناء الاكبر، وهو الموت الطبيعى ، ومن باب الفناء الذي تعنيه هذه الطائفة

" Tiada jalan masuk / musyahadah dengan Alloh kecuali melalui dua pintu, dan salah satu dari dua pintu itu ialah pintu " Fana'ul akbar " yaitu mati thobi'i. Dan merupakan setengah daripada pintu fana' menurut pengertian ahli Tashowwuf ".

Adapun pengertian matinya nafsu untuk hidupnya hati dalam musyahadah dapat ditempuh pada 4 tingkat :

(1). MATI THOBI'I.

Menurut sebagian para ahli thoriqoh, bahwa mati thobi'i terjadi dengan karunia Alloh pada saat dzikir qolbi dan dzikir lathoif ( dzikir-dzikir ini biasanya sesuai anjuran Mursyid Thoriqoh ), serta mati Thobi'i ini merupakan pintu pertama musyahadah dengan Alloh. Pintu pertama ini dilalui pada saat seorang salik dalam melakukan dzikir qolbi dalam dzikir lathoif. Maka dengan karunia Alloh ia fana' atau lenyap pendengarannya secara lahir dimana telinga batin mendengar bunyi " Alloh..Alloh..Alloh..". Pada tingkat ini, dzikir qolbi mulanya hati berdzikir, kemudian dari hati naik kemulut dimana lidah berdzikir dengan sendirinya. Dan dalam kondisi seperti ini alam perasaan mulai hilang atau mati thobi'i. Pada saat-saat seperti ini akal pikiran mulai tidak berjalan lagi, melainkan terjadi sebagai ilham yang tiba-tiba Nur Ilahi terbit dalam hati muhadhoroh ( berdialog ) hati dengan Alloh, sehingga telinga bathin mendengar

انني انا الله

" Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh " yang bunyi ini naik kemulut dimana lidah bergerak sendiri mengucapkan " Alloh..Alloh..Alloh..". Dalam tingkatan-tingkatan bathin seperti ini, salik telah mulai memasuki pintu fana' pertama, yang dinamakan Fana' fil af'al dan Tajalli fil af'al dimana gerak dan diam adalah pada Alloh .

لا فاعل الا الله

" Tiada fail ( yang gerak dan diam ) kecuali Alloh ".

(2). MATI MAKNAWI.

Menurut sebagian ahli Thoriqoh, bahwa " Mati Maknawi " ini terjadi dengan karunia dari Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatur-Ruh dalam dzikir lathif. Terjadinya itu adalah sebagai ilham yang dimana secara tiba-tiba Nur Ilahiy terbit dalam hati. Ketika itu penglihatan secara lahir menjadi lenyap dan mata bathin menguasai penglihatan ( Bashirohnya mendominasi penglihatan ). Dzikir " Alloh....Alloh..Alloh.." pada tingkat ini semakin meresap terus pada diri dimana dzikir mulai terasa panasnya disekujur tubuh dan disetiap bulu roma di badan. Dalam kondisi seperti ini, perasaan ke-insanan tercengang, bimbang, semua persendian gemetar, bisa juga terus pingsan. Sifat keinsanan lebur diliputi sifat Ketuhanan.
Dalam tingkat ini, salik telah memasuki fana' ke-dua yang dinamakan " Fana' fis Shifat / Tajalli fis sifat ". Sifat kebaharuan dan kekurangan serta alam perasaan lenyap atau fana' dan yang tinggal adalah sifat Tuhan yang sempurna dan azali.

قوله ، لا حيّ إلا الله

" Tiada hidup selain Alloh ".

(3). MATI SURI.

Pada tingkat selanjutnya adalah " Mati Suri ". Mati suri ini terjadi dengan karunia Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatus Sirri dalam dzikir lathoif. Pada tingkat ke-tiga ini, seseorang atau salik telah memasuki pintu Musyahadah dengan Alloh. Ketika itu segala ke-insanan lenyap atau fana', alam wujud yang gelap ( ظلمة ) telah ditelan oleh alam ghaib atau malakut ( عالم الملكوت ) yang penuh dengan Nur Cahaya. Dalam pada ini, yang Baqo' adalah Nurulloh semata, Nur Af'alulloh, Nur Shifatulloh, Nur Asmaulloh, Nur Dzatulloh atau Nurun 'ala Nuur.
Sebagaimana firman Alloh ;

....نور على نور يهدى الله لنوره من يشاء....

" Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki.." [ Suroh An-Nur, ayat 35 ]

لا محمود إلا الله

" Tiada yang dipuji melainkan Alloh ".

(4). MATI HISSI.

Selanjutnya ialah Mati Hissi. Mati Hissi ini terjadi dengan karunia Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatul Hafi dalam dzikir lathoif. Pada tingkat ke-empat ini, seseorang atau salik telah sampai ketingkat yang lebih tinggi untuk mencapai ma'rifah ( Ma'rifat Billah ) sebagai maqom tertinggi.
Dalam pada ini, lenyap ( fana' ) sudah segala sifat-sifat keinsanan yang baharu dan yang tinggal adalah sifat-sifat Tuhan yang qodim atau azali. Ketika itu menanjaklah bathin keinsanan lebur kedalam keBaqo'an Alloh Yang Qodim atau bersatunya 'Abid dan Ma'bud ( yang menyembah dan Yang Di Sembah ). Dalam tingkat puncak tertinggi ini, seseorang atau salik telah mengalami keadaan yang tak pernah sama sekali dilihat oleh mata, didengar oleh telinga maupun tak sama sekalipun terbersit dalam hati sanubari manusia dan tidak mungkin dapat disifati. Tetapi akan mengerti sendiri bagi siapa saja yang telah merasakan sendiri, sebagaimana kata sufi agung Dzin Nun Al-Mishri ;

من لم يذق لم يعرف

" Siapa saja yang tidak pernah merasakan maka tidak akan mengerti ".

Untuk bisa mencapai keadaan Musyahadah seperti tersebut diatas ( tahapan-tahapan diatas ) adalah dengan jalan mujahadah, karena siapa saja yang menghiasi lahiriyahnya dengan mujahadah maka Alloh akan memperbaiki sirr atau hatinya dengan mujahadah.

——————

PEMBAGIAN TAJALLI KETIKA FANA' MENURUT KITAB INSANUL KAMIL IMAM ABDUL KARIM AL-JILLI

√. Tingkat Ke-1 : TAJALLI AF-'AL

تجلى سبحانه وتعالى في افعاله عبارة عن مشهد يرى فيه العبد جريان القدرة في الأشياء فيشهده سبحانه وتعالى محركها ومسكنها ينفي الفعل عن العبد واثباته للحق

" Tajallinya Alloh SWT dalam Af-'alnya, ialah ibarat penglihatan dimaba seorang hamba Alloh melihat padanya berlaku Qudrot Alloh pada sesuatu. Ketika itu, ia melihat Tuhan, maka tiadalah fiil ( perbuatan ) lagi bagi hamba. Gerak dan diam serta itsbat ( ketetapan ) adalah bagi Alloh semata ".

Jadi Tajalli Af'al ialah nafinya atau lenyapnya fiil ( perbuatan ) daripada seseorang hamba dan itsbatnya yang ada ialah Fiil Alloh semata. Sebagaimana firman Alloh ;

(وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ) [Surat As-Saaffat : 96]

" Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".

لا فاعل الا الله  ( Tiada fiil / perbuatan kecuali Alloh )

√. Tingkat Ke-2 : TAJALLI ASMA'

من تجلى له سبحانه وتعالى من حيث اسمه الظاهر فكشف له عن سر ظهور النور الالهى في كثائف المحدثات ليكون طريقا الى معرفة ان الله هو الظاهر ، فعند ذلك تجلى له بانه الظاهر ، فبطن العبد ببطون فناء الخلق في ظهور وجود الحق .

" Siapapun baginya Tajalli Alloh SWT dari segi Asma-Nya yang disebut, maka terbukalah baginya dari nampaknya Nur Ilahiy dalam keadaan biasa, maksudnya adalah agar ia mendapatkan jalan kepada Makrifat, bahwa sesungguhnya Alloh adalah Yang Nyata ( terlihat ). Maka pada saat itu Tajallilah Alloh baginya, karena sesungguhnya Alloh adalah Adz-Dzhohir. Dan ketika itu bertempatlah hamba pada tempat yang bathin ( tidak tampak ) karena fana' / leburnya sifat-sifat kebaharuannya ketika nampaknya Wujud Al-Haqqu Ta'alaa yang Qodim ".

Jadi Tajalli Asma' adalah fana'nya hamba daripada dirinya sendiri dan bebasnya hamba dari genggaman sifat-sifat kebaharuan dan lepasnya ikatan dari dirinya atau tubuh kasarnya. Ketika itu ia fana' dalam Baqo'nya Alloh karena sucinya ia dari sifat-sifat kebaharuan. Bahwa sesungguhnya Tajalli Asma' sebenarnya tiada yang dilihat kecuali Dzatusshorfi dan bukannya melihat Asma'. Dalam hal ini bisa diambil perumpamaan sebagai berikut :

(وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ) [Surat Al-Araf : 143]

" Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

مثال ذلك بقوله تعالى : لن ترانى يا موسى يعنى لانك اذا كنت موجودا فانا مفقود عنك ، وان وجدتنى فانا مفقود . ولا يمكن للحادث ان يثبت عند ظهور القديم ، وعند ذلك ، فعدم موسى وصار العبد كأن لم يكن ويبقى الحق كأن لم يزل . 

Perumpamaan untuk itu ialah dengan firman Alloh kepada Nabi Musa, " Kamu tidak dapat melihat Aku ( لن ترانى ) " , artinya bahwa sesungguhnya kamu Musa, selama kamu ada pada dirimu, maka Aku ( Alloh ) sirna ( tak terlihat ) dari pandanganmu Musa. Dan ketika kamu melihat Aku, maka ketika itu engkaupun tiada ( fana' ) ". Tidaklah mungkin bagi yang baharu ada ketika nampaknya yang Qodim. Jadi pengertiannya adalah, " Maka dengan fana'nya Musa , jadilah ia bersifat tiada, dan Baqo'lah Alloh yang bersifat kekal.

√. Tingkat Ke-3 : TAJALLI SIFAT

تجلى الصفات ، عبارة عن قبول ذات العبد الأتصاف بصفات الرب قبولا اصليا حكميا قطعيا .

