kolom melintang

Thursday, August 6, 2015

ANALISA HADIST JARIYAH

ALLAH TIDAK DI LANGIT, SEBUAH ANALISA KRITIS ATAS HADIST JARIYAH

Allah tidak di Langit {Bantahan terhadap syubhat-syubhat kaum Mujassimah yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit)

Dalil lain yang sering dijadi sebagai argumentasi kaum Mujassimah adalah hadits dalam Shahih Muslim berbunyi :

قَالَ: وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ، فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ، لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا، فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، قَالَ: أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Artinya : Mu’awiyah ibn al-Hakam al-Salamy berkata : “Aku memiliki seorang budak perempuan yang mengembala kambing-kambingku disekitar Uhud dan Jawaniyah. Pada suatu hari aku saksikan seekor serigala menyambar seekor kambing gembalaannya, karena aku seorang anak Adam (manusia biasa) maka aku menyesalinya seperti mereka juga menyesalinya. Hanya saja aku menempelengnya dengan sekali tempelengan, kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW, aku menyesali perbuatanku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah perlu aku merdekakan dia?” Beliau bersabda, “Bawa dia kemari!” Maka aku bawa ia menghadap beliau. Beliau bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Ia menjawab, “Di langit.” Siapa aku?, lanjut Nabi. ‘Engkau Rasulullah’, jawabnya. Maka Beliau bersabda, “Merdekakan dia! Sesungguhnya ia seorang mukiminah)[1]

Kaum Mujasssimah mengatakan, hadits ini dengan gamblang menjelaskan kepada kita bahwa Allah berada di langit sesuai dengan pengakuan budak perempuan dalam kisah hadits ini dan Rasulullah SAW sendiri mengakui keimanannya dengan sebab pengakuan tersebut. Selanjutnya mereka mereka mengatakan, dengan demikian i’tiqad bahwa Allah berada di langit merupakan i’tiqad yang haq.

Bantahan :

Perlu menjadi catatan bagi kita bahwa dalam bidang pokok-pokok akidah (keyakinan) tidak dibolehkan kecuali ditegakkan di atas pondasi dan dasar yang qath’i (pasti dan tidak mengandung ta’wil  atau kesamaran). Karena itu, Allah berfirman dalam al-Qur’an :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (keyakinan) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya(Q.S. al-Isra’ : 36)

Ini berbeda dengan masalah-masalah furû’iyah (fiqh praktis/amaliyah) dimana para ulama membolehkan membangun kesimpulan mengenainya berdasarkan dalil-dalil dhanniyah (dugaan yang tidak sampai kepada yakin). Kami kira semua orang akan mudah memahami ini, karena tidak mungkin sebuah kesimpulan yang bersifat qath’i dibangun hanya dari dalil yang bersifat dhanni.  

Hadits ahad hanya bernilai dhanni, tidak qath’i

Hadits ahad adalah hadits yang diriwayat oleh satu orang atau lebih, tetapi tidak sampai kepada tingkatan mutawatir. Jumhur ulama Islam menjelaskan kepada kita bahwa hadits ahad ini tidak bersifat qath’i, tetapi hanya dhanni. Berikut ini sejumlah penjelasan dari ulama-ulama kita, antara lain :

1.        Imam al-Juwaini yang lebih dikenal dengan gelar Imam al-Haramain mengatakan dalam kitabnya :

وخبر الواحد لا يعقب العلم

“Hadits ahad tidak menghasilkan ilmu (keyakinan)”[2]

Dalam kitab karya beliau yang lain, beliau mengatakan :

والاحاد وهو الذي يوجب العمل ولا يوجب العلم لاحتمال الخطأ فيه

“Ahad adalah yang mewajibkan amal dan tidak mewajibkan ilmu (keyakinan), karena ada kemungkinan salah padanya.”[3]

2.        Imam Zakariya al-Anshari mengatakan :

واما مظنون الصدق فخبرالواحد وهو مالم ينته الى التواتر

“Adapun yang dhan benar, maka itu adalah hadits ahad, yakni yang tidak sampai kepada tingkatan mutawatir.”[4]

3.        Imam al-Nawawi mengatakan :

فَالَّذِي عَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ وَالْفُقَهَاءِ وَأَصْحَابِ الْأُصُولِ أَنَّ خَبَرَ الْوَاحِدِ الثِّقَةِ حُجَّةٌ مِنْ حُجَجِ الشَّرْعِ يَلْزَمُ الْعَمَلُ بِهَا وَيُفِيدُ الظَّنَّ وَلَا يُفِيدُ الْعِلْمَ

“Maka pendapat yang pegangan jumhur kaum Muslimin, baik sahabat, Tabi’in maupun ulama-ulama sesudah mereka, ahli hadits, fuqaha dan ahli ushul adalah hadits ahad dari orang yang terpercaya menjadi hujjah dari segala hujjah syara’ yang mewajibkan amal dengannya, tetapi tidak memfaedahkan ilmu (keyakinan).”

Selanjutnya beliau menjelaskan :

وذهب بعض المحدثين إلى أن الاحاد التي في صحيح البخاري أو صحيح مسلم تفيد العلم دون غيرها من الاحاد ؟ وقد قدمنا هذا القول وإبطاله في الفصول

“Sebagian Ahli Hadis berpendapat bahwa hadis Ahâd yang ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim memberikan kepastian informasi, tidak hadis Ahâd dalam selain keduanya. Dan telah kami paparkan panjang lebar bukti kebatilan pendapat ini dalam beberapa pasal sebelumnya…..”[5]

4.        Al-Hafizh Ibnu Abd al-Barr mengatakan :

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ فِي خَبَرِ الْوَاحِدِ الْعَدْلِ هَلْ يُوجِبُ الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا أَمْ يُوجِبُ الْعَمَلَ دُونَ الْعِلْمِ وَالَّذِي عَلَيْهِ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْهُمْ أَنَّهُ يُوجِبُ الْعَمَلَ دُونَ الْعِلْمِ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَجُمْهُورُ أَهْلِ الْفِقْهِ وَالنَّظَرِ وَلَا يُوجِبُ الْعِلْمَ عِنْدَهُمْ إِلَّا مَا شَهِدَ بِهِ عَلَى اللَّهِ وَقَطَعَ الْعُذْرُ بِمَجِيئِهِ قَطْعًا وَلَا خلاف فيه

“Para ulama kami (Malikiyah) dan selainnya berselisih pendapat tentang hadis ahad yang adil, apakah ia memberikan kepastian ilmu (keyakinan) dan menjadi dasar pengamalan atau hanya pengamalan saja? Menurut mayoritas ulama ia hanya menentukan amal saja tidak memberikan kesimpulan ilmu pasti. Ini adalah pendapat Syafi’i dan jumhûr Ahli Fiqh dan Teologi. Menurut mereka tidaklah memberikan kepastian ilmu kecuali yang dikuatkan dari Allah dan memutus semua uzur, sebab ia telah datang dari jalur pasti yang tidak diperselisihkan lagi.”[6]

Berdasar keterangan ulama –ulama besar kita di atas, nyatalah bagi kita bahwa bahwa hadits ahad yang bernilai dhanni ini tidak dapat menjadi hujjah dalam bidang akidah. Ketidakhujjahan tersebut dikarenakan kemungkinan adanya kesalahan, kealpaan, pemalsuan bisa saja terjadi, sedangkan akidah sebagaimana dimaklumi dibangun atas dasar keyakinan dan kepastian.[7]

Hadits al-jariah (budak perempuan) di atas adalah hadits ahad

Hadits al-jariah ini sebagaimana telah dikutip di atas merupakan hadits riwayat Imam Muslim melalui jalur ‘Atha’ bin Yasar dari Mu’awiyah bin al-Salamy. Hadits ini tidak diriwayat oleh Imam al-Bukhari. Hadits ini merupakan hadits ahad yang riwayatnya tidak sampai kepada tingkatan mutawatir. Dengan demikian, tingkat kebenaran hadits ini tidak sampai tingkatan keyakinan, tetapi hanya tingkatan dhan saja. Karena itu, sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka hadits ini tidak dapat menjadi hujjah dalam bidang akidah, karena keyakinan dalam bidang akidah harus dibangun berdasarkan dalil yang pasti/yakin, tidak boleh hanya dengan argumentasi yang nilainya hanya dhan saja. Lagi pula hadits ini meskipun shahih sanadnya, tetapi makna dhahirnya bertentangan dengan aqidah yang sudah menjadi ijmak ulama bahwa Allah tidak bertempat dan tidak mempunyai arah sebagaimana telah dijelaskan pada bagian 1 (satu) tulisan ini.

Perlu menjadi catatan kita bahwa hadits al-jariah ini datang dalam kebanyakan  riwayat lainnya dengan mempunyai redaksi yang berbeda dengan riwayat Muslim di atas. Riwayat-riwayat itu antara lain :

1.        Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Ibnu Juraij, ia berkata, Athâ’ mengabarkan kepadaku :

فَسَأَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَشْهَدِينَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ؟ " قَالَتْ: نَعَمْ وَأَنَّ الْمَوْتَ وَالْبَعْثَ حَقٌّ؟ قَالَتْ: نَعَمْ وَأَنَّ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ حَقٌّ؟  قَالَتْ: نَعَمْ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: أَعْتِقْ أَوْ أَمْسِكْ

Artinya : Nabi SAW menanyakan kepada budak perempuan itu, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau beriman bahwa kematian dan kebangkitan setelah kematian haq?” Ia menjawab, “Ya. Nabi SAW  bertanya lagi, ”Apakah engkau beriman bahwa surga dan nereka itu haq?”Ia menjawab, ”Ya.”Maka setelah selesai, Nabi SAW bersabda, “Merdekakan atau tahan dia”[8]

Hadits ini juga telah diriwayat oleh Ahmad bin Hambal dalam Musnad-nya,[9] al-Haitsami mengatakan, hadits riwayat Ahmad ini rijalnya shahih.[10]

2.        Hadits diriwayat dari Abu Hurairah r.a :

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِجَارِيَةٍ سَوْدَاءَ أَعْجَمِيَّةٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ عَلَيَّ عتق رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: " أَيْنَ اللَّهُ؟ " فَأَشَارَتْ بِرَأْسِهَا إِلَى السَّمَاءِ بِأُصْبُعِهَا السَّبَّابَةِ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: " مَنْ أَنَا؟ " فَأَشَارَتْ بِأُصْبُعِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَإِلَى السَّمَاءِ ; أَيْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: " أَعْتِقْهَا".

