kolom melintang

Monday, March 30, 2015

KAJIAN TENTANG " RUH-RUH LAKSANA TENTARA YANG BERKUMPUL "

MAKNA HADIST " AL-ARWAH JUNUDUN MUJANNADAH "

Dalam Suroh Al-Isro', Alloh berfirman ;

(وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا) [Surat Al-Isra : 85]

" Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Tema kajian ;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ الارواح جنود مجندة، فما تعارف منها...ائتلف، وما تناكر منها...اختلف. رواه مسلم من حديث ابي هريرة والبخارى تعليقا من حديث عائشة

* Referensi yang saya pakai sebagai muqobalah untuk pembahasan ini adalah ;

(1). Kitab Syarhus Shudur, bi Syarhi Halil Mauta wal Qubur, lil Imam Jalaluddin As-Suyuthi.
(2). Ihya' Ulumiddin, lil Imam Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali.

Ada beberapa sudut pandang berbeda dari pengertian hadist tentang makna " Al-arwah junudun mujannadah... ", akan tetapi kesimpulan akhirnya terdapat kesamaan.
Sebagaimana pada Kitab Syarhus shudur nya Imam As-Suyuthi, Hal. 570, beliau menerangkan begini ;

اختلف في معني قوله صلى الله عليه وسلم (( الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها...ائتلف، وما تناكر منها...اختلف ))، فقيل : هو اشارة الى معنى التشاكل في الخير والشر، والصلاح والفساد، وان الخير من الناس يحن الى شكله، والشرير يميل الى نظيره، فتعارف الارواح يقع بحسب الطباع التي جبلت عليها من خير او شر، فاذا اتفقت...تعارفت، واذا اختلفت...تناكرت.

Terjadi perbedaan pendapat tentang makna sabda Rosululloh SAW, " Ruh-ruh itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan ( mudah bergaul atau saling menyesuaikan ) dan yang bertentangan daripadanya, niscaya saling menyelisihi ( bersebrangan ) ".
Maka dikatakan, bahwa ini adalah isyarat terhadap penyesuaian makna dari kebaikan dan keburukan, integritas dan disintegritas ( kemanfaatan dan kerusakan ). Dan sesungguhnya bentuk kebaikan dari sesama manusia adalah bentuk penyesuaian dari rasa mengasihi itu, dan keburukan senantiasa condong pada apa yang pararel dengannya ( partnernya ). Maka ruh-ruh itu saling mengenal menurut karakter atau watak yang dibentuk daripadanya kebaikan dan keburukan. Maka apabila cocok, akan saling mengenal, apabila tidak cocok maka saling bersebrangan atau berselisih.

Dalam hal ini, Imam As-Suyuthi menyajikan beberapa sudut pandang lain, sebagaimana dalam paragraf berikutnya ;

وقيل : المراد : الإخبار عن بدئ الخلق، على ما ورد (( ان الارواح خلقت قبل الاجساد، فكانت تلتقي فتتشام، فلما حلت الاجساد...تعارفت )) *٣ بالمعنى الاول، فصار تعارفها وتناكرها علي ما سبق من العهد والمتقدم.

Dan dikatakan, yang dimaksud adalah pemberitaan tentang permulaan penciptaan. Sebagaimana keterangan, " Bahwa ruh itu diciptakan sebelum tubuh, maka ruh itu saling bertemu dan saling mengendus atau menciumi. Maka ketika timbul ( terbentuk ) jasad...mereka saling mengenal. (*3 ) Dengan pengertian dari makna yang pertama, maka jadilah mereka saling mengenal dan menyelisihi terhadap apa yang telah ditetapkan pada masa yang terdahulu ( penciptaan ).

(*3) Imam Al-Hakim at-Tirmidzi menuturkannya dalam kitab " Nawadirul Ushul , Hal. 409 pada pokok yang ke-283.

وقال بعضهم : الارواح وان اتفقت في كونها ارواحا، لكنها تتمايز بأمور مختلفة، تتنوع بها، فتتشاكل اشخاصا، كل نوع تألف نوعها، وتنفر من مخالفها.
وفي (( تاريخ ابن عساكر )) بسنده عن هرم بن حيان قال : اتيت أويسا القرني، فسلمت عليه، ولم اكن رأيته قبل ذلك ولم رآني. فقال لي : وعليك السلام يا هرم بن حيان. قلت : من اين عرفت اسمى واسم ابي، ولم اكن رايتك قبل اليوم ولا رايتني ؟! قال : عرفت روحى وروحك حيث كلمت نفسي نفسك ؛ إن الارواح لها انفاس كانفاس الاجساد، وان المؤمنين ليعرف بعضهم بعضا، ويتحابون بروح الله وان لم يلتقوا .(*١)

Dan sebagian mereka berkata ; " Ruh-ruh itu sekalipun sudah saling cocok didalam eksistensinya, akan tetapi saling membeda-bedakan terhadap perkara yang diperselisihkan, saling bervariasi, saling menyesuaikan kepribadiannya. Setiap jenis terbiasa dengan jenisnya, dan menghindar dari yang bertentangan dengannya.
Didalam kitab " Tarikh Ibnu 'Asakir " dengan sanadnya dari Harom bin Hayyan, yang berkata ," Aku mendatangi Uwais Al-Qorny, maka aku mengucapkan salam kepadanya dan sebelumnya saya tidak pernah melihatnya, begitupula dia belum pernah melihatku. Maka dia berkata kepadaku ; " Wa'alaikas salam ya Harom bin Hayyan ". Aku berkata ," Darimana engkau tahu namaku dan nama ayahku ? padahal aku belum pernah melihatmu sebelum hari ini dan engkaupun tidak pernah melihatku ?". Berkata Uwais Al-Qorny ;" Roh ku melihat roh mu semenjak jiwaku berbicara dengan jiwamu , sesungguhnya ruh itu mempunyai nafas sebagaimana bernafasnya tubuh, dan sesungguhnya orang-orang mu'min itu akan mengenali bagian dari sebagian yang lain, mereka saling mencintai dengan anugerah Alloh apabila belum saling berjumpa ". (*1)

(*1). Kitab Tarikh Madinah Damsyiq, jilid 9, Hal. 447. Perkataan Uwais Al-Qorny " Anfaasun ka anfaasil ajsaad " maksudnya adalah, bentuk seperti hanya bentuk tubuh, hanya saja ruh itu halus, Wallohu a'lam.

Pada paragraf berikutnya, Imam At-Thusi dalam kitab " Uyunil Akhbar " meriwayatkan dari Aisyah. Sebagaiman penuturan Imam As-Suyuthi pada halaman 471 ;

واخرج الطوسي في (( عيون الاخبار )) عن عائشة : ان امرأة كانت بمكة تدخل على نساء قريش تضحكهن، فلما هاجرت الى المدينة...قدمت علي، فقلت ؛ اين نزلت ؟ قالت : على فلانة— امرأة كانت تضحك بالمدينة — فدخل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : فلانة المضحكة عندكم !! قال : الحمد لله ؛ ان الارواح جنود مجندة، فما تعارف منها..ائتلف، وما تناكر منها..اختلف .(٢).

Imam At-Thusi dalam kitabnya " 'Uyunil Akhbar " mengeluarkan riwayat dari siti Aisyah, bahwa di Makkah ada seorang wanita berkunjung kepada wanita Quraisy yang mereka saling bercanda ( ketawa ), maka ketika ia hijrah ke Madinah, ia mendatangiku ( Aisyah ). Aku bertanya, " Dari manakah engkau datang ?". Ia menjawab, " Dari fulanah -para wanita yang suka bercanda ( ketawa ) di kota Madinah -maka Rosululloh SAW masuk dan bertanya, " si fulanah yang suka tertawa bersamamu ?". Wanita itu menjawab, " Iya ". Lalu Rosululloh berkata, " Kepada siapa engkau tinggal ?". Maka wanita itu menjawab, " Kepada sifulanah yang suka bercanda itu ". Maka berkata Rosululloh, " Segala puji bagi Alloh, sesungguhnya ruh itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan ( mudah bergaul atau saling menyesuaikan ) dan yang bertentangan daripadanya, niscaya saling menyelisihi ( bersebrangan ) ".(*2)

* (2). Imam Al-Hafidz As-Sakhowi menuturkan juga riwayat ini didalam kitabnya " Al-Maqoshid al-Hasanah " Hal. 51. Serta mengacu pada Zubair bin Bakr dalam kitabnya " Al-Mizahu al-Fawakihah ".

* Demikian pembahasan Imam As-Suyuthi tentang " Al-Arwaah junudun mujannadah " yang merupakan bagian ke-8 dari penutup pada bab " خاتمة في فوائد تتعلق بالروح " ( Faedah-2 yang berkaitan dengan ruh ).

————

Sekarang mari kita lihat bagaimana analisa Imam Al-Ghozali yang lebih spesifik lagi dengan tamtsil-tamtsil atau contoh-contoh sebagai penguat dari analisanya terhadap hadist diatas.

Disini, tidak semua teks per-paragraf saya tulis lengkap, akan tetapi beberapa poin pentingnya saja sebagai pelengkap agar pembahasan tidak terlalu melebar.
Dalam kitab Ihya' Ulumiddin-nya, Hal. 159-160, beliau memberikan ulasannya sebagai berikut ;

الارواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف (*1) فالتناكر نتيجة التباين والائتلاف نتيجة التناسب الذى عبر عنه بالتعارف وفي بعض الالفاظ " الارواح جنود مجندة تلتقي فتتشام في الهواء (*2). وقد كنى بعض العلماء عن هذا بان قال ان الله تعالى خلق الارواح ففلق بعضها فلقا واطافها حول العرش فأى روحين من فلقتين تعارفا هناك فالتقيا تواصلا في الدنيا. وقال صلى الله عليه وسلم ان ارواح المؤمنين ليلتقيان علي مسيرة يوم وما رأى احدهما صاحبه قط (*3)

Ruh-ruh / jiwa itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan ( mudah bergaul atau saling menyesuaikan ) dan yang bertentangan daripadanya, niscaya saling menyelisihi ( bersebrangan ) ".(1).

Kata " Tanakur / pertentangan " adalah natijah ( hasil ) dari perbedaan, dan " I'tilaf /kejinakan " adalah hasil dari kesesuaian yang diibaratkan dengan " Ta'aruf " atau saling mengenal, atau berkenalan satu sama lain.
Pada sebagian teks hadist diatas terdapat maksud yang mengindikasikan bahwa " jiwa atau ruh itu ibarat tentara yang berkumpul dan berjumpa, lalu berciuman diudara ".(2).
Sebagian Ulama menyebutkan hal ini dengan cara kinayah atau sindiran dengan mengatakan, bahwa Alloh SWT menjadikan segala nyawa, maka dipecahkanNya sebagian dan dithowafkanNya disekeliling Arsy. Maka mana diantara dua nyawa atau ruh dari dua pecahan yang berkenalan itu lalu bertemu sebagai kesinambungan terhadap perjumpaan keduanya didunia.  Nabi SAW bersabda, " Bahwa nyawa dua orang mu'min bertemu dalam perjalanan sehari, dan tidak sekali-kali salah satu dari keduanya melihat temannya ".(3).

———
(1). Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Huroiroh dan Imam Bukhori meriwayatkan sebagai ulasan dari hadist Siti Aisyah.
(2). Hadist " jiwa atau ruh itu ibarat tentara yang berkumpul dan berjumpa, lalu berciuman diudara ". Imam At-Thobroni menyandarkan kelemahan hadist ini dari hadist Ali.
(3). Hadist " Bahwa nyawa dua orang mu'min bertemu dalam perjalanan sehari, dan tidak sekali-kali salah satu dari keduanya melihat temannya ". Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdulloh bin 'Amr dengan lafadz " تلتقى " dan berkata salah seorang dari mereka yang terdapat didalamnya Ibnu Luhai'ah dari Darooj.  ( footnote Ihya, Hal. 159, tentang makna " al-ikhwah fillah ").

