kolom melintang

Sunday, July 19, 2015

TEMPAT DIATAS 'ARSY

PENJELASAN TIDAK TERCEGAH SECARA SYARI'AT DAN AKAL BAHWA DI ATAS 'ARSY TERDAPAT TEMPAT

 

Sebagian orang kaum Mujassimah di masa sekarang (yaitu golongan Wahhabiyyah) menyebarkan pemahaman menyesatkan dengan mengatakan bahwa di atas arsy tidak ada tempat. Mereka berkata bahwa tempat hanya ada di bawah arsy saja. Dalam mengelabui orang-orang awam mereka berkata: “Allah berada di atas arsy, dan di atas arsy tidak ada tempat”, kadang mereka juga berkata: “Allah berada di atas arsy tanpa tempat”. Ini adalah perkataan yang tidak memiliki dalil sama sekali, karena tidak tercegah secara syari’at dan secara akal bahwa di atas arsy terdapat tempat.

Dalil bahwa di atas arsy terdapat tempat adalah hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: -(berikut ini redaksi dalam Shahîh al-Bukhâri)-

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ ، ثنا الْكَثِيرِيُّ ، ثنا إِسْمَاعِيلُ ، عَنْ مَالِكٍ ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنِ الأَعْرَجِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : 
"لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ : إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَب"

“Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya Ia menuliskan (ketetapan) dalam sebuah kitab yang kitab tersebut berada di atas arsy: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku”.
[Shahih al-Bukhari, Kitab Bad’ul Khalq. Shahih Muslim, Kitab at Taubah, Bab Sa’at Ramatillah]

 

Dalam riwayat lain dalam redaksi al-Bukhari:

حدثنا عبدان عن أبي حمزة عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لما خلق الله الخلق كتب في كتابه وهو يكتب على نفسه وهو وضع عنده على العرشإن رحمتي تغلب غضبي
[صحيح البخاري فى كتاب التوحيد. نمرة الحديث 6969]

“Dan kitab tersebut diletakan di atas: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku”95.
[Shahih al-Bukhari, Kitab at Tauhid. No. 6969]
 

Al-Hâfizh Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata:

قوله : كتب في كتابه وهو يكتب على نفسه ) كذا لأبي ذر وسقطت الواو لغيره ، وعلى الأول فالجملة حالية ، وعلى الثاني فيكتب على نفسه بيان لقوله " كتب " والمكتوب هو قوله " إن رحمتي " إلخ ، وقوله " وهو " أي المكتوب
[(وضع بفتح فسكون أي موضوع ، ووقع كذلك في الجمع للحميدي بلفظ موضوع وهي رواية الإسماعيلي)]
 فيما أخرجه من وجه آخر عن أبي حمزةالمذكور في السند وهو بالمهملة والزاي واسمه محمد بن ميمون السكري ، وحكى عياض عن رواية أبي ذر وضع بالفتح على أنه فعل ماض مبني للفاعل ، ورأيته في نسخة معتمدة بكسر الضاد مع التنوين ، وقد مضى شرح هذا الحديث في أوائل بدء الخلق ، ويأتي شيء من الكلام عليه في باب وكان عرشه على الماء وفي باب بل هو قرآن مجيد في لوح محفوظ أواخر الكتاب إن شاء الله تعالى ، وأما قوله " عنده " فقال ابن بطال : عند في اللغة للمكان ، والله منزه عن الحلول في المواضع ؛ لأن الحلول عرض يفنى وهو حادث والحادث لا يليق بالله ، فعلى هذا قيل معناه إنه سبق علمه بإثابة من يعمل بطاعته وعقوبة من يعمل بمعصيته ، ويؤيده قوله في الحديث الذي بعده أنا عند ظن عبدي بي ولا مكان هناك قطعا ، وقال الراغب عند لفظ موضوع للقرب ويستعمل في المكان وهو الأصل ، ويستعمل في الاعتقاد ، تقول : عندي في كذا كذا أي أعتقده ، ويستعمل في المرتبة ومنه أحياء عند ربهم وأما قوله إن كان هذا هو الحق من عندك فمعناه من حكمك ، وقال ابن التين معنى العندية في هذا الحديث العلم بأنه موضوع على العرش ، وأما كتبه فليس للاستعانة لئلا ينساه فإنه منزه عن ذلك لا يخفى عنه شيء وإنما كتبه من أجل الملائكة الموكلين بالمكلفين . 

“Kata “wadl’un” dengan fat-hah kemudian sukûn, artinya “mawdlû’un” (artinya; diletakan). Hadits seperti ini juga ada dalam kitab “al-Jama’” karya al-Humaidi, yaitu dengan redaksi “maudlû’un” yaitu dalam riwayat al-Isma’ili”.
[Fath al Bari, j. 13, h. 385]

 

Sementara dalam riwayat Ibn Hibban dengan radaksi berikut:
 
وهو مرفوع على العرش

“Kitab tersebut terangkat di atas arsy”.
[Al Ihsan Bi Tartib Shahih ibn Hibban, j. 6-8, h. 5]

Dari sini kita katakan; Seandainya di atas arsy tidak ada tempat maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan bahwa kitab tersebut berada dan ditempatkan di atas arsy.

Adapun takwil sebagian orang yang mengatakan bahwa kata “fawq” dalam redaksi hadits di atas dalam pemahaman “dûna” (artinya; di bawah) dengan alasan bahwa dalam bahasa Arab penggunaan kata “fawq” terkadang untuk memberikan pemahaman makna “dûna” ; maka pendapat menyesatkan ini tertolak dengan hadits riwayat Ibn Hibban yang secara jelas menetapkan bahwa kitab tersebut benar-benar di atas arsy, lihat redaksi berikut:

“Kitab tersebut terangkat di atas arsy”

Dengan demikian takwil kata “fawq” dengan “dûna” dalam hadits ini adalah takwil batil, salah dan menyesatkan. Redaksi Ibn Hibban di atas yang menggunakan kata “marfû’” secara jelas membantah pemahaman takwil semacam itu. Demikian pula riwayat al-Bukhari yang telah kita kutip di atas dengan redaksi “wadl’un” , yang artinya “mawdlû’un” (diletakan) juga membantah pemahaman takwil yang menyesatkan tersebut.

 
Di sini kita katakan kepada mereka: Sesungguhnya memberlakukan takwil terhadap suatu teks itu hanya dilakukan ketika benar -benar dibutuhkan karena tuntutan dalil akal atau karena tuntutan dalil naqliy yang shahih (yang secara zahir berseberangan dengan teks tersebut) sebagaimana kaedah ini telah ditetapkan oleh para ulama Ushul, mereka berkata: “Memberlakukan metode takwil dengan tanpa didasarkan kepada alasan tersebut maka akan menjadikan setiap teks itu sia-sia belaka, padahal teks-teks syari’at itu harus dihindarkan dari kesia-siaan”.

Al-‘Allâmah al-Faqîh al-Muhaddits asy-Syaikh Abdullah al-Harari berkata:

قال العلامة الفقيه المحدّث الشيخ عبد الله الهرري ما نصه (صريح البيان في الرد على من خالف القرءان: ص62) "وأما معنى "عنده" المذكور في الحديث فهو للتشريف كما في قوله تعالى {في مقعد صدق عند مليك مقتدر} [سورة القمر/55]، وقد أثبت اللغويون أن "عند" تأتي لغير الحيّز والمكان، فكلمة "عند" في هذا الحديث لتشريف ذلك المكان الذي فيه الكتاب" اهـ.

“Adapun makna kata “’Indahu” yang disebutkan dalam redaksi hadits tersebut maka itu untuk tujuan pemuliaan (Li at-tasyrîf), seperti pemahaman dalam firman Allah:

“(Bahwa orang bertaqwa) di tempatkan di tempat yang baik (menyenangkan) yaitu ditempat yang dimuliakan oleh Allah yang maha agung (yaitu surga)”. (QS. Al Qamar: 55). Lalu para ahli bahasa (al Laughawiyyûn) telah menetapkan bahwa kata “’inda” biasa digunakan bukan untuk tujuan arah dan tempat, dengan demikian kata “’inda” dalam hadits ini untuk tujuan memuliakan bagi tempat di mana kitab tersebut berada”.
[Sharih al Bayan Fi ar Radd ‘Ala Man Khalaf al-Qur’an, h. 62]
 

Al-Hâfizh al-Muhaddits Waliyyuddin Abu Zur’ah Ahmad ibn Abdirrahim al ‘Iraqi (w 826 H) berkata:

وقال الحافظ المحدث ولي الدين أبو زرعة أحمد بن عبد الرحيم العراقي (826 هـ) ما نصه (12): "وقوله أي النبي- "فهو عنده فوق العرش "لا بد من تأويل ظاهر لفظة"عنده " لأن معناها حضرة الشىء والله تعالى منزه عن الاستقرار والتحيز والجهة، فالعندية ليست من حضرة المكان بل من حضرة الشرف، أي وضع ذلك الكتاب في محل مُعظّم عنده " ا.هـ.

“Sabda nabi “Fahuwa Mawdlû’un ‘Indahu Fawq al-‘Arsy” mestilah membutuhkan kepada takwil yang nyata dalam kata “’indahu”, karena makna zahirnya untuk mengungkapkan tempat bagi sesuatu, padahal Allah maha suci dari bertempat dan memiliki arah. Maka kata “’indahu” di sini bukan dalam pengertian tempat, tetapi untuk menunjukan kemuliaan, artinya bahwa kitab tersebut diletakan di tempat yang dimuliakan oleh Allah”.
[Tharh at Tatsrib; Kitab al Qadla’ Wa ad Da’awa , j. 8, h. 84]