Artinya : Sesungguhnya seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW dengan seorang budak perempuan hitam ‘ajamiah, dia berkata kepada Rasulullah SAW, : “Ya Rasulullah, sesungguhnya  ada kewajiban atasku memerdekakan  seorang budak perempuan yang beriman.” Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Dimana Allah ?” maka budak itu mengisyaratkan dengan kepalanya ke langit serta telunjuknya. Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan pertanyaan : “Siapa saya ?”, budak itu mengisyaratkan dengan telunjuknya kepada Rasulullah SAW dan kepada langit, maksudnya “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah SAW bersabda : “Merdekakan dia”  [11]

3.        Hadits dari Abu Salamah dari Syarid berkata :

 أتيت النبي صلعم فقلت: إنَّ عَلى أُمِّيْ رَقَبَةً وإنَّ عِنْدِي جارِيَةً سَوْداءَ نُوْبِيَّةً، أَفَتُجْزِئُ عَنْها ؟ قال: أدع بها! فقال: أَتَشْهَدِيْنَ أنْ لا إله إلا اللهُ ؟ قالت: نعم. قال: أَعْتِقْهَا فَإنَّها مُؤْمِنَةٌ!

Artinya : Aku mendatangi Nabi SAW dan berkata, ’Sesungguhnya atas ibuku kewajiban memerdekakan budak sahaya, dan aku punya seorang budak perempuan berkulit hitam dari suku Nubi, apakah ia memadai ? Nabi SAW  bersabda, ’Bawa dia ke mari!’ (setelah ia didatangkan) Nabi SAW bertanya kepadanya, ’Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah? Ia menjawab, ’Ya.’ Maka Nabi SAW bersabda “Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang wanita mukminah)[12]

4.        Dari Syarid ibn Suwaid al-Tsaqafi, ia berkata:

.قلت يا رسول الله ، إنَّ أُمِّي أَوْصَتْ أنْ نُعْتِقَ عَنها رَقَبَةً وعندي جارِيَةٌ سَوْدَاءُ، قال: أُدْعُ بِها! فَجَاءتْ ، فقال: مَنْ رَبُّكَ ؟ قالت: اللهُ. قال: مَنْ أنَا؟ قالت: أنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. قال: أعتقها فإنها مؤمنة

Artinya : ِAku mengatakan : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku berwasiat agar kami memerdekakan budak dan aku punya seorang budak sahaya berkulit hitam. Nabi SAW bersabda, ‘Panggil dia!’ Lalu dia datang, maka Nabi SAW bertanya, ‘Siapa Tuhanmu? Ia berkata, ‘Allah.’ Nabi SAW  bertanya lagi, ‘Siapa aku?’ ia menjawab, ‘Engkau adalah Rasul Allah.’ Nabi SAW bersabda memerintah, ‘Merdekakan dia karena sesungguhnya dia seorang wanita mukminah.’ [13] dan al-Baihaqi[14]

5.        Dari Ibnu Syihab dari Ubaidillah ibn Abdillah ibn Utbah :

أَنَّ رَجُلًا مِنْ الأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم في جَارِيَةٍ لَهُ سَوْدَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ عَلَيَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً، أفأعتق هذه؟ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم: أَتَشْهَدِينَ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ: أَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ: أَتُوقِنِينَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم: فَأَعْتِقْهَا إذًا.

Artinya : Sesungguhnya ada seorang dari Anshar datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa seorang budak berkulit hitam, lalu ia berkata, “Hai Rasulullah, atasku ada kewajiban memerdekakan budak mukmin, apakah aku dapat memerdekakan si ini ?. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan selain Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi SAW melanjutkan, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Ia pun menjawab, “Ya.” Nabi SAW bersabda lagi, “Apakah engkau meyakini adanya kebangkitan setelah kematian?“ Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Merdekakan dia.”[15]

Ibnu Abdil Barr dalam kitab al-Tamhîd, syarah al-Muwaththa’ mengomentari  hadits ini bahwa dhahir riwayatnya adalah mursal, namun didapat dianggap bersambung sebab Ubaidillah berjumpa dengan sejumlah sahabat Nabi SAW.[16]

Dari beberapa hadits ini saja sudah terlihat kepada kita terdapat perbedaan redaksi satu sama lain yang tidak dapat dikompromikan. Dalam hadits riwayat Muslim Nabi SAW menanyakan “dimana Allah” dan budak itu menjawab : “di langit”, sedangkan dalam riwayat Abdurrazaq perkataan“dimana Allah” dan “di langit” tidak ditemui, demikian juga dalam riwayat Malik, al-Darimi, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi, yang ada justru  kesaksian bahwa Tuhan adalah Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah dan seterusnya. Adapun dalam riwayat Ahmad, al-Bazar dan al-Thabrani, dhahirnya budak perempuan tersebut adalah bisu, karena budak itu beberapa kali menjawab pertanyaan Rasulullah SAW dengan isyarat, tidak dengan ucapan langsung.

Pernyataan ahli hadits yang menjelaskan  bahwa hadits al-jariah banyak terjadi perbedaan redaksinya dapat disimak antara lain :

1). Al-Baihaqi mengatakan :

قَدْ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مُقَطَّعًا مِنْ حَدِيثِ الْأَوْزَاعِيِّ وَحَجَّاجٍّ الصَّوَّافِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ دُونَ قِصَّةِ الْجَارِيَةِ، وَأَظُنُّهُ إِنَّمَا تَرَكَهَا مِنَ الْحَدِيثِ لِاخْتِلَافِ الرُّوَاةِ فِي لَفْظِهِ. وَقَدْ ذَكَرْتُ فِي كِتَابِ الظِّهَارِ مِنَ السُّنَنِ مُخَالَفَةَ مَنْ خَالَفَ مُعَاوِيَةَ بْنَ الْحَكَمِ فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ

“Imam Muslim telah meriwayatkannya dengan memotong (tidak keseluruhan)dari hadis  al Auza’i dan Hajâj ash Shawwâf dari Yahya ibn Abi Katsîr tanpa menyebut kisah Jâriyah. Mungkin ia meninggalkan penyebutannya dalam hadis itu disebabkan perselisihan para perawi dalam penukil redaksinya. Dan saya telah menyebutkan dalam kitab al-Sunan pada bab al-Dzihâr perselisihan perawi yang menyelisihi Mu’awiyah ibn Hakam dalam redaksi hadis.”[17]

2). Dalam Kasyf al-Astar disebutkan :

قَالَ الْبَزَّارُ: وَهَذَا قَدْ رُوِيَ نَحْوُهُ بِأَلْفَاظٍ مُخْتَلِفَةٍ.

 “Al-Bazar mengatakan, “Ini (hadits al-jariah) telah diriwayatkan hadits serupa dengannya dengan redaksi yang berbeda-beda.”[18]

3). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam mengomentari hadits al-jariah ini, mengatakan :

وَفِي اللَّفْظِ مُخَالَفَةٌ كَثِيرَةٌ

”Pada redaksinya banyak terjadi perbedaan.” [19]

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat dipahami kalau sebagian ahli hadits menganggap hadits al-jariah di atas adalah muththarib (goyang) matannya, karena datang redaksinya dalam beberapa jalur yang berbeda satu sama lainnya. sedangkan hadits muttharib adalah dha’if. Al-Muhaddits al-Kautsary (Lahir : 1296 H) dan diikuti oleh  Sayyed Hasan al-Saqaf (ahli hadits kontemporer) telah menyebutkan secara tegas bahwa hadits ini muththarib.[20] Al-Muhaddits al-Fazha’i  al-Idhamy al-Syafi’i  (w. 1376 H) menjelaskan kepada kita bahwa redaksi “dimana Allah” dan “di langit” pada hadits jariah tersebut bukanlah ucapan Rasulullah SAW, tetapi hanya merupakan ucapan sebagian perawi (riwayat bil-makna) yang tersalah dalam pengungkapannya. Argumentasi yang dikemukakan al-Idhamy, karena kaum musyrik Arab tidak keluar dari keadaan mereka sebagai orang musyrik, padahal mereka juga mengi’tiqad bahwa Allah di langit. Sesungguhnya yang dapat mengeluarkan mereka dari syirik adalah pengakuan bahwa tiada tuhan selain Allah sebagaimana terdapat dalam riwayat lain mengenai kisah al-jariah ini.[21] Dalil bahwa seseorang tidak terlepas dari syirik sehingga ada pengakuan bahwa tiada tuhan selain Allah adalah hadits Nabi SAW berbunyi :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،

Artinya : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa ilaha illallah [22]

Dalam riwayat lain berbunyi :

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأني رسول الله

Artinya : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka naik saksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. 

Al-Suyuthi mengatakan hadits ini bernilai mutawatir.[23] Al-Munawi juga mengatakan hadits ini mutawatir, karena telah diriwayat oleh lima belas orang sahabat Nabi SAW.[24]

Alhasil hadits al-jariah ini tidak dapat menjadi hujjah, karena hadits ini dha’if menurut sebagian ahli hadits. Kalaupun hadits ini shahih, maka juga tidak dapat menjadi hujjah, karena hadits ini adalah hadits ahad. Hadits ahad meskipun shahih tidak dapat menjadi hujjah dalam bidang akidah sebagaimana telah dijelaskan sebelum ini.

Pemahaman hadits al-jariah yang benar

Seandainya hadits al-jariah ini dapat dijadikan hujjah (sekali lagi seandainya dapat dijadikan hujjah), maka panafsirannya juga tidak sebagaimana dhahir redaksinya sebagaimana dakwaan kaum Mujassimah. Hal ini karena penafsiran secara dhahir bertentangan dengan ijmak ulama yang mengatakan bahwa Allah tidak diliputi oleh tempat dan arah dan demikian juga bertentangan dengan sharih ayat al-Qur’an dan dalil syara’ lainnya sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian (1) tulisan ini. Berikut ini penjelasan para ulama mengenai pengertian hadits ini, antara lain :

1.    Imam an Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, berkata:

هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان: أحدهما : الايمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شئ وتنزيهه عن سمات المخلوقات، والثاني : تأويله بما يليق به ، فمن قال بهذا قال: كان المراد امتحانُها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي إذا دعاه الداعي استقبل السماء كما إذا صلى المصلي استقبل الكعبة وليس ذلك لانه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة، بل ذلك لان السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين، أو هي من عبدة الاوثان العابدين للاوثان التي بين أيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للاوثان.