" Tajalli Sifat adalah ibarat penerimaan tubuh seorang hamba Alloh berlaku sifat dengan sifat-sifat Ketuhanan, suatu penerimaan asli dan ketentuan pasti ".

Artinya, manakala Alloh SWT menghendaki terjadinya Tajalli atas hambanya dengan namaNya atau sifatNya, maka dalam keadaan itu lenyaplah ( Fana' ) seorang hamba dari dirinya dan ketika itu berubahlah daripada wujudnya. Manakala telah hilang cahaya keinsanannya dan telah fana' ruh kebaharuannya, disitulah Al-Haqqu Ta'ala mengambil tempat pada hambanya tanpa hulul daripada Dzat-Nya sebagai ganti dari perubahan hamba itu dari wujudnya, karena sebenarnya Tajallinya Alloh itu terhadap hambanya adalah sebagai karunia dari Alloh semata.

√. Tingkat Ke-4 : TAJALLI DZAT

Tajjali ketika Fana' fiDzzat adalah sebagai tingkatan paling puncak atau tertinggi,

لا موجود علي الاطلاق الا الله

" Tiada wujud secara muthlaq melainkan Alloh ".

Sebelum pada pengertian ta'rif dari Tajalli Dzat saya berikan sedikit uraian agar lebih mudah dipahami, sebagaimana DR. Mustafa Zahri menuturkan dalam buku Memahami Ilmu Tasawuf. 

Pada fana' tingkat ini ( Tajalli Dzat ) seseorang akan memperoleh perasaan batin pada suatu keadaan yang tak berarah, tidak ada lagi kanan atau kiri, depan atau belakang, atas atau bawah. Intinya ia berada pada suatu keadaan tak terbatas dan tak bertepi. Dan dalam keadaan ini juga seseorang yang fana' fi Dzat mencapai derajat " Syuhudul Haqqi bil Haqqi ", dia telah lenyap dari dirinya sendiri dan dalam situasi ia hanya berada dalam baqo'nya Alloh semata, atau sebagai kesimpulannya bahwa ia telah hancur lebur kecuali wujud yang muthlaq, yaitu wujudulloh.
Adapun hikmah dari fana tingkat ini , adalah pengakuan atas ke Esa an Alloh dengan semurni-murninya, bukan sekedar pengakuan atas ke Esa an dengan ucapan syahadat, dalil-dalil atau pendapat-pendapat akal saja, dan pengakuan secara murni ini hanya dapat disaksikan dengan kemakrifatan saja.
Abu Manshur Husein Al Hallaj, mengatakan dalam syairnya;

قلوب العاوفين لها عيون, ما لا يرى للناظرين

" Hatinya orang 'Arif itu mempunyai mata memandang, matanya itu dapat melihat apa yang tak dapat dilihat pandangan mata biasa ".

كان الله ولا شيئ معه وهو الآن على ما عليه كان

" Adalah wujud Alloh itu baqo' dan tidak ada sesuatupun besertanya, Alloh tetap pada wujudnya sebagaimana keadaannya kekal semula ".

Maka mencapai makrifah billah dengan jalan akal pikiran itu mustahil, para Ahlut Tashowwuf berkata ;

وللعقول حدود لا تجاوزها, والعجز عن الادراك ادراك

" Bagi jalan pikiran itu terbatas, maka dengan jalan pikiran tidaklah Dia bisa dicapai, bila telah mengakui kelemahan diri untuk mencapai Dia, itulah tandanya Dia sudah dicapai ".

Didalam Al-Quran sudah diisyaratkan oleh Alloh untuk mencapai puncak fana' fidz Dzat tersebut, coba kita perhatikan rahasia yang diisyaratkan dari ayat ini ;

(كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ) [Surat Ar-Rahman : 26]

" Semua yang ada di bumi itu akan binasa ". Dan ayat selanjutnya ;

(وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ) [Surat Ar-Rahman : 27]

" Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan ".

Kemudian kita perhatikan bagaimana nabi Musa bermunajat kepada Alloh dengan kata-katanya yang masyhur dikalangan para Sufi dalam menuju kefana'an ;

قال موسى عليه السلام : يا رب كيف اصل اليك ؟ قال عز وجل : فارق نفسك وتعال

Nabi Musa berkata kepada Alloh ," Wahai Alloh, bagaimana agar aku sampai kepadaMu. Alloh ' azza wa jalla menjawab ," Tinggalkan ( lenyapkan ) dirimu hai Musa, baru datanglah kepadaKu ".

Apa yang diucapkan Nabi Musa tersebut adalah sebuah permintaannya kepada Alloh agar Alloh " menampakkan Diri " dihadapannya, sebagaimana yang dituturkan pada ayat ;

(وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ) [Surat Al-Araf : 143]

" Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

Sebagai catatan akhir tentang Fana' Fi-Dzat sebagaimana disebutkan dalam kitab Insanul Kamil :

فاعلم ان الذات عبارة عمن كانت اللطيفة الالهية اذا تجلى علي عبده وافناه عن نفسه قام فيه اللطيفة الالهية فتلك اللطيفة قد تكون ذاتيةً وقد تكون صفاتيةً فاذا كانت ذاتية كان ذلك الهيكل الانساني هو الفرد الكامل

" Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Dzat itu adalah ibarat dimana bertempat anugerah Ketuhanan. Ketika Alloh menghendaki terjadinya Tajalli ( penjelmaan ) atas hambaNya, dimana hambaNya telah mem fana' kan dari dirinya sendiri, maka bertempatlah hamba itu pada Karunia Ketuhanan. Demikianlah karunia itu, adakalanya sebagai karunia Dzat dan adakalanya karunia Sifat. Apabila terjadi karunia Dzat, maka disitulah terjadi " Tunggal Yang Kamil / Sempurna ". Maka dengan fana'nya diri hamba maka yang tinggal adalah yang Baqo' atau Dzatulloh. Dan dalam keadaan ini hamba telah berada pada situasi " Maa siwalloh " ( tiada apapun selain Alloh ) yaitu pada wujud Alloh semata ".

Disinilah pengertian dari Fana' fiDzzat sebagai tingkatan paling puncak atau tertinggi,

لا موجود علي الاطلاق الا الله

" Tiada wujud secara muthlaq melainkan Alloh ".

Wallohu a'lam Bis showab.

——————
Sidoarjo, 27 Mei 2015
Danny Ma'shoum

DAFTAR NISHOB ZAKAT

DAFTAR NISHOB DAN ZAKAT HARTA ZAKAWI

[1]. NAMA HARTA :   Perak
       NISHOB :   543, 35 Gr
       ZAKAT :   1/40 = 13,584 Gr
       PROSEN :   2,5 %
       KETERANGAN :  Dikeluarkan setelah 1 Tahun.

[2]. NAMA HARTA :  Tambang Perak
       NISHOB :  543 , 35 Gr
       ZAKAT :   1/40 = 13,584 Gr
       PROSEN :  2,5 %
       KETERANGAN :  Dikeluarkan seketika.

[3]. NAMA HARTA :  Rikaz Perak
       NISHOB :  543 , 35 Gr
       ZAKAT :  1/5 = 108,67 Gr
       PROSEN :  20 %
       KETERANGAN :  Dikeluarkan seketika

[4]. NAMA HARTA :  Harta dagangan dengan modal Perak
       NISHOB :  543 , 35 Gr
       ZAKAT :  1/40 = 13,584 Gr
       PROSEN : 2,5 %
       KETERANGAN :  Ditaksir dengan Perak dan dikeluarkan setelah 1 Tahun

[5]. NAMA HARTA :  Emas
       NISHOB :  77,58 Gr
       ZAKAT :  1/40 = 1,9395 Gr
       PROSEN : 2,5 %
       KETERANGAN :  Dikeluarkan setelah 1 Tahun

[6]. NAMA HARTA :  Tambang Emas
       NISHOB :  77,58 Gr
       ZAKAT : 1/40 = 1,9395 Gr
       PROSEN : 2,5 %
       KETERANGAN :  Dikeluarkan seketika

[7]. NAMA HARTA :  Rikaz Emas
       NISHOB :  77,58 %
       ZAKAT :  1/5 = 15,516 Gr
       PROSEN :  20 %
       KETERANGAN :  Dikeluarkan seketika

[8]. NAMA HARTA :  Harta dagangan dengan modal Emas
       NISHOB :  77,58 Gr
       ZAKAT :  1/40 = 1,9395 Gr
       PROSEN :  2,5 %
       KETERANGAN :  Ditaksir dengan Emas dan dikeluarkan setelah 1 Tahun

[9]. NAMA HARTA :  Gabah ¹
       NISHOB :  1323,132 Kg
       ZAKAT :  1/10 = 132,3132 Kg
       PROSEN :  10 %
       KETERANGAN :  Tanpa biaya pengairan

         NAMA HARTA :  Gabah ²
         NISHOB :  1323,132 Kg
         ZAKAT :  1/20 = 66,1566 Kg
         PROSEN :  5 %
         KETERANGAN :  Dengan biaya pengairan

[10]. NAMA HARTA :  Padi Gagang
         NISHOB :  1631,516 Kg
         ZAKAT :  1/10 = 163,1516 Kg
         PROSEN :  10 %
         KETERANGAN :  Tanpa biaya pengairan

         NAMA HARTA :  Padi Gagang
         NISHOB :  1631,516 Kg
         ZAKAT :  1/20 = 81,5758 Kg
         PROSEN :  5 %
         KETERANGAN :  Dengan biaya pengairan

[11]. NAMA HARTA :  Beras ¹
         NISHOB :  815,758 Kg
         ZAKAT :  1/10 = 81,5758 Kg
         PROSEN :  10 %
         KETERANGAN :  Tanpa biaya pengairan

         NAMA HARTA :  Beras ²
         NISHOB :  815,758 Kg
         ZAKAT :  1/20 = 40,7879 Kg
         PROSEN :  5 %
         KETERANGAN :  Dengan biaya pengairan

[12]. NAMA HARTA :  Gandum ¹
         NISHOB : 558,654 Kg
         ZAKAT :  1/10 = 55,8654 Kg
         PROSEN : 10 %
         KETERANGAN :  Tanpa biaya pengairan

         NAMA HARTA :  Gandum ²
         NISHOB :  558,654 Kg
         ZAKAT :  1/20 = 27,9327 Kg
         PROSEN :  5 %
         KETERANGAN :  Dengan biaya pengairan

[13]. NAMA HARTA :  Kacang Tunggak ¹
         NISHOB :  756,697 Kg
         ZAKAT :  1/10 = 75,6697 Kg
         PROSEN :  10 %
         KETERANGAN :  Tanpa biaya pengairan