Sidoarjo. 19 juli 2015

Nurul Huda Al-Junaydi / Danny Ma'shoum

Wednesday, July 1, 2015

HAKEKAT NUR MUHAMMAD SAW

Nur Muhammad Berikut ini beberapa penjelasan tentang Nur Muhammad yang kami kutip dari beberapa kitab karya ulama, yakni : 1.        Syaikh Khalid al-Azhari mengatakan : “Sesungguhnya segala tanda-tanda kenabian yang didatangkan dengannya oleh para rasul sesungguhnya berhubung dengan mereka dari pada Nur Nabi Muhammad SAW, karena Nur Nabi SAW telah dicipta terdahulu dari pada mereka[1] 2.      Ibrahim al-Bajury berkata : “Jika dikatakan bagaimana dapat dikatakan mukjizat yang didatangkan oleh para rasul yang mulia kepada umat-umat mereka adalah dari pada Nur Nabi Muhammad SAW, sedangkan para nabi tersebut adalah lebih dahulu ada ? Maka jawabannya ialah Junjungan Nabi SAW adalah terlebih dahulu wujudnya atas segala nabi tersebut yakni dari segi kejadian an-Nur al- Muhammady.”[2] 3.      Imam al-Barzanji berkata dalam sya’ir Maulid al-Nabawy : وأصلي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأولية Artinya : Dan aku mohon rahmat Allah dan kesejahteraan-Nya atas nur yang disifati dengan terdahulu dan yang pertama.[3]             4.      An-Nawawi al-Bantany, dalam mensyarah perkataan al-auwaliyah(perkataan al-Barzanji dalam sya’ir Maulid al-Nabawy di atas) mengatakan : “Keadaan nur itu yang pertama adalah dibandingkan makhluk lainnya, sebagaimana dalam hadits Jabir, beliau bertanya kepada Rasulullah SAW makhluk pertama yang diciptakan Allah Ta’ala, Rasulullah SAW bersabda : ان الله خلق قبل الأشياء نور نبيك فجعل ذالك النور يدور بالقدرة حيث شاء الله ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار ولا ملك ولا انس ولا جن ولا أرض ولا سماء  ولا شمس ولا قمر Artinya :  Sesungguhnya Allah telah mencipta, sebelum adanya sesuatu, nur nabimu, maka dijadikan nur tersebut beredar dengan kekuasaan qudrahNya menurut yang dikehendaki Allah. Dan belum ada pada waktu itu luh, qalam, syurga, neraka, malaikat, manusia, jin, bumi, langit, matahari dan bulan.[4] Komentar penulis : Ini merupakan hadits Jabir riwayat Abdur Razzaq yang ditolak oleh al-Suyuthi sebagaimana keterangan setelah ini. Matannya menyerupai ini telah disebut oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail dengan menyebutkannya sebagai riwayat Abdur Razzaq dari Jabir.[5] 5.      Ditanyai Ibnu Hajar al-Haitamy, semoga Allah memberi manfaat kepadanya, siapakah yang meriwayat hadits  : أول ما خلق الله روحي والعالم بأسره من نوري كل شيء يرجع إلى أصله Artinya :  Yang pertama diciptakan Allah adalah ruhku dan alam keseluruhannya dicipta daripada nurku, setiap sesuatu kembali kepada asalnya Maka beliau menjawab :  "Aku tidak mengetahui siapa yang meriwayatkannya sedemikian. Dan Sesungguhnya yang diriwayat oleh Abdur Razzaq adalah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : إن الله خلق نور محمد قبل الأشياء من نوره Artinya : Sesungguhnya Allah telah mencipta Nur Muhammad sebelum segala sesuatu dari pada Nur-Nya.[6] Hadits riwayat Abdur Razzaq ini juga telah disebut oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitab beliau, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail [7] dan kitab al-Ni’mah al-Kubra ‘ala al-Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam.[8] 6.      Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi dalam kitabnya, Daqaiq al-Akhbar mengatakan : “ Sesungguhnya telah datang khabar bahwa Allah Ta’ala menciptakan pohon dengan empat cabang. Allah Ta’ala menamakannya Syajaratulyaqin. Kemudian dalam hijab, Allah menciptakan Nur Muhammad dari permata putih seperti bentuk burung Merak dan Allah meletakkannya di atas pohon tersebut. Nur Muhammad bertasbih di atasnya selama tujuh puluh ribu tahun. Kemudian Allah Ta’ala menciptakan mar-atul haya’ (cermin malu) dan meletakkannya di hadapan Nur Muhammad. Manakala burung merak (Nur Muhammad) melihat cermin, dia melihat bentuknya yang cantik da sangat bagus, maka dia malu kepada Allah dan berkeringat karenanya. Maka muncullah enam keringat darinya. Dari keringat pertama, Allah Ta’ala menciptakan Abu Bakar r.a., dari keringat kedua Allah menciptakan Umar r.a., dari keringat ketiga Allah menciptakan Usman r.a., dari keringat keempat Allah menciptakan Ali r.a., dari keringat kelima Allah menciptakan bunga dan dari keringat keenam Allah menciptakan gandum………….dst”[9] Komentar penulis :Hadits ini bertentangan dengan pemahaman bahwa Nur Muhammad merupakan makhluq yang pertama, karena berdasarkan kandungan hadits ini ada makhluq lain sebelum Nur Muhammad, yakni pohon Syajaratulyaqin dan permata putih.Hadits ini disebut tanpa perawi dan sanadnya. 7.      Al-Suyuthi, salah seorang ulama besar dalam Mazhab Syafi’i ditanyai mengenai hadits penciptaan Nur Muhammad, yaitu hadits berbunyi : أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ نُورَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَزَّأَهُ أَرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ فَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الْأَوَّلِ الْعَرْشَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّانِي الْقَلَمَ، وَخَلَقَ مِنَ الثَّالِثِ اللَّوْحَ، ثُمَّ قَسَّمَ الْجُزْءَ الرَّابِعَ وَجَزَّأَهُ أَرْبَعَةَ أَجْزَاءٍ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الْأَوَّلِ الْعَقْلَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّانِي الْمَعْرِفَةَ، وَخَلَقَ مِنَ الْجُزْءِ الثَّالِثِ نُورَ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَنُورَ الْأَبْصَارِ وَنُورَ النَّهَارِ، وَجَعَلَ الْجُزْءَ الرَّابِعَ تَحْتَ سَاقِ الْعَرْشِ مَدْخُورًا Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadi Nur Muhammad SAW, maka membagikannya menjadi empat bagian. Allah menjadikan Arasy dari bagian pertama, menjadikan qalam dari bagian kedua dan menjadikan luh dari bagian ketiga. Kemudian membagikan bagian yang keempat dalam empat bagian, menjadikan akal dari bagian pertama, menjadikan ma’rifah dari bagian kedua, menjadikan cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya abshar (penglihatan) dan cahaya siang hari dari bagian ketiga dan menjadikan dari bagian yang keempat tersimpan di bawah penyangga Arasy. Beliau menjawab : “Hadits yang disebut dalam pertanyaan, tidak ada sanadnya yang dapat dijadikan pegangan.”[10] Dalam kitab Quut al-Mughtazi ‘ala Jami’ al-Turmidzi, al-Suyuthi berkomentar tentang hadits yang berbunyi : إن اول ما خلق الله نوري Artinya : Sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah adalah nur aku. beliau mengatakan, hadits ini tidak datang dengan ini lafazh, maka tidak diperlukan penta’wilan (untuk menghindari pertentangan dengan hadits “yang pertama diciptakan Allah adalah qalam”).[11] 8.        Al-Buwaithi salah seorang murid Imam Syafi’i, menyatakan sunnat memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW ketika makan beras, karena beras dijadikan Allah dari Nur Muhammad. Namun al-Bujairumi mempertanyakan fatwa ini, beliau mengatakan : “Perkataan al-Buwaithi bahwa beras dijadikan dari Nur Muhammad perlu ada tinjauan, karena hadits tentangnya tidak tsubut (tidak shahih).”[12] 9.        Dari Abdullah bin Syaqiq, Rasulullah SAW bersabda : كُنْتُ نَبِيًّا وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ Artinya : Aku sudah menjadi nabi, sedangkan Adam masih antara ruh dan jasad. [13] Hadits ini telah ditakhrij oleh al-Hakim dengan lafazh : يا رسول الله متى كنت نبيا قال: وآدم بين الروح والجسد Artinya : Ya Rasulullah kapan engkau menjadi nabi?, Jawab beliau : “Adam antara ruh dan jasad. Al-Hakim mengatakan shahih dan al-Zahabi mengakui keshahihan itu. Hadits ini juga telah ditakhrij oleh Ahmad dan al-Thabrani. Al-Haitsami mengatakan, rijalnya rijal shahih.[14] Imam al-Subki dalam mengomentari hadits di atas mengatakan :  “Sungguh telah datang berita bahwa Allah menjadi ruh-ruh sebelum jasad.Karena itu, perkataan Nabi : “Aku sudah menjadi nabi” di atas merupakan isyarat kepada ruh Nabi yang mulia dan hakikatnya. Sedangkan hakikatnya itu tidak mampu akal kita mengenalnya, hanya penciptanya dan orang-orang yang diberikan kemampuan dengan nur ilahi saja. Kemudian Allah mendatangkan hakikat-hakikat itu menurut yang dikehendaki-Nya pada waktu yang dikehendaki-Nya. Maka hakikat Nabi SAW yang wujud sebelum penciptaan Adam didatangkan Allah sifat kenabian itu padanya, yakni Allah menjadikan hakikat Nabi SAW tersedia untuk sifat kenabian itu dan dilimpahkannya atas hakikat Nabi SAW pada waktu itu, maka jadilah hakikatnya sebagai nabi.[15] Komentar penulis :Seandainya diterima pemahaman Imam al-Subki ini, maka hakikat Muhammad yang dimaksud bukan berarti identik dengan Nur Muhammad yang merupakan makhluq pertama ciptaan Allah, karena pemahaman al-Subki ini hanya menunjukan hakikat Muhammad lebih duluan ada dari jasad Adam a.s., bukan lebih duluan dari segala makhluq.Sebagian ulama menafsirkan, maknanya adalah kenabian Muhammad sudah duluan nyata/dhahir dalam alam arwah dari pada penciptaan Adam a.s. Artinya penciptaan Muhammad sebagai nabi sudah duluan masyhur dalam alam arwah dikalangan Malaikat.Al-Ghazali mengatakan, maknanya adalah Muhammad sudah duluan menjadi nabi dari pada penciptaan Adam a.s. dalam taqdir bukan dalam penciptaan, sedangkan dalam penciptaan duluan Adam a.s.Penafsiran lain adalah duluan ada dalam ilmu Allah.Ibnu Hajar al-Haitami setelah menyebut pendapat-pendapat ulama di atas, termasuk pendapat Imam al-Subki di atas, beliau lebih cenderung kepada pendapat Imam al-Subki.[16] Syeikh Abu Abdurrahman Abdullah bin Muhammad bin Yusuf Ibn Abdullah bin Jami’ al-Harari, seorang ulama bermazhab Syafi’i (Lahir 1328 H/1910 M) berasal dari negeri Harar (sebuah nama negeri di Somalia sekarang) dalam kitab Sharih al-Bayan, beliau menolak pendapat yang mengatakan Nur Muhammad merupakan ciptaan Allah yang pertama, menurut beliau  makhluq pertama ciptaan Allah adalah air. Argumentasi beliau adalah sebagai berikut: 1.    Firman Allah Ta’ala berbunyi : وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ Artinya : Kami jadikan setiap sesuatu yang hidup dari air.  2.    Hadits riwayat al-Bukhari dan al-Baihaqi berbunyi : كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ Artinya : Adalah Allah, tidak ada sesuatupun selainnya, Arasy ketika itu atas air[17] 3.    Hadits Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : كُلُّ شَيْءٍ خُلِقَ مِنَ الْمَاءِ Artinya : Setiap sesuatu diciptakan dari air )[18] 4.    Diriwayat oleh al-Suddii dalam tafsirnya dengan sanad yang berbeda-beda, berbunyi : أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ شَيْئًا مِمَّا خَلَقَ قَبْلَ الْمَاءِ Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menciptakan sesuatupun dari apa yang telah diciptakan-Nya sebelum air.[19] 5.    Abdurrazaq sendiri dalam menafsirkan firman Allah Q.S Hud : 7 yang berbunyi : هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ  Beliau mengutip perkataan Qatadah berbunyi : هَذَا بَدْءُ خَلْقِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ Artinya : Ini adalah permulaan penciptaannya sebelum menciptakan langit dan bumi. [20] 6.    Mujahid dalam menafsirkan firman Allah Q.S Hud : 7 di atas mengatakan : قبل أن يخلق شيئًا. Artinya : sebelum menciptakan sesuatupun.[21] 7.    Adapun hadits yang disebut-sebut sebagai riwayat Abdurrazaq dari Jabir, menurut beliau ini adalah maudhu’ (palsu). Beliau berargumentasi dengan penjelasan dari al-Suyuthi sebagaimana telah kutip di atas dan juga karena bertentangan dalil-dalil yang beliau kemukakan di atas 8.    Hadits Nur Muhammad yang disebut-sebut diriwayat oleh Abdurrazaq dari Jabir dalam kitab Mushannafnya, menurut beliau ternyata tidak ada dalam kitab tersebut berdasarkan cetakan yang beredar sekarang (zaman hidup beliau) 9.    Yang berpendapat juga bahwa hadits Jabir ini adalah maudhu’ adalah Ahmad bin al-Saddiq al-Ghumari, seorang peneliti hadits yang hidup semasa dengan beliau sebagaimana beliau kemukakan dalam kita ini.[22] Komentar penulis : KH Sirajuddin Abbas dalam buku beliau, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i cenderung menolak pendapat bahwa seluruh alam ini terjadi dari Nur Muhammad.[23] KesimpulanTerjadi perbedaan pendapat ulama dalam menanggapi tentang hadits Nur MuhammadMasalah keberadaan Nur Muhammad bukanlah masalah pokok akidah yang menyebabkan saling menuduh sesat sesama umat Islam hanya karena masalah khilafiyah ini, sehingga tidak mengherankan kalau masalah Nur Muhammad ini hampir dapat dikatakan jarang sekali dibahas dalam kitab–kitab Aqidah, yang banyak pembahasannya hanya dalam kitab kitab-kitab tasaufKami tidak dalam posisi menjelaskan pendapat mana yang lebih rajih antara kedua pendapat di atasMudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk menambah wawasan keislaman kita dan kepada guru-guru kami, abu-abu/kiyai, seandainya pemahaman kami ini keliru, mohon masukan dan meluruskannya. [1] Syaikh Khalid al-Azhari, Syarah Matn al-Burdah, dicetak pada hamisy Hasyiah ala Matn al-Burdah, al-Saqafiyah, Surabaya, Hal. 31 [2] Ibrahim al-Bajury, Hasyiah Matn al-Burdah, al-Saqafiyah, Surabaya, Hal. 30 [3] Majmu’ah al-Mawalid, Maktabah Julia Karya, Jakarta, Hal. 72-73 [4] Syaikh an-Nawawi al-Bantany, Madarij al-Su’ud, Syirkah al-Ma’arif,Bandung, Hal. 4 [5] Ibnu Hajar al-Haitamy, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 36 [6] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fatawa al-Haditsiyah[7] Ibnu Hajar al-Haitamy, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 36 [8] Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Ni’mah al-Kubra ‘ala al-Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam[9] Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi , Daqaiq al-Akhbar, Syirkah al-Ma’arif, Bandung, Hal. 2 [10] Al-Suyuthi, al-Hawy lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 323-325 [11] Al-Suyuthi, Quut al-Mughtazi ‘ala Jami’ al-Turmidzi, Juz. I, Hal. 516 [12]Al-Bujairumi, Hasyiah al-Bujairumi ‘ala Syarh al-Khatib, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. III, Hal. 73 [13] Ibnu Sa’ad, al-Thabaqat al-Kubra, [14] Al-Munawi, Faidh al-Qadir[15] Al-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawa, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. II, Hal. 100-101 [16] Ibnu Hajar al-Haitami, Asyraf al-Wasail ila Fahm al-Syamail,  Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Hal. 34-35 [17] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari [18] Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban [19] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fahul Barri [20] Abdurrazaq, Tafsir Abdurrazaq [21] Al-Thabari, Tafsir al-Thabari [22] Abu Abdurrahman Abdullah  al-Harari, Sharih al-Bayan [23] KH Sirajuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah, Jakarta, Hal. 211.

Monday, June 8, 2015

KEKUFURAN MEYAKINI ALLOH SWT BERTEMPAT

PERNYATAAN ULAMA AHLUSSUNNAH TENTANG KEKUFURAN ORANG YANG MENETAPKAN TEMPAT BAGI ALLAH

Oleh : ( Akhi fillah ) Nurul Huda Al-Junaidy Al-Jamby.

Berikut ini adalah adalah pernyataan para ulama Ahlussunnah dalam menetapkan kekufuran orang yang berkeyakinan bahwa Allah berada pada tempat dan arah, seperti mereka yang menetapkan arah atas bagi- Nya, atau bahwa Dia berada di langit, atau berada di atas arsy, atau mereka yang mengatakan bahwa Allah berada di semua tempat. Berikut nama ulama Ahlussunnah dengan pernyataan mereka di dalam karyanya masing-masing yang kita sebutkan di sini hanya sebagian kecil saja.

 

﴾﴾ 1 ﴿﴿

Al-Imâm al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufi (w 150 H), al-Imâm agung perintis madzhab Hanafi, dalam salah satu karyanya berjudul al-Fiqh al-Absath menuliskan bahwa orang yang berkeyakinan Allah berada di langit telah menjadi kafir, beliau menuliskan sebagai berikut:

"من قال لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقد كفر، وكذا من قال إنه على العرش، ولا أدري العرش أفي السماء أو في الأرض "اهـ.

“Barangsiapa berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah ia berada di langit atau berada di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula telah menjadi kafir orang yang berkata: “Allah berada di atas arsy, dan saya tidak tahu apakah arsy berada di langit atau berada di bumi?!”
[al-Fiqh al-Absath, h. 12 (Lihat dalam kumpulan risalah al-Imâm Abu Hanifah yang di-tahqîq oleh al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari)]

 

﴾﴾ 2 ﴿﴿

Pernyataan al-Imâm Abu Hanifah di atas lalu dijelaskan oleh al-Imâm asy-Syaikh al-‘Izz ibn Abdissalam (w 660 H) dalam karyanya berjudul Hall ar-Rumûz sekaligus disepakatinya bahwa orang yang berkata demikian itu telah menjadi kafir, adalah karena orang tersebut telah menetapkan tempat bagi Allah. Al-Imâm al-Izz ibn Abdissalam menuliskan:

" لأن هذا القول يوهم أن للحق مكانا، ومن توهم أن للحق مكانا فهو مشبه " اهـ.