“Hadis ini termasuk hadis-hadis sifat. Tentangnya ada dua aliran (penafsiran), telah lewat berulang kali keterangan tentangnya dalam Kitabul Iman, Pertama : Mengimaninya tanpa menelusuri maknanya dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala  tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat makhluk. Kedua : menta’wilkannya dengan makna yang layak bagi-Nya. Dan batangsiapa yang mengikuti pendapat ini mengatakan bahwa maksud kandungan hadits ini adalah menguji si budak wanita itu apakah ia mengesakan Allah dengan mengakui bahwa Zat Maha Pencipta, Mengatur semesta alam dan yang Maha Berbuat segala sesuatu adalah hanya Allah? Dan Dialah yang apabila seorang pendo’a memanggil-Nya ia menghadap langit, seperti jika ia shalat menghadap Ka’bah. Yang demikian bukan dikarenakan Allah dibatasi di langit sebagaimana Dia tidak dibatasi di arah Ka’bah, akan tetapi karena langit adalah kiblat para pendo’a sebagaimana ka’bah kiblat shalat, atau dia (budak perempuan itu) adalah penyembah patung yang berada di depan para penyembahnya. Dan ketika ia mengatakan: Dia di langit, Nabi SAW memaklumi bahwa dia seorang yang mengesakan Allah bukan penyembah patung.”[25]

2.      Qadhi ‘Iyadh mengatakan :

 لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقتدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقول الله تعالى ءأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الارض ونحوه ليست على ظاهرها

“Tidak diperselisihkan di antara kaum Muslimin, baik ahli fikih, ahli hadis, para teoloq, ahli pikir dan pengikut di antara mereka bahwa dhahir-dhahir nash yang datang menyebut Allah di langit seperti firman Allah: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang ada di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu?” dan yang semisalnya itu tidak diartikan secara dhahirnya.”[26]

3.      Al-Hafidh Ibnu al-Jauzy dalam mengomentari hadits ini, mengatakan :

.قلت : قد ثبت عند العلماء أن الله تعالى لا تحويه السماء والارض ولا تضمه الاقطار وإنما عرف بإشارتها تعظيم الخالق عندها .

“Aku berkata, ‘Telah tetap di kalangan para ulama bahwa Allah Ta’ala tidak dirangkum oleh langit dan bumi dan tidak pula dihimpun oleh penjuru, akan tetapi dikenali-Nya dengan isyarat budak perempuan itu kearah langit karena pengagungan Zat Maha Pencipta.”[27]

            Jadi, isyarat budak perempuan itu bahwa Allah di langit bukan bermakna sesungguhnya, tetapi hanya sebagai ungkapan pengagungan kepada Allah Ta’ala sebagaimana syair-syair klasik orang-orang Arab telah membuktikan bahwa mereka terbiasa jika hendak mengagungkan sesuatu perkara mensifatinya dengan sesuatu yang tinggi, seperti bait syair yang digubah pujanggga kenamaan Arab di masa jahiliyah, ’Antarah ibn Syaddâ al-Absi:

مقامك في جو السماء مكانه * وباعي قصير عن نوال الكواكب

“Kedudukanmu di awang-awang langit tempatnya * sedangkan lenganku pendek tuk menggapai bintang gemintang.”[28]

Akhthal salah seorang penyair terkenal pada zaman Bani Umayyah juga menggubah bait syair berbunyi:

بنو دارم عند السماء وأنتم * قذى الارض أبعد بينما بين ذلك

”Suku Bani Dârim di langit sedangkan kamu* debu bumi, duhai alangkah jauhnya antara keduanya.”[29]

4.  Imam Taqiyuddin As-Subky membantah Ibnu Zafil yang berpendapat Allah berada di langit, dalam kitabnya al-Saif al-Shaqîl Fi ar Raddi ‘alâ Ibni Zafîl mengatakan :

أقول: أما القول: فقوله صلعم للجارية  "أين الله ؟" قالت: "في السماء" وقد تكلم الناس عليه قديما وحديثا والكلام عليه معروف ولا يقبله ذهن هذا الرجل

“ِAku berkata ‘Adapun ucapannya: Sabda Nabi SAW kepada si budak perempuan, ‘Di mana Allah?’ dan jawabannya, ‘Di langit.’ Ketahulilah bahwa para ulama sejak dahulu hingga sekarang telah banyak membicarakan hadis tersebut. Pembicaraan tentangnya sangat ma’ruf, dan akan orang ini (Ibnu Zafil) tidak menerimanya.”[30]

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hadits al-jariah tersebut tidak boleh ditafsirkan menurut makna dhahirnya, akan tetapi wajib diserahkan maksudnya kepada Allah Ta’ala tanpa menelusuri maknanya dengan mengi’tiqad bahwa Allah maha suci dari mempunyai tempat dan arah (mazhab tafwidh). Atau menafsirkannya sesuai dengan sifat yang layak bagi kemahasucian Allah Ta’ala sebagaimana tafsiran sebagian ulama yang telah kita kemukakan di atas.



[1] Imam Muslim, Shahih Muslim[2] Al-Juwaini, al-Irsyad, Maktabah al-Khaniji, Mesir, Hal. 419

[3] Al-Juwaini, al-Warqaat, (dicetak pada hamisy Hasyiah al-Dimyathi ‘ala Syarah al-Warqaat), Maktabah Raja Murah, Pekalongan, Hal. 19

[4] Zakariya al-Anshari, Ghayatul Wushul, Usaha Keluarga, Semarang, Hal. 97

[5] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. I, Hal. 187-188

[6] Ibnu Abd al-Barr, al-Tamhid[7] Lihat al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. I, Hal. 188

[8] Abdurrazzaq, Mushannaf Abdurrazzaq[9] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal[10] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid[11] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid[12] Al-Darimi, Sunan al-Darimi[13] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban[14] Al-Baihaqi, Sunan al-Kubra[15] Imam al-Malik, al-Muwatha’[16] Ibnu Abd al-Barr, al-Tamhid[17] Al-Baihaqi, al-Asmaa wal-Shifat[18] Al-Haitsami, Kasyf al-Astar

[19] Ibnu Hajar al-Asqalani, Talkish al-Habiir

[20] Hasan al-Saqaf,  Syarah Aqidah al-Thahawiyah,  Dar al-Imam al-Rawas,  Beirut, Hal. 357

[21] Al-Fazha’i  al-Idhamy al-Syafi’i, al-Barahin al- Sathi’ah

[22] Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid[23] Al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir[24] Al-Munawi, Faidhul Qadir[25] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. V, Hal. 33-34

[26] Al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. V, Hal. 34

[27] Ibnu al-Jauzy, Daf’u Syubah, Dar al-Imam al-Rawaas, Beirut, Hal. 189

[28] Al-Khatib al-Tabrizy, Syarah Diwan ’Antarah, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, Hal. 35

[29] Mahdi Muhammad Nashiruddin, Syarah Dewan al-Akhthal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 221

[30] Imam al-Subki, al-Saif al-Shaqîl Fi ar Raddi ‘alâ Ibni Zafîl, Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi, Kairo, Hal. 82-83.

—————————
Sidoarjo, 6 Agustus 2015
Danny Ma'shoum / Nurul Huda Al-Junaydi ( penyusun artikel )

Sunday, August 2, 2015

SYATHOHAT PARA GURU SHUFI

SYATHOHATNYA PARA MAESTRO SHUFI

بسم الله الرحمن الرحيم

Syathohat,  atau dalam bahasa sederhananya adalah isyarat atau aktivitas ( ruhaniyah ), yang ditimbulkan dari celoteh bathin sebagian para shufi yang disebabkan oleh fana'nya mereka kepada Alloh, yang telah memenuhinya dengan Nur Ilahiyah,  sehingga terkadang menyebabkan " salah paham " dalam pandangan awam terutama sebagian fuqoha. Mereka para fuqoha maupun para awam tentang dunia metafisis dari mistik shufi seringkali menjustifikasi dengan label kufur,  gila, dan istilah-istilah negatif lainnya yang disandarkan pada sebagian kaum shufi yang sedang " blank " karena saking mendalamnya rasa cinta kepada Alloh SWT.

Pada kesempatan kali ini,  saya mencoba memberi gambaran agak detail dengan maksud agar " miss perception " dari sebagian orang yang mengingkari ahwal bathiniyah para shufi mulai sedikit mendapat pencerahan logika ataupun nalar,  sekalipun beberapa orang mungkin sulit memahami bahasa celoteh bathin seperti ini,  karena hal ini adalah masalah bahasa rasa,  sugesti, rumus-rumus maupun kelokan-kelokan yang diucapkan oleh sebagian shufi yang mengalami " blank ". Sebagaimana kata Imam Dzin Nun Al-Mishri, salah seorang murid Imam Malik ( pendiri Madzhab Maliki ) yang para ahli tashowwuf menggelarinya sebagai bapak ahli makrifat. Beliau mengatakan dalam salah satu maqolahnya yang amat terkenal :

من لم يذق لم يعرف

" Barang siapa tidak pernah merasai,  maka tidak akan mengerti "

Syathohat,  dalam kitab Mu'jam al-Alfadz Ash-Shufiyah, karya DR. Hasan Asy-Syarqowy, Hal. 182, cetakan pertama tahun 1987, penerbit Mukhtar-Mesir, mengatakan ;

الشطح في لغة العرب بمعنى الحركة,  اى شطح يشطح اذا تحرك وفاض علي جانبيه كالنهر الضيق من حافيته اذا زاد الماء فيه. وكذالك حال المريد اذا زاد وجده، ولم يستطع حمل ما يريد على قلبه من سطوة انوار حقائقه شطح ذلك على لسانه، فيترجم عنه بعبارة غريبة، تستشكل مفهوم السامعين، الا اذا كان المريدين الصادقين، ويكون متبحرا في هذا العلم، وسمى ذلك على لسان اهل الاصطلاح شطحا (¹) اللمع، ص. ٢١٣.

Asy-syath hu,  menurut bahasa arab berarti pergerakan atau aktifitas. Ketika terjadi aktifitas dan menjalar pada segala sisi seperti halnya sungai yang sempit ( yang dibatasi sisinya ) maka akan meluber sampai pada tepinya ketika bertambahnya volume air didalamnya. Begitupula keadaan Murid ( thoriqoh ) ketika bertambah wajd ( mendalamnya rasa cinta kepada Alloh ) nya serta tidak mampu menopang atau membawa apa yang diinginkan hatinya dari pengaruh kendali Nur-nur haqiqot yang bersemayam dalam qolbunya, maka terjadilah aktifitas tersebut pada ucapan lisannya dan menterjemahkannya dengan ungkapan-ungkapan aneh ( ghorib ), yang menimbulkan kemusykilan pemahaman terhadap orang-orang yang mendengarnya. Kecuali jika itu terjadi dari murid-murid yang shodiq, maka jadilah ilmu itu menyamudera. Keadaan ini dalam pandangan ahli istilah dinamakan " Syathohat ( syath hu )". (¹) Al-Luma', Hal. 213 karya Imam Abu Nasr As-Sarroj.