Kemudian pada halaman 160, dituturkan lebih lanjut oleh Imam Al-Ghozali ;

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول (( الارواح جنود مجندة )) الحديث، والحق في هذا ان المشاهدة والتجربة تشهد للائتلاف عند التناسب والتناسب في الطباع والاخلاق باطنا وظاهرا امر مفهوم. واما الاسباب التي اوجبت تلك المناسبة فليس في قوة البشر الا طلاع عليها وغاية هذيان المنجم ان يقول اذا كان طالعه على تسديس طالع غيره او تثليثه فهذا نظر الموافقة والمودة فتقتضي التناسب والتواد واذا كان علي مقابلته او تربيعته اقتضي التباغض والعداوة فهذا لو صدق بكونه كذلك في مجارى سنة الله فى خلق السموات والارض لكان الاشكال فيه اكثر من الاشكال في اصل التناسب فلا معنى للخوض فيما لم يكشف سره للبشر فما اوتينا من العلم الا قليلا ويكفينا في التصديق بذلك التجربة والمشاهدة فقد ورد الخبر به قال صلى الله عليه وسلم (( لو ان مؤمنا دخل الى مجلس فيه مائة منافق ومؤمن واحد لجاء حتى يجلس اليه ولو ان منافقا دخل الى مجلس فيه مائة مؤمن ومنافق واحد لجاء حتى يجلس اليه (2)

Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda, " Jiwa itu laksana tentara yang berkumpul...al-Hadist ". Pengertian yang sebenarnya mengenai hal ini adalah, bahwa pandang memandang dan percobaan menjadi saksi dari kejinakan hati ketika terjadi kecocokan atau kesesuaian. Dan kesesuaian tentang tabiat atau watak dan akhlak pada bathin dan pada lahir adalah hal yang dapat difahami.
Adapun sebab-sebab yang mengharuskan adanya persesuaian itu tidaklah manusia sanggup mendalaminya. Dan sejauh kekonyolan ahli nujum yang mengatakan bahwa " Apabila bintangnya berada enam kali dari bintangnya orang lain atau tiga kali dari yang lain, maka hal ini bisa menunjukkan bukti adanya persesuaian dan kasih sayang. Lantas yang demikian itu menghendaki kepada kesesuaian dan berkasih-kasihan. Dan apabila sebaliknya atau berada empat kali ( bintangnya ), maka akan membawa pertengkaran dan permusuhan ".
Maka kalau hal ini benar adanya dalam berlakunya sunnatulloh pada kejadian langit dan bumi, niscaya persoalan yang ada padanya adalah lebih banyak dari persoalan tentang pokok kesesuaian. Maka tidak ada artinya memasuki hal yang tidak terbuka rahasianya bagi manusia. Dan tidaklah dianugerahkan kepada kita ilmu pengetahuan ( tentang ruh ) kecuali sedikit saja. Dan cukuplah bagi kita untuk membenarkan yang demikian itu akan percobaan dan penyaksian.
Dan telah datang Hadist akan hal yang demikian itu, dimana Rosululloh SAW bersabda ;

" Jika seorang mu'min masuk ke suatu majelis, yang dimana pada majelis itu terdapat seratus orang munafiq dan satu orang mu'min, maka pasti ia datang sehingga duduk pada satu orang mu'min tadi. Dan kalau orang munafiq masuk pada suatu majelis, yang dimana pada majelis itu terdapat seratus orang mu'min dan satu orang munafik, maka sesungguhnya ia datang sehingga duduk pada seorang munafik tadi ". (2). — Hadist ini oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya " Syu'bil Iman " dianggap mauquf ( terhenti ) pada Ibnu Mas'ud. Pengarang kitab " Al-Firdaus " menuturkan hadist ini dari Mu'adz bin Jabal, dan putranya ( shohibul firdaus ) tidak mentakhrijnya dalam Al-Musnad.

Dalam hadist diatas, Imam Al-Ghozali memberikan analisanya ;

وهذا يدل على ان شبه الشيء منجذب اليه بالطبع وان كان هو لا يشعر به. وكان مالك بن دينار يقول لا يتفق نوعان من الطير في الطيران الا وبينهما مناسبة قال فرأى يوما غرابا مع حمامة فعجب من ذلك فقال اتفقا وليسا من شكل واحد ثم طارا فاذا هما أعرجان فقال من ههنا اتفقا ولذلك قال بعض الحكماء : كل انسان يأنس الى شكله كما ان كل طير يطير مع جنسه، واذا اصطحب اثنان برهة من زمان ولم يتشا كلا في الحال فلا بد ان يفترقا، وهذا معنى خفي تفطن له الشعراء حتى قال قائلهم :

وقائل كيف تفرقتما    فقلت قولا فيه إنصاف
لم يك من شكلى ففارقته   والناس اشكل وألاف

فقد ظهر من هذا ان لانسان قد يحب لذاته لا لفائدة تنال منه في حال او مآل بل لمجرد المجانسة والمناسبة في الطباع الباطنة والاخلاق الخفية ويدخل في هذا القسم الحب للجمال اذا لم يكن المقصود قضاء الشهوة.

Ini menunjukkan bahwa keserupaan sesuatu adalah tertarik padanya dengan tabiat sekalipun ia tidak merasakan hal itu.
Malik bin Dinar berkata ;" Tidak akan sesuai ( cocok ) dua orang dalam sepuluh orang, selain kepada salah seorang dari keduanya terdapat sifat ( yang sesuai ) dari seorang lagi. Sesungguhnya jenis-jenis manusia adalah seperti jenis-jenis burung. Dua macam burung tidak akan sepakat terbang bersama, kecuali diantara keduanya ada kesesuaian ( kecocokan ). Lalu Malik bin Dinar meneruskan dengan mengatakan bahwa pada suatu hari beliau melihat seekor burung gagak bersama seekor burung merpati, maka heranlah beliau melihat yang hal itu, lalu beliau berkata, " Keduanya itu telah sepakat dan tidaklah keduanya itu dari satu bentuk ( jenis ) ". Kemudian kedua ekor burung itu terbang, dan rupanya kedua ekor burung itu pincang kakinya, lantas Malik bin Dinar berkata, " Dari segi inilah keduanya sepakat ".

Karena itulah, sebagian ahli hikmah mengatakan ;
" Tiap-tiap manusia jinak hatinya kepada yang dengan dia sebagaimana masing-masing burung itu terbang bersama jenisnya. Dan apabila dua orang bersahabat pada suatu waktu dan keadaan keduanya tidak serupa, maka tidak bisa tidak, suatu saat keduanya pasti akan berpisah ".

Dan ini adalah suatu pengertian yang tersembunyi yang telah difahami oleh para penyair, sehingga berkatalah salah seorang penyair dari mereka ;

" Seorang bertanya :
Bagaimana engkau berdua jadi berpisah ?
Maka aku menjawab :
Dengan jawaban keinsyafan
Dia tidak sebentuk dengan aku,
Maka aku berpisah dengan dia..
Manusia itu berbagai bentuk
Dan beribu macam keadaan..."

Maka jelaslah dari yang tersebut ini, bahwa manusia kadang-kadang mencintai karena zat barang itu sendiri, bukan karena sesuatu faedah yang akan dicapai pada masa sekarang atau pada masa yang akan datang. Tetapi karena semata-mata kesejenisan dan kesesuaian pada sifat-sifat bathin dan budi pekerti yang tersembunyi. Dan termasuk dalam bagian ini, adalah cinta karena kecantikan, apabila tidak ada maksud untuk melepas nafsu syahwat.

والله اعلم بالصواب

—————
* Danny Ma'shoum, Sidoarjo- Senin 30 Maret 2015.
Terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Alloh SWT yang telah memberi banyak kesempatan dalam hidupku untuk berfikir dan merenung dll.
2. Rosululloh SAW yang telah menunjukkan jalan terang akan indahnya nikmat Islam Iman dan Ihsan.
3. Para Ulama selaku warotsatul anbiya'

Dan saya hadiahkan sekelumit ulasan ini kepada ;
1. Kedua orang tuaku dan mertuaku yang telah memberi hadiah berjilid-jilid buku.
2. Guru-guruku yang tercinta.
3. Istriku Syarifah Dayang " Dinda " Basyaf Ba'alawy.
4. Putra-putra ku : Muhammad Aroobillah Arofat, Muhammad Al-Kaff Ubaydillah, Muhammad Haqqy An-Nazily Basyaf.
5. Semua sahabat-sahabat setiaku semua yang tak dapat saya sebut satu persatu oleh karena " kesesuaian " kalian dengan ku. " 'Asallohu an yaj'ala bainanaa wa bainakum mawaddatan warohmatan ".

Wednesday, March 25, 2015

KEAJAIBAN HATI PARA AHLUL QUR'AN

JIWA-JIWA QUR'ANI, SEBUAH BENTUK RASA CINTA DAN KERINDUAN TERAMAT DALAM PADA KALAM ILAHI

Ulasan kali ini adalah sedikit penyempurnaan dari beberapa kajian yang sudah saya posting beberapa waktu yang lalu, agar kiranya menjadi bahan renungan dan muhasabah diri saya pribadi khususnya, bagi pembaca, pengkaji ayat-ayat Al-Qur'an, terlebih lagi bagi para penghafalnya. Adapun bahasan beberapa poin dari topik diatas lebih banyak saya nukil dari catatan-catatan harian saya.

بسم الله الرحمن الرحيم

Ahlul Qur'an adalah Ahlulloh ( keluarganya Alloh ), dan dipermukaan bumi ini tidak ada keluarga yang lebih terhormat dibanding orang-2 yang dipilih untuk masuk dalam lingkup keluargaNya, dan ini adalah bentuk penghargaan yang luar biasa dari hamba-hamba yang dipilih olehNya.

Sebagaimana Hadist yang diriwayatkan Imam An-Nasai dalam kitabnya " Fadhoilul Qur'an ", Hal. 98 -99 ;

اخبرنا عبيد الله ابن سعيد عن عبد الرحمن قال : حدثني عبد الرحمن بن بديل ميسرة عن ابيه عن انس ابن مالك قال : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : ان لله اهلين من خلقه، قالوا : ومن هم يا رسول الله ؟ قال : اهل القرآن هم اهل الله وخاصته.

اسناده حسن فرجاله كلهم ثقات سوي عبد الرحمن بن بديل، قال عنه الحافظ لا بأس به انظر التقريب ١/٤٧٣ ووثقه الطيالسي وقد صحح هذا الحديث المنذري في الترغيب والترهيب انظر ٢/٣٥٤، والبوصيرى في مصباح الزجاجة بزوائد ابن ماجه ورقة ١٤. وقد اخرجه احمد في مسنده ٣/١٢٧ ،١٢٨، ٢٤٢ ، والحاكم في المستدرك ١/٥٥٦، وابن ماجه في سننه رقم ٢١٥، وابو داوود الطيالسي ذكره البوصيرى والدارمي في سننه رقم ٣٣٢٩، والبزار في مسنده ذكره القرطبي في تفسيره ١/١.

" Telah memberitahukan kepada kami 'Ubaidulloh ibn Sa'id dari 'Abdur Rohman, yang berkata : Abdur Rohman ibn Bidyl bercerita kepadaku dari ayahnya dari Anas ibn Malik, berkata Anas : Rosululloh SAW bersabda : " Sesungguhnya Alloh memiliki keluarga dari makhluk ciptaanNya ". Maka berkata para sahabat, " Siapakah mereka wahai Rosululloh ?, Rosululloh berkata ;" Ahlul Qur'an itulah keluarganya Alloh, dan orang-orang yang dihususkanNya ".

Isnad Hadist ini hasan dan para rijalul hadistnya  semuanya terpercaya kecuali Abdur Rohman ibn Bidyl/ Budayl, Al Hafidz ibnu Hajar berkata tentangnya, " tidak ada masalah dengan Abdur Rahman ibn Bidyl " Lihat kitab At-Taqrib juz 1 / Hal. 473, dan Imam At-Thoyalisy menganggapnya sebagai rowi yang tsiqoh. Imam Al Hafidz Al Mundziry mensohihkannya sebagaimana dalam kitabnya At-Targhib wat Tarhib, jilid 2, Hal. 354, serta Imam Al-Bushiry dalam kitabnya yang berjudul Mishbahuz Zujaajah bi Zawaaidi bni Majah, lembar ke 14. Imam Ahmad ibn Hanbal mengeluarkan riwayat hadist ini dalam Musnadnya, jilid 3, Hal. 127, 128, 242, dan Imam Al-Hakim dalam Mustadrok nya , jilid 1, Hal. 556. Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan nya pada No. 215, dan Imam Abu Dawud At-Thoyalisy sebagaimana yang dituturkan Imam Al-Bushiry dan Imam Ad-Darimi dalam Sunan Ad-Darimi, No. 3329, dan Imam Al-Bazzar didalam Musnad nya sebagaimana yang telah dituturkan Imam Al-Qurthuby didalam Tafsirnya jilid 1, Hal. 1.

Kedahsyatan hati para Ahlulloh ( salah satunya adalah ahli Qur'an ) dalam menangkap isyarat-2 makna yang terkandung didalamnya sungguh luar biasa. Sehingga berdampak pada cerminan kehidupan sehari-harinya.
Bahkan sebagian dari golongan Salafus Sholih apabila membaca Al-Quran atau suatu ayat dari Al-Quran, akan tetapi hatinya tidak fokus pada apa yang dibaca, maka diulang-ulanginya sampai kedua kalinya, dan bahkan berkali-kali sampai hatinya,  fikirannya tertuju pada apa yang dibaca.
Bagi mereka, kelengahan hati dan fikiran ketika membaca Al-Quran merupakan ketakutan yang luar biasa bagi para salafus sholih. Oleh karena saking begitu dahsyatnya getaran hatinya, sampai-sampai ada dari mereka jatuh tersungkur dan bahkan sampai meninggal.
Dalam hal ini, sebagaimana yang dituturkan Imam An-Nawawi dalam kitabnya At-Tibyan fii Adaabi Hamalatil Qur'an, Hal. 81 ;

والاحاديث فيه كثيرة، واقاويل السلف / فيه مشهورة. وقد بات جماعات من السلف يتلون آية واحدة يتدبرونها ويرددونها الى الصباح، وقد صعق جماعات من السلف عند القراءة ومات جماعات منهم حال القراءة.  وروينا عن بهز بن حكيم ان زرارة بن اوفي التابعي الجليل رضي الله عنهم أمّهم في صلاة الفجر فقرأ حتى بلغ : فإذا نقر في الناقور * فذلك يومئذ يوم عسير ( المدثر : ٨-٩ ) خر ميتا، قال بهز فكنت فيمن حمله.