“Hal itu menjadikan dia kafir karena perkataan demikian memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat, dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka dia adalah seorang Musyabbih (Seorang kafir yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)”.
[Dikutip oleh asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari dalam kitab Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 198]

 

﴾﴾ 3 ﴿﴿

Pemahaman pernyataan al-Imâm Abu Hanifah di atas sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Imâm al-Izz ibn Abdissalam telah dikutip pula oleh asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari’ (w 1014 H) dalam karyanya Syarh al-Fiqh al-Akbar sekaligus disetujuinya. Tentang hal ini beliau menuliskan sebagai berikut:

"ولا شك أن ابن عبد السلام من أجل العلماء وأوثقهم، فيجب الاعتماد على نقله" اهـ.

“Tidak diragukan lagi kebenaran apa yang telah dinyatakan oleh al-Izz Ibn Abdissalam (dalam memahami maksud perkataan al-Imâm Abu Hanifah), beliau adalah ulama terkemuka dan sangat terpercaya. Dengan demikian wajib berpegang teguh dengan apa yang telah beliau nyatakan ini”.
[Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 198]
 

Pernyataan al-Imâm Abu Hanifah di atas seringkali disalahpahami oleh kaum Wahhabiyyah untuk menetapkan keyakinan mereka bahwa Allah bersemayam di atas arsy. Mereka berkata bahwa al-Imâm Abu Hanifah telah sangat jelas menetapkan bahwa Allah bertempat di atas arsy. Sandaran mereka dalam pemahaman yang tidak benar ini adalah Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah; murid Ibn Taimiyah. Ibn al-Qayyim mencari-cari siapa di antara ulama Salaf yang menetapkan akidah tasybîh untuk menguatkan akidahnya sendiri dan akidah gurunya; Ibn Taimiyah, tapi ternyata ia tidak mendapatkan siapapun kecuali pernyataan beberapa orang yang telah disepakati oleh para ulama Salaf sendiri sebagai orang -orang yang sesat. Lalu Ibn al-Qayyim mendapatkan perkataan al-Imâm Abu Hanifah di atas, dan kemudian ia “pelintir” pemahamannya agar sejalan dengan akidah tasybîh-nya, dengan demikian ia dapat berpropaganda bahwa akidah sesatnya adalah akidah yang telah diyakini para ulama Salaf. Silahkan anda baca kembali dari buku ini dalam pembahasan bantahan terhadap Ibn al-Qayyim yang telah mengklaim akidah tasybîh sebagai akidah al-Imâm Abu Hanifah.

 

﴾﴾ 4 ﴿﴿

Al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh Abu Ja’far ath-Thahawi (w 321 H) dalam risalah akidahnya; al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, yang sangat terkenal sebagai risalah akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, menuliskan sebagai berikut:

"ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر فقد كفر" اهـ.

“Barangsiapa mensifati Allah dengan satu sifat saja dari sifat-sifat manusia maka orang ini telah menjadi kafir”.
[Lihat matan al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah dengan penjelasannya; Izh-hâr al-‘Aqîdah as-Sunniyyah Bi Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah karya al-Hâfizh al-Habasyi, h. 124]

  

﴾﴾ 5 ﴿﴿

Salah seorang sufi terkemuka, al-‘Ârif Billâh al-Imâm Abu al-Qasim al-Qusyairi (w 465 H) dalam karya fenomenalnya berjudul ar-Risâlah al-Qusyairiyyah menuliskan sebagai berikut:

"سمعت الإمام أبا بكر ابن فورك رحمه الله تعالى يقول: سمعت أبا عثمان المغربي يقول: كنت اعتقد بشيء من حديث الجهة، فلما قدمت بغداد زال ذلك عن قلبي فكتبت الى اصحابنا بمكة: إني أسلمت الآن إسلاما جديدًا" اهـ.

“Aku telah mendengar al-Imâm Abu Bakr ibn Furak berkata: Aku telah mendengar Abu Utsman al-Maghribi berkata: Dahulu aku pernah berkeyakinan sedikit tentang adanya arah bagi Allah, namun ketika aku masuk ke kota Baghdad keyakinan itu telah hilang dari hatiku. Lalu aku menulis surat kepada teman-temanku yang berada di Mekah, aku katakan kepada mereka bahwa aku sekarang telah memperbaharui Islamku”.
[ar-Risâlah al-Qusyairiyyah, h. 5]

﴾﴾ 6 ﴿﴿

Teolog terkemuka di kalangan Ahlussunnah al-Imâm Abu al-Mu’ain Maimun ibn Muhammad an-Nasafi al-Hanafi (w 508 H) dalam kitab Tabshirah al-Adillah menuliskan sebagai berikut:

"والله تعالى نفى المماثلة بين ذاته وبين غيره من الأشياء، فيكون القول باثبات المكان له ردا لهذا النص المحكم- أي قوله تعالى ﴿ليس كمثله شيء﴾ - الذي لا احتمال فيه لوجهٍ ما سوى ظاهره، ورادُّ النص كافر، عصمنا الله عن ذلك" اهـ.

“Allah telah menafikan keserupaan antara Dia sendiri dengan segala apapun dari makhluk-Nya. Dengan demikian pendapat yang menetapkan adanya tempat bagi Allah adalah pendapat yang telah menentang ayat muhkam; yaitu firman-Nya: “Laysa Kamitslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Ayat ini sangat jelas pemaknaannya dan tidak dimungkinkan memiliki pemahaman lain (takwil). Dan barangsiapa menentang ayat-ayat al-Qur’an maka ia telah menjadi kafir. Semoga Allah memelihara kita dari kekufuran”.
[Tabshirah al-Adillah Fî Ushûliddîn, j. 1, h. 169]

﴾﴾ 7 ﴿﴿

Asy-Syaikh al-‘Allâmah Zainuddin Ibn Nujaim al-Hanafi (w 970 H) dalam karyanya berjudul al-Bahr ar-Râ-iq Syarh Kanz ad-Daqâ-iq berkata:

ويكفر باثبات المكان لله تعالى، فإن قال: الله في السماء، فإن قصد حكاية ما جاء في ظاهر الأخبار لا يكفر، وإن أراد المكان كفر

“Dan seseorang menjadi kafir karena berkeyakinan adanya tempat bagi Allah. Adapun jika ia berkata “Allâh Fi as-Samâ’” untuk tujuan meriwayatkan apa yang secara zhahir terdapat dalam beberapa hadits maka ia tidak kafir. Namun bila ia berkata demikian untuk tujuan menetapkan tempat bagi Allah maka ia telah menjadi kafir”.
[al-Bahr ar-Râ-iq, j. 5, h. 129]

﴾﴾ 8 ﴿﴿

Asy -Syaikh al-‘Allâmah Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Mishri asy - Syafi’i al-Asy’ari (w 974 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hajar al- Haitami dalam karyanya berjudul al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah menuliskan sebagai berikut:

"واعلم أن القَرَافي وغيره حكوا عن الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم، القول بكفر القائلن بالجهة والتجسيم، وهم حقيقون بذلك" اهـ.

“Ketahuilah bahwa al-Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari al- Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al- Imâm Ahmad dan al-Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa seorang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian”.
[al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, h. 224]

 
﴾﴾ 9 ﴿﴿

Dalam kitab Syarh al-Fiqh al-Akbar yang telah disebutkan di atas, asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari menuliskan sebagai berikut:

"فمن أظلم ممن كذب على الله أو ادعى ادعاء معينا مشتملا على اثبات المكان والهيئة والجهة من مقابلة وثبوت مسافة وأمثال تلك الحالة، فيصير كافرا لا محالة) اهـ.

“Maka barangsiapa yang berbuat zhalim dengan melakukan kedustaan kepada Allah dan mengaku dengan pengakuan-pengakuan yang berisikan penetapan tempat bagi-Nya, atau menetapkan bentuk, atau menetapkan arah; seperti arah depan atau lainnnaya, atau menetapkan jarak, atau semisal ini semua, maka orang tersebut secara pasti telah menjadi kafir”.
[Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 215]

Masih dalam kitab yang sama, asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari juga menuliskan sebagai berikut:

من اعتقد أن الله لا يعلم الأشياء قبل وقوعها فهو كافر وان عد قائله من أهل البدعة، وكذا من قال: بأنه سبحانه جسم وله مكان ويمر عليه زمان ونحو ذلك كافر، حيث لم تثبت له حقيقة ا لإيمان " اهـ.

“Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah tidak mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya maka orang ini benar-benar telah menjadi kafir, sekalipun orang yang berkata semacam ini dianggap ahli bid’ah saja. Demikian pula orang yang berkata bahwa Allah adalah benda yang memiliki tempat, atau bahwa Allah terikat oleh waktu, atau semacam itu, maka orang ini telah menjadi kafir, karena tidak benar keyakinan iman - yang ada pada dirinya-”109.
[Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 271-272]

Dalam kitab karya beliau lainnya berjudul Mirqât al-Mafâtîh Syarh Misykât al-Mashâbîh, Syaikh Ali Mulla al-Qari’ menuliskan sebagai berikut:

"بل قال جمع منهم- أي من السلف- ومن الخلف إن معتقد الجهة كافر كما صرح به العراقي، وقال: إنه قول لأبي حنيفة ومالك والشافعي والأشعري والباقلاني " اهـ.

“Bahkan mereka semua (ulama Salaf) dan ulama Khalaf telah menyatakan bahwa orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah maka orang ini telah menjadi kafir, sebagaimana hal ini telah dinyatakan oleh al-Iraqi. Beliau (al-Iraqi) berkata: Klaim kafir terhadap orang yang telah menetapkan arah bagi Allah tersebut adalah pernyataan al-Imâm Abu Hanifah, al-Imâm Malik, al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm al-Asy’ari dan al-Imâm al-Baqillani”.
[Mirqât al-Mafâtîh, j. 3, h. 300]

﴾﴾ 10 ﴿﴿

Asy-Syaikh al-‘Allâmah Kamaluddin al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H) dalam karyanya berjudul Isyârât al-Marâm Min ‘Ibârât al-Imâm, sebuah kitab akidah dalam menjelaskan perkataan-perkataan al-Imâm Abu Hanifah, menuliskan sebagai berikut:

الشيخ العلامة كمال الدين البياضي الحنفي (1098 هـ) في شرح كلام الإمام أبي حنيفة ما نصه : "فقال- أي أبو حنيفة- (فمن قال: لا أعرف ربي أفي السماء أم في الأرض فهو كافر) لكونه قائلا باختصاص البارىء بجهة وحيز وكل ما هو مختص بالجهة والحيز فإنه محتاج محدث بالضرورة، فهو قول بالنقص الصريح في حقه تعالى (كذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض) لاستلزامه القول باختصاصه تعالى بالجهة والحيز والنقص الصريح في شأنه سيما في القول بالكون في الأرض ونفي العلو عنه تعالى بل نفي ذات الإله المنزه عن التحيز ومشابهة الأشياء. وفيه اشارات:

الأولى: ان القائل بالجسمية والجهة مُنكر وجود موجود سوى الأشياء التي يمكن الإشارة اليها حسّا، فمنهم منكرون لذات الإله المنزه عن ذلك، فلزمهم الكفر لا محالة. واليه أشار بالحكم بالكفر.

الثانية: اكفار من أطلق التشبيه والتحيز، وإليه أشار بالحكم المذكور لمن اطلقه، واختاره الإمام الأشعري، فقال في النوادر: من اعتقد أن الله جسم فهو غير عارف بربه لانه كافر به، كما في شرح الإرشاد لأبي القاسم الأنصاري"اهـ.

“Beliau (al-Imâm Abu Hanifah) berkata: “Barangsiapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau berada di bumi maka orang ini telah menjadi kafir”. Hal ini karena orang yang berkata demikian telah menetapkan tempat dan arah bagi Allah. Dan setiap sesuatu yang memiliki tempat dan arah maka secara pasti ia adalah sesuatu yang baharu (yang membutuhkan kepada yang menjadikannya pada tempat dan arah tersebut). Pernyataan semacam itu jelas merupakan cacian bagi Allah. Beliau (al-Imâm Abu Hanifah) berkata: “Demikian pula menjadi kafir orang yang berkata: “Allah berada di atas arsy , namun saya tidak tahu arsy, apakah berada di langit atau berada di bumi”. Hal ini karena orang tersebut telah menetapkan adanya tempat bagi Allah, menetapkan arah, juga menetapkan sesuatu yang nyata sebagai kekurangan bagi Allah, terlebih orang yang mengatakan bahwa Allah berada di arah atas, atau menfikan keagungan-Nya, atau menafikan Dzat Allah yang suci dari arah dan tempat, atau mengatakan bahwa Allah menyerupai makhluk-Nya. Dalam hal ini terdapat beberapa poin penting:

- Pertama: Orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah bentuk yang memiliki arah maka orang ini sama saja dengan mengingkari segala sesuatu yang ada kecuali segala sesuatu tersebut dapat diisyarat (dengan arah) secara indrawi. Dengan demikian orang ini sama saja dengan mengingkari Dzat Allah yang maha suci dari menyerupai makhluk-Nya. Oleh karena itu orang semacam ini secara pasti adalah seorang yang telah kafir. Inilah yang diisyaratkan oleh al-Imâm Abu Hanifah dalam perkataannya di atas.