         NAMA HARTA :  Kacang Tunggak ²
         NISHOB :  756,697 Kg
         ZAKAT :  1/20 = 37,83485 Kg
         PROSEN : 5 %
         KETERANGAN :  Dengan biaya pengairan

[14]. NAMA HARTA :  Kacang Hijau ¹
         NISHOB :  780,036 Kg
         ZAKAT :  1/10 = 78,0036 Kg
         PROSEN :  10 %
         KETERANGAN :  Tanpa biaya pengairan

         NAMA HARTA :  Kacang Hijau ²
         NISHOB :  780,036 Kg
         ZAKAT :  1/20 = 39,0018 Kg
         PROSEN :  5 %
         KETERANGAN :  Dengan biaya pengairan

[15]. NAMA HARTA :  Jagung Kuning ¹ 
         NISHOB :  720 Kg
         ZAKAT :  1/10 = 72 Kg
         PROSEN :  10 %
         KETERANGAN :  Tanpa biaya pengairan

         NAMA HARTA :  Jagung Kuning ²
         NISHOB :  720 Kg
         ZAKAT :  1/20 = 36 Kg
         PROSEN :  5 %
         KETERANGAN : Dengan biaya pengairan

[16]. NAMA HARTA :  Jagung Putih ¹
         NISHOB :  714 Kg
         ZAKAT :  1/10 = 71,4 Kg
         PROSEN : 10 %
         KETERANGAN : Tanpa biaya pengairan

         NAMA HARTA :  Jagung Putih ²
         NISHOB :  714 Kg
         ZAKAT : 1/20 = 35,7 Kg
         PROSEN :  5 %
         KETERANGAN : Dengan biaya pengairan

—————————————

KETERANGAN :

* Perhitungan awal tahun pada zakat hewan ternak dimulai dari mulai memilikinya dalam jumlah 1 Nishob, begitu juga pada zakat Emas dan Perak.

Sedangkan untuk barang dagangan, maka diperinci :

√. Bila modal dagang diambilkan dari emas atau perak yang sudah genap 1 nishob baik dipakai atau tidak, maka penghitungan tahun dimulai dari pemilikan emas atau perak tersebut.

√. Bila modal berasal dari selain emas atau perak yang telah mencapai 1 nishob, maka perhitungan tahun dimulai dari permulaan dagang.

* Nishob Emas  ( 77,58 Kg ) pada daftar diatas adalah nishob Emas murni ( emas dengan kadar 100% ), sedangkan untuk mencari nishob emas yang tidak murni ( emas yang kadarnya kurang dari 100% ) yaitu dengan cara : Nishob emas murni ( 77,58 Kg ) dibagi dengan kadar emas yang tidak murni, kemudian hasilnya dikalikan (…x… )  dengan kadar emas murni ( 100 ).

CONTOH :

√. Untuk mencari nishob emas dengan kadar 90% :

77,58 : 90 x 100               = 86,2 Gr.
Jadi nishobnya                  = 86,2 Gr.
Zakat yang harus dikeluarkan   :
-  2,5% ( 1/40 ) = 2,155 Gr.
-  20% ( 1/5 ) = 17,24 Gr.

√. Untuk mencari nishob dengan kadar 75% :

77,58 : 75 x 100           = 103,44 Gr.
Jadi nishobnya              = 103,44 Gr.
Zakat yang harus dikeluarkan :
- 2,5% ( 1/40 ) = 2,586 Gr.
- 20% ( 1/5 ) = 20,688 Gr.

* Nishob dan ukuran untuk jenis biji-bijian dengan menggunakan berat Gram ( Gr ) sebagaimana daftar diatas adalah hanya pendekatan saja. Sebab ukuran yang asal menurut syara' adalah dengan menggunakan takaran Sho' atau Wasaq yang ada pada zaman Rosululloh SAW, maka bagi kaum muslimin dihimbau apabila ada perbedaan pendapat dalam menentukan beratnya kadar nishob, agar mengambil kadar yang ukurannya telah diyakini tidak kurang dari kadar yang telah ditentukan syara'. ( Fathul Wahab, Juz 1 / 144   dan   Sulamut Taufiq, Hal. 41 )

* Daftar nishob diatas dikutib dari kitab Fathul Qodir, karya Allamah Syaikh Ma'shum bin Ali Kuwaron Jombang.

* Daftar Risalah ini diterbitkan oleh : Jam'iyyah Musyawaroh " RIYADLOTUT THOLABAH " Pon-Pes Al-Falah Ploso-Mojo Kediri.

—————
Sidoarjo, Ahad 24 Mei 2015
Danny Ma'shoum

Tuesday, May 19, 2015

SYAIR DALAM KITAB ROWAIUL BAYAN

SYAIR-SYAIR CINTA DALAM KITAB ROWAIUL BAYAN TAFSIR AYAAT AL AHKAM KARYA ALLAMAH DR. SYAIKH MUHAMMAD ALI ASH-SHOBUNI

Sekelumit syair-syair dibawah ini adalah tentang cinta, mulai dari kronologi hingga klimaksnya. Syair ini saya sadur dari kitab Rowaiul Bayan  Tafsir Aayat Al-Ahkam fi Al-Quran pada Muhadhoroh ke-6 tentang ayat hijab dan nadzhor ( memandang ), Jilid 2, Hal. 148-172 ;

Berkata Al-Hamasy :

وكنت اذا ارسلت طرفك رائدا      لقلبك يوما أتعبتك المناظر
رايت الذي لا كله انت قادر      عليه ولا عن بعضه أنت صابر *
————
* الدر المنثور للسيوطي  ج ٥   ص ٤٠

" Engkau,  apabila melepaskan kedipan mata sebagai utusan.
Bagi hatimu pada suatu hari nanti..
Maka engkau akan disusah payahkan oleh banyaknya pemandangan.
Engkau tahu,  bahwa dirimu tidak mampu menguasai seluruhnya.
Bahkan sebagian pun engkau tak dapat bersabar ".*

—————
* Kitab Ad-Durrul Mantsur, Jilid 5, Hal. 40, Karya Imam As-Suyuthi.

Syauqi berkata :

نظرة فابتسامة فسلام    فكلام فموعد فلقاء

" Dari pandangan kemudian senyuman lalu salam.
Selanjutnya percakapan, kemudian janji lalu perjumpaan ".

Berkata sebagian penyair :

وما الحب الا نظرة اثر نظرة     تزيد نموا ان تزده لجاجا

" Tiadalah cinta asmara itu melainkan tumbuh dari pandangan demi pandangan.
Semakin sering engkau layangkan pandangan, maka cintapun semakin berkembang ".

قالوا : جننت بما تهوى فقلت لهم     العشق اعظم مما بالمجانين

العشق لا يستنفيق الدهر صاحبه     وانما يصرع المجنون في الحين

" Mereka berkata : Engkau dibuat gila oleh orang yang kau cintai.
Lalu ku katakan pada mereka :
Rindu itu lebih dahsyat dari apa yang diderita orang-orang gila.
Rindu....penderitaannya tak dapat sembuh sepanjang masa.
Tapi orang gila hanya tak sadar pada suatu waktu saja ".

Penyair berkata :

كل الحوادث مبدأها من النظر     ومعظم النار من مستصغر الشرر

" Semua kejadian sumbernya dari pandangan.
Api yang besar itupun asalnya dari percikan yang kecil ".

ان العيون التى في طرفها حور     قتلننا ثم لم يحيين قتلانا

" Sesungguhnya, mata yang dalam kerdipannya ada bidadarinya.
Telah mengorbankan kita, yang kemudian tak pernah lagi menghidupkan korban-korbannya ".

ايه عصر العشرين ظنوك عشرا    نير الوجه مسعد الانسان
لست نورا بل انت نار وظلم    مذ جعلت الانسان كالحيوان

" Ah,...Abad dua puluh dalam dugaanmu.
Suatu abad penyinar wajah yang membahagiakan manusia.
Engkau bukan cahaya, tetapi engkau adalah api dan ketidak adilan.
Semenjak engkau membuat insan laksana hewan ".

كل الحوادث مبدأها من النظر    ومعظم النار من مستصغر الشرر
والمرء ما دام عين يقلبها    في اعين الغيد موقوف على الخطر
يسر مقلته ما ضر مهجته    لا مرحبا بسرور جاء بالضرر
كم نظرة فتكت في قلب صاحبها    فتك السهام بلا قوس ولا وتر

" Seluruh kejadian, pangkalanya dari pandangan mata
Api yang besar asalnya dari percikan api yang kecil.

Manusia, selama ia masih punya mata yang ia layangkan
Pada mata si cantik jelita akan membawa bahaya.

Nikmat pandangan matanya dirasa berbahaya dalam hatinya.
Tidak ada ucapan selamat bagi kesenangan yang membawa bencana.

Banyak pandangan yang mengganggu hati pemiliknya
Laksana serangan anak panah tanpa busur dan talinya

قل للمليحة فى الحمار المذهب    اذهبتِ دين اخ التقى المتعبد
نور الحمار ونور وجهك ساطع    عجبا لوجهك كيف لم يتوقد

" Katakanlah kepada si manis itu tentang kerudung yang terlepas
Engkau telah membuang kepercayaan seorang saudara yang taqwa lagi diperhamba itu.

Cahaya kerudung dan cahaya wajahnya itu sama-sama terang.
Hemmm ! Mengapa wajahmu tidak menyala ?