" Banyak hadist diriwayatkan mengenai hal itu dan perkataan-perkataan ulama salaf tentang hal itu cukup masyhur. Segolongan ulama salaf ada yang membaca satu ayat sambil merenungkannya dan mengulang-ulanginya sampai pagi.
Segolongan ulama salaf telah pingsan ketika membaca Al-Qur'an dan banyak pula yang meninggal dalam keadaan membaca Al-Qur'an. Kami riwayatkan dari Bahzin bin Hakim, bahwa Zuroroh bin Aufa adalah seorang tabi'in yang mulia, ia mengimami orang-orang dalam sholat fajar. Maka ia membaca Al-Quran sampai pada ayat ( diatas ) yang artinya ;
" Apabila ditiup sangkakala. Maka waktu itu adalah waktu datangnya hari yang sulit ". ( Suroh Al-Muddatsir, Juz 29, ayat 8-9 ). Tiba-tiba beliau roboh dan meninggal seketika itu juga. Bahzin bin Hakim berkata, " Aku termasuk orang-orang yang memikul jenazahnya ".

Lebih lanjut, Imam An-Nawawi menuturkan kembali pada Hal. 81-82 ;

وكان احمد بن ابي الحواري رضي الله عنه، وهو ريحانة الشام كما قال أبو القاسم الجنيد رحمه الله اذا قرئ عنده القرآن يصيح ويصعق.

" Adalah Ahmad bin Abul Hawari r.a. yang digelari Roihanatus Syam, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abul Qosim Al-Junaid Al-Baghdady r.a, apabila dibacakan Al-Qur'an didekatnya, ia menjerit dan jatuh pingsan.

( * saya cukupkan disini dari beberapa kisah tersebut )

Dan hal ini sebagaimana kisah diatas, jelas sekali mengindikasikan bahwa membaca Al-Quran tidaklah sekedar membaca. Mereka memperlakukan dirinya ketika membaca Al-Quran, seolah-olah sedang membaca dihadapan Sang Pemilik Kalam itu sendiri dengan berduaan serta berhadap-hadapan.

Jika Ahli hikmah saja mengatakan ;

اذا جلست بين العلمآء فاحفظ لسانك، واذا جلست بين الاوليآء فاحفظ قلبك

" Apabila engkau duduk diantara para Ulama' maka jagalah lisanmu. Dan apabila engkau duduk diantara para Auliya' maka jagalah hatimu ".

Maka bagaimana pula ketika kita duduk berdua dengan Alloh ketika membaca KalamNya, yang mana Dia mengetahui betul akan siapa diri kita. Maka tidak hanya lisan dan hati saja yang kita jaga, bahkan fikiran dan sikap demi menjaga tata krama dihadapanNya.

Coba kita renungkan lebih dalam dari makna ayat berikut ini ;

(وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ) [Surat Al-Araf : 204]

" Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ".

Jika kita perhatikan dari dhohir ayat, maka ada sebuah tuntunan bahwa seseorang harus menjadi pendengar yang baik dan dianjurkan diam ketika Al-Quran dibacakan. Tapi coba kita analisa dalam-2 dari sebagian rahasia dari hakikat ayat, " Dan apabila dibacakan Al Quran...", Siapakah yang membaca ? kita ? ataukah Dia ( Alloh ) Sang pemilik Kalam yang membacakan untuk kita ?. Jika sebagian dari kita mengatakan bahwa yang membaca adalah kita, maka berhati-hatilah bahwasannya Dia tidak sedikitpun lengah memperhatikan bacaan kita. Di hadapan Sang Raja kita telah diberi kesempatan " berbicara " dengan disaksikan begitu banyak para malaikat-2nya, baik yang menjaga tiap-tiap huruf dari runtutan ayat yang kita baca maupun para malaikat yang menjaga setiap bagian dari bagian anggota tubuh kita, dan bahkan lebih dari itu. Maka sudah selayaknya ketika berbicara di hadapan Sang Raja, fikiran dan hati kita hanya tertuju pada apa yang hendak kita sampaikan kepadaNya.
Dan jika sebagian dari kita mengatakan bahwa Dia ( Alloh SWT ) yang membacakan untuk kita, maka kita benar-2 harus ekstra hati-hati dari kelengahan fikiran dan hati dari tertuju padaNya. Umpamakan ketika Sang Raja menyampaikan titahnya kepada kita, sedang hati dan fikiran kita tidak disana, maka bagaimana kita bisa mengerti dan memahami materi titah Sang Raja tersebut. Bukankah ini suatu kecerobohan dan kesembronoan dari bentuk adab yang tidak baik dari seorang hamba ketika berhadap-hadapan langsung dengan Rajanya.

Sekarang mari kita lihat, bagaimana Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali mengajak kita untuk menerjuni amaliah-2 bathin ketika tilawatil Quran, sebagaimana beliau tuturkan dalam salah satu karya monumentalnya, Kitab Ihya' Ulumuddin, hal. 283 ;

الثالث : حضور القلب وترك حديث نفس، قيل في نفسير — يا يحي خذ الكتاب بقوة — اي بجد واجتهاد واخذه بالجد ان يكون متجردا له عند قراءته منصرف الهمة اليه عن غيره، وقيل لبعضهم اذا قرأت القرآن تحدث نفسك بشيئ فقال او شيئ احب اليّ من القرآن حتى احدث به نفسى

" KETIGA :( termasuk bagian dari amaliyah bathin ketika membaca Al-Quran ) adalah kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa. Ada yang mengatakan, pada penafsiran firman Alloh Ta'ala, " Yaa yahyaa khudzil kitaaba biquwwah " ( Suroh Maryam, ayat 12 ) yang artinya : " Hai Yahya ! Ambillah kitab itu dengan sungguh-sungguh dan rajin ". Mengambilnya dengan sungguh-sungguh, ialah menghadapkan diri kepada kitab itu semata-mata ketika membacanya, memfokuskan atau memusatkan kemauan hati kepadanya saja, tidak kepada yang lain. Ditanyakan kepada sebagian mereka :" Apabila engkau membaca Al-Quran, adakah engkau itu berbicara dengan dirimu akan sesuatu ( selain Al-Quran ) ? " Maka yang ditanya menjawab, " Adakah sesuatu yang lain yang lebih aku cintai dari Al-Quran, sehingga aku berbicara dengan dia akan diriku ?".
Selanjutnya ( masih di kitab yang sama dan halaman yang sama dari Ihya' nya Imam Al-Gozali ), mari kita beranjak untuk melihat bagaimana Rosululloh SAW dalam merenungi atau mentadabburi ayat.

ويروى انه صلى الله عليه وسلم قرأ بسم الله الرحمن الرحيم فرددها عشرين مرة (١).
(١). حديث انه قرأ بسم الله الرحمن الرحيم فرددها عشرين مرة رواه ابو ذر الهروى في معجمه من حديث ابي هريرة بسند ضعيف.

" Diriwayatkan bahwa Nabi SAW membaca " Bismillahir rohmaanir rohiim ", lalu beliau mengulang-ulanginya sampai 20 kali ". (1). Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dzar Al-Harawy dalam Mu'jamnya dari Abu Hurairah dengan sanad dhoif.

Imam Al-Ghozali memberi komentar bahwa sesungguhnya Nabi mengulang-ulanginya sampai 20 kali, adalah karena bertadabbur pada segala pengertiannya.

(أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا) [Surat Muhammad : 24]

" Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? ".

Terlepas dari penafsiran para mufassir, bahwa " memperhatikan Al-Quran " adalah adanya tuntutan dalam pemfokusan hati, serta fikiran agar tidak lengah dalam mentadabburi makna-2nya, mencurahkan segala perhatian hanya semata-mata tertuju padanya ( Al-Quran ) dari apa yang kita baca. Adapun pengertian " ataukah hati mereka terkunci " adalah bentuk kelalaian, kelengahan dari ketidak peka-an hati untuk membuka diri dalam menerima pesan-2 agung dari apa yang telah dibaca. Sehingga hati tidak mampu meresapinya dengan baik.

Dimulai dari masa hidup Rosululloh SAW, para sahabat dan tabi'in dari generasi salafus sholih, banyak kita jumpai akan kepekaan hati mereka dalam menangkap isyarat-isyarat Ilahiyyah dari ayat-ayat Al-Qur'an yang mereka baca. Sejarah telah merekam dengan jelas jejak-jejak keagungan pribadi mereka dalam berinteraksi dengan ayat-ayatNya. Imamuna Abul Hamid Al-Ghozali dengan gamblang menuturkan akan kedahsyatan hati para Ahlulloh ini, sebagaimana yang beliau kisahkan dalam Ihya'nya, juz 2, Hal. 293 ;

واما الحكايات الدلة على ان ارباب القلوب ظهر عليهم الوجد عند سماع القرآن فكثيرة قوله صلى الله عليه وسلم " شيبتنى هود واخواتها ( ٤ ) " خبر ان الوجد فان الشيب يحصل من الحزن والخوف وذلك وجد. وروي ان ابن مسعود رضى الله عنه قرأ على رسول الله صلى الله عليه وسلم سورة النساء فلما انتهى على قوله تعالى " فكيف اذا جئنا من كل امة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء سبيلا " قال حسبك وكانت عيناه تذرفان بالدموع ( ١ ) وفي رواية انه عليه السلام قرأ هذه الآية او قرئ عنده — ان لدينا أنكالا وجحيما. وطعاما ذا غصة وعذابا أليما — فصعق ( ٢ )  وفي رواية انه صلى الله عليه وسلم قرأ — إن تعذبهم فانهم عبادك — فبكى ( ٣ ) وكان عليه السلام اذا مر بآية رحمة دعا واستبشر ( ٤ ) والاستبشار وجد وقد أثنى الله تعالى على اهل الوجد بالقرآن فقال تعالى — واذا سمعوا ما أنزل الى الرسول ترى اعينهم تفيض من الدمع مما عرفوا من الحق — وروي ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلى لصدره أزيز كأزيز المرجل ( ٥ ).

Hikayat-hikayat yang menunjukkan bahwa orang-orang yang mempunyai hati suci itu, banyak yang timbul dari adanya perasaan yang begitu mendalam ketika mendengar Al-Qur'an dibacakan. Sebagaimana sabda Nabi SAW, " Berubannya diriku, adalah karena surat Hud dan surat-surat lainnya yang semisal dengan surat Hud ". ini mengindikasikan adanya perasaan yang mendalam ( al wajd ) dalam hati beliau. Karena ubanan itu terjadi dari ekspresi kesedihan dan ketakutan, dan inilah yang dimaksud al-wajd. (*4).
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud r.a. membaca dihadapan Rosululloh SAW surat An-Nisa'. Maka ketika sampai pada ayat ;

(فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا) [Surat An-Nisa : 41]

Yang artinya :" Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu) ". Lalu Nabi SAW berkata ," Cukuplah olehmu ". Tampak kedua mata beliau bercucuran air mata.
Pada suatu riwayat, Nabi SAW membaca ayat atau dibacakan seseorang disampingnya dari ayat ke 12-13 dari suroh Al-Muzammil, yang artinya " Sesungguhnya disisi kami ada rantai yang berat dan api neraka. Dan makanan yang mencekikkan dan siksa yang pedih ". Lalu beliau pingsan.
Pada suatu riwayat, Nabi SAW membaca ayat 118 dari suroh Al-Maidah, yang artinya ," Kalau mereka Engkau siksa, sesungguhnya mereka itu hamba-hambaMu ". Lalu beliau menangis.

Adalah Nabi SAW apabila telah membaca ayat-ayat tentang rahmat, beliau lalu berdoa dan tampak gembira. Kegembiraan itu adalah bentuk dari perasaan yang amat mendalam dari pekanya hati, dan Alloh Ta'ala memuji orang-orang yang mempunyai al-Wajd ( perasaan atau rasa cinta yang mendalam dikarenakan Al-Quran ).
Sebagaimana firman Alloh ;

(وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ) [Surat Al-Maeda : 83]

" Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.).

Diriwayatkan, bahwa Rosululloh SAW mengerjakan sholat dan dadanya berbunyi menggelegak seperti bunyi menggelegaknya periuk ".