- Kedua: Pengkafiran terhadap orang yang menetapkan adanya keserupaan dan tempat bagi Allah. Inilah yang diisyaratkan oleh al-Imâm Abu Hanifah dalam perkataannya di atas, dan ini berlaku umum. (Artinya yang menetapkan keserupaan dan tempat apapun bagi Allah maka ia telah menjadi kafir). Dan ini pula yang telah dipilih oleh al-Imâm al-Asy’ari, sebagaimana dalam kitab an-Nawâzdir beliau (al-Imâm al-Asy’ari) berkata: “Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah benda maka orang ini tidak mengenal Tuhannya dan ia telah kafir kepada-Nya”. Sebagaimana hal ini juga dijelaskan dalam kitab Syarh al-Irsyâd karya Abu al-Qasim al-Anshari”
(Isyârât al-Marâm, h. 200)

 

﴾﴾ 11 ﴿﴿

Asy-Syaikh al-‘Allâmah Abdul Ghani an-Nabulsi al-Hanafi (w 1143 H) dalam karyanya berjudul al-Fath ar-Rabbâny Wa al-Faydl ar-Rahm âny menuliskan sebagai berikut:

"وأما اقسام الكفر فهي بحسب الشرع ثلاثة أقسام ترجع جميع أنواع الكفر اليها، التشبيه، والتعطيل، والتكذيب... وأما التشبيه: فهو الاعقاد ان الله تعالى يشبه شيئا من خلقه، كالذين يعتقدون أن الله تعالى جسم فوق العرش، أو يعتقدون أن له يدين بمعنى الجارحتين، وأن له الصورة الفلانية أو على الكيفية الفلانية، أو أنه نور يتصوره العقل، أو أنه في السماء أو في جهة من الجهات الست، أو أنه في مكان من الاماكن، او في جميع الأماكن، أو أنه ملأ السموات والأرض، أو أن له حلول في شىء من الأشياء، أو في جميع الأشياء، أو أنه متحد بشىء من الاشياء، أو في جميع الأشياء، أو أن الأشياء منحلة منه، أو شيئا منها. وجميع ذلك كفر صريح والعياذ بالله تعالى، وسببه الجهل بمعرفة الامر غلى ما هو عليه" اهـ.

“Kufur dalam tinjauan syari’at terbagi kepada tiga bagian. Segala macam bentuk kekufuran kembali kepada tiga macam kufur ini, yaitu at-Tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Ta’thil (menafikan Allah atau sifat-sifat-Nya), dan at- Takdzib (mendustakan). Adapun at-Tasybîh adalah keyakinan bahwa Allah menyerupai makhluk-Nya , seperti mereka yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas arsy, atau yang berkeyakinan bahwa Allah memiliki dua tangan dalam pengertian anggota badan, atau bahwa Allah berbentuk seperti si fulan atau memiliki sifat seperti sifat -sifat si fulan, atau bahwa Allah adalah sinar yang dapat dibayangkan dalam akal, atau bahwa Allah berada di langit, atau barada pada semua arah yang enam atau pada suatu tempat atau arah tertentu dari arah-arah tersebut, atau bahwa Allah berada pada semua tempat, atau bahwa Dia memenuhi langit dan bumi, atau bahwa Allah berada di dalam suatu benda atau dalam seluruh benda, atau berkeyakinan bahwa Allah menyatau dengan suatu benda atau semua benda , atau berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang terpisah dari Allah, semua keyakinan semacam ini adalah keyakinan kufur. Penyebab utamanya adalah karena kebodohan terhadap kewajiban yang telah dibebankan oleh syari’at atasnya”
(al-Fathar-Rabbâny, h. 124)
 

﴾﴾ 12 ﴿﴿

Asy-Syaikh al -‘Allâmah Muhammad ibn Illaisy al -Maliki (w 1299 H) dalam menjelaskan

perkara-perkara yang dapat menjatuhkan seseorang di dalam kekufuran dalam kitab Minah al-Jalîl Syarh Mukhtashar al-Khalîl menuliskan sebagai berikut:

"وكاعتقاد جسمية الله وتحيزه، فانه يستلزم حدوثه واحتياجه لمحدث" اهـ.

“Contohnya seperti orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda atau berkayakinan bahwa Allah berada pada arah. Karena pernyataan semacam ini sama saja dengan menetapkan kebaharuan bagi Allah, dan menjadikan-Nya membutuhkan kepada yang menjadikan-Nya dalam kebaharuan tersebut”.
[Minah al-Jalîl, j. 9, h. 206]
 

﴾﴾ 13 ﴿﴿

Al-‘Allâmah al-Muhaddits al -Faqîh asy-Syaikh Abul Mahasin Muhammad al -Qawuqji ath-Tharabulsi al-Hanafi (w 1305 H) dalam risalah akidah berjudul al-I’timâd Fî al-I’tiqâd menuliskan sebagai berikut:

"ومن قال لا أعرف الله في السماء هو أم في الأرض كفر- لأنه جعل أحدهما له مكانا"اهـ.

“Barangsiapa berkata: “Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau berada di bumi”; maka orang ini telah menjadi kafir. (Ini karena ia telah menetapkan tempat bagi Allah pada salah satu dari keduanya)”.
[al-I’timâd Fî al-I’tiqâd, h. 5] 

﴾﴾ 14 ﴿﴿

Dalam kitab al-Fatâwâ al-Hindiyyah, sebuah kitab yang memuat berbagai fatwa dari para ulama Ahlussunnah terkemuka di daratan India, tertulis sebagai berikut:

"يكفر باثبات المكان لله تعالى. ولو قال: الله تعالى في السماء فإن قصد له حكاية ما جاء فيه ظاهر الأخبار لا يكفر وإن أراد به المكان يكفر" اهـ.

“Seseorang menjadi kafir karena menetapkan tempat bagi Allah. Jika ia berkata Allâh Fi as-Samâ’ untuk tujuan meriwayatkan lafazh-Zhahir dari beberapa berita (hadits) yang datang maka ia tidak menjadi kafir. Namun bila ia berkata demikian untuk tujuan menetapkan bahwa Allah berada di langit maka orang ini menjadi kafir”.
[al-Fatâwâ al-Hindiyyah, j. 2, h. 259]

﴾﴾ 15 ﴿﴿

Asy-Syaikh Mahmud ibn Muhammad ibn Ahmad Khaththab as-Subki al-Mishri (w 1352 H) dalam kitab karyanya berjudul Ithâf al-Kâ-inât Bi Bayân Madzhab as-Salaf Wa al-Khalaf Fi al-Mutasyâbihât, menuliskan sebagai berikut:

"سألني بعض الراغبين في معرفة عقائد الدين والوقوف على مذهب السلف والخلف في المتشابه من الآيات والأحاديث بما نصه: ما قول السادة العلماء حفظهم الله تعالى فيمن يعتقد أن الله عز وجل له جهة وأنه جالس على العرش في مكان مخصوص ويقول ذلك هو عقيدة السلف ويحمل الناس على أن يعتقدوا هذا الاعتقاد، ويقول لهم: من لم يعتقد ذلك يكون كافرا مستدلا بقوله تعالى: ﴿الرحمن على العرش استوى ﴾ وقوله عز و جلّ ﴿ءأمنتم من السماء ﴾ (سورة الملك/۱۱) أهذا الأعتقاد صحيح ام باطل ؟وعلى كونه باطلا أيكفر ذلك القائل باعتقاده المذكور ويبطل كل عمله من صلاة وصيام وغير ذلك من الأعمال الدينية وتبين منه زوجته، وإن مات على هذه الحالة قبل أن يتوب لا يغسل ولا يدفن في مقابر المسلمين، وهل من صدقه في ذلك كافرا مثله؟ فأجبت بعون الله تعالى، فقلت: بسم الله الرحمن الحمد لله الهادي إلى الصواب، والصلاة والسلام على من أوتي الحكمة وفصل الخطاب، وعلى ءاله وأصحابه الذين هداهم الله ورزقهم التوفيق والسداد. أما بعد: فالحكم أن هذا الاعتقاد باطل ومعتقد كافر باجماع من يعتد به من علماء المسلمين، والدليل العقلي على ذلك قِدَم الله تعالى ومخالفته للحوادث، والنقلي قوله تعالى: ﴿ليس كمثلهء شيء وهو السميع البصير ﴾، فكل من اعتقد أنه تعالى حل في مكان أو اتصل به شىء من الحوادث كالعرش أو الكرسي أو السماء أو الأرض او غير ذلك فهو كافر قطعا، ويبطل جميع عمله من صلاة وصيام وحج وغير ذلك وتبين منه زوجه، ووجب عليه أن يتوب فورا، واذا مات على هذا الاعتقاد والعياذ بالله تعالى لا يغسل ولا يصلى عليه ولا يدفن في مقابر المسلمين، ومثله في ذلك كله من صدقه في اعتقاده أعاذنا الله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا. وأما حمله الناس على ان يعتقدوا هذا الاعتقاد المكفر، وقوله لهم: من لم يعتقد ذلك يكون كافرا، فهو كفر وبهتان عظيم" ا هـ.

“Telah berkata kepadaku sebagian orang yang menginginkan penjelasan tentang dasar-dasar akidah agama dan ingin berpijak di atas pijakan para ulama Salaf dan ulama Khalaf dalam memahami teks-teks Mutasyâbihât, mereka berkata: Bagaimana pendapat para ulama terkemuka tentang hukum orang yang berkeyakinan bahwa Allah berada pada arah, atau bahwa Dia duduk satu tempat tertentu di atas arsy, lalu ia berkata: Ini adalah akidah salaf, kita harus berpegang teguh dengan keyakinan ini. Ia juga berkata: Barangsiapa tidak berkeyakinan Allah di atas arsy maka ia telah menjadi kafir. Ia mengambil dalil untuk itu dengan firman Allah: “ar-Rahmân ‘Alâ al-‘Arsy Istawâ” (QS. Thaha: 5) dan firman-Nya: “A-amintum Man Fî as-Samâ’ (QS. al-Mulk: 16). Orang yang berkeyakinan semacam ini benar atau batil? Dan jika keyakinannya tersebut batil, apakah seluruh amalannya juga batil, seperti shalat, puasa, dan lain sebagainya dari segala amalan-amalan keagamaannya? Apakah pula menjadi tertalak pasangannya (suami atau istrinya)? Apakah jika ia mati dalam keyakinannya ini dan tidak bertaubat dari padanya, ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan di pemakaman kaum muslimin? Kemudian seorang yang membenarkan keyakinan orang semacam itu, apakah ia juga telah menjadi kafir?

Jawaban yang aku tuliskan adalah sebagai berikut: Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Keyakinan semacam ini adalah keyakinan batil, dan hukum orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir, sebagaimana hal ini telah menjadi Ijma’ (konsensus) ulama terkemuka. Dalil akal di atas itu adalah bahwa Allah maha Qadim; tidak memiliki permulaan, ada sebelum segala makhluk, dan bahwa Allah tidak menyerupai segala makhluk yang baharu tersebut (Mukhâlafah Li al-Hawâdits). Dan dalil tekstual di atas itu adalah firman Allah: “Laysa Kamitaslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Dengan demikian orang yang berkayakinan bahwa Allah berada pada suatu tempat, atau menempel dengannya, atau menempel dengan sesuatu dari makhluk-Nya seperti arsy, al-kursy, langit, bumi dan lainnya maka orang semacam ini secara pasti telah menjadi kafir. Dan seluruh amalannya menjadi sia-sia, baik dari shalat, puasa, haji dan lainnya. Demikian pula pasangannya (suami atau istrinya) menjadi tertalak. Ia wajib segera bertaubat dengan masuk Islam kembali (dan melepaskan keyakinannnya tersebut). Jika ia mati dalam keyakinannya ini maka ia tidak boleh dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan dipemakaman orang-orang Islam. Demikian pula menjadi kafir dalam hal ini orang yang membenarkan keyakinan batil tersebut, semoga Allah memelihara kita dari pada itu semua. Adapun pernyataannya bahwa setiap orang wajib berkeyakinan semacam ini, dan bahwa siapapun yang tidak berkeyakinan demikian adalah sebagai seorang kafir maka itu adalah kedustaan belaka, dan sesungguhnya justru penyataannya yang merupakan kekufuran”.
[Ithâf al-Kâ’inât, h. 3-4]

 

﴾﴾ 16 ﴿﴿

Al-Muhaddits al-‘Allâmah asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari (w 1371 H), Wakil perkumpulan para ulama Islam pada masa Khilafah Utsmaniyyah Turki menuliskan:

"إن القول بإثبات الجهة له تعالى كفر عند الأئمة الأربعة هداة الأمة كما نقل عنهم العراقي على ما في "شرح المشكاة" لعلي القاري " اهـ.

“Perkataan yang menetapkan bahwa Allah berada pada tempat dan arah adalah kakufuran. Ini sebagaimana dinyatakan oleh para Imam madzhab yang empat, seperti yang telah disebutkan oleh al-Iraqi -dari para Imam madzhab tersebut- dalam kitab Syarh al-Misykât yang telah ditulis oleh asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari”.
[Maqâlât al-Kautsari, h. 321]

 

﴾﴾ 17 ﴿﴿

al-Muhaddits al-Faqîh al- Imâm al -‘Allâmah asy-Syaikh Abdullah al-Harari yang dikenal dengan sebutan al-Habasyi dalam banyak karyanya menuliskan bahwa orang yang berkeyakinan Allah berada pada tempat dan arah maka ia telah menjadi kafir, di antaranya beliau sebutkan dalam karyanya berjudul ash-Shirâth al-Mustaqîm sebagai berikut:

قال العلامة الشيخ المحدث الفقيه عبد الله الهرري المعروف بالحبشي حفظه الله ما نصه : "وحكم من يقول: (إن الله تعالى في كل مكان أو في جميع الأماكن) التكفير إذا كان يفهم من هذه العبارة أن الله بذاته منبثٌّ أو حالٌّ في الأماكن، أما إذا كان يفهم من هذه العبارة أنه تعالى مسيطر على كل شيء وعالم بكل شىء فلا يكفر. وهذا قصد كثير ممن يلهج بهاتين الكلمتين، ويجب النهي عنهما في كل حال " اهـ.