——————
Danny Ma'shoum
Sidoarjo, 19 Mei 2015

Sunday, May 17, 2015

SAJAK CINTA IBNU 'AROBY

SAJAK CINTA SYAIKHUL AKBAR IMAM MUHYIDDIN IBNU AROBY AL- ANDALUSY

ﻃﺎﻝ ﺷﻮﻗﻰ ﻟﻄﻔﻠﺔ ﺫﺍﺕ ﻧﺜﺮ
ﻭﻧﻈﺎﻡ ﻭﻣﻨﺒﺮ ﻭﺑﻴﺎﻥ
ﻣﻦ ﺑﻨﺎﺕ ﺍﻟﻤﻠﻮﻙ ﻣﻦ ﺩﺍﺭ ﻓﺮﺱ
ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻟﺒﻼﺩ ﻣﻦ ﺃﺻﺒﻬﺎﻥ
ﻫﻰ ﺑﻨﺖ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﺑﻨﺖ ﺇﻣﺎﻣﻰ
ﻭﺃﻧﺎ ﺿﺪﻫﺎ ﺳﻠﻴﻞ ﻳﻤﺎﻧﻰ
ﻟﻮ ﺗﺮﺍﻧﺎ ﺑﺮﺍﻣﺔ ﻧﺘﻌﺎﻃﻰ
ﺃﻛﻮﺳﺎ ﻟﻠﻬﻮﻯ ﺑﻐﻴﺮ ﺑﻨﺎﻥ
ﻫﻞ ﺭﺃﻳﺘﻢ ﻳﺎ ﺳﺎﺩﺗﻰ ﺃﻭ ﺳﻤﻌﺘﻢ
ﺃﻥ ﺿﺪﻳﻦ ﻗﻂ ﻳﺠﺘﻤﻌﺎﻥ
ﻭﺍﻟﻬﻮﻯ ﺑﺒﻴﻨﻨﺎ ﻳﺴﻮﻕ ﺣﺪﻳﺜﺎ
ﻃﻴﺒﺎ ﻣﻄﺮﺑﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﻟﺴﺎﻥ
ﻟﺮﺃﻳﺘﻢ ﻣﺎ ﻳﺬﻫﺐ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﻓﻴﻪ
ﻳﻤﻦ ﻭﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻣﻌﺘﻨﻘﺎﻥ

Betapa rinduku begitu panjang
Pada gadis kecil, penggubah prosa,
Nizam (pelantun puisi), mimbar dan bayan
Dialah putri raja-raja Persia
Negeri megah dari Ashbihan
Putri Irak, putri guruku
Sementara aku ?
O, betapa jauhnya
Moyangku dari Yaman
Andai saja kalian tahu
Betapa kami berdua
Saling menghidangkan
Cawan-cawan cinta
Meski tanpa jari-jemari
Adakah, kalian, wahai tuan-tuan
Pernah melihat atau mendengar
Dua tubuh yang bersaing
Dapat menyatukan rindu
Andai saja kalian tahu
Cinta kami
Yang menuntun kami
Bicara manis,
bernyanyi riang
meski tanpa kata-kata
Kalian pasti tahu
Meski hilang akal
Yaman dan Irak nyatanya
Bisa berpelukan

(  Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi Al-Andalusiy  )

Diantara Guru Imam Muhyiddin Ibnu Aroby adalah 2 wanita sufi cantik yang mampu mengantarkan beliau menjadi Sufi agung andalusia, Spanyol. Dialah Yasmin Mursyai Syah dan Fatimah Qurthubiyyah. Dan ketika beliau berada di kota Makkah, sekali lagi beliau bertemu sufi wanita yang cantik jelita dari Isfahan yang banyak memberikan ilham pada Imam Ibnu 'Aroby. Dan dari pertemuannya inilah menjadi inspirasi lahirnya kitab Tarjumanul Asywaaq.

—————
Sidoarjo, 18 Mei 2015
Danny Ma'shoum

Friday, May 8, 2015

KAROMAH IMAM AL-GHOZALI DAN KITAB IHYA ULUMIDDIN

KAROMAH-KAROMAH IMAM AL-GHOZALI YANG BERKAITAN DENGAN KITAB IHYA' ULUMIDDIN-NYA

Hujjatul Islam Al-Imam Abul Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali at-Thusi atau yang masyhur dengan sebutan Imam Al-Ghozali ( L. 450 H / 1058 M— W. 505 H / 1113 M ) dan Kitab Ihya' Ulumiddin nya tidaklah dapat dipisahkan penisbatan kemasyhuran dari keduanya, orang pada umumnya lebih mengenal sosok Imam Al-Ghozali dengan penisbatan pada kitab fenomenalnya ini daripada kitab-kitab beliau yang lainnya diantaranya :

(1). Kitab Minhajul 'Abidin ( kitab ini telah diberi komentar atau syarah oleh Al-Allamah Kyai Ihsan Jampes-Kediri, setebal dua jilid dengan judul Sirojut Tholibin, yang konon kitab ini masih dipakai sebagai rujukan salah satu mata kuliah bidang Tashowwuf di Universitas Al-Azhar Mesir dan dipakai sebagai materi kajian tashowwuf di masjid-masjid Jami' di negara Mali dan negara benua hitam ( Afrika ) lainnya rutin setiap ba'dha subuh, sebagaimana penuturan DR.KH Said Aqil Siroj selaku ketua PBNU sekarang yang pernah melihat sendiri dalam lawatannya berkunjung ke negara-negara di Benua Hitam tersebut )
(2). Al- Munqidz minad Dholal
(3). Al-Khulashoh,
(4). Al-Wasith
(5). Al-Basith,
(6). Al-Wajiz,
(7). Tahafutul Falasifah,
(8). Al-Ghoyatul Quswa,
(9). Jawahirul Qur'an,
(10). Kimiya'us Sa'adah,
(11). Bidayatul Hidayah
(12). Al- I'tiqod fil Iqtishod
(13). Al-Mankhul fii Ushulil Fiqhi ( kitab ini beliau sudun ketika Imam Haromain yang menjadi gurunya masih hidup )
(14). Bidayatul Hidayaat wal Ma`aakhidzu fil Khilafiyaat,
(16). Tahshinul Ma`aakhiidz
(17). Al-Lubab al-Muntakhil fil Jadal
(18). Bayanu Fadhoihil Imamiyyah
(19). Wa iljaamul 'Awaam fii Ilmil Kalaam
(20). Misykatul Anwar
(21). Bayanul Qoulaini lis Syafi'i
(22). Al-Mustadzhhiri fir Roddi 'alal Bathiniyyah
(23). Haqiqotur Ruuh
(24). Sullamus Syayaathin
(25). Al-Qonun Al-Kulliy
(26). Risalatul Aqthob
(27). Al-Mi'roj
(28). Hujjatul Haq
(29). Akhlaqul Abror
(30). Al-Maknuun fil Ushul
(31). Aqidatul Mishbah
(32). Al-Minhajul A'laa
(33). Kitab Al-Asror Mu'aamalatid Diin
(34). Kitab 'Ajaibu Shun'illah
(35). Ar-Roddu 'ala Man Thogho
(36). Asroru Itba'is Sunnah
(37). Risalatut Thoir
(38). Talbis Iblis
(39). Mifsholul Khilaaf fi Ushulil Qiyaas
(40). Al-Qurbatu Ilalloh
(41). Mi'yarul 'Ilm, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan karomah-karomah beliau dan kitab Ihya' Ulumiddin nya, saya nukilkan keterangan dari Al-Imam al-'Allamah Asy-Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani ( l. 1265 / w. 1350 H ) yang beliau kisahkan dalam kitabnya " JAAMI'U KAROMATIL AULIYA' ", Jilid 1 Hal. 180-181  :

ذكر سيدى محي الدين ابن العربى في كتابه روح القدس : ان ابا عبد الله بن زين بأشبيلية وكان من افضل الناس ، وقد اعتكف على كتب أبى حامد ، يعنى الغزالي ، ولكنه قرأ ليلة تأليف أبى القاسم بن احمد في الرد على ابى حامد فعمى ، فسجد لله تعالى من حينه وتضرع وأقسم انه لت يقرأه ابدا ويذهبه ، فرد الله عليه بصره . وقد ذكر سيدى محي الدين هذه الحكاية كرامة لأبى عبد الله بن زين اعتناء من الحق به وتنبيها له رضي الله عنه وعن الإمام الغزالى وعن سائر اولياء الله .

As-Sayyid Muhyiddin Ibnul 'Arobi dalam kitabnya yang berjudul Ruhul Quds menceritakan bahwa Abu Abdillah bin Zein di negeri Asybiliyah adalah seorang yang paling utama di negeri itu dalam menekuni membaca kitab-kitab Imam Al-Ghozali. Akan tetapi pada suatu malam ia membaca kitab yang dikarang oleh Abil Qosim bin Ahmad yang menjelaskan tentang penolakan-penolakannya terhadap Imam Al-Ghozali. Maka seketika matanya buta dan seketika itu pula ia sujud kepada Alloh dengan penuh iba serta bersumpah tidak akan membaca kitab karya Abil Qosim bin Ahmad untuk selamanya dan bersumpah pula untuk membuang kitab tersebut. Maka Alloh SWT memulihkan penglihatannya kembali.
Sayyidi Imam Muhyiddin Ibnul Arobi telah menuturkan bahwa kisah ini juga merupakan karomah bagi Abu Abdillah bin Zein supaya memperhatikan kebenaran kitab Ihya Ulumiddin tersebut dan sebagai peringatan baginya dari Imam Al-Ghozali dan semua wali-wali Alloh lainnya.

قال المناوى : ومن كرامته ما خرجه اليافعى عن ابن الميلق ، عن العرشى ، عن المرسى ، عن الشاذلى ، عن الشيخ ابن حرازم انه خرج على اصحابه ومعه كتاب فقال : اتعرفونه ؟ قال : هذا الإحياء ، وكان الشيخ المذكور يطعن فى الغزالى وينهى عن قراءة الإحياء فكشف لهم عن جسمه فاذا هو مضروب بالسياط  قال : أتانى الغزالى في النوم ودعانى الى رسول الله صلى الله عليه  سلم ، فلما وقفنا بين يديه قال : يا رسول الله هذا يزعم أنى أقول عليك ما لم تقل ، فأمر بضربى فضربت .

Imam Al-Munawi berkata : " Sebagian dari karomah-karomah Imam Al-Ghozali yang diriwayatkan oleh Imam Al-Yafi'i dari Ibnul Mailiq dari Imam Yaqut Al- Arsy dari Imam Abul Abbas Al-Mursiy dari Imam Abil Hasan Asy-Syadzili dari Syaikh Ibnul Harrozim, bahwa Syaikh Ibnul Harrozim keluar menemui murid-muridnya dengan membawa sebuah kitab, lalu ia berkata kepada murid-muridnya, " Tahukah kalian kitab apa ini ?". Murid-muridnya menjawab, " Itu kitab Ihya' ". ( Sebelum ini, Syaikh Ibnul Harrozim pernah mencaci maki Imam Al-Ghozali dan melarang muridnya membaca kitab Ihya' ) Kemudian beliau membuka bajunya dihadapan murid-muridnya dan ternyata pada tubuhnya terdapat bekas pukulan cambuk. Ia berkata pada murid-muridnya, " Aku bermimpi Imam Al-Ghozali datang kepadaku dan mengajakku mendatangi Rosululloh SAW, lalu Imam Al-Ghozali berkata, " Wahai Rosululloh, orang ini ( ibnul Harrozim ) menyangka bahwa aku mengatakan sesuatu yang tidak pernah engkau katakan ".  Kemudian Rosululloh memerintahkan agar memukulku ( dicambuk ), maka dipukul ( cambuk ) lah aku ".