Tokoh-tokoh shufi yang mengalami syathohat semisal Husein Manshur Al-Hallaj,  Abu Yazid Al-Busthomi, Muhyiddin Ibnu Arobi, Umar ibnul Faridh, Maulana Jalaluddin Rumi, At-Tilmitsani adalah sebagian besar tokoh-tokoh yang ucapan nyelenehnya menjadi bahan perdebatan dikalangan fuqoha maupun akademisi pemerhati peradaban shufisme.

Dalam mistisme jawa, diera Wali Songo kita kenal tokoh yang bernama Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang. Di Kalimantan Selatan kita kenal Syeh Abdul Hamid Abulung yang hidup diera Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.  Di sumatera kita kenal penyair mistis Syaikh Hamzah Al-Fanshuri yang memberi corak sendiri dalam ajaran sufistik nya.

Dibawah ini saya tampilkan beberapa ucapan-ucapan sebagian tokoh Shufi dalam syathohatnya ;

1. Husein Manshur Al-Hallaj.

ما في جبة الا الله

" Tiada dibalik jubah ini melainkan Alloh "

2. Abu Yazid Al-Busthomi / Bayazith ( khusus syathohat Abu Yazid ini saya sadur dari kitab ".  ابو يزيد البسطامى، المجموعة الصوفية الكاملة " Abu Yazid Al-Basthomiy,  al Majmuah ash Shufiyyah al Kamilah, Hal. 45, yang ditahqiq oleh Qosim Muhammad Abbas, penerbit Al-Mada,  cetakan pertama tahun 2004, Damaskus-Syiria. Dalam kitab ini ada sekitar 94 syathohat Abu Yazid akan tetapi saya cukupkan beberapa saja,  diantaranya adalah ;

انا اللوح المحفوظ

" Akulah Lauh al mahfudz itu "

انا ربى الاعلى

" Akulah Tuhan Yang Maha Tinggi "

تالله ان لوائى اعظم من لواء محمد صلعم، لوائى من نور تحته الجان والجن والإنس كلهم من النبيين

" Demi Alloh, sesungguhnya pangkat ( panji ) ku lebih agung dari pangkat ( panji ) Muhammad SAW. Panji ku dari cahaya ( Nur ) yang dibawahnya  terdapat golongan Peri, jin dan manusia yang semuanya dari golongan para Nabi ".

بطشى اشد من بطشه بى

" Kekuatanku lebih kuat daripada kekuatanNya padaku "

سبحانى ما اعظم شٱنى

" Maha suci aku, tiada yang lebih agung daripadaku "

طاعتك لى يا رب اعظم من طاعتى لك

" KetaatanMu kepadaku wahai Tuhan, lebih besar daripada ketaatanku kepadaMu "

كنت اطوف حول البيت وٱطلبه، فلما وصلت اليه رايت البيت يطوف حولى

" Aku melakukan thowaf sekeliling Baitulloh dan mencariNya. Maka ketika aku sampai kepadaNya, aku melihat Baitulloh itu thowaf mengelilingiku "

3. Umar ibnul Faridh.

وان خطرت لى في سواك ارادة   على خاطري سهوا قضيت بردتي

" Apabila tergerak dalam hatiku keinginan selainMu sebab kelalaianku,  maka hukumlah aku sebagai hambaMu yang murtad "

Imam As-Suyuthi memecah simbol ucapan Ibnu Faridh ini dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawi,  Jilid 2, Hal. 282, pada Bab Al Fatawi Al Muta'alliqotu Bit Tashowwuf ( ini sudah pernah saya upload pada status Waliyulloh al mastur )

4. Ibnu Aroby.

Banyak syair Ibnu Arabi yang menjebak pembaca awam pada pemahaman yang amat dangkal. Beberapa di antaranya :

يامن يرانى ولا اراه كم ذا أراه ولا يرانى

Aduhai, Dia yang melihatku
dan aku tidak melihat-Nya
Betapa sering aku melihat-Nya
Dan Dia tidak melihatku

Mendengar syair ini mereka marah. Kata mereka : “Bagaimana Tuhan tidak melihat dia. Ibnu Arabi segera menjelaskannya dengan manis:

يا من يرانى مجرما ولا أراه آخذا
كم ذا أراه منعما ولا يرانى لائذا

Aduhai Dia yang melihatku pendosa
Tetapi aku tidak melihat-Nya marah
Betapa sering aku melihat-Nya pemurah
Meski Dia tidak melihat aku minta ampun

Atau syair yang diungkapkannya pada kesempatan yang lain :

فيحمدنى وأحمده ويعبدنى واعبده

Dia memujiku, aku memuji-Nya
Dia mengabdi padaku, aku mengabdi padanya,

Mereka juga marah. Bagaimana mungkin Tuhan menyembah dia. Ibnu Arabi segera menerangkan. Arti “Dia memujiku” adalah Dia senang karena aku taat pada-Nya, dan arti “Dia mengabdi padaku” adalah Dia mengabulkan doaku.

Kesatuan Agama-agama

Pada bagian lain dari buku kompilasi “Tarjuman al Asywaq” ini, kita menemukan pernyataannya yang sering disebut sebagai pandangan “Wahdah al Adyan” (kesatuan agama-agama) dari sang sufi besar ini. Ibnu Arabi menyatakan:

لقد صار قلبى قابلا كل صورة
فمرعى لغزلان ودير لرهبان
وبيت لاوثان وكعبة طا ئف
والاواح توراة ومصحف قرآن
أدين بدين الحب اين توجهت
ركا ئبه فالحب دينى وإيما نى

Hatiku telah siap menyambut
Segala realitas
Padang rumput bagi rusa
Kuil para Rahib

Rumah berhala-berhala
Ka’bah orang tawaf
Sabak-sabak Taurat
Lembaran al Qur’an

Aku mabuk Cinta
Kemanapun Dia bergerak
Di situ aku mencinta
Cinta kepada-Nya
Adalah agama dan keyakinanku.

5. Maulana Jalaluddin Rumi.

Apabila seekor lebah tercelup dalam madu, seluruh anggota tubuh-nya terserap oleh keadaan yang sama, dan ia tidak dapat bergerak. Demikian pula istilah istighraq (terserap dalam Tuhan) digunakan untuk seseorang yang tidak mempunyai kesadaran atau inisiatif ataupun sendiri. Setiap tindakannya bukan miliknya. Apabila ia masih meronta dalam air, atau apabila ia berseru, ”Oh, aku tenggelam,” ia tidak bisa di-katakan berada dalam keadaan terserap. Inilah yang diisyaratkan oleh kata-kata Ana al-Haqq (Aku adalah Tuhan). Orang menganggap itu adalah pernyataan yang sombong, padahal adalah benar-benar sombong pernyataan yang menyatakan Ana al-’abd (Aku adalah hamba Tuhan); dan ”Ana al-Haqq” (Aku adalah Tuhan) adalah sebuah ungkapan kerendahan hati yang sangat dalam. Orang yan menyatakan Ana al-’abd (Aku adalah hamba Tuhan) menegaskan adanya dua wujud, wujudnya sendiri dan wujud Tuhan, sedangkan dia yang menyatakan Ana al-Haqq (Aku adalah Tuhan) membuat dirinya bukan-wujud dan menyerahkan dirinya seraya berseru ”Aku adalah Tuhan,” yakni ”Aku tiada, Dia-lah segalanya: tiada wujud kecuali wujud Tuhan. Inilah ke-rendahan hati dan penghinaan diri yang berlebihan.

Jalaluddin Rumi, Dari Kitab ;Fihi ma Fihi, Hal. 49 ( terjemah ).

6. Syeh Siti Jenar.

Dalam kitab Babad Tanah Pasundan yang ditulis oleh pangeran Sulaiman Sulendraningrat.

" Siti Jenar tidak ada,  yang ada hanya Alloh " dilain waktu dia berkata ," Alloh tidak ada,  yang ada Siti Jenar ".

Saya cukupkan sampai disini dikarenakan masih banyak yang belum saya tulis dari ungkapan tokoh-tokoh lainnya.
Sekarang mari kita telusuri sebab yang melatar belakangi timbulnya ungkapan-ungkapan syathohat yang keluar melalui lisan sebagian para Ahlulloh ini.

MATILAH SEBELUM ENGKAU MATI

Pengertian " Matilah sebelum engkau mati " adalah sebuah pengertian dari salah satu jalan untuk musyahadah ( penyaksikan ) kepada Alloh, yaitu melalui mati. Tapi mati disini bukan matinya jasad ketika terpisah dengan roh, tapi matinya nafsu, sebagaimana sabda Nabi SAW ;

موتوا قبل ان تموتوا

" Rasakanlah mati sebelum engkau mati ".

dalam kitab Al-Hikam, Abu Ma'jam berkata :

من لم يمت لم ير الحق

" Barang siapa tidak merasakan mati, maka ia tidak dapat merasakan ( melihat atau musyahadah ) dengan Al-Haqqu Ta'ala ".

jadi yang dimaksud mati disini adalah hidupnya hati karena matinya nafsu. Dan hati ( bashiroh ) akan hidup pada saat matinya nafsu.

Imam Abul Abbas Al-Mursy dalam kitab Al-Hikam berkata :

لا يدخل على الله الا بابين : من باب الفناء الاكبر، وهو الموت الطبيعى ، ومن باب الفناء الذي تعنيه هذه الطائفة

" Tiada jalan masuk / musyahadah dengan Alloh kecuali melalui dua pintu, dan salah satu dari dua pintu itu ialah pintu " Fana'ul akbar " yaitu mati thobi'i. Dan merupakan setengah daripada pintu fana' menurut pengertian ahli Tashowwuf ".

Adapun pengertian matinya nafsu untuk hidupnya hati dalam musyahadah dapat ditempuh pada 4 tingkat :

(1). MATI THOBI'I.