“Hukum orang yang berkata: “Allâh Fi Kulli Makân” atau berkata “Allâh Fi Jami’ al-Amâkin” (Allah berada pada semua tempat) adalah dikafirkan; jika ia memahami dari ungkapannya tersebut bahwa Dzat Allah menyebar atau menyatu pada seluruh tempat. Adapun jika ia memahami dari ungkapannya tersebut bahwa Allah menguasai segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu maka orag ini tidak dikafirkan. Pemahaman yang terakhir ini adalah makna yang dimaksud oleh kebanyakan orang yang mengatakan dua ungkapan demikian. Namun begitu, walau bagaimanapun dan dalam keadaan apapun kedua ungkapan semacam ini harus dicegah”.
[ash-Shirât al-Mustaqîm, h. 26]

Dalam kitab yang sama, al-Imâm al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah juga menuliskan sebagai berikut:

وقال أيضا : "ويكفر من يعتقد التحيز لله تعالى، أو يعتقد أن الله شىء كالهواء أو كالنور يملأ مكانا أو غرفة أو مسجدا، ونسمي المساجد بيوت الله لا لأن الله يسكنها بل لأنها أماكن يعبد الله فيها. وكـذلك يكفر من يقول (الله يسكن قلوب أوليائه) إن كان يفهم الحلول. وليس المقصود بالمعراج وصول الرسول إلى مكان ينتهي وجود الله تعالى إليه ويكفر من اعتقد ذلك، إنما القصد من المعراج هو تشريف الرسول- صلّى الله عليه و سلّم- باطلاعه على عجائب في العالم العلوي، وتعظيم مكانته ورؤيته للذات المقدس بفؤاده من غير أن يكون الذات في مكان " اهـ.

“Orang yang berkeyakinan Allah berada pada tempat maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula menjadi kafir orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda seperti udara, atau seperti sinar yang menempati suatu tempat, atau menempati ruangan, atau menempati masjid. Adapaun bahwa kita menamakan masjid-masjid dengan “Baitullâh” (rumah Allah) bukan berarti Allah bertempat di dalamnya, akan tetapi dalam pengertian bahwa masjid-masjid tersebut adalah tempat menyembah (beribadah) kapada Allah. Demikian pula menjadi kafir orang yang berkata: “Allâh Yaskun Qulûb Awliyâ-ih” (Allah bertempat di dalam hati para wali-Nya) jika ia berpaham hulûl. Adapun maksud dari Mi’raj bukan untuk tujuan Rasulullah sampai ke tempat di mana Allah berada padanya. Orang yang berkeyakinan semacam ini maka ia telah menjadi kafir. Sesungguhnya tujuan Mi’raj adalah untuk memuliakan Rasulullah dengan diperlihatkan kepadanya akan keajaiban-keajaiban yang ada di alam atas, dan untuk tujuan mengagungkan derajat Rasulullah dengan diperlihatkan kepadanya akan Dzat Allah yang maha suci dengan hatinya dari tanpa adanya Dzat Allah tersebut pada tempat”. [Ibid].

Wallohu a'lamu bisshowab.

Danny Ma'shoum, Sidoarjo 9 Juni 2015

Sunday, June 7, 2015

PETUAH DARI KEBUN MAWAR

PETUAH - PETUAH DARI KEBUN MAWAR SYAIKH SA'DI SYIROZY.
BAGIAN 1.
Nukilan Petuah, nasehat, peringatan, syair, fragmen maupun hikayat Syaikh Sa'di Asy-Syirozy dibawah ini saya terjemahkan secara bebas dari kitabnya yang berjudul   " كلستان - روضة الورد ( Kalistan - Kebun Mawar ).
حكاية
حكي عن بعض الملوك انه ركب سفينة وبصحبتة غلام اعجمي لم ير البحر اصلا ولم يجرب محنة السفينة فابتدأ يصرخ ويئن وقد تهافت علي نفسه وهو يرتعد من الفرق وبمقدار مالاطفه الناس لم يستقر له قرار فتنغص عيش الملك حيث اعيته به الحيلة وصادف ان كان في تلك السفينة حكيم فقال للملك اذا امرت فانني سأسكته فأجابه الملك تكون بذلك قد بلغت غاية اللطف . فأمر بان يلقي الغلام في البحر فتقاذفته الأمواج حتى اذا اشفى علي الهلاك امر ان يجذب من شعره الي السفينة فتشبث الغلام بكلتا يديه بسكانها ولما احس انه اصبح على سطحها جلس منزويا واستقر آمنا . فكبر عند ئذ تدبير الحكيم بعين الملك وسأله ان يوضح له السبب فقال : ان الغلام يا سيدي لم يتجرع قبل غصة الغرق حتى يعرف قدر السلامة في السفينة وكذالك لا يعرف احد قيمة العافية من النوائب مالم تمر علي رأسه المصائب وتحنكه التجارب .
( كلستان، روضة الورد  ص. ٤٠ )
HIKAYAT
" Suatu kala ada seorang raja melakukan tamasya. Seorang pemuda yang belum punya pengalaman ikut diantara mereka yang menemani beliau. Ia belum pernah berlayar dan gentar pada hamparan lautan luas sampai pemuda tersebut menangis, dan orang-orang pun berusaha menenangkannya. Suasana darma wisata pun menjadi kacau karena tangisan pemuda tersebut yang tak mau diam, dan Raja pun menjadi gusar.
Didalam kapal terdapat juga seorang yang bijak. Ia memohon kepada Raja agar memperkenankannya menyadarkan pemuda tersebut. Setelah Raja memberinya izin, si Bijak tersebut lantas menyuruh awak kapal agar melemparkan pemuda tersebut kedalam lautan.
Akan halnya si pemuda, betapapun ia berusaha sekuat tenaga mengapung dengan berpegang pada sebuah rakit, pada akhirnya ia dibolehkan bergelayut pada buritan kapal, dan beberapa saat kemudian ia ditarik kedalam kapal.
Ketika ia berada dalam kapal, ia pun duduk dengan tenang dan nyaman. Raja pun senang dengan tindakan si Bijak, dan memintanya bicara didepan orang banyak. Si Bijak itu berkata, " Anak muda ini kurang menghargai keamanan didalam kapal tanpa pernah dihadapkan pada bahaya maut didalam lautan. Orang-orang pada umumnya tidak menghargai nilai kesehatan sampai mereka menjadi sakit ".  [ Kalistan, Roudhotul Wardi ( Kebun Mawar ), Hal. 40 ]
حكاية
حكوا ان ملكا قليل الإنصاف سأل عابدا : " اي العبادات افضل ؟  فاجاب به : نوم نصف النهار ، حتى تستريح الخلق من أذاك في تلك الفترة من الزمان .
( كلستان، روضة الورض   ص ٤٥ )
HIKAYAT
Seorang raja yang tidak adil bertanya kepada seorang ahli ibadah : " Manakah jenis ibadah yang lebih utama ?". Maka dijawab oleh si ahli ibadah, " Jenis ibadah yang lebih utama adalah tidur sampai tengah hari agar paling tidak selama dalam jangka waktu itu hamba-hamba paduka selamat dari ketidak adilan paduka ".  [ Kalistan, Roudhotul Wardi ( Kebun Mawar ), Hal. 45 ]
حكمة
كل شيئ يأتى عاجلا لا يمكن ان يثبت على الزمن
HIKMAH.
" Segala sesuatu yang datangnya seketika, tidak mungkin bisa diprediksi waktunya ".
[ Kalistan - Roudhotul Ward, Hal. 273 ]
تربية
المتكلم ما دام لم ينبهه احد على عيوبه فكلامه لا يقبل الصلاح في أسلوبه
TARBIYAH.
" Seorang pembicara itu, selama belum mampu mengingatkan seseorang atas kekeliruannya, maka perkataannya tidak dapat mendatangkan kemanfaatan pada gaya bahasanya ".
[ Kalistan - Roudhotul Ward, Hal. 270 ]
تنبيه
ليس كل من يرغب فى المجادلة يكون مستقيما فى المعاملة
PERINGATAN.
" Setiap orang yang sangat berhasrat dalam  perdebatan, tidak akan bisa menjadi orang yang konsekwen dalam berperilaku ".
[ Kalistan - Roudhotul Ward, Hal. 276 ]
حكمة
لو ان الليالي كلها ليلة القدر لما كان اي قدر لليلة القدر
HIKMAH.
" Seandainya seluruh malam adalah malam lailatul Qodar, maka manakala terjadi tiap-tiap peruntungan, padanyalah lailatul qodar ".
[ Kalistan - Roudhotul Ward, Hal. 276 ]
حكمة
ليس كل من هو حسن الصورة يكون حسن السريرة اذ القيمة باللب بالقشور
HIKMAH.
" Tidak semua yang bagus bentuknya itu menunjukkan bagusnya kepribadian ( batin ) nya, sedangkan penilaian pada hati nurani ( batin ) itu hanya dengan cara mengupasnya ( meneliti dengan jeli ) ".
[ Kalistan - Roudhotul Ward, Hal. 277 ]
نصيحة
ملاكمة الاسد ومصادمة الحسام ليستا من عمل العقلاء
NASEHAT.
" pukulan ( menyerang ala ) singa dan tebasan pedang, keduanya bukan merupakan ( cara ) penyelesaian orang-orang yang berakal sehat ".
[ Kalistan - Roudhotul Ward, Hal. 278 ].
كل من لم يأكل الناس خبزه في حياته لا يذكرون اسمه بعد مماته
( كلستان، روضة الورد  ص ٢٨٦ )
" Setiap orang yang dimana manusia tidak mau memakan ( menerima ) roti ( pemberian ) nya selama hidupnya, maka mereka tidak akan mengenang namanya setelah kematiannya ". [ Kalistan, Roudhotul Wardi ( Kebun Mawar ), Hal. 286 ].
بيت
اغلق على الدار ابواب السرور اذا       صوت النساء تعالى في نواحيها
BAIT
" Tertutup sudah pintu kebahagiaan dalam sebuah rumah , jika suara wanita meninggi dalam ratapannya ".  [ Kalistan, Roudhotul Wardi ( Kebun Mawar ), Hal. 284 ]
تشبيه :  التلميذ بلا ارادة عاشق بلا ذهب ، والسائح بلا معرفة طائر بلا جناح ، والعالم بلا عمل شجرة بلا ثمر ، والزاهد بلا علم دار بلا باب .
( كلستان، روضة الورد  ص ٢٩٠ )
TASYBIH ( Persamaan ) :  Seorang pelajar yang tak punya kemauan, ( seperti ) seorang pecinta yang tak pernah berkunjung ( pada sang kekasih ). Seorang pelancong tanpa pengetahuan ( seperti ) burung tanpa sayap. Dan orang 'alim tanpa amal ( seperti ) pohon tanpa buah. Serta orang yang zuhud tanpa ilmu ( laksana ) rumah tanpa pintu ".  [ Kalistan, Roudhotul Wardi ( Kebun Mawar ), Hal. 290 ].
قالو لشخص ماذا يشبه العالم بلا عمل فقال زنبورا بلا عسل
( كلستان، روضة الورد  ص ٢٩١ )
Mereka berkata pada seseorang, " Apa yang serupa dengan orang ahli ilmu tanpa pengamalan, maka menjawab orang tersebut, " ( seperti ) Tawon tanpa madu ".  [ Kalistan, Roudhotul Wardi ( Kebun Mawar ), Hal. 291 ].
سعداء الطالع يتناصحون بالحكايات والامثال من آثار المتقدمين وبهذا السبب يضرب الامثال يوقائعهم طائفة المتأخرين
( كلستان، روضة الورد  ص ٣٠٠ )
" Kesuksesan seorang pengkaji adalah saling merekomendasikan dengan hikayat-hikayat dan contoh-contoh dari jejak orang-orang terdahulu, dan dengan sebab inilah akan menimbulkan sebuah pribahasa-pribahasa pada generasi berikutnya dari peristiwa yang terjadi pada orang-orang terdahulu ".  [ Kalistan, Roudhotul Wardi ( Kebun Mawar ), Hal. 300 ]
Bersambung....
——————
Sidoarjo, Senin 25 Mei 2015
Danny Ma'shoum

Saturday, May 30, 2015

IBNU 'AROBY, TARJUMAN AL-ASYWAQ


“Tarjuman al Asywaq” Ibnu Arabi "

Puisi-Puisi Kerinduan Ibnu Arobi

محى الدين ابو بكر محمد بن على بن عربى الحاتمى الطائى المعروف بالشيخ الاكبر والكبريت الاحمر. وهو عربى من نسل حاتم الطائى . ولد بمرسية بلد أبى العباس المرسى سنة 560ﻫ : وقرأ القرآن والحديث فى إشبيلية وأقام فيها نحو ثلاثين عاما ثم رحل الى المشرق وأخذ الحديث عن ابن عساكر وابن الجوزى وساح فى بغداد وموصل وبلاد الروم. واتسعت معرفه المتعددة . وقد توفى فى دمش سنة 638ﻫ. وقد أعطى بلاغة فى القول وعمقا فى التفكير وسعة فى الخيال. له النثر الكثير والشعر الكثير لا يعبأ بمال ولا جاه وكان كثير الشطح والتأويل. و تآليفه تبلغ نحو مائة و خمسين كتابا في ضروب مختلفة من العلوم و المعارف، و كلها عظيمة القدر و الاثر، و المنتفعون به في حياته، و بكتاباته بعد وفاته لا يحصون كثرة. و من أجل مؤلفاته: «فصوص الحكم» و «الفتوحات المكية»

Muhyiddin Ibn Arabi. Siapa yang tidak kenal dengan nama ini?. Dialah sufi paling kontroversial; seperti Imam al Ghazali, dikagumi sekaligus dicacimaki sepanjang masa. Para pengagumnya menyebut dia sang sufi (mistikus) terbesar sepanjang sejarah, dialah sang“al Syeikh al Akbar” (guru terbesar) dan “al Kibrit al Ahmar” (sumber api). Tidak ada pemilik gelar seperti ini di kalangan ulama, pemikir Islam dan mistikus sepanjang zaman, kecuali dia. Pengaruhnya demikian besar dan menyebar keseluruh pelosok bumi manusia. Hanya sedikit tokoh intelektual Islam yang memiliki pengaruh demikian besar dan meluas selama berabad-abad seperti orang ini. Kajian-kajian sufisme tidak pernah lupa, sedikit atau banyak menyebutkan namanya. Ibnu Arabi adalah seorang visioner yang sangat cerdas dan brilian. Tetapi para pembencinya menyebut dia seorang bid’ah, kafir, zindiq, dungu, orang gila, dan musyrik.[1] Doktrin-doktrin sufismenya dikecam habis-habisan, seluruhnya sebagai bersifat panteistik dan menuhankan Muhammad. Karena itu mereka selalu berupaya untuk membunuh karakternya, bahkan juga dalam arti melenyapkan fisiknya. Para pengusung dan penerus doktrin-doktrinnya juga mengalami hal serupa; dicacimaki, dihujat dan dihabisi. Sampai hari ini upaya-upaya kelompok anti Ibnu Arabi untuk melarang kaum muslimin membaca karya-karyanya dengan klaim kebenaran agama masih terus berlangsung. Buku-bukunya disarankan dibakar, atau paling ringan dilarang dibaca.