Kemudian masih dikitab yang sama dari Ihya, Juz 2, Hal. 294, Imam Al-Ghozali kembali mengisahkan dari kalangan sahabat dan tabi'in tentang ekspresi luar biasa dari kepekaan hati mereka terhadap haibah dari ayat-ayat Al-Qur'an yang mereka baca. Sebagaimana dalam penuturannya ;

واما ما نقل من الوجد بالقرآن من الصحابة رضي الله عنهم والتابعين فكثير : فمنهم من صعق ومنهم من بكى ومنهم من غشى عليه ومنهم من مات في غشيته وروي ان زرارة بن اوفي وكان من التابعين كان يؤم الناس بالرقة فقرأ — فاذا نقر في الناقور — فصعق ومات في محرابه رحمه الله وسمع عمر رضى الله عنه رجلا يقرأ — ان عذاب ربك لواقع — فصاح صيحة وخر مغشيا عليه فحمل الي بيته فلم يزل مريضا في بيته شهرا وابو جرير من التابعين قرأ عليه صالح المرى فشهق ومات وسمع الشافعى رحمه الله قارئا يقرأ — هذا يوم لا ينطقون ولا يؤذن لهم فيعتذرون — فغشى عليه وسمع على ابن الفضيل قارئا يقرأ — يوم يقوم الناس لرب العالمين — فسقط مغشيا عليه فقال الفضيل شكر الله لك ما قد علمه منك وكذلك نقل عن جماعة منهم وكذلك الصفية فقد كان الشبلى في مسجده ليلة من رمضان وهو يصل خلف امام له فقرأ الامام — ولئن شئنا لنذهبن بالذى اوحينا اليك — فزعق الشبلى زعقة ظن الناس انه قد طارت روحه واحمر وجهه وارتعدت فرائصه وكان يقوم بمثل هذا يخاطب الأحباب يردد ذلك مرارا. وقال الجنيد دخلت على سرى السقطى فرايت بين يديه رجلا قد غشى عليه فقال لى هذا رجل قد سمع آية من القرآن فغشى عليه فقلت اقرءوا عليه تلك الآية بعينها فقرئت فأفاق فقال من اين قلت هذا فقلت رايت يعقوب عليه السلام كان عماه من اجل مخلوق فبمخلوق ابصر ولو كان عماه من اجل الحق ما ابصر بمخلوق فاستحسن ذلك ويشير الي ما قاله الجنيد.

وكأس شربت على لذة      وأخرى تداويت منها بها

" Adapun yang dinukilkan dari al wajd ( perasaan yang mendalam ) dari para sahabat dan tabi'in disebabkan Al-Qur'an banyak sekali. Diantara mereka ada yang menangis, diantara mereka ada yang sampai jatuh tersungkur, dan bahkan diantara mereka ada yang sampai meninggal dunia pada saat tersungkurnya itu.
Diriwayatkan, bahwa Zaroroh bin Aufa salah seorang tabi'in, beliau menjadi imam sholat orang banyak dengan perasaan malu, dan ketika ia membaca ayat " Faidzaa nuqiro fin naaquur " ( Suroh Al-Muddatsir, ayat 8 ) yang artinya " ketika terompet dibunyikan " maka seketika ia jatuh pingsan dan meninggal di mihrobnya, sekiranya Alloh menurunkan rahmat baginya.
Sahabat Umar bin Al-Khotthob mendengar seorang laki-2 membaca ayat ;

ان عذاب ربك لواقع. ما له من دافع

" Sesungguhnya siksaan Tuhan engkau pasti terjadi. Tiada seorangpun dapat menolaknya ". ( Suroh At-Thur, ayat 7-8 ). Lalu beliau ( sahabat Umar ) memekik dan jatuh tersungkur, maka beliaupun dibawa kerumahnya sampai sakit sebulan lamanya.
Abu Jarir termasuk golongan tabi'in. Sholih Al-Marri membacakan beberapa ayat Al-Qur'an kepadanya dengan suara yang sangat merdu. Lalu Abu Jarir jatuh pingsan dan meninggal.
Imam Asy-Syafi'i mendengar seorang pembaca Al-Qur'an membaca ayat :

هذا يوم لا ينطقون. ولا يؤذن لهم فيعتذرون

" Inilah hari yang dikala itu mereka tiada dapat berbicara. Dan kepada mereka tiada diberikan keizinan, sehingga mereka dapat mengajukan keberatan ( pembelaan ). ( Suroh Al-Mursalaat, ayat 35-36 ) lalu beliau ( Imam Asy-Syafi'i jatuh tersungkur.
Ali bin Al-Fudhail mendengar seorang pembaca Al-Qur'an membaca ayat ;

يوم يقوم الناس لرب العالمين

" Dihari manusia berdiri dihadapan Tuhan semesta alam ". ( Suroh Al-Muthoffifin, ayat 6 ). Lalu ia jatuh pingsan. Maka Al-Fudhail ( ayahnya ) berkata ," Alloh mengucapkan terima kasih kepadamu, atas apa yang diketahuiNya dari padamu ".

Begitu pula dinukilkan dari segolongan mereka, dan begitu pula pada kaum Sufi. Pada suatu malam bulan Romadhon, Asy-Syibli berada dimasjidnya, dan ia sholat dibelakang imam sholatnya. Lalu imam itu membaca ayat ;

ولئن شئنا لنذهبن بالذى اوحينا اليك

" Dan kalau kami kehendaki, niscaya kami hilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu " ( Suroh Al-Isro', ayat 86 ) Maka Asy-Syibli berteriak-teriak sehingga orang-orang mengira bahwa nyawa Asy-Syibli telah terbang ( lepas dari raganya ), mukanya merah padam dan amat takut hatinya. Dia mengatakan seperti itu dihadapan teman-temannya dan banyak mengulang-ulanginya yang demikian itu.
Al-Junaid berkata ," Aku masuk ketempat Sary As-Saqhothi, dan aku melihat dihadapannya seorang lelaki yang jatuh pingsan. Lalu Sary As-Saqothi berkata kepadaku, " Ini adalah orang yang mendengar suatu ayat dari Al-Quran lalu jatuh pingsan ". Maka aku menjawab ," Bacakanlah ayat itu lagi kepadanya ". Lalu dibacakan oleh Sary As-Saqothi dan lelaki itupun sadar seketika dari pingsannya.
Lalu Sary As-Saqothi bertanya, " Dari manakah sumbernya sampai engkau mengatakan hal ini ?". Aku ( Syaikh Junaid Al-Baghdady ) menjawab ," Aku melihat Nabi Ya'qub buta matanya karena makhluk, maka dengan makhluk pula ia dapat kembali melihat. Dan jika butanya karena Al-Haq, maka ia tidak akan melihat dengan sebab makhluk ". Sary As-Saqothi memandang baik perkataan Al-Junaid tersebut. Dan terhadap apa yang dikatakan oleh Al-Junaid tadi ditunjukkan oleh sebuah sajak seorang penyair ;

Segelas khomer aku minum
Untuk kesenangan
Dan segelas lagi aku minum
Untuk pengobatan.

Masih banyak kisah-kisah Ahlul Quran yang begitu dalam penghayatannya dalam tiap-tiap ayat yang dibaca. Disini saya cantumkan juga dari beberapa kisah penggugah jiwa dari gurunya guru kami tercinta.

Adalah Hadrotus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari, pada suatu peristiwa beliau amat letih oleh karena seharian penuh mengikuti Konferensi Nahdlatul Ulama' di kota Malang. Ketika itu beliau tidak dapat memberikan pelajaran dimalam harinya kepada murid-2, karena beliau tidur mulai ba'da Isya, dan tampak nyenyak sekali tidurnya. Sekitar pukul 3:30 malam beliau baru bangun lalu mengambil air wudhu terus melanjutkannya dengan sholat tahajjud. Walaupun sejak siang belum makan, tetapi makanan yang terhidang tidak juga dijamahnya, bahkan beliau langsung mengambil Al-Quran dan membacanya dengan Tartil ( jawa : antan-antan ). Setelah membacanya sekitar setengah jam, sampailah pada Suroh Ad-Dzariyat, ayat 17-18 yang berbunyi ;

(كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

" Di dunia, mereka ( para sahabat dan pengikut Nabi Muhammad SAW ) sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.

Setelah sampai pada ayat tersebut, beliau menghentikan bacaannya, diam sejenak lalu beliau menangis tersedu-sedu sampai air matanya membasahi jampang dan janggutnya yang sudah mulai memutih. Agaknya beliau merasa bahwa malam itu beliau terlalu banyak tidurnya.

Seorang guru senantiasa menjadi panutan murid-2nya, begitupula agaknya Kyai Fattah dalam meneladani sifat-2 gurunya, Hadrotus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari, pendiri pondok pesantren Tebuireng, Jombang.

Kyai Abdul Fattah Hasyim, ( ayah mertua sekaligus Guru dari guru kami KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad pengasuh Pon-Pes Bumi Damai Al-Muhibbin, TambakBeras-Jombang ) adalah salah satu pengasuh Pon-Pes Bahrul Ulum TambakBeras, Jombang. Dulu kalau mengajar Tafsir Jalalain di sekolah Mu'allimin-Mu'allimat tidak pernah bawa kitab, karena beliau hafal diluar kepala isi kitab tersebut. Dan setiap pelajaran, kalau materi ayatnya berkaitan dengan nikmat Alloh pasti rasa suka citanya luar biasa. Tapi kalau materi yang disampaikan berkenaan dengan ayat-ayat adzab atau siksa, maka dapat dipastikan dari 2 jam pelajaran, yang 1 jam dipakai penyampaian materi dan 1 jam nya beliau menangis tersedu-sedu, sehingga siswa2 waktu itu banyak yang menangis oleh karena ikut terbawa suasana hati beliau.

Maka hendaklah kita fahami dengan fikiran yang jernih, hati yang tulus dari membaca kedahsyatan ayat-ayatNya yang mulia dan agung itu, agar kita senantiasa mendapatkan hikmah dari amanah yang dititipkan kepada kita. Mudah-2an dengan sedikit ulasan saya yang dhoif ini, kita mendapat petunjuk dari Alloh agar menjadi Ahlul Quran yang Sabiqun bil khoirot bi idznillah. Dan untuk menggapai " bi idznillah " sebagai bagian dari Hidayah-Nya, maka hendaknya kita berazam sekuat hati untuk bisa mencontoh teladan  Rosululloh, sahabat-2 beliau dan para salafus sholih. Tetap mengedepankan husnudzhon kepada Alloh bahwasanya kita masih disediakan peluang untuk ambil bagian di kelas VIP dari kelas-2 Ahlul Quran lainnya.

Mudah-2an bermanfaat  sekelumit analisa kami yang faqir ini untuk sekiranya dapat dijadikan motivasi diri  dalam menggapai ridho Alloh SWT.

————
Danny Ma'shoum. Sidoarjo, Kamis 25 Maret 2015.

Tuesday, March 24, 2015

SILSILAH SYEH SITI JENAR

SILSILAH SYEH SITI JENAR

Sayyid Syeh Abdul Jalil, adalah nama asli dari Syaikh Siti Jenar ( Sidi Jenar ) atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Jabaranta.

Adapun silsilah beliau adalah sebagai berikut ;

1. NABI MUHAMMAD SAW.
2. SAYYIDAH FATHIMAH AZ-ZAHRO'
3. SAYYIDINA HUSEIN AS-SIBTI ( Assabti )
4. SAYYIDINA ZAINAL ABIDIN
5. SAYYIDINA MUHAMMAD AL-BAQIR
6. SAYYIDINA JA'FAR ASH-SHODIQ
7. SAYYIDINA QOSIM AL-KAMIL ( ALI AL-UROIDHI )
8. SAYYIDINA MUHAMMAD AN-NAQIB ( IDRIS )
9. SAYYIDINA ISA AL-BASRI ( AL-BAQIR )
10. SAYYIDINA AHMAD AL-MUHAJIR
11. SAYYIDINA UBAIDILLAH
12. SAYYIDINA MUHAMMAD
13. SAYYIDINA ALWI
14. SAYYIDINA ALI QOSAM
15. SAYYIDINA MUHAMMAD
16. SAYYIDINA ALWI AMIR FAQIH
17. SAYYIDINA ABDUL MALIK
18. SAYYIDINA ABDULLOH KHON ( AMIR ), beliau ini mempunyai 2 putra ;

(1). SAYYID AHMAD SYAH JALALUDDIN
(2). SAYYID SYEH ABDUL QODIR KAILANI — beliau mempunyai putra bernama SAYYID SYEH DATUK ISA ( menetap di Malaka )— berputra SAYYID SYEH DATUK SHOLIH — beliau ini mempunyai putra yang bernama SAYYID SYEH ABDUL JALIL ( Datuk Abdul Jalil ) yang mashur dengan julukan SYEH SITI JENAR atau SYEH LEMAH ABANG atau SYEH JABARANTA.

* Silsilah ini saya sadur dari Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon, Hal. 100-101, yang telah diterjemahkan dari manuskrip asli tulisan huruf Pegon atau huruf Arab berbahasa Cirebon Madya oleh Pangeran Sulaeman Sulendraningrat , seorang Rama Guru Tarekat Satariyyah di Pengguron Caruban Krapyak Kaprabonan Cirebon, sekaligus dzurriyyah Sunan Gunung Jati yang ke 14.