Menurut sebagian para ahli thoriqoh, bahwa mati thobi'i terjadi dengan karunia Alloh pada saat dzikir qolbi dan dzikir lathoif ( dzikir-dzikir ini biasanya sesuai anjuran Mursyid Thoriqoh ), serta mati Thobi'i ini merupakan pintu pertama musyahadah dengan Alloh. Pintu pertama ini dilalui pada saat seorang salik dalam melakukan dzikir qolbi dalam dzikir lathoif. Maka dengan karunia Alloh ia fana' atau lenyap pendengarannya secara lahir dimana telinga batin mendengar bunyi " Alloh..Alloh..Alloh..". Pada tingkat ini, dzikir qolbi pada mulanya hati berdzikir, kemudian dari hati naik kemulut dimana lidah berdzikir dengan sendirinya. Dan dalam kondisi seperti ini alam perasaan mulai hilang atau mati thobi'i. Pada saat-saat seperti ini akal pikiran mulai tidak berjalan lagi, melainkan terjadi sebagai ilham yang tiba-tiba Nur Ilahi terbit dalam hati muhadhoroh ( berdialog ) hati dengan Alloh, sehingga telinga bathin mendengar

انني انا الله

" Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh " yang bunyi ini naik kemulut dimana lidah bergerak sendiri mengucapkan " Alloh..Alloh..Alloh..". Dalam tingkatan-tingkatan bathin seperti ini, salik telah mulai memasuki pintu fana' pertama, yang dinamakan Fana' fil af'al dan Tajalli fil af'al dimana gerak dan diam adalah pada Alloh .

لا فاعل الا الله

" Tiada fail ( yang gerak dan diam ) kecuali Alloh ".

(2). MATI MAKNAWI.

Menurut sebagian ahli Thoriqoh, bahwa " Mati Maknawi " ini terjadi dengan karunia dari Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatur-Ruh dalam dzikir lathif. Terjadinya itu adalah sebagai ilham yang dimana secara tiba-tiba Nur Ilahiy terbit dalam hati. Ketika itu penglihatan secara lahir menjadi lenyap dan mata bathin menguasai penglihatan ( Bashirohnya mendominasi penglihatan ). Dzikir " Alloh....Alloh..Alloh.." pada tingkat ini semakin meresap terus pada diri dimana dzikir mulai terasa panasnya disekujur tubuh dan disetiap bulu roma di badan. Dalam kondisi seperti ini, perasaan ke-insanan tercengang, bimbang, semua persendian gemetar, bisa juga terus pingsan. Sifat keinsanan lebur diliputi sifat Ketuhanan.
Dalam tingkat ini, salik telah memasuki fana' ke-dua yang dinamakan " Fana' fis Shifat / Tajalli fis sifat ". Sifat kebaharuan dan kekurangan serta alam perasaan lenyap atau fana' dan yang tinggal adalah sifat Tuhan yang sempurna dan azali.

قوله ، لا حيّ إلا الله

" Tiada hidup selain Alloh ".

(3). MATI SURI.

Pada tingkat selanjutnya adalah " Mati Suri ". Mati suri ini terjadi dengan karunia Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatus Sirri dalam dzikir lathoif. Pada tingkat ke-tiga ini, seseorang atau salik telah memasuki pintu Musyahadah dengan Alloh. Ketika itu segala ke-insanan lenyap atau fana', alam wujud yang gelap ( ظلمة ) telah ditelan oleh alam ghaib atau malakut ( عالم الملكوت ) yang penuh dengan Nur Cahaya. Dalam pada ini, yang Baqo' adalah Nurulloh semata, Nur Af'alulloh, Nur Shifatulloh, Nur Asmaulloh, Nur Dzatulloh atau Nurun 'ala Nuur.
Sebagaimana firman Alloh ;

....نور على نور يهدى الله لنوره من يشاء....

" Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki.." [ Suroh An-Nur, ayat 35 ]

لا محمود إلا الله

" Tiada yang dipuji melainkan Alloh ".

(4). MATI HISSI.

Selanjutnya ialah Mati Hissi. Mati Hissi ini terjadi dengan karunia Alloh pada saat seseorang atau salik melakukan dzikir Lathifatul Hafi dalam dzikir lathoif. Pada tingkat ke-empat ini, seseorang atau salik telah sampai ketingkat yang lebih tinggi untuk mencapai ma'rifah ( Ma'rifat Billah ) sebagai maqom tertinggi.
Dalam pada ini, lenyap ( fana' ) sudah segala sifat-sifat keinsanan yang baharu dan yang tinggal adalah sifat-sifat Tuhan yang qodim atau azali. Ketika itu menanjaklah bathin keinsanan lebur kedalam keBaqo'an Alloh Yang Qodim atau bersatunya 'Abid dan Ma'bud ( yang menyembah dan Yang Di Sembah ). Dalam tingkat puncak tertinggi ini, seseorang atau salik telah mengalami keadaan yang tak pernah sama sekali dilihat oleh mata, didengar oleh telinga maupun tak sama sekalipun terbersit dalam hati sanubari manusia dan tidak mungkin dapat disifati. Tetapi akan mengerti sendiri bagi siapa saja yang telah merasakan sendiri, sebagaimana kata sufi agung Dzin Nun Al-Mishri ;

من لم يذق لم يعرف

" Siapa saja yang tidak pernah merasakan maka tidak akan mengerti ".

Untuk bisa mencapai keadaan Musyahadah seperti tersebut diatas ( tahapan-tahapan diatas ) adalah dengan jalan mujahadah, karena siapa saja yang menghiasi lahiriyahnya dengan mujahadah maka Alloh akan memperbaiki sirr atau hatinya dengan mujahadah.

——————

PEMBAGIAN TAJALLI KETIKA FANA' MENURUT KITAB INSANUL KAMIL IMAM ABDUL KARIM AL-JILLI

√. Tingkat Ke-1 : TAJALLI AF-'AL

تجلى سبحانه وتعالى في افعاله عبارة عن مشهد يرى فيه العبد جريان القدرة في الأشياء فيشهده سبحانه وتعالى محركها ومسكنها ينفي الفعل عن العبد واثباته للحق

" Tajallinya Alloh SWT dalam Af-'alnya, ialah ibarat penglihatan dimaba seorang hamba Alloh melihat padanya berlaku Qudrot Alloh pada sesuatu. Ketika itu, ia melihat Tuhan, maka tiadalah fiil ( perbuatan ) lagi bagi hamba. Gerak dan diam serta itsbat ( ketetapan ) adalah bagi Alloh semata ".

Jadi Tajalli Af'al ialah nafinya atau lenyapnya fiil ( perbuatan ) daripada seseorang hamba dan itsbatnya yang ada ialah Fiil Alloh semata. Sebagaimana firman Alloh ;

(وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ) [Surat As-Saaffat : 96]

" Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".

لا فاعل الا الله  ( Tiada fiil / perbuatan kecuali Alloh )

√. Tingkat Ke-2 : TAJALLI ASMA'

من تجلى له سبحانه وتعالى من حيث اسمه الظاهر فكشف له عن سر ظهور النور الالهى في كثائف المحدثات ليكون طريقا الى معرفة ان الله هو الظاهر ، فعند ذلك تجلى له بانه الظاهر ، فبطن العبد ببطون فناء الخلق في ظهور وجود الحق .

" Siapapun baginya Tajalli Alloh SWT dari segi Asma-Nya yang disebut, maka terbukalah baginya dari nampaknya Nur Ilahiy dalam keadaan biasa, maksudnya adalah agar ia mendapatkan jalan kepada Makrifat, bahwa sesungguhnya Alloh adalah Yang Nyata ( terlihat ). Maka pada saat itu Tajallilah Alloh baginya, karena sesungguhnya Alloh adalah Adz-Dzhohir. Dan ketika itu bertempatlah hamba pada tempat yang bathin ( tidak tampak ) karena fana' / leburnya sifat-sifat kebaharuannya ketika nampaknya Wujud Al-Haqqu Ta'alaa yang Qodim ".

Jadi Tajalli Asma' adalah fana'nya hamba daripada dirinya sendiri dan bebasnya hamba dari genggaman sifat-sifat kebaharuan dan lepasnya ikatan dari dirinya atau tubuh kasarnya. Ketika itu ia fana' dalam Baqo'nya Alloh karena sucinya ia dari sifat-sifat kebaharuan. Bahwa sesungguhnya Tajalli Asma' sebenarnya tiada yang dilihat kecuali Dzatusshorfi dan bukannya melihat Asma'. Dalam hal ini bisa diambil perumpamaan sebagai berikut :

(وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ) [Surat Al-Araf : 143]

" Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

مثال ذلك بقوله تعالى : لن ترانى يا موسى يعنى لانك اذا كنت موجودا فانا مفقود عنك ، وان وجدتنى فانا مفقود . ولا يمكن للحادث ان يثبت عند ظهور القديم ، وعند ذلك ، فعدم موسى وصار العبد كأن لم يكن ويبقى الحق كأن لم يزل .

Perumpamaan untuk itu ialah dengan firmana Alloh kepada Nabi Musa, " Kamu tidak dapat melihat Aku ( لن ترانى ) " , artinya bahwa sesungguhnya kamu Musa, selama kamu admma pada dirimu, maka Aku ( Alloh ) sirna ( tak terlihat ) dari pandanganmu Musa. Dan ketika kamu melihat Aku, maka ketika itu engkaupun tiada ( fana' ) ". Tidaklah mungkin bagi yang baharu ada ketika nampaknya yang Qodim. Jadi pengertiannya adalah, " Maka dengan fana'nya Musa , jadilah ia bersifat tiada, dan Baqo'lah Alloh yang bersifat kekal.

√. Tingkat Ke-3 : TAJALLI SIFAT

تجلى الصفات ، عبارة عن قبول ذات العبد الأتصاف بصفات الرب قبولا اصليا حكميا قطعيا .

" Tajalli Sifat adalah ibarat penerimaan tubuh seorang hamba Alloh berlaku sifat dengan sifat-sifat Ketuhanan, suatu penerimaan asli dan ketentuan pasti ".

Artinya, manakala Alloh SWT menghendaki terjadinya Tajalli atas hambanya dengan namaNya atau sifatNya, maka dalam keadaan itu lenyaplah ( Fana' ) seorang hamba dari dirinya dan ketika itu berubahlah daripada wujudnya. Manakala telah hilang cahaya keinsanannya dan telah fana' ruh kebaharuannya, disitulah Al-Haqqu Ta'ala mengambil tempat pada hambanya tanpa hulul daripada Dzat-Nya sebagai ganti dari perubahan hamba itu dari wujudnya, karena sebenarnya Tajallinya Alloh itu terhadap hambanya adalah sebagai karunia dari Alloh semata.