Muhyiddin, yang secara literal berarti orang yang menghidupkan agama, lahir di Mursia, Andalusia, Spanyol, tahun 1165 dari keluarga terkemuka. Ayahnya bernama Ali bin Ahmad bin Abd Allah. Dalam 30 tahun sejak kelahirannya dia tinggal di negerinya dan mengaji keilmuan Islam tradisional secara bandongan pada sejumlah ulama terkemuka pada masanya. Kepada mereka Ibnu Arabi belajar al Qur’an dan tafsrinya, hadits, nahwu-Sharaf dan fiqh. Salah satu materi keislaman yang sejak awal menarik hatinya adalah tasawuf. Materi ini pernah didiskusikan bersama filosof muslim terkemuka itu. Pertemuan dengan Ibnu Rusyd digagas ayahnya sendiri. Ibnu Arabi menceritakan pertemuan ini : “Aku memilih waktu yang tepat untuk bertemu dengan Abu al Walid Ibnu Rusyd. Dia telah mendengar pikiran-pikiranku ketika aku di pengasingan. Dalam pembicaraan yang menarik dia mengajukan pertanyaan:”Apakah jalan keluar yang kamu temukan akibat dari iluminasi dan ilham Ilahi itu?. Bukankah itu sangat spekulatif dan subyektif?. Aku jawab: “Ya dan tidak”. Mendengar jawaban ini aku melihat wajah Abu al Walid menjadi pucat”.

Masih dalam usia muda, Muhyiddin menikah dengan Maryam, teman perempuannya yang juga setia pada jalan tasawuf. Selama 40 tahun lebih setelahnya dia hidup sebagai pengembara. Dia melakukan perjalanan sebagai pencari gagasan-gagasan spiritual ke sejumlah wilayah di Spanyol, Afrika Utara dan ke berbagai negari di Timur Tengah. Beberapa negeri yang pernah disinggahinya antara lain Mesir, Baghdad, Makkah dan lain-lain. Masa-masa terakhir hidupnya dilalui di Damaskus, Suriah sambil terus menuliskan permenungan intuitifnya yang diperoleh selama pengembaraannya.

Ibnu Arabi wafat tahun 1240 M. Kuburannya berada sebuah masjid yang dikenal dengan namanya, terletak di puncak pegunungan Qasiyun. Damaskus, Siria. Para peziarah dari berbagai penjuru dunia datang ke tempat ini untuk mendapatkan berkah tokoh legendaris ini. Mereka berdoa dan mendoakannya. Itu berlangsung sepanjang tahun sampai hari ini.

Ibnu Arabi dikenal sebagai penulis paling produktif pada zamannya. Karyanya mencapai 200 buah. Sebagian menyebut jumlah lebih dari itu. Muhammad Qajjah, direktur kebudayaan Suriah mengatakan : “Huwa Aghzar Muallif fi Tarikh al Fikr al Islami bal la nubaaligh idza Qulna fi al al Tarikh al Basyari”(dialah penulis paling subur dalam sejarah pemikiran Islam bahkan tidak berlebihan jika saya katakan dalam sejarah pemikiran manusia). Bukunya yang sangat terkenal adalah “Al Futuhat al Makiyyah”, “Fushush al Hikam” dan “Tarjuman al Asywaq” berikut Syarh (ulasan) nya : “Al Dzakhair wa al A’laq”. Dua bukunya yang pertama merupakan karya masterpiecenya yang sangat terkenal di dunia sampai hari ini. Sementara dua buku yang disebut akhir adalah buku yang ingin kita baca malam yang indah ini.

Karya-karya Ibnu Arabi baik dalam bentuk prosa, puisi maupun “tausyihat”, kebanyakan ditulis dalam bahasa Persia. Sebagian lain dalam bahasa Arab. Kebanyakan karya-karyanya masih dalam bentuk manuskript. Pada masa sesudahnya buku-buku tersebut diteliti dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, oleh para sarjana muslim maupun non muslim. Karya-karya dan pikiran-pikiran tersebut diperkenalkan, disebarkan dan diberi ulasan panjang lebar oleh para muridnya yang terkenal sambil melakukan pembelaan terhadap gurunya. Beberapa di antaranya yang bisa disebut adalah ; Shadr al Din al Qunawi (w. 887 H/1274 M) dalam ”Miftah al Ghaib”, Abd al Karim al Jilli (767-805 H), Jalal al Din al Suyuthi, dalam “Tanbih al Ghabiy fi Tabri-ah Ibn Arabi”, dan Abd al Wahhab al Sya’rani (w. 1565), dalam “Al Yawaqit wa al Jawahir fi Bayan ‘Aqaid al Akabir” dan “Al Kibrit al Ahmar fi Bayan Ulum al Syeikh al Akbar”. Mereka adalah nama-nama besar dalam dunia mistisisme Islam yang dikenal luas. Tulisan-tulisan Ibnu Arabi didiskusikan dengan apresiatif dan dipuji. Tetapi pada waktu yang sama dia disumpahserapah dengan penuh kemarahan oleh para pembencinya yang pada umumnya adalah para ahli fiqh dan ahli hadits. Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa karya-karya dan gagasan-gagasan spiritual Ibnu Arabi menjadi sumber inspirasi yang sangat kaya raya dan paling dinamis bagi banyak sufi dan para intelektual terkemuka sesudahnya bahkan sampai hari ini. Pikiran-pikiran al Syeikh al Akbar ini dinilai bagaikan lautan yang tak pernah kering. Suhrawardi, sufi terbunuh, menggambarkannya sebagai “sebuah lautan kebenaran-kebenaran Ilahi”.

Akan tetapi harus segera dikatakan bahwa karya-karya Ibnu Arabi bersifat sangat akademis, filosofis dan begitu canggih, sehingga amat sulit untuk dapat dipahami oleh kebanyakan orang. Lebih-lebih karya antologi puitiknya, seperti Tarjuman ini, atau“tausyihat”nya. Sedemikian rumitnya memahami karya-karya Ibnu Arabi, sebagian orang meragukan bahwa karya-karyanya tidak dihasilkan dari kesungguhan mental dan intelektual, melainkan dari ilham dan pengalaman mistiknya.

Tarjuman adalah salah satu kumpulan puisi mistisnya yang paling dikenal luas, sekaligus paling sulit diterjemahkan. Sayang, tidak banyak buku yang mengupas tuntas buku ini. Saya kira hanya pembaca yang amat terpelajar yang sabar dan sudah terlatih dengan kepekaan mendalam dan tinggi pada keilmuan Islam ; teologi, yurisprudensi (fiqh), sejarah dan filsafat yang diharapkan mampu memahami karya-karyanya dengan baik. Pembaca yang terbiasa dengan pemahaman Islam tekstualis dan eksoteris bukan hanya tidak mampu mengapresiasi, melainkan juga sering salah paham, apriori, tersesat, menyesatkan, mengafirkan dan bahkan berusaha membunuhnya. Saya adalah bagian dari orang awam, tetapi saya tidak ingin menyesatkan orang lain apalagi mengkafirkan dan menghalalkan daranya. Saya ingin memahami dengan sebaiknya-baiknya tentang pikiran orang besar ini sejauh yang dapat saya lakukan. Untuk ini saya harus berjalan dengan tertatih-tatih, meletihkan, “menyiksa” dan sangat mungkin gagal.

Gagasan Ibnu Arabi

Gagasan utama sufi besar ini adalah doktrinnya tentang Wahdah al Wujud (kesatuan wujud, Kesatuan Eksistensi) dan Al Insan al Kamil (manusia paripurna) atau Hakikat Muhammadiyyah. Gagasannya yang kedua ini dielaborasi lebih tajam oleh pengagumnya Abd al Karim al Jili. Karya al Jili; “Al Insan al Kamil fi Ma’rifah al Awakhir wa al Awail”, agaknya diinspirasi kuat oleh pikiran-pikiran Ibnu Arabi. Melalui doktrin Wahdah al Wujudnya dia menegaskan bahwa Tuhanlah satu-satunya Eksistensi yang riil. Segala hal dalam ruang semesta adalah kenihilan belaka. Lenyap. Tuhan adalah Realitas dalam segala yang wujud. Salah satu ucapannya dalam “Al Futuhat al Makiyyah” yang sering dikutip orang adalah :

فلولاه ولو لا نا لما كان الذى كان

Andai saja tiada Dia
Dan tiada aku
Niscaya tiadalah yang ada

Atau “Wa fi Kulli Syay-in lahu Aayah tadullu ‘ala Annahu ‘Ainuhu”.[2]

“Dan pada segala hal ada tanda yang menunjukkan bahwa ia adalah Dia”

Pada saat lain Ibnu Arabi juga mengatakan :

رأيت الحق فى الاعيان حقا
وفى الاسماء فلم أره سوائى

Aku sungguh melihat
Sang Kebenaran
Dalam realitas-realitas
Dalam nama-nama
Aku tidak melihat semuanya
Kecuali Aku[3]

Gagasan “wahdah al wujud” ini sejatinya bukan hanya milik Ibnu Arabi, melainkan juga semua sufi terkemuka lainnya. Jauh sebelumnya doktrin ini menjadi corak sufisme Husain Manshur al Hallaj (w. 922 M, sang sufi martir yang legendaris itu. Abu Yazid al Bisthami (w. 261 H/875M), Abu al Qasim al Junaidi al Baghdadi (w. 911 M) dan Abu Hamid al Ghazali (w. 1111) juga menganut atau mendukung paham ini. Jalal al Din al Rumi (w. 1274) adalah sufi legendaris lain sesudah Ibnu Arabi, yang juga fenomenal dengan gagasan ini.[4] Ini untuk menyebut beberapa saja.

Al Hallaj, sufi martir paling fenomenal, misalnya, mengatakan dalam salah satu puisi sufistiknya :

مزجت روحك روحى كما
تمزج الخمرة بالماءالزلال
فإذا مسك شيئ مسنى
فإذ انت انا فى كل شيئ

Ruh-Mu dan ruhku bercampur
Bagai arak dan air
Jika sesuatu menyentuh-Mu,
Ia menyentuku
Engkau adalah aku
Dalam segalanya

Doktrin Wahdah al Wujud adalah puncak doktrin keberagamaan semua kaum sufi besar. Meski dengan bahasa yang berbeda-beda semua sufi terkemuka (Quthb al Awliya) memproklamirkan gagasan ini. Tetapi Ibnu Arabi sangat eksklusif dan sangat istimewa. Pendekatan atas doktrin Wahdah al Wujud nya sangat berbeda dengan para sufi lainnya. Seluruh pemikiran dan doktrin sufismenya diinspirasi atau diilhami oleh perempuan. Meskipun mungkin saja ada sufi lain yang juga mengambil inspirasi yang sama, namun saya kira Ibnu Arabi dalam hal ini sangat menonjol, sebagaimana yang tampak dengan jelas diutarakan dalam karya-karyanya, termasuk dalam buku “Tarjuman al Asywaq” ini.

Buku Tarjuman al Asywaq

Buku Tarjuman al Asywaq (Tafsir Kerinduan) berisi kumpulan (kompilasi) puisi dengan komposisi notasi yang beragam. Para santri dapat menyanyikannya dengan langgam lagu (bahar) yang berbeda-beda : Thawil, Kamil, Wafir dan lain-lain. Tidak diketahui secara pasti apakah buku ini ditulis mendahului dua buku besar di atas atau sesudahnya. Meski penting untuk ditelusuri, namun yang paling penting dari itu adalah bahwa dalam buku ini Ibnu Arabi memperlihatkan konsistensi atas gagasan-gagasan besarnya, sebagaimana akan diketahui kemudian.

Tarjuman al Asywaq ditulis ketika dia bermukim di Makkah, tahun 597 H/1214 M. Di kota suci kaum muslimin ini dia bertemu dengan sejumlah ulama besar, para sufi dan sastrawan terkemuka, laki-laki dan perempuan. Mereka adalah orang-orang yang menjalani hidupnya dengan serius. Ibnu Arabi banyak meiba ilmu dari mereka. Tetapi perhatiannya tertumbuk pada beberapa orang perempuan “suci”. Dalam pendahuluan buku ini dia menyebut tiga orang perempuan. Pertama, Fakhr al Nisa, saudara perempuan Syeikh Abu Syuja’ bin Rustam bin Abi Raja al Ishbihani. Perempuan ini adalah sufi terkemuka dan idola para ulama laki-laki dan perempuan. Kepadanya dia mengaji kitab hadits; “Sunan Tirmizi”. Kedua, Qurrah al ‘Ain. Pertemuannya dengan perempuan ini terjadi ketika Ibnu Arabi tengah asyik Tawaf, memutari Ka’bah.

Ibnu Arabi menceritakan sendiri pengalaman pertemuannya dengan perempuan itu:

“Ketika aku sedang begitu asyik tawaf, pada suatu malam, hatiku gelisah. Aku segera keluar dengan langkah sedikit cepat (al raml), melihat-lihat ke luar. Tiba-tiba saja mengalir di otakku bait-bait puisi. Aku lalu menyenandungkannya sendiri dengan suara lirih-lirih.

ليت شعرى هل دروا أى قلب ملكوا
وفؤادى لو درى أي شعب سلكوا
أتراهم سلموا أم تراهم هلكوا
حار ارباب الهوى فى الهوى وارتبكوا

Aduhai, jiwa yang gelisah
Apakah mereka tahu
Hati manakah yang mereka miliki

O, relung hatiku
Andai saja engkau tahu
Lorong manakah yang mereka lalui

Adakah engkau tahu
Apakah mereka akan selamat
Atau binasa

Para pecinta bingung akan cintanya sendiri
Dan menangis tersedu-sedu[5]

Tiba-tiba tangan yang lembut bagai sutera menyentuh pundakku. Aku menoleh. O, seorang gadis jelita dari Romawi. Aku belum pernah melihat perempuan secantik ini. Dia begitu anggun. Suaranya terdengar amat sedap. Tutur-katanya begitu lembut tetapi betapa padat, dan sarat makna. Lirikan matanya amat tajam dan menggetarkan kalbu. Sungguh betapa asyiknya aku bicara dengan dia. Namanya begitu terkenal, budinya begitu halus.