————
Danny Ma'shoum, Sidoarjo

Dibawah ini adalah ilustrasi foto Syeh Siti Jenar

SILSILAH JOKO TINGKIR

SILSILAH JOKO TINGKIR ( SAYYID ABDURROHMAN )

Ada 2 buah kitab ( buku ) yang saya pakai acuan untuk penulisan silsilah, yang ditulis oleh dua orang Mursyid ;
1. Napak Tilas Auliya' Mataram, Karya Al-Arifu billah KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad, TambakBeras-Jombang ( Mursyid Tarekat Syadziliyyah )

2. Babad Tanah Pasundan dan Babad Cirebon, Karya Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, Kaprabonan-Cirebon ( Maha Guru Tarekat Satariyyah, cucu ke-14 Syarif Hidayatulloh / Sunan Gunung Jati ).

1. SAYYIDINA WA MAULANA MUHAMMAD SAW.
2. SAYYIDAH FATHIMAH AZ-ZAHRO'
3. AL-IMAM AL-HUSEIN AS-SIBTHI
4. AL-IMAM 'ALI ZAINAL 'ABIDIN
5. AL-IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR
6. AL-IMAM JA'FAR ASH-SHODIQ
7. AL-IMAM 'ALI AL-'UROIDHI
8. AL-IMAM MUHAMMAD AN-NAQIB
9. AL-IMAM 'ISA AN-NAQIB
10. AL-IMAM AHMAD AL-MUHAJIR ILALLOH
11. AL-IMAM 'UBAIDILLAH
12. AS-SAYYID 'ALAWY
13. AS-SAYYID MUHAMMAD
14. AS-SAYYID 'ALAWY
15. AS-SAYYID 'ALI KHOLI' QOSAM
16. AS-SAYYID MUHAMMAD SHOHIB AL-MIRBATH
17. AS-SAYYID 'ALAWY
18. AS-SAYYID AMIR ABDUL MALIK
19. AS-SAYYID ABDULLOH 'ADZHOMAH KHON
20. AS-SAYYID AHMAD SYAH JALAL
21. MAULANA JAMALUDDIN AKBAR AL-HUSEIN.      Beliau ini mempunyai 4 putra, yaitu ;

(1). MAULANA ISHAQ
(2). MAULANA IBROHIM AS-SAMARQONDI
(3). MAULANA 'ALI NURUDDIN ( NURUL ALIM )
(4). MAULANA ZAINUL BAROKAT ( ZAINUL ALAM )

Dari ke-4 putra Maulana Jamaluddin Akbar Al-Husein ini menurunkan beberapa putra-putri ;

1. MAULANA ISHAQ yang menikah dengan Dewi Sekardadu mempunyai anak bernama MAULANA AINUL YAQIN ( Raden Paku / Sunan Giri )— dan pernikahannya dengan istri yang lain (?) menurunkan putra-putri bernama ;
(1). MAULANA ABDUL QODIR ( Syaikh Dzatul Kafi )
(2). SAYYIDAH SHUFIYYAH ( istri Sunan Drajad )
(3). MAULANA ABDULLOH FAQIH SYIHABUDDIN ( Pangeran Pandan Arum / Aryo Pengging / Kebo Kenongo ) yang berputra SAYYID ABDURROHMAN ( JOKO TINGKIR / Mas Karebet / Sultan Hadiwijaya )

2. MAULANA IBROHIM AS-SAMARQONDI ( mempunyai putra bernama SAYYID ALI ROHMATULLOH ( Sunan Ampel ) dan SAYYID ALI MURTADHO ( Raden Santri )

3. MAULANA ALI NURUDDIN / NURUL ALIM mempunyai putra bernama MAULANA ABDULLOH 'IMADUDDIN ( Sultan Mesir ) berputra MAULANA SYARIF HIDAYATULLOH ( Sunan Gunung Jati ) dan SYARIF NURULLOH ( penerus Kesultanan Mesir )

4. MAULANA ZAINUL BAROKAT / ZAINUL ALAM berputra MAULANA MALIK IBROHIM.

* Silsilah diatas saya sadur dengan sistematika ringkas dan beberapa penjelasan dari buah karya Syaikhi wa Murobbi ruhii Al-Mursyid KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad, Tambak Beras-Jombang, yang berjudul Napak Tilas Auliya' Mataram, Hal. 16.

Dilain kesempatan insya Alloh akan kami tuturkan versi Babad Demak nya, beserta silsilah Syaikh Siti Jenar..
————
*Danny Ma'shoum
Sidoarjo 25-3-2015.

Monday, March 23, 2015

ARTI SEBUAH KEIKHLASAN

MAKNA IKHLAS BESERTA TANDA-TANDANYA DAN RIYA' DALAM PANDANGAN ULAMA SUFI ( MUTASHOWWIFUN )

Definisi-definisi Ikhlas dan tanda-tandanya beserta riya menurut para Ulama Sufi ini saya sadur dari kitab " Ad-Durrotun Nafisah min Syuruhil Hikam al 'Athoiyyah li Qoshdi Mahabbatillah ", Hal. 76-91, karya Syaikhy wa murobbi ruhiy KH. Muhammad Djamaluddin Ahmad, Tambak Beras-Jombang.

( * ) Syaikh Junaid Al-Baghdady ( w. 297 H / 910 M ) ;

الإخلاص تصفية العمل من الكدورات

" Ikhlas adalah, membersihkan amal dari kotoran-kotoran amal ".

( * ) Syaikh Sahl bin Abdillah Al-Tustary ( w. 200-283 H / 815-896 M ) ;

الإخلاص ان يكون سكون العبد وحركاته لله تعالى خاصة

" Ikhlas adalah, apabila semua diam dan geraknya hamba hanya khusus karena Alloh Ta'ala semata ".

( * ) Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho' Ad-Dimyathi ( muallif kitab Ianatut Tholibin ) ;

الإخلاص ان يكون قصد الانسان في جميع طاعته واعماله مجرد التقرب الى الله تعالى

" Ikhlas adalah, apabila tujuan manusia dalam semua amal ibadahnya melulu hanya pendekatan diri kepada Alloh Ta'ala ".

* Abu Utsman Al-Makki ;

الإخلاص نسيان رؤية الخلق بدوام النطر الى الخالق فقط

" Ikhlas adalah, melupakan memandang makhluq dengan selalu memandang Kholiq saja ".

( * ) Al-Harits Al-Muhasibi ( w. 243 H / 857 M ) ;

الإخلاص هو اخراج الخلق عن معاملة الربّ

" Ikhlas adalah, tidak memandang makhluq dari ibadah kepada Tuhan ".
—————
RIYA' DAN ANTISIPASINYA

( * ) Sayyid Abdulloh bin Alwy Al-Haddad dalam kitabnya An-Nashoih ad Diniyyah ;

الذي يعمل لقصد التقرب الى الله تعالى وطلب مرضاته وثوابه هو المخلص، والذي يعمل لله ولمراآت الناس هو المرآئى وعمله غير مقبول، والذي يعمل لمراآت الناس فقط ولو لا الناس لم يعمل اصلا امره خطر هائل، وريائه رياء المنافقين نعوذ بالله من ذلك ونسأله العافية من جميع البليات

" Orang yang beramal karena tujuan taqorrub ( pendekatan diri ) kepada Alloh Ta'ala serta mencari ridho dan pahalaNya, orang tersebut adalah Mukhlis ( orang yang ikhlas ). Dan orang yang beramal karena Alloh Ta'ala dan karena riya' ( pamer ) pada masyarakat, maka orang itu adalah riya' ( tukang pamer ) dan amalnya tidak diterima. Dan orang yang beramal hanya karena riya' pada masyarakat, dan seandainya tidak ada masyarakat maka ia tidak akan beramal sama sekali. Maka persoalan orang itu adalah sangat dikhawatirkan dan berbahaya, dan riya'-riya'nya termasuk riya' nya orang munafiq. Kami mohon perlindungan kepada Alloh Ta'ala dari hal-hal tersebut dan kami mohon kepada Alloh Ta'ala agar selamat dari semua ujian ".

( * ) Syaikh Ali bin Ahmad Al-Jaizi, dalam kitabnya Tuhfatul Khowwash, menjelaskan tentang kedudukan riya' ;

الرياء هو فعل العبادة بقصد اطلاع الناس لتحصيل مال او جاه او مدح وهو من الكبائر، وكل عمل خالطه الرياء فهو باطل مردود، واما غيره كحج مع تجارة وطهارة مع تبرد ففيه الثواب بقدر باعث الآخرة ولو مغلوبا، والرياء يدخل كل الاعمال حتي الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم على الاصح كما افتى به شيخ الاسلام والرملي

" Riya adalah melakukan ibadah dengan tujuan supaya dilihat oleh masyarakat agar memperoleh harta, kedudukan atau pujian. Riya' itu termasuk dosa besar ( dalam hati ). Semua amal yang dicampur dengan riya' adalah batal dan tertolak. Adapun amal yang lain seperti Haji disertai dengan dagang, dan bersuci disertai dengan tujuan mendapatkan rasa segar dibadan, maka amal itu ada pahalanya sebatas dorongqn karena akhirat walaupun hanya sedikit. Dan riya' itu bisa masuk kedalam semua amal hingga membaca sholawat Nabi SAW ( pun bisa kemasukan ). Hal ini menurut Syaikhul Islam Zakaria al-Anshori dan Imam Ar-Romli ".

Kemudian dalam Kitab Nashoihud Diniyyah nya, As-Sayyid Abdulloh bin Alwy Al-Haddad memberi solusi agar terhindar dari penyakit riya' sebagaimana kata beliau ;

ومهما خاف على نفسه الرياء فليخف اعماله ويفعلها في السر حيث لا يطلع عليه الناس فذلك احوط واسلم وهو افضل مطلقا اعني العمل في السر حتي لمن لم يخف على نفسه الرياء الا للمخلص الكامل الذي يرجو اذا اظهر العمل ان يقتدي به الناس فيه نعم ومن الاعمال ما لا يتمكن الانسان من فعله الا ظاهرا كتعلم العلم وتعليمه وكالصلاة في الجماعة والحج والجهاد ونحو ذلك فمن خاف من الرياء حال فعله شيئا من هذه الاعمال الظاهرة فليس ينبغي له ان يتركه بل عليه ان يفعله ويجتهد في دفع الرياء عن نفسه ويستعين بالله تعالى فانه نعم المولى ونعم المعين

" Seandainya seseorang itu mengkhawatirkan dirinya terjangkit riya', maka hendaklah ia merahasiakan amal-amalnya dan melakukannya secara samar, sekiranya masyarakat tidak melihatnya. Hal yang demikian itu adalah lebih berhati-hati dan lebih selamat. Dan amalan sirri itu adalah lebih utama secara muthlaq hingga bagi orang yang tidak menghawatirkan dirinya terjangkit penyakit riya', kecuali bagi orang yang sempurna keikhlasannya ( al-Mukhlis al-Kamil ) yang memperlihatkan amalnya dengan harapan agar amal perbuatannya diikuti oleh masyarakat. Dari berbagai macam amal, ada amal yang manusia tidak mungkin melakukannya kecuali dengan jelas dan tampak, seperti menuntut ilmu, mengajarkan ilmu, sholat berjamaah, beribadah haji, berperang dan sesamanya. Barang siapa yang khawatir terjangkit riya, maka seharusnya ia tidak meninggalkan amal-amal itu, bahkan harus melakukannya dan berusaha dengan keras untuk menolak riya' dalam dirinya serta memohon pertolongan Alloh SWT, karena Alloh adalah sebaik-baik Dzat Yang Menguasai dan sebaik-baik Dzat Yang Menolong ".

————

TANDA-TANDA IKHLAS

( * ) Imam Al-Ghozali ( 450-505 H ) ;

علامة الأخلاص ان يكون الخاطر يألفه في الخلوة كما يألفه في الملاء، ولا يكون حضور الغير هو السبب في حضور الخاطر كما لا يكون حضور البهيمة سببا في ذلك فما دام يفرق في احواله بين مشاهدة إنسان ومشاهدة بهيمة فهو خارج عن صفو الإخلاص مدنس الباطن بالشرك الخفي من الرياء وهذا شرك اخفى في قلب ابن آدم من دبيب النملة السوداء في الليلة الظلماء على الصخرة الصماء.

" Tanda-tanda ikhlas ialah, apabila khothir ( Bhs Jawa : Krentek'e ati ) merasa senang ditempat yang sepi, seperti halnya senang diantara banyak orang, dan kedatangan orang lain tidak menjadi sebab datangnya khotir ( krentek'e ati ), seperti halnya datangnya binatang tidak menjadi sebab datangnya khothir tersebut. Maka seseorang itu masih membeda-bedakan dalam tingkah lakunya antara dilihat manusia dan dilihat binatang, berarti ia keluar dari kejernihan ikhlas dan mengotori hatinya dari syirik khofi, yang dimana syirik khofi itu lebih samar daripada merayapnya semut hitam dimalam yang gelap diatas batu besar yang keras ".

