Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu
Kitab Ihya’ (Bag II)
Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab
Ihya’ (Bag II)
(Ibnu Jauzi telah menuduh 30-an hadis dalam kitab
Ihya’ sebagai hadis palsu. Namun setelah dikaji
ulang berdasarkan penilaian ahli hadis lainnya
ternyata banyak mengandung kesalahan)
ﻓﻰ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ
Hadis IX
No. 1297 Hal. 4
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﺍَﻛْﺮِﻣُﻮْﺍ ﺍﻟْﺨُﺒْﺰَ "
** ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﺰﺍﺭ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻭﺍﺑﻦ ﻗﺎﻧﻊ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ
ﺑﻦ ﺃﻡ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺿﻌﻴﻒ ﺟﺪﺍ ﻭﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ .
‘Muliakanlah roti’ (al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-
Bazzar, Thabrani dan Ibnu Qani’ dari Abdullah bin
Ummi Haram, dengan sanad yang sangat lemah.
Hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam
kitab al-Maudlu’at)
Ibnu al-Jauzi:
Ini adalah hadis yang tidak benar. Dalam sanadnya
terdapat Abdul Malik bin Abd al-Rahman, menurut
Abu Hafsh al-Fallas, dia sangat pendusta (al-
Maudlu’at II/291)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini memiliki jalur riwayat yang lain (tidak
melalui Abd Malik bin Abd al-Rahman), seperti yang
diriwayatkan oleh Hakim al-Tirmidzi, Abu Nuaim
dalam kitab al-Hilyah (V/246), Thabrani dalam kitab
Mu’jam al-Kabir (No: 18284), Baihaqi dalam kitab
Syu’ab al-Iman (No: 5869). Seperti teks riwayat
hakim al-Turmudzi:
ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ e ﺃَﻛْﺮِﻣُﻮْﺍ ﺍْﻟﺨُﺒْﺰَ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧْﺰَﻟَﻪُ ﻣِﻦْ
ﺑَﺮَﻛَﺎﺕِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺃَﺧْﺮَﺟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺑَﺮَﻛَﺎﺕِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ
‘Muliakanlah roti, karena Allah menurunkannya dari
berkah langit dan bumi’ (al-La’ali al-Mashnu’ah
II/181)
Al Hafidz al-Haitsami:
Hadis tersebut dari riwayat al-Bazzar dan Thabrani.
Ia menilai Abd Malik bin Abd al-Rahman sebagai
perawi dlaif, bukan pendusta. (Makma’ al-Zawaid
II/251)
Hadis X
No. 1333 Hal. 12
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﻣَﻦْ ﺻَﺎﺩَﻑَ ﻣِﻦْ ﺃَﺧِﻴْﻪِ ﺷَﻬْﻮَﺓً ﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﺮَّ
ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻓَﻘَﺪْ ﺳَﺮَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ "
ﺍ** ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﺰﺍﺭ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺪﺭﺩﺍﺀ " ﻣَﻦْ
ﻭَﺍﻓَﻖَ ﻣِﻦْ ﺃَﺧِﻴْﻪِ ﺷَﻬْﻮَﺓً ﻏُﻔِﺮَ ﻟَﻪُ " ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﺣﺪﻳﺚ
ﻣﻮﺿﻮﻉ ﻭﺭﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﻌﻘﻴﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ
ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ " ﻣَﻦْ ﺳَﺮَّ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺳَﺮَّ ﺍﻟﻠﻪَ . . . ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
" ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻘﻴﻠﻲ ﺑﺎﻃﻞ ﻻ ﺃﺻﻞ ﻟﻪ .
‘Barangsiapa yang mengabulkan keinginan
saudaranya, maka Allah akan mengampuninya. Dan
barangsiapa yang menyenangkan saudaranya yang
mukmin, maka ia telah menyenangkan Allah ‘azza
wa jalla’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan
Thabrani dari Abu Darda’ dengan redaksi ‘wafaqa’.
Ibnu al-Jauzi berkata bahwa hadis ini palsu. Juga
diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Uqaili dalam
kitab al-Dlua’fa’ dari Abu Bakar al-Shiddiq. Al-
Uqaili berkata bahwa hadis ini adalah bathil dan
tidak ada dasarnya)
Ibnu al-Jauzi:
Ini adalah hadis palsu. Dalam riwayat tersebut
terdapat Umar bin Hafsh, menurut Ahmad bin
Hanbal: Kami membakar hadisnya. Yahya bin Ma’in
berkata: Dia tidak ada apa-apanya. Nasa’i berkata:
Dia hadisnya matruk . (al-Maudlu’at II/171)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini juga diriwayatkan oleh az-Bazzar dan
Thabrani. Thabrani berkata: Hafsh bukan orang
yang kuat (dlaif). (al-La’ali al-Mashnu’ah II/72)
Ali al-Kannani:
Tuduhan atas hadis tersebut dikaji ulang, sebab
hadis ini diperkuat oleh hadis lain yang
diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman
No: 3231;
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻣَﺮْﻓُﻮْﻋًﺎ ﻗﺎَﻝَ e ﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻌَﻢَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ ﺷَﻬْﻮَﺗَﻪُ
ﺣَﺮَّﻣَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
‘Barangsiapa yang memberi makan kepada
saudaranya yang muslim sesuai dengan
keinginannya, maka Allah mengharamkan neraka
kepadanya.’ Tetapi dengan sanad ini al-Baihaqi
menilai munkar. (Tanzih al-Syariah II/135)
Al-Haitsami:
Hadis di atas diriwayatkan oleh al-Thabrani dan al-
Bazzar, salah seorang perawinya adalah Ziyad bin
Namir, ia dinilai terpercaya oleh Ibnu Hibban. Ibnu
Hibban juga menilainya: Terkadang ia salah. Ziyad
juga dinilai dlaif oleh ulama lain. Di dalam sanad
tersebut ada seorang perawi yang tidak saya
ketahui. (Majma’ al-Zawaid V/29)
Hadis XI
No. 1334 Hal. 12
ﺣَﺪِﻳْﺚُ ﺟَﺎﺑِﺮٍ " ﻣَﻦْ ﻟَﺬَّﺫَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺸْﺘَﻬِﻲ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﺃَﻟْﻒَ
ﺃَﻟْﻒِ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﻭَﻣَﺤَﻰ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻟْﻒَ ﺃَﻟْﻒِ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﻭَﺭَﻓَﻊَ ﻟَﻪُ ﺃَﻟْﻒَ ﺃَﻟْﻒِ
ﺩَﺭَﺟَﺔٍ ﻭَﺃَﻃْﻌَﻤَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺙِ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺟَﻨَّﺔِ ﺍْﻟﻔِﺮْﺩَﻭْﺱِ ﻭَﺟَﻨَّﺔِ
ﻋَﺪْﻥٍ ﻭَﺟَﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠْﺪِ "
** ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ ﻣﻦ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ
ﻧﻌﻴﻢ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻫﺬﺍ
ﺑﺎﻃﻞ ﻛﺬﺏ .
‘Barangsiapa yang memberi kesenangan kepada
saudaranya sesuai dengan keinginannya, maka Allah
mencatat baginya satu juta kebaikan, menghapus
satu juta kesalahannya, mengangkat satu juta
derajatnya, dan Allah memberinya makanan dari
tiga surga, surga firdaus, ‘adn dan khuldi’ (Al-Iraqi:
Hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam
kitab al-Maudlu’at dari riwayat Muhammad bin
Nuaim dari Ibnu Zubair dari Jabir. Ahmad bin Hanbal
berkata: Hadis ini batil dan dusta)
Ibnu al-Jauzi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Ini hadis batil dan
Muhammad bin Nuaim sangat pendusta. Abu Hatim
al-Razi berkata: Dia tidak dikenal (al-Maudlu’at
II/172)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Ini hadis batil dan
Muhammad bin Nuaim sangat pendusta (al-La’ali
al-Mashnu’ah II/73)
Al-Syaukani:
Ahmad bin Hanbal berkata: Hadis ini batil. Dalam
sanadnya ada perawi yang sangat pendusta, yaitu
Muhammad bin Nuaim. Hadis ini juga diriwayatkan
oleh al-Thabrani dari Jabir dengan redaksi:
ﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻌَﻢَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺧُﺒْﺰًﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺸْﺒِﻌَﻪُ ﻭَﺳَﻘَﺎﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﺣَﺘَّﻰ
ﻳَﺮْﻭِﻳَﻪُ ﺑَﺎﻋَﺪَﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺳَﺒْﻊَ ﺧَﻨَﺎﺩِﻕ ﻛُﻞُّ ﺧَﻨْﺪَﻕٍ ﻣَﺴِﻴْﺮَﺓُ
ﺧَﻤْﺴِﻤِﺎﺋَﺔٍ
‘Barangsiapa memberi makan roti kepada
saudaranya hingga kenyang, atau memberi minum
hingga hilang dahaganya, maka Allah akan
menjauhkannya dari neraka dengan tujuh jurang,
yang masing-masing jurang jarak tempuhnya 500
tahun’
Ibnu Hibban berkata: hadis ini palsu. Menurut Ibnu
Hajar hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam
kitab al-Mustadrak (No hadis: 7172), al-Hakim
berkata: Hadis ini sanadnya sahih dan al-Dzahabi
tidak memberi komentar atas tashih ini (bahkan ia
juga menilai sahih), padahal dalam sanad ini
terdapat perawi yang bernama Raja’ bin Abi Atha’
al-Ma’afiri. Al-Hakim dalam kitabnya al-Tarikh dan
al-Dzahabi mengatakan bahwa Raja’ bin Abi ‘Atha’
terkadang meriwayatkan hadis palsu. (al-Fawaid al-
Majmu’ah I/36)
Al-Haitsami:
Hadis ini (riwayat al-Hakim secara sanad, dan teks
hadis yang sedikit berbeda) juga diriwayatkan oleh
al-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir (No
hadis: 1498) dan kitab al-Mu’jam al-Ausath (No
hadis: 6706), tetapi Raja’ bin Abi Atha’ adalah
perawi dlaif. (Majma’ al-Zawaid III/173)
Hadis XII
No. 1425 Hal. 38
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ e ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻥَّ ﻟِﻲ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻟَﺎ ﺗَﺮُﺩُّ
ﻳَﺪَ ﻟَﺎﻣِﺲٍ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻃَﻠِّﻘْﻬَﺎ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻧِّﻲ ﺃُﺣِﺒُّﻬَﺎ . ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻣْﺴِﻜْﻬَﺎ "
** ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ، ﻗﺎﻝ
ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ : ﻟﻴﺲ ﺑﺜﺎﺑﺖ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺳﻞ ﺃﻭﻟﻰ ﺑﺎﻟﺼﻮﺍﺏ . ﻭﻗﺎﻝ
ﺃﺣﻤﺪ : ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻨﻜﺮ ، ﻭﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ .
‘Seseorang datang kepada Rasulullah Saw. Ia
bertanya: Saya mempunyai istri yang tidak menolak
dari sentuhan tangan lelaki lain. Nabi bersabda:
“Ceraikan dia!” Orang tersebut berkata: “Tapi saya
masih mencintainya.” Nabi bersabda: “Jangan kau
ceraikan dia” (al-Iraqi: HR Abu Dawud dan Nasa’i
dari Ibnu Abbas. Nasa’i berkata: Hadis ini tidak
kuat. Hadis ini lebih tepatnya sebagai hadis mursal.
Ahmad berkata: Hadis ini munkar. Dan Ibnu al-Jauzi
mencantumkannya dalam kitab al-Maudlu’at)
Ibnu al-Jauzi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Hadis ini tidak dari
Rasulullah Saw, tidak ada dasarnya (al-Maudlu’at
II/272)
Jalaluddin al-Suyuthi:
al-Hafidz Ibnu Hajar pernah ditanya mengenai hadis
ini, beliau menjawab: Hadis ini adalah Hasan-Sahih,
dan tidak benar orang yang menilainya sebagai
hadis palsu (al-La’ali al-Mashnu’ah II/1145)
Al-Hafidz Ibnu Hajar:
Perawi hadis ini adalah orang-orang terpercaya
(Raudlat al-Muhadditsin III/80)
Al-Hafidz al-Haitsami:
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Thabrani dalam
Mu’jam al-Ausath (No: 4863 dan 6597), perawinya
adalah perawi-perawi hadis sahih (Majma’ al-
Zawaid II/228)
Hadis XIII
No. 1465 Hal. 43
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﺃَﻭَّﻝُ ﺣُﺐٍّ ﻭَﻗَﻊَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺣُﺐُّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲّ e ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ "
** ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﺎﺹ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﺃﻱ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻴﻚ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ : " ﻋﺎﺋﺸﺔ . . .
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ " ﻭﺃﻣﺎ ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻭﻝ ﻓﺮﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﻧﺲ ، ﻭﻟﻌﻠﻪ ﺃﺭﺍﺩ ﺑﺎﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻵﺧﺮ ﺃﻥ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﺃﻭﻝ ﻣﻮﻟﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻳﺮﻳﺪ
ﺑﺎﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ، ﻭﺇﻻ ﻓﻤﺤﺒﺔ ﺍﻟﻨﺒﻲ e ﻟﺨﺪﻳﺠﺔ ﺃﻣﺮ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﺗﺸﻬﺪ
ﻟﻪ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ .
‘Rasa cinta yang pertama kali terjadi dalam Islam
adalah cinta Nabi Muhammad Saw kepada
Aisyah’ (Al-Iraqi: HR Bukhari-Muslim dari hadis Amr
bin ‘Ash, ia bertanya: Siapa yang paling engkau
cintai, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Aisyah.
Sedangkan tentang ‘Rasa cinta yang pertama kali’
disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-
Maudlu’at dari hadis Anas)
Ibnu al-Jauzi:
al-Muqiri adalah perawi tunggal hadis ini dan tidak
ada yang meriwayatkan darinya kecuali Musa bin
Muhammad bin Atha’, dan keduanya sangat
pendusta. Ahmad dan Yahya berkata: al-Muqiri
tidak ada apa-apanya. Ibnu Hibba berkata: Musa bin
Muhammad memalsukan beberapa hadis atas nama
perawi-perawi terpercaya (al-Maudlu’at II/267)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini diriwayatkan juga oleh al-Khatib dari al-
Hafidz Abu Nuaim (al-Hilyah II/44) dari jalur Zuhri
dari Anas. (al-La’ali al-Mashnu’ah II/141)
Ali al-Kannani:
Tuduhan palsu ini dikaji ulang. Selain al-Muqiri,
Muhammad bin Zubair juga turut meriwayatkan dari
Zuhri. (Tanzih al-Syariah II/206)
Hadis XV
No. 1526 Hal. 55
ﺣَﺪِﻳْﺚُ ﺃَﻧَﺲٍ " ﻣَﻦْ ﺣَﻤَﻞَ ﻃَﺮْﻓَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻮْﻕِ ﺇِﻟَﻰ ﻋِﻴَﺎﻟِﻪِ ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ
ﺣَﻤَﻞَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺻَﺪَﻗَﺔً "
** ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺨﺮﺍﺋﻄﻲ ﺑﺴﻨﺪ ﺿﻌﻴﻒ ﺟﺪﺍ ، ﻭﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﺑﻦ
ﻋﺪﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ : ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻮﺿﻮﻉ
‘Barangsiapa yang membawa sesuatu dari pasar
untuk keluarganya, maka seolah dia telah membawa
sedekah untuk mereka’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh
al-Kharaithi dengan sanad yang sangat lemah, dan
oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab al-Kamil . Ibnu al-Jauzi
mengatakan: Ini hadis palsu)
Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini palsu. Terdapat banyak perawi dlaif,
seperti Yazid Raqqasyi yang sering salah dalam
meriwayatkan hadis. Juga terdapat Dlirar bin Amr,
bapaknya dlirar, dan Hammad bin Amr, menurut
Yahya bin Ma’in: Mereka tidak ada apa-apanya. (al-
Maudlu’at II/276)
Jalaluddin al-Suyuthi:
al-Iraqi dalam kitab Takhrij- nya menilai hadis ini
sangat lemah (al-La’ali al-Mashnu’ah II/150)
Ali al-Kannani:
Penilaian palsu terhadap hadis ini dikaji ulang.
Karena hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Dailami
dan Abu Nuaim dalam kitab Fadlilah al-Muhtasibin
dari Ibnu Abbas. Tapi dalam sanad ini terdapat Ali
bin Hatim al-Makfuf dari Syarik, dalam kitab al-
Mizan (al-Dzahabi) dia adalah majhul atau tidak
dikenal dan terkadang ucapannya mengandung
kemungkaran (Tanzih al-Syariah II/209)
Hadis XVI
No. 1636 Hal. 88
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﻣَﻦْ ﺃَﻛْﺮَﻡَ ﻓَﺎﺳِﻘًﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻋَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﺪْﻡِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻼَﻡِ
" ( ﻣﺮﺗﻴﻦ )
** ﻏﺮﻳﺐ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻠﻔﻆ ، ﻭﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ " ﻣَﻦْ ﻭَﻗَّﺮَ ﺻَﺎﺣِﺐَ
ﺑِﺪْﻋَﺔٍ . . . ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ " ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻋﺪﻱ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺎﺋﺸﺔ ،
ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻷﻭﺳﻂ ، ﻭﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻠﻴﺔ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ
ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻳﺴﺮ ﺑﺄﺳﺎﻧﻴﺪ ﺿﻌﻴﻔﺔ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ : ﻛﻠﻬﺎ
ﻣﻮﺿﻮﻋﺔ .
‘Barangsiapa yang memuliakan oran fasiq, maka ia
telah turut andil dalam menghancurkan Islam’ (Al-
Iraqi: Dengan redaksi tersebut hadis ini dinilai
gharib (langka). Yang populer dengan teks:
Barangsiapa yang mengagungkan pelaku bid’ah…
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dari riwayat Aisyah,
oleh Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Ausath (No:
6963), dan oleh Abu Nuaim dalam kitab al-Hilyah
(V/218 – VI/97 – VIII/103) dari riwayat Abdullah bin
Yusr, semua sanadnya dlaif. Ibnu al-Jauzi
mengatakan: Semua hadis tersebut adalah palsu)
Ibnu al-Jauzi:
Semua riwayat tentang hadis ini adalah batil dan
palsu. Riwayat pertama dari Ibnu Umar, disini
terdapat Abd al-Aziz bin Abi Dawud, menurut Ibnu
Hibban: Dia menceritakan hadis dengan perkiraan
dan penghitungan, sehingga tidak bisa dijadikan
dalil. Riwayat kedua dari Ibnu Abbas, terdapat
perawi bernama Bahlul, menurut Ibnu Hibban: Dia
mencuri hadis, sehingga tidak bisa dijadikan dalil.
Riwayat ketiga dari Aisyah, diantara perawinya
adalah al-Khasyani, menurut Ibnu ‘Adi: Ini hadis
batil dan palsu. Al-Khusyani meriwayatkan hadis
yang tak ada dasarnya atas nama para perawi
terpercaya. Yahya bin Ma’in berkata: Ia tidak ada
apa-apanya (al-Maudlu’at I/270)
Jalaluddin al-Suyuthi:
(Hasan bin Yahya) Al-Khasyani dikutip hadisnya
oleh Ibnu Majah (sebanyak 2 kali), menurut Dahim:
Dia tidak apa-apa ( ta’dil ), menurut Abu Hatim: Dia
sangat jujur, tetapi akurasi hafalannya kurang. Ibnu
Adi berkata: Hadisnya bisa diterima. Dan dia
diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu
‘Asakir dalam kitab Tarikh (XIV/4). (al-La’ali al-
Mashnu’ah I/231)
Al-Haitsami:
Dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah Saw
bersabda:
ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ e ﻣَﻦْ ﻣَﺸَﻰ ﺇِﻟَﻰ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﻟِﻴُﻮَﻗِّﺮَﻩُ ﻓَﻘَﺪْ
ﺃَﻋَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﺪْﻡِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ. ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ
‘Barangsiapa yang berjalan menuju pelaku bid’ah
untuk memuliakannya, maka ia telah turut andil
dalam menghancurkan Islam.’ HR Thabrani dalam
kitab Mu’jam al-Kabir (No: 16614), diantara
perawinya adalah Baqiyyah, dia dlaif. (Majma’ al-
Zawaid I/114).
kolom melintang
Friday, March 6, 2015
SEBUAH ANALISA HADIST DALAM KITAB IHYA' ULUMIDDIN, BAG :2
SEBUAH ANALISA HADIST DALAM KITAB IHYA' ULUMIDDIN
Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu
Kitab Ihya’ (Bag I)
Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab
Ihya’ (Bag I)
(Ibnu Jauzi telah menuduh 30-an hadis dalam kitab
Ihya’ sebagai hadis palsu. Namun setelah dikaji
ulang berdasarkan penilaian ahli hadis lainnya
ternyata banyak mengandung kesalahan)
ﻓﻰ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻻﻭﻝ
Hadis I
No. 39 Hal. 20
ﺣَﺪِﻳْﺚُ ﺃَﺑِﻲ ﺫَﺭٍّ " ﺣُﻀُﻮْﺭُ ﻣَﺠْﻠِﺲِ ﻋِﻠْﻢٍ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻣِﻦْ ﺻَﻠَﺎﺓِ ﺃَﻟْﻒِ
ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﻭَﻋِﻴَﺎﺩَﺓِ ﺃَﻟْﻒِ ﻣَﺮِﻳْﺾٍ ﻭَﺷُﻬُﻮْﺩِ ﺃَﻟْﻒِ ﺟَﻨَﺎﺯَﺓٍ ، ﻓَﻘِﻴْﻞَ ﻳَﺎ
ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ : ﻭَﻣِﻦْ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓِ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥِ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﻭَﻫَﻞْ ﻳَﻨْﻔَﻊُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ ؟ "
** ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻤﺮ ﻭﻟﻢ
ﺃﺟﺪﻩ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺃﺑﻲ ﺫﺭ .