Begitu usai menyampaikan syair itu, perempuan itu mengatakan kepadaku :

“Aduhai tuan, kau memesonaku
Engkaulah kearifan zaman”[6]

Selanjutnya mengalirlah dialog antara kedua orang ini dalam suasana mesra, saling memuji, mengagumi dan dengan keramahan yang anggun. Sang perempuan memberikan komentar-komentar spiritualitas ketuhanan secara spontan atas puisi-puisi Ibnu Arabi di atas, bait demi bait. Sesudah pada akhirnya dia memperkenalkan dirinya sebagai Qurrah ‘Ain, dia pamit dan melambaikan tangan sambil mengucapkan “salam” perpisahan lalu pergi entah ke mana. Dan Ibnu Arabipun terpana. Katanya: “Tsumma inni ‘araftuha ba’da dzalik wa ‘Aasyartuha. Fara-aiytu ‘indaha min Lathaa-if al Ma’arif ma la yashifuhu waashif” (lalu aku mengenalnya sangat dekat dan aku selalu bersama dengan dia. Aku memandang dia seorang perempuan yang sangat kaya pengetahuan ketuhanan. Pengetahuannya tentang yang ini sungguh sangat luar biasa).[7]

Perempuan ketiga yang ditemuinya adalah Sayyidah Nizam (Lady Nizam), anak perawan Syeikh Abu Syuja’. Dia biasa dipanggil “’Ain al Syams” (mata matahari), dan “Syaikhah al Haramain” (guru besar untuk wilayah Makkah dan Madinah). Ibn Arabi begitu terpesona dengan perempuan ini. Pujian-pujian kepadanya terus mengalir deras tak tertahankan: “jika dia bicara semua yang ada jadi bisu, dia adalah matahari di antara ulama, taman indah di antara para sastrawan, wajahnya begitu jelita, tutur bahasanya sungguh lembut, otaknya memperlihatkan keerdasan yang sangat cemerlang, ungkapan-ungkapannya bagai untaian kalung yang gemerlap penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun dan bersahaja”.[8]

Banyak komentar orang yang menyatakan bahwa buku ini merupakan refleksi-refleksi kontempelatif Ibnu Arabi atas keterpesonaannya yang luar biasa pada perempuan perawan maha elok itu. Keterpesonaan ini sekaligus pengalaman spiritualitasnya bersama Nizam diungkapkan dengan jelas dalam syairnya dalam buku ini :

طال شوقى لطفلة ذات نثر
ونظام ومنبر وبيان

من بنات الملوك من دار فرس
من أجل البلاد من أصبهان

هى بنت العراق بنت إمامى
وأنا ضدها سليل يمانى

لو ترانا برامة نتعاطى
أكوسا للهوى بغير بنان

هل رأيتم يا سادتى أو سمعتم
أن ضدين قط يجتمعان
والهوى ببيننا يسوق حديثا
طيبا مطربا بغير لسان

لرأيتم ما يذهب العقل فيه
يمن والعراق معتنقان

Betapa rinduku begitu panjang
Pada gadis kecil, penggubah prosa,
Nizam (pelantun puisi), mimbar dan bayan

Dialah putri raja-raja Persia
Negeri megah dari Ashbihan
Putri Irak, putri guruku
Sementara aku ?
O, betapa jauhnya
Moyangku dari Yaman

Andai saja kalian tahu
Betapa kami berdua
Saling menghidangkan
Cawan-cawan cinta
Meski tanpa jari-jemari

Adakah, kalian, wahai tuan-tuan
Pernah melihat atau mendengar
Dua tubuh yang bersaing
Dapat menyatukan rindu

Andai saja kalian tahu
Cinta kami
Yang menuntun kami
Bicara manis,
bernyanyi riang
meski tanpa kata-kata

Kalian pasti tahu
Meski hilang akal
Yaman dan Irak nyatanya
Bisa berpelukan[9]

Kontempelasi Ketuhanan melalui Perempuan

Puisi-puisi di atas seringkali dipahami pembaca awam dan tekstualis sebagai bentuk kerinduan Ibnu Arabi kepada seorang perempuan; sebuah kerinduan birahi, seksual dan erotis (gharami) terhadap tubuh perempuan nan cantik-jelita, yang pernah ditemuinya selama di Makkah: Sayyidah Nizam. Mereka dalam hal ini telah terjebak dalam pemahaman yang amat dangkal, gersang dan tanpa makna. Orang-orang awam memang selalu dan hanya dapat memahami ucapan verbal seseorang atau goresan kata-kata menurut arti lahiriah, literalnya. Mereka teramat sulit untuk bisa mengerti bahwa kata-kata sebenarnya adalah symbol-simbo dari pikiran dan relung hati yang amat dalam. Puisi adalah untaian kata yang sarat makna, penuh nuansa pikiran dan hati yang sulit ditebak. Maka ia memang bisa diberi makna ganda, eksoterik dan esoterik. Dalam puisi-puisi di atas, Ibnu Arabi boleh jadi memang sedang dicekam kerinduan yang membara terhadap seorang perempuan dalam arti secara fisik. Dengan kata lain kecintaan ibnu Arabi kepadanya tidak hanya secara spiritual dan intelektual, namjun juga secara fisik dan psikis. Katanya : “Jika saja tidak mengkhawatirkan jiwa-jiwa rendah yang selalu siap terhadap skandal dan hasrat kebencian, akan aku sebutkan pula di sini keindahan lahiriah sebagaimana jiwanya yang merupakan taman kedermawanan”.[10] Akan tetapi para pengagumnya menolak tafsir ini. Ungkapan-ungkapan Ibnu Arabi, menurut mereka memang sungguh-sungguh tengah berkontempelasi dan merefleksikan cinta yang menggelora kepada Tuhan. Katanya suatu ketika : “Kontempelasi terhadap Realitas tanpa dukungan formal adalah tidak mungkin, karena Tuhan, Sang Realitas, dalam Esensi-Nya terlampau jauh dari segala kebutuhan alam semesta. Maka bentuk dukungan formal yang paling baik adalah kontempelasi akan Tuhan dalam diri perempuan”. Dengan kata lain, merenungkan ke Ilahian, menurutnya, hanya dapat dicapai dengan merenungkan perempuan.
Refleksi dan kontempelasi Spritualitas Ketuhanan Ibnu Arabi seperti ini sebagaimana diungkapkan dalam buku ini rasanya amat sulit dapat dipahami, kecuali dengan membacaSyarh (komentar) yang ditulisnya sendiri : “Al Dzakha-ir wa al A’laq” (simpanan-simpanan dan kerinduan-kerinduan).[11] Buku komentar ini sengaja ditulis sendiri oleh Ibnu Arabi untuk menjelaskan berbagai kritik dan cacimaki orang (para ahl fiqh) yang ditujukan kepadanya. Mereka menolak puisi-puisi cinta birahi (ghazal), erotis. Ibnu Arabi dalamTarjuman al Asywaqnya yang oleh dia dihubungkan dan dianalogikan dengan cinta kepada Tuhan. Komentar yang ditulisnya di Aleppo, Damaskus, selama tiga bulan; Rajab, Sya’ban dan Ramadhan ini kemudian dibacakan Qadhi Ibnu Adim di hadapan khalayak ahli fiqh. Begitu selesai, para pengkritik kemudian mengakui kesalahannya atau ketidakpahamannya itu dan bertaubat. Meskipun begitu, masih banyak ulama yang menolak kumpulan puisi-puisi mistik ini. Menurut mereka semua puisi ini tidak sesuai dengan pengalaman-pengalaman religious, terlalu erotic, kecabulan dan amat tidak pantas.

Dari buku ini kita akan mengetahui bahwa semua kata-kata dalam puisi-puisinya itu adalah kiasan-kiasan, metafora-metafora, symbol-simbol dan rumus-rumus yang mengandung makna-makna mistis dan sarat dengan hembusan-hembusan spiritualitas ketuhanan yang menukik dan melampaui. Kata “Dzat natsr wa Nizham”, misalnya, merupakan ungkapan tentang Wujud Mutlak dan Sang Pemilik (Pengatur) alam semesta. Kata “mimbar” dimaknai sebagai “martabat-martabat” (tangga-tangga) dalam alam semesta, alam kosmos, metafisika, atau “mimbar alam semesta”, “Bayaan” bermakna “maqam risalah”(tempat kenabian).[12] Ungkapan-ungkapan Ibnu Arabi selalu memperlihatkan dualisme makna : lahir dan batin, tubuh dan ruh, Ketuhanan dan makrokosmos, teologis dan kosmologis, fisika dan metafisika. Ibnu Arabi mengatakan bahwa semua puisi ini berkaitan dengan kebenaran-kebenaran ilahi dalam berbagai bentuknya, seperti tema-tema cinta, eulogi, nama-nama dan sifat-sifat perempuan, nama-nama sungai, tempat-tempat dan bintang-bintang.

Adalah menarik untuk menjelaskan kalimat : “ana dhidduha”(aku lawannya) pada syair di atas. Ibnu Arabi mengatakan : “Jika anda mengetahui keadaan-keadaan kami berdua, niscaya anda mengerti satu tempat (maqam) yang tidak dapat dipahami akal pikiran. Ia adalah penyatuan sifat kasar (al qahr) dan kelembutan (al Luthf). Ini mengingatkan kita pada ucapan Abu Sa’id al Jazar : “Dengan cara apakah engkau mengetahui Tuhan?”. Jawabnya adalah dengan penyatuan dua hal yang berlawanan. Ini memang amat sulit untuk dipahami oleh akal, nalar”.[13] Ya, ini pengalaman spritualitas yang menghanyutkan, sangat ruhaniah dan irrasional. Mungkinkah bahwa ini juga adalah gagasan Ibnu Arabi tentang penyatuan yin dan yang atau Maskulinitas dan Feminitas pada satu sisi, dan tentang “Ittihad” atau “Hulul” pada sisi yang lain?.

Selain tiga nama perempuan di atas, Ibnu Arabi dalam buku ini juga menyebut sejumlah nama perempuan lain : Hindun, Lubna, Sulaima, Salma, Zainab, Laela dan Mayya. Penjelasan Ibnu Arabi terhadap nama-nama perempuan ini, meski juga mengungkapkan kerinduannya kepada mereka, karena mereka adalah nama-nama yang menyejarah dalam kehidupan masyarakat, namun lagi-lagi bagi Ibn Arabi, mereka juga merupakan simbol-simbol kerinduan Ibnu Arabi kepada Tuhan. Tetapi Lady Nizam adalah perempuan yang digilai Ibnu Arabi dan paling mengesankan sepanjang hidupnya. Dia mengatakan : “Seluruh pengetahuan ketuhanan ini berada di balik tirai Nizam, putri guruku yang perawan,Syeikhah al Haramain, maha guru dua tempat suci dan al ‘abidah (pengabdi Tuhan yang tekun)”.[14] Tampaknya dia ingin mengatakan bahwa pengetahuan tentang ketuhanan(ma’rifah Ilahiyyah) hanya bisa ditempuh melalui kontempelasi pada diri perempuan. Atau, melalui perempuanlah Tuhan ditemukan dalam Wujud-Nya yang Maha Sempurna dan Maha Indah. Wallahu A’lam.

Akan tetapi mungkin penting untuk dicatat bahwa dengan penyebutan nama-nama perempuan ini, Ibnu Arabi ingin memperlihatkan juga pandangannya tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam arti sebenarnya. Perempuan, katanya dalam Futuhat al Makiyyah, adalah jiwa yang sempurna. Ini adalah “bi hukm al Ashalah” suatu yang asali (aslinya). Antara keduanya memang ada perbedaan keunggulan satu atas yang lain. Akan tetapi, meski demikian, keduanya adalah setara (sama) dalam kesempurnaannya. Ini identik dengan makna firman Tuhan “Tilka al Rusul Fadhdhalna ba’dhahum ‘ala ba’dh”(para utusan Tuhan itu satu atas yang lain Aku lebihkan). Dari aspek kerasulannya mereka sama, tidak ada yang lebih unggul. Tetapi dari aspek tugas kerasulannya, memang ada perbedaan keunggulan satu atas yang lain”.[15] Memang, karena pada saat lain Tuhan juga mengatakan : “La Nufarriqu baina ahad min rusulih” (Kami tidak membeda-bedakan di antara utusan Kami). Ini agaknya merupakan pandangan Ibnu Arabi tentang relasi laki-laki dan perempuan. Kedua jenis kelamin ini adalah setara dalam aspek universalitas kemanusiannya, tetapi berbeda dalam tugas kemanusiannya dengan kadar yang relative, tergantung konteks sosialnya. Dalam “Al Futuhat”, Ibnu Arabi menyatakan pandangannya dengan lebih jelas :

إن النساء شقائق الذكران
فى عالم الارواح والابدان
والحكم متحد الوجود عليهما
وهو المعبر عنه بالانسان
وتفرقا عنه بامر عارض
فصل الاناث به من الذكران

Perempuan adalah saudara kandung laki-laki
Di alam ruh dan dalam tubuh kasar
Keduanya satu dalam eksistensi
Itulah manusia
Perbedaan antara mereka aksiden semata
Perempuan dan laki-laki memang dibedakan[16]

Tajalla Tuhan dalam Kosmos

Mabuk cinta Ibnu Arabi kepada Sang Kekasih juga diungkapkan dengan menyebut realitas-realitas alam ; burung-burung yang bernyanyi riang, mata rusa yang menatap tajam, sayap-sayap burung merak yang indah bagai pelangi, bunga-bunga yang mekar-mewangi, taman-taman yang teduh nan meriah bagai pelangi, puing-puing yang menggugah rindu dan mabuk kepayang, tempat-tempat persinggahan yang mengingatkan romantisme masa lalu, padang rumput yang terhampar menghijau, angin yang semilir sepoi-sepoi, musim semi yang penuh bunga warna-warni, mega yang berarak, tenang dan teduh, mata air yang mengalir, mata hari yang menghangatkan, rembulan yang bersinar lembut, senja yang temaram dan seterusnya. Dalam waktu yang sama dia juga mengutarakan isi hatinya yang kelu, merindu dan menyinta ; air mata yang menetes satu-satu, pipi perempuan yang ranum, mata yang sendu, luka di relung-relung sanubari, hari-hari perpisahan yang menghancurkan kalbu, canda ria dan celoteh yang menggemaskan, keriangan yang meledak-ledak, pelukan tubuh yang menggairahkan, nyanyi sunyi yang mengiris dan lain-lain. Ini semua diungkapkan Ibnu Arabi dalam buku kompilasi puisi sufistiknya ini.