منها : قال العارف الشاذلى :  ورأيت المصطفى صلى الله عليه وسلم في المنام  باهى عيسى وموسى بالغزالى وقال : هل فى أمتكما مثله ؟ قالا لا .

Sebagian dari karomah Imam Al-Ghozali adalah, telah berkata Al-'Arif Asy-Syadzili, " Dalam tidurku, aku melihat Rosululloh SAW membanggakan Imam Al-Ghozali kepada Nabi Isa dan Nabi Musa. Rosululloh SAW berkata, " Apakah ada pada ummat kalian berdua yang seperti Al-Ghozali ?", Nabi Isa dan Nabi Musa menjawab : " Tidak ada ".

ورأى العارف الكبير اليمنى احمد الصياد ابواب السماء مفتحة ، ونزل عصبة من الملائكة ومعهم خلع خضر ودابة ، فوقفوا على رأس قبر وأخرجوا شخصا منه وألبسوه الخلعة واركبوه الدابة وصعدوا به الى السماء  سماء سماء حتى جاوزوا السموات كلها ، وخرق بعدها سبعين حجابا ؛ قال : فتعجبت من ذلك وأردت معرفته ، فقيل لى : هذا الغزالى ، ولا علم لى أين انتهاؤه ، وشهد له المرسى بالصديقية العظمى .

Al-'Arif al-Kabir Al-Yamani Ahmad Ash-Shayyad melihat pintu-pintu langit terbuka, serombongan malaikat turun dengan pakaian warna hijau dan kendaraan, kemudian mereka berhenti di atas kepala sebuah pusara seraya mengeluarkan seseorang dari dalam pusara tersebut lalu membawanya naik kelangit, dari langit ke langit hingga melewati langit seluruhnya, setelah melewati langit dibukalah 70 hijab.
Ahmad Ash-Shayyad berkata ," Aku merasa sangat takjub dengan apa yang aku lihat dan ingin mengetahuinya. Maka tiba-tiba ada yang berkata kepadaku : " Orang ini adalah Al-Ghozali ". Dan aku ( Ahmad Ash-Shayyad ) tidak mengerti sampai dimana puncak ketinggian pendakiannya .

Dalam risalah kecil yang disusun oleh Syaikhina KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad, Tambak beras-Jombang, yang berjudul " Dua figur Tokoh Agung ( Pemimpin kelompok-kelompok Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Dalam Bidang Tashowwuf , Al-Imam Al-Ghozali dan Asy-Syaikh Abul Qosim Junaid Al-Baghdady ), Hal. 33, juga menceritakan sebagian karomah Imam Al-Ghozali ( ini adalah kisah lengkapnya sebagaimana yang dituturkan Imam Al-Yafi'i dari Ibnul Mailiq dari Imam Yaqut Al- Arsy dari Imam Abul Abbas Al-Mursiy dari Imam Abil Hasan Asy-Syadzili dari Syaikh Ibnul Harrozim....) sebagaimana berikut ;

" Al-Imam Al-Yafi'i ( penyusun kitab Roudlhur Royahin fi Hikayatis Sholihin ) menyebutkan pula bahwa Asy-Syaikh Al-Imam al-Kabir Abul Hasan Ali bin Hirozim, seorang ahli fiqh yang tersohor di negeri al-Maghrobi pernah mengingkari dengan pengingkaran yang amat sangat terhadap kitab Ihya' Ulumiddin, padahal ia adalah seorang yang diataati masyarakat dan didengar ucapan-ucapannya. Ia memerintahkan agar semua naskah kitab Ihya' yang telah dimiliki oleh masyarakat agar dikumpulkan di Masjid Jami' dan ingin membakarnya pada hari Jum'at. Tiba-tiba pada malam Jum'at itu pula ia bermimpi masuk kedalam masjid jami' dan didalam masjid itu ia bertemu Rosululloh SAW, Abu Bakar dan Umar Ibnul Khotthob dan Imam Al-Ghozali yang berdiri dihadapan Rosululloh SAW.
Ketika Imam Ibnu Hirozim datang, Al-Imam Al-Ghozali berkata : " Wahai Rosululloh, inilah orang yang memusuhi saya, kalau sesuatu yang benar itu seperti yang dikatakan orang ini maka aku akan bertaubat kepada Alloh, dan apabila sesuatu yang aku peroleh itu adalah sesuatu yang berasal dari barokahmu dan mengikuti jejakmu, maka ambilkan hakku untukku dari musuhku ".
Kemudian Rosululloh SAW mengambil kitab Ihya' dan membukanya halaman per halaman, lembar perlembar dari awal sampai akhir, kemudian bersabda, " Ini adalah sesuatu yang baik ". Kemudian Rosululloh memberikannya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, setelah melihat kitab itu, Abu Bakar menganggap bahwa kitab itu baik sekali, kemudian berkata, " Demi Alloh yang mengutusmu dengan haq, kitab ini adalah sesuatu yang baik ". Kemudian Abu Bakar memberikan kitab itu kepada Umar Al-Faruq r.a ( gelar Umar bin Khotthob ). Setelah memperhatikannya, ia memujinya dan mengatakan seperti apa yang dikatakan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Kemudian Rosululloh SAW memerintahkan agar baju Ibnul Hirozim dilepas dan dipukul diberi sanksi seperti sanksinya orang yang berbuat bohong. Kemudian baju Ibnul Hirozim dilepas dan dipukul dengan cambuk. Ketika pukulan cambuk mencapai hitungan lima kali pukulan, Abu Bakar Ash-Shiddiq memberi pertolongan kepadanya seraya berkata kepada Rosululloh SAW, " Ya Rosulalloh, barangkali ia menduga bahwa kitab Ihya' itu bertentangan dengan sunnah-mu, akan tetapi ia keliru dengan dugaannya ".
Setelah Imam Al-Ghozali mendengar syafaat ( pertolongan Abu Bakar kepada Ibnul Hirozim ) Abu Bakar r.a ia ( Imam Al-Ghozali ) rela dan mau menerima permintaan Abu Bakar itu.
Setelah Ibnu Hirozim bangun dari tidurnya, ia melihat bekas pukulan-pukulan cambuk dipunggungnya dan memberitahukan kepada murid-muridnya dan bertaubat kepada Alloh SWT serta memohon ampun dari kesalahannya. Akan tetapi bekas pukulan cambuk itu dirasakan sakitnya dalam waktu yang sangat lama, sehingga dia bertadhorru' ( menghiba ) kepada Rosululloh SAW sampai ia bermimpi bertemu Rosululloh SAW masuk rumahnya dan mengusap punggungnya dengan tangannya yang mulia, seketika itu ia sembuh dengan izin Alloh SWT.  Setelah itu Ibnu Hirozim selalu mutholaah kitab Ihya' Ulumiddin sehingga Alloh membuka hatinya dan ia memperoleh makrifat billah dan menjadi pembesar masyayikh ahli ilmu lahir dan batin.
Mudah-mudahan Alloh merahmatinya.

——————
Sidoarjo, Jum'at 8 Mei 2015
Danny Ma'shoum.

Thursday, May 7, 2015

TALQIN DAN VARIASI REDAKSINYA

BACAAN TALQIN DAN VARIASI REDAKSINYA

بسم الله الرحمن الرحيم

Talqin adalah sebuah doa sebagai bimbingan bagi orang yang akan meninggal maupun bagi jenazah yang telah dikebumikan. Bacaan talqin ini merupakan bagian dari ajaran-ajaran Dienul Islam yang bersumber dari hadist-hadist Nabi Muhammad SAW, dan biasanya dibaca ketika prosesi pemakaman jenazah selesai dikebumikan, dimana para pengiring jenazah berdiam sejenak mendengarkan salah seorang ( modin ) membacakan doa yang dikhususkan bagi jenazah tersebut sebagai paripurnanya acara prossesi pemakaman.
Ada beberapa hadist Nabi SAW yang menganjurkan pembacaan doa talqin jenazah ini, diantaranya adalah ;

(1). Hadist yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari sahabat Utsman r.a :

كان النبي صلى الله عليه وسلم اذا فرغ من دفن الميت وقف عليه، فقال : استغفروا لأخيكم واسئلوا له التثبيت فإنه الآن يسأل . ( رواه الحاكم )

" Bahwa Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayat, beliau berdiri dan berkata ; " Mintakanlah ampun saudaramu dan mintakanlah supaya ia berketetapan, karena sekarang ia ditanya ". [ HR. Al-Hakim ]

(2). Hadist yang diriwayatkan oleh Jama'ah dari Abu Sa'id Al-Khudry, sebagaimana Yahya bin Abil-Khoir dalam kitabnya Al-Bayan, Juz 3, Hal. 9 , Terbitan Daarul Kutub al-Ilmiyyah, tahun 2002.

لقنوا موتاكم لا اله الا الله . ( رواه الجماعة )

" Talqinkanlah orang-orang yang akan mati dari kamu semua dengan kalimat " Laa Ilaaha Illa Alloh ". [ HR. Al-Jama'ah ]

(3). Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa'd bin Manshur ( Hadist Mauquf ) dari Dhlomroh bin Habib salah seorang tabiin :

عن ضمرة بن حبيب احد التابعين قال : كانوا يستحبون اذا سوّي على ميت قبره ، وانصرف الناس عنه ان يقال عند قبره ، يا فلان قل لا اله الا الله ثلاث مرات يا فلان قل ربي الله، ودينى الاسلام، ونبي محمد . ( رواه ابو سعد ابن منصور )

" Dari Dlhomroh bin Habib, salah seorang tabi'in berkata ; " Apabila sudah diratakan kubur salah seorang mayit, dan pengantarnya meninggalkannya pulang kerumah masing-masing, ada seorang yang berkata disisi kuburnya, " Ya fulan, katakanlah olehmu LAA ILAAHA ILLA ALLOH tiga kali, Ya fulan,..katakanlah ; Tuhanku ialah Alloh, Agamaku ialah Islam dan Nabiku ialah Muhammad ". [ HR. Abu Sa'd bin Manshur ]

(4). Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thobroni dari Abi Usamah yang menguatkan tentang mendengarnya mayit dari dalam kubur sehingga perlu ditalqin adanya sebagai bimbingan baginya ;

وروي الامام الطبراني حديث الى ابي امامة مرفوعا عن النبي صلى الله عليه وسلم انه قال : اذا مات احد من اخوانكم فسوّيتم التراب على قبره فليكم احدكم على رأس قبره ثم اليقل يا فلان ابن فلان فانه يسمعه. ( رواه الطبرانى )

" Dari Abi Umamah dari Nabi SAW, Bahwasannya beliau berkata : " Ketika salah seorang saudaramu ( yang muslim ) meninggal dunia, ratakanlah tanah kuburnya, kemudian katakanlah, " Ya fulan bin fulan..." bahwasannya mayit didalam kubur itu mendengar ". [ HR. Ath-Thobroni ]

——————

REDAKSI-REDAKSI TALQIN

Redaksi-redaksi talqin ini saya sadur dari buku " BIMBINGAN PERAWATAN JENAZAH " , Hal. 96-108 yang disusun dan diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Gresik.