√. Tingkat Ke-4 : TAJALLI DZAT

Tajjali ketika Fana' fiDzzat adalah sebagai tingkatan paling puncak atau tertinggi,

لا موجود علي الاطلاق الا الله

" Tiada wujud secara muthlaq melainkan Alloh ".

Sebelum pada pengertian ta'rif dari Tajalli Dzat saya berikan sedikit uraian agar lebih mudah dipahami.

Pada fana' tingkat ini ( Tajalli Dzat ) seseorang akan memperoleh perasaan batin pada suatu keadaan yang tak berarah, tidak ada lagi kanan atau kiri, depan atau belakang, atas atau bawah. Intinya ia berada pada suatu keadaan tak terbatas dan tak bertepi. Dan dalam keadaan ini juga seseorang yang fana' fi Dzat mencapai derajat " Syuhudul Haqqi bil Haqqi ", dia telah lenyap dari dirinya sendiri dan dalam situasi ia hanya berada dalam baqo'nya Alloh semata, atau sebagai kesimpulannya bahwa ia telah hancur lebur kecuali wujud yang muthlaq, yaitu wujudulloh.
Adapun hikmah dari fana tingkat ini , adalah pengakuan atas ke Esa an Alloh dengan semurni-murninya, bukan sekedar pengakuan atas ke Esa an dengan ucapan syahadat, dalil-dalil atau pendapat-pendapat akal saja, dan pengakuan secara murni ini hanya dapat disaksikan dengan kemakrifatan saja.
Abu Manshur Husein Al Hallaj, mengatakan dalam syairnya;

قلوب العاوفين لها عيون, ما لا يرى للناظرين

" Hatinya orang 'Arif itu mempunyai mata memandang, matanya itu dapat melihat apa yang tak dapat dilihat pandangan mata biasa ".

كان الله ولا شيئ معه وهو الآن على ما عليه كان

" Adalah wujud Alloh itu baqo' dan tidak ada sesuatupun besertanya, Alloh tetap pada wujudnya sebagaimana keadaannya kekal semula ".

Maka mencapai makrifah billah dengan jalan akal pikiran itu mustahil, para Ahlut Tashowwuf berkata ;

وللعقول حدود لا تجاوزها, والعجز عن الادراك ادراك

" Bagi jalan pikiran itu terbatas, maka dengan jalan pikiran tidaklah Dia bisa dicapai, bila telah mengakui kelemahan diri untuk mencapai Dia, itulah tandanya Dia sudah dicapai ".

Didalam Al-Quran sudah diisyaratkan oleh Alloh untuk mencapai puncak fana' fidz Dzat tersebut, coba kita perhatikan rahasia yang diisyaratkan dari ayat ini ;

(كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ) [Surat Ar-Rahman : 26]

" Semua yang ada di bumi itu akan binasa ". Dan ayat selanjutnya ;

(وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ) [Surat Ar-Rahman : 27]

" Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan ".

Kemudian kita perhatikan bagaimana nabi Musa bermunajat kepada Alloh dengan kata-katanya yang masyhur dikalangan para Sufi dalam menuju kefana'an ;

قال موسى عليه السلام : يا رب كيف اصل اليك ؟ قال عز وجل : فارق نفسك وتعال

Nabi Musa berkata kepada Alloh ," Wahai Alloh, bagaimana agar aku sampai kepadaMu. Alloh ' azza wa jalla menjawab ," Tinggalkan ( lenyapkan ) dirimu hai Musa, baru datanglah kepadaKu ".

Apa yang diucapkan Nabi Musa tersebut adalah sebuah permintaannya kepada Alloh agar Alloh " menampakkan Diri " dihadapannya, sebagaimana yang dituturkan pada ayat ;

(وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ) [Surat Al-Araf : 143]

" Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

Sebagai catatan akhir tentang Fana' Fi-Dzat sebagaimana disebutkan dalam kitab Insanul Kamil :

فاعلم ان الذات عبارة عمن كانت اللطيفة الالهية اذا تجلى علي عبده وافناه عن نفسه قام فيه اللطيفة الالهية فتلك اللطيفة قد تكون ذاتيةً وقد تكون صفاتيةً فاذا كانت ذاتية كان ذلك الهيكل الانساني هو الفرد الكامل

" Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Dzat itu adalah ibarat dimana bertempat anugerah Ketuhanan. Ketika Alloh menghendaki terjadinya Tajalli ( penjelmaan ) atas hambaNya, dimana hambaNya telah mem fana' kan dari dirinya sendiri, maka bertempatlah hamba itu pada Karunia Ketuhanan. Demikianlah karunia itu, adakalanya sebagai karunia Dzat dan adakalanya karunia Sifat. Apabila terjadi karunia Dzat, maka disitulah terjadi " Tunggal Yang Kamil / Sempurna ". Maka dengan fana'nya diri hamba maka yang tinggal adalah yang Baqo' atau Dzatulloh. Dan dalam keadaan ini hamba telah berada pada situasi " Maa siwalloh " ( tiada apapun selain Alloh ) yaitu pada wujud Alloh semata ".

Disinilah pengertian dari Fana' fiDzzat sebagai tingkatan paling puncak atau tertinggi,

لا موجود علي الاطلاق الا الله

" Tiada wujud secara muthlaq melainkan Alloh ".

Wallohu a'lam Bis showab.

——————
Sidoarjo, 3 Agustus 2015
Danny Ma'shoum

Sunday, July 19, 2015

TEMPAT DIATAS 'ARSY

PENJELASAN TIDAK TERCEGAH SECARA SYARI'AT DAN AKAL BAHWA DI ATAS 'ARSY TERDAPAT TEMPAT

 

Sebagian orang kaum Mujassimah di masa sekarang (yaitu golongan Wahhabiyyah) menyebarkan pemahaman menyesatkan dengan mengatakan bahwa di atas arsy tidak ada tempat. Mereka berkata bahwa tempat hanya ada di bawah arsy saja. Dalam mengelabui orang-orang awam mereka berkata: “Allah berada di atas arsy, dan di atas arsy tidak ada tempat”, kadang mereka juga berkata: “Allah berada di atas arsy tanpa tempat”. Ini adalah perkataan yang tidak memiliki dalil sama sekali, karena tidak tercegah secara syari’at dan secara akal bahwa di atas arsy terdapat tempat.

Dalil bahwa di atas arsy terdapat tempat adalah hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: -(berikut ini redaksi dalam Shahîh al-Bukhâri)-

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ ، ثنا الْكَثِيرِيُّ ، ثنا إِسْمَاعِيلُ ، عَنْ مَالِكٍ ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنِ الأَعْرَجِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : 
"لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ : إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَب"

“Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya Ia menuliskan (ketetapan) dalam sebuah kitab yang kitab tersebut berada di atas arsy: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku”.
[Shahih al-Bukhari, Kitab Bad’ul Khalq. Shahih Muslim, Kitab at Taubah, Bab Sa’at Ramatillah]

 

Dalam riwayat lain dalam redaksi al-Bukhari:

حدثنا عبدان عن أبي حمزة عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لما خلق الله الخلق كتب في كتابه وهو يكتب على نفسه وهو وضع عنده على العرشإن رحمتي تغلب غضبي
[صحيح البخاري فى كتاب التوحيد. نمرة الحديث 6969]

“Dan kitab tersebut diletakan di atas: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku”95.
[Shahih al-Bukhari, Kitab at Tauhid. No. 6969]
 

Al-Hâfizh Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata:

قوله : كتب في كتابه وهو يكتب على نفسه ) كذا لأبي ذر وسقطت الواو لغيره ، وعلى الأول فالجملة حالية ، وعلى الثاني فيكتب على نفسه بيان لقوله " كتب " والمكتوب هو قوله " إن رحمتي " إلخ ، وقوله " وهو " أي المكتوب
[(وضع بفتح فسكون أي موضوع ، ووقع كذلك في الجمع للحميدي بلفظ موضوع وهي رواية الإسماعيلي)]
 فيما أخرجه من وجه آخر عن أبي حمزةالمذكور في السند وهو بالمهملة والزاي واسمه محمد بن ميمون السكري ، وحكى عياض عن رواية أبي ذر وضع بالفتح على أنه فعل ماض مبني للفاعل ، ورأيته في نسخة معتمدة بكسر الضاد مع التنوين ، وقد مضى شرح هذا الحديث في أوائل بدء الخلق ، ويأتي شيء من الكلام عليه في باب وكان عرشه على الماء وفي باب بل هو قرآن مجيد في لوح محفوظ أواخر الكتاب إن شاء الله تعالى ، وأما قوله " عنده " فقال ابن بطال : عند في اللغة للمكان ، والله منزه عن الحلول في المواضع ؛ لأن الحلول عرض يفنى وهو حادث والحادث لا يليق بالله ، فعلى هذا قيل معناه إنه سبق علمه بإثابة من يعمل بطاعته وعقوبة من يعمل بمعصيته ، ويؤيده قوله في الحديث الذي بعده أنا عند ظن عبدي بي ولا مكان هناك قطعا ، وقال الراغب عند لفظ موضوع للقرب ويستعمل في المكان وهو الأصل ، ويستعمل في الاعتقاد ، تقول : عندي في كذا كذا أي أعتقده ، ويستعمل في المرتبة ومنه أحياء عند ربهم وأما قوله إن كان هذا هو الحق من عندك فمعناه من حكمك ، وقال ابن التين معنى العندية في هذا الحديث العلم بأنه موضوع على العرش ، وأما كتبه فليس للاستعانة لئلا ينساه فإنه منزه عن ذلك لا يخفى عنه شيء وإنما كتبه من أجل الملائكة الموكلين بالمكلفين . 

“Kata “wadl’un” dengan fat-hah kemudian sukûn, artinya “mawdlû’un” (artinya; diletakan). Hadits seperti ini juga ada dalam kitab “al-Jama’” karya al-Humaidi, yaitu dengan redaksi “maudlû’un” yaitu dalam riwayat al-Isma’ili”.
[Fath al Bari, j. 13, h. 385]

 

Sementara dalam riwayat Ibn Hibban dengan radaksi berikut:
 
وهو مرفوع على العرش

“Kitab tersebut terangkat di atas arsy”.
[Al Ihsan Bi Tartib Shahih ibn Hibban, j. 6-8, h. 5]

Dari sini kita katakan; Seandainya di atas arsy tidak ada tempat maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan bahwa kitab tersebut berada dan ditempatkan di atas arsy.