( * ) Syaikh Abu Madyan Al-Hadidy, dalam kitab al-Hikam ;

علامة الإخلاص ان يفنى عنك الخلق في مشاهدة الحق

" Tanda-tanda ikhlas adalah, apabila telah sirna darimu memandang makhluk dalam memandang Al-Haq ".

( * ) Syaikh Ahmad bin 'Alan, dalam syarahnya ;

اذ حقيقة الإخلاص : الخلوص من شهود الاكوان والدخول في مقام الاحسان

" Karena hakekatnya ikhlas adalah lepas dari memandang makhluk dan masuk didalam maqom ihsan ".

( * ) Imam Al-Ghozali r.a ;

الاصل في الإخلاص استواء السريرة والعلانية

" Asal ( pokok ) didalam keikhlasan adalah kesamaan antara isi hati dan perbuatan lahiriyah ".

Dalam hal ini seperti yang dikatakan Umar ibn Al-Khottob r.a kepada seorang lelaki ;

عليك بعمل العلانية، قال : يا أمير المؤمنين وما عمل العلانية ؟، قال : ما اذا اطلع عليك لم تستحي منه

" Berpeganglah dengan amal 'alaniyyah ( amal yang tampak ). Laki-laki itu bertanya ; " Wahai amirul mukminin apakah amal 'alaniyyah itu ?". Umar menjawab ;" Yaitu amal yang apabila kamu dilihat orang, maka kamu tidak merasa malu kepadanya ".

Abu Muslim al-Khaulani r.a. berkata ;

ما عملت عملا أبالب ان يطلع الناس عليه الا اتياني اهلي والبول والغائط وهذه درجة عظيمة لا ينالها كل احد

" Tidaklah aku mengerjakan suatu amal yang aku peduli dilihat manusia kecuali bersenggama dengan istri, kencing dan berak. Hal ini merupakan derajat yang sangat agung, yang tidak semua orang dapat memperolehnya ".

( * ) Syaikh Fudhail bin 'Iyadh ( 105-187 H / 723-803 M ) ;

ترك العمل لأجل الناس رياء ، والعمل لأجل الناس شرك ، والإخلاص ان يعافيك الله منهما

" Meninggalkan amal karena manusia adalah riya' ( pamer ), dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah engkau diselamatkan oleh Alloh dari keduanya ".

( * ) Imam Al-Ghozali r.a. ;

واما ترك الطاعة خوف الرياء فلا وجه له بل ينبغي ان يعمل ويخلص الا اذا كان العمل فيما يتعلق بالخلق كالقضاء والامانة والوعظ فاذا علم من نفسه انه بعد الخوض فيه لا يملك نفسه بل يميل الى دواعي الهوى فيجب عليه الاعراض والهرب كذلك فعل جماعة من السلف.

" Adapun meninggalkan taat karena takut riya ', maka tidak ada alasan untuk hal itu, bahkan seyogyanga ia tetap beramal dan berusaha ikhlas, kecuali apabila amal itu tentang sesuatu yang berkaitan dengan makhluk, seperti menjadi Qodhi ( hakim ), memegang amanah, memberikan mau'idzhoh. Maka apabila ua mengetahui dari dirinya bahwa sesungguhnya setelah ia menyelami begitu dalam ia tidak dapat menahan nafsunya bahkan cenderung pada pengaruh-pengaruh hawa nafsu, maka wajib baginya untuk lari dan berpaling dari pekerjaan itu. Demikian itu adalah perilaku sebagian besar orang-orang salaf ".

Mudah-mudahan bermanfaat.
———————
Sidoarjo , Selasa 24-3-2015.

Danny Ma'shoum.

Tuesday, March 17, 2015

BIDADARI DUNIA

PARA BIDADARI DUNIA

Ada keterangan cukup menarik dari kitab Ihya' Ulumiddin nya Imam Al-Ghozali, seputar karakter wanita yang sebagian para Ulama besar dahulu menjatuhkan pilihannya pada sosok-2 yang layak dijadikan istri sebagai pendamping hidup dan sudah barang tentu demi kemaslahatan agama tentunya. Dan hal ini memungkinkan bahwa istri-2 beliau ( para Ulama ) ini adalah sosok bidadari bagi pribadi mereka. Dan bagaimana pula nasehat-nasehat salafus sholih dalam hal ini.

Dalam kitab Ihya' Ulumiddin-nya Imam Al-Ghozali, Jilid 2, Hal. 40. dituturkan sebagai berikut ;

والغرور يقع في الجال والخلق جميعا فيستحب ازالة الغرور في الجمال بالنظر و الخلق بالوصف والاستيصاف فينبغى ان يقدم ذلك علي النكاح ولا يسوصف  في اخلاقها وجمالها الا من هو بصير صادق خبير بالظاهر والباطن  ولا يميل اليها فيفرط في الثناء ولا يحسدها فيقصر فالطباع مائلة في مبادى النكاح ووصف المنكوحات الي الافراط والتفريط وقل من يصدق فيه  ويقتصد بل الخداع والاغراء أغلب والاحتياط فيه مهم لمن يخشى علي نفسه التشوف الي غير زوجته .فاما من اراد من الزوجة مجرد السنة اوالولد او ندبير المنزل فلو رغب عن الجمال فهو الي الزهد اقرب لأنه علي الجملة باب من الدنيا وان كان قد يعين علي الدين في حق بعض الاشخاص، قال ابو سليمان الداراني الزهد في كل شيئ حتى في المرأة يتزوج الرجل العجوز إثارا للزهد في الدنيا، وقد كان مالك بن دينار رحمه الله يقول يترك احدكم ان يتزوج يتيمة فيؤجر فيها إن اطعمها وكساها تكون خفيفة المؤنة ترضي باليسير ويتزوج بنت فلان وفلان يعني ابناء الدنيا فتشتهى عليه الشهوات وتقول اكسنى كذا وكذا، واختار احمد بن حنبل عوراء علي اختها جميلة فسأل من اعقلهما فقيل العوراء فقال زوجونى اياها فهذا دأب من لم يقصد التمتع.
فاما من لا يؤمن علي دينه مالم يكن له مستمتع فليطلبالجمال فالتلذذ بالمباح حصن للدين.
وقد قيل اذا كانت المرأة حسناء خيرة الاخلاق سوداء الحدقة والشعر كبيرة العين بيضاء اللون محبة لزوجها قاصرة الطرف عليه فهي صورة الحور العين فان الله تعالي وصف نساء اهل الجنة بهذه الصفة في قوله — خيرات حسان—اراد باخيرات حسنات الاخلاق، وفي قوله — قاصرات الطرف — وفي قوله — عربا اترابا — العروب هي العشقة لزوجها المشتهية للوقاع وهي تتم اللذة والحور البياض والحوراء شديدة بياض العين شديدة سوادها في سواد الشعر والعيناء الواسعة العين.

Terperdaya itu terjadi lantaran kecantikan bersama dengan budi pekerti. Maka disunnahkan menghilangkan terperdaya pada kecantikan itu dengan melihat dan terperdaya dengan budi pekerti saja, dengan disifatkan dan diperhatikan sifat-2 dari karakter wanita yang akan dinikahi. Maka sebaiknya yang demikian itu didahulukan dari pernikahan, dan tidaklah diterima pensifatan tentang budi pekerti dan kecantikan wanita yang akan dinikahi itu selain dari orang yang melihat benar, dapat dipercaya dan mengetahui dengan lahir dan batin, serta netral ( tidak condong ) pada wanita itu ( sampai ) berlebihan memujinya, dan tidak dengki pada wanita itu sehingga ia tak perlu berlama-lama dengan hal beginian.
Sifat manusia itu condong mengenai hal-2 yang menyangkut dengan hal-2 pada awal pernikahan dan pensifatan terhadap wanita-2 yang akan dinikahi, berkaitan dengan kelebihan-2 dan kekurangan-2nya. Dan sedikit sekali orang yang menjelaskan secara jujur dan menyederhanakan akan hal ini, tetapi menipu dan menjelek-jelekkannya yang lebih banyak terjadi. Maka dari itu, berhati-hatilah mengenai hal yang demikian ini, adalah penting sekali bagi orang khawatir terhadap dirinya sendiri akan memperoleh yang tidak pantas untuk dijadikan istrinya.
Adapun orang yang berkeinginan menikah semata-mata mengikuti sunnah atau memperoleh keturunan dan untuk mengatur rumah tangga, maka kalau ia tidak menghendaki kecantikan niscaya ia lebih mendekati kepada zuhud. Karena kecantikan itu umumnya adalah suatu pintu dari duniawi, meskipun bagi sebagian orang terkadang dapat membantu dalam hal agama.

Imam Abu Sualaiman Ad-Daroni berkata : " Zuhud itu terdapat pada tiap-tiap hal, bahkan terhadap wanita yang dinikahi oleh seorang laki-laki atas wanita yang sudah tua bangka, oleh karena mengutamakan kezuhudan di dunia ".
Malik bin Dinar rahimahulloh berkata : " Salah seorang darimu meninggalkan menikahi wanita yatim, lalu diupahinya wanita itu. Kalau ia memberi makan dan pakaian, maka perbelanjaan terhadap wanita itu adalah ringan, yang rela dengan yang sedikit. Dan ia mengawini anak sifulan dan sifulan lainnya, yaitu anak-anak dunia, maka bergejolaklah hawa nafsunya, dan wanita itu berkata : " Berilah aku pakaian ini dan itu ".

Imam Ahmad bin Hanbal memilih wanita yang matanya juling dari saudara nya yang cantik untuk dijadikan istrinya, maka beliau bertanya ," Siapakah yang paling berakal diantara kedua wanita itu ? Maka orang menjawab, " Yang juling itu ". Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata ," Nikahkan aku dengan wanita itu ".   Maka inilah sifatnya orang-2 yang tidak tertuju pada kesenangan semata-mata.
Adapun orang yang tidak merasa aman terhadap agamanya, selagi ia tidak mempunyai tempat kesenangan, maka hendaklah mencari kecantikan. Sebab memperoleh kelezatan dengan yang diperbolehkan adalah benteng bagi Agama.

Dan sungguh telah dikatakan, bahwa apabila wanita itu cantik, baik budi pekertinya, hitam pekat mata dan rambutnya, besar matanya, putih kuning warnanya, mencintai suaminya, tidak banyak memandang kepada suaminya, maka wanita yang demikian itu adalah bentuk BIDADARI. ( karena ) Sesungguhnya Alloh Ta'ala mensifatkan wanita-wanita penduduk surga dengan sifat-sifat tadi. Sebagaimana dalam firmanNya ;

...خيرات حسان

yang artinya," Didalam surga itu bidadari-bidadari yang baik, cantik jelita " ( Suroh Ar-Rohman, juz 27, ayat 70 ). Yang dimaksud dengan " Khoirotun " adalah yang baik akhlaqnya.
Dan dalam firmanNya lagi ;

..قاصرات الطرف

yang artinya :" Didalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya..." ( Suroh Ar-Rohman, juz 27, ayat 56 ).

Dan firmanNya lagi :

عربا اترابا

yang artinya :" Penuh kecintaan dan sebaya umurnya ". ( Suroh Al-Waqiah, juz 27, ayat 37 )
'Uruban itu artinya ; wanita itu asyik kepada suaminya, amat rindu dengan persetubuhan, dan dengan persetubuhan itu sempurnalah kelezatan. Dan bidadari itu matanya putih, rambutnya hitam mengikal dan matanya agak meluas ".

—————
*Danny Ma'shoum
Sidoarjo, 17 Maret 2015


Saturday, March 14, 2015

ARTI SAHABAT DALAM PERSPEKTIF IMAM AL-GHOZALI

ARTI SAHABAT DALAM PERSPEKTIF HUJJATUL ISLAM IMAMUNA ABUL HAMID MUHAMMAD BIN MUHAMMAD AL-GHOZALI.

Judul diatas saya tampilkan oleh karena termotivasi dalam sebuah hadist Rosululloh SAW ;

المرء علي دين خليله فلينظر احدكم من يخالل

" Seseorang itu akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu perhatikanlah olehmu siapakah yang dikawaninya ".

Serta termotivasi dari beberapa keluhan sahabat-sahabat saya ( bukan hanya satu atau dua orang yang mengatakan kepada saya, terutama sebagian sahabat TKW diluar negeri yang masih eksis didunia maya ini ) oleh karena menjadi korban " keindahan bahasa " berdalih agama yang justru dilakukan teman sendiri. Dan bahkan hebatnya lagi, sebagian dari mereka menganggapnya sebagai guru ataupun ustadz pembimbing dalam pemahaman bagi kemaslahatan agama mereka, yang mungkin saja dikarenakan suatu keadaan yang tidak memungkinkan sehingga beberapa sahabat saya berinisiatif belajar lebih jauh tentang Islam melalui jejaring sosial. Berjuta-juta uang telah mereka gelontorkan sebagai bukti atas kekaguman pada sosok yang mereka kagumi di dunia maya ini sebagai bentuk presentasi " keindahan kata-kata " yang diucapkan oleh sosok-2 yang mereka kagumi ini. Saya yang lemah dan tak lepas dari kekhilafan ini hanya bisa mengatakan ," IT'S AMAZIIIIIINGGGG ".