√. REDAKSI TALQIN YANG PENDEK DAN SINGKAT.

(*) Adapun redaksi Talqin yang pendek berdasarkan Hadist riwayat Imam Ath-Thobroni yang dinukil oleh Syaikh DR. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Juz 2, Hal. 537, sebagai berikut :

يا عبد الله ابن امة الله اذكر ما خرجت عليه من دار الدنيا شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله. وان الجنة حق. وان النار حق. وان البعث حق. وان الساعة آتية لا ريب فيه. وان الله يبعث من في القبور . وانك رضيت بالله ربا . وبالإسلام دينا . وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا . وبالقرآن اماما . وبالكعبة قبلة . وبالمؤمنين اخوانا .

√. REDAKSI TALQIN YANG PANJANG

(*) Redaksi Talqin yang panjang menurut Imam Barnawi yang mengutip dari Imam Qosim Al-'Ubbadi yang tercantum dalam kitab 'Ianatut Tholibin, Juz 2, Hal. 140, Karya Allamah As-Sayyid Bakri Syatho' Ad-Dimyathi, sebagai berikut :

بسم الله الرحمن الرحيم

كلّ شيئ هالك الا وجهه له الحكم واليه ترجعون كل نفس ذائقة الموت وانما توفون اجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار وادخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا الا متاع الغرور منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة اخرى منها خلقناكم للاجر والثواب وفيها نعيدكم للدود والتراب ومنها نخرجكم للعرض والحساب. بسم الله وبالله ومن الله والى الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم هذا ما وعد الرحمن وصدق المرسلون ان كانت الا صيحة واحدة فإذا هم جميع لدينا محضرون، يا فلان بن فلانة او يا عبد الله او يا ابن امة الله يرحمك الله ذهبت عنك الدنيا وزينتها وصرت الآن في برزخ من برازخ الآخرة فلا تنس العهد الذي فارقتنا عليه في دار الدنيا وقدمت به الى دار الآخرة وهو شهادات ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله. فاذا جائك الملكان الموكلان بك وبأمثالك من أمة محمد صلى الله عليه وسلم فلا يزعجاك ولا يرعباك واعلم انها خلق من خلق الله تعالى كما انت خلق من خلقه فإذا اتياك واجلساك وسألاك وقالاك ما ربّك وما دينك وما نبيك وماعتقادك وما الذى مت عليه فقل لهما الله ربّى فاذا سألاك الثانية فقل لهما الله ربّى فاذا سألاك الثالثة وهي الخاتمة الحسنى فقل لهما بلسان طلق بلا خوف ولا فزع الله ربّى والإسلام دينى ومحمد نبيّ والقرآن امامى والكعبة قبلتى والصلوات فريضتى والمسلمون اخوانى وابراهيم الخليل أبى وانا عشت ومتّ على قول لا اله الا الله محمد رسول الله. تمسك يا عبد الله بهذه الحجة واعلم انك مقيم بهذا البرزح الى يوم يبعثون ، فاذا قيل لك ما تقول في هذا الرجل الذى بُعِثَ فيكم وفي الخلق اجمعين فقل هو محمد صلى الله عليه وسلم جاءنا بالبينات من ربه فاتّبعناه وأمنّا به وصدقنا برسالته فان تولو فقل حسبي الله لا اله الا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم.  واعلم يا عبد الله ان الموت حق وان نزول القبر حق وان سؤال منكر ونكير حق وان البعث حق وان الحساب حق وان الميزان حق وان الصراط حق وان النار حق وان الجنة حق وان الساعة آتية لا ريب فيها، وان الله يبعث من في القبور، ونستودعك اللهم يا أنيس كل وحيد ويا حاضرا ليس يغيب آنِس وحدتنا ووحدته وارحم غربتنا وغربته ولقّنه حجته ولا تفتنّا بعده واغفرلنا وله يا رب العالمين ، سبحان ربك رب العزّة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين .

√. REDAKSI TALQIN DALAM BAHASA JAWA

(*) Sedangkan redaksi Talqin dalam bahasa jawa yang disusun oleh Kyai Bisyri Musthofa ( ayahanda Gus Musthofa Bisyri ) adalah sebagai berikut :

بسم الله الرحمن الرحيم

كلّ شيئ هالك الا وجهه له الحكم واليه ترجعون كل نفس ذائقة الموت وانما توفون اجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار وادخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا الا متاع الغرور منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة اخرى منها خلقناكم للاجر والثواب وفيها نعيدكم للدود والتراب ومنها نخرجكم للعرض والحساب. بسم الله وبالله ومن الله والى الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم هذا ما وعد الرحمن وصدق المرسلون ان كانت الا صيحة واحدة فإذا هم جميع لدينا محضرون . — ( lalu dilanjutkan membaca redaksi bahasa jawa dibawah ini ..)

Hei fulan ( ..... ) saiki siro wus mati ngalih marang ngalam kubur, yo iku ngalam barzah, siro ojo nganti lali perkoro kang siro sungkemi naliko siro pisah karo kito kabeh. Hiyo iku nyakseni yen temen ora ono Pengeran Kang Haq kejobo Gusti Alloh Ta'ala. Lan nyekseni yen Gusti kanjeng Nabi Muhammad iku utusane Gusti Alloh Ta'ala.
Hei fulan (......) ! sing ati-ati yen siro ditekani malaikat loro ( dua ) kang dipasrahi nyubo marang siro, siro ojo kaget lan ojo gemeter, ngertio ! saktemene kang bakal nekani siro iku iyo podo makhluqe Alloh.
Hei fulan ( ..... ) ! yen malaikat loro mengko takon marang siro mengkene :
Sopo Pengeranmu ?
Opo Agomomu ?
Sopo Nabimu ?
Opo i'tiqodmu ?
Lan opo kang siro sungkemi naliko siro mati ?

Yen siro ditakoni mengkono, jawabo ! Pengeranku iku Gusti Alloh. Yen dikaping pindoni takone, jawabo maneh ! Gusti Alloh iku Pengeranku. Yen den kaping teloni takone, yo iku pitakon kang pungkasan, siro jawabo kang teges, ojo gemeter lan ojo kuatir, " Gusti Alloh iku pengeranku, Agomo Islam iku Agomoku, Gusti Kanjeng Nabi Muhammad iku Nabiku, Kitab Al-Qur'an iku panutanku, Sholat sembahyang iku kuwajibanku, wong Islam kabeh iku sedulurku, Nabi Ibrohim iku bapakku, aku urip lan mati netepi ucapan " LAA ILAAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH SOLLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM ".
Hei fulan ( ..... ) ! Hujjah tak wuruk ake marang siro iku cekelen temen-temen, ngertio yen siro bakal manggoni ing ngalam kubur nganti besok dino qiyamat, yo iku dinane wong-wong ahli kubur podo ditange'ake.
Hei fulan ( ..... ) ! ngertio yen pati iku haq, manggon ing kubur, pitakone munkar nakir ono ing kubur, dinone tangi saking kubur, onone hisab, timbangan amal, wot shirotol mustaqim, neroko lan suwargo, iku kabeh haq lan mesti anane. Setuhune dino kiyamat iku mesti tumekane, lan setuhune Gusti Alloh bakal nangi'ake wong kang ono ing ngalam kubur.

ونستودعك يا الله، اللهم أنيس كل وحيد ويا حاضرا ليس يغيب. آنس وحدتنا ووحدته وارحم غربتنا وغربته ولقنه حجته ولا تفتنا بعده واغفرلنا وله يا رب العالمين ، سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين .

————
(*) Dari ketiga redaksi diatas, kata / lafadz " abdulloh bin amatillah " atau " ya fulan " diganti dengan nama jenazah / mayit yang bersangkutan, (..... bin .....) atau namanya si mayit saja.

Wallohu a'lam bis Showab.

Sidoarjo, Rabu 6 Mei 2015
Danny Ma'shoum.

FATWA IMAM AS-SUYUTHI

FATWA IMAM AS-SUYUTHI TENTANG AYAT 84 DARI SUROH AT-TAUBAH

Alloh SWT berfirman dalam Suroh Baro'ah / At-Taubah ayat 84, yang berbunyi :

(وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ) [Surat At-Tawba : 84]

" Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik ".

Berkaitan dengan pengertian ayat diatas, Al-Imam al-Hafidz Jalaluddin Abdurrohman bin Abu Bakar As-Suyuthi dalam Kitabnya Al-Hawy lil Fatawiy, Jilid 1, Hal. 365, beliau ditanya akan pengertian lafadz " al-qiyaamu " pada teks ayat, "......walaa taqum 'alaa qobrihi...", Bab " Al-Fatawy Al-Quraniyyah " tentang Suroh Baro'ah, sebagaimana saya tulis salinannya berikut dibawah ini :

مسألة : في قوله تعالى :  
(وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ) هل يفسر القيام هنا بزيارة القبور ؟ وهل يستدل بذلك على ان الحكمة في زيارته صلى الله عليه وسلم قبر امه انه لإحيائها لتؤمن به بدليل ان تاريخ الزيارة كان بعد النهي ؟.

PERTANYAAN : Tentang firman Alloh Ta'ala Suroh Baro'ah ( At-Taubah ayat 84 ), apakah penafsiran lafadz " al-qiyaamu ( berdiri ) disini diartikan dengan ziarah kubur ? dan apakah hal itu mengindikasikan terhadap hikmah ziarahnya Nabi SAW ke kubur ibundanya ( memohon kepada Alloh ) untuk menghidupkan ibundanya kembali supaya mengimani dengan ( risalah yang diemban ) nya itu, sebagai bukti bahwa sejarah ziarah itu telah ada sebelum adanya larangan berziarah ?