‘Menghadiri majlis ilmu lebih utama daripada salat
(sunah) seribu rakaat, atau mengunjungi seribu
orang sakit, atau menghadiri janazah. Rasul ditanya:
(apakah lebih utama) dari membaca al-Quran?
Rasul Saw menjawab: Bukankah al-Quran tidak
berguna kecuali dengan ilmu? (al-Iraqi: Hadis ini
dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-
Maudlu’at dari riwayat Umar, dan tidak saya
temukan dari riwayat Abi Dzar)
Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini palsu. Salah satu perawi hadis ini bernama
Mudzakkir, menurut Abu Bakar al-Khatib: Ia adalah
perawi matruk (ditinggalkan). Salah satu perawi
lainnya adalah al-Harawi, dia adalah al-Juwaibari,
orang yang memalsukan hadis. Ahmad bin Hanbal
berkata: Ishaq bin Bahbah (salah satu perawi yang
juga guru dari al-Juwaibari) adalah orang paling
pendusta (al-Maudlu’at I/223)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini palsu, yang dibuat-buat oleh al-Juwaibari.
Gurunya (Ishaq bin Bahbah) adalah orang paling
pendusta. Dan Mudzakkir adalah perawi matruk
(ditinggalkan). (al-La’ali al-Mashnu’ah I/182)
Hadis II
No. 146 Hal. 62
ﺣَﺪِﻳْﺚُ ﻣُﻌَﺎﺫٍ " ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡُ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﺎِﺳْﺘِﻤَﺎﻉِ " ﺹ 62
** ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ .
‘Diantara cobaan orang yang berilmu adalah lebih
senang berbicara daripada mendengarkan’ (al-Iraqi:
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dan Ibnu al-
Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at)
Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini batil baik secara sanad hadis atau
perkataan sahabat. Hadis ini tidak pernah
diucapkan oleh Rasulullah, atau Muadz bin Jabal.
(Dalam hal ini Ibnu al-Jauzi memiliki dua jalur
sanad) Dalam sanad yang pertama, terdapat Khalid
bin Yazid, yang menurut Yahya bin Ma’in dan Abu
Hatim al-Razi: Dia sangat pendusta. Dalam sanad
ini juga terdapat perawi Jabarah bin Mughallis,
menurut Abdullah bin Ahmad: Hadis-hadisnya palsu.
Menurut Ibnu Hibban: Jabarah membalik-balikkan
sanad hadis, dan me- marfu’ -kan hadis yang mursal.
Juga terdapat perawi yang bernama Mindal bin Ali,
yang dinilai dlaif oleh Imam Ahmad, Yahya bin
Ma’in dan Nasa’i. Menurut Ibnu Hibban: Ia berhak
untuk ditinggalkan ( matruk ).
Dalam sanad yang kedua, terdapat Thalhah bin
Zaid. Nasa’i berkata: Ia hadisnya ditinggalkan. Ibnu
Hibban berkata: Tidak halal menjadikan hadisnya
sebahai dalil (hujjah). (al-Maudlu’at I/264)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Riwayat ini disebutkan oleh al-Marhabi dalam kitab
Fadl al-Ilmi . Dengan demikian, prasangka yang
dituduhkan kepada Khalid menjadi hilang. Begitu
pula diriwayatkan oleh al-Dailami dalam Musnad al-
Firdaus, juga oleh Ibnu Mubarak dalam kitab al-
Zuhd yang me- mauquf -kan riwayat tersebut kepada
Yazid. Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Ibnu
Abdi al-Barr dalam kitab al-Ilmi , dan dia berkata:
Seperti ucapan Yazid bin Abi Habib ini, mulai awal
hingga akhir, telah diriwayatkan dari Muadz bin
Jabal dari beberapa jalur berbeda yang terputus (al-
La’ali al-Mashnu’ah I/203)
Ali al-Kannani:
Jabarah adalah seorang perawi yang dikutip
hadisnya oleh Ibnu Majah (disebut sebanyak 22
kali). Ibnu Namir berkata: Dia orang yang sangat
jujur. Maslamah bin Qasim berkata: Dia terpercaya
Insyaallah . Nashr bin Ahmad al-Baghdadi berkata:
Jabarah pada dasarnya sangat jujur, hanya saja Ibnu
Hammani merusak kitab-kitabnya. Ibnu ‘Adi
berkata: Ia tidak pernah berdusta secara disengaja,
hanya lupa saja. Sedangkan Mindal, hadis-hadisnya
telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah,
dan tidak dituduh pendusta hadis. Dikutip dari Ibnu
Ma’in bahwa tidak ada kesalahan yang berarti pada
Mindal, hadisnya boleh ditulis. Ibnu Sa’d berkata:
Mindal adalah dlaif, tapi sebagian ulama menerima
hadisnya dan menilainya sebagai orang yang bisa
dipercaya, dia orang baik dan utama. Dengan
demikian secara global, hadis tersebut dlaif.
Sementara menurut al-Hafidz al-Iraqi, riwayat
diatas adalah perkataan Yazid bin Abi Habib, yang
dikutip oleh Ibnu Mubarak dalam kitab al-Raqaiq wa
al-Zuhd . (Tanzih al-Syari’ah I/269)
Catatan Penulis:
Imam al-Ghazali mencantumkan teks dan riwayat ini
sebanyak dua kali dalam kitab Ihya’. Pertama dalam
bab al-Ulama al-Akhirah , beliau menyebutnya
sebagai riwayat mauquf pada Muadz bin Jabal dan
hadis marfu’. Kedua dalam bab al-Khaudl fi al-
Bathil , sebagai riwayat dari Yazid bin Abi Habib.
Hadis III
No. 148 Hal. 62
ﺣَﺪِﻳْﺚُ ﺟَﺎﺑِﺮٍ " ﻟَﺎ ﺗَﺠْﻠِﺴُﻮْﺍ ﻋِﻨْﺪَ ﻛُﻞِّ ﻋَﺎﻟِﻢٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺎﻟِﻢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻛُﻢْ
ﻣِﻦْ ﺧَﻤْﺲٍ ﺇِﻟَﻰ ﺧَﻤْﺲٍ : ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻚِّ ﺇِﻟَﻰ ﺍْﻟﻴَﻘِﻴْﻦِ ، ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺀِ
ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺧْﻠَﺎﺹِ ، ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﻏْﺒَﺔِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺰُّﻫْﺪِ ، ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮِ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟﺘَّﻮَﺍﺿُﻊِ ، ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺪَﺍﻭَﺓِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴْﺤَﺔِ "
** ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻠﻴﺔ ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ .
‘Janganlah kalian duduk di sanding orang yang
berilmu kecuali ia mengajak kalian dari 5 hal menuju
ke 5 hal yang lain; yaitu dari ragu manuju yakin, dari
pamrih menuju ikhlas, dari cinta materi secara
berlebih menuju zuhud (tidak mencintai materi), dari
sombong menuju merendahkan diri, dan dari
permusuhan menuju nasehat’ (al-Iraqi: Hadis ini
diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab al-Hilyah
dan Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at)
Ibnu al-Jauzi:
Ini bukanlah perkataan Rasulullah Saw. Abu Nuaim
berkata ( al-Hilyah VIII/70) : Ini adalah ucapan
Syaqiq yang berceramah di hadapan murid-
muridnya. Sehingga orang-orang salah persepsi dan
menganggapnya sebagai hadis marfu’. (al-
Maudlu’at I/257)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Abu Nuaim berkata ( al-Hilyah VIII/70) : Ini adalah
ucapan Syaqiq yang berceramah di hadapan murid-
muridnya. Sehingga orang-orang salah persepsi dan
menganggapnya sebagai hadis marfu’ dan mereka
mencantumkan sanadnya. (al-La’ali al-Mashnu’ah
I/194)
Hadis IV
No. 160 Hal. 68
ﺣَﺪِﻳْﺚُ ﺃَﻧَﺲٍ " ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﺃُﻣَﻨَﺎﺀُ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﻋَﻠَﻰ ﻋِﺒَﺎﺩِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
ﻣَﺎﻟَﻢْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻄُﻮْﺍ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻃِﻴْﻦَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻓَﻌَﻠُﻮْﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﺎﻧُﻮْﺍ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞَ
ﻓَﺎﺣْﺬَﺭُﻭْﻫُﻢْ ﻭَﺍﻋْﺘَﺰِﻟُﻮْﻫُﻢْ " ( ﻣﺮﺗﻴﻦ )
** ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﻌﻘﻴﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ ، ﻭﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ .
‘Ulama adalah kepercayaan para Rasul atas hamba-
hamba Allah, selama mereka tidak berbaur dengan
para raja (pemerintah). Jika mereka melakukan hal
itu, maka mereka telah berkhianat kepada para
Rasul. Maka waspadalah terhadap mereka dan
jauhilah mereka’ (al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-
Uqaili dalam kitab al-Dlu’afa’ dan Ibnu al-Jauzi
dalam kitab al-Maudlu’at)
Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini bukan dari Rasulullah Saw. Dalam riwayat
tersebut terdapat Umar al-Abdi, menurut Ahmad
bin Hanbal: Kami membakar hadisnya. Yahya bin
Ma’in berkata: Dia tidak ada apa-apanya. Nasa’i
berkata: Dia matruk. Ada juga perawi Ibrahim bin
Rustum, Ibnu ‘Adi mengomentarinya: Dia tidak
dikenal. Sementara Muhammad bin Muawiyah dinilai
oleh Ahmad bin Hanbal sebagai orang yang sangat
pendusta. (al-Maudlu’at I/262)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini tidak palsu. Karena diriwayatkan melalui
jalur lain, yaitu oleh Hasan bin Sufyan dalam
Musnad-nya. Diantara perawinya adalah Ibrahim bin
Rustum, ia dikenal dengan al-Marwazi, dia orang
besar. Ibnu Hajar berkata dalam kitab Lisan al-
Mizan bahwa Yahya bin Ma’in dan Abu Hatim
menilainya sebagai orang terpercaya. Menurutnya
dia berilmu fikih dan ibadah, semestinya adalah
orang jujur. Ibrahim bin Rustum pernah ditawari
oleh khalifah al-Ma’mun untuk menjadi seorang
hakim tetapi ia menolak, dan dia termasuk orang
yang dihormati oleh al-Ma’mun. Hal ini disampaikan
oleh al-Hakim dalam kitabnya al-Tarikh . (al-La’ali
al-Mashnu’ah I/200)
Al-Sakhawi dan al-’Ajluni:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-‘Askari dari riwayat
‘Awam bin Hausyab dari Abi Shadiq dari Ali secara
marfu’. Awam adalah dlaif sanadnya. (al-Maqashid
al Hasanah I/160 dan Kasyf al-Khafa’ II/87)
Hadis V
No. 629 Hal. 203
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ ﻳَﺼُﻮْﻡُ ﺃَﻭَّﻝَ ﺧَﻤِﻴْﺲٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺟَﺐَ ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠِّﻲ
ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻭَﺍْﻟﻌَﺘَﻤَﺔِ ﺍِﺛْﻨَﺘَﻲْ ﻋَﺸْﺮَﺓَ ﺭَﻛْﻌَﺔً ﻳَﻔْﺼِﻞُ ﺑَﻴْﻦَ ﻛُﻞِّ
ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺑِﺘَﺴْﻠِﻴْﻤَﺔٍ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻣَﺮَّﺓً ﻭَﺇِﻧَّﺎ
ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﺛَﻠَﺎﺙَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺍِﺛْﻨَﺘَﻲْ
ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﻣَﺮَّﺓً ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻓَﺮَﻍَ ﻣِﻦْ ﺻَﻠَﺎﺗِﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻲَّ ﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻣَﺮَّﺓً
ﻳَﻘُﻮْﻝُ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺍﻟْﺄُﻣِّﻲِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﺛُﻢَّ
ﻳَﺴْﺠُﺪُ ﻭَﻳَﻘُﻮْﻝُ ﻓِﻲ ﺳُﺠُﻮْﺩِﻩِ ﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻣَﺮَّﺓً : ﺳُﺒُّﻮْﺡٌ ﻗُﺪُّﻭْﺱٌ ﺭَﺏُّ
ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔِ ﻭَﺍﻟﺮُّﻭْﺡِ ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻭَﻳَﻘُﻮْﻝُ ﺳَﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻣَﺮَّﺓً : ﺭَﺏِّ
ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻭَﺍﺭْﺣَﻢْ ﻭَﺗَﺠَﺎﻭَﺯْ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺄَﻋَﺰُّ ﺍﻟْﺄَﻛْﺮَﻡُ ، ﺛُﻢَّ
ﻳَﺴْﺠُﺪُ ﺳَﺠْﺪَﺓً ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻭَﻳَﻘُﻮْﻝُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﺠْﺪَﺓِ
ﺍﻟْﺄُﻭْﻟَﻰ ﺛُﻢَّ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺣَﺎﺟَﺘَﻪُ ﻓِﻲ ﺳُﺠُﻮْﺩِﻩِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﺗُﻘْﻀَﻰ "
** ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺮﻏﺎﺋﺐ ﺃﻭﺭﺩﻩ ﺭﺯﻳﻦ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ
ﻣﻮﺿﻮﻉ .
‘Tidak seorangpun yang berpuasa di awal hari kamis
di bulan Rajab, kemudia di malam harinya antara
salat maghrib dan isya’ melakukan salat sunah
sebanyak 12 rakaat dengan sekali salam setiap dua
rakaat, di setiap rakaat membaca al-Fatihah 1 kali,
surat al-Qadr 3 kali, dan al-Ikhlas 12 kali, selesai
salat membaca salawat 70 kali, lalu sujud dan
membaca doa Subbuhun Quddusun Rabb al-
Malaikati Wa al-ruh 70 kali, kemudian bangun dari
sujud dan membaca doa Rabbi ighfir wa irhamwa
tajawaz ‘amma ta’lamu innaka anta al-a’azzu al-
akramu, sujud lagi yang kedua dan membaca doa
yang sama dengan sujud pertama, terus meminta
hajatnya ketika sujud, maka akan dikabulkan’ (al-
Iraqi: Hadis ini dikutip oleh Ruzain dalam kitabnya,
dan ini adalah hadis palsu)
Imam al-Nawawi:
Salat Raghaib, yaitu salat 12 rakaat yang dilakukan
antara salat Maghrib dan Isya’ di awal Jumat bulan
Rajab, dan salat malam Nishfu Sya’ban 100 rakaat,
keduanya adalah bid’ah yang buruk dan munkar.
Jangan tertipu karena keduanya dicantumkan dalam
kitab Qut al-Qulub dan Ihya’ ‘Ulum al-Din , dan juga
jangan tertipu dengan hadis-hadisnya, kesemuanya
adalah hadis batil (al-Majmu’ IV/56)
Hadis VI
No. 811 Hal. 259
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﻣَﻦْ ﻭَﺟَﺪَ ﺳَﻌَﺔً ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻔُﺪْ ﺇِﻟَﻰَّ ﻓَﻘَﺪْ ﺟَﻔَﺎﻧِﻲ "
** ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﺑﻦ ﻋﺪﻱ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻗﻄﻨﻲ ﻓﻲ ﻏﺮﺍﺋﺐ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺍﺑﻦ
ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ ﻭﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ
ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ " ﻣَﻦْ ﺣَﺞَّ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺰُﺭْﻧِﻲ ﻓَﻘَﺪْ ﺟَﻔَﺎﻧِﻲ " ﻭﺫﻛﺮﻩ
ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ . ﻭﺭﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺭ ﻓﻲ ﺗﺎﺭﻳﺦ
ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﻧﺲ " ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻟَﻪُ ﺳَﻌَﺔٌ ﺛُﻢَّ
ﻟَﻢْ ﻳَﺰُﺭْﻧِﻲ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻟَﻪُ ﻋُﺬْﺭٌ " .
‘Barangsiapa memiliki kelapangan rezeki dan tidak
berkunjung kepadaku, maka dia telah menyakiti
aku’ (al-Iraqi: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dan
Daruquthni dalam kitab Gharaib Malik , Ibnu Hibban
dalam kitab al-Dluafa’ , al-Khatib dalam kitab al-
Ruwat ‘an Malik dalam hadis Ibnu Umar:
‘Barangsiapa beribadah haji dan tidak berziarah
kepadaku, maka dia telah menyakiti aku’, dan hadis
ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-
Maudlu’at. Ibnu Najjar juga meriwayatkan dalam
kitab Tarikh al-Madinah dari hadis Anas: Tidak
seorangpun dari umatku yang memiliki kelapangan
rezeki tapi tidak berziarah kepadaku, maka tiada
udzur baginya)
Ibnu al-Jauzi:
Dalam riwayat tersebut terdapa Nu’man bin Syibli
(al-Bahili). Menurut Ibnu Hibban: Dia membawa
petaka dari orang-orang terpercaya. Menurut
Daruquthni: Kecacatan hadis ini adalah dari
Muhammad bin Muhammad, bukan dari Nu’man bin
Syibli (al-Maudlu’at II/217)
Ali al-Kannani:
Hadis ini dikaji ulang, Zarkasyi berkata dalam kitab
Takhrij Ahadits al-Rafi’i bahwa hadis tersebut dlaif,
dan Ibnu al-Jauzi bersikap keterlaluan yang telah
mencantumkannya dalam kitab al-Maudlu’at.
Menurut Ibnu ‘Adi: Saya tidak menemukan hadis-
hadis gharib milik Nu’man yang melewati batas.
(Tanzih al-Syariah II/170)
Al-’Ajluni:
al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam kitab Takhrij
Ahadits Musnad al-Firdaus bahwa hadis tersebut
memiliki jalur riwayat dari Umar. Hadis ini oleh Ibnu
‘Adi dan Ibnu Hibban dicantumkan dalam kitab al-
Dlu’afa’ , oleh Daruquthni dalam kitab Gharaib Malik ,
dan oleh al-Khatib dalam kitab al-Ruwat ‘an Malik .
Dengan demikian, tidak selayaknya menghukumi
hadis tersebut sebagai hadis palsu. (Kasyf al Khafa’
II/244)
Hadis VII
No. 1179 Hal. 335
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﻓَﻀْﻞُ : ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﺗُﺆْﺗِﻲ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺎﺀُ
ﻭَﺗَﻨْﺰِﻉُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣِﻤَّﻦْ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﻌِﺰُّ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺗُﺬِﻝُّ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﺑِﻴَﺪِﻙَ
ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ () ﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ
ﻭَﺗُﻮﻟِﺞُ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻲَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ
ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ﻭَﺗَﺮْﺯُﻕُ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺎﺀُ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ [ﺁﻝ
ﻋﻤﺮﺍﻥ26/، 27 ] "
** ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﻤﺴﺘﻐﻔﺮﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺍﺕ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻠﻲ " ﺃﻥ
ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺁﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻭﺍﻵﻳﺘﻴﻦ ﻣﻦ ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ ﺷﻬﺪ
ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﻗﻞ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﺑﻐﻴﺮ
ﺣﺴﺎﺏ ﻣﻌﻠﻘﺎﺕ ﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﻦ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺠﺎﺏ . . . ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ "
ﻭﻓﻴﻪ " ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﻘﺮﺃﻛﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩﻱ ﺩﺑﺮ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ ﺇﻻ
ﺟﻌﻠﺖ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﺜﻮﺍﻩ . . . ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ " ﻭﻓﻴﻪ ﺍﻟﺤﺎﺭﺙ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ
ﻭﻓﻲ ﺗﺮﺟﻤﺘﻪ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ ﻭﻗﺎﻝ ﻣﻮﺿﻮﻉ ﻻ
ﺃﺻﻞ ﻟﻪ ﻭﺍﻟﺤﺎﺭﺙ ﻳﺮﻭﻱ ﻋﻦ ﺍﻷَﺛﺒﺎﺕ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺎﺕ . ﻗﻠﺖ :
ﻭﺛﻘﻪ ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﻌﻴﻦ ﻭﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﻭﺃﺑﻮ ﺣﺎﺗﻢ
ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻭﺭﻭﻯ ﻟﻪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺗﻌﻠﻴﻘﺎ .
‘Keutamaan membaca QS. Ali Imran: 26-27.’ (al-
Iraqi: HR al-Mustaghfiri dalam kitab al-Da’awat dari
Ali. Salah satu perawinya adalah Haris bin Umair,
oleh Ibnu Hibban dicantumkan dalam kitab al-
Dluafa’ , dan dia berkata: Hadis ini palsu, tidak ada
dasarnya dan dia meriwayatkan hadis-hadis palsu
dari Atsbat. Tetapi ia (Harits) dinilai sebagai orang
terpercaya oleh Hammad bin Yazid, Yahya bin
Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Nasa’i, dan al-
Bukhari meriwayatkannya sebagai hadis mu’allaq)
Ali al-Kannani:
al-Iraqi ditanya mengenai hadis ini, dia menjawab:
Para perawi hadisnya dinilai terpercaya oleh ulama
terdahulu, tetapi ulama muta’akhirin mengomentari
sebagian perawinya. Yang dibicarakan adalah
Muhammad bin Zanbur dan Harits bin Umair. Ibnu
Zanbur dinilai terpercaya oleh Nasa’i dan Ibnu
Hibban, menurut Ibnu Khuzaimah: Dia dlaif.
Sedangkan Haris bin Umair dinilai sebagai orang
terpercaya oleh Hammad bin Yazid, Yahya bin
Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Nasa’i, dan al-
Bukhari meriwayatkannya sebagai hadis penguat
dalam kitab sahihnya, begitu pula pengarang kitab-
kitab Sunan. Tetapi ia dinilai dlaif oleh al-Hakim
dan al-Dzahabi (Tanzih al-Syariah I/288)
Al-Hafidz Ibnu Hajar:
Hadis ini munkar, sebagaimana menurut al-Dzahabi
(Raudlah al-Muhadditsin X/54)
Hadis VIII
No. 931 Hal. 298
ﺣَﺪِﻳْﺚُ " ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺇِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻬَﺎ ﺗُﻮْﺯَﻥُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ
ﺇِﻟَّﺎ ﺷَﻬَﺎﺩَﺓَ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﻮْﺿَﻊُ ﻓِﻲ ﻣِﻴْﺰَﺍﻥٍ ﻟِﺄَﻧَّﻬَﺎ ﻟَﻮْ
ﻭُﺿِﻌَﺖْ ﻓِﻲ ﻣِﻴْﺰَﺍﻥِ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻟَﻬَﺎ ﺻَﺎﺩِﻗًﺎ ﻭَﻭُﺿِﻌَﺖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕُ
ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭَﺿُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴْﻬِﻦَّ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﺭْﺟَﺢَ
ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ "
** ﻗﻠﺖ ﻭﺻﻴﺔ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻫﺬﻩ ﻣﻮﺿﻮﻋﺔ . ﻭﺁﺧﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻤﺴﺘﻐﻔﺮﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺍﺕ " ﻭﻟﻮ ﺟﻌﻠﺖ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ "
ﻭﻫﻮ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ " ﻟﻮ ﺃﻥ
ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻭﺍﻷﺭﺿﻴﻦ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻓﻲ ﻛﻔﺔ ﻣﺎﻟﺖ ﺑﻬﻦ ﻻ ﺇﻟﻪ
ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ " ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻭﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ
ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ .
‘Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya setiap kebaikan
yang engkau perbuat akan ditimbang di hari kiamat,
kecuali kalimat syahadat La ilaha illallah (Tiada
Tuhan selain Allah). Kalimat itu tidak diletakkan
dalam timbangan, sebab jika kalimat itu diletakkan
dalam timbangan seseorang yang mengucapkannya
dengan keikhlasan dan titimbang dengan langit
tujuh, bumi tujuh dan seisinya, niscaya kalimat
syahadat tersebut akan mengunggulinya’ (al-Iraqi:
Saya berkata bahwa wasiat kepada Abu Hurairah ini
adalah Palsu. Kalimat terakhir hadis tersebut
diriwayatkan oleh al-Mustaghfiri dalam kitab al-
Da’awat , redaksi teks hadis terakhir diriwayatkan
oleh al-Nasa’i dalam kitab al-Yaum wa al-Lailah ,
Ibnu Hibban dan al-Hakim, ia menilainya sebagai
hadis sahih)
Al-’Ajluni:
Hadis ini riwayat al-Mustaghfiri dari Abu Hurairah,
yang populer adalah dari Abu Said al-Khudri,
dengan redaksi hadis:
ﻟَﻮْ ﻭُﺿِﻌَﺖْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻲ ﻛَﻔَّﺔٍ ﻭَﻭُﺿِﻌَﺖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ
ﻓِﻲ ﻛَﻔَّﺔٍ ﻟَﺮَﺟَﺤَﺖْ ﺑِﻬِﻦَّ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ
’Seandainya kalimat La ilaha illallah diletakkan di
telapak tangan, kemudian langit dan bumi di
telapak tangan yang lain, maka kalimat La ilaha
illallah akan lebih berat’. HR. Nasa’i, Ibnu Hibban
dan al-Hakim, keduanya menilai sahih (Kasyf al-
Khafa’ II/174).
APAKAH AHLI HADIST MELAKUKAN BID'AH ?
Ketika Ahli Hadis Melakukan Bid’ah….
Ketika Ahli Hadis Melakukan Bid’ah….
Bid’ah saat ini menjadi sebuah bahasa yang
menyeramkan karena sebagian kelompok
menilainya sebagai kesesatan, seluruhnya tanpa
terkecuali. Bagi mereka, setiap amalan dalam agama
yang tidak dilakukan oleh Nabi, atau menentukan
waktu ibadah dengan cara-cara tertentu adalah
bid’ah yang sesat dan pelakunya akan masuk
neraka.
Namun pernahkah terlintas dalam pikiran bahwa
para ahli hadis yang meriwayatkan hadis tentang
bid’ah, ternyata juga melakukan bid’ah. Apakah ahli
hadis itu melakukan bid’ahnya tanpa sadar? Tidak
tahukah kalau semua bid’ah adalah sesat? Kalaulah
mereka mengaku bahwa semua bid’ah sesat,
sementara para ahli hadis melakukan perbuatan
bid’ah, seperti Imam Bukhari yang salat saat setiap
menulis hadisnya di dalam kitab Sahih (padahal
tidak ada perintah dari Nabi dan Imam Bukhari
menentukan sendiri tidak berdasarkan tuntunan
Syar’i), lalu mengapa sampai saat ini mereka sering
memakai hadis-hadis riwayat Imam Bukhari?
riwayat Imam Ahmad, Imam Malik dan sebagainya?
Jika para ahli hadis banyak yang melakukan bid’ah,
berarti ada kesalahan dalam memahami semua
bid’ah sesat. Sebab diakui atau tidak, para ahli
hadis lebih mengetahui makna bid’ah yang mereka
riwayatkan dalam hadis-hadisnya, bahwa ‘Tidak
semua bid’ah sesat’.
Contohnya adalah beberapa penentuan waktu salat
yang dilakukan oleh ulama Ahli Hadis, mulai yang
melakukan ratusan rakaat dalam sehari, hingga
yang salat sampai ribuan rakaat dalam tiap harinya:
1. Imam al-Bukhari (15126 rakaat)
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻔﺮﺑﺮﻱ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ: ﻣﺎ ﻭﺿﻌﺖ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻲ
ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺣﺪﻳﺜﺎً ﺇﻻ ﺍﻏﺘﺴﻠﺖ ﻗﺒﻞ ﺫﻟﻚ ﻭﺻﻠﻴﺖ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ
( ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ - ﺝ 1 / ﺹ 48 ﻭﺳﻴﺮ ﺃﻋﻼﻡ ﺍﻟﻨﺒﻼﺀ / 12
402 ﻭﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ 1 / 274، ﻭﺗﺎﺭﻳﺦ ﺑﻐﺪﺍﺩ 2 / 9،
ﻭﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻠﻐﺎﺕ 1 / 74 ﻭﻭﻓﻴﺎﺕ ﺍﻻﻋﻴﺎﻥ 4 /
190، ﻭﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﻜﻤﺎﻝ 1169، ﻭﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ 2 / 220،
ﻭﻣﻘﺪﻣﺔ ﺍﻟﻔﺘﺢ 490 ﻭﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ 42 / 9 )
“al-Farbari berkata bahwa al-Bukhari berkata: Saya
tidak meletakkan 1 hadis pun dalam kitab Sahih
saya, kecuali saya mandi terlebih dahulu dan saya
salat 2 rakaat”
(Diriwayatkan oleh banyak ahli hadis, diantaranya
dalam Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-
Suyuthi,1/48, Siyar A’lam an-Nubala’, al-Hafidz
adz-Dzahabi 12/402, Thabaqat al-Hanabilah,
1/274, Tarikh Baghdad 2/9, Tahdzib al-Asma,
Imam an-Nawawi, 1/74, Wafayat al-A’yan 4/190,
Tahdzib al-Kamal, al-Hafidz al-Mizzi 1169,
Thabaqat as-Subki 2/220, dan al-Hafidz Ibnu Hajar
dalam Muqaddimah al-Fath 490 dan at-Tahdzib
9/42)
Sedangkan hadis yang tertera dalam Sahih al-
Bukhari berjumlah 7563 hadis. Maka salat yang
beliau lakukan juga sesuai jumlah hadis tersebut
atau 15126 (lima belas ribu seratus dua puluh
enam) rakaat.