Dalam realita kehidupan, seseorang tak bisa lepas dari yang namanya persahabatan. Adakalanya sahabat itu dalam kehidupan seseorang sangat begitu berarti dalam membantu menggapai cita-cita luhur dalam kemaslahatan pribadinya, terlebih dalam kemaslahatan agamanya. Seorang sahabat bukanlah ia yang selalu memanfaatkan kebaikan seseorang demi keuntungan pribadinya semata. Nah....dalam hal ini Imamuna Al-Ghozali mengisahkan dalam kitab Ihya' nya akan hakekat dari sebuah persahabatan yang sesungguhnya, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Ihya' Ulumiddin, Jilid 2, Hal. 169 ;

واما حسن الخلق فقد جمعه علقمة العطاردى في وصيته لابنه حين حضرته الوفاة قال : يا بني اذا عرضت لك الي صحبة الرجال حاجة فاصحب من اذا خدمته صانك وان صحبته زانك وان قعدت بك مؤنة مانك، اصحب من اذا مددت يدك بخير مدها وإن راى منك حسنة عدها وإن راى منك سيئة سدها، اصحب من اذا سألته اعطاك وإن سكت ابتداك وإن نزلت بك نازلة واساك، اصحب من اذا قلت صدق قولك وإن حاولتما أمرا أمرك وان تنازعتما آثرك فكانه جمع بهذا جميع حقوق الصحبة وشرط ان يكون قائما بجميعها.  قال ابن اكثم قال المأمون فاين هذا فقيل له أتدرى لم اوصاه بذلك قال لا قال لانه اراد ان لا يصحب احدا. وقال بعض الأدباء لا تصحب من الناس الا من يكتم سرك ويستر عيبك فيكون معك في النوائب ويؤثرك بالرغائب وينشر حسنتك ويطوى سيئتك فان لم تجده فلا تصحب الا نفسك، وقال علي رضي الله عنه :

إن اخاك الحق من كان معك * ومن يضر نفسه لينفعك
ومن اذا ريب زمان صدعك * شتت فيه شمله ليجمعك

وقال بعض العلمآء : لا تصحب الا أحد رجلين رجل تتعلم منه شيئا من أمر دينك فينفعك او رجل تعلمه شيئا في امر دينه فى امر دينه فيقبل منك والثالث فاهرب منه.

Adapun budi pekerti yang baik, maka telah dikumpulkan oleh 'Alqomah Al-'Athoridy didalam wasiatnya kepada anaknya ketika ia akan menjelang wafat. Ia berkata ," Hai anakku, Apabila datang keperluan bagimu untuk berteman dengan seseorang, maka bertemanlah dengan orang yang dimana apabila engkau melayaninya, maka ia senantiasa menjagamu. Dan jika engkau menemaninya, maka ia menimbang dengan sebuah penghargaan terhadap dirimu. Dan jikalau engkau memperlukan perbelanjaan, niscaya ia membelanjaimu. Bertemanlah dengan orang, apabila engkau mengulurkan tanganmu kepadanya dengan kebaikan, maka ia pun mengulurkan tangannya pula. Jikalau dia melihat dalam dirimu suatu kebaikan, maka ia senantiasa menyebut kebaikan itu. Dan apabila ia melihat keburukan dalam dirimu, maka ia senantiasa menutupinya. Bertemanlah dengan orang yang apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, maka ia memberimu. Dan jikalau engkau berdiam diri, niscaya ia mengawalinya terlebih dulu akan pemberiannya. Dan apabila datang kepadamu suatu bencana, ia senantiasa menolongmu. Dan bertemanlah dengan orang yang apabila engkau berkata ( benar ) maka ia membenarkan ucapanmu. Dan kalau kamu berdua berusaha dalam urusan sesuatu, maka ia selalu mementingkan urusanmu terlebih dulu. Dan apabila kamu berdua berselisih akan sesuatu, niscaya ia mengutamakan dirimu.
Dalam nasehat ini, seakan-akan 'Alqomah Al-'Athoridy mengumpulkan dengan perkataannya itu akan segala hak persahabatan. Dan di syaratkannya agar anaknya itu menjalankan semua nasehatnya. Berkata Ibnu Aktsam : " Al-Ma'mun berkata, " Dari manakah ini ? ". Lalu orang mengatakan kepada Al-Ma'mun, " Adakah engkau mengetahui, mengapa Alqomah mewasiatkan seperti itu kepada anaknya ?". Al-Ma'mun menjawab , " Tidak tahu ". Lalu orang itu menjawab ," Karena Alqomah bermaksud agar anaknya tidak akan berkawan dengan seseorang ".

Sebagian pujangga berkata, " Janganlah kamu berteman, kecuali dengan orang yang menyembunyikan rahasiamu serta menutupi kekuranganmu. Lalu ia selalu bersamamu dalam suka dan duka. Dia mendahulukanmu dalam segala duka dan cita. Dia menyiarkan kebaikanmu dan menyembunyikan keburukanmu. Jika engkau tidak memperoleh orang yang seperti itu, maka janganlah berteman selain dengan dirimu sendiri ".

Sayyidina 'Ali ibn Abi Tholib bersyair :

" Temanmu yang sebenarnya,
Ialah orang yang ada bersamamu.
Dan orang yang menyusahkan dirinya,
Supaya ia bermanfaat bagimu.

Pada waktu membimbangkan,
Ia berterus terang kepadamu.
Dia sendiri pecah berantakan,
Supaya engkau terkumpulkan selalu ".

Berkata sebagian Ulama : " Janganlah kamu berteman, selain dengan salah seorang dari dua ;
1. Orang yang engkau pelajari darinya sesuatu tentang urusan agamamu.
2. Atau orang yang engkau ajarkan sesuatu tentang urusan agama, lalu ia menerima pengajaranmu.

( nukilan teks saya cukupkan sampai disini dari pembahasan dari Ihya' nya Imam Al-Ghozali diatas )

Sebagian Hukama' mengatakan ;

صديقك من صدقك لا من صدّقك

" Temanmu, adalah ia yang selalu menunjukkan kebenaran kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkanmu ".

Dan dalam maqolatus Sufiyyahnya yang ke-53, Imam Ibnu 'Athoillah As-Sakandariy Al-Mishry berkata ;

لا تصحب من لا ينهضك حاله ولا يدلك علي الله مقاله

" Jangan berteman dengan seseorang yang amal perbuatannya tidak dapat membangkitkan semangatmu dalam taat kepada Alloh, dan yang tidak memimpinmu kejalan Alloh akan kata-katanya ".

Ahli syair berkata ;

من عاشر الاشراف عاش مشرفا ومعاشر الانذال غير مشرف

" Siapa yang bergaul dengan orang-orang baik, maka akan mulia hidupnya. Dan yang bergaul dengan yang rendah akhlaqnya, pasti tidak akan mulia hidupnya ".

Dalam Syarhul Hikam, juz 1, Hal. 37, Karya Allamah wal Habr Al-Bahr Al-Fahamah Imam Muhammad Ibn Ibrohim yang dikenal dengan panggilan Ibnu 'Ibad An-Nafari ar-Randiy, menukil perkataan imam Sufyan Ats-Tsaury yang berkata ;

من عاشر الناس داراهم ومن داراهم را آهم ومن را آهم وقع فيما وقعوا فهلك كما هلكوا

" Siapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan siapa yang mengikuti mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa yang bermuka-muka kepada mereka, maka akan binasa seperti mereka pula ".

Kemudian dihalaman yang sama, beliau menukil pula perkataan sufi agung, Sahl ibn Abdulloh Al-Tustariy ;

قال سهل بن عبد الله رضي الله تعالى عنه احذر صحبة ثلاثة اصناف من الناس الجبابرة الغافلين والقرآء المداهنين والمتصوفة الجاهلين

" Telah berkata Sahl bin Abdulloh r.a. : " Berhati-hatilah, jangan berteman dengan tiga macam manusia ;
(1). Pejabat pemerintah yang kejam.
(2). Ahli baca Al-Qur'an yang suka mencari muka.
(3). Orang tasawuf gadungan ( bodoh tentang hakikat tasawuf )

* 14 Maret 2015. Atas nama semua sahabat-sahabatku, mudah-mudahan hal diatas bisa menjadi suatu yang bermanfaat bagi kita umumnya dan saya yang dhoif ini khususnya.

Friday, March 13, 2015

KEDUDUKAN LAFADZ " BALAA " DALAM KAIDAH TATA BACA AL-QUR'AN

KEDUDUKAN LAFADZ " BALAA / بَلَى  DALAM KAITANNYA DENGAN TATA BACA AL-QUR'AN.

Semua lafadz  " بلى  " ( Balaa ) yang terdapat didalam Al-Qur'an itu ada 22 tempat. Dalam segi kedudukannya terkait kaidah tata baca Al-Qur'an, lafadz " Balaa " ini dibagi menjadi 3 bagian.

(1). Lafadz " Balaa " ( بلى ) yang baik diwaqofkan ketika membacanya, sekalipun tidak ada tanda waqof. Dimana didalam Al-Qur'an terdapat pada 10 tempat :

1. ما لا تعلمون © بلى , Suroh Al-Baqarah, Juz 1, ayat 80.
2. ان كنتم صادقين © بلى , Suroh Al-Baqarah, Juz 1, ayat 111.
3. اولم تؤمن قال بلى ، Suroh Al-Baqarah, juz 3, ayat 260.
4. وهم يعلمون © بلى ، Suroh Ali-'Imron, juz 3, ayat 75.
5. الست بربكم قالوا بلى، Suroh Al-A'rof, juz 9, ayat 172.
6. ...تعمل من سوء بلى ، Suroh An-Nakhl, juz 14, ayat 28.
7. علي ان يخلق مثلهم بلى ، Suroh Yasin, juz 23, ayat 81.
8. بالبينات قالوا بلى ، Suroh Al-Ghofir, juz 24, ayat 50.
9. على ان يحيى الموت بلى ، Suroh Al-Ahqof, juz 26, ayat 33.
10. ان لن يحور © بلى ، Suroh Al-Insyiqoq, juz 30, ayat 14.

(2). Lafadz " Balaa " ( بلى ) yang baiknya diwasholkan. Dan didalam Al-Qur'an ada 7 tempat :

1. قالوا بلى وربنا ، Suroh Al-An'am , juz 7, ayat 30.
2. ..من يموت © بلى وعدا.... ، Suroh An-Nakhl, juz 14, ayat 38.
3. قل بلى وربّي.. ، Suroh As-Saba' , juz 22, ayat 3.
4. بلى قد جائتك.. ، Suroh Az-Zumar, juz 24, ayat 59.
5. قالوا بلى وربنا.. ،Suroh Al-Ahqof, juz 26, ayat 34.
6. قل بلى وربي.. ، Suroh At-Taghobun, juz 28, ayat 7.
7. بلى قادرين.... ، Suroh Al-Qiyamah, Juz 29, ayat 4.

(3). Lafadz " Balaa " ( بلى )  yang boleh diwaqofkan atau di washolkan. Dan didalam Al-Qur'an ada pada 5 tempat :

1. منزلين © بلى ان تصبروا.... ، Suroh Ali- Imron, juz 4, ayat 123.
2. قالوا بلى-ولكن حقت... ، Suroh Az-Zumar, juz 24, ayat 71.
3. ونجوىهم - بلى ورسلنا... ، Suroh Az-Zuhruf, juz 25, ayat 80.
4. قالوا بلى ولكنكم.. ، Suroh Al-Hadid, juz 27, ayat 14.
5. الم يأتكم نذير © قالوا بلى.... ، Suroh Al-Mulk, juz 29, ayat 9.

® Pada Bab " Balaa " ini, didalam kitab " Risalatul Qurro' wal Huffadz fii Ghorroibil Qirooati wal Alfaadz " ada sedikit kesalahan tata letak dari penerbit, yaitu pada poin kedua tentang hukum 7 lafadz " Balaa " yang baik diwasholkan, yaitu pada no. 4 nya, sedikit kekhilafan tata letak no ayat, tapi husnudzhon saya tidak mengurangi bagusnya kitab ini bagi guru pengajar atau pelajar Al-Qur'an. Mudah2an di bab lain tidak ada. Bagi pembaca silahkan dikroscek terlebih dahulu.

Mudah-mudahan bermanfaat.

( Danny Ma'shoum )

NASEHAT TOKOH SUFI INDIA

Nasehat Tokoh Sufi India, Muhammad Rahim Bawaa Muhaiyaddeen

SALAM sayangku padamu, cucu-cucuku, saudara-saudaraku dan anak-anakku.