الجواب : ان المراد بالقيام على القبر الوقوف عليه حالة الدفن وبعده ساعة ، ويحتمل ان يعم الزيارة ايضا أخذا من الاطلاق ، وتاريخ الزيارة كان قبل النهي لا بعده ، فان الذي صح في الاحاديث انه صلى الله عليه وسلم زارها عام الحديبية والآية نازلة بعد غزوة تبوك ثم الضمير في ( منهم ) خاص بالمنافقين وان كان بقية المشركين يلحقون بهم قياسا ، وقد صح في حديث الزيارة انه استأذن ربه في ذلك فأذن له ، وهذ الإذن عندي يستدل به على انها من الموحدين لا من المشركين كما هو اختياري ، ووجه الاستدلال به انه نهاه عن القيام علي قبور الكفار وأذن له في القيام على قبر امه فدل على انها ليست منهم والا لما كان يأذن له فيه واحتمال التخصيص خلاف الظاهر ويحتاج الى دليل صريح . فان قلت : استئذانه يدل على خلافه والا لزارها من غير استئذان . قلت : لعله عنده وقفة في صحة توحيد من كان في الجاهلية حتى اوحى اليه بصحة ذلك .

JAWABAN : Yang dimaksud berdiri diatas kubur disini adalah berdiam diri dalam prosesi pemakaman jenazah dan sesaat setelah pemakaman, dan bisa juga ( lafadz al-qiyaam ) dipakai sebagai keumuman hukum berziarah secara muthlaq, dan sejarah ziarah telah ada sebelum adanya larangan berziarah, bukan sesudah adanya larangan. Dan bahwasannya hal ini dibenarkan didalam beberapa hadist bahwa Nabi SAW telah menziarahi kubur ibundanya pada tahun ( terjadinya perjanjian ) Hudaibiyah, dan ayat ( 84, Suroh Baro'ah ) itu diturunkan sesudah terjadinya perang Tabuk. Kemudian dhomir pada lafadz " minhum ( منهم ) " pada ayat tersebut hanya tertentu bagi orang-orang munafiq saja serta dijadikan analogi ( qiyas ) apabila masih ada sisa dari orang-orang musyrik yang masih dapat  dijumpai pada golongan mereka ( munafiqin ). Dan sungguh telah dinyatakan dalam hadist tentang ziarah, bahwa Nabi SAW meminta izin kepada Alloh untuk ini ( menziarahi kubur ibundanya ), maka Alloh pun mempersilahkannya. Dan izin ( yang diberikan Alloh ) ini menurutku ( As-Suyuthi ) membuktikan bahwa ibunda Nabi SAW termasuk dari golongan Muwahhidin ( yang meng-Esa-kan Alloh ) dan bukan dari golongan orang-orang musyrikin, sebagaimana ini adalah pendapat yang dipilih. Dan sudut pandang pada kesimpulan ayat ini, bahwa sesungguhnya Alloh melarang Nabi SAW berdiri ( ziarah ) pada kubur orang-orang kafir dan Alloh mempersilahkan ( memberi idzin ) kepada beliau untuk berdiri ( ziarah ) kekubur ibundanya yang menandakan bahwa ibundanya bukanlah dari golongan kaum kafir. Dan jika tidak begitu,  maka ketika diizinkannya bagi Nabi dalam hal ini ( ziarah ) dan menjadikan kekhususan ( pada diri Nabi SAW ) itu memunculkan perbedaan pendapat dan akan memerlukan adanya bukti yang kongkrit. Maka jika kamu berkata, " Permohonan izin Nabi itu menunjukkan sebuah kontroversi, dan jika tidak, maka Nabi menziarahi kubur ibunya tidak perlu meminta izin. Aku ( As-Suyuthi ) berkata , " Bisa jadi apa yang ada pada Nabi ketika itu merupakan jeda waktu ( untuk mengetahui ) atas pernyataan tauhid seseorang yang hidup dimasa jahiliyah sampai diwahyukan kepada Nabi tentang kebenaran pernyataan tersebut ".

Wallohu a'lamu bis showab
————————
Sidoarjo, Kamis 7 Mei 2015
Danny Ma'shoum.

Sunday, May 3, 2015

TRADISI MENGHAFAL KAUM SANTRI

ANTARA HAFAL DAN PAHAM

ﺍﻟﺤﺎﻓِﻆ ﺣُﺠَّﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳَﺤْﻔﻆ

“orang yang hapal adalah argumen (hujjah) terhadap orang yang tidak hapal". Begitu bunyi kaligrafi indah di ‘ghutaan” (kamar/asrama) di pesantren saya. Walaupun sebagian redaksi juga ada sedikit perbedaan tapi tidak mengurangi apa yang di maksud.

( ﻣﻦ ﺣﻔِﻆ ﺣُﺠَّﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳَﺤْﻔﻆ . ﺍﻟﻤﻌﺠﻢ ﺍﻟﻮﺳﻴﻂ )

Orang yang hapal teks-teks akan dapat memenangkan perdebatan (munazharah) atau diskusi (mudzakarah) dengan orang-orang yang tidak hapal dan hanya
mengandalkan logika atau akal semata. Jika dalam diskusi ia ditanya : apa argument anda?, maka dengan mudah ia akan menyebutkan dalil-dalilnya dari teks-teks.

Nah, atas dasar adagium itu, maka para santri di pondok
pesantren diwajibkan menghapal hampir semua ilmu
yang diajarkan. Tetapi pada umumnya adalah ilmu
pengetahuan yang sudah diringkas dalam bentuk bait- bait syair. Dalam bentuk seperti ini, ilmu tersebut mudah dilagukan dengan langgam apapun; baik thawil, rajaz,
kamil, atau bahkan pop, jaz, bossanova, dangdut dan
lain-lain, asal tetap menjaga ritme dan notasenya (bahar). Beberapa di antaranya adalah “Nazham ‘Amrithi” dan “Alfiyah Ibnu Malik” , untuk ilmu nahwu/ gramatika
Arab), Al Jauhar al Maknun dan al Juman, untuk sastra Arab, “Al Sullam al Munawraq”, untuk ilmu mantiq /­ logika, “Nazhm al Waraqat”, dan “Al Faraid al Bahiyyah” untuk ilmu ushul fiqh dan kaedah fiqh, “Nazham al
Baiquniyah” (ilmu hadits), dan lain-lain. Saya pun menghapalkan semua itu dengan sebaik-baiknya. Saya pernah hapal semua itu dengan lancar ketika dipesantren sambil menyanyikannya dengan riang. Kini tak banyak lagi nyanyian pengetahuan-pengetahuan itu yang masih bisa saya ingat.

TRADISI MENGHAFAL

Tradisi menghapal ilmpengetahuan bukan hanya khas milik komunitas pesantren di Indonesia. Ia menjadi
tradisi masyarakat di berbagai belahan dunia Timur dan telah berlangsung berabad-abad. Bangsa Arab sejak pra Islam sampai kini punya tradisi menghapal. Pada masa Islam, kita mendengar begitu banyak ulama besar yang mampu menghapal, selain al-Qur’an, ratusan bahkan ribuan hadits, puisi-puisi Al Mutanabbi, Maqamat al Hariri, Diwan al-Buhturi, Diwan al Hamasah dan sebagainya. Di wilayah-wilayah Islam di Khurasan, Irak maupun di Cordoba (pusat-pusat peradaban Islam zaman tengah), betapa banyak para pelajar, mahasiswa dan santri-santri di madrasah, khanaqah, ribath dan zawiyah yang hapal kasidah Burdah, kasidah Banat Su’ad, Mu’allaqat Imri al Qais, syair-syair Na’tiyah dan Madaih Nabawiyyah yang megah dan indah itu. Bahkan boleh jadi mereka juga hapal kidung-kidung “Al Matsnawi’
karya penyair besar Konya, Maulana Jalal al Din al Rumi
(1207-1273) yang puluhan ribu bait itu. Di Mesir, para pelajar dan mahasiswa di sekolah-sekolah dan
Universitas al Azhar, bukan sekedar biasa menghapal ilmu yang sudah dalam bentuk syair atau puisi, malahan juga dalam bentuk narasi prosa yang begitu panjang.
Di Indonesia, pada sejumlah besar pesantren dan madrasah kemampuan menghafal syair-syair ilmu tersebut di atas diujikan dan acapkali ditampilkan oleh para santri di hadapan para guru dan khalayak, pada momen-momen penting, terutama pada moment
penutupan masa belajar (Haflah Akhir al Sanah atau Imtihan). Para orang tua yang diundang dalam acara tersebut merasa sangat gembira dan bangga melihat
anaknya hafal “alfiyah” dan seterusnya. Mereka tidak terlalu menganggap penting apakah anak-anaknya memahami apa yang dihapalnya atau tidak. Persepsi
masyarakat lalu menyebut orang yang alim dan ahli fiqh (faqih) adalah orang yang mampu menjawab persoalan-persoalan fiqh dengan mengemukakan pendapat yang terdapat dalam kitab-kitab. Tegasnya orang alim adalah orang yang hapal pendapat-pendapat para ulama masa lalu.
Metode menghapal untuk konteks tertentu mungkin saja baik. Tetapi membatasi diri pada hapalan tentu kuranglah sempurna. Ia akan lebih baik jika ilmu-ilmu tersebut juga
dipahami kandungannya secara mendalam. Mengenai ini
ada sebuah syair yang menyatakan :

ﻭﺟﺎﻣﻊ ﺍﻟﻔﻬﻢ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﻳﻔﻲ

“gabungkan pemahaman dan hapalan, niscaya akan
memadai/sempurna)".

Penggabungan dua sistem ini ; memahami dan menghapal tentu saja ideal. Akan tetapi pertanyaannya kemudian adalah adakah jika keduanya dapat dilakukan oleh seseorang, dia akan
dapat menguasai keduanya dalam kualitas yang sama?. Dengan kata lain apakah dengan menjalani keduanya akan dihasilkan keunggulan dan kemampuan yang
sama?. Al Jahiz, sastrawan dan teolog Mu’tazilah terkemuka menjawab pertanyaan ini :

ﺍﻧﻪ ﻣﺘﻰ ﺍﺩﺍﻡ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﺍﺿﺮ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻻﺳﺘﻨﺒﺎﻁ ﻭﻣﺘﻰ ﺍﺩﺍﻡ ﺍﻻﺳﺘﻨﺒﺎﻁ
ﺍﺿﺮ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﺤﻔﻆ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﺍﺷﺮﻑ ﻣﻨﺰﻟﺔ ﻣﻨﻪ

“Manakalah seseorang lebih menekankan kebiasaan menghapal, itu bisa mengurangi kemampuannya menganalisis, dan kebiasaan menganalisis bisa mengurangi kemampuannya menghapal, meskipun kedudukan menghapal lebih mulia ”. (Rasail al Jahizh, III/25).