Kajian-kajian terhadap pemikiran dan gagasan filosofis Ibnu Arabi ini menunjukkan bahwa fenomena-fenomena alam semesta (kosmos) adalah “tajalliyyat” (Penyingkapan) Tuhan dalam alam semesta. Fenomena alam semesta dalam pandangannya adalah keindahan-keindahan yang menunjukkan Eksistensi Tuhan. “Tak ada pada alam semesta ini kecuali Tuhan. Segala selain Tuhan adalah ketiadaan hakiki”. Di sinilah kita dapat memahami kembali doktrin “Wahdah al Wujud” dari sang “al Kibrit al Ahmar” ini.

Sangat menyenangkan bagi saya untuk mengungkapkan gagasan ini dari seorang murid Ibnu Arabi yang terkenal: Abd al Karim al Jili. Katanya dalam sebuah syair :

تجليت فى الا شياء حين خلقتها
فها هى ميطت عنك فيها البراقع

Engkau menyingkapkan Diri
Dalam segala sesuatu
Ketika Engkau menciptakannya
O, lihatlah
Cadar-cadar itu kini tersingkir[17]

Atau dari Ibnu ِAjibah ketika mengomentari ucapan Wahdah al Wujud nya Ibnu Athaillah. Dalam salah satu syairnya dia mengungkapkan:

أنظر جمالى شاهدا فى كل إنسان
الماء يجرى نافدا فى أس الاغصان
تجده ماء واحدا والزهر ألوان

Lihatlah Keindahan-Ku
Saksi pada semua manusia

Air mengalir,
menembus
pokok dahan-dahan

Engkau temui Dia
Mata air yang Tunggal
Dan bunga merekah
berwarna-warni[18]

Banyak syair Ibnu Arabi yang menjebak pembaca awam pada pemahaman yang amat dangkal. Beberapa di antaranya :

يامن يرانى ولا اراه كم ذا أراه ولا يرانى

Aduhai, Dia yang melihatku
dan aku tidak melihat-Nya
Betapa sering aku melihat-Nya
Dan Dia tidak melihatku

Mendengar syair ini mereka marah. Kata mereka : “Bagaimana Tuhan tidak melihat dia. Ibnu Arabi segera menjelaskannya dengan manis:

يا من يرانى مجرما ولا أراه آخذا
كم ذا أراه منعما ولا يرانى لائذا

Aduhai Dia yang melihatku pendosa
Tetapi aku tidak melihat-Nya marah
Betapa sering aku melihat-Nya pemurah
Meski Dia tidak melihat aku minta ampun

Atau syair yang diungkapkannya pada kesempatan yang lain :

فيحمدنى وأحمده ويعبدنى واعبده

Dia memujiku, aku memuji-Nya
Dia mengadi padaku, aku mengabdi padanya

Mereka juga marah. Bagaimana mungkin Tuhan menyembah dia. Ibnu Arabi segera menerangkan. Arti “Dia memujiku” adalah Dia senang karena aku taat pada-Nya, dan arti “Dia mengabdi padaku” adalah Dia mengabulkan doaku.

Kesatuan Agama-agama

Pada bagian lain dari buku kompilasi “Tarjuman al Asywaq” ini, kita menemukan pernyataannya yang sering disebut sebagai pandangan “Wahdah al Adyan” (kesatuan agama-agama) dari sang sufi besar ini. Ibnu Arabi menyatakan:

لقد صار قلبى قابلا كل صورة
فمرعى لغزلان ودير لرهبان
وبيت لاوثان وكعبة طا ئف
والاواح توراة ومصحف قرآن
أدين بدين الحب اين توجهت
ركا ئبه فالحب دينى وإيما نى

Hatiku telah siap menyambut
Segala realitas
Padang rumput bagi rusa
Kuil para Rahib

Rumah berhala-berhala
Ka’bah orang tawaf
Sabak-sabak Taurat
Lembaran al Qur’an

Aku mabuk Cinta
Kemanapun Dia bergerak
Di situ aku mencinta
Cinta kepada-Nya
Adalah agama dan keyakinanku[19]

Semua penulis dan para pembaca Ibnu Arabi biasanya mengomentari syair-syair di atas sebagai sikap dan pandangan dasar sang gnostik besar ini tentang toleransi dan kesatuan agama-agama. Mereka memahami kata-kata di atas menurut makna literalnya. Pernyataan ini boleh jadi memang benar adanya sebagai konsekuensi lebih lanjut dari doktrin Wahdah al Wujudnya sebagaimana sudah sedikit diurai. Semua penganut agama, dengan nama yang berbeda-beda dan dengan cara peribadatan dan penyembahannya masing-masing, pada hakikatnya hendak mengekspresikan kecintaan kepada Tuhan. Semua pemeluk agama bergerak menuju Tuhan yang satu dan sama itu. Mereka sama-sama mencintai, mendambakan Cinta-Nya, mendekat dan ingin menyatu dalam dekapan-Nya. Karena Dialah Pencipta segala yang ada dan Dia mencintai semuanya.

Jalan dan cara pendakian (manusia) beragam
Tetapi mereka berjalan ke arah kebenaran
Yang Satu
Dan para pendaki jalan kebenaran itu
Mencari jalan sendiri-sendiri

Bahasa kita beragam tetapi Engkaulah
Satu-satunya Yang Maha Indah
Dan masing-masing kita
menuju Sang Maha Indah Yang Satu itu

Para sufi besar selalu mengemukakan hadits Qudsi yang sangat terkenal, tentang alasan Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta. “Kuntu Kanzan Makhfiyyan fa Ahbabtu an ‘Uraf, fa Khalaqtu al Khalq, Fa bihi ‘Arafuni” (Aku adalah Simpanan berharga yang tersembunyi. Aku ingin sekali dikenal. Lalu Aku ciptakan makhluk. Maka dengan itu mereka mengenalku”. Jadi Tuhan menciptakan alam semesta karena dia Mencintai-Nya dan Dia ingin dicinta. Dan Cintalah yang menyatukan segala yang terserak.

Akan tetapi tafsir di atas tidaklah satu-satunya yang bisa dikemukakan. Ibnu Arabi lagi-lagi sebenarnya sedang asyik dimabuk cinta yang menyala-nyala ketika menatap Realitas Yang Tunggal menampakkan diri dalam wujud semesta. Dia mengungkapkan gairah cinta itu dalam kata-kata metaforis yang tak biasa. Ibnu Arabi menggambarkan “hati yang membuka diri bagi realitas-realitas” sebagai hati yang bergerak ke sana kemari dalam merespon “al Tajalliyyat al Iahiyyah” (Ketersingkapan Kehendak-Kehendak Tuhan) dalam alam semesta yang berwarna-warni dan beragam karakter, sifat dan kehendak. Makna “Padang rumput bagi rusa” baginya merupakan penggambaran hatinya yang lepas dan bebas dalam mencinta, bagai rusa yang bergerak dan berlari-lari di padang rumput yang luas. Ibnu Arabi sengaja menyebut rusa dan bukan binatang yang lain, karena, katanya, meskipun mata kuda lebih lebar, tetapi mata rusa lebih tajam. Dan Mata Tuhan niscaya lebih tajam dari mata siapapun. Dia Melihat yang kasat mata, yang telanjang dan yang tersembunyi di lubuk-lubuk nurani yang pekat dan sunyi senyap. Mengenai kalimat : “Hati adalah rumah berhala-berhala”, dia mengatakan: “Oleh karena Hakikat Yang Dicari (al Haqa-iq al Mathlubah) kepada siapa semua menyembah dan menghambakan diri pada-Nya itu menetap di dalamnya, maka hati disebut ‘watsan’ (yang menetap, yang kokoh). Ibnu Arabi berharap cintanya kepada Tuhan tetap kokoh dan menetap selama-lamanya di relung-relung hatinya yang paling dalam. Dan “oleh karena ruh-ruh luhur (al Arwah al ‘Alawiyyah) mengelilingi hatinya, maka ia dinamai “ka’bah”. Hati yang menerima ilmu-ilmu pengetahuan Musa dari Ibrani (al ‘ulum al Musawiyyah al Ibraniyyah) disebut papan-papan (alwah). Hati yang mewarisi pencerahan kenabian Muhammad (Al Ma’arif al Muhammadiyyah al Kamaliyyah), adalah lembaran-lembaran yang menampung seluruh essensi pengetahuan (Jawami’ al Kalim) bagi hatinya.[20] Pada akhirnya dia mengatakan : “tidak ada agama yang dipeluk manusia di manapun, setinggi agama yang dibangun di atas cinta dan kerinduan (al mahabbah wa al syauq). Ini adalah agama Muhammad. Dialah sang terkasih dan yang dirindukan sepanjang hari sepanjang malam”.[21]

Sebagaimana selalu dikemukakan para pengaji Tasawuf, bahwa Tuhan mencipta makhluk-Nya karena Dia ingin dikenal (dicintai). Sebelumnya Dia adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Dalam hadits Qudsi disebutkan :

كنت كنزا مخفيا فأحب ان أعرف فخلقت الخلق فبى عرفونى

“Aku adalah Perbendaharaan yang Tersembunyi. Aku ingin dikenal. Maka Aku ciptakan makhluk. Berkat Aku mereka mengenalku”

Demikianlah. Sufi legendaris yang agung ini telah menyenandungkan cintanya kepada Tuhan dengan cara yang memang sangat luar biasa. Dia mabuk kepayang dalam cinta kepada Tuhan, cinta yang membara, bergelora dan menghanyutkan. Cinta apa yang ada di langit dan cinta yang ada di bumi. Dia terserap, luruh dan hilang bentuk dalam rindu dendam kepada-Nya.

Sampai di sini aku tidak bisa berkata apa-apa di hadapan orang besar ini. Lidahku kelu. Tanganku tak sampai. Otakku kandas. Maka aku biarkan sang Syeikh berkelana sendiri ke negeri antah berantah atau ke puncak langit alam semesta, dan biarkanlah aku berdiri di sini, di bumi ini. Betapa rendah.

Referensi :
1. Tarjuman al Asywaq, Dar al Shadir, Beirut, 1966
2. Al Dzakhair wa al A’laq, Dar al Shadir, Beirut, 1966
3. Al Futuhat al Makiyyah,Dar Ihya al Turats al Arabi, Beirut, cet.I
4. Fushus al Hikam, Mutiara Hikmah 27 Nabi, (terjemahan Ahmad Sahidah dan Nurjannah Arianti,Islamica, Yogyakarta, Cet. I, 2004,
5. Syarh al Hikam, Ibnu Athaillah al Sakandari, “Iqazh al Humam”, Ibnu ‘Ajibah
6. Al Kasyf ‘an Haqaiq al Shufiyyah, Mahmud Abd ar Rauf
7. Al Tashawwuf al Islami fi al Adab wa al Akhlaq, Zaki Mubarak

_________________________________
[1] Imam al Suyuhti, pendukung setia Ibnu Arab dalam kitabnya “Tanbih al Ghabi fi Tabri’ah Ibnu Arabi” menceritakan bahwa ketika Ibnu Arabi di Mesir, ia pernah dituduh sebagai kafir zindik oleh sebagian ulama di hadapan Izz al Din bin Abd al Salam. Beliau diam saja. Ini menurut banyak orang, menunjukkan bahwa al Izz sepakat dengan pikiran-pikirannya. Akan tetapi usai pengajian bubar. Izz menjelaskan bahwa dia sengaja diam, karena mereka yang hadir adalah para ahli fiqh. Mereka, menurutnya, adalah kelompok yang paling membenci ahli tasawuf. Di negeri yang sama, gara-gara pandangannya, Ibnu Arabi, pernah akan dibunuh beramai-ramai. Tetapi Syeikh al Bujai menyelamatkannya. Katanya kepada rakyat yang marah : “dia ini orang yang lagi ngaco (syathahat) dan mabuk. Orang ini seperti ini tidak perlu dimarahi. Harap maklum”.
[2] Al Futuhat, III, h. 245. Di pesantren, Syair ini ditemukan dalam sedikit perbedaan kata :“Wa Fi Kulli Syaiy-in lahu Aayah, Tadullu ‘ala Annahu Wahid” (dan dalam segala hal adalah bukti bahwa Dia adalah Esa). Ibnu Arabi merubah dari kata “Wahid” menjadi “Ainuhu”).
[3] Al Futuhat, III, hl. 532
[4] Ketika masih belajar di pesantren saya sering mendengar sebuah syair dari panyair Arab klasik; Labid :
Alaa, Kullu Syai-in ma khala Allah Bathil,
wa Kullu Na’im la Mahaalah Zail”.
Ingatlah, segala hal selain Allah adalah tiada
dan segala kenikmaan pastilah akan sirna
[5] Muqaddimah Tarjuman, h. 11
[6] ibid, h. 11
[7] Tarjuman, h. 11
[8] Muqaddimah Tarjuman, h. 8
[9] Tarjuman, h. 85
[10] Tarjuman, h. 11
[11] Dalam buku Tarjuman al Asywaq, terbitan Dar al Shadir, Beirut, 1966, penjelasan ini ditulis dalam catatan kaki.
[12] Dzakhair, h. 83
[13] Dzakhair, h. 85
[14] Dzakhair, h. 84
[15] Ibid, h. 82
[16] Al Futuhat, III, h. 86
[17] Baca : Iyqazh al Humam fi Syarh al Hikam, h. 43
[18] Ibid, h. 43
[19] Tarjuman, h. 43-44
[20] Dzakhair, h. 43-44
[21] Dzakhair, h. 44

Puisi-Puisi Kerinduan Ibnu Arabi

Husein Muhammad | 17 Jun 2014 | Artikel

Copyright © 2015 HuseinMuhammad.Net.