Lihatlah pakaianmu. Lihatlah betapa kotor pakaianmu. Pakaian-pakaianmu telah sangat berubah sejak engkau membelinya pertama kali! Warna-warnanya telah pudar, dan penuh dengan keringat. Ciumlah, pakaian-pakaian itu berbau busuk! Sekarang, ciumlah bau badanmu! Bau segala sesuatu yang engkau makan, ada dalam keringatmu. Jika engkau makan daging sapi, maka bisa berbau seperti sapi. Jika engkau makan daging kambing, maka bisa berbau seperti kambing. Jika engkau makan ikan, maka bisa berbau seperti ikan, dan jika engkau makan ayam, maka engkau akan berbau seperti ayam. Bahkan jika kamu minum obat, maka akan berbau seperti obat ketika engkau sendawa. Dari mana semua bau badan ini berasal? Dari dalam tubuhmu. Bau badan tersebut berasal dari makanan yang telah engkau makan dan masuk ke dalam tubuhmu. Itulah mengapa engkau berbau dan mengapa pakaianmu berbau, yang berasal dari keringat, dari semua makanan yang telah engkau tumpuk dalam tubuhmu.

Bau busuk dan kotoran yang terkumpul pada pakaianmu bisa dicuci, tapi apa yang bisa dilakukan untuk bau yang ada di dalam tubuh? Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, cobalah untuk merenungkannya!

Engkau mencuci pakaianmu, bukan? Engkau berpendapat, “Aku pasti kelihatan menarik. Aku harus tampak menjadi orang penting,” dan dengan demikian, engkau menjaga kerapian serta kebersihan pakaianmu. Di zaman kuno, orang-orang harus menghempas-hempaskan pakaiannya ke batu di pinggir sungai untuk membersihkannya, tapi sekarang, ilmu pengetahuan telah memberi kita mesin cuci dan kita cukup menambahkan sedikit sabun. Tapi pakaian itu benar-benar menderita dalam mesin cuci tadi. Suatu hari nanti, perhatikan bagaimana sebuah mesin cuci bekerja dan engkau akan melihat bagaimana pakaian-pakaian itu menderita. Pakaian-pakaian tersebut dicampuradukkan, dikucek, digosok-gosok, dan dilempar. Bahkan jika kau mencucinya dengan tangan harus menyabunnya dan membilasnya. Itu satu-satunya cara bagaimana kotoran bisa dihilangkan. Pakaian begitu penting, untuk menatamu agar kelihatan menarik, seperti seorang pengantin laki-laki atau perempuan.

Anak-anakku, dengan cara yang sama, engkau harus melenyapkan

bau yang berasal dari setiap pori kulitmu. Penyakit berbau dan karma ini, ilusi, kesombongan, iri hati, keraguan, kebencian, kemarahan, bakhil, kerakusan, fanatik, kecemburuan, perbedaan antara dirimu dan aku, milikku dan milikmu, kepunyaanku dan kepunyaanmu, agamaku dan agamamu, bahasaku dan bahasamu, anakku dan anakmu ini - betapa semua ini busuk! Semuanya mengeluarkan bau busuk setiap detik dari setiap pori tubuhmu.

Sangatlah sukar untuk melenyapkan bau busuk yang berasal dari barang-barang yang telah engkau cari dan yang telah menumpuk dalam dirimu. Dan karena begitu sulit, maka ini mungkin sedikit sakit ketika engkau mencoba untuk mencuci bau busuk ini. Jika engkau menderita penyakit yang mengan dung infeksi dan dokter mengangkat penyakit itu dengan pisau bedahnya, maka engkau mungkin menangis karena sakitnya.

Jika engkau menginjak duri dan dokter mencabutnya, maka engkau makin merasa sakit sehingga engkau mencoba memukul atau menggigit dokter itu. Cukup sulit bagi dokter untuk menjalankan pekerjaan ini tanpa engkau memarahinya dan menganggapnya sebagai orang brengsek.

Engkau mungkin bereaksi dengan cara yang sama ketika datang kepada seseorang yang memiliki kearifan dan sifat-sifat yang baik dan dia mencoba menolong dirimu dari penyakit karma. Ini benar-benar sangat berat. Engkau akan menderita ketika seseorang yang tahu, mengatakan penyakitmu itu. Pikiran dan keinginanmu, rasa lapar, penyakit, usia tua, dan kematianmu, akan menderita. Empat ratus triliun sepuluh ribu penyakit yang menumpuk dalam dirimu akan mengalami penderitaan.

Jika seseorang memberitahumu untuk membuang hal-hal yang telah engkau pelihara dengan begitu hati-hati, maka ini akan membuatmu sedih. Engkau akan berteriak kepadanya dan penuh keraguan, kemarahan, iri hati, dan kemudian engkau akan kabur.

Jadi akan lebih mudah untuk mengunjungi seseorang yang memiliki sifat-sifat sama seperti dirimu, yaitu seseorang yang hanya akan berkata, “Oh, tidak ada yang menyimpang. Tidak ada masalah. Engkau berbau harum, pakai saja sedikit obat pengharum badan. Aku menyukaimu. Makanlah apa saja yang engkau inginkan dan ucapkan mantra apa saja yang engkau pilih. Kemudian, engkau akan gembira.” Engkau akan menyukainya. Engkau akan berkata bahwa dialah dokter yang baik, guru yang baik, dan syekh yang baik.

Tapi coba pikirkan! Karena dia berbau persis sepertimu, maka dia tidak akan keberatan dengan baumu. Bau busuknya dan bau busukmu akan membaur dengan baik, tapi bahkan binatang-binatang akan berlari kabur menjauhi bau busuk itu, dan bau busuk itu begitu menusuk. Pikirkan tentang sigung.

Orang menganggap seekor sigung kerbau mengerikan, kecuali sigung yang lain. Jadi, ketika dua sigung bertemu, mereka bahagia. Tapi umat manusia akan melakukan apa saja untuk membuang bau busuk itu.

Cucu-cucuku, sebagaimana seekor sigung tidak tahu bahwa sigung yang lain juga berbau, maka karma tidak mengenal bau karma. Tapi seorang manusia bijak akan tahu. Dia akan mencoba untuk membuang bau busuk itu. Seorang guru palsu hanya akan menikmati bau karma. Dia tidak akan membantumu untuk membuang sifat busukmu, dan dengan demikian, sifat busuk tersebut akan terus tumbuh dalam dirimu. Dia akan minta uang dan berkata, “Lakukan ini, lakukan itu. Berilah aku 200 dolar, dan segala sesuatunya akan berubah menjadi baik!”

Seorang guru palsu minta uang, tapi seseorang bijak sejati berkata, “Aku tidak menginginkan apa pun. Sudah, cukup jika engkau menjadi baik.”

Seorang tabib sejati yang mencoba untuk menyembuhkan penyakitmu, mungkin menyebabkan rasa sakit pada dirimu. Sungguh berat untuk membasuh keadaan buruk itu karena penyakit merupakan bagian dari daging, darah, dan pikiranmu.

Penyakit melekat pada dirimu seperti cat. Mencoba untuk mengikis atau menghapus penyakit secara menyeluruh, sangatlah sukar. Penyakit harus diatasi dengan \[sikap] sabar dan syukur, dengan berpuas diri dan kesabaran hati. Cucu-cucuku, engkau membutuhkan iman, kemantapan hati, dan kepastian. Engkau membutuhkan semua sifat Allah. Maka cat itu bisa dihapus dengan kearifan dan cinta, dan engkau bisa bersih.

Salam sayangku padamu. Sungguh sulit untuk membuang karma bawaan. Sungguh sulit untuk mencuci dan menghapus kecongkakan, karma dan ilusi, tarahan, singhan dan suran, tiga anak ilusi. Sangatlah sukar untuk membuang kebencian, kerakusan, fanatisme, dan kecemburuan. Sangatlah sukar untuk menghapus keadaan mabuk, pencurian, pembunuhan, kebohongan, kemarahan, kegugupan, ketidaksabaran, egois, kesombongan, keraguan, kecurigaan, dan perpecahan yang diciptakan pikiran antara agama dan warna. Hanya jika engkau memiliki kesabaran, rasa senang, iman, kemantapan hati, dan semua sifat Allah, maka orang bijak akan mampu membuatmu seindah dan sebersih dirinya. Dia selalu mencoba melaksanakan tugasnya. Dia idak mencari apa-apa darimu.

Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Berpikirlah tentang hal ini dan perkuatlah imanmu! Kita harus membuang karma ini, bau busuk ini. Bau busuk ini menghancurkan kehidupan dan kebebasan jiwa. Bau busuk ini bisa memotong seluruh kehidupan kita dan menghancurkan hubungan kita dengan Allah. Bau seekor sigung ada dalam kulitnya, tapi bau manusia ada dalam pikirannya. Cukup mudah untuk mengupas kulit sigung, tapi membuang bau pikiran sangatlah sukar. Renungkanlah ini secara mendalam. Buanglah kecongkakanmu, kesombonganmu, dan amarahmu. Milikilah rendah hati, kedamaian, dan ketenteraman. Engkau harus memiliki sifat-sifat ini, yang akan baik untukmu.

Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Semoga karma ini hilang dan wewangian itu menjadi milik kita. Semoga kita tetap beriman kepada Tuhan, dan semoga kita memiliki iman yang mutlak, kemantapan hati, dan kepastian. Hargailah sifat-sifat itu. Bersabarlah. Maka, dokter yang baik itu bisa memakai kearifannya demi kalian. Semoga Allah menolong kalian semua. Amin.

Sufinews.com

Salam Kedai Sufi. ( Danny Ma'shoum )

SYAIR YANG MEMBUAT IMAM AHMAD BIN HANBAL MENANGIS

SYAIR YANG MEMBUAT IMAM AHMAD IBN HANBAL MENANGIS TERSEDU-SEDU..

Ada sebuah kutipan syair yang diriwayatkan di dalam buku karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah membuat Imam Ahmad menangis tersedu-sedu hingga hampir pingsan. Hal ini menunjukkan betapa lembut dan pekanya hati Imam Ahmad terhadap hal-hal yang mengingatkan manusia kepada Rabbnya, dosa-dosanya, dan kehidupannya diakherat kelak.

إذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أمَا استحييتَ تَعصينِي … وتُخفي الذَّنبَ عن خَلْقي وبالعصيان تأتيني
فكيف أجيب يا ويحي ومن ذا سوف يحميني … أسلي النفس بالآمال من حين إلى حينِ
وأنسى ما وراء الموتِ ماذا بعدُ تكفيني … كأني قد ضمِنْتُ العيشَ ليس الموت يأتيني
وجاءت سكرة الموتِ الشديدةُ من سيَحْميني … نظرتُ إلى الوجوهِ أليسَ منهم من سيفديني
سأُسْأَل ما الذي قدَّمتُ في دنيايَ يُنجيني … فكيف إجابتي من بعدُ ما فرَّطتُ في ديني
ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني … ألم أسمع بما قد جاء في قافٍ وياسينِ
ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع والديني … ألم أسمع منادي الموتِ يدعوني يناديني
فيَا ربَّاه عبدٌ تائبٌ من ذا سيأويني … سوى ربٍّ غفورٍ واسعٍ للحقِّ يهديني
أتيتُ إليك فارحمني وثقِّل فِي موازينِي … وخفف في جزائي أنت أرجى من يُجازيني

 
Jika Rabb-ku mengatakan kepadaku: “Tidak malukah kau bermaksiat kepada-Ku?!
Engkau menutupi dosa dari para makhluk-Ku, tapi malah dengan kemaksiatan kau mendatangi-Ku!”
Maka bagaimana aku menjawabnya, dan siapa yang mampu melindungiku…

Aku terus menghibur diri dengan angan-angan (dunia) dari waktu ke waktu…
Tetapi aku lalai dengan perihal setelah kematian, tentang apa yang dapat mencukupiku setelah itu…
Seolah aku akan hidup terus, dan maut tidak akan menghampiriku…

Saat sakaratulmaut yang dahsyat itu benar-benar datang, siapakah yang mampu melindungiku…
Aku melihat wajah orang-orang… Tidakkah ada diantara mereka yang mau menebusku?!

Aku akan ditanya, tentang apa -yang kukerjakan di dunia ini- yang dapat menyelamatkanku…
Maka bagaimanakah jawabanku setelah aku lupakan agamaku…

Sungguh celaka aku… Tidakkah ku dengar firman Alloh yang menyeruku?!
Tidakkah pula kudengar ayat-ayat yang ada di Surat Qoof dan Yasin itu?!
Bukankah kudengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkan, dan hari pembalasan itu?!
Bukankah kudengar pula panggilan kematian yang terus melayangkan panggilan dan seruan kepadaku?!

Maka ya Robb… akulah hambamu yang bertaubat… Tidak ada yang dapat melindungiku,
Melainkan Robb yang Maha Pengampun, lagi Maha Luas Karunianya… Dia-lah yang menunjukkan hidayah kepadaku

Aku telah datang kepada-Mu… maka rahmatilah aku, dan beratkanlah timbanganku…
Ringankanlah hukumanku… Sungguh Engkaulah yang paling kuharapkan pahalanya untukku