Adapun takwil sebagian orang yang mengatakan bahwa kata “fawq” dalam redaksi hadits di atas dalam pemahaman “dûna” (artinya; di bawah) dengan alasan bahwa dalam bahasa Arab penggunaan kata “fawq” terkadang untuk memberikan pemahaman makna “dûna” ; maka pendapat menyesatkan ini tertolak dengan hadits riwayat Ibn Hibban yang secara jelas menetapkan bahwa kitab tersebut benar-benar di atas arsy, lihat redaksi berikut:

“Kitab tersebut terangkat di atas arsy”

Dengan demikian takwil kata “fawq” dengan “dûna” dalam hadits ini adalah takwil batil, salah dan menyesatkan. Redaksi Ibn Hibban di atas yang menggunakan kata “marfû’” secara jelas membantah pemahaman takwil semacam itu. Demikian pula riwayat al-Bukhari yang telah kita kutip di atas dengan redaksi “wadl’un” , yang artinya “mawdlû’un” (diletakan) juga membantah pemahaman takwil yang menyesatkan tersebut.

 
Di sini kita katakan kepada mereka: Sesungguhnya memberlakukan takwil terhadap suatu teks itu hanya dilakukan ketika benar -benar dibutuhkan karena tuntutan dalil akal atau karena tuntutan dalil naqliy yang shahih (yang secara zahir berseberangan dengan teks tersebut) sebagaimana kaedah ini telah ditetapkan oleh para ulama Ushul, mereka berkata: “Memberlakukan metode takwil dengan tanpa didasarkan kepada alasan tersebut maka akan menjadikan setiap teks itu sia-sia belaka, padahal teks-teks syari’at itu harus dihindarkan dari kesia-siaan”.

Al-‘Allâmah al-Faqîh al-Muhaddits asy-Syaikh Abdullah al-Harari berkata:

قال العلامة الفقيه المحدّث الشيخ عبد الله الهرري ما نصه (صريح البيان في الرد على من خالف القرءان: ص62) "وأما معنى "عنده" المذكور في الحديث فهو للتشريف كما في قوله تعالى {في مقعد صدق عند مليك مقتدر} [سورة القمر/55]، وقد أثبت اللغويون أن "عند" تأتي لغير الحيّز والمكان، فكلمة "عند" في هذا الحديث لتشريف ذلك المكان الذي فيه الكتاب" اهـ.

“Adapun makna kata “’Indahu” yang disebutkan dalam redaksi hadits tersebut maka itu untuk tujuan pemuliaan (Li at-tasyrîf), seperti pemahaman dalam firman Allah:

“(Bahwa orang bertaqwa) di tempatkan di tempat yang baik (menyenangkan) yaitu ditempat yang dimuliakan oleh Allah yang maha agung (yaitu surga)”. (QS. Al Qamar: 55). Lalu para ahli bahasa (al Laughawiyyûn) telah menetapkan bahwa kata “’inda” biasa digunakan bukan untuk tujuan arah dan tempat, dengan demikian kata “’inda” dalam hadits ini untuk tujuan memuliakan bagi tempat di mana kitab tersebut berada”.
[Sharih al Bayan Fi ar Radd ‘Ala Man Khalaf al-Qur’an, h. 62]
 

Al-Hâfizh al-Muhaddits Waliyyuddin Abu Zur’ah Ahmad ibn Abdirrahim al ‘Iraqi (w 826 H) berkata:

وقال الحافظ المحدث ولي الدين أبو زرعة أحمد بن عبد الرحيم العراقي (826 هـ) ما نصه (12): "وقوله أي النبي- "فهو عنده فوق العرش "لا بد من تأويل ظاهر لفظة"عنده " لأن معناها حضرة الشىء والله تعالى منزه عن الاستقرار والتحيز والجهة، فالعندية ليست من حضرة المكان بل من حضرة الشرف، أي وضع ذلك الكتاب في محل مُعظّم عنده " ا.هـ.

“Sabda nabi “Fahuwa Mawdlû’un ‘Indahu Fawq al-‘Arsy” mestilah membutuhkan kepada takwil yang nyata dalam kata “’indahu”, karena makna zahirnya untuk mengungkapkan tempat bagi sesuatu, padahal Allah maha suci dari bertempat dan memiliki arah. Maka kata “’indahu” di sini bukan dalam pengertian tempat, tetapi untuk menunjukan kemuliaan, artinya bahwa kitab tersebut diletakan di tempat yang dimuliakan oleh Allah”.
[Tharh at Tatsrib; Kitab al Qadla’ Wa ad Da’awa , j. 8, h. 84]