Jahiz memang memandang mulia metode hapalan. Tetapi manakah yang lebih potensial untuk sebuah transformasi sosial dan peradaban umat manusia hari ini dan masa
depan, menghapal atau memahami?.

ANTARA HAFAL DAN FAHAM

Pada masa klasik Islam kecenderungan umum
menganggap bahwa orang alim, ulama atau cerdik pandai
adalah orang yang hapal pendapat-pendapat para ulama sebelumnya berikut teks-teks mereka sambil menyebut nama kitabnya. Semakin banyak hapalan seseorang,
semakin dianggap alimlah dia. Sebaliknya orang yang tidak hapal teks, betapapun cerdas dan tangkasnya dia berargumentasi, tidaklah disebut alim, orang pandai atau ulama. Dia tidak layak disebut orang alim atau ulama, melainkan lebih sebagai cendikiawan, jika termasuk ulama harus dibedakan dari cendikiawan. Pandangan ini
mendapat kritik tajam dari Ibnu Rusyd al Hafid (w. 1198). Sarjana muslim terkemuka dari Spanyol dengan keahlian ganda ; filosof, dokter dan ahli hukum (faqih) ini pernah melontarkan kritik terhadap para ulama pada masanya yang lebih rajin menghapal teks-teks keilmuan dan mengikuti pandangan-pandangan tekstual para ulama daripada melalukan penelitian dan kajian-kajian rasional dan empiris. Menurutnya, para ahli fiqh seyogyanya tidak
terus menerus bertaklid kepada orang lain dan tidak hanya sibuk menghafal produk-produk fiqh mereka.

Orang yang hapal produk-produk hukum para mujtahid, betapapun banyaknya, tidak bisa disebut “faqih”. Seseorang baru bisa disebut “faqih” (ahli fiqh), jika dia
mampu menganalisis dan menggali teks-teks hukum secara mendalam, melalui argumen-argumen yang dapat diterima secara rasional dan mengembangkan dasar-dasarnya. Untuk ini ia membuat analogi dengan seorang ahli sepatu. Ahli sepatu, katanya, bukanlah orang yang punya banyak sepatu yang siap pakai. Tegasnya ahli sepatu bukanlah kolektor sepatu. Adalah memang baik saja orang yang punya banyak sepatu yang dengannya dia bisa menjualnya kepada publik atau memberikannya kepada yang memerlukannya. Dengan begitu, tanpa harus repot-repot dan berlama-lama mereka bisa memilih
dari yang tersedia dan langsung bisa memakainya. Akan tetapi repotnya adalah jika pada suatu saat ada pembeli atau ada orang yang memerlukannya dengan
meminta model terbaru atau dengan ukuran tertentu dan itu tidak tersedia di sana, di toko atau di rumah sang kolektor tadi. Bagaimana dia harus memenuhi permintaan tersebut?. Si ahli sepatu tentu saja tidak bisa
melayaninya atau memenuhinya. Apalagi dapat dipastikan bahwa masyarakat terus berkembang dari waktu ke waktu, semakin terbuka dan dengan membawa kecenderungan (trend) yang sering berubah-ubah dalam waktu yang tidak terlalu lama. Perubahan adalah niscaya dan tak dapat dilawan. Ia adalah karakter makhluk hidup dan alam semesta.
Menurut Ibnu Rusyd, ahli sepatu adalah orang yang bisa membuat sepatu dan mampu menciptakan model-model yang sesuai dengan trend zamannya. Dengan begitu, ia
akan bisa memenuhi kebutuhan orang, kapan saja dan di mana saja dan dengan model apa saja, meski memang harus menunggu.

Pandangan Ibnu Rusyd ini juga pernah dikatakan Imam al Ghazali (w. 1111 M) sebelumnya. Hujjah al Islam ini mengatakan dalam karya
masterpeacenya yang sangat terkenal ;

ﻻ ﻳﺴﻤﻰ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺷﺄﻧﻪ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﻃﻼﻉ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﺮﺍﺭ
ﻭﺍﻟﺤﻜﻢ

“tidak disebut ‘alim (pandai/ulama), orang yang
pekerjaannya hanya menghapal teks-teks tanpa mengkaji
dan menggali hikmah-hikmah dan rahasia-rahasianya). (Ihya Ulumiddin,I/78).

Hikmah-hikmah dan rahasia-rahasia adalah makna-makna yang terdalam, yang substantif, yang rasional, yang inklsif dan yang mengandung kearifan pareneal, bukan yang formal, yang kulit, yang tekstual, yang eksklsif dan yang stagnan/konservatif.

Pandangan Ibnu Rusyd di atas mengisyaratkan sikapnya yang lebih mengunggulkan metode pemahaman dengan menggunakan kecerdasan intelektual terhadap aspek-aspek hukum sekaligus menunjukkan juga semangatnya
untuk menganjurkan kepada masyarakat untuk mengkaji dan kepada para ulama untuk berjtihad. Ini misalnya terbaca dalam buku fiqhnya yang terkenal : “Bidayah al
Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid”. Menganalisis dan
mengkaji secara mendalam atas teks tidak bisa lain kecuali melalui akal intelektual yang dalam bahasa Ibnu Rusyd sering disebut “al Hikmah”, “al Burhan” atau filsafat. Penggunaan akal, hikmah, burhan dan filsafat bagi Ibnu Rusyd adalah niscaya bagi pengembangan
hukum dan pemikiran Islam yang lain. Tanpa akal intelektual, teks-teks hukum dalam al Qur-an yang
menurut Imam al Ghazali berjumlah 500 ayat, maupun Hadits Nabi, taruhlah satu atau dua juta, atau berapapun jumlahnya, tidak akan mampu menjawab kasus-kasus dan problem-problem kehidupan yang terus berkembang dari generasi ke generasi, berubah-ubah dari zaman ke zaman dan berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain.

Ibnu Rusyd mengatakan :

ﺍﻟﻮﻗﺎﺋﻊ ﺑﻴﻦ ﺍﺷﺨﺎﺹ ﺍﻻﻧﺎﺳﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﻨﺎﻫﻴﺔ ﻭﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﻭﺍﻻﻓﻌﺎﻝ
ﻭﺍﻻﻗﺮﺍﺭﺍﺕ ﻣﺘﻨﺎﻫﻴﺔ ﻭﻣﺤﺎﻝ ﺍﻥ ﻳﻘﺎﺑﻞ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺘﻨﺎﻫﻰ ﺑﻤﺎ ﻳﺘﻨﺎﻫﻰ

“Peristiwa kehidupan manusia tidaklah terbatas, sementara teks-teks, tindakan-tindakan dan putusan-putusan adalah terbatas. Dan adalah mustahil apa yang
tak terbatas bisa dijawab oleh hal yang terbatas”. (Bidayah al Mujtahid, I/3).

Al Syahrastani (w. 548 H) dalam kitabnya yang terkenal “Al Milal wa al Nihal” juga mengatakan hal yang sama :

ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺘﻨﺎﻫﻴﺔ ﻭﺍﻟﻮﻗﺎﺋﻊ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﻨﺎﻫﻴﺔ . ﻭﻣﺎ ﻻ ﻳﺘﻨﺎﻫﻰ ﻻ
ﻳﻀﺒﻄﻪ ﻣﺎ ﻳﺘﻨﺎﻫﻰ . ﻋﻠﻢ ﻗﻄﻌﺎ ﺃﻥ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻭﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﻭﺍﺟﺐ
ﺍﻻﻋﺘﺒﺎﺭﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺼﺪﺩ ﻛﻞ ﺣﺎﺩﺛﺔ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ . ‏( ﺍﻟﻤﻠﻞ ﻭﺍﻟﻨﺤﻞ 1 ﺹ
210)

“Jika teks-teks terbatas dan peristiwa-peristiwa kehidupan tidak terbatas, sementara hal-hal yang terbatas tidak akan dapat menampung (merumuskan) hal-
hal yang tak terbatas, maka diketahui dengan pasti bahwa ijtihad dan qiyas (berpikir analogis) memangharus dipertimbangkan sehingga setiap kasus mendapatkan jawaban”.

Termasuk teks-teks yang terbatas itu adalah ayat-ayat suci yang tertulis dalam lembaran-lembaran (mush-haf/­shuhuf) atau lempengan-lempengan batu sabak (Alwah). Semua teks-teks itu terbatas adanya. Tetapi sebagai kata-kata Tuhan, ia mengandung makna yang tak terbatas, karena ia adalah Kalam Tuhan, Allah. Kalam Allah adalah Sifat-Nya. Karena Eksistensi (Dzat) Dia Tak Terbatas,
maka Sifat-Nya juga tak terbatas. Kita tak boleh dan tak bisa membatasi makna Kalam Allah, karena itu berarti membatasi Dia. Maka untuk mengetahui makna-makna yang terkandung dalam teks-teks suci itu yang tak terbatas itu, tak ada jalan lain kecuali kita memahaminya, meskipun hanya sejauh yang mungkin. Dan pemaknaan kita atas teks adalah kemungkinan-kemungkinan belaka, bukannya kepastian-kepastian. Memahami adalah proses memikirkan,merenungkan, memerhatikan, dan mengeksplorasi makna-makna, tanda-tanda, isyarat-isyarat, hubungan-hubungan, serta menemukan pengalaman-pengalaman yang mengesankan.
Dengan cara demikian kita bisa mencipta sesuatu dari tiada menjadi ada, dari satu menjadi sekian, melahirkan inovasi dan adalah mungkin; merubah dunia. Bumi manusia, dengan begitu menjadi hidup berikut nuansa-
nuansanya yang berwarna-warni, yang indah, yang senantiasa baru dan tentu saja menyenangkan.

Wallahu A’lam.

( Nurul Huda Al-Junaidy, Jambi )

———————
Sidoarjo, 4 Mei 2015

Danny Ma'shoum