ﻭﺭﻭﻳﻨﺎ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺪﻭﺱ ﺑﻦ ﻫﻤﺎﻡ، ﻗﺎﻝ: ﺳﻤﻌﺖ
ﻋﺪﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺣﻮﻝ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﺗﺮﺍﺟﻢ
ﺟﺎﻣﻌﻪ ﺑﻴﻦ ﻗﺒﺮ ﺍﻟﻨﺒﻰ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -
ﻭﻣﻨﺒﺮﻩ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻰ ﻟﻜﻞ ﺗﺮﺟﻤﺔ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ( ﺗﻬﺬﻳﺐ
ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ - (1 / 101 )
“Kami meriwayatkan dari Abdul Quddus bin
Hammam, bahwa ia mendengar dari para guru yang
berkata seputar al-Bukhari ketika menulis bab-bab
salam kitab Sahihnya diantara makam Nabi dan
mimbarnya, dan al-Bukhari salat 2 rakaat dalam
tiap-tiap bab” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi,
1/101)
2. Imam Malik bin Anas (800 rakaat)
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻣﺼﻌﺐ ﻭ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﻗﺎﻻ ﻣﻜﺚ
ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ ﺃﻧﺲ ﺳﺘﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻳﺼﻮﻡ ﻳﻮﻣﺎً ﻭﻳﻔﻄﺮ ﻳﻮﻣﺎً
ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺛﻤﺎﻧﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ(ﻃﺒﻘﺎﺕ
ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ 1 / 61 )
“Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik
bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari
selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800
rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la,
1/61)
3. Imam Ahmad Bin Hanbal (300 rakaat)
- ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻮ ﻳﺤﻲ ﻭﺳﻤﻌﺖ ﺑﺪﺭ ﺑﻦ ﻣﺠﺎﻫﺪ ﻳﻘﻮﻝ
ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﻳﻘﻮﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ
ﺣﻨﺒﻞ ﻳﻘﻮﻝ ﺇﻧﻰ ﻷﺩﻋﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻰ ﻓﻰ ﺻﻼﺗﻰ
ﻣﻨﺬ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻰ ﻭﻟﻮﺍﻟﺪﻯ
ﻭﻟﻤﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ( ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ
ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻟﻠﺴﺒﻜﻲ ﺝ 3 / ﺹ 194ﻭﻣﻨﺎﻗﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ
ﻟﻠﺒﻴﻬﻘﻲ 254-2 )
“Sungguh saya berdoa kepada Allah untuk Syafii
dalam salat saya sejak 40 tahun. Doanya: Ya Allah
ampuni saya, kedua orang tua saya dan Muhammad
bin Idris asy-Sfafii” (Thabaqat al-Syafiiyah al-
Kubra, as-Subki, 3/194 dan Manaqib asy-Syafii, al-
Baihaqi, 2/254)
- ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ: ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻲ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﻛﻞ
ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺛﻼﺙ ﻣﺌﺔ ﺭﻛﻌﺔ . ﻓﻠﻤﺎ ﻣﺮﺽ ﻣﻦ ﺗﻠﻚ
ﺍﻷﺳﻮﺍﻁ ﺃﺿﻌﻔﺘﻪ، ﻓﻜﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ
ﻭﻟﻴﻠﺔ ﻣﺌﺔ ﻭﺧﻤﺴﻴﻦ ﺭﻛﻌﺔ، ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻗﺮﺏ ﻣﻦ
ﺍﻟﺜﻤﺎﻧﻴﻦ ( ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺗﺎﺭﻳﺦ ﺩﻣﺸﻖ ﻻﺑﻦ ﺭﺟﺐ ﺍﻟﺤﻨﺒﻠﻲ ﺝ
/ 1 ﺹ 399 )
“Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya (Ahmad
bin Hanbal) melakukan salat dalam sehari semalam
sebanyak 300 rakaat. Ketika beliau sakit liver, maka
kondisinya melemah, beliau salat dalam sehari
semalam sebanyak 150 rakaat, dan usianya
mendekati 80 tahun” (Mukhtashar Tarikh Dimasyqa,
Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/399)
ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﻌﺒﺪ ﺍﻟﻤﺆﺩﺏ ﻗﺎﻝ : ﺭﺃﻳﺖ ﺃﺣﻤﺪ
ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺳﺖ ﺭﻛﻌﺎﺕ ﻭﻳﻔﺼﻞ
ﻓﻲ ﻛﻞ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ( ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ 1 123 / )
“Jakfar bin Muhammad bin Ma’bad berkata: Saya
melihat Ahmad bin Hanbal salat 6 rakaat setelah
Jumat, masing-masing 2 rakaat” (Thabaqat al-
Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/123)
4. Imam Basyar bin Mufadlal (400 rakaat)
ﺑﺸﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﻔﻀﻞ ﺑﻦ ﻻﺣﻖ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ﺍﻟﺮﻗﺎﺷﻲ ﺃﺑﻮ
ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ . ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ : ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻤﻨﺘﻬﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺜﺒﺖ
ﺑﺎﻟﺒﺼﺮﺓ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻰ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺃﺭﺑﻌﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ
ﻭﻳﺼﻮﻡ ﻳﻮﻣﺎً ﻭﻳﻔﻄﺮ ﻳﻮﻣﺎً ﻭﻛﺎﻥ ﺛﻘﺔ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
ﻣﺎﺕ ﺳﻨﺔ ﺳﺖ ﻭﺛﻤﺎﻧﻴﻦ ﻭﻣﺎﺋﺔ (ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ 1 /
24 )
“Imam Ahmad berkata tentang Basyar bin Mufadzal
al-Raqqasyi: Kepadanyalah puncak kesahihan di
Bashrah. Ia salat setiap hari sebanyak 400 rakaat, ia
puasa sehari dan berbuka sehari. Ia terpercaya dan
memiliki banyak hadis, wafat 180 H” (Thabaqat al-
Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/24)
5. Cucu Sayidina Ali (1000 rakaat)
ﺫﻭ ﺍﻟﺜﻔﻨﺎﺕ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ
ﻃﺎﻟﺐ ﺯﻳﻦ ﺍﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ ﺳﻤﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻰ ﻛﻞ
ﻳﻮﻡ ﺃﻟﻒ ﺭﻛﻌﺔ ﻓﺼﺎﺭ ﻓﻲ ﺭﻛﺒﺘﻴﻪ ﻣﺜﻞ ﺛﻔﻨﺎﺕ ﺍﻟﺒﻌﻴﺮ
( ﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﻜﻤﺎﻝ 35 - / 41 )
“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli
ibadah, disebut demikian karena ia salat dalam
sehari sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya
terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’,
al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)
ﻭﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻠﻐﻨﻲ ﺃﻧﻪ (ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ
ﺃﺑﻲ ﻃﺎﻟﺐ ) ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻭﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺃﻟﻒ ﺭﻛﻌﺔ
ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻣﺎﺕ ( ﺗﺬﻛﺮﺓ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻟﻠﺬﻫﺒﻲ 1 60 / )
“Malik berkata: Telah sampai kepada saya bahwa Ali
bin Husain salat dalam sehari semalam 1000 rakaat
sampai wafat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-
Dahabi, 1/60)
6. Maimun bin Mahran (17000 rakaat)
ﻭﻳﺮﻭﻯ ﺍﻥ ﻣﻴﻤﻮﻥ ﺑﻦ ﻣﻬﺮﺍﻥ ﺻﻠﻰ ﻓﻲ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ
ﻳﻮﻣﺎ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﻒ ﺭﻛﻌﺔ ( ﺗﺬﻛﺮﺓ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ 1 99 / )
“Diriwayatkan bahwa Maimun bin Mahran salat
dalam 17 hari sebanyak 17000 rakaat” (Tadzkirah
al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dahabi, 1/99)
7. Basyar bin Manshur (500 rakaat)
ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻣﻬﺪﻯ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﺣﺪﺍ ﺃﺧﻮﻑ ﻟﻠﻪ ﻣﻨﻪ ﻭﻛﺎﻥ
ﻳﺼﻠﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺧﻤﺴﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻭﺭﺩﻩ ﺛﻠﺚ
ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ( ﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ / 1 403 )
“Ibnu Mahdi berkata: Saya tidak melihat seseorang
yang paling takut kepada Allah selain Basyar bin
Manshur. Ia salat dalam sehari 500 rakaat,
wiridannya adalah 1/3 al-Quran” (Tahdzib at-
Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 1/403)
8. al-Harits bin Yazid (600 rakaat)
ﺍﻟﺤﺎﺭﺙ ﺑﻦ ﻳﺰﻳﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﺣﻤﺪ ﺛﻘﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ ﻭﻗﺎﻝ
ﺍﻟﻌﺠﻠﻲ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﺛﻘﺔ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻛﻞ
ﻳﻮﻡ ﺳﺘﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ ( ﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ 2 / 142 )
“Ahmad berkata: Terpercaya diantara orang-orang
terpercaya. Laits berkata: al-Harits salat dalam
sehari 600 rakaat” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz
Ibnu Hajar, 2/142)
9. Ibnu Qudamah (100 rakaat)
ﻭﻻ ﻳﺴﻤﻊ ﺫﻛﺮ ﺻﻼﺓ ﺇﻻ ﺻﻼﻫﺎ، ﻭﻻ ﻳﺴﻤﻊ ﺣﺪﻳﺜﺎً ﺇﻻ
ﻋﻤﻞ ﺑﻪ . ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠَّﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﻧﺼﻒ ﺷﻌﺒﺎﻥ
ﻣﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ، ﻭﻫﻮ ﺷﻴﺦ ﻛﺒﻴﺮ (ﺫﻳﻞ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ
ﺍﺑﻦ ﺭﺟﺐ 1 / 203 )
“Ibnu Qudamah tidak mendengar tentang salat
kecuali ia lakukan. Ia tidak mendengar 1 hadis
kecuali ia amalkan. Ia salat bersama dengan orang
lain di malam Nishfu Sya’ban 100 rakaat, padahal ia
sudah tua” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu
Rajab al-Hanbali, 1/203)
ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠِّﻲ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﺍﻟﻌﺸﺎﺀ ﺃﺭﺑﻊ ﺭﻛﻌﺎﺕ،
ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻴﻬﻦ ﺍﻟﺴَّﺠﺪﺓ، ﻭﻳﺲ، ﻭﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺍﻟﺪﺧﺎﻥ.
ﻭﻳﺼﻠَّﻲ ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ ﺟﻤﻌﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀﻳﻦ ﺻﻼﺓ
ﺍﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﻳﻄﻴﻠﻬﺎ، ﻭﻳﺼﻠَّﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ
ﺑﻤﺎﺋﺔ " ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ " ﺍﻹﺧﻼﺹ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ
ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺍﺛﻨﺘﻴﻦ ﻭﺳﺒﻌﻴﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﻧﺎﻓﻠﺔ، ﻭﻟﻪ
ﺃﻭﺭﺍﺩ ﻛﺜﻴﺮﺓ. ﻭﻛﺎﺭْ ﻳﺰﻭﺭ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻛﻞ ﺟﻤﻌﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻌﺼﺮ
(ﺫﻳﻞ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ 1 - / 204 )
“Ibnu Qudamah salat antara Maghrib dan Isya’
sebanyak 4 rakaat, dengan membaca surat Sajdah,
Yasin Tabaraka dan ad-Dukhan. Beliau salat Tasbih
setiap malam Jumat antara Maghrib dan Isya’ dan
memanjangkannya. Di hari Jumat ia salat 2 rakaat
dengan membaca al-Ikhlas 100 kali. ia salat sunah
sehari semalam sebanyak 72 rakaat. ia memiliki
banyak wiridan. Ia melakukan ziarah kubur setiap
Jumat setelah Ashar” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah,
Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/204)
10. Umair bin Hani’ (1000 sujud)
ﻛﺎﻥ ﻋﻤﻴﺮ ﺑﻦ ﻫﺎﻧﺊ ﻳﺼﻠﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻒ ﺳﺠﺪﺓ
ﻭﻳﺴﺒﺢ ﻣﺎﺋﺔ ﺍﻟﻒ ﺗﺴﺒﻴﺤﺔ( ﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ 8 /
134 )
“Umair bin Hani’ salat dalam sehari sebanyak 1000
sujud dan membaca tasbih sebanyak
100.000” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu
Hajar, 8/134)
11. Murrah bin Syarahil (600 rakaat)
ﻗﻠﺖ : ﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ ﺯﺍﺩ ﻭﻛﺎﻥ
ﻳﺼﻠﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺳﺘﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﺠﻠﻲ ﺗﺎﺑﻌﻲ
ﺛﻘﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻭﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺧﻤﺴﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ
( ﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ 10 80 / )
“Ibnu Hibban menambahkan bahwa Marrah bin
Syarahil salat dalam sehari 600 rakaat. al-Ajali
berkata, ia tabii yang tsiqah, ia salat dalam sehari
500 rakaat” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu
Hajar, 10/80)
12. Abdul Ghani (300)
ﻭﺳﻤﻌﺖ ﻳﻮﺳﻒ ﺑﻦ ﺧﻠﻴﻞ ﺑﺤﻠﺐ ﻳﻘﻮﻝ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ
ﺍﻟﻐﻨﻲ: ﻛﺎﻥ ﺛﻘﺔ، ﺛﺒﺘﺎً، ﺩﻳﻨﺎً ﻣﺄﻣﻮﻧﺎً، ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺘﺼﻨﻴﻒ،
ﺩﺍﺋﻢ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ، ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻹﻳﺜﺎﺭ . ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ
ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺛﻼﺛﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ (ﺫﻳﻞ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ 1 /
185 )
“Abdul Ghani, ia terpercaya, kokoh, agamis yang
dipercaya, banyak karangannya, selalu puasa, selalu
mendahulukan ibadah. Ia salat dalam sehari
semalam 300 rakaat” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah,
Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/185)
13. Abu Ishaq asy-Syairazi (Tiap bab
dalam kitab)
ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﺎﺿﺒﺔ ﺳﻤﻌﺖ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺏ
ﺃﺑﻲ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﺒﻐﺪﺍﺩ ﻳﻘﻮﻝ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻳﺼﻠﻲ
ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﻓﺮﺍﻍ ﻛﻞ ﻓﺼﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ(ﻃﺒﻘﺎﺕ
ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ / 4 217 )
“Abu Bakar abin Khadhibah berkata: Saya
mendengar dari sebagian santri Abu Ishaq di
Baghdad bahwa Syaikh (Abu Ishaq) salat 2 rakaat
setiap selesai menulis setiap Fasal dalam
Muhadzab” (Thabaqat asy-Syafiiyat al-Kubra, as-
Subki, 4/217)
14. Qadli Abu Yusuf (200 rakaat)
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺳﻤﺎﻋﺔ ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﻌﺪ ﻣﺎ
ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﺎﺋﺘﻲ ﺭﻛﻌﺔ ( ﺗﺬﻛﺮﺓ
ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻟﻠﺬﻫﺒﻲ 1 214 / )
“Ibnu Sama’ah berkata: Setelah Abu Yusuf menjadi
Qadli, ia salat dalam sehari sebanyak 200
rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-
Dzahabi, 1/214)
15. Ali bin Abdillah (1000 rakaat)
ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺳﻨﺎﻥ : ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺼﻠﻰ ﻛﻞ
ﻳﻮﻡ ﺃﻟﻒ ﺭﻛﻌﺔ ( ﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ 1 492 / )
“Abu Sanan berkata: Ali bin Abdillah salat dalam
sehari 1000 rakaat” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi,
1/492)
16. al-Hafidz ar-Raqqasyi (400 rakaat)
ﺍﻟﺮﻗﺎﺷﻲ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺒﺖ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ
ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ : ﺃﺑﻮ
ﺣﺎﺗﻢ ﻭﻗﺎﻝ: ﺛﻘﺔ ﺭﺿﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﺠﻠﻲ : ﺛﻘﺔ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩ
ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭﻗﺎﻝ ﻳﻌﻘﻮﺏ ﺍﻟﺴﺪﻭﺳﻲ: ﺛﻘﺔ ﺛﺒﺖ
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﺠﻠﻲ: ﻳﻘﺎﻝ : ﺇﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ
ﻭﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺃﺭﺑﻌﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ ( ﺗﺬﻛﺮﺓ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻟﻠﺬﻫﺒﻲ –
2 37 / )
“ar-Raqqasyi, terpercaya, ia salat dalam sehari
semalam 400 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-
Hafidz adz-Dzahabi, 2/73)
17. Abu Qilabah (400 rakaat)
ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻛﺎﻣﻞ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ: ﺣﻜﻲ ﺃﻥ ﺃﺑﺎ ﻗﻼﺑﺔ
ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻭﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺃﺭﺑﻌﻤﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ ( ﺗﺬﻛﺮﺓ
ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻟﻠﺬﻫﺒﻲ 2 120 / )
“Qadli Ahmad bin Kamil berkata: Diceritakan bahwa
Abu Qilabah salat dalam sehari semalam sebanyak
400 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-
Dzahabi, 2/120)
18. Cucu Abdullah bin Zubair (1000 rakaat)
ﻣﺼﻌﺐ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﻭﻛﺎﻥ
ﻣﺼﻌﺐ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻭﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺃﻟﻒ ﺭﻛﻌﺔ ﻭﻳﺼﻮﻡ
ﺍﻟﺪﻫﺮ ( ﺻﻔﺔ ﺍﻟﺼﻔﻮﺓ 2 / -197 ﻭﺍﻹﺻﺎﺑﺔ ﻓﻲ ﺗﻤﻴﻴﺰ
ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ 2 326 / )
“Mush’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair, ia salat
dala sehari semalam 1000 rakaat” (Shifat ash-
Shafwah, Ibnu Jauzi, 2/197 dan al-Ishabah, al-
Hafidz Ibnu Hajar, 2/326)
19. Malik Bin Dinar (1000 rakaat)
ﻭﺭﻭﻯ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﻃﺮﻕ ﺍﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ
ﻧﻔﺴﻪ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺃﻟﻒ ﺭﻛﻌﺔ (ﺍﻹﺻﺎﺑﺔ ﻓﻲ ﺗﻤﻴﻴﺰ
ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ 5 77 / )
“Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari beberapa jalur
bahwa Malik bin Dinar mewajibkan pada dirinya
sendiri untuk salat 1000 rakaat dalam setiap
hari” (al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 5/77)
20. Bilal Bin Sa’d (1000 rakaat)
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻻﻭﺯﺍﻋﻲ ﻛﺎﻥ ﺑﻼﻝ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ
ﺷﺊ ﻟﻢ ﻳﺴﻤﻊ ﺑﺎﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﻣﺔ ﻗﻮﻯ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻓﻲ
ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻒ ﺭﻛﻌﺔ ( ﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ 1 /
441 )
“Auzai berkata: dalam masalah ibadah tidak
didengar 1 orang yang lebih kuat daripada Bilal bin
Sa’d, ia salat 1000 rakaat setiap hari” (Tahdzib al-
Asma’, an-Nawawi, 1/441).
* Akhi Fillah M. Makruf Khozin.
HUKUM KIRIM DOA BAGI MAYIT DALAM PANDANGAN TOKOH WAHABI
Fatwa Syaikh Utsaimin Tentang Kirim
Pahala al-Quran
Fatwa Syaikh Utsaimin
Tentang Kirim Pahala al-Quran
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﻭﺭﺳﺎﺋﻞ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ - ( ﺝ 7 / ﺹ 159 )
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻟﻴﻦ ﻣﻌﺮﻭﻓﻴﻦ: ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ: ﺃﻥ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ
ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻛﻤﺎ
ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﻤﺎﻟﻴﺔ ﺑﺎﻹﺟﻤﺎﻉ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ
ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻭﻗﻮﻝ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺎﻟﻚ
ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﻷﺩﻟﺔ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺫﻛﺮﻧﺎﻫﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﺍ
ﺍﻟﻮﺿﻊ. ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺃﻥ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ ﻻ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﺤﺎﻝ
ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﻋﻨﺪ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻣﺎﻟﻚ.
“Para ulama terdiri dari 2 pendapat; pertama,
bahwa pahala ibadah yang bersifat fisik seperti
salat, membaca al-Quran dan lainnya akan sampai
kepada mayit sebagaimana sampainya pahala
ibadah yang bersifat materi sesuai kesepakatan
ulama. Ini adalah madzhab Abu Hanifah, Ahmad,
sekelompok ulama dari madzhab Maliki dan Syafii.