Sidoarjo. 19 juli 2015

Nurul Huda Al-Junaydi / Danny Ma'shoum

Wednesday, July 1, 2015

HAKEKAT NUR MUHAMMAD SAW

Nur Muhammad Berikut ini beberapa penjelasan tentang Nur Muhammad yang kami kutip dari beberapa kitab karya ulama, yakni : 1.        Syaikh Khalid al-Azhari mengatakan : “Sesungguhnya segala tanda-tanda kenabian yang didatangkan dengannya oleh para rasul sesungguhnya berhubung dengan mereka dari pada Nur Nabi Muhammad SAW, karena Nur Nabi SAW telah dicipta terdahulu dari pada mereka[1] 2.      Ibrahim al-Bajury berkata : “Jika dikatakan bagaimana dapat dikatakan mukjizat yang didatangkan oleh para rasul yang mulia kepada umat-umat mereka adalah dari pada Nur Nabi Muhammad SAW, sedangkan para nabi tersebut adalah lebih dahulu ada ? Maka jawabannya ialah Junjungan Nabi SAW adalah terlebih dahulu wujudnya atas segala nabi tersebut yakni dari segi kejadian an-Nur al- Muhammady.”[2] 3.      Imam al-Barzanji berkata dalam sya’ir Maulid al-Nabawy : وأصلي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأولية Artinya : Dan aku mohon rahmat Allah dan kesejahteraan-Nya atas nur yang disifati dengan terdahulu dan yang pertama.[3]             4.      An-Nawawi al-Bantany, dalam mensyarah perkataan al-auwaliyah(perkataan al-Barzanji dalam sya’ir Maulid al-Nabawy di atas) mengatakan : “Keadaan nur itu yang pertama adalah dibandingkan makhluk lainnya, sebagaimana dalam hadits Jabir, beliau bertanya kepada Rasulullah SAW makhluk pertama yang diciptakan Allah Ta’ala, Rasulullah SAW bersabda : ان الله خلق قبل الأشياء نور نبيك فجعل ذالك النور يدور بالقدرة حيث شاء الله ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار ولا ملك ولا انس ولا جن ولا أرض ولا سماء  ولا شمس ولا قمر Artinya :  Sesungguhnya Allah telah mencipta, sebelum adanya sesuatu, nur nabimu, maka dijadikan nur tersebut beredar dengan kekuasaan qudrahNya menurut yang dikehendaki Allah. Dan belum ada pada waktu itu luh, qalam, syurga, neraka, malaikat, manusia, jin, bumi, langit, matahari dan bulan.[4] Komentar penulis : Ini merupakan hadits Jabir riwayat Abdur Razzaq yang ditolak oleh al-Suyuthi sebagaimana keterangan setelah ini. Matannya menyerupai ini telah disebut oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail dengan menyebutkannya sebagai riwayat Abdur Razzaq dari Jabir.[5] 5.      Ditanyai Ibnu Hajar al-Haitamy, semoga Allah memberi manfaat kepadanya, siapakah yang meriwayat hadits  : أول ما خلق الله روحي والعالم بأسره من نوري كل شيء يرجع إلى أصله Artinya :  Yang pertama diciptakan Allah adalah ruhku dan alam keseluruhannya dicipta daripada nurku, setiap sesuatu kembali kepada asalnya Maka beliau menjawab :  "Aku tidak mengetahui siapa yang meriwayatkannya sedemikian. Dan Sesungguhnya yang diriwayat oleh Abdur Razzaq adalah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : إن الله خلق نور محمد قبل الأشياء من نوره Artinya : Sesungguhnya Allah telah mencipta Nur Muhammad sebelum segala sesuatu dari pada Nur-Nya.[6] Hadits riwayat Abdur Razzaq ini juga telah disebut oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitab beliau, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail [7] dan kitab al-Ni’mah al-Kubra ‘ala al-Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam.[8] 6.      Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi dalam kitabnya, Daqaiq al-Akhbar mengatakan : “ Sesungguhnya telah datang khabar bahwa Allah Ta’ala menciptakan pohon dengan empat cabang. Allah Ta’ala menamakannya Syajaratulyaqin. Kemudian dalam hijab, Allah menciptakan Nur Muhammad dari permata putih seperti bentuk burung Merak dan Allah meletakkannya di atas pohon tersebut. Nur Muhammad bertasbih di atasnya selama tujuh puluh ribu tahun. Kemudian Allah Ta’ala menciptakan mar-atul haya’ (cermin malu) dan meletakkannya di hadapan Nur Muhammad. Manakala burung merak (Nur Muhammad) melihat cermin, dia melihat bentuknya yang cantik da sangat bagus, maka dia malu kepada Allah dan berkeringat karenanya. Maka muncullah enam keringat darinya. Dari keringat pertama, Allah Ta’ala menciptakan Abu Bakar r.a., dari keringat kedua Allah menciptakan Umar r.a., dari keringat ketiga Allah menciptakan Usman r.a., dari keringat keempat Allah menciptakan Ali r.a., dari keringat kelima Allah menciptakan bunga dan dari keringat keenam Allah menciptakan gandum………….dst”[9] Komentar penulis :Hadits ini bertentangan dengan pemahaman bahwa Nur Muhammad merupakan makhluq yang pertama, karena berdasarkan kandungan hadits ini ada makhluq lain sebelum Nur Muhammad, yakni pohon Syajaratulyaqin dan permata putih.Hadits ini disebut tanpa perawi dan sanadnya. 7.      Al-Suyuthi, salah seorang ulama besar dalam Mazhab Syafi’i ditanyai mengenai hadits penciptaan Nur Muhammad, yaitu hadits berbunyi : أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ نُورَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَزَّأَهُ أَرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ فَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الْأَوَّلِ الْعَرْشَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّانِي الْقَلَمَ، وَخَلَقَ مِنَ الثَّالِثِ اللَّوْحَ، ثُمَّ قَسَّمَ الْجُزْءَ الرَّابِعَ وَجَزَّأَهُ أَرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الْأَوَّلِ الْعَقْلَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّانِي الْمَعْرِفَةَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّالِثِ نُورَ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَنُورَ الْأَبْصَارِ وَنُورَ النَّهَارِ، وَجَعَلَ الْجُزْءَ الرَّابِعَ تَحْتَ سَاقِ الْعَرْشِ مَدْخُورًا Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadi Nur Muhammad SAW, maka membagikannya menjadi empat bagian. Allah menjadikan Arasy dari bagian pertama, menjadikan qalam dari bagian kedua dan menjadikan luh dari bagian ketiga. Kemudian membagikan bagian yang keempat dalam empat bagian, menjadikan akal dari bagian pertama, menjadikan ma’rifah dari bagian kedua, menjadikan cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya abshar (penglihatan) dan cahaya siang hari dari bagian ketiga dan menjadikan dari bagian yang keempat tersimpan di bawah penyangga Arasy. Beliau menjawab : “Hadits yang disebut dalam pertanyaan, tidak ada sanadnya yang dapat dijadikan pegangan.”[10] Dalam kitab Quut al-Mughtazi ‘ala Jami’ al-Turmidzi, al-Suyuthi berkomentar tentang hadits yang berbunyi : إن اول ما خلق الله نوري Artinya : Sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah adalah nur aku. beliau mengatakan, hadits ini tidak datang dengan ini lafazh, maka tidak diperlukan penta’wilan (untuk menghindari pertentangan dengan hadits “yang pertama diciptakan Allah adalah qalam”).[11] 8.        Al-Buwaithi salah seorang murid Imam Syafi’i, menyatakan sunnat memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW ketika makan beras, karena beras dijadikan Allah dari Nur Muhammad. Namun al-Bujairumi mempertanyakan fatwa ini, beliau mengatakan : “Perkataan al-Buwaithi bahwa beras dijadikan dari Nur Muhammad perlu ada tinjauan, karena hadits tentangnya tidak tsubut (tidak shahih).”[12] 9.        Dari Abdullah bin Syaqiq, Rasulullah SAW bersabda : كُنْتُ نَبِيًّا وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ Artinya : Aku sudah menjadi nabi, sedangkan Adam masih antara ruh dan jasad. [13] Hadits ini telah ditakhrij oleh al-Hakim dengan lafazh : يا رسول الله متى كنت نبيا قال: وآدم بين الروح والجسد Artinya : Ya Rasulullah kapan engkau menjadi nabi?, Jawab beliau : “Adam antara ruh dan jasad. Al-Hakim mengatakan shahih dan al-Zahabi mengakui keshahihan itu. Hadits ini juga telah ditakhrij oleh Ahmad dan al-Thabrani. Al-Haitsami mengatakan, rijalnya rijal shahih.[14] Imam al-Subki dalam mengomentari hadits di atas mengatakan :  “Sungguh telah datang berita bahwa Allah menjadi ruh-ruh sebelum jasad.Karena itu, perkataan Nabi : “Aku sudah menjadi nabi” di atas merupakan isyarat kepada ruh Nabi yang mulia dan hakikatnya. Sedangkan hakikatnya itu tidak mampu akal kita mengenalnya, hanya penciptanya dan orang-orang yang diberikan kemampuan dengan nur ilahi saja. Kemudian Allah mendatangkan hakikat-hakikat itu menurut yang dikehendaki-Nya pada waktu yang dikehendaki-Nya. Maka hakikat Nabi SAW yang wujud sebelum penciptaan Adam didatangkan Allah sifat kenabian itu padanya, yakni Allah menjadikan hakikat Nabi SAW tersedia untuk sifat kenabian itu dan dilimpahkannya atas hakikat Nabi SAW pada waktu itu, maka jadilah hakikatnya sebagai nabi.[15] Komentar penulis :Seandainya diterima pemahaman Imam al-Subki ini, maka hakikat Muhammad yang dimaksud bukan berarti identik dengan Nur Muhammad yang merupakan makhluq pertama ciptaan Allah, karena pemahaman al-Subki ini hanya menunjukan hakikat Muhammad lebih duluan ada dari jasad Adam a.s., bukan lebih duluan dari segala makhluq.Sebagian ulama menafsirkan, maknanya adalah kenabian Muhammad sudah duluan nyata/dhahir dalam alam arwah dari pada penciptaan Adam a.s. Artinya penciptaan Muhammad sebagai nabi sudah duluan masyhur dalam alam arwah dikalangan Malaikat.Al-Ghazali mengatakan, maknanya adalah Muhammad sudah duluan menjadi nabi dari pada penciptaan Adam a.s. dalam taqdir bukan dalam penciptaan, sedangkan dalam penciptaan duluan Adam a.s.Penafsiran lain adalah duluan ada dalam ilmu Allah.Ibnu Hajar al-Haitami setelah menyebut pendapat-pendapat ulama di atas, termasuk pendapat Imam al-Subki di atas, beliau lebih cenderung kepada pendapat Imam al-Subki.[16] Syeikh Abu Abdurrahman Abdullah bin Muhammad bin Yusuf Ibn Abdullah bin Jami’ al-Harari, seorang ulama bermazhab Syafi’i (Lahir 1328 H/1910 M) berasal dari negeri Harar (sebuah nama negeri di Somalia sekarang) dalam kitab Sharih al-Bayan, beliau menolak pendapat yang mengatakan Nur Muhammad merupakan ciptaan Allah yang pertama, menurut beliau  makhluq pertama ciptaan Allah adalah air. Argumentasi beliau adalah sebagai berikut: 1.    Firman Allah Ta’ala berbunyi : وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ Artinya : Kami jadikan setiap sesuatu yang hidup dari air.  2.    Hadits riwayat al-Bukhari dan al-Baihaqi berbunyi : كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ Artinya : Adalah Allah, tidak ada sesuatupun selainnya, Arasy ketika itu atas air[17] 3.    Hadits Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : كُلُّ شَيْءٍ خُلِقَ مِنَ الْمَاءِ Artinya : Setiap sesuatu diciptakan dari air )[18] 4.    Diriwayat oleh al-Suddii dalam tafsirnya dengan sanad yang berbeda-beda, berbunyi : أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ شَيْئًا مِمَّا خَلَقَ قَبْلَ الْمَاءِ Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menciptakan sesuatupun dari apa yang telah diciptakan-Nya sebelum air.[19] 5.    Abdurrazaq sendiri dalam menafsirkan firman Allah Q.S Hud : 7 yang berbunyi : هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ  Beliau mengutip perkataan Qatadah berbunyi : هَذَا بَدْءُ خَلْقِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ Artinya : Ini adalah permulaan penciptaannya sebelum menciptakan langit dan bumi. [20] 6.    Mujahid dalam menafsirkan firman Allah Q.S Hud : 7 di atas mengatakan : قبل أن يخلق شيئًا. Artinya : sebelum menciptakan sesuatupun.[21] 7.    Adapun hadits yang disebut-sebut sebagai riwayat Abdurrazaq dari Jabir, menurut beliau ini adalah maudhu’ (palsu). Beliau berargumentasi dengan penjelasan dari al-Suyuthi sebagaimana telah kutip di atas dan juga karena bertentangan dalil-dalil yang beliau kemukakan di atas 8.    Hadits Nur Muhammad yang disebut-sebut diriwayat oleh Abdurrazaq dari Jabir dalam kitab Mushannafnya, menurut beliau ternyata tidak ada dalam kitab tersebut berdasarkan cetakan yang beredar sekarang (zaman hidup beliau) 9.    Yang berpendapat juga bahwa hadits Jabir ini adalah maudhu’ adalah Ahmad bin al-Saddiq al-Ghumari, seorang peneliti hadits yang hidup semasa dengan beliau sebagaimana beliau kemukakan dalam kita ini.[22] Komentar penulis : KH Sirajuddin Abbas dalam buku beliau, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i cenderung menolak pendapat bahwa seluruh alam ini terjadi dari Nur Muhammad.[23] KesimpulanTerjadi perbedaan pendapat ulama dalam menanggapi tentang hadits Nur MuhammadMasalah keberadaan Nur Muhammad bukanlah masalah pokok akidah yang menyebabkan saling menuduh sesat sesama umat Islam hanya karena masalah khilafiyah ini, sehingga tidak mengherankan kalau masalah Nur Muhammad ini hampir dapat dikatakan jarang sekali dibahas dalam kitab–kitab Aqidah, yang banyak pembahasannya hanya dalam kitab kitab-kitab tasaufKami tidak dalam posisi menjelaskan pendapat mana yang lebih rajih antara kedua pendapat di atasMudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk menambah wawasan keislaman kita dan kepada guru-guru kami, abu-abu/kiyai, seandainya pemahaman kami ini keliru, mohon masukan dan meluruskannya. [1] Syaikh Khalid al-Azhari, Syarah Matn al-Burdah, dicetak pada hamisy Hasyiah ala Matn al-Burdah, al-Saqafiyah, Surabaya, Hal. 31 [2] Ibrahim al-Bajury, Hasyiah Matn al-Burdah, al-Saqafiyah, Surabaya, Hal. 30 [3] Majmu’ah al-Mawalid, Maktabah Julia Karya, Jakarta, Hal. 72-73 [4] Syaikh an-Nawawi al-Bantany, Madarij al-Su’ud, Syirkah al-Ma’arif,Bandung, Hal. 4 [5] Ibnu Hajar al-Haitamy, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 36 [6] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Haditsiyah[7] Ibnu Hajar al-Haitamy, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 36 [8] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Ni’mah al-Kubra ‘ala al-Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam[9] Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi , Daqaiq al-Akhbar, Syirkah al-Ma’arif, Bandung, Hal. 2 [10] Al-Suyuthi, al-Hawy lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 323-325 [11] Al-Suyuthi, Quut al-Mughtazi ‘ala Jami’ al-Turmidzi, Juz. I, Hal. 516 [12]Al-Bujairumi, Hasyiah al-Bujairumi ‘ala Syarh al-Khatib, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 73 [13] Ibnu Sa’ad, al-Thabaqat al-Kubra, [14] Al-Munawi, Faidh al-Qadir[15] Al-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. II, Hal. 100-101 [16] Ibnu Hajar al-Haitami, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 34-35 [17] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari [18] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban [19] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fahul Barri [20] Abdurrazaq, Tafsir Abdurrazaq [21] Al-Thabari, Tafsir al-Thabari [22] Abu Abdurrahman Abdullah  al-Harari, Sharih al-Bayan [23] KH Sirajuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah, Jakarta, Hal. 211.