Inilah pendapat yang benar, berdasarkan dalil-dalil
yang kami paparkan di luar pembahasan ini. Kedua,
bahwa ibadah yang bersifat fisik tidak sampai
kepada mayit sama sekali. Ini adalah pendapat yang
masyhur dari ulama Syafiiyah dan
Malikiyah” (Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin 7/159)
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﻭﺭﺳﺎﺋﻞ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ - (ﺝ / 2 ﺹ 240 )
ﻭﺳﺌﻞ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ - ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ :- ﻋﻦ ﺣﻜﻢ ﺇﻫﺪﺍﺀ
ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻟﻠﻤﻴﺖ؟ ﻓﺄﺟﺎﺏ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻣﺮ ﻳﻘﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻬﻴﻦ :
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻓﻴﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ
ﻳﺴﺘﻔﻴﺪ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﻤﻴﺖ ؛ ﻷﻥ ﺍﻻﺳﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻔﻴﺪ ﻣﻦ ﺳﻤﻌﻪ ﺇﻧﻤﺎ
ﻫﻮ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺣﻴﺚ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻠﻤﺴﺘﻤﻊ ﻣﺎ ﻳﻜﺘﺐ
ﻟﻠﻘﺎﺭﺉ ،ﻭﻫﻨﺎ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻗﺪ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ، ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : " ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺛﻼﺙ
ﺻﺪﻗﺔ ﺟﺎﺭﻳﺔ ، ﺃﻭ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ، ﺃﻭ ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ "
ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺗﻘﺮﺑﺎً ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ
- ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ - ﻭﻳﺠﻌﻞ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﻷﺧﻴﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺃﻭ ﻗﺮﻳﺒﻪ
ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻣﻤﺎ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻴﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ: ﻓﻤﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻳﺮﻯ ﺃﻥ
ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ ﺍﻟﻤﺤﻀﺔ ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻟﻮ ﺃﻫﺪﻳﺖ ﻟﻪ ؛
ﻷﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻣﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺸﺨﺺ ﺍﻟﻌﺎﺑﺪ ، ﻷﻧﻬﺎ
ﻋﺒﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺗﺬﻟﻞ ﻭﻗﻴﺎﻡ ﺑﻤﺎ ﻛﻠﻒ ﺑﻪ ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﻻ ﻟﻠﻔﺎﻋﻞ
ﻓﻘﻂ ، ﺇﻻ ﻣﺎ ﻭﺭﺩ ﺍﻟﻨﺺ ﻓﻲ ﺍﻧﺘﻔﺎﻉ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺑﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﺣﺴﺐ ﻣﺎ
ﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺺ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺨﺼﺼﺎً ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻷﺻﻞ.
ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﻳﺮﻯ ﺃﻥ ﻣﺎ ﺟﺎﺀﺕ ﺑﻪ ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﻭﺻﻮﻝ
ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ، ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺼﻞ
ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻷﺧﺮﻯ ﻣﺎ ﻳﻬﺪﻳﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ.
ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺒﻘﻰ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻫﻞ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻋﺔ ﺃﻭ ﻣﻦ
ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﺠﺎﺋﺰﺓ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻫﻞ ﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻳﻄﻠﺐ ﻣﻨﻪ ﺃﻥ
ﻳﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ - ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ - ﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ،
ﺛﻢ ﻳﺠﻌﻠﻬﺎ ﻟﻘﺮﻳﺒﻪ ﺃﻭ ﺃﺧﻴﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ، ﺃﻭ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ
ﺍﻟﺠﺎﺋﺰﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﻨﺪﺏ ﺇﻟﻰ ﻓﻌﻠﻬﺎ .
ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺮﻯ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﺠﺎﺋﺰﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﻨﺪﺏ ﺇﻟﻰ
ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺪﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﻭﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻪ ﻭﻣﺎ
ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺗﻌﺎﻟﻰ - ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﺑﻪ، ﻭﺃﻣﺎ ﻓﻌﻞ
ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻭﺇﻫﺪﺍﺅﻫﺎ ﻓﻬﺬﺍ ﺃﻗﻞ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺟﺎﺋﺰﺍً ﻓﻘﻂ
ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﻨﺪﻭﺑﺔ ، ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻨﺪﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ، ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﺃﻣﺘﻪ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻞ ﺃﺭﺷﺪﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﻴﺖ
ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺍﻹﻫﺪﺍﺀ .
“Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang hukum
menghadiahkan bacaan al-Quran untuk mayit? Ia
menjawab: Masalah ini ada dua bentuk. Pertama:
Seseorang mendatangi makam mayit kemudian
membaca al-Quran di dekatnya. Dalam hal ini mayit
tidak dapat manfaat dari bacaan. Sebab yang bisa
mendengarkan dari bacaan al-Quran hanya ketika
masih hidup, sebagaimana (dalam hadis) orang
yang mendengarkan dicatat pahalanya seperti
orang yang membacanya. Sementara disini amal
mayit telah terputus, sebagaimana sabda Nabi Saw:
“Jika anak Adam mati maka terputus amalnya
kecuali dari 3, sedekah yang mengalir, ilmu yang
bermanfaat, atau anak sholeh yang
mendoakannya” (HR Muslim)
Kedua, seseorang membaca al-Quran yang mulia
sebagai pendekatan diri kepada Allah dan
menjadikan pahalanya kepada saudaranya yang
muslim atau kerabatnya, maka dalam masalah ini
para ulama beda pendapat. Sebagian berpendapat
bahwa amal ibadah yang bersifat fisik tidak dapat
dirasakan manfaatnya oleh mayit, meskipun
dihadiahkan, Sebab dasar ibadah termasuk hal yang
berkaitan dengan diri seseorang. Karena ibadah
adalah ibarat ketundukan dan mendirikan ibadah
yang ia jalankan. Hal ini hanya didapatoleh
pelakunya saja, kecuali hadis yang menjelaskan
bahwa mayit dapat menerima manfaatnya (haji,
puasa dan sedekah).
Sebagian ulama berpendapat bahwa dalil-dalil hadis
tentang sampainya pahala kepada orang yang
meninggal (haji, puasa dan sedekah) menunjukkan
sampainya pahala amal ibadah yang lain yang
dihadiahkan kepada mayit. Tetapi tetap dilihat
apakah hal ini bagian dari hal-hal disyariatkan
ataukah hal-hal yang diperbolehkan yang tidak
sunah untuk dilakukan. Menurut pendapat kami hal
ini tergolong hal-hal yang diperbolehkan yang tidak
sunah untuk dilakukan. Yang disunahkan adalah
mendoakan mayit, memintakan ampunan untuknya
dan sebagainya. Sedangkan melakukan ibadah dan
menghadiahkan kepada mayit, minimal hukumnya
adalah boleh, tidak sunah. Oleh karenanya Nabi Saw
tidak menganjurkannya kepada umatnya, tetapi
memberi petunjuk untuk mendoakan mayit. Maka
doa lebih utama daripada menghadiahkan bacaan
al-Quran” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin
2/240)
Catatan penulis :
Dalam fatwanya yang bentuk pertama
dikatakan bahwa ‘Baca al-Quran di kuburan
tidak berguna bagi mayit’. Pertanyaannya
‘Bagaimana jika membaca al-Quran di
kuburan kemudian pahalanya dihadiahkan
kepada mayit? Sebab dalam fatwa bentuk
kedua Ibnu Utsaimin mengatakan boleh!
Dalil membaca al-Quran di kuburan
dilakukan sejak masa sahabat:
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺨَﻼَّﻝُ ﻭَﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦُ ﺑْﻦُ ﺃَﺣْﻤَﺪَ
ﺍﻟْﻮَﺭَّﺍﻕُ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻰ ﻋَﻠِﻰُّ ﺑْﻦُ ﻣُﻮْﺳَﻰ ﺍﻟْﺤَﺪَّﺍﺩُ ﻭَﻛَﺎﻥَ
ﺻَﺪُﻭْﻗًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻨْﺖُ ﻣَﻊَ ﺃَﺣْﻤَﺪَ ﺑْﻦِ ﺣَﻨْﺒَﻞَ ﻭَﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
ﺑْﻦِ ﻗُﺪَﺍﻣَﺔَ ﺍﻟْﺠَﻮْﻫَﺮِﻯ ﻓِﻲ ﺟَﻨَﺎﺯَﺓٍ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺩُﻓِﻦَ
ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖُ ﺟَﻠَﺲَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺿَﺮِﻳْﺮٌ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ
ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻳَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺇِﻥَّ ﺍْﻟﻘِﺮَﺍﺀَﺓَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ
ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺧَﺮَﺟْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻗَﺎﻝَ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ
ﻗُﺪَﺍﻣَﺔَ ِﻷَﺣْﻤَﺪَ ﺑْﻦِ ﺣَﻨْﺒَﻞَ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺎ
ﺗَﻘُﻮْﻝُ ﻓِﻲ ﻣُﺒَﺸِّﺮٍ ﺍﻟْﺤَﻠَﺒِﻲّ ﻗَﺎﻝَ ﺛِﻘَﺔٌ ﻗَﺎﻝَ ﻛَﺘَﺒْﺖَ
ﻋَﻨْﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢْ ﻓَﺄَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ ﻣُﺒَﺸِّﺮٌ ﻋَﻦْ
ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ ﺍْﻟﻌَﻼَﺀِ ﺍﻟﻠَّﺠَّﺎﺝِ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴْﻪِ ﺃَﻧَّﻪُ
ﺃَﻭْﺻَﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺩُﻓِﻦَ ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺃْﺳِﻪِ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ
ﺍﻟْﺒَﻘَﺮَﺓِ ﻭَﺧَﺎﺗِﻤَﺘِﻬَﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﺑْﻦَ ﻋُﻤَﺮَ
ﻳُﻮْﺻِﻲ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻓَﺎﺭْﺟِﻊْ ﻭَﻗُﻞْ
ﻟِﻠﺮَّﺟُﻞِ ﻳَﻘْﺮَﺃُ (ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻻﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ / 1 10 )
"Ali bin Musa al-Haddad (orang yang sangat jujur)
berkata: Saya bersama Ahmad bin Hanbal dan
Muhammad Ibnu Qudamah al-Jauhari menghadiri
pemakaman janazah. Setelah dimakamkan, ada
orang laki-laki buta membaca al-Quran di dekat
kubur tersebut. Ahmad berkata kepadanya: Wahai
saudara! Membaca di dekat kubur adalah bid'ah.
Setelah kami keluar dari kuburan, Muhammad ibnu
Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal:
Wahai Abu Abdillah. Apa penilaianmu tentang
Mubasysyir al-Halabi? Ahmad menjawab: Ia orang
terpercaya. Ibnu Qudamah bertanya lagi: Apakah
engkau meriwayatkan hadis dari Mubasysyir?
Ahmad bin Hanbal menjawab: Ya. Saya
mendapatkan riwayat dari Mubasysyir bin
Abdirrahman dari ayahnya, bahwa ayahnya
berpesan agar setelah dimakamkan dibacakan di
dekat kepalanya dengan pembukaan al-Baqarah
dan ayat akhirnya. Ayahnya berkata bahwa ia
mendengar Ibnu Umar berwasiat seperti itu juga.
Kemudian Imam Ahmad berkata kepada Ibnu
Qudamah: Kembalilah, dan katakan pada lelaki tadi
agar membacanya!" (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)
*Akhi Fillah, Muhammad Makruf